Memberdayakan Katalog Lama

Posted: Oktober 13, 2014 in Opini

Ada peristiwa menarik pada rabu 2 Oktober 2014 silam,label tertua di Indonesia Musica Studios untuk pertamakalinya sejak 3 dasawarsa silam kembali merilis album rekaman dalam format piringan hitam atau vinyl untuk album terbaru band d’Masiv bertajuk Hidup Lebih Indah.

Salah satu kios musik di Blok M Square (Foto Rian Ekky P)

Salah satu kios musik di Blok M Square (Foto Rian Ekky P)

Kenapa menarik ? Karena label musik sebesar Musica Studios ditengah merebaknya distribusi musik secara digital, pada akhirnya memiliki keberanian untuk merilis album pop mainstream seperti d’Masiv dalam bentuk piringan hitam sebanyak 500 keping cakram. Dalam catatan saya,major label Sony Music di tahun 2012 telah memulai merilis album Superman Is Dead bertajuk 1997 – 2009 sebanyak 1000 keping cakram.
Memang banyak yang menyangsikan rilisan vinyl ini akan mendapat respon yang bagus dari masyarakat penikmat musik, disaat penjualan fisik seperti CD menurun bahkan format kaset yang telah lama hilang. Namun label-label besar seperti Sony Music atau Musica Studios tetap melakukannya.Semuanya,baik Superman Is Dead maupun d’Masiv,justru yang mengusulkan pada label masing masing untuk dibuatkan rilisan album mereka dalam format vinyl. Bisa jadi mereka terinspirasi dengan gerakan “back to vinyl” yang tengah merebak di Amerika Serikat dan belahan dunia lainnya.

Dan pihak label menyikapi hal ini sebagai test case terhadap respon masyarakat terhadap format yang pernah Berjaya pada beberapa dasawarsa silam. Jika ditilik secara seksama ,momentumnya memang tepat.Kerinduan akan format fisik seperti vinyl memang tengah melanda dunia walau tidak dengan skala yang sensasional.
Di Amerika Serikat, tercatat sekitar 4 tahun terakhir penjualan format vinyl naik 300 persen dengan penjualan di tahun 2006 sebesar 858.000, menjadi 2,5 juta di tahun 2009. Menurut data Nielsen SoundScan, pada tahun 2010, penjualan vinyl berkisar 2,8 juta keping .
Bahkan jika melongok data pada Juni 2011 penjualan vinyl mencapai 40 persen melebihi tahun sebelumnya.
Indrawati Widjaja, pemilik Musica Studios, setelah merestui merilis album terbaru d’Masiv dalam format vinyl, kini telah mencangkan rencana untuk merilis katalog-katalog lama (back catalog) yang pernah dirilis Musica Studios pada era 70an dan 80an seperti album karya Guruh Sukarno Putra,Iwan Fals,Chrisye dan Harry Roesli. Ini sebuah upaya yang pantas didukung,mengingat begitu banyak karya-karya seniman musik Indonesia yang dimasa lalu menjadi landmark perjalanan musik popular di Indonesia menjadi punah begitu saja. Pencapaian musik dimasa lalu sepatutnya diberdayakan kembali dalam bentuk fisik seperti vinyl.
Karena vinyl dengan kemasan art work yang menampilkan cover beserta liner note dan detil data musik bisa dianggap memiliki sifat yang sama dengan buku atau karya senirupa lainnya yang mampu merefleksikan sekaligus merekam sejarah budaya popular di suatu masa. Karena musik sebagai sejarah budaya populer tak hanya dinikmati sebagai produk bunyi saja tanpa bentuk fisik yang memadai seperti halnya vinyl atau piringan hitam.
Upaya merilis katalog-katalog lama dalam bentuk vinyl bukan lagi untuk kepentingan nostalgia belaka,melainkan merupakan upaya pengarsipan yang memiliki urgensi.Selama ini sejarah musik popular di Indonesia memang nyaris agak berantakan dengan data-data yang berserakan bagai puzzle yang tercerai berai entah kemana.Kita sama sekali tak memiliki data maupun pencatatan yang akurat seperti yang dilakukan oleh negara-negara maju.
Beberapa label kecil independen seperti Majemuk Records serta Rockpod Record yang kembali merilis ulang (reissue) beberapa katalog lama seperti “Alam Raya” (Abbhama) atau “Gede Chokras” (Sharkmove) merupakan indikasi yang melegakan, karena beberapa tahun belakangan ini justru label-label asing seperti Shadoks Record,Now Again Record,Sublime Frequencies dan Strawberry Rain yang berinisiatif melakukan rilis ulang terhadap album-album seperti Guruh Gipsy,Ariesta Birawa,Sharkmove,AKA dan Kelompok Kampungan serta kompilasi lagu-lagu pop dan rock Indonesia “Those Shocking Shaking Day”.
Dan yang jelas,jika banyak label di Indonesia mulai mengikuti apa yang dirintis Musica Studios,Majemuk Record maupun Rockpod Record , setidaknya ini akan menangkal upaya dari beberapa label mancanegara yang merilis album-album Indonesia tanpa izin resmi alias membajak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s