Tetabuhan Kata Trubadur Jawa

Posted: Oktober 13, 2014 in Opini

Rangkaian kata berbalut rima memiliki gaung yang sama dengan tambur yang ditabuh penuh ekspresi. Kata per kata yang digaungkan memiliki ruh laksana mantra .Tetabuhan kata bisa menjadi penyemangat bahkan bisa menggalang sebuah gerakan.
Dalam olahan musik hip hop bernuansa Jawa seperti yang diumandangkan Kill The DJ bersama Jogja Hip Hop Foundation, barisan kata-kata adalah panglima.Kata-kata menyeruak kedalam pelbagai aspek kehidupan.Seperti halnya derau musik yang ditebar troubadour, maka lagu-lagu yang dibawakan kelompok hip hop asal Yogyakarta ini justru memiliki nafas gugat yang kuat,menyeruak ke sendi-sendi kehidupan mulai dari telusur ke ranah sosial hingga politik sekalipun .Mereka adalah penyaksi yang memberikan kesaksian, baik tentang kebaikan maupun kebathilan.

Tulisan saya ini ada di dalam edisi khusus Rolling Stone Jogja Hip Hop Foundation

Tulisan saya ini ada di dalam edisi khusus Rolling Stone Jogja Hip Hop Foundation

Dalam drama Pilpres RI 2014 yang gegap gempita beberapa waktu lalu,juga menyisakan ruang untuk Jogja Hip Hop Foundation yang digagas Marzuki Mohamad, pemuda bertubuh kurus dengan tampang kebanyakan dan susah untuk dikenali , menggunakan nickname Kill The DJ. Juki,demikian panggilan akrabnya, mencuri perhatian dalam perhelatan Revolusi Mental mendukung pasangan Jokowi – JK yang berlangsung di stadion Gelora Bung Karno Jakarta 5 Juli 2014 Dalam blognya,Juki menulis : .
Bahwa kegembiraan politik yang didengungkan Jokowi yang telah melahirkan gelombang kreatifitas dan aksi simpatik yang bergairah itu, ternyata harus dihadapkan dengan berbagai bentuk kejahatan demokrasi yang berlangsung terus menerus dan sistematis.
Pada akhirnya,Juki bersama Jogja Hiphop Foundation bisa seperti air, yang mengalir dan tumpah kemana-mana.Mereka tak hanya di panggung hiphop menyemaikan hiphop berlatar kultur Jawa, tapi mereka bisa ada di ranah sosial, juga bisa ada di ranah politik sekalipun .Ini juga sekaligus membuktikan bahwa musik bias berdetak maupun berdenyut dalam waktu dan ruang apa pun. Dan Juki memahami hal itu, musik pada akhirnya bagai kemasan muslihat yang mampu mempengaruhi benak kita,mulai dari sekedar memahami hingga melakukan sebuah aksi.
Gagasan dan aksi hiphop Jawa yang dicetuskan Juki ini,pada akhirnya mengingatkan saya pada beberapa sosok pemusik era 70an yang kerap menyusupkan pesan-pesan social maupun politik dalam karya-karyanya di era rezim Soeharto yang represif, mulai dari Harry Roesli,Remy Sylado,Leo Kristi,Gombloh ,Eros Djarot hingga Guruh Sukarno Putra.Jauh sebelum Juki dan kawan-kawan menggunakan bahasa Jawa untuk menyampaikan pesan-pesan dalam lagu-lagu hiphopnya, Gombloh maupun Guruh telah melakukan hal yang sama .Dalam bahasa Jawa,Gombloh menampilkan karya-karyanya yang juga bernuansa gugat dalam album “Sekar Mayang” (Golden Hand 1981) yang antara lain berisikan lagu-lagu seperti Prahoro & Prahoro,Babad Dharmawulan,Sabdo & Wejangan atau Sekaring Jagad.Guruh Sukarno Putra menggunakan bahasa Bali dan Sansekerta dalam lagu Chopin Larung yang temanya menggugat budaya bangsa yang tercemar modernisasi di Bali. Jauh sebelum Juki dan Jogja Hiphop Foundation membuat lagu-lagu tentang korupsi, Harry Roesli telah menulis lagu “Fraksi Pencuri” dan Eros Djarot telah menulis lagu “Negara Kita” dan “Negeriku Cintaku”.
Kehadiran Juki dalam konstelasi musik jaman sekarang memang seperti mewarisi gemerutuk gugat dari para pendahulunya yang saya paparkan diatas tadi.Bahkan Juki pun melakukan hal yang sama dengan para pelaku musik masa lalu yaitu melakukan adaptasi musik luar hingga berubah menjadi musik bernuansa khas Indonesia.Harry Roesli bereksperimen memadukan rock dan jazz dalam karawaitan Jawa Barat atau Guruh Gipsy menyatukan musik Bali dan rock .progresif .Langkah kreatif ini pada akhirnya seperti warisan turun-temurun.
Energi Juki bersama Jogja Hiphop Foundation seperti tak ada habis-habisnya. Selain mendukung Revolusi Mental lewat pertunjukan musik spekatuler di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, sosok Juki juga terlihat dalam Konser Amal Untuk Solidaritas Palestina, juga ikut mendukung
Konser Amal Gugur Gunung Untuk Sinabung.Mereka pun terlihat dalam Sidang rakyat Yogyakarta yang menentang Rancangan Undang Undang Keistimewaan Yogyakarta oleh Pemerintah Pusat ,13 Desember 2010.
Gagasan Juki membentuk Jogja Hiphop Foundation rasanya memang tak sekedar ingin tampil beda saja.Dalam sebuah tulisan Juki pernah bertutur :” Sebuah mimpi yang terlintas di benak saya ketika pertama kali mendirikan Jogja Hip Hop Foundation 2003, adalah bagaimana membantu aktivitas rapper-rapper berbahasa Jawa, mencoba membuka pikiran dan wawasan komunitas ini lebih luas, untuk semakin sadar tentang pilihan dan resiko, sekaligus benefit yang bisa diraih.”

Keberadaan hip hop Jawa ini lalu diperkuat dengan munculnya Poetry Battle yang digelar pada tahun 2006 dan 2009) dengan Jogja Hip Hop Foundation sebagai penggagas . Peserta ditantang melakukan rapping dengan memakai sajak-sajak Indonesia.Jelas ini merupakan gagasan cemerlang memperkenalkan kembali pada generasi muda tentang sajak-sajak yang sekian lama hilang dari pergaulan budaya.
Saat itu penyair Sindhunata yang karya-karyanya kerap dihiphopkan oleh Jogja Hiphop Foundation sempat berujar bahwa fenomena hip hop yang menggunakan bahasa Jawa ini merupakan wujud kerinduan generasi muda kembali ke akar budayanya.
Meskipun tradisi rap dan hiphop berasal dari Amerika Serikat, Juki malah tak menghiraukan teknik rapping bercengkok Afro American,melainkan lebih menggali kekuatan kultur Jawa yang kental.Kenapa Juki memilih bahasa Jawa ? Secara teknis,menurut Juki, bahasa Indonesia kurang enak untuk dihiphopkan.Bahasa Jawa kerapkali menjadikan bunyi sehari-hari menjadi kata.Bunyi gedubrak,pada akhirnya berubah menjadi kata.
Disisi lain,Juki gemar berpetualang mengumpulkan kitab atau serat Jawa seperti Babad Tanah Jawi,Serat Centhini,Darmogandul maupun Gatholoco.Konon Juki memiliki sekitar 40 kitab berbahasa Jawa.Semuanya dijadikan referensi dalam mengolah kata pada sebagian besar lirik-lirik lagunya.r
Khazanah bertutur Jawa pun memiliki dan mengenal banyak perangai mantra, mulai dari mantra memikat perempuan hingga mantra menidurkan bayi.Mantra memiliki rima yang khas dan kuat.Anasir rima ini memang dekat dengan wujud rapping.
Rima inilah sesungguhnya yang merupakan daya pikat dalam karya-karya yang digurat Juki bersama Jogja Hiphop Foundation.Simak salah satu rima berikut ini :
Petani Tidak Lagi Punya sawah
Anak-anaknya Jadi TKI
Sumber Alam Yang Melimpah
Digadaikan utang luar negeri.
Juki bersama Jogja Hiphop Foundation telah melanglangbuana mulai dari Singapura hingga negara muasal hiphop Amerika Serikat, menyuguhkan musik hiphop.Pada akhirnya genre atau subgenre musik tak lagi memiliki semacam orang biologis, jazz bukan lagi milik kaum kulit hitam,rock bukan lagi milik kaum kulit putih,reggae bukan lagi milik Jamaika bahkan gamelan bukan lagi milik Indonesia, begitupula halnya dengan hiphop.Hiphop juga bisa berasal dari Indonesia.Dan Juki bersama Jogja Hiphop Indonesia adalah lascar yang gigih memperjuangkannya.Dengan hiphop mereka berjuang, bersaksi dan menggugat tentang ketimpangan-ketimpangan yang terjadi disekitar kita.Mereka adalah para trubadur yang pantang mundur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s