Arsip untuk November, 2014

Dinihari ini saya mendadak teringat dengan acara musik yang saya pandu seminggu sekali setiap rabu ,alam di radio classic rock M97FM yang bermarkas di Jalan Borobudur 10 Jakarta Pusat, namanya Collector’s Time. Acara berdurasi 3 jam dimulai dari jam 21.00 hingga 24.00 ini mengulas tentang musik classic rock baik dari dalam maupun luar negeri secara mendetil secara historik yang dilengkapi mereviw diskografi serta proses kreativitas karya-karya rock klasik tersebut.

Chrisye menjadi tamu di Collector's Time tahun 1996 (Foto Denny Sakrie)

Chrisye menjadi tamu di Collector’s Time tahun 1996 (Foto Denny Sakrie)

Ketika radio M97FM ini berdiri pada paruh tahun 1995,niatnya adalah membangun radio dengan segmentasi pria dewasa hingga paruh baya.Karena pria,asumsi utama yang langsung tercerabut saat riset memilih genre musik yang pantas dan cocok dengan dunia kaum pria adalah musik rock,yang kemudian dipersempit menjadi classic rock.Timeline classic rock ini lalu diambil patokan dari paruh dasawarsa 60an saat The Beatles membombardir musik ke penjuru jagad yang dikenal dengan terminologi British Invasion hingga memasuki era 70an dan berimbas ke era 80an. dari timeline classic rock seperti itulah akhirnya Radio yang sebelumnya bernama Radio Monalisa mulai mengudara dengan musik rock sebagai jatidiri.

Bersama gitaris Giant Step Albert Warnerin (Foto Denny Sakrie)

Bersama gitaris Giant Step Albert Warnerin (Foto Denny Sakrie)

Diawal terbentuknya radio M9FM saya mendapat tugas untuk meriset sekaligus memilih lagu-lagu yang masuk dalam kategori klasik rock hingga akhirnya kemudian saya malah ditawari untuk memegang kendali sebagai music director radio M97FM.Pada saat siaran percobaan, mulailah disusun berbagai program acara yang bakal menemani keseharian para pendengar radio ini kelak.Paul Souhwat yang saat itu berada ditampuk Program Director mulai mencorat coret beberapa acara-acara khusus yang hanya mengudara seminggu sekali. Salah satu idenya adalah membuat acara musik apresiasi dengan memakai nama “Collector’s Time”.

Kenapa Collector’s Time namanya ? sergah saya ke Paul yang asyik manggut manggut dengan lantunan musik Pink Floyd The Great Gig In The Sky.

Paul lalu menimpali :”Musik semacam ini rock yang berjaya di era 60an dan 70an pasti menjadi bagian dari orang-orang yang mengalami romantikanya saat itu.Dan mereka pasti masih menyimpan karya-karya monumental itu…..dan pastilah dia kolektor.Acara ini kita bikin untuk mewadahi mereka”.

Saya terdiam dan mulai menyetujui gagasan unik dari Paul Souhwat yang sebelumnya bekerja di radio Prambors.Tiba-tiba Paul menepuk pundak saya :” Nah elo aja yang membawakan acara ini.Gua yakin elo bisa membawakan acara ini.Elo suka musik rock dan juga ngumpulin album-album rock”.

Wow…….saya terperangah dan tanpa pikir panjang lagi,tawaran Paul Souhwat itu pun saya terima dengan suka cita.Ini adalah obsesi saya sekian lama yang rasanya tak bakal terwujud,karena mana mungkin ada radio yang bakal memutar musik rock dengan pelbagai subgenrenya dan terasa segmented itu.

Singkat cerita,mulailah saya membawakan acara Collector’s Time pada sekitar September 1995.Konsep acara Collector’s Time ini adalah membahas lagu-lagu classic rock beserta pernak-perniknya dengan mengundang seorang tamu sebagai narasumber setiap minggu.Narasumbernya bisa siapa saja, bisa penikmat musik,kolektor musik,produser rekaman hingga para pemusiknya itu sendiri.

Diluar dugaan ternyata acara Collector’s Time mendapat respon bagus.Suatu hari Budiarto Shambazzy wartawan harian Kompas menyambangi saya dan mewawancarai saya mengenai musik rock yang dipilih radio M97FM sebagai identitas radio dan acara Collector’s Time.Budiarto Shambazzy bertutur bahwa dia dan rekan-rekannya di kantor mulai ketagihan menyimak radio M9&FM. Saya lalu menawarkan pada Budiarto Shambazy untuk menjadi tamu dalam acara Collector’s Time.Ternyata Budiarto Shambazy menerima tawaran saya itu dengan suka cita pula apalagi ketika saya menawarkan untuk membahas Led Zeppelin, salah satu band rock favoritnya.

Drummer seribu band Jelly Tobing adalah tamu pertama yang saya undang dalam acara Collector’s Time. Sejak itu,hampir saban rabu malam Collector’s Time menghadirkan berbagai tamu atau narasumber.dari kalangan pemusik hingga ke penggila musik rock.Seingat saya ada penggemar rock yang berkali-kali saya undang sebagai bintang tamu, mulai dari Indra Kesuma seorang bankir yang punya pengalaman nonton band band rock mancanegara saat mengenyam pendidikan di Amerika.Juga ada penggila The Beatles seperti Pandu Ganesha hingga fanatikus Kiss Nelwin Aldriansyah.

Harry Roesli jadi tamu Collector's Time di tahun 1997 (Foto Denny Sakrie)

Harry Roesli jadi tamu Collector’s Time di tahun 1997 (Foto Denny Sakrie)

Dari kalangan pemusik saya pernah mengundang Harry Sabar,Debby Nasution,Harry Roesli,Deddy Stanzah,Andy Julias dan Januar Irawan dari Makara,Keenan Nasution,Ekki Soekarno,Chrisye,Benny Soebardja,Donny Fattah,Albert Warnerin,Emmand Saleh,Donny Suhendra,Benny Likumahuwa,Abadi Soesman,Lilo Kla,Gilang Ramadhan,Eet Syahrani termasuk kritikus musik paling gahar era 70an Remy Sylado serta dua wartawan Aktuil Denny Sabri dan Buyunk dan masih sederet panjang lainnya.Fariz RM tercatat sebagai pemusik yang paling sering saya ajak sebagai narasumber.

Menariknya dalam berbagai siaran, saya selalu meminta beberapa pemusik untuk memperlihatkan cara bermain musik terutama gitar dan keyboard yang semuanya berlangsung live di studio M97FM seperti Albert Warnerin,Eet Syahrani,Tony Wenas,Emmand Saleh hingga Donny Suhendra.

Bersama drummer Ekki Soekarno (Foto Denny Sakrie)

Bersama drummer Ekki Soekarno (Foto Denny Sakrie)

Waktu yang berdurasi 3 jam terkadang terasa cepat berakhir.Ketika peminat Collector’s Time mulai membanyak,pihak M97FM kemudian mulai mengadakan acara off air Collector’s Time yang berlangsung di News Cafe dan Poster Cafe.Seingat saya ada 4 event off air yang berhasil membuat reuni beberapa band yaitu reuni The Rollies,reuni Gang Pegangsaan,reuni Cockpit Band  dan reuni Gang of Harry Roesli.Siapa yang tidak bangga dengan acara musik yang kian banyak dinikmati publik.

Dan malam ini saya hanya bisa mengenang saat-saat memandu Collector’s Time dengan segenap passion yang ada dalam diri saya.Sebuah kerinduan yang tak terobati,tapi masih bisa dikenang

Begadang, Dangdut Rock Pertama ?

Posted: November 29, 2014 in Tinjau Lagu

Antara tahun 1973 -1974, gitaris,komposer dan penyanyi dangdut Oma Irama terlihat sangat produktif menulis lagu-lagu dangdut yang kemudian direkam bersama kelompok musik yang dibentuknya Soneta Group.Saking giatnya menulis lagu,Oma Irama pun ditegur oleh mertuanya :”Kalau mencipta lagu jangan terlalu memforsir diri.Kalau begadang terus begitu ,nanti kamu sakit Oma”.

Cover album Begadang - Oma Irama dan Elvy Sukaesih bersama OM Soneta rilisan Yukawi

Cover album Begadang – Oma Irama dan Elvy Sukaesih bersama OM Soneta rilisan Yukawi

Sekeketika Oma pun tersentak.Teguran sang mertua malah menjadi ilham menulis lagu. Secepat kilat Oma Irama pun menulis lagu bertajuk “Begadang” :

Begadang jangan begadang

Kalau tiada artinya

Begadang boleh saja

Asal ada perlunya

Secepat kilat pula lagu “Begadang” mengusik pendengar musik negeri ini.Karena melalui lagu “Begadang” ini Oma ternyata menyemburatkan sebuah gaya musik dangdut yang terasa lebih modern.Ada pengaruh rock dalam arransemen musiknya.Jika anda jeli,di lagu ini tersusup riffing rock yang terasa pada permainan gitar Oma Irama.Ada pengaruh dari gitaris Ritchie Blackmore (Deep Purple) maupun gaya southern rock dari gitaris Dickey Betts (The Allman Brothers Band).Coba bandingkan antara lagu “Begadang” dengan “Jessica” nya The Allman Brothers Band.Oma tidak menjiplak,tapi secara sadar mengambil pengaruh dari ranah musik rock kedalam musik dangdut yang saat itu sering dilecehkan dengan kata kampungan.

Dengan lirik yang bernas serta makeover musik yang cenderung eklektik,musik dangdut Oma Irama menyeruak ke permukaan.Album “Soneta Group Vol.1” yang berisikan lagu “Begadang” ini bisa dianggap sebagai album dangdut pertama yang terjual sekitar 500.000 kaset.Di tahun 1978 Oma Irama kemudian mengangkat lagu dangdut fenomenal ini menjadi sebuah film layar lebar yang dibintanginya bersama aktris Yati Octavia.

Wiwiek Lismani, Penyanyi Underrated

Posted: November 29, 2014 in Tinjau Album

Boleh jadi tak semua orang mengenal dengan baik sosok penyanyi wanita era 80an Wiwiek Lismani. Dia termasuk penyanyi underrated.Namun,karakter suaranya mencuat.Memiliki daya dan khas.

Pertamakali mendengar suara Wiwiek Lismani yaitu di album Dasa Tembang Tercantik LCLR Prambors 1980.Saat itu dengan suaranya yang mezzosopran berduet dengan Bagoes A.Ariyanto dalam lagu Maheswara.Sebagai nama baru dalam industri musik Wiwiek cukup memikat perhatian.Setidaknya diantara karakter vokal Berlian Hutauruk dan Louise Huatauruk yang telah memiliki nama,Wiweik Lismani  menyimpan harapan tersendiri.Apalagi tampaknya Wiwiek lebih cenderung memihak dengan lagu-lagu pop yang cenderung jazzy.
Wiwiek Lismanitak terlalu mengumbar melisma yang tak penting.
Kedua kali suara Wiwiek Lismani terdengar lagi di saat ikut mendukung album “Hotel San Vicente” yang dibentuk Fariz RM di tahun 1981.

25169_382405293284_946413_n
Tak lama berselang Wiwiek Lismani merilis album solo.Di album ini Wiwiek didukung oleh pemusik yang tergabung dalam Drakhma,Transs dan The Rollies.
Musiknya mungkin lebih tepat disebut adult contemporary pop.Arransemennya tampak berlenggang diantara wilayah pop dan jazzy.
Tak heran,karena penata musik dan pendukung musiknya antara lain ada Dodo Zakaria (keyboards),Jimmie Manopo (drums),Oetje F Tekol (bass),Djundi Karjadi (synthesizers) dan Uce Haryono (drums).
Arransemen musiknya memang tidak simple.Penuh sinkopasi serta progresi akord yang lebih luas dan kaya.
Simak saja introduksi lagu “Hari Bahagia” yang memperdengarkan harmonisasi antara trombone,vibraphone dan elusan bass yang membawa kita pada aura musik jazz.Beat samba pun terdengar.
Ungkapan jazzy itu pun terlihat jelas pada lagu-lagu karya Dian Pramana Poetra maupun Eddy Harris.
Sayangnya album ini memang tak berhasil mencuat.Bahkan banyak ornag yang tak tahu akan rilis album ini.

Track List :

01. SUARA DAN DOA (cipt. Jundi V.K. / Deddy Dhukun)
02. HARI BAHAGIA (cipt. Bambang BRT)
03. SALAMKU (cipt. Dian Pramana Poetra)
04. SEIA SEKATA (cipt. Dian Pramana Poetra)
05. DI ATAS SEGALANYA (cipt. Deddy Dhukun)
06. DEWI MALAM (cipt. Bambang BRT)
07. BUNGA ASMARA (cipt. Deddy Dhukun)
08. KHAYAL DAN KENANGAN (cipt. Eddy Haris)
09. KUSADARI YANG TERJADI (cipt. Deddy Dhukun)
10. HARAPAN YANG PUNAH (cipt. Eddy Haris)

Diskusi Rock Diatas Atap

Posted: November 29, 2014 in Kisah, Opini

Sekelompok mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia bikin hajat apresiasi musik.Mereka sepertinya tiap tahun selalu bikin acara semacam ini.Sebuah gagasan bagus untuk memberikan wawasan musik terutama dari koridor pop culture terhadap para mahasiswa yang setiap harinya telah bergelut mengenyam ilmu dan pendidikan.Tanggal 1 November 2014,para mahasiswa yang tergabung dalam BSOBand UI menggelar diskusi Music Industry Seminar dengan tema Defining Rock. Mereka mempertemukan dua generasi musik berbeda,Donny Fattah dari generasi pemusiki 70an dan kelompok tigapagi dari generasi musik sekarang ini.

poster.

Saya diminta untuk mengarahkan lalu lintas perbincangan yang berlangsung di atas atap Teater Salihara yang terletak di Jalan Salihara 16 Jakarta Selatan.Diskusi membahas musik rock di udara terbuka di atas atap sebuah gedung yang artistik ternyata mampu membuat yang hadir jadi lebih bergairah meskipun wajah dan tubuh diterpa udara  panas nan menyengat. Tapi toh bincang-bincang dari dua generasi rock berbeda ini terasa memiliki dinamisasi.

Suasana diskusi musik  di atas atap Teater Salihara 1 November 2014 yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Suasana diskusi musik di atas atap Teater Salihara 1 November 2014 yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Kesempatan pertama saya berikan kepada Donny Fattah bassist band rock God Bless yang telah malang melintang 41 tahun sejak terbentuk pada tahun 1973.Donny Fattah juga dikenal sebagai seorang songwriter,Selain aktif dan setia dalam tubuh God Bless, Donny yang sejak awal 70an telah ikut mendukung berbagai grup rock seperti Zonk hingga Fancy jr, juga memiliki kegiatan musik lain diluar God Bless.Dari tahun 1977 hingga 1981 Donny bersama adiknya Rudi Gagola membentuk proyek musik D & R yang melahirkan sebanyak 3 album .Di paruh 80an Donny membentuk Donny & Friends yang menyatukan kolega-koleganya dalam musik rock merilis album dan manggung.Di awal 90an Donny Fattah diajak Yockie Surjoprajogo ikut mendukung Kantata Takwa yang digagas maesenas Setiawan Djody.Di akhir 80an Donny Fattah pun ikut mendukung Gong 2000 yang dibentuk gitaris Ian Antono.

10378061_10152589872178285_6246359463196294620_n

Dengan gaya yang santai,Donny menuturkan pengalamannya sejak akhir 60an hingga masuk ke dasawarsa 70an saat musik rock mulai berkembang di Indonesia.”Saat itu kami lebih banyak memainkan karya-karya rock mancanegara.Karena zamannya memang seperti itu” urai Donny Fattah.

10456227_10152535065568285_4520955121085267374_n

Itu adalah era Orde Baru mulai berkuasa, dimana musik Barat atau rock yang dalam rezim Orde Lama  dianggap dekaden dan ngak ngik ngok mulai bisa diputar di radio-radio atau dipentaskan secara umum di panggung-panggung pertunjukan.”Namun saat di God Bless kami berupaya tetap kreatif dengan tidak memainkan lagu-lagu orang sepersis mungkin tapi kami arransemen ulang dengan gaya musik kami” imbuh Donny Fattah.

Defining Rock bersama Donny Fattah dan tigapagi (Foto Iman Fattah)

Defining Rock bersama Donny Fattah dan tigapagi (Foto Iman Fattah)

Di era 70an banyak band-band rock yang tampil aktraktif dan dinamis di panggung tapi harus melakukan kompromi saat masuk ke dalam bilik rekaman.God Bless malah melakukan hal yang berbeda.Mereka tak mau disetir oleh label rekaman.Di tahun 1976 God Bless merilis album debut pada label Pramaqua dengan memainkan musik rock tanpa harus menyanyikan lagu-lagu pop yang mendayu-dayu.

Lagi berbincang dengan kelompok musik tigapagi di Teater Salihara sebelum berdiskusi tentang Defining Rock yang diadakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jam 15.00 WIB sabtu 1 November

Lagi berbincang dengan kelompok musik tigapagi di Teater Salihara sebelum berdiskusi tentang Defining Rock yang diadakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jam 15.00 WIB sabtu 1 November

Lain pula dengan generasi sekarang yang sudah dilengkapi dengan perkembangan teknologi yang banyak memiliki fasilitas pendukung sebuah proses kreatif termasuk proses rekaman.Idealisme bermusik mungkin lebih bisa dikemabngkan pada zaman sekarang, hal yang nyaris sulit untuk dilakukan pada era 70an.Jika rata-rata anak band era 70an lebih bangga memainkan repertoire asing, maka anak band sekarang justru menanggung beban malu jika hanya sekedar menjadi copycat belaka.Sigit dari tigapagi juga gitaris jazz Tesla Manaf menguraikan argumen tentang kondisi bermusik zaman sekarang yang jelas berbeda dengan yang dialami oleh generasi Donny Fattah pada era 70an.

10624786_10152590018463285_8680836674563977415_n

Konsep D.I.Y atau Do It Yourself yang menjadi kredo musik anak band zaman sekarang pada akhirnya memang mampu mempertahankan idealisme bermusik.Namun baik Sigit maupun Tesla Manaf mengaku kagum dengan alotnya posisi tawar yang dilakukan God Bless hingga menghasilkan album debut rekaman yang tetap mempertahankan idealisme yakni memainkan musik rock gaya mereka sendiri.

10411814_10152535069428285_3931851301074616081_n

“Album perdana God Bless memang tidak laku dipasaran,tapi kami semuanya merasa puas karena telah mengeluarkan semua energi kreativitas kami” ujar Donny Fattah.Baru di tahun 1988,God Bless secara perlahan mampu berbicara secara pencapaian ekonomi dalam penjualan albumnya.Saat itu,album “Semut Hitam” yang dirilis Logiss Record terjual melampaui jumlah 400.000 kaset. Ini sebuah pencapaian luar biasa dari penampilan band rock di jalur rekaman.

Mulai dari paruh era 60an ,lalu masuk  dasawarsa 70an hingga 80an  beberapa penyanyi Indonesia tercatat merekam album di Jerman Barat.Mulai dari kelompok jazz The Indonesian All Stars,Mogi Darusman,Vina Panduwinta serta kuartet Vanua Levu yang antara lain didukung dua penyanyi tenar Indonesia Duddy Iskandar dan January Christy.

Single Vanua Levu Shulu,Shululu

Single Vanua Levu Shulu,Shululu

Di tahun 1981 ada sebuah rilisan rekaman yang beredar secara internasional di Jerman Barat bertajukIsland Of Fantasy, sebuah album dengan materi musik crossover antara musik populer Hawaii dengan dikemas beat ala disko.Album ini berisikan sekitar 18 lagu .

vanua_levu-islands_of_fantasy

Ini ke 18 track album Vanua Levu :

Tracklist:

A1 Shulu, Shululu
Written-By – John Battes , Michael Zai
A2 Aloha Ohe
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
A3 Blue Moon
Written-By – R. Rodgers / Hart*
A4 Bali-Hai
Written-By – R. Rodgers / O. Hammerstein*
A5 Honolulu Love Song
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , N. Martinique*
A6 Suma Hama
Written-By – M. Love*
A7 Bananaboat Song
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
A8 Suki Yaki
Written-By – Ei Rokusuke , Nakamura Hachidai*
A9 Sleepy Lagoon
Written-By – E. Coates* , J. Lawrence*
B1 Jamaika Farewell
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B2 Islands Of Fantasy
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , N. Martinique*
B3 Hawaiian Rose (Danny Boy)
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B4 Only A Fool
Written-By – G. Kennedy*
B5 Island Of Dreams (There’s No More Corn On The Brassos)
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B6 Moonlight In Hawaii
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade*
B7 The Moon Of Manakoora
Written-By – A. Newman* , F. Loesser*
B8 Yellow Bird
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B9 Vanua Levu

Vanua Levu juga merilisnya dalam beberapa format vinyl single.

VVVVV

75 Tahun Bob Tutupoly

Posted: November 29, 2014 in Kisah, profil

Beberapa pekan lalu penyanyi populer Indonesia Bob Tutupoly menelpon saya,meminta alamat kediaman saya.”Saya mau bikin pesta ulang tahun yang ke 75.Datang ya Den” ucap Bob Tutupoly dengan suara yang ramah.
Wow ,Bob Tutupoly telah berusia 75 tahun.Rasanya baru kemarin saya yang masih duduk di bangku SMP menyimak suara om Bob Tutupoly menyanyikan Widuri,hamper saban hari baik di radio-radio maupun TVRI. Sejak kecil saya sudah akrab dengan suara dan lagu-lagu dari Bob Tutupoly melalui speaker turntable ayah saya.Yang saya ingat ketika saya duduk dibangku kelas 1 SD pada tahun 1969, saya telah mendengarkan Bob Tutupoly yang diiringi Enteng Tanamal menyanyikan Stone Free-nya Jimi Hendrix denganwarna suara yang soulful. Beberapa tahun kemudian suara Bob Tutupoly terdengar di semua gelombang radio menyanyikan lagu karya Ismail Marzuki “Tinggi Gunung Seribu Janji” yang lebih banyak dikenal orang sebagai lagu “Memang Lidah Tak Bertulang”.
Di usia 75 tahun,Bob Tutupoly tak terlihat letih meniti karir musiknya.Bob Tutupoly tetap ceria tanpa beban.Kehidupan hari tuanya jauh berbeda dengan tipikal seniman musik kita yang terlihat terlunta-lunta menjalani masa tua. Bob Tutupoly memiliki asset hari tua yang menjanjikan.Bahkan di tahun 2012 Bob Tutupoly merilis album solo dengan hits single “Melodi Cintaku” karya Younky Soewarno & Maryati. Bob Tutupoly juga kerap berkolaborasi dengan pemusik-pemusik yang usianya terpaut jauh.Misalnya di tahun 2005 band Mocca mengajak Bob Tutupoly berduet lewat lagu “This Conversation” dan “Swing It Bob”.

Lalu di tahun 2012 Bob Tutupoly berkolaborasi dengan Shaggydog di pentas pertunjukan Djakarta Artmosphere. Bob Tutupoly bisa berbaur dan bersenyawa dengan pemusik lintas generasi.
Ini justru mengingatkan saya pada Tony Bennet,penyanyi pop legendaries yang kerap melakukan kolaborasi dengan berbagai pemusik lintas genre dan lintas generasi.Terakhir,Tony Bennet yang telah berusia 88 tahun,melakukan kolaborasi duet dengan Lady Gaga yang kontroversial.
Bahwa pada akhirnya kita pun mahfum bahwa musik memang tak mengenal sekat usia,sekat genre maupun sekat generasi.
Jika kita telusuri perjalanan karir musik Bob Tutupoly,penyanyi yang dilahirkan 13 November 1939 memang bak bianglala, sarat warna.Bob Tutupoly memasuki ranah genre apapun.Mulai dari pop,jazz,hingga rock,soul funk dan R&B.
Karir musik Bob Tutupoly terbentang amatlah panjang..

“Tahun 1957 saya diminta mengisi acara Jazz di RRI Surabaya bersama Quartet Modern Jazz yang dipimpin Didi Pattirane.Saat itu kita mulai menyanyi dengan gaya The Hi-Lo’s hingga Four Freshmen” kisah Bob.Selain itu bersama Didi Pattirane juga,serta Loddy Item,ayahnya Jopie Item,Max Lee,kami tergabung dalam Band Bhineka Ria Surabaya.Band ini lalu ikut dalam event Festival band se Indonesia yang digelar di Gedung Ikada Jakarta tahun 1959.”Saat itu Bhineka Ria meraih juara 1 lho” kenang Bob Tutupoly. Dalam beberapa acara pesta,Bob Tutupoly tampil bersama Bubi Chen (piano) dan Jopie Chen (bass) dari The Chen Brothers.
Di tahun 1959 pula Bob merekam lagu lagu Maluku seperti “Sarinande”,”Mande Mande” di perusahaan rekaman milik Negara Lokananta yang ada di kota Solo.”Tapi rekamannya di RRI Surabaya” ujar Bob.Setahun kemudian Bob merampungkan rekaman di Irama milik perwira Angkatan Udara Soejoso Karsono menyanyikan lagu-lagu : Kopral Djono hingga Oto Bemo.Lalu Bob pindah kuliah di Bandung.”Disini saya bergabung dengan band Crescendo menghibur publik di Bumi Sangkuriang” ingat Bob Tutupoly.
Di tahun 1963 Bob bergabung sebagai penyanyi dalam kelompok The Jazz Riders yang didukung almarhum pianis Didi Tjia serta multi instrumentalis Bill Saragih.Kelompok elit jazz ini bermain di Hotel Indonesia Jakarta.
Di jelang akhir dasawarsa 60-an,Bob merekam suaranya di Remaco bersama iringan Pantja Nada-nya Enteng Tanamal,dan menghasilkan hits “Tinggi Gunung Seribu Djandji.

Bob Tutupoly tampil di TVRI bersama Udinsyach dan Gatot Soenjoto tahun 1975 (Foto Dokumentasi TVRI)

Bob Tutupoly tampil di TVRI bersama Udinsyach dan Gatot Soenjoto tahun 1975 (Foto Dokumentasi TVRI)

Tahun 1968 melalui label Remaco Bob Tutupoly merilis dua album cover masing-masing bertajuk “Dedicated To Dr.Martin Luther King” dan “Merci”
Di tahun 1969 Bob merantau ke negeri Paman Sam atas dukungan kelompok instrumental The Ventures,yang saat itu baru saja menyelesaikan konser di Jakarta.”Bob Bogle dari The Ventures yang tertarik mengajak saya untuk merekam album di AS” ujar Bob Tutupoly.
Antara tahun 1969-1971 Bob kerap melakukan pertunjukan di klab malam yang adadi LosAngeles bersama band The Midnighters.”Di tempat saya main,saat itu juga Al Jarreau sering tampil.Dia nyanyi sambil main gitar dan ditemani sebuah beatbox.Unik sih” kata Bob Tutupoly.
Saat itu pula Bob Tutupoly mendapat peluang rekaman di Reprise yang dimiliki Frank Sinatra.Bob dipersiapkan membuat single yang berisikan dua lagu :”I’ve Been Loving You Too Long” nya OtisRedding dan “Hello L.A.Bye Bye Birmingham” karya Delaney Bramlett dan Mac Davis..Namun ternyata rekaman itu akhirnya urung dirilis.
Di tahun 1972,Bob mendapat tawaran dari Ibnu Sutowo untuk bekerja di Ramayana Restaurant,yang dikelola Pertamina.Di situ Bob bertugas sebagai Public Realtion,manajer serta penghibur “Saya menyanyi,juga tampil sebagai MC” ungkap Bob.
Tahun 1976,Bob balik ke Indonesia untuk menikah.Kepulangannnya ditandai dengan kembalinya Bob ke Remaco.Diluar dugaan lagu “Widuri” karya Adriadie berhasil melambungkan namanya ke permukaan.”Terus terang Widuri lah yang banyak memberiku rezeki.Salah satunya ya rumah saya ini” kenang Bob.
Bob Tutupoly adalah artis musik yang tak hanya memiliki bakat luar biasa dalam musik, melainkan sosok perencana yang telah merancang perjalanan hidupnya secara seksama dan lentur.Bob Tutupoly bisa menyelusup sekaligus menyeruak kemana saja .Baginya tak ada kata pension bagi seorang seniman musik.Bermusik itu seolah takdir yang tak mungkir.
Mocca agaknya memahami pola kehidupan seorang Bob Tutupoly dalam berkesenian.Terlihat jelas dari deretan lirik yang ditulis Mocca tentang Bob Tutupoly dalam lagu bertajuk “Swing It Bob”.Dan Bob Tutupoly menyanyikan lagu ini dengan lepas tanpa beban :
Never Mind, Troubles That May Have Come
Just Go Along With The Tunes The Bad Are Playing
But Let s Go And Dance
Do The Tango Or A Mambo Jumbo I Don t Care
Do The Cha Cha Cha
Do The Tango
Do The Samba
Or Perhaps Play Something Sweet Slow And Nice Like A Waltz?
Naa I Prefer To Go Swinging
Swing It, Bob ……!!!!!

Menurut saya lagu Renjana adalah sebuah mahakarya dari Guruh Sukarno Putra yang menautkan melodi dan lirik lagu yang berlumur misteri.Tafsir lagu ini memang bisa berkelebat dari sudut pandang yang beda.Walaupun ketika lagu ini berhasil menjadi pemenang Festival Lagu Populer Indonesia tahun 1976,Guruh mentakwilkan makna renjana sebagai sebuah bentuk kenelangsaan dalam takaran romansa ,tapi saya malah menemukan padanan makna yang lebih jauh dan lebih dalam dari sekedar rasa galau seseorang dalam dimensi percintaan.Saya mlah merasa lagu ini cerminan kekalutan seorang Guruh terhadap Indonesia meski dalam pemaknaan yangh samar.Ada frasa tentang kebangkitan dalam deretan lariknya berikut ini :

Di malam hening tertegun kumerenung.

menanti fajar tak kunjung datang.

Sukmaku bergetar digenggam halimun dingin.

Terkungkung langit nan kelam
Pagi pun datang meremang cahya rawan.

Seakan enggan menyongsong siang.

Hatiku merintih ditindih derita beku

Merana berkawan sunyi
Tetesan embun mengusik mimpi

Kuterjaga kumeronta.

Kutinggalkan mimpi hampa
Angin kembara bmenebar wangi bunga.

Menepis mendung mengusap embun.

Hasratku menderu.

Menuju dataran hijau.

Tempat bersemi hayatku

Guruh Sukarno Putra dan Kris Dayanti (Foto Antara News)

Guruh Sukarno Putra dan Kris Dayanti (Foto Antara News)

Dalam tafsir yang tersemburat di benak saya, saya menangkap makna  deretan lirik-lirik lagu Renjana ini sesungguhnya mencerminkan kegundahan yang dirasakan Soekarno,proklamator sekaligus presiden pertama NKRI yang juga merupakan ayah kandung Guruh Sukarno Putra, manakala diri beliau dihujam penuh dendam dalam sebuah konstelasi politik di negeri ini..

Dan dalam konser Salute To Guruh Sukarno Putra  yang digagas oleh Erwin Gutawa beberapa malam lalu di Plenary Hall Jakarta Convention Center, lagu yang pertamakali dibawakan oleh penyanyi Grace Simon di panggung World Popular Song Festival Budokan Hall Tokyo 1976, dibawakan lagi dengan ekspresi yang memikat dari Kris Dayanti.Selama ini kita hanya mengenal Renjana dalam versi Grace Simon saja, dan KD berhasil memberi sukma dalam tiap kata yang diukir Guruh 3 dasawarsa silam.Saya pun terkesiap menyimaknya.

Malam ini 25 November 2014 saya lagi bongkar-bongkar file tulisan.Sekedar untuk beres-beres,agar pengarsipan lebih rapi.Eh tiba-tiba menemukan sebuah draft tulisan berbentuk prakata atau foreword atau liner note istilah yang kerap dipakai untuk sebuah prakata dalam sebuahb rekaman baik dalam format kaset,compact disc maupun piringan hitam (vinyl).Liner Notes yang saya tulis itu adalah pesanan dari Keenan Nasution pada sekitar tahun 2010.4 tahun silam Keenan Nasution berencana akan merilis ulang atau reissue atas album solo debutnya “Di Batas Angan-Angan”.Sayangnya, hingga saat sekarang ini album reissue tersebut belum juga terwujud.Tapi ada baiknya saya share aja liner notes yang saya tulis itu sekarang.Selamat membaca.

KST

32 tahun silam,tepatnya November 1978 muncullah sebuah album yang memiliki kualitas terbaik dalam industri musik pop tanah air.Dengan kemasan seperti kotak pembungkus rokok,album yang didominasi warna sephia brown serta logo khas garapan Gauri Nasution bertuliskan Keenan Nasution. Bertajuk “Di Batas Angan-Angan” yang diangkat dari lagu karya Keenan Nasution dan Rudi Pekerti yang sempat terpilih sebagai finalis Festival Lagu Populer Indonesia 1977.

Keenan Nasution adalah pemusik yang bermukim di Pegangsaan Barat.Dia bersejawat dengan Chrisye bahkan satu band : Gipsy.Di tahun 1975-1976 Keenan bersama Chrisye,Oding Nasution,Roni Harahap,Abadi Soesman dan Guruh Soekarno Putera bersekutu dalam proyek eksperimental “Guruh Gipsy” dengan motto : kesepakatan dalam kepekatan.

DAA

Beberapa sejawat dalam Guruh Gipsy seperti Guruh Soekarno Putera,Abadi Soesman,Roni Harahap dan Oding Nasution ikut terlibat dalam penggarapan album ini.Selain itu,album ini juga didukung oleh Fariz RM,Junaedy Salat (keduanya adalah jebolan Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1977),juga ada Debby Nasution,Gauri Nasution dan Eros Djarot dari Barong’s Band yang menyumbangkan lagu bernuansa prog-rock “Negeriku Cintaku”.

Addie MS yang masih duduk dibangku SMA bahkan diberi kesempatan bermain piano dan menata arransemen lagu “Nuansa Bening” dan “Cakrwala Senja”.Juga ada Trio Bebek sebagai penyanyi latar,bassist Hookerman Harry Minggoes,keyboardis Clique Fantastique Yanto hingga drummer Young Gipsy Narry.

Keenan

Tak ketinggalan pula Dr Rudi Pekerti sebagai penulis lirik hampirsemua lagu yang ada di album ini.Pendek kata ,pendukung album solo perdana multi-instrumentalis Keenan Nasution ini adalah kerabat pemusik yang sering nongkrong di Jalan Pegangsaan Barat No.12,Menteng,Jakarata Pusat.

Secara keseluruhan musiknya memang kaya.Arransemen tampak ditata dengan serius.Lagu “Nuansa Bening” menjadi hits terbesar album ini disamping “Zamrud Khatulistiwa karya Guruh Soekarno Putera yang terasa menggelegakka spirit jingoisme.Secara cerdik Keenan menyusupkan tabuhan perkusi Bali dalam rhythm section lagu bernuansa disko .

Lirik lagu yang ditulis Rudi Pekerti seperti berkiblat pada realita namun masih tetap berasyik masyuk dalam bingkai metafora.Simak saja misalnya lagu “Kemana (Hujan)” :

Kemana,musim hujan yang biasa datang diakhir kemarau, oh teman .

Kemana, jalan yang kau pilih dan tentukan dipersimpangan, oh kawan

Dari mana datangnya angin, dari tenggara.

Dari mana datangnya damai,dari selatan

Angin membawa rasa damai, Ketika pikiran yang rusuh,

datang mengganggu tak permisi.

Ada juga yang berceloteh dengan tema keseharian.Bersahaja.tapi memiliki kedalaman makna,seperti lagu “Adikku” :

Negeri yang jauh

tersangkut mimpi

adikku bercerita pengalamannya

ada cemara berbunga lampion

awan yang warna –warni, kian kemari

kanak-kanak bebas berlari

kanak –kanak bebas bernyanyi

Berbeda dengan perangai musik pop yang ada saat itu,Keenan Nasution selain berupaya menyajikan musik yang eklektik (ada pop,rock,folk dan progresif rock) juga menampilkan keragaman dalam tema penulisan lirik.

Lirik tak hanya berkutat persoalan cinta semata.Melainkan merambah ke tema sosial hingga yang bernada protes,seperti kegeraman yang terekam dalam lagu “Negeriku Cintaku” karya Debby Nasution dan Eros Djarot :

Hei kaum muda masa kini,kita berantaslah korupsi

Jangan membiarkan mereka menganiayai hati kita

Album “Di BatasAngan Angan” yang direkam di Gelora Seni Studio ini oleh sound engineer kawakan seperti Alex Kumara ini merupakan album terbaik di sepanjang karir musik Keenan Nasution .Bahkan di tahun 2007 silam,album “Di Batas Angan Angan” termasuk dalam “150 Album Indonesia Terbaik” versi majalah Rolling Stone Indonesia.

Dan tepat hari ini ”Di Batas Angan-Angan” kembali dirilis memenuhi hasrat rindu para penggemar karya-karya Keenan Nasution.

Selamat menyimak dan menikmati karya yang tak lekang dan tak lapuk ditelan pergeseran nilai dan jaman.

Jakarta Juni 2010

Denny Sakrie,pengamat musik.

Crowdfunding

Posted: November 23, 2014 in Opini

Guruh Gipsy adalah proyek eksperimen musik Bali Rock yang menghabiskan rentang waktu penggarapan album sekitar 2 tahun dari tahun 1975 -1977. Dana produksi rekaman ini jelas tak kepalang tanggung.Proyek idealis ini mampu berjalan dengan lancar karena memperoleh saweran dana dari berbagai kalangan pengusaha papan atas saat itu seperti Pontjo Sutowo,Hasjim Ning,Taufik Kiemas dan beberapa nama lainnya.Eksperimen musik semacam itu memang tak mungkin dibiayai oleh label rekaman yang berorientasi ke bisnis musik secara pragmatis. Terwujudnya album Guruh Gipsy memang karena didukung dana oleh sejumlah pengusaha tadi.

Kaset Guruh Gipsy (Foto Denny Sakrie)

Kaset Guruh Gipsy (Foto Denny Sakrie)

Menurut hemat saya inilah penggalangan dana untuk seni popular pertama yang ada di Indonesia, jauh sebelum kita mengenal sebuah platform yang diistilahkan sebagai crowfunding. Istilah crowdfunding diperkenalkan oleh Michael Sullivan di tahun 2006 yang menggagas penggalangan dana terhadap proyek videoblog.
Cikal bakal crowdfunding sebetulnya telah dimulai oleh fans loyal band prog Inggris Marillion yang mengumpulkan dana melalui internet untuk membiayai tur Marillion di Amerika Serikat dengan nama “Tour Fund”.Fanbase Marillion akhirnya mengumpulkan sekitar $ 60.000 di tahun 1997 tanpa melibatkan manajemen band tersebut.Selanjutnya Marillion melakukan crowfunding untuk 4 album dalam kurun waktu 2001 -2012.Contoh lain adalah Electric Eel Shock,band rock Jepang yang berhasil mengumpulkan dana sebesar 10 ribu poundsterling dari 100 fansnya untuk keanggotaan eksklusif pada tahun 2004.

Bahkan band ini kemudian tercatat sebagai band yang tercepat menggalang dana sebesar $ 50.000.
Platform crowfunding online mulai berkembang di Amerika dengan munculnya ArtistShare pada tahun 2003 yang kemudian diikuti dengan munculnya sederet crowfunding online seperti Chipin (2005),EquityNet (2005),Pledge (2006),Sellaband (2006),IndieGoGo (2008),GiveForward (2008),Fundrazr (2009),KickStarter (2009),Fundly (2009),GoFundMe (2010),Microventures (2010) dan Fundageek (2011). Kini,secara global, sejak tahun 2012 telah berkembang sebanyak lebih dari 450 platform crowdfunding.
ArtistShare menampilkan contoh produk crowfunding yang berhasil meraih Grammy Award di tahun 2005 tanpa merilis albumnya digerai-gerai musik umum yaitu album “Concert In The Garden” milik pianis jazz Maria Schneider. Album Maria Schneider ini betul-betul didanai oleh penggemarnya sendiri Gagasan ini hampir sama dengan yang dilakukan Komunitas LKers ,wadah penggemar pemusik folk Indonesia Leo Kristi yang melakukan crowdfunding untuk pendanaan album Warm ,Fresh and Helthy di tahun 2010 serta album terbaru Leo Kristi bertajuk “Hitam Putih Orche” (2014) yang diluncurkan 1 November lalu tanpa didistribusikan di gerai musik biasa.
Sebelum crowdfunding yang dilakukan para penggemar Leo Kristi, tercatat beberapa grup musik Indonesia yang telah melakukan crowdfunding yaitu kelompok Pandai Besi dengan album “Daur Baur” (2013) serta dua band rock BIP (Jakarta) dan Navicula (Bali).

Kelompok Pandai Besi merilis album Daur Baur berdasarkan sebuah crowdfunding

Kelompok Pandai Besi merilis album Daur Baur berdasarkan sebuah crowdfunding

LK
Kepedulian penggemar terhadap artis atau kelompok musik yang mereka idolakan dalam bentuk crowdfunding ini bukan hanya sebuah fenomena,melainkan juga sebuah solusi dalam problematika industri musik secara global.

Ini ada kisah napak tilas perjalanan musik jazz di Indonesia yang dilakukan oleh sederet pemusik jazz terbaik Indonesia pada dekade 60an. alkisah.di i tahun 1967 kelompok jazz Indonesia The Indonesian All Stars yang terdiri atas Jack Lesmana (Gitar),Bubi Chen (piano,zither),Maryono (saxophone,flute,suling),Jopie Chen (double bass) dan Benny Mustafa van Diest (drums) melakukan tur konser menjelajahi berbagai kota di wilayah Jerman Barat (saat itu) selama kurun waktu hampir sebulan.

Art work piringan hitam Djanger Bali

Art work piringan hitam Djanger Bali

Mereka bermain jazz tanpa henti.”Kami betul betul melakukan tur jazz yang padat termasuk tampil di Berlin Jazz Festival yang juga ditonton Herbie Hancock sampai Miles Davis ” ungkap Benny Mustafa van Diest,satu-satunya anggota The Indonesian All Stars yang masih hidup,ketika ditemui dikediamannya di bilangan Gandul Cinere awal November lalu.Sangat menarik menyimak tutur drummer jazz turunan Belanda ini seputar sepak terjang pemusik jazz Indonesia.Sebersit kebanggaan saat menyimak kisah jazz Indonesia yang dituturkan drummer legendaris ini

Benny Mustafa bersama pianis jazz Rene Helsdingen serta tim Demajors Record yang akan merilis ulang album Djanger Bali (Foto Demajors)

Benny Mustafa bersama pianis jazz Rene Helsdingen serta tim Demajors Record yang akan merilis ulang album Djanger Bali (Foto Demajors)

Kedatangan saya bersama David Karto dan David Tarigan dari Demajors Record beserta tim audio visual adalah untuk mewawancarai Benny Mustafa seputar proses penggarapan album Djanger Bali yang dirilis oleh MPS/Saba pada tahun 1967 bersama peniup klarinet asal Amerika Tony Scott.

“Jadi disamping kami melakukan serangkaian tur panjang di Jerman,dua hari diantaranya dipergunakan untuk merekam album Djanger Bali itu bersama Tony Scott” urai Benny Mustafa yang tanggal 22 September lalu genap berusia 75 tahun.

Piringan Hitam Djanger Bali asli harganya telah mencapau sekitar Ro 2,5 juta di situs e-Bay maupun Discog

Piringan Hitam Djanger Bali asli harganya telah mencapau sekitar Ro 2,5 juta di situs e-Bay maupun Discog

Tawaran untuk membuat album Djanger Bali,menurut Benny Mustafa datang dari seorang tokoh dan produser jazz di Jerman.”Namanya Joachim Berendt,dia sangat mengagumi musikalitas pemusik jazz Indonesia.Dia tertarik untuk merekam permainan jazz kita” timpal Benny Mustafa yang sore itu ditemani pianis jazz Belanda Rene Helsdingen.

Joachim Berendt ini yang kemudian berperan sebagai produser album Djanger Bali tersebut.

Lalu bagaimana hingga bisa berkolaborasi dengan Tony Scott ?

“Tony  Scott itu selalu mengajak kita untuk jam session. Kami beberapa kali melakukan pertunjukan . Dia beberapa bulan sempat tinggal di Jakarta ” tutur Benny Mustafa.

Djanger Bali akan dirilis ulang Demajors dalam format Compact Disc

Djanger Bali akan dirilis ulang Demajors dalam format Compact Disc

Peniup klarinet Tony Scott asal New York Amerika Serikat ini pernah wara-wiri di Asia sekitar 6 tahun seperti di Thailand,Taiwan serta Indonesia.Tony yang lalu sempat bermukim di Jakarta justeru banyak menyerap musik tradisi yang lalu dibaurkan dengan elemen jazz.
Selama 6 bulan Tony Scott melakukan pendekatan dengan Indonesian All Stars yang didukung Jack Lesmana (gitar),Bubi Chen (piano,zither),Benny Mustafa Van Diest (drums),Maryono (suling,flute,saxophone) dan Jopie Chen (bass).Ternyata antara Tony Scott dan The Indonesian All Stars terdapat chemistry yang tepat.Mereka menemukan bentuk kolaborasi yang tepat.

Saya mewawancarai Benny Mustafa,drummer The Indonesian All Stars,satu-satunya pemusik jazz yang terlibat proyek tersebut yang masih hidup (Foto Demajors)

Saya mewawancarai Benny Mustafa,drummer The Indonesian All Stars,satu-satunya pemusik jazz yang terlibat proyek tersebut yang masih hidup (Foto Demajors)

Lalu selama 2 hari  di kota  Berlin grup jazz kebanggaan Indonesia ini melakukan sesi rekaman untuk MPS/Saba Record yang kemudian menghasilkan album “Djanger Bali”.Album yang covernya mengambil nukilan salah satu relief di Candi Borobudur ini mengajukan konsep “East meet West”.
Beberapa instrumen musik tradisional Indonesia seperti suling bambu,kecapi dan zither dihadirkan pula di album Djanger Bali ini..Adapun sesi rekaman album ini dilakukan oleh sound engineer Rolf Donner di Saba Tonstudio ,Villingen,Black Forrest pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1967.

Benny Mustafa dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

Benny Mustafa dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

The Indonesian All Stars banyak melakukan eksperimen dan eksplorasi saat penggarapan album monumental tersebut.
Jack Lesmana  misalnya, melakukan eksplorasi  dengan memainkan nada rendah pada gitarnya untuk menyiasiati penggantian bunyi gong.Dan hasilnya memang cemerlang, tanpa gong nuansa etnik Bali bisa tercipta.
Mereka pun mencoba menafsirkan karya George Gershwin  bertajuk “Summertime” dalam perspektif tradisi karawitan.Tak ada intimidasi dua kutub budaya yang berbeda.Sesuatu yang mungkin saat itu termasuk sebuah pencapaian luar biasa.
Sebahagian besar komposisi di album ini,arransemennya dibuat oleh Bubi Chen,kecuali “Ilir Ilir” digarap oleh almarhum Maryono.Di lagu ini pun Maryono bersenandung.”Kami yang meminta dia menyanyikan lagu tersebut,karena Maryono itu orang Jawa.Kami sendiri selalu memanggil dia Jawa” ujar Benny Mustafa terkekeh.

IMG_1414

Sayangnya ketika album Djanger Bali dirilis pertamakali pada akhir tahun 1967 oleh SABA, album ini bisa dikatakan kurang mendapat perhatian.Belum ada review yang positif atas materi album ini.Kemudian album Djanger Bali dirilis kembali di awal 1969 atau 1970 ketika label SABA mengalami masalah ketika  diambil alih atau dikonsolidasikan dengan MPS/BASF. Untuk rilisan kedua Djanger Bali dirilis dengan label MPS. Disekitar dekade 90an album Djanger Bali yang termasuk dalam kategori langka  kembali dirilis ulang  oleh label  MPS dengan tajuk  “Jazz Meets the World No. 2: Jazz Meets Asia”.Di album ini terdapat dua album jazz dalam satu kemasan CD,pertama Djanger Bali dari Tony Scott and The Indonesian All Stars dan album jazz dari pemusik jazz Jepang Terumasa Hino. Dalam rilisan berformat CD ini ternyata ada satu komposisi yang tidak diikutsertakan yaitu “Mahlke” dari “Katz Und Maus” yang ditulis oleh Attilla  Cornellus Zoller gitaris jazz asal Hungaria.

Ada sedikit cerita menarik mengenai dibawakannya lagu “Mahlke” ini oleh The Indonesian All Stars.Ketika produser Joachim Berendt merlakukan muhibah  Indonesia .dia membawa  album milik Attila Zoller yang akan dirilis oleh label  SABA dimana dalam salah satu tracknya termaktub komposisi  ‘Mahlke’, yang sebenarnya merupakan sound-track dari sebuah film Jerman yang berjudul “Katz und Maus,”  berdasarkan karya Gunter Wilhelm Grass sastrawan Jermain peraih Hadiah Nobel Sastra .

Jack Lesmana tertarik untuk menyimak album Attila Zoller tersebut.Jack Lesmana ternyata menyukai komposisi lagu tersebut dan kemudian menguliknya bersama Indonesian All Stars. Pada saat The Indonesian All Stars bermuhibah  ke Jerman, mereka telah mampu memainkan lagu itu dengan penafsiran jazz yang menarik,dan  Joachim Berendt malah tertarik untuk merekamnya sebagai bagian dari materi album  “Djanger Bali”.
Album Djanger Bali pada akhirnya menjadi album jazz yang dipertimbangkan sebagai musik jazz Indonesia.Banyak review dan tinjauan musik yang memuji eksperimen The Indonesian All Stars bersama Tony Scott.

Benny Mustafa van Diest dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

Benny Mustafa van Diest dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

Sayangnya album ini sudah termasuk langka dan hanya milik para kolektor belaka.Sebuah karya besar pemusik Jazz Indonesia yang patut dikenang sepanjang masa.Beberapa waktu lalu dalam situs e-Bay maupun Discogs harga vinyl original Djanger Bali ini telah memasuki kisaran harga sekitar Rp 2,5 juta jika dikurs dalam nilai rupiah.Sangat fantastik.

Dengan melambungnya  harga atau nilai jual album otentik Djanger Bali yang kian meresahkan serta desakan keinginan untuk mendokumentasikan salah satu artefak terpenting dalam perjalanan musik jazz (di) Indonesia, pihak label Demajors terketuk untuk melakukan reissue atau rilis ulang album jazz yang menjadi target para kolektor dunia itu.

“Kami akan merilis ulang album Djanger Bali dalam format CD.Ini memang ingin meneruskan apa yang telah kami lakukan di sekitar beberapa tahun lalu saat melakukan remaster dan rilis ulang album Kuartet Bubi Chen yang pernah dirilis Lokananta Solo.Sekarang kami merasa terpanggil untuk melakukan hal yang sama lewat album Djanger Bali” jelas David Karto dari Demajors Record.

“Kami ingin agar generasi sekarang bisa mengetahui sejarah musik Indfnesia di masa silam” imbuh David Karto lagi.

Usai sesi interview untuk Behind The Scene Reissue Djanger Bali - Tony Scott and The Indonesian All Stars (Foto Demajors)

Usai sesi interview untuk Behind The Scene Reissue Djanger Bali – Tony Scott and The Indonesian All Stars (Foto Demajors)