Arsip untuk November, 2014

Dinihari ini saya mendadak teringat dengan acara musik yang saya pandu seminggu sekali setiap rabu ,alam di radio classic rock M97FM yang bermarkas di Jalan Borobudur 10 Jakarta Pusat, namanya Collector’s Time. Acara berdurasi 3 jam dimulai dari jam 21.00 hingga 24.00 ini mengulas tentang musik classic rock baik dari dalam maupun luar negeri secara mendetil secara historik yang dilengkapi mereviw diskografi serta proses kreativitas karya-karya rock klasik tersebut.

Chrisye menjadi tamu di Collector's Time tahun 1996 (Foto Denny Sakrie)

Chrisye menjadi tamu di Collector’s Time tahun 1996 (Foto Denny Sakrie)

Ketika radio M97FM ini berdiri pada paruh tahun 1995,niatnya adalah membangun radio dengan segmentasi pria dewasa hingga paruh baya.Karena pria,asumsi utama yang langsung tercerabut saat riset memilih genre musik yang pantas dan cocok dengan dunia kaum pria adalah musik rock,yang kemudian dipersempit menjadi classic rock.Timeline classic rock ini lalu diambil patokan dari paruh dasawarsa 60an saat The Beatles membombardir musik ke penjuru jagad yang dikenal dengan terminologi British Invasion hingga memasuki era 70an dan berimbas ke era 80an. dari timeline classic rock seperti itulah akhirnya Radio yang sebelumnya bernama Radio Monalisa mulai mengudara dengan musik rock sebagai jatidiri.

Bersama gitaris Giant Step Albert Warnerin (Foto Denny Sakrie)

Bersama gitaris Giant Step Albert Warnerin (Foto Denny Sakrie)

Diawal terbentuknya radio M9FM saya mendapat tugas untuk meriset sekaligus memilih lagu-lagu yang masuk dalam kategori klasik rock hingga akhirnya kemudian saya malah ditawari untuk memegang kendali sebagai music director radio M97FM.Pada saat siaran percobaan, mulailah disusun berbagai program acara yang bakal menemani keseharian para pendengar radio ini kelak.Paul Souhwat yang saat itu berada ditampuk Program Director mulai mencorat coret beberapa acara-acara khusus yang hanya mengudara seminggu sekali. Salah satu idenya adalah membuat acara musik apresiasi dengan memakai nama “Collector’s Time”.

Kenapa Collector’s Time namanya ? sergah saya ke Paul yang asyik manggut manggut dengan lantunan musik Pink Floyd The Great Gig In The Sky.

Paul lalu menimpali :”Musik semacam ini rock yang berjaya di era 60an dan 70an pasti menjadi bagian dari orang-orang yang mengalami romantikanya saat itu.Dan mereka pasti masih menyimpan karya-karya monumental itu…..dan pastilah dia kolektor.Acara ini kita bikin untuk mewadahi mereka”.

Saya terdiam dan mulai menyetujui gagasan unik dari Paul Souhwat yang sebelumnya bekerja di radio Prambors.Tiba-tiba Paul menepuk pundak saya :” Nah elo aja yang membawakan acara ini.Gua yakin elo bisa membawakan acara ini.Elo suka musik rock dan juga ngumpulin album-album rock”.

Wow…….saya terperangah dan tanpa pikir panjang lagi,tawaran Paul Souhwat itu pun saya terima dengan suka cita.Ini adalah obsesi saya sekian lama yang rasanya tak bakal terwujud,karena mana mungkin ada radio yang bakal memutar musik rock dengan pelbagai subgenrenya dan terasa segmented itu.

Singkat cerita,mulailah saya membawakan acara Collector’s Time pada sekitar September 1995.Konsep acara Collector’s Time ini adalah membahas lagu-lagu classic rock beserta pernak-perniknya dengan mengundang seorang tamu sebagai narasumber setiap minggu.Narasumbernya bisa siapa saja, bisa penikmat musik,kolektor musik,produser rekaman hingga para pemusiknya itu sendiri.

Diluar dugaan ternyata acara Collector’s Time mendapat respon bagus.Suatu hari Budiarto Shambazzy wartawan harian Kompas menyambangi saya dan mewawancarai saya mengenai musik rock yang dipilih radio M97FM sebagai identitas radio dan acara Collector’s Time.Budiarto Shambazzy bertutur bahwa dia dan rekan-rekannya di kantor mulai ketagihan menyimak radio M9&FM. Saya lalu menawarkan pada Budiarto Shambazy untuk menjadi tamu dalam acara Collector’s Time.Ternyata Budiarto Shambazy menerima tawaran saya itu dengan suka cita pula apalagi ketika saya menawarkan untuk membahas Led Zeppelin, salah satu band rock favoritnya.

Drummer seribu band Jelly Tobing adalah tamu pertama yang saya undang dalam acara Collector’s Time. Sejak itu,hampir saban rabu malam Collector’s Time menghadirkan berbagai tamu atau narasumber.dari kalangan pemusik hingga ke penggila musik rock.Seingat saya ada penggemar rock yang berkali-kali saya undang sebagai bintang tamu, mulai dari Indra Kesuma seorang bankir yang punya pengalaman nonton band band rock mancanegara saat mengenyam pendidikan di Amerika.Juga ada penggila The Beatles seperti Pandu Ganesha hingga fanatikus Kiss Nelwin Aldriansyah.

Harry Roesli jadi tamu Collector's Time di tahun 1997 (Foto Denny Sakrie)

Harry Roesli jadi tamu Collector’s Time di tahun 1997 (Foto Denny Sakrie)

Dari kalangan pemusik saya pernah mengundang Harry Sabar,Debby Nasution,Harry Roesli,Deddy Stanzah,Andy Julias dan Januar Irawan dari Makara,Keenan Nasution,Ekki Soekarno,Chrisye,Benny Soebardja,Donny Fattah,Albert Warnerin,Emmand Saleh,Donny Suhendra,Benny Likumahuwa,Abadi Soesman,Lilo Kla,Gilang Ramadhan,Eet Syahrani termasuk kritikus musik paling gahar era 70an Remy Sylado serta dua wartawan Aktuil Denny Sabri dan Buyunk dan masih sederet panjang lainnya.Fariz RM tercatat sebagai pemusik yang paling sering saya ajak sebagai narasumber.

Menariknya dalam berbagai siaran, saya selalu meminta beberapa pemusik untuk memperlihatkan cara bermain musik terutama gitar dan keyboard yang semuanya berlangsung live di studio M97FM seperti Albert Warnerin,Eet Syahrani,Tony Wenas,Emmand Saleh hingga Donny Suhendra.

Bersama drummer Ekki Soekarno (Foto Denny Sakrie)

Bersama drummer Ekki Soekarno (Foto Denny Sakrie)

Waktu yang berdurasi 3 jam terkadang terasa cepat berakhir.Ketika peminat Collector’s Time mulai membanyak,pihak M97FM kemudian mulai mengadakan acara off air Collector’s Time yang berlangsung di News Cafe dan Poster Cafe.Seingat saya ada 4 event off air yang berhasil membuat reuni beberapa band yaitu reuni The Rollies,reuni Gang Pegangsaan,reuni Cockpit Band  dan reuni Gang of Harry Roesli.Siapa yang tidak bangga dengan acara musik yang kian banyak dinikmati publik.

Dan malam ini saya hanya bisa mengenang saat-saat memandu Collector’s Time dengan segenap passion yang ada dalam diri saya.Sebuah kerinduan yang tak terobati,tapi masih bisa dikenang

Begadang, Dangdut Rock Pertama ?

Posted: November 29, 2014 in Tinjau Lagu

Antara tahun 1973 -1974, gitaris,komposer dan penyanyi dangdut Oma Irama terlihat sangat produktif menulis lagu-lagu dangdut yang kemudian direkam bersama kelompok musik yang dibentuknya Soneta Group.Saking giatnya menulis lagu,Oma Irama pun ditegur oleh mertuanya :”Kalau mencipta lagu jangan terlalu memforsir diri.Kalau begadang terus begitu ,nanti kamu sakit Oma”.

Cover album Begadang - Oma Irama dan Elvy Sukaesih bersama OM Soneta rilisan Yukawi

Cover album Begadang – Oma Irama dan Elvy Sukaesih bersama OM Soneta rilisan Yukawi

Sekeketika Oma pun tersentak.Teguran sang mertua malah menjadi ilham menulis lagu. Secepat kilat Oma Irama pun menulis lagu bertajuk “Begadang” :

Begadang jangan begadang

Kalau tiada artinya

Begadang boleh saja

Asal ada perlunya

Secepat kilat pula lagu “Begadang” mengusik pendengar musik negeri ini.Karena melalui lagu “Begadang” ini Oma ternyata menyemburatkan sebuah gaya musik dangdut yang terasa lebih modern.Ada pengaruh rock dalam arransemen musiknya.Jika anda jeli,di lagu ini tersusup riffing rock yang terasa pada permainan gitar Oma Irama.Ada pengaruh dari gitaris Ritchie Blackmore (Deep Purple) maupun gaya southern rock dari gitaris Dickey Betts (The Allman Brothers Band).Coba bandingkan antara lagu “Begadang” dengan “Jessica” nya The Allman Brothers Band.Oma tidak menjiplak,tapi secara sadar mengambil pengaruh dari ranah musik rock kedalam musik dangdut yang saat itu sering dilecehkan dengan kata kampungan.

Dengan lirik yang bernas serta makeover musik yang cenderung eklektik,musik dangdut Oma Irama menyeruak ke permukaan.Album “Soneta Group Vol.1” yang berisikan lagu “Begadang” ini bisa dianggap sebagai album dangdut pertama yang terjual sekitar 500.000 kaset.Di tahun 1978 Oma Irama kemudian mengangkat lagu dangdut fenomenal ini menjadi sebuah film layar lebar yang dibintanginya bersama aktris Yati Octavia.

Wiwiek Lismani, Penyanyi Underrated

Posted: November 29, 2014 in Tinjau Album

Boleh jadi tak semua orang mengenal dengan baik sosok penyanyi wanita era 80an Wiwiek Lismani. Dia termasuk penyanyi underrated.Namun,karakter suaranya mencuat.Memiliki daya dan khas.

Pertamakali mendengar suara Wiwiek Lismani yaitu di album Dasa Tembang Tercantik LCLR Prambors 1980.Saat itu dengan suaranya yang mezzosopran berduet dengan Bagoes A.Ariyanto dalam lagu Maheswara.Sebagai nama baru dalam industri musik Wiwiek cukup memikat perhatian.Setidaknya diantara karakter vokal Berlian Hutauruk dan Louise Huatauruk yang telah memiliki nama,Wiweik Lismani  menyimpan harapan tersendiri.Apalagi tampaknya Wiwiek lebih cenderung memihak dengan lagu-lagu pop yang cenderung jazzy.
Wiwiek Lismanitak terlalu mengumbar melisma yang tak penting.
Kedua kali suara Wiwiek Lismani terdengar lagi di saat ikut mendukung album “Hotel San Vicente” yang dibentuk Fariz RM di tahun 1981.

25169_382405293284_946413_n
Tak lama berselang Wiwiek Lismani merilis album solo.Di album ini Wiwiek didukung oleh pemusik yang tergabung dalam Drakhma,Transs dan The Rollies.
Musiknya mungkin lebih tepat disebut adult contemporary pop.Arransemennya tampak berlenggang diantara wilayah pop dan jazzy.
Tak heran,karena penata musik dan pendukung musiknya antara lain ada Dodo Zakaria (keyboards),Jimmie Manopo (drums),Oetje F Tekol (bass),Djundi Karjadi (synthesizers) dan Uce Haryono (drums).
Arransemen musiknya memang tidak simple.Penuh sinkopasi serta progresi akord yang lebih luas dan kaya.
Simak saja introduksi lagu “Hari Bahagia” yang memperdengarkan harmonisasi antara trombone,vibraphone dan elusan bass yang membawa kita pada aura musik jazz.Beat samba pun terdengar.
Ungkapan jazzy itu pun terlihat jelas pada lagu-lagu karya Dian Pramana Poetra maupun Eddy Harris.
Sayangnya album ini memang tak berhasil mencuat.Bahkan banyak ornag yang tak tahu akan rilis album ini.

Track List :

01. SUARA DAN DOA (cipt. Jundi V.K. / Deddy Dhukun)
02. HARI BAHAGIA (cipt. Bambang BRT)
03. SALAMKU (cipt. Dian Pramana Poetra)
04. SEIA SEKATA (cipt. Dian Pramana Poetra)
05. DI ATAS SEGALANYA (cipt. Deddy Dhukun)
06. DEWI MALAM (cipt. Bambang BRT)
07. BUNGA ASMARA (cipt. Deddy Dhukun)
08. KHAYAL DAN KENANGAN (cipt. Eddy Haris)
09. KUSADARI YANG TERJADI (cipt. Deddy Dhukun)
10. HARAPAN YANG PUNAH (cipt. Eddy Haris)

Diskusi Rock Diatas Atap

Posted: November 29, 2014 in Kisah, Opini

Sekelompok mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia bikin hajat apresiasi musik.Mereka sepertinya tiap tahun selalu bikin acara semacam ini.Sebuah gagasan bagus untuk memberikan wawasan musik terutama dari koridor pop culture terhadap para mahasiswa yang setiap harinya telah bergelut mengenyam ilmu dan pendidikan.Tanggal 1 November 2014,para mahasiswa yang tergabung dalam BSOBand UI menggelar diskusi Music Industry Seminar dengan tema Defining Rock. Mereka mempertemukan dua generasi musik berbeda,Donny Fattah dari generasi pemusiki 70an dan kelompok tigapagi dari generasi musik sekarang ini.

poster.

Saya diminta untuk mengarahkan lalu lintas perbincangan yang berlangsung di atas atap Teater Salihara yang terletak di Jalan Salihara 16 Jakarta Selatan.Diskusi membahas musik rock di udara terbuka di atas atap sebuah gedung yang artistik ternyata mampu membuat yang hadir jadi lebih bergairah meskipun wajah dan tubuh diterpa udara  panas nan menyengat. Tapi toh bincang-bincang dari dua generasi rock berbeda ini terasa memiliki dinamisasi.

Suasana diskusi musik  di atas atap Teater Salihara 1 November 2014 yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Suasana diskusi musik di atas atap Teater Salihara 1 November 2014 yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Kesempatan pertama saya berikan kepada Donny Fattah bassist band rock God Bless yang telah malang melintang 41 tahun sejak terbentuk pada tahun 1973.Donny Fattah juga dikenal sebagai seorang songwriter,Selain aktif dan setia dalam tubuh God Bless, Donny yang sejak awal 70an telah ikut mendukung berbagai grup rock seperti Zonk hingga Fancy jr, juga memiliki kegiatan musik lain diluar God Bless.Dari tahun 1977 hingga 1981 Donny bersama adiknya Rudi Gagola membentuk proyek musik D & R yang melahirkan sebanyak 3 album .Di paruh 80an Donny membentuk Donny & Friends yang menyatukan kolega-koleganya dalam musik rock merilis album dan manggung.Di awal 90an Donny Fattah diajak Yockie Surjoprajogo ikut mendukung Kantata Takwa yang digagas maesenas Setiawan Djody.Di akhir 80an Donny Fattah pun ikut mendukung Gong 2000 yang dibentuk gitaris Ian Antono.

10378061_10152589872178285_6246359463196294620_n

Dengan gaya yang santai,Donny menuturkan pengalamannya sejak akhir 60an hingga masuk ke dasawarsa 70an saat musik rock mulai berkembang di Indonesia.”Saat itu kami lebih banyak memainkan karya-karya rock mancanegara.Karena zamannya memang seperti itu” urai Donny Fattah.

10456227_10152535065568285_4520955121085267374_n

Itu adalah era Orde Baru mulai berkuasa, dimana musik Barat atau rock yang dalam rezim Orde Lama  dianggap dekaden dan ngak ngik ngok mulai bisa diputar di radio-radio atau dipentaskan secara umum di panggung-panggung pertunjukan.”Namun saat di God Bless kami berupaya tetap kreatif dengan tidak memainkan lagu-lagu orang sepersis mungkin tapi kami arransemen ulang dengan gaya musik kami” imbuh Donny Fattah.

Defining Rock bersama Donny Fattah dan tigapagi (Foto Iman Fattah)

Defining Rock bersama Donny Fattah dan tigapagi (Foto Iman Fattah)

Di era 70an banyak band-band rock yang tampil aktraktif dan dinamis di panggung tapi harus melakukan kompromi saat masuk ke dalam bilik rekaman.God Bless malah melakukan hal yang berbeda.Mereka tak mau disetir oleh label rekaman.Di tahun 1976 God Bless merilis album debut pada label Pramaqua dengan memainkan musik rock tanpa harus menyanyikan lagu-lagu pop yang mendayu-dayu.

Lagi berbincang dengan kelompok musik tigapagi di Teater Salihara sebelum berdiskusi tentang Defining Rock yang diadakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jam 15.00 WIB sabtu 1 November

Lagi berbincang dengan kelompok musik tigapagi di Teater Salihara sebelum berdiskusi tentang Defining Rock yang diadakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jam 15.00 WIB sabtu 1 November

Lain pula dengan generasi sekarang yang sudah dilengkapi dengan perkembangan teknologi yang banyak memiliki fasilitas pendukung sebuah proses kreatif termasuk proses rekaman.Idealisme bermusik mungkin lebih bisa dikemabngkan pada zaman sekarang, hal yang nyaris sulit untuk dilakukan pada era 70an.Jika rata-rata anak band era 70an lebih bangga memainkan repertoire asing, maka anak band sekarang justru menanggung beban malu jika hanya sekedar menjadi copycat belaka.Sigit dari tigapagi juga gitaris jazz Tesla Manaf menguraikan argumen tentang kondisi bermusik zaman sekarang yang jelas berbeda dengan yang dialami oleh generasi Donny Fattah pada era 70an.

10624786_10152590018463285_8680836674563977415_n

Konsep D.I.Y atau Do It Yourself yang menjadi kredo musik anak band zaman sekarang pada akhirnya memang mampu mempertahankan idealisme bermusik.Namun baik Sigit maupun Tesla Manaf mengaku kagum dengan alotnya posisi tawar yang dilakukan God Bless hingga menghasilkan album debut rekaman yang tetap mempertahankan idealisme yakni memainkan musik rock gaya mereka sendiri.

10411814_10152535069428285_3931851301074616081_n

“Album perdana God Bless memang tidak laku dipasaran,tapi kami semuanya merasa puas karena telah mengeluarkan semua energi kreativitas kami” ujar Donny Fattah.Baru di tahun 1988,God Bless secara perlahan mampu berbicara secara pencapaian ekonomi dalam penjualan albumnya.Saat itu,album “Semut Hitam” yang dirilis Logiss Record terjual melampaui jumlah 400.000 kaset. Ini sebuah pencapaian luar biasa dari penampilan band rock di jalur rekaman.

Mulai dari paruh era 60an ,lalu masuk  dasawarsa 70an hingga 80an  beberapa penyanyi Indonesia tercatat merekam album di Jerman Barat.Mulai dari kelompok jazz The Indonesian All Stars,Mogi Darusman,Vina Panduwinta serta kuartet Vanua Levu yang antara lain didukung dua penyanyi tenar Indonesia Duddy Iskandar dan January Christy.

Single Vanua Levu Shulu,Shululu

Single Vanua Levu Shulu,Shululu

Di tahun 1981 ada sebuah rilisan rekaman yang beredar secara internasional di Jerman Barat bertajukIsland Of Fantasy, sebuah album dengan materi musik crossover antara musik populer Hawaii dengan dikemas beat ala disko.Album ini berisikan sekitar 18 lagu .

vanua_levu-islands_of_fantasy

Ini ke 18 track album Vanua Levu :

Tracklist:

A1 Shulu, Shululu
Written-By – John Battes , Michael Zai
A2 Aloha Ohe
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
A3 Blue Moon
Written-By – R. Rodgers / Hart*
A4 Bali-Hai
Written-By – R. Rodgers / O. Hammerstein*
A5 Honolulu Love Song
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , N. Martinique*
A6 Suma Hama
Written-By – M. Love*
A7 Bananaboat Song
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
A8 Suki Yaki
Written-By – Ei Rokusuke , Nakamura Hachidai*
A9 Sleepy Lagoon
Written-By – E. Coates* , J. Lawrence*
B1 Jamaika Farewell
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B2 Islands Of Fantasy
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , N. Martinique*
B3 Hawaiian Rose (Danny Boy)
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B4 Only A Fool
Written-By – G. Kennedy*
B5 Island Of Dreams (There’s No More Corn On The Brassos)
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B6 Moonlight In Hawaii
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade*
B7 The Moon Of Manakoora
Written-By – A. Newman* , F. Loesser*
B8 Yellow Bird
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B9 Vanua Levu

Vanua Levu juga merilisnya dalam beberapa format vinyl single.

VVVVV

75 Tahun Bob Tutupoly

Posted: November 29, 2014 in Kisah, profil

Beberapa pekan lalu penyanyi populer Indonesia Bob Tutupoly menelpon saya,meminta alamat kediaman saya.”Saya mau bikin pesta ulang tahun yang ke 75.Datang ya Den” ucap Bob Tutupoly dengan suara yang ramah.
Wow ,Bob Tutupoly telah berusia 75 tahun.Rasanya baru kemarin saya yang masih duduk di bangku SMP menyimak suara om Bob Tutupoly menyanyikan Widuri,hamper saban hari baik di radio-radio maupun TVRI. Sejak kecil saya sudah akrab dengan suara dan lagu-lagu dari Bob Tutupoly melalui speaker turntable ayah saya.Yang saya ingat ketika saya duduk dibangku kelas 1 SD pada tahun 1969, saya telah mendengarkan Bob Tutupoly yang diiringi Enteng Tanamal menyanyikan Stone Free-nya Jimi Hendrix denganwarna suara yang soulful. Beberapa tahun kemudian suara Bob Tutupoly terdengar di semua gelombang radio menyanyikan lagu karya Ismail Marzuki “Tinggi Gunung Seribu Janji” yang lebih banyak dikenal orang sebagai lagu “Memang Lidah Tak Bertulang”.
Di usia 75 tahun,Bob Tutupoly tak terlihat letih meniti karir musiknya.Bob Tutupoly tetap ceria tanpa beban.Kehidupan hari tuanya jauh berbeda dengan tipikal seniman musik kita yang terlihat terlunta-lunta menjalani masa tua. Bob Tutupoly memiliki asset hari tua yang menjanjikan.Bahkan di tahun 2012 Bob Tutupoly merilis album solo dengan hits single “Melodi Cintaku” karya Younky Soewarno & Maryati. Bob Tutupoly juga kerap berkolaborasi dengan pemusik-pemusik yang usianya terpaut jauh.Misalnya di tahun 2005 band Mocca mengajak Bob Tutupoly berduet lewat lagu “This Conversation” dan “Swing It Bob”.

Lalu di tahun 2012 Bob Tutupoly berkolaborasi dengan Shaggydog di pentas pertunjukan Djakarta Artmosphere. Bob Tutupoly bisa berbaur dan bersenyawa dengan pemusik lintas generasi.
Ini justru mengingatkan saya pada Tony Bennet,penyanyi pop legendaries yang kerap melakukan kolaborasi dengan berbagai pemusik lintas genre dan lintas generasi.Terakhir,Tony Bennet yang telah berusia 88 tahun,melakukan kolaborasi duet dengan Lady Gaga yang kontroversial.
Bahwa pada akhirnya kita pun mahfum bahwa musik memang tak mengenal sekat usia,sekat genre maupun sekat generasi.
Jika kita telusuri perjalanan karir musik Bob Tutupoly,penyanyi yang dilahirkan 13 November 1939 memang bak bianglala, sarat warna.Bob Tutupoly memasuki ranah genre apapun.Mulai dari pop,jazz,hingga rock,soul funk dan R&B.
Karir musik Bob Tutupoly terbentang amatlah panjang..

“Tahun 1957 saya diminta mengisi acara Jazz di RRI Surabaya bersama Quartet Modern Jazz yang dipimpin Didi Pattirane.Saat itu kita mulai menyanyi dengan gaya The Hi-Lo’s hingga Four Freshmen” kisah Bob.Selain itu bersama Didi Pattirane juga,serta Loddy Item,ayahnya Jopie Item,Max Lee,kami tergabung dalam Band Bhineka Ria Surabaya.Band ini lalu ikut dalam event Festival band se Indonesia yang digelar di Gedung Ikada Jakarta tahun 1959.”Saat itu Bhineka Ria meraih juara 1 lho” kenang Bob Tutupoly. Dalam beberapa acara pesta,Bob Tutupoly tampil bersama Bubi Chen (piano) dan Jopie Chen (bass) dari The Chen Brothers.
Di tahun 1959 pula Bob merekam lagu lagu Maluku seperti “Sarinande”,”Mande Mande” di perusahaan rekaman milik Negara Lokananta yang ada di kota Solo.”Tapi rekamannya di RRI Surabaya” ujar Bob.Setahun kemudian Bob merampungkan rekaman di Irama milik perwira Angkatan Udara Soejoso Karsono menyanyikan lagu-lagu : Kopral Djono hingga Oto Bemo.Lalu Bob pindah kuliah di Bandung.”Disini saya bergabung dengan band Crescendo menghibur publik di Bumi Sangkuriang” ingat Bob Tutupoly.
Di tahun 1963 Bob bergabung sebagai penyanyi dalam kelompok The Jazz Riders yang didukung almarhum pianis Didi Tjia serta multi instrumentalis Bill Saragih.Kelompok elit jazz ini bermain di Hotel Indonesia Jakarta.
Di jelang akhir dasawarsa 60-an,Bob merekam suaranya di Remaco bersama iringan Pantja Nada-nya Enteng Tanamal,dan menghasilkan hits “Tinggi Gunung Seribu Djandji.

Bob Tutupoly tampil di TVRI bersama Udinsyach dan Gatot Soenjoto tahun 1975 (Foto Dokumentasi TVRI)

Bob Tutupoly tampil di TVRI bersama Udinsyach dan Gatot Soenjoto tahun 1975 (Foto Dokumentasi TVRI)

Tahun 1968 melalui label Remaco Bob Tutupoly merilis dua album cover masing-masing bertajuk “Dedicated To Dr.Martin Luther King” dan “Merci”
Di tahun 1969 Bob merantau ke negeri Paman Sam atas dukungan kelompok instrumental The Ventures,yang saat itu baru saja menyelesaikan konser di Jakarta.”Bob Bogle dari The Ventures yang tertarik mengajak saya untuk merekam album di AS” ujar Bob Tutupoly.
Antara tahun 1969-1971 Bob kerap melakukan pertunjukan di klab malam yang adadi LosAngeles bersama band The Midnighters.”Di tempat saya main,saat itu juga Al Jarreau sering tampil.Dia nyanyi sambil main gitar dan ditemani sebuah beatbox.Unik sih” kata Bob Tutupoly.
Saat itu pula Bob Tutupoly mendapat peluang rekaman di Reprise yang dimiliki Frank Sinatra.Bob dipersiapkan membuat single yang berisikan dua lagu :”I’ve Been Loving You Too Long” nya OtisRedding dan “Hello L.A.Bye Bye Birmingham” karya Delaney Bramlett dan Mac Davis..Namun ternyata rekaman itu akhirnya urung dirilis.
Di tahun 1972,Bob mendapat tawaran dari Ibnu Sutowo untuk bekerja di Ramayana Restaurant,yang dikelola Pertamina.Di situ Bob bertugas sebagai Public Realtion,manajer serta penghibur “Saya menyanyi,juga tampil sebagai MC” ungkap Bob.
Tahun 1976,Bob balik ke Indonesia untuk menikah.Kepulangannnya ditandai dengan kembalinya Bob ke Remaco.Diluar dugaan lagu “Widuri” karya Adriadie berhasil melambungkan namanya ke permukaan.”Terus terang Widuri lah yang banyak memberiku rezeki.Salah satunya ya rumah saya ini” kenang Bob.
Bob Tutupoly adalah artis musik yang tak hanya memiliki bakat luar biasa dalam musik, melainkan sosok perencana yang telah merancang perjalanan hidupnya secara seksama dan lentur.Bob Tutupoly bisa menyelusup sekaligus menyeruak kemana saja .Baginya tak ada kata pension bagi seorang seniman musik.Bermusik itu seolah takdir yang tak mungkir.
Mocca agaknya memahami pola kehidupan seorang Bob Tutupoly dalam berkesenian.Terlihat jelas dari deretan lirik yang ditulis Mocca tentang Bob Tutupoly dalam lagu bertajuk “Swing It Bob”.Dan Bob Tutupoly menyanyikan lagu ini dengan lepas tanpa beban :
Never Mind, Troubles That May Have Come
Just Go Along With The Tunes The Bad Are Playing
But Let s Go And Dance
Do The Tango Or A Mambo Jumbo I Don t Care
Do The Cha Cha Cha
Do The Tango
Do The Samba
Or Perhaps Play Something Sweet Slow And Nice Like A Waltz?
Naa I Prefer To Go Swinging
Swing It, Bob ……!!!!!

Menurut saya lagu Renjana adalah sebuah mahakarya dari Guruh Sukarno Putra yang menautkan melodi dan lirik lagu yang berlumur misteri.Tafsir lagu ini memang bisa berkelebat dari sudut pandang yang beda.Walaupun ketika lagu ini berhasil menjadi pemenang Festival Lagu Populer Indonesia tahun 1976,Guruh mentakwilkan makna renjana sebagai sebuah bentuk kenelangsaan dalam takaran romansa ,tapi saya malah menemukan padanan makna yang lebih jauh dan lebih dalam dari sekedar rasa galau seseorang dalam dimensi percintaan.Saya mlah merasa lagu ini cerminan kekalutan seorang Guruh terhadap Indonesia meski dalam pemaknaan yangh samar.Ada frasa tentang kebangkitan dalam deretan lariknya berikut ini :

Di malam hening tertegun kumerenung.

menanti fajar tak kunjung datang.

Sukmaku bergetar digenggam halimun dingin.

Terkungkung langit nan kelam
Pagi pun datang meremang cahya rawan.

Seakan enggan menyongsong siang.

Hatiku merintih ditindih derita beku

Merana berkawan sunyi
Tetesan embun mengusik mimpi

Kuterjaga kumeronta.

Kutinggalkan mimpi hampa
Angin kembara bmenebar wangi bunga.

Menepis mendung mengusap embun.

Hasratku menderu.

Menuju dataran hijau.

Tempat bersemi hayatku

Guruh Sukarno Putra dan Kris Dayanti (Foto Antara News)

Guruh Sukarno Putra dan Kris Dayanti (Foto Antara News)

Dalam tafsir yang tersemburat di benak saya, saya menangkap makna  deretan lirik-lirik lagu Renjana ini sesungguhnya mencerminkan kegundahan yang dirasakan Soekarno,proklamator sekaligus presiden pertama NKRI yang juga merupakan ayah kandung Guruh Sukarno Putra, manakala diri beliau dihujam penuh dendam dalam sebuah konstelasi politik di negeri ini..

Dan dalam konser Salute To Guruh Sukarno Putra  yang digagas oleh Erwin Gutawa beberapa malam lalu di Plenary Hall Jakarta Convention Center, lagu yang pertamakali dibawakan oleh penyanyi Grace Simon di panggung World Popular Song Festival Budokan Hall Tokyo 1976, dibawakan lagi dengan ekspresi yang memikat dari Kris Dayanti.Selama ini kita hanya mengenal Renjana dalam versi Grace Simon saja, dan KD berhasil memberi sukma dalam tiap kata yang diukir Guruh 3 dasawarsa silam.Saya pun terkesiap menyimaknya.