Apakah Kami Bintang Rock ? (Wawancara Dengan John Petrucci)

Posted: November 10, 2014 in Wawancara

Untuk kedua kalinya saya bersua dengan John Petrucci,gitaris band prog metal Dream Theater yang kini memelihara kumis dan janggut lebat.Sepintas Petrucci yang dilahirkan 12 Juli 1967 ini terlihat seperti Kapten Haddock,tokoh dalam komik Tintin.Pertama,dua tahun silam saat Dream Theater untuk pertamakali menggelar konser di Ancol Jakarta.
John Petrucci adalah salah satu tokoh kunci dalam Dream Theater, sebagai salah satu pendiri disamping menulis dan memproduksi hampir seluruh album Dream Theater mulai dari album Metropolis Pt 2 : Scenes from A Memory hingga album terbaru “Dream Theater” (2013).

Bersama gitaris Dream Theater John Petrucci (Foto Denny Sakrie)

Bersama gitaris Dream Theater John Petrucci (Foto Denny Sakrie)

Siang itu, minggu 26 Oktober 2014 sekitar jam 14.00 WIB saya ngobrol dengan John Petrucci di Business Room Sultan Hotel.Gitaris yang menempati urutan ke 2 gitaris metal terbaik dalam buku “The 100 Metal Guitarist” yang ditulis Joel McIver, terlihat segar siang itu.
Q : Anda terlihat segar siang ini
A : Oh really ? Iya tadi saya sempat ngegym sekitar 2 jam
Q : Tadi saya sempat melihat anda dikejar-kejar fans anda di lobi hotel.Menggangukah ?
A : Oh not really.Saya malah menikmatinya.Mereka datang minta foto bersama dan minta tandatangan di cd dan vinyl Dream Theater, bahkan ada yang bawa gitar Music Man untuk ditandatangani juga.Bahkan kemarin saat kami tiba di bandara,tiba-tiba beberapa petugas berbaju seragam mendatangi saya.What’s wrong ? Eh ternyata mereka malah ingin berfoto bersama dan minta tandatangan.Ini sambutan luarbiasa bagi band seperti Dream Theater.Are we a rock star ?……..ha ha ha ha.
Q : Gimana komentar anda tentang fans Dream Theater di Indonesia ?
A : Tampaknya mereka betul-betul die hard fans.Mereka kenal betul lagu-lagu kami.Mereka punya cd dan vinyl kami.Ini tentu membanggakan buat kami
Q : Betulakah malam nanti Dream Theater akan tampil dipanggung selama 3 jam ?
A : Iya betul.Ini merupakan persembahan kami untuk fans fans kami yang sangat loyal di berbagai Negara termasuk Indonesia.Kami ingin memberikan sesuatu yang beda dalam konser kami mulai dari penyusunan setlist hingga penonjolan visual di panggung.Dan ini merupakan bagian dari anniversary Dream Theater yang memasuki hampir seperempat abad berkarir.
Q : Apa yang membuat Dream Theater bisa bertahan dalam industri musik ?
A : Sederhana saja, kami memainkan musik secara konsisten.Kami tetap pada jatidiri musik kami,tapi tetap update dengan kekinian.Dan ternyata penggemar Dream Theater bukan hanya itu itu saja melainkan bertambah.Saya lihat di youtube ada beberapa anak remaja belasan tahun yang mencoba membawakan karya-karya kami.
Q : Bagaimana dan dimana posisi Dream Theater dalam industri musik yang mulai mengalami pergeseran dalam distribusi musik ?
A : Memang terjadi perubahan yang signifikan.Kami harus menerima kenyataan bahwa penjualan album yang mencapai sertifikat Platinum nyaris tinggal kenangan.Tapi album kami masih tetap ada yang membeli.Ketika album “Dream Theater” dirilis pada September tahun lalu,di minggu pertama telah terjual lebih dari 34 ribu keping dan langsung menempati posisi 7 “Top 200 Albums” di majalah Billboard.
Q : Apa tanggapan anda dengan distribusi musik secara digital ?
A : No problem.Apa pun formatnya menurut saya selama karya-karya kami bisa diterima ke masyarakat hal itu bukan persoalan yang mendasar.Karena selama ini selain karya-karya kami di lempar kepasaran dalam bentuk fisik seperti cd dan vinyl, juga tersedia dalam format digital seperti i-Tunes.
Q : Anda lebih suka format fisik atau digital ?
A : Jujur saya masih menyukai format fisik.Tapi saya tidak begitu suka dengan streaming seperti yang dilakukan Spotify dan lain lain.
Q : Kenapa untuk album terbaru hanya diberi judul selftitled ? Apakah bingung tidak menemukan judul yang tepat ?
A : Ha ha ha ha biasanya sebuah band memberi judul album debut dengan selftitled .Kami sengaja member judul selftitled ini sebetulnya untuk menandai anniversary Dream Theater saja.
Q : Anda banyak menulis lagu untuk Dream Theater,right ? Well,jika saya amati banyak struktur notasi yang terdengar melodius.Why ?
A : Ohhh…..ha ha ha ha iya mungkin karena saya terlahir sebagai seorang Itali,jadi selalu ada nada-nada melodius atau romantik yang secara naluriah keluar.
Q : Kalo boleh tau apakah ada lagu yang sifatnya personal ?
A : Ada beberapa diantaranya adalah Take Away My Pain yang ada di album “Falling Into Infinity”.Lagu ini saya tulis setelah ayah saya meninggal dunia tahun 1996.
Q : Apakah anda menulis lagu cinta juga ?
A : Iya tapi tidak dalam lirik-lirik yang tipikal.
Q : Apakah ada lagu favorit anda yang paling anda sukai ?
A : Hmmmm….saya suka lagu In Your Eyes dari Peter Gabriel.Saya suka cara Peter Gabriel menulis lirik.Sangat inspiratif.
Q : Apakah anda suka membaca buku sebagai inspirasi menulis lirik ?
A : Saya jarang baca buku.Tema atau lirik yang saya jadikan lagu biasanya muncul dari peristiwa-peristiwa yang saya alami.Saya bukan Neil Peart yang banyak mengangkat tema dari buku ke dalam lagu ha ha ha ha

Sambil memegang vinyl Dream Theater Images And Words (Foto Denny Sakrie)

Sambil memegang vinyl Dream Theater Images And Words (Foto Denny Sakrie)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s