Koalisi Musik Pop Kreatif

Posted: November 13, 2014 in Opini

34 tahun silam tepatnya juni 1980 muncul album bertajuk “Sakura” (Akurama Record) dari seorang pemusik pendatang baru dalam industri musik : Fariz RM.Anak muda ini telah dikenal sebagai drummer Badai Band.Ikut menyumbangkan permainan drumnya di album fenomenal Badai Pasti Berlalu (1977),menjadi finalis Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1977 bersama SMA III Vokal Grup , serta menyumbangkan lagu ciptaannya Cakrawala Senja di album solo debut Keenan Nasution “Di Batas Angan Angan” (Gelora Seni Record, 1978).Menariknya,album “Sakura” milik Fariz RM,memiliki nuansa musik yang berbeda dengan Badai Pasti Berlalu maupun album Keenan Nasution.Fariz RM dengan kemampuan memainkan banyak instrumen musik ini malah cenderung menjejalkan musik bernuansa R&B,funk serta sedikit rasa jazz dengan aksentuasi pada rhythm section berbumbu sinkopasi.Eklektika musik semacam ini dalam industri musik dan radio kerap dikategorikan sebagai Adult Contemporary Music. Sajian musik ala Fariz RM ini lalu direspon anak muda kalangan menengah keatas.

Dian Pramana Putra dan Fariz Rustam Munaf (Foto Wendi Putranto)

Dian Pramana Putra dan Fariz Rustam Munaf (Foto Wendi Putranto)

Di tahun yang sama,Dian Pramana Poetra berhasil mengukir prestasi sebagai finalis Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1980 lewat lagu bertajuk “Pengabdian” yang dinyanyikannya bersama Bourest Vokal Grup.Tahun 1982 Dian Pramana Poetra merilis album solo debut bertajuk Indonesia Jazz Vocal (Jackson Record and Tapes).Musik yang ditampilkan merupakan perpaduan antara jazz,pop dan R&B.
Lagu-lagu yang disebar oleh Fariz RM dan Dian Pramana Poetra memang berhasil memikat penyimaknya yang berasal dari kalangan pelajar maupun mahasiswa dengan status sosial menengaj keatas.Sejak tahun 1977,ketika album Badai Pasti Berlalu dan LCLR Prambors Rasisonia 1977 dengan hits Lilin Lilin Kecil yang dinyanyikan Chrisye, sempat menyeruakkan paradigma baru dalam konstelasi musik popular Indonesia yang saat itu didominasi oleh band-band ala Koes Plus maupun penyanyi-penyanyi solo seperti Bob Tutupoli,Arie Koesmiran,Eddy Silitonga hingga Hetty Koes Endang. Lagu-lagu pop yang dipelopori Chrisye dkk ini dengan pola penulisan lirik yang lebih variatif dan tata musik yang lebih kaya serta elegan oleh media saat itu kerap ditulis sebagai musik gedongan .
Fariz RM dan Dian Pramana Poetra adalah generasi berikutnya dari musik pop yang diistilahkan sebagai musik gedongan tersebut.Di paruh era 80an,industri musik Indonesia kian marak,musik pop dengan gaya mendayu-dayu kian marak.Munculnya label Lolypop Record yang diprakarsai Rinto Harahap di tahun 1975 kini ditambah lagi dengan kehadiran label JK Records yang memiliki arah musik yang sama : musik mendayu-dayu yang dibawakan sederet penyanyi wanita berparas cantik kemayu seperti Dian Piesesha,Meriam Bellina,Heidy Diana,Lydia Natalia,Nindy Ellise dan banyak lagi.
Disisi lain,musik popular yang dihasilkan Guruh Sukarno Putra,Eros Djarot,Chrisye,Keenan Nasution,Chaseiro,Candra Darusman,Junaedi Salat,Harry Sabar,Louis Hutauruk,Vina Panduwinata termasuk Fariz RM dan Dian Pramana Poetra juga memiliki penggemar yang tak sedikit.
Seno M Hardjo,seorang wartawan dari majalah remaja Nona,secara personal ternyata menggemari karya-karya musik dari sederet pemusiki yang saya sebut terakhir tadi.Seno merasa perlu untuk mengkategorikan lagi jenis musik pop yang beredar dikalangan masyarakat.Maka muncullah istilah Pop Kreatif dari benak Seno M Hardjo yang kemudian didukung pula oleh Bens Leo,wartawan dari majaklah Gadis,untuk mengkategorikan musik atau lagu yang disajikan Guruh Sukarno Putra,Eros Djarot,Chrisye,Keenan Nasution,Harry Sabar,Junaedi Salat,Debby Nasution serta Fariz RM dan Dian Pramana Poetra.Logika Seno M Hardjo berbicara bahwa musik-musik mereka ini terasa memiliki aura kreatif mulai dari pemilihan melodi,akord dan tata aransemen hingga thesaurus kata yang dip;ilih saat menuliskan lirik.Tegasnya,Pop Kreatif ini adalah istilah untuk membedakannya dengan musik pop mendayu-dayu atau seperti yang diistilahkan Harmoko saat itu : Pop Cengeng .
30 tahun setelah merebaknya istilah Pop Kreatif yang kermudian menjadi polemik di berbagai media ,Seno M Hardjo bersama label yang didirikannya pada paruh era 90an lalu membuat sebuah album bertajuk Fariz RM & Dian PP In Collaboration With, yang isinya adalah sederet lagu-lagu karya dua ikon musik pop 80an itu yang ditafsir ulang oleh sederet artis musik masa kini.Album ini bisa kita sebut sebagai sebuah napak tilas atau sebuah rekonstruksi darib fenomena musik pop kreatif yang merebak di era 80an dengan mengajak artis musik seperti Glenn Fredly,Sammy Simorangkir,Sandhy Sondoro,Fatin,Maliq N D’Essentials,3 Composer,Ecoutez,Sore dan masih banyak lagi yang lain.
Album ini mungkin lebih tepat disebut sebuah koalisi musik popular dari 3 angkatan pemusik Indonesia,mulai dari Fariz RM dan Dian PP yang mewakili artis musik 80an serta para penyanyi penafsir yang berasal dari era 90an hingga 2000an.
Seno M Hardjo sendiri sebetulnya telah menggagas proyek besar ini sejak tahun 2000.Saat itu Seno yang rajin mengeluarkan rilisan back catalog Fariz RM dan Dian PP,berniat untuk membuat album Tribute To Fariz RM.Gagasan cemerlang itu akhirnya berhenti karena mengalami banyak kendala.
14 tahun berselang barulah gagasan itu bersemi lagi.SenoM Hardjo bersama labelnya Target Pop akhirya menyatukan karya-karya monumental Fariz RM dan Dian PP dalam sebuah album tribute yang sarat warna. Seno pun menuturkan perihal keinginannya membuat album yang memiliki semangat apresiasi ini : “Intinya, buat saya daur ulang bukan sekadar mengulang karena nostalgia atau romantisme belaka. Tapi lebih merupakan kreativitas yang bersinergi. Detilnya, album ini mencoba bertujuan untuk menjadi pustaka musik kontemporer dan futuristik Indonesia. Selain misi visi utama, ingin melestarikan karya Komposer legenda di negeri ini.
Di album kolaborasi ini antara lain menyertakan Sandhy Sondoro penyanyi beraksen soul klasik yang kental berduet bersama Fariz RM dengan aransemen yang digarap Yudis Dwikorana. Menariknya, Barcelona yang dirilis pada 1987 dengan susupan gitar flamenco, hadir berbeda ditangan Maliq D’Essential. Juga Nada Kasih yang awalnya menyatuka suarat Fariz RM dan Neno Warisman Sebuah Obsesi, kini menghadirkan duet Angel Pieters.Dian PP, setelah menguat dengan gaya jazz vokal, pada tahun 1986 atas ajakan Yockie Suryoprayogo melejitkan hits Kau Seputih Melati yang kini ditafsir ulang oleh Sammy Simorangkir.Ecoutez pun member sentuhan lain dari lagu Diantara Kata yang dinyanyikan Fariz RM pada album “Panggung Perak” (Akurama Record 1981).Bahkan lagu “Jawab Nurani” karya Fariz RM dan Jundi Karjadi dari album “Hotel San Vicente” dari Transs (Akurama Record,1981) dinterpretasikan secara bebas oleh Sore.Lagu bernuansa disko ini jadi berubah perangai dalam harmoni vokal yang rapat serta aransemen yang terasa lebih kaya. Gagasan album ini memang bukanlah sesuatu yang baru,namun upaya menautkan lintas generasi musik dan lintas genre ini merupakan upaya untuk mengapresiasi sekaligus melestarikan karya-karya musik yang pernah mencapai kejayaan dalam sebuah era musik.
Menurut produser album Seno M Hardjo ,karya lagu daur ulang, adalah tantangan untuk mengusung sesuatu inovatif. “ Tak muluk, mengingat kehadiran album kolaborasi ini berada di tengah dialektika kontra produktif industri rekaman yang kini memang sedang carut marut” imbuhnya lagi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s