Rilis Ulang Album Jazz Fenomenal Djanger Bali

Posted: November 21, 2014 in Kisah, Liputan

Ini ada kisah napak tilas perjalanan musik jazz di Indonesia yang dilakukan oleh sederet pemusik jazz terbaik Indonesia pada dekade 60an. alkisah.di i tahun 1967 kelompok jazz Indonesia The Indonesian All Stars yang terdiri atas Jack Lesmana (Gitar),Bubi Chen (piano,zither),Maryono (saxophone,flute,suling),Jopie Chen (double bass) dan Benny Mustafa van Diest (drums) melakukan tur konser menjelajahi berbagai kota di wilayah Jerman Barat (saat itu) selama kurun waktu hampir sebulan.

Art work piringan hitam Djanger Bali

Art work piringan hitam Djanger Bali

Mereka bermain jazz tanpa henti.”Kami betul betul melakukan tur jazz yang padat termasuk tampil di Berlin Jazz Festival yang juga ditonton Herbie Hancock sampai Miles Davis ” ungkap Benny Mustafa van Diest,satu-satunya anggota The Indonesian All Stars yang masih hidup,ketika ditemui dikediamannya di bilangan Gandul Cinere awal November lalu.Sangat menarik menyimak tutur drummer jazz turunan Belanda ini seputar sepak terjang pemusik jazz Indonesia.Sebersit kebanggaan saat menyimak kisah jazz Indonesia yang dituturkan drummer legendaris ini

Benny Mustafa bersama pianis jazz Rene Helsdingen serta tim Demajors Record yang akan merilis ulang album Djanger Bali (Foto Demajors)

Benny Mustafa bersama pianis jazz Rene Helsdingen serta tim Demajors Record yang akan merilis ulang album Djanger Bali (Foto Demajors)

Kedatangan saya bersama David Karto dan David Tarigan dari Demajors Record beserta tim audio visual adalah untuk mewawancarai Benny Mustafa seputar proses penggarapan album Djanger Bali yang dirilis oleh MPS/Saba pada tahun 1967 bersama peniup klarinet asal Amerika Tony Scott.

“Jadi disamping kami melakukan serangkaian tur panjang di Jerman,dua hari diantaranya dipergunakan untuk merekam album Djanger Bali itu bersama Tony Scott” urai Benny Mustafa yang tanggal 22 September lalu genap berusia 75 tahun.

Piringan Hitam Djanger Bali asli harganya telah mencapau sekitar Ro 2,5 juta di situs e-Bay maupun Discog

Piringan Hitam Djanger Bali asli harganya telah mencapau sekitar Ro 2,5 juta di situs e-Bay maupun Discog

Tawaran untuk membuat album Djanger Bali,menurut Benny Mustafa datang dari seorang tokoh dan produser jazz di Jerman.”Namanya Joachim Berendt,dia sangat mengagumi musikalitas pemusik jazz Indonesia.Dia tertarik untuk merekam permainan jazz kita” timpal Benny Mustafa yang sore itu ditemani pianis jazz Belanda Rene Helsdingen.

Joachim Berendt ini yang kemudian berperan sebagai produser album Djanger Bali tersebut.

Lalu bagaimana hingga bisa berkolaborasi dengan Tony Scott ?

“Tony  Scott itu selalu mengajak kita untuk jam session. Kami beberapa kali melakukan pertunjukan . Dia beberapa bulan sempat tinggal di Jakarta ” tutur Benny Mustafa.

Djanger Bali akan dirilis ulang Demajors dalam format Compact Disc

Djanger Bali akan dirilis ulang Demajors dalam format Compact Disc

Peniup klarinet Tony Scott asal New York Amerika Serikat ini pernah wara-wiri di Asia sekitar 6 tahun seperti di Thailand,Taiwan serta Indonesia.Tony yang lalu sempat bermukim di Jakarta justeru banyak menyerap musik tradisi yang lalu dibaurkan dengan elemen jazz.
Selama 6 bulan Tony Scott melakukan pendekatan dengan Indonesian All Stars yang didukung Jack Lesmana (gitar),Bubi Chen (piano,zither),Benny Mustafa Van Diest (drums),Maryono (suling,flute,saxophone) dan Jopie Chen (bass).Ternyata antara Tony Scott dan The Indonesian All Stars terdapat chemistry yang tepat.Mereka menemukan bentuk kolaborasi yang tepat.

Saya mewawancarai Benny Mustafa,drummer The Indonesian All Stars,satu-satunya pemusik jazz yang terlibat proyek tersebut yang masih hidup (Foto Demajors)

Saya mewawancarai Benny Mustafa,drummer The Indonesian All Stars,satu-satunya pemusik jazz yang terlibat proyek tersebut yang masih hidup (Foto Demajors)

Lalu selama 2 hari  di kota  Berlin grup jazz kebanggaan Indonesia ini melakukan sesi rekaman untuk MPS/Saba Record yang kemudian menghasilkan album “Djanger Bali”.Album yang covernya mengambil nukilan salah satu relief di Candi Borobudur ini mengajukan konsep “East meet West”.
Beberapa instrumen musik tradisional Indonesia seperti suling bambu,kecapi dan zither dihadirkan pula di album Djanger Bali ini..Adapun sesi rekaman album ini dilakukan oleh sound engineer Rolf Donner di Saba Tonstudio ,Villingen,Black Forrest pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1967.

Benny Mustafa dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

Benny Mustafa dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

The Indonesian All Stars banyak melakukan eksperimen dan eksplorasi saat penggarapan album monumental tersebut.
Jack Lesmana  misalnya, melakukan eksplorasi  dengan memainkan nada rendah pada gitarnya untuk menyiasiati penggantian bunyi gong.Dan hasilnya memang cemerlang, tanpa gong nuansa etnik Bali bisa tercipta.
Mereka pun mencoba menafsirkan karya George Gershwin  bertajuk “Summertime” dalam perspektif tradisi karawitan.Tak ada intimidasi dua kutub budaya yang berbeda.Sesuatu yang mungkin saat itu termasuk sebuah pencapaian luar biasa.
Sebahagian besar komposisi di album ini,arransemennya dibuat oleh Bubi Chen,kecuali “Ilir Ilir” digarap oleh almarhum Maryono.Di lagu ini pun Maryono bersenandung.”Kami yang meminta dia menyanyikan lagu tersebut,karena Maryono itu orang Jawa.Kami sendiri selalu memanggil dia Jawa” ujar Benny Mustafa terkekeh.

IMG_1414

Sayangnya ketika album Djanger Bali dirilis pertamakali pada akhir tahun 1967 oleh SABA, album ini bisa dikatakan kurang mendapat perhatian.Belum ada review yang positif atas materi album ini.Kemudian album Djanger Bali dirilis kembali di awal 1969 atau 1970 ketika label SABA mengalami masalah ketika  diambil alih atau dikonsolidasikan dengan MPS/BASF. Untuk rilisan kedua Djanger Bali dirilis dengan label MPS. Disekitar dekade 90an album Djanger Bali yang termasuk dalam kategori langka  kembali dirilis ulang  oleh label  MPS dengan tajuk  “Jazz Meets the World No. 2: Jazz Meets Asia”.Di album ini terdapat dua album jazz dalam satu kemasan CD,pertama Djanger Bali dari Tony Scott and The Indonesian All Stars dan album jazz dari pemusik jazz Jepang Terumasa Hino. Dalam rilisan berformat CD ini ternyata ada satu komposisi yang tidak diikutsertakan yaitu “Mahlke” dari “Katz Und Maus” yang ditulis oleh Attilla  Cornellus Zoller gitaris jazz asal Hungaria.

Ada sedikit cerita menarik mengenai dibawakannya lagu “Mahlke” ini oleh The Indonesian All Stars.Ketika produser Joachim Berendt merlakukan muhibah  Indonesia .dia membawa  album milik Attila Zoller yang akan dirilis oleh label  SABA dimana dalam salah satu tracknya termaktub komposisi  ‘Mahlke’, yang sebenarnya merupakan sound-track dari sebuah film Jerman yang berjudul “Katz und Maus,”  berdasarkan karya Gunter Wilhelm Grass sastrawan Jermain peraih Hadiah Nobel Sastra .

Jack Lesmana tertarik untuk menyimak album Attila Zoller tersebut.Jack Lesmana ternyata menyukai komposisi lagu tersebut dan kemudian menguliknya bersama Indonesian All Stars. Pada saat The Indonesian All Stars bermuhibah  ke Jerman, mereka telah mampu memainkan lagu itu dengan penafsiran jazz yang menarik,dan  Joachim Berendt malah tertarik untuk merekamnya sebagai bagian dari materi album  “Djanger Bali”.
Album Djanger Bali pada akhirnya menjadi album jazz yang dipertimbangkan sebagai musik jazz Indonesia.Banyak review dan tinjauan musik yang memuji eksperimen The Indonesian All Stars bersama Tony Scott.

Benny Mustafa van Diest dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

Benny Mustafa van Diest dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

Sayangnya album ini sudah termasuk langka dan hanya milik para kolektor belaka.Sebuah karya besar pemusik Jazz Indonesia yang patut dikenang sepanjang masa.Beberapa waktu lalu dalam situs e-Bay maupun Discogs harga vinyl original Djanger Bali ini telah memasuki kisaran harga sekitar Rp 2,5 juta jika dikurs dalam nilai rupiah.Sangat fantastik.

Dengan melambungnya  harga atau nilai jual album otentik Djanger Bali yang kian meresahkan serta desakan keinginan untuk mendokumentasikan salah satu artefak terpenting dalam perjalanan musik jazz (di) Indonesia, pihak label Demajors terketuk untuk melakukan reissue atau rilis ulang album jazz yang menjadi target para kolektor dunia itu.

“Kami akan merilis ulang album Djanger Bali dalam format CD.Ini memang ingin meneruskan apa yang telah kami lakukan di sekitar beberapa tahun lalu saat melakukan remaster dan rilis ulang album Kuartet Bubi Chen yang pernah dirilis Lokananta Solo.Sekarang kami merasa terpanggil untuk melakukan hal yang sama lewat album Djanger Bali” jelas David Karto dari Demajors Record.

“Kami ingin agar generasi sekarang bisa mengetahui sejarah musik Indfnesia di masa silam” imbuh David Karto lagi.

Usai sesi interview untuk Behind The Scene Reissue Djanger Bali - Tony Scott and The Indonesian All Stars (Foto Demajors)

Usai sesi interview untuk Behind The Scene Reissue Djanger Bali – Tony Scott and The Indonesian All Stars (Foto Demajors)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s