Crowdfunding

Posted: November 23, 2014 in Opini

Guruh Gipsy adalah proyek eksperimen musik Bali Rock yang menghabiskan rentang waktu penggarapan album sekitar 2 tahun dari tahun 1975 -1977. Dana produksi rekaman ini jelas tak kepalang tanggung.Proyek idealis ini mampu berjalan dengan lancar karena memperoleh saweran dana dari berbagai kalangan pengusaha papan atas saat itu seperti Pontjo Sutowo,Hasjim Ning,Taufik Kiemas dan beberapa nama lainnya.Eksperimen musik semacam itu memang tak mungkin dibiayai oleh label rekaman yang berorientasi ke bisnis musik secara pragmatis. Terwujudnya album Guruh Gipsy memang karena didukung dana oleh sejumlah pengusaha tadi.

Kaset Guruh Gipsy (Foto Denny Sakrie)

Kaset Guruh Gipsy (Foto Denny Sakrie)

Menurut hemat saya inilah penggalangan dana untuk seni popular pertama yang ada di Indonesia, jauh sebelum kita mengenal sebuah platform yang diistilahkan sebagai crowfunding. Istilah crowdfunding diperkenalkan oleh Michael Sullivan di tahun 2006 yang menggagas penggalangan dana terhadap proyek videoblog.
Cikal bakal crowdfunding sebetulnya telah dimulai oleh fans loyal band prog Inggris Marillion yang mengumpulkan dana melalui internet untuk membiayai tur Marillion di Amerika Serikat dengan nama “Tour Fund”.Fanbase Marillion akhirnya mengumpulkan sekitar $ 60.000 di tahun 1997 tanpa melibatkan manajemen band tersebut.Selanjutnya Marillion melakukan crowfunding untuk 4 album dalam kurun waktu 2001 -2012.Contoh lain adalah Electric Eel Shock,band rock Jepang yang berhasil mengumpulkan dana sebesar 10 ribu poundsterling dari 100 fansnya untuk keanggotaan eksklusif pada tahun 2004.

Bahkan band ini kemudian tercatat sebagai band yang tercepat menggalang dana sebesar $ 50.000.
Platform crowfunding online mulai berkembang di Amerika dengan munculnya ArtistShare pada tahun 2003 yang kemudian diikuti dengan munculnya sederet crowfunding online seperti Chipin (2005),EquityNet (2005),Pledge (2006),Sellaband (2006),IndieGoGo (2008),GiveForward (2008),Fundrazr (2009),KickStarter (2009),Fundly (2009),GoFundMe (2010),Microventures (2010) dan Fundageek (2011). Kini,secara global, sejak tahun 2012 telah berkembang sebanyak lebih dari 450 platform crowdfunding.
ArtistShare menampilkan contoh produk crowfunding yang berhasil meraih Grammy Award di tahun 2005 tanpa merilis albumnya digerai-gerai musik umum yaitu album “Concert In The Garden” milik pianis jazz Maria Schneider. Album Maria Schneider ini betul-betul didanai oleh penggemarnya sendiri Gagasan ini hampir sama dengan yang dilakukan Komunitas LKers ,wadah penggemar pemusik folk Indonesia Leo Kristi yang melakukan crowdfunding untuk pendanaan album Warm ,Fresh and Helthy di tahun 2010 serta album terbaru Leo Kristi bertajuk “Hitam Putih Orche” (2014) yang diluncurkan 1 November lalu tanpa didistribusikan di gerai musik biasa.
Sebelum crowdfunding yang dilakukan para penggemar Leo Kristi, tercatat beberapa grup musik Indonesia yang telah melakukan crowdfunding yaitu kelompok Pandai Besi dengan album “Daur Baur” (2013) serta dua band rock BIP (Jakarta) dan Navicula (Bali).

Kelompok Pandai Besi merilis album Daur Baur berdasarkan sebuah crowdfunding

Kelompok Pandai Besi merilis album Daur Baur berdasarkan sebuah crowdfunding

LK
Kepedulian penggemar terhadap artis atau kelompok musik yang mereka idolakan dalam bentuk crowdfunding ini bukan hanya sebuah fenomena,melainkan juga sebuah solusi dalam problematika industri musik secara global.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s