Diskusi Rock Diatas Atap

Posted: November 29, 2014 in Kisah, Opini

Sekelompok mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia bikin hajat apresiasi musik.Mereka sepertinya tiap tahun selalu bikin acara semacam ini.Sebuah gagasan bagus untuk memberikan wawasan musik terutama dari koridor pop culture terhadap para mahasiswa yang setiap harinya telah bergelut mengenyam ilmu dan pendidikan.Tanggal 1 November 2014,para mahasiswa yang tergabung dalam BSOBand UI menggelar diskusi Music Industry Seminar dengan tema Defining Rock. Mereka mempertemukan dua generasi musik berbeda,Donny Fattah dari generasi pemusiki 70an dan kelompok tigapagi dari generasi musik sekarang ini.

poster.

Saya diminta untuk mengarahkan lalu lintas perbincangan yang berlangsung di atas atap Teater Salihara yang terletak di Jalan Salihara 16 Jakarta Selatan.Diskusi membahas musik rock di udara terbuka di atas atap sebuah gedung yang artistik ternyata mampu membuat yang hadir jadi lebih bergairah meskipun wajah dan tubuh diterpa udara  panas nan menyengat. Tapi toh bincang-bincang dari dua generasi rock berbeda ini terasa memiliki dinamisasi.

Suasana diskusi musik  di atas atap Teater Salihara 1 November 2014 yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Suasana diskusi musik di atas atap Teater Salihara 1 November 2014 yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Kesempatan pertama saya berikan kepada Donny Fattah bassist band rock God Bless yang telah malang melintang 41 tahun sejak terbentuk pada tahun 1973.Donny Fattah juga dikenal sebagai seorang songwriter,Selain aktif dan setia dalam tubuh God Bless, Donny yang sejak awal 70an telah ikut mendukung berbagai grup rock seperti Zonk hingga Fancy jr, juga memiliki kegiatan musik lain diluar God Bless.Dari tahun 1977 hingga 1981 Donny bersama adiknya Rudi Gagola membentuk proyek musik D & R yang melahirkan sebanyak 3 album .Di paruh 80an Donny membentuk Donny & Friends yang menyatukan kolega-koleganya dalam musik rock merilis album dan manggung.Di awal 90an Donny Fattah diajak Yockie Surjoprajogo ikut mendukung Kantata Takwa yang digagas maesenas Setiawan Djody.Di akhir 80an Donny Fattah pun ikut mendukung Gong 2000 yang dibentuk gitaris Ian Antono.

10378061_10152589872178285_6246359463196294620_n

Dengan gaya yang santai,Donny menuturkan pengalamannya sejak akhir 60an hingga masuk ke dasawarsa 70an saat musik rock mulai berkembang di Indonesia.”Saat itu kami lebih banyak memainkan karya-karya rock mancanegara.Karena zamannya memang seperti itu” urai Donny Fattah.

10456227_10152535065568285_4520955121085267374_n

Itu adalah era Orde Baru mulai berkuasa, dimana musik Barat atau rock yang dalam rezim Orde Lama  dianggap dekaden dan ngak ngik ngok mulai bisa diputar di radio-radio atau dipentaskan secara umum di panggung-panggung pertunjukan.”Namun saat di God Bless kami berupaya tetap kreatif dengan tidak memainkan lagu-lagu orang sepersis mungkin tapi kami arransemen ulang dengan gaya musik kami” imbuh Donny Fattah.

Defining Rock bersama Donny Fattah dan tigapagi (Foto Iman Fattah)

Defining Rock bersama Donny Fattah dan tigapagi (Foto Iman Fattah)

Di era 70an banyak band-band rock yang tampil aktraktif dan dinamis di panggung tapi harus melakukan kompromi saat masuk ke dalam bilik rekaman.God Bless malah melakukan hal yang berbeda.Mereka tak mau disetir oleh label rekaman.Di tahun 1976 God Bless merilis album debut pada label Pramaqua dengan memainkan musik rock tanpa harus menyanyikan lagu-lagu pop yang mendayu-dayu.

Lagi berbincang dengan kelompok musik tigapagi di Teater Salihara sebelum berdiskusi tentang Defining Rock yang diadakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jam 15.00 WIB sabtu 1 November

Lagi berbincang dengan kelompok musik tigapagi di Teater Salihara sebelum berdiskusi tentang Defining Rock yang diadakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jam 15.00 WIB sabtu 1 November

Lain pula dengan generasi sekarang yang sudah dilengkapi dengan perkembangan teknologi yang banyak memiliki fasilitas pendukung sebuah proses kreatif termasuk proses rekaman.Idealisme bermusik mungkin lebih bisa dikemabngkan pada zaman sekarang, hal yang nyaris sulit untuk dilakukan pada era 70an.Jika rata-rata anak band era 70an lebih bangga memainkan repertoire asing, maka anak band sekarang justru menanggung beban malu jika hanya sekedar menjadi copycat belaka.Sigit dari tigapagi juga gitaris jazz Tesla Manaf menguraikan argumen tentang kondisi bermusik zaman sekarang yang jelas berbeda dengan yang dialami oleh generasi Donny Fattah pada era 70an.

10624786_10152590018463285_8680836674563977415_n

Konsep D.I.Y atau Do It Yourself yang menjadi kredo musik anak band zaman sekarang pada akhirnya memang mampu mempertahankan idealisme bermusik.Namun baik Sigit maupun Tesla Manaf mengaku kagum dengan alotnya posisi tawar yang dilakukan God Bless hingga menghasilkan album debut rekaman yang tetap mempertahankan idealisme yakni memainkan musik rock gaya mereka sendiri.

10411814_10152535069428285_3931851301074616081_n

“Album perdana God Bless memang tidak laku dipasaran,tapi kami semuanya merasa puas karena telah mengeluarkan semua energi kreativitas kami” ujar Donny Fattah.Baru di tahun 1988,God Bless secara perlahan mampu berbicara secara pencapaian ekonomi dalam penjualan albumnya.Saat itu,album “Semut Hitam” yang dirilis Logiss Record terjual melampaui jumlah 400.000 kaset. Ini sebuah pencapaian luar biasa dari penampilan band rock di jalur rekaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s