Tiga Jam Diguyur Metal Progresif

Posted: Desember 5, 2014 in Konser, Liputan

Tulisan saya ini dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2014

Walaupun tak sebesar dan sekolosal Metallica, namun band progresif metal Dream Theater juga meraup banyak penggemar fanatik yang memenuhi lahan Lapangan D Senayan pada minggu 26 Oktober 2014.Sekitar 5000 penonton memenuhi lahan yang letaknya berdampingan dengan Jakarta Convention Center, yang saat itu juga tengah mengadakan perhelatan musik lintas genre Sounds Fair.Konser Dream Theater bertajuk Along For The Ride Tour 214 merupakan yang keduakalinya sejak John Petrucci (gitar),James LaBrie (vocal ),John Myung (bass),Jordan Rudess (keyboard) dan Mike Mangini pertamakali menggelar konser di Jakarta 21 April 2012 di MEIS Ancol Jakarta. Along For The Ride Tour merupakan tur yang dilakukan Dream Theater untuk mendukung album “Dream Theater” yang dirilis tahun 24 September 2013.Tur ini dimulai di Eropa 15 Januari 2014.
“Malam ini kami akan bermain sekitar 3 jam penuh” ucap John Petrucci gitaris dan salah satu pendiri Dream Theater, saat saya mewawancarainya sekitar 6 jam sebelum konser berlangsung.
Menurut,John Petrucci, selain membawakan lagu-lagu dari album “Dream Theater” ,konser ini juga membawakan sebagian repertoar dari album “Awake” yang tahun ini genap berusia 20 tahun serta selebrasi album “Metropolis Pt2 :Scenes From A Memory “ yang tepat saat konser berlangsung 26 Oktober genap berusia 15 tahun.Konser ini setidaknya merupakan retropeksi atas perjalanan karir band yang dibentuk pertamakali oleh tiga mahasiswa Berklee College of Music di Boston,Massachusetts Mike Portnoy,John Myung dan John Petrucci pada tahun 1985 dengan nama Majesty dan berubah menjadi Dream Theater di tahun 1988.
Dream Theater yang kini berada dibawah naungan label Road Runner betul memenuhi janjinya untuk tampil selama 3 jam.James LaBrie sang vokalis meyibak pertunjukan dengan berucap : “Selamat malam Jakarta.Kami akan memainkan musik selama tiga jam”,yang disambut gemuruh para penggemar Dream Theater yang datang dari berbagai kota di Indonesia.Saat itu saya sempat melihat penggemar Dream Theater yang datang dari Bali,Malang,Surabaya,Makassar,Medan dan juga Lampung.
Konser Dream Theater dibagi dalam dua sesi yaitu Act 1 dan Act 2 termasuk encore yang menyajikan sekitar 4 komposisi.Kedua sesi ini disela jeda pemutaran kumpulan klip dan footage yang berkaitan dengan Dream Theater termasuk klip para penggemar Dream Theater yang mengcover lagu-lagu Dream Theater di kanal Youtube.
Konser Dream Theater yang didukung pernak pernik visual rasanya tepat untuk mengimbuh mood dan atmosfer konser selama 3 jam tersebut .Sesi Act 1Dibuka dengan introduksi bernuansa orchestral “False Awakening” yang ditulis John Petrucci dan Jordan Rudess dan berlanjut dengan beberapa komposisi dari album “Dream Theater” seperti “The Enemy Inside”,”The Looking Glass”,”Along For The Ride” serta “Enigma Machine” yang dilanjutkan dengan solo drum dari Mike Mangini.Dalam Act 1 ini para pemusik virtuoso ini juga memainkan “The Shattered Fortress” dari album Black Clouds & Silver Linings (2009),”On The Back of Angels” dan Breaking All Illusion “dari album “A Dramatic Turn of Events” (2011) serta ,”Trial of Tears” dari album “Falling Into Infinity” (1997).
Setelah jeda intermission sekitar 15 menit Dream Theater meneruskan penjelajalahan musiknya pada Act 2 yang khusus memainkan repertoar album “Awake” .Awake adalah salah satu album terbaik Dream Theater yang mendapat review bagus atas pencapaian musiknya.Album yang dirilis 4 Oktober 1994 ini muncul pada saat industri musik dunia masih di cengkram ketenaran musik grunge dengan band-band seperti Nirvana,Pearl Jam,Alice In Chain hingga Stone Temple Pilot.Namun album yang kuat nuansa progresifnya ini mampu mencapai peringkat 32 dalam “Top 200 Albums” di majalah industri musik Billboard selama 6 pekan.

DTT
Di penghujung era 90an itulah sosok Dream Theater mulai dikenal di Indonesia.Anak muda yang bermain band mulai menoleh pada aura musik Dream Theater dengan penyajian musik yang cenderung ke arah virtuositas.”Anak anak muda yang tadinya memainkan metal,mulai mengulik karya-karya Dream Theater” urai Andy Julias drummer Makara,yang juga dikenal sebagai penggagas berdirinya Indonesia Progressive Society di awal era 2000an. Eramono Soekaryo,pemain keyboard alumnus Berklee Music Of College Boston juga ikut tertarik dengan konsep fusi antara musik rock progresif dan metal yang digagas Dream Theater.Di tahun 1995 Eramono Soekaryo mengubah warna music bandnya Spirit dari fusion menjadi prog metal ala Dream Theater.Jika Dream Theater menghadirkan saxophonis jazz Jay Beckenstien dari grup Spyrogyra pada lagu “Another Day” dari album “Images and Words” (1992) , Eramono Soekaryo dalam band Spirit menghadirkan saxophonis jazz Didiek SSS dalam album “Salahkanku” (1995).

DT@
Saat itu repertoar Dream Theater menjadi pilihan bagi berbagai band-band remaja saat ikut berkompetisi dalam berbagai Festival Band.”Saya dan teman-teman saat ikut festival band pernah membawakan lagu milik Dream Theater” ujar Rian D’Masiv vokalis band pop D’Masiv.
Andy Julias lalu menyebut beberapa nama band progresif yang banyak terpengaruh dengan konsep progresif metal Dream Theater seperti The Miracle,Jukebox, dan Ballerina.Meskipun mereka telah merilis album dengan komposisi sendiri misalnya The Miracle merilis album bertajuk “M” (2008) atau Ballerina yang merilis dua album “Hayal” (2003) dan “Dance of Ballet” (2008) .Bahkan saya sempat melihat penampilan Paraikatte Band, band asal Makassar yang menyerap pengaruh Dream Theater saat tampil dalam sebuah kompetisi band
Setidfaknya ini menyiratkan bahwa Dream Theater memiliki banyak penggemar di Indonesia.Komunitas penggemar Dream Theater tumbuh kembang di beberapa kota di Indonesia.
Dalam sesi Act 2 ,kita seolah digiring kembali ke Dream Theater era lalu dengan sederet lagu dari album “Awake” seperti “The Mirror”,”Lie”,”Lifting Shadows off a Dream”,”Scarred”,”Space-Dye Vest” dan diakhiri dengan epic berdurasi 22.18 menit “Illumination Theory” yang terbagi dalam 5 movement, dari album “Dream Theater” (2013).
Penggemar Dream Theater di Indonesia agaknya menikmati sajian yang dahsyat dari Dream Theater yang masih menambahkan encore sebanyak 4 komposisi dari album Metropolis pt 2 : Scenes From A Memory” yaitu Overture 1928,Strange Deja Vu,The dance of Eternity,Finally Free serta outro dari Ilumination Theory.Menyajikan encore dari album Metropolis Pt2 :Scenes From A Memory” ini rasanya merupakan pilihan tepat.Pertama,karena malam itu album yang untuk pertamakali menyertakan keyboardis Jordan Rudess ini merayakan ulang tahun yang ke 15 sejak dirilis 26 Oktober 1999.Kedua,album ini juga merupakan salah satu album landmark dari Dream Theater,dimana majalah Rolling Stone pada edisi akhir Juli 2012 telah memilih album ini sebagai album no.1 dalam polling Album Progresif Rock Terbaik Sepanjang Waktu,mengalahkan album klasik “Close To The Edge” dari Yes (1972) dan album 2112 dari Rush (1976) .
Suara James LaBrie terdengar lirih di ujung konser saat menyanyikan bait bait terakhir lirik Finally Free :” We’ll meet again my friend.Someday Soon !”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s