Satu Dasawarsa Kepergian Si Biang Bengal

Posted: Desember 10, 2014 in Opini

Opini
Satu Dasawarsa Kepergian Harry Roesli
Hari ini 11 Desember,telah satu dasawarsa pemusik Harry Roesli meninggalkan kita.Harry Roesli adalah sosok seniman yang memiliki kepedulian dalam social dan kerap mengkritisi perilaku politik yang terjadi di negeri ini.Dengan karya-karya musiknya yang kerap bernuansa satir dan getir,Harry seperti ingin menjewer siapa saja yang dianggap menyimpang.Ketika gerakan mahasiswa di tahun 1998 berhasil menggulingkan kekuasaan Presiden Soeharto,tiba-tiba lagu Jangan Menangis Indonesia yang direkamnya pada album “Lima Tahun Oposisi” (1978) berkumandang lagi di radio dan TV.Lagu yang ditulisnya usai kejadian Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) agaknya masih relevan dengan suasana politik negeri ini di jelang akhir era 90an.
Dengan kebisaannya bermain musik,Harry Roesli melakukan kritik lewat lirik-lirik lagunya mulai dari yang absurd hingga tanpa tedeng aling-aling.Harry melakukan apa saja untuk ritual gugat terhadap ketimpangan-ketimpangan yang berlangsung dipelupuk mata.Periaku korup adalah salah satu fragmen yang kerap menjadi sasaran kritik Harry Roesli.Secara satir Harry Roesli menyerang perilaku korup pada opera rock yang diangkatnya berdasarkan sejarah Ken Arok,sosok ambisius yang akhirnya bertahta di kerajaan Singosari.Karya-karya gugat Harry Roesli memang terasa cair dan berbalut humor karena ditumpahkan dalam aksentuasi bercanda.Dan itulah yang menjadi bagian menarik jika kita menelaah karya-karya Harry Roesli yang terbentang dari tahun 1973 hingga 2004.
Dimata saya Harry Roesli adalah sosok yang anti birokrasi,anti hipokrit dan anti korupsi.Ini adalah prinsip yang tetap kukuh digenggam Harry Roesli hingga ke liang lahat.Di tahun 1998 banyak yang menyayangkan kenapa Harry Roesli memelintir lirik lagu Garuda Pancasila menjadi : . “Garuda Pancasila/ Aku lelah mendukungmu/ Sejak proklamasi selalu berkorban untukmu/ Pancasila dasarnya apa?/ Rakyat adil makmurnya kapan?/ Pribadi bangsaku tidak maju-maju.” .Tapi sesungguhnya ini adalah kritik yang paling menohok dari sosok Harry Roesli yang sejak paruh era 70an dijuluki Biang Bengal Bandung .
Harry Roesli adalah seniman yang mengaduk aduk banyak dimensi seni,entah itu musik,teater hingga film menjadi medium untuk bercermin,medium untuk menera perilaku kita termasuk medium untuk kritisi.Walaupun banyak yang kerap tidak nyaman dengan idiom idiom Harry Roesli dalam mengkritik tapi dia tak pernah lelah melakoni sosok kesenimanannya untuk mengabarkan ketimpangan-ketimpangan serta berbagai telikung telikung yang berpendar diman-mana.
Saya yakin Harry Roesli adalah seniman yang cinta negerinya.Harry Roesli,tak berlebihan jika saya sebut sebagai seorang nasionalis sejati. Di tahun 1973 saat tampil di acara musik kolosal “Summer’28” yang berlangsung di kawasan Pasar Minggu,Harry Roesli dengan lantanng menyanyikan lagu karyanya dalam bahasa Inggris “Peacock Dog”.Peacock Dog adalah idiom aneh yang nyaris tak terpahami hingga suatu hari Harry Roesli mentakwilkan bahwa Peacock Dog itu adalah sindiran untuk Indonesia, Negara yang mempesona seperti burung merak tapi berperilaku menyebalkan seperti (maaf) anjing.
Harry Roesli boleh jadi adalah seorang visioner sejati.Disaat kisruh yang terjadi antara dua kubu dalam Pilpres 2014, saya teringat cuplikan lirik lagu “Bharatayuda” yang direkam Harry Roesli di tahun 1977 :”Mulut yang penuh tetapi kosong.Ini disebut jantan ?.
Atau ketika kegiatan korupsi kian marak terjadi diantara para pejabat pemerintahan belakangan ini , sebuah lagu karya Harry Roesli yang direkam pada tahun 1978 justru menjadi soundtrack yang tepat dengan lirik seperti ini :” Seratus pencuri membuat fraksi di tanahku ini
Sepuluh penipu,mereka bersatu di tanahku ini
Dapatkah anda membayangkan kini?

Hari ini 11 Desember,sepuluh tahun silam sosok Harry Roesli yang humoris tapi kritis telah meninggalkan kita,tetapi lagu-lagu yang pernah ditulisnya ternyata masih tetap relevan dengan kekinian.Apa yang dikritik Harry Roesli masih tetap terjadi dan berlangsung.
Harry Roesli telah tiada,tapi karyanya masih bersemayam dibenak kita termasuk himbauan Harry Roesli dalam lagu “Berduka Cita” (1977) :
Menjelaskan kepada dunia bahwa kita kan tetap bersatu
Tutup matamu dari rayuan bukakan lah tentang keadilan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s