Ketemu Jazzer Lasak ,Jamie Cullum

Posted: Desember 28, 2014 in Wawancara

Ada jiwa rock dalam raga Jamie Cullum yang dikenal orang sebagai penyanyi dan pianis jazz era kiwari.Lagaknya saat di pentas lasak.Lari berhamburan kesana kemari.Kerap jua Jamie dengan gaya slenge’an menaiki piano.Dan ternyata penonton suka akan gaya Jamie yang senantiasa berlaku lajak itu.Jeritan histeris pun kerap terdengar.Mungkin karena Jamie yang tak terlalu semampai ini memiliki paras ganteng mempesona.

Mendampingi Jamie Cullum sebagai moderator dalam Konperensi Pers di Java Jazz  Festival jumat 28 Februari 2014 (Foto Rio Anteve)

Mendampingi Jamie Cullum sebagai moderator dalam Konperensi Pers di Java Jazz Festival jumat 28 Februari 2014 (Foto Rio Anteve)

Jumat 28 Februari 2014,akhirnya saya ketemu dengan Jamie Cullum yang menjadi salah satu headliner dalam perhelatan jazz tahunan Indonesia Java Jazz Festival yang berlangsung di Kemayoran Jakarta.Ini merupakan muhibah Jamie Cullum yang kedua di festival jazz yang sama setelah perhelatan Java Jazz tahun 2007.
Saya diminta untuk menjadi moderator Konperensi Pers Jamie Cullum sebelum lelaki kelahiran 20 Agustus 1979 ini menggelar konsernya.Orangnya humoris,dan agaknya sudah mulai mengurangi gaya grasa-grusunya.Maklum,perubahan ini terjadi karena usia bertambah dan telah menikah dan memiliki keluarga. Momen ini pun saya pergunakan untuk sekedar menelisik kesukaannya terhadap jazz maupun genre dan subgenre musik lainnya.
Berikut ini kutipan obrolan saya dengan Jamie Cullum (JC)
DS : Anda menemukan jazz sebagai pilihan bermusik berasal setelah menggeluti rock termasuk juga hip-hop.Bagaimana sampai hal itu terjadi ?
JC : Kejadiannya sih terjadi begitu saja.Dimulai saat saya ikut bergabung dalam sebuah grup rock dan saya sangat menikmati fase ini.Apalagi saat itu kami sering berjam session dengan menyentuh area psikedelik juga.Suatu saya bilang ke temen-temen band :”Apakah kalian pernah mendengarkan musik jazz yang dahsyat ?”.Saya lalu memutarkan dua album Miles Davis yaitu Bitche’s Brew dan On The Corner.Mereka diam terhenyak dan berteriak :”Amazing !”.
DS : Lalu penyanyi jazz yang jadi inspirasi siapa ?
JC : Harry Connick Jr.Saya suka cara dia main piano sambil nyanyi.Ini membuat saya tergetar untuk berbuat sesuatu yang sama dengan Harry.
DS : Ketika anda muncul banyak yang mulai membanding-bandingkan anda dengan Harry Connick Jr .Apa komentar anda ?
JC : Saya memang seolah merasa jadi bagian dari tubuh Harry Connick Jr.Saya sangat suka ketika Connick berkolaborasi dengan Branford Marsalis di album Occasion.Karena dalam musik Harry ada juga elemen funk.Saya juga album Harry Blue Light,Red Light.Apalagi Harry juga suka Monk dan Sinatra.
DS : Banyak yang bilang penampilan anda di panggung lebih berkesan sebagai rock stars.Betulkah ?
JC : (tertawa)…..Saya selalu ingin tampil seekspresif mungkin di panggung.Tak heran saya terlihat liar dan terkesan suka-suka.Karena bagi saya di panggung harus menciptakan komunikasi yang baik dengan penonton.Dulu saya sering nonton konser-konser dari Ben Folds,Jeff Buckley hingga Radiohead serta Harry Connick tentunya.
DS : Boleh tau gak,rekaman jazz siapa yang pertama kali anda dengar ?
JC : Waktu masih kecil saya sudah terbiasa dengar jazz di rumah.Orangtua saya suka memutar album-album dari Dave Brubeck hingga Oscar Peterson.Lalu paman saya sering berbicara tentang Pat Metheny maupun Joe Pass.Tapi saat itu saya malah lebih suka mendengar album-album dari Irom maiden,Megadeth,AC/DC hingga Pantera dan Sepultura.Ketika saya berusia antara 10 hingga 12 tahun saya suka kagum sama gitaris yang mampu bermain cepat seperti Steve Vai,Joe Satriani maupun Yngwie Malmsteen. Dari situ kemudian saya mulai mengetahui bahwa Vai itu pernah ikut dalam album maupun konser Frank Zappa.dari Zappa akhirnya saya juga tahu bahwa George Duke pun ikut mendukung Frank Zappa.Kemudian saya tahu Herbie Hancock ketika grup hip hop Us3 mengambil sample dari karya Herbie Hancock “Cantaloupe Island”.Saya juga mulai mendengar bunyi Fender Rhodes yang dimainkan Hancock di album Headhunters.
DS : wah berarti anda memang penggila musik ya ?
JC : (tertawa)…iya boleh jadi,apalagi kemudian saya mulai berkenalan dengan para dedengkot acid Jazz seperti Brand New Heavies maupun Incognito, termasuk para artis hip hop seperti Common,A Tribe Called Quest hingga Q Tip.Ketika mulai memasuki universitas,barulah saya mengenal Harry Connick Jr.Lalu mendalami kord-kord dari George Gershwin dan Cole Porter.
DS : Lalu apa menurut anda jazz itu ?
JC : Hmmmm…jazz adalah musik yang bisa bersimbiose dengan musik apa saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s