Archive for the ‘Kisah’ Category

Selamat Ulang Tahun Fariz RM

Posted: Januari 2, 2015 in Kisah, profil

Sahabat saya Fariz Rustam Munaf berulang tahun 5 Januari.Saya selalu mengingat tanggal kelahiran pemusik multi talenta ini, karena tanggal kelahirannya berada disetiap awal tahun baru.Hingga saat sekarang Fariz yang biasa dipanggil dengan Bule masih tetap aktif mendenyutkan musik di berbagai panggung pertunjukan .Fariz seperti halnya di era 80an,ketika masa kejayaannya tengah pasang menggelegak,masih tetap berkiprah di dunia musik. Dalam beberapa event musik saya selalu ikut bersama dengan Fariz baik sebagai pemandu acara konser-konsernya hingga road manager dadakan saat Fariz melakukan konser di daerah di luar Jakarta.Fariz juga sering menghubungi saya jika tengah melakukan proses kreativitas bikin lagu atau pun bikin album.Kita berdua kerap melakukan brainstorming yang seru.

Saya memberikan testimoni untuk album Fenomena Fariz RM yang digarap oleh Erwin Gutawa (Foto Denny Sakrie)

Saya memberikan testimoni untuk album Fenomena Fariz RM yang digarap oleh Erwin Gutawa (Foto Denny Sakrie)

Ketika Fariz merilis album Fenomena di tahun 2012 yang berisikan CD dan DVD,saya pun diminta untuk memberikan testimony terhadap karya dan sosok Fariz RM .Pada saat saya masih bekerja sebagai penyiar di Radio M9&FM Classic Rock Station,saya kerap mengajak Fariz siaran bareng membahas band-band klasik rock seperti Yes,Genesis,Traffic dan banyak lagi.Begitupula ketika saya jadi penyiar di FeMale Radio saya kerap mengundang Fariz sebagai partner siaran membahas musik mulai dari Earth Wind & Fire hingga Gino Vannelli.Fariz memang suka ngobrol dan bertukar fikiran.

Fariz RM di tahun 1980 saat rilis album Sakura (Akurama Record)

Fariz RM di tahun 1980 saat rilis album Sakura (Akurama Record)

Saya mengenal sosok  Fariz RM sekitar tahun 1979.Saat itu Fariz bersama Badai Band bikin konser di Gedung Olahraga Mattoanging Ujung Pandang .Terus terang saya sangat terpesona dengan pola permainan drum Fariz yang melakukan duet drum dengan Keenan Nasution.

Fariz RM

Fariz RM

Dahsyat sekali permainan drum Fariz.Setahun kemudian,Fariz merilis album Sakura yang kian membuat saya terkagum-kagum.Bayangkan,Fariz nyaris melakukan apa saja di album fenomenal itu,mulai dari bikin lagu,arransemen,nyanyi,main drum,bass,gitar hingga keyboard.Sejak saat itu saya mencatatkan diri sebagai penggemar Fariz RM. Konsep musiknya . Ada secercah atmosfer baru dalam musik Fariz yang disumbangkan pada khazanah musik Indonesia saat itu.Konsep musiknya telah menghela kredo musikal futuristik.Jatidiri musiknya kian mengkristal saat merilis album debut “Sakura” di tahun 1980.Pertengahan dasawarsa 80an Fariz kembali menggurat fenomena dengan eksperimentasi musik yang menghasilkan  musik lewat bantuan MIDI ,sebuah system programming yang mempermudah memainkan perangkat musik secara simultan dalam sebuah kendali.

Tahun 1979 saat Fariz RM bergabung sebagai drummer Badai Band

Tahun 1979 saat Fariz RM bergabung sebagai drummer Badai Band

Sejak awal bergelut di dunia musik , Fariz memilih memainkan musik apa saja  tanpa sekat genre sedikitpun.Fariz bermain genre pop,R&B,soul funk,blues,rock bahkan  jazz sekalipun .Dalam komunitas jazz Fariz peranh bersekutu dengan Candra Darusman hingga Jack Lesmana. Diparuh era 80an bersama Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan,Fariz ikut tergabung dalam Trio GIF. Pilihan bermusik semacam ini  setidaknya menjadikan pergaulan musik Fariz menjadi lebih luas dan lebar. Fariz bisa bermain dan berkolaborasi dengan pemusik mana saja. Fariz tetap konsisten dengan paradigma musiknya.Dia tetap menyeruak dalam kekinian yang secara lentur diadaptasinya dalam gaya bermusiknya yang tetap kukuh dan ajeg.

Dengan pergaulan musik yang luas ,mulai dari Jakarta hingga Bandung.justru membentuk sosok Fariz RM menjadi lebih open minded terhadap genre/subgenre musik apapun.

Di Jakarta, Fariz yang dulu tinggal di kawasan Jalan Maluku, Menteng kerap nongkrong di Jalan Pegangsaan Barat No.12 A, Menteng, rumah kediaman Keenan Nasution, penabuh drum Gipsy dan juga God Bless.

Di rumah yang kini telah berubah menjadi apartemen mewah itu dulu adalah tempat nongkrong anak band serta para simpatisannya. Fariz yang saat itu duduk di bangku SMP seusai pulang sekolah pasti tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan mampir ke Jalan Pegangsaan.

”Saya masih ingat si Bule (panggilan akrab Fariz) datang ke rumah masih menggunakan seragam sekolah. Bercelana pendek terus gebuk-gebuk set drum dan ngeband bareng Oding dan Debby, adik-adik saya,” ungkap Keenan Nasution yang pada 1977 meminta lagu karya Fariz “Cakrawala Senja” untuk dimasukkan ke album solo perdananya, Di Batas Angan Angan (1978).

Bahkan Chrisye kemudian mengajak Fariz RM yang saat itu duduk di bangku SMA Negeri 3 Setiabudi, Jakarta untuk bermain drums di album fenomenal Badai Pasti Berlalu. Jika kita bertanya soal ikhwal terjunnya Fariz ke dunia musik secara profesional maka pastilah dia akan menyebut nama Keenan dan Chrisye, dua pemusik Gipsy yang kediamannya hanya dibatasi tembok di bilangan Pegangsaan itu sebagai biang keladinya.

Nah, itu adalah komunitas musik yang dimasuki Fariz di Jakarta. Komunitas musik lainnya yang disambangi Fariz adalah Paris Van Java alias Bandung.

Bersama Fariz RM dan Oneng tahun 1990 (Dokumentasi Denny Sakrie)

Bersama Fariz RM dan Oneng tahun 1990 (Dokumentasi Denny Sakrie)

Seusai menamatkan pendidikan SMA di Jakarta, Fariz mendaftarkan diri ke ITB Bandung jurusan Seni Rupa. Hijrahlah Fariz ke Bandung untuk menuntut ilmu. Di Bandung Fariz bermukim di rumah saudara sepupunya yang juga anak band, namanya Triawan Munaf.

Triawan adalah salah satu pemain keyboards yang diperhitungkan dalam skena rock di Bandung antara lain pernah mendukung band Tripod United bersama Deddy Stanzah, lalu membentuk Lizzard bersama Harry Soebardja, kemudian direkrut Benny Soebardja di Giant Step menggantikan posisi Deddy Dorres.

Triawan juga dikenal sebagai pemain keyboard dari Gang of Harry Roesli. Berkat Triawan lah akhirnya Fariz RM diperkenalkan dengan Harry Roesli, Benny Soebardja hingga Hari Soebardja. Di luar kegiatan kuliahnya di ITB Bandung, Fariz pun mulai menyusup di komunitas musik Bandung. Di antaranya adalah nongkrong di kediaman Harry Roesli yang berada di Jalan WR Supratman 57 Bandung. Fariz lebur di komunitas musik yang dikembangkan Harry Roesli.

Dia mulai terlibat diskusi musik hingga jam session dengan Harry Roesli. Hal yang tak pernah dilupakan Fariz manakala Harry Roesli mengajarkan teknik bermain bass funk yang digagas oleh Larry Graham dari Sly and The Family Stones. Harry Roesli adalah salah satu pencabik bass funk terbaik di Bandung. Saat itu Harry Roesli tengah siap-siap meninggalkan Bandung untuk mengambil beasiswa studi musik di Amsterdam, Belanda.

m1
Menurut Fariz RM, Harry Roesli menitipkan Kharisma, grup vokal yang dibina dan dikelola Harry Roesli. Tentu saja Fariz bersuka cita mendapat mandat seperti ini dari Harry Roesli. Apalagi bagi Fariz dunia vocal groupbukan hal baru baginya. Saat masih duduk di bangku SMA 3 Setiabudi, Jakarta, Fariz RM tergabung dalam Grup Vokal SMA 3 Jakarta bersama rekan rekannya seperti Adjie Soetama, Addie MS, Raidy Noor, dan Iman Sastrosatomo. Prestasi Grup Vokal SMA 3 Jakarta ini memang patut diacung jempol lantaran pernah menggelar pertunjukan Opera dan berhasil menempatkan 3 lagu karya mereka sebagai finalis dalam 10 Besar ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia pada 1977.

Selain terlibat dalam kegiatan Kharisma Vocal Group, Fariz RM pun mulai sering diminta membantu band-band Bandung yang akan konser, misalnya menggantikan posisi drummer The Rollies, Jimmie Manopo yang berhalangan main, termasuk menggantikan saudara sepupunya Triawan Munaf yang harus meninggalkan formasi Giant Step untuk melanjutkan studi ke London, Inggris. Fariz akhirnya menjadi bagian skena musik Bandung saat itu.Uniknya kegiatan musik yang digeluti Fariz memiliki genre/sub-genre yang tak sama. Setidaknya Fariz berhasil memperlihatkan kemampuan bermain rock, blues, funk, soul hingga pop secara merata.

Benny Soebardja, dedengkot Giant Step menaruh kepercayaan soal musik pada Fariz RM untuk penggarapan dua album solonya yaitu, Setitik Harapan (1979) dan Lestari (1980). Di kedua album solo Benny Soebardja itu, Fariz bermain keyboards dan drums serta menulis lagu berikut aransemennya. Saat itu Fariz cukup dekat dengan Hari Soebardja, adik Benny yang juga ikut mendukung album solo kakaknya sebagai gitaris.

Pada 1979 Fariz RM diminta menjadi music director album solo Harie Dea, penyanyi dan penulis lagu dari Vocal Group Balagadona Bandung. Ini adalah untuk pertama kali Fariz berperan sebagai music director dalam penggarapan sebuah album rekaman. Musik album Harie Dea digarap oleh Fariz yang memainkan semua perangkat keyboards dan drums serta Hari Soebardja yang memainkan gitar, bass dan drum. Album Harie Dea ini diberi judul Santun Petaka.

Selain Hari Soebardja, Fariz juga bersahabat dengan Oetje F. Tekol (bass) dan Jimmie Manopo (drums) dari The Rollies. Untuk penggarapan album solo perdana Fariz bertajuk Selangkah Ke Seberang (PramAqua 1979), Fariz juga mengajak Oetje F. Tekol sebagai pencabik bass. Begitu pula ketika Fariz diminta menggarap album jazz milik penyanyi jazz Jacky, Gairah Baru, dia pun mengajak dua pemusik Bandung, yaitu Oetje F Tekol dan Hari Soebardja sebagai session musician-nya.

Perjalanan karir musik Fariz RM yang dimulai sejak tahun 1977 hingga sekarang ini bagai bianglala,sarat warna.Saya yakin Fariz tak akan meninggalkan atau menjauhi dunia musik.Karena kemampuan bermusik itu anugerah.Rasanya kita setuju jika ada yang menyebutkan bahwa profesi pemusik tak pernah mengenal kata pensiun.Selamat Ulang tahun Bule eh…..Fariz…….

Majalah Gitar Zaman Dulu

Posted: Januari 2, 2015 in Kisah, Konser

Majalah musik selalu datang dan pergi.Ada yang pernah berjaya selama satu dekade, ada yang bertahan hingga hari ini.Tapi yang seumur jagung pun banyak.Tapi secara spesisfik majalah berbasis gitar dengan mengandalkan teknik bermain gitar plus akor-akor gitar atau tablatur agaknya selalu ada dalam setiap era.Tak pernah mati.
Di hari kedua tahun baru 2015 mendadak saya jadi teringat dengan majalah gitar terbitan lokal yang pernah mengisi masa-masa SMP dan SMA dulu.Ada dua nama majalah gitar yang kerap menjadi buku putih atau referensi anak muda yang tengah belajar gitar atau yang selalu updating perihal lagu-lagu baru.

Majalh MG edisi no 11 dengan mrenampilkan foto Bay City Rollers pada cover depannya (Foto Denny Sakrie)

Majalh MG edisi no 11 dengan mrenampilkan foto Bay City Rollers pada cover depannya (Foto Denny Sakrie)

Pertama adalah majalah MG yang terbit di Jakarta.Dan yang muncul setelahnya adalah majalah Topchords yang terbit di Salatiga,Jawa Tengah.
Mari kita kembali mundur ke belakang.Mengenang sebuah peristiwa yang rasanya tiada mungkin terlupakan begitu saja.Di tahun 1976 muncul sebuah majalah musik baru
Namanya MG,singkatan dari Musik Gitar.Hadir dengan tagline “musik dengan chord gitar” pada sebelah kanan sampul majalah.Saat itu anak muda se Nusantara sudah diharu birukan oleh majalah Aktuil,yang juga diikuti oleh followernya majalah TOP yang dibangun oleh Remy Sylado,mantan redaksi Aktuil pada tahun 1975.
Saya ingat,tahun 1976 saya baru diterima di bangku SMP.Itu adalah era getol-getolnya terhadap musik.Saat itu benak saya selalu haus informasi mengenai musik dan musik.Beruntunglah anak muda sekarang yang bisa mengupdate hal terbaru sekalipun mengenai perkembangan musik populer melalui internet dan media sosial lainnya yang bertebaran dimana-mana.

Kaset yang berisikan lagu-lagu hits Barat pilihan majalah MG.

Kaset yang berisikan lagu-lagu hits Barat pilihan majalah MG.

Era paruh 70-an itu memang disesaki oleh banjir dan tumpah ruahnya kaset kaset barat ilegal tapi legal yang disodorkan berbagai perekam Barat seperti Perina,Aquarius,Atlantic Record,Saturn,Lolita,BSR dan banyak lagi.Tak pelak lagi remaja Indonesia saat itu memang tengah dininabobokkan oleh budaya pop yang kental nuansa western-nya.Lihatlah berita berita yang dimunculkan Aktuil maupun Top yang didominasi artis musik Barat mulai dari berita hingga poster poster warna warni dalam ukuran besar sebagai bonus majalah.
Ini masih diperkuat lagi dengan gencarnya band-band sohor yang manggung di Jakarta seperti Shocking Blue,Bee Gees,Suzi Quatro hingga puncaknya dengan kehadiuran Deep Purple pada Desember 1975 di stadion Senayan Jakarta.
Riuhnya alam musik populer (rock) di Indonesia saat itu ditambah lagi dengan kehadiran majalh MG yang berkedudukan di Jakarta.
Namun majalah MG sengaja mengambil segmen yang berbeda dengan Aktuil maupun Top.MG malah menyasar target ke perilaku anak muda yang saat itu mulai terjun main gitar atau membentuk band dengan menyuguhkan lagu lagu up to date yang dilengkapi dengan chord gitar.Ini sesuatu yang menarik .Patut dipuji perihal kejelian MG yang diterbitkan oleh Yayasan Penggemar Musik dan Gitar (YPMG) ini yaitu dengan menyediakan sarana berupa chord gitar dari lagu-lagu yang tengah ngetren saat itu.MG pun menyisipkan berita berita terkini perkembangan musik dunia dan tanah air,tidak dalam artikel besar tapi berupa berita singkat.MG pun memberikan bonus poster serta kaset.
Kaset inilah yang mungkij dimaksudkan untuk membantu pembaca mengikuti chord chord yang ditampilkan oleh MG.
Saat itu harga majalah MG dipatok Rp 400.Harga kaset Indonesia saat itu adalah Rp 500 dan kaset Barat antara Rp 600 – Rp 700. Kaset MG sendiri dipatok Rp 600.Penjualan kaset terpisah dengan majalah.
MG memang berhasil merebut simpati anak muda saat itu.MG seperti sarapan kedua para remaja setelah melahap berita-berita musik yang dipaparkan oleh majalah Aktuil.
Memuncaknya ketenaran MG,diikuti dengan munculnya majalah serupa tapi dengan format yang lebih kecil dibanding MC,dengan nama Topchords yang diterbitkan di Salatiga.Seperti halnya MG,Topchord pun merilis kaset juga.
Majalah Topchord mulai terbit pada tahun 1977 dengan ukuran majalah sebesar buku tulis.Seperti halnya MG,lagu-lagu(Barat) yang tercantum dalam majalah Topchord juga direkam dalam kasetnya.Saat itu terjadi persaingan yang ketat antara MG dan Topchord dalam pemilihan lagu-lagu yang ditampilkan setiap edisinya.Bahkan majlah Topchord menurut saya selangkah lebih maju karena menghadirkan apresiasi terhadap lirik lagu yang dibedah oleh Ariel Heryanto.Ulasan Ariel Heryanto ,alumni Universitas Satya Wacana Salatiga ini cukup dalam dan agaknya sangat memahami budaya pop dengan baik.Saya banyak mengambil saripati dari tulisan apresiasi Ariel Heryanto dalam setiap penerbitan majalah Topchord tersebut.
Sebaliknya, salah satu tokoh pencinta musik yang ikut mengasuh majalah MG ini adalah Tim Kantoso yang saat itu kerap dikaitkan dengan komunitas musik jazz.Almarhum Tim Kantoso ini juga yang kerap menulis editorial MG dan selalu ditutup dengan semboyan khasnya “Music as always.MG as always”.MG juga menghadirkan sedikit ulasan mengenai hiruk pikuk dunia musik.

Majalah MG edisi no 12 tahun 1976  dengan cover Queen (Foto Denny Sakrie)

Majalah MG edisi no 12 tahun 1976 dengan cover Queen (Foto Denny Sakrie)

Namanya MG,singkatan dari Musik Gitar.Hadir dengan tagline “musik dengan chord gitar” pada sebelah kanan sampul majalah.Saat itu anak muda se Nusantara sudah diharu birukan oleh majalah Aktuil,yang juga diikuti oleh followernya majalah TOP yang dibangun oleh Remy Sylado,mantan redaksi Aktuil pada tahun 1975.
Saya ingat,tahun 1976 saya baru diterima di bangku SMP.Itu adalah era getol-getolnya terhadap musik.Saat itu benak saya selalu haus informasi mengenai musik dan musik.Beruntunglah anak muda sekarang yang bisa mengupdate hal terbaru sekalipun mengenai perkembangan musik populer melalui internet dan media sosial lainnya yang bertebaran dimana-mana.
Era paruh 70-an itu memang disesaki oleh banjir dan tumpah ruahnya kaset kaset barat ilegal tapi legal yang disodorkan berbagai perekam Barat seperti Perina,Aquarius,Atlantic Record,Saturn,Lolita,BSR dan banyak lagi.Tak pelak lagi remaja Indonesia saat itu memang tengah dininabobokkan oleh budaya pop yang kental nuansa western-nya.Lihatlah berita berita yang dimunculkan Aktuil maupun Top yang didominasi artis musik Barat mulai dari berita hingga poster poster warna warni dalam ukuran besar sebagai bonus majalah.
Ini masih diperkuat lagi dengan gencarnya band-band sohor yang manggung di Jakarta seperti Shocking Blue,Bee Gees,Suzi Quatro hingga puncaknya dengan kehadiuran Deep Purple pada Desember 1975 di stadion Senayan Jakarta.
Riuhnya alam musik populer (rock) di Indonesia saat itu ditambah lagi dengan kehadiran majalh MG yang berkedudukan di Jakarta.
Namun majalah MG sengaja mengambil segmen yang berbeda dengan Aktuil maupun Top.MG malah menyasar target ke perilaku anak muda yang saat itu mulai terjun main gitar atau membentuk band dengan menyuguhkan lagu lagu up to date yang dilengkapi dengan chord gitar.Ini sesuatu yang menarik .Patut dipuji perihal kejelian MG yang diterbitkan oleh Yayasan Penggemar Musik dan Gitar (YPMG) ini yaitu dengan menyediakan sarana berupa chord gitar dari lagu-lagu yang tengah ngetren saat itu.MG pun menyisipkan berita berita terkini perkembangan musik dunia dan tanah air,tidak dalam artikel besar tapi berupa berita singkat.MG pun memberikan bonus poster serta kaset.
Kaset inilah yang mungkij dimaksudkan untuk membantu pembaca mengikuti chord chord yang ditampilkan oleh MG.
Saat itu harga majalah MG dipatok Rp 400.Harga kaset Indonesia saat itu adalah Rp 500 dan kaset Barat antara Rp 600 – Rp 700. Kaset MG sendiri dipatok Rp 600.Penjualan kaset terpisah dengan majalah.
MG memang berhasil merebut simpati anak muda saat itu.MG seperti sarapan kedua para remaja setelah melahap berita-berita musik yang dipaparkan oleh majalah Aktuil.

Majalh musik gitar Topchord edisi 30 April 19 79 (Foto Denny Sakrie)

Majalh musik gitar Topchord edisi 30 April 19 79 (Foto Denny Sakrie)

Memuncaknya ketenaran MG,diikuti dengan munculnya majalah serupa tapi dengan format yang lebih kecil dibanding MC,dengan nama Topchords yang diterbitkan di Salatiga.Seperti halnya MG,Topchord pun merilis kaset juga.
Majalah Topchord mulai terbit pada tahun 1977 dengan ukuran majalah sebesar buku tulis.

Ini adalah isi dari majalah Topchord edisi tahun 1979 yang memuat tablature dan lirik lagu Karat Di balik Kilau Benny Soebardja

Ini adalah isi dari majalah Topchord edisi tahun 1979 yang memuat tablature dan lirik lagu Karat Di balik Kilau Benny Soebardja

Seperti halnyamajalah  MG,lagu-lagu(Barat) yang tercantum dalam majalah Topchord juga direkam dalam kasetnya.Saat itu terjadi persaingan yang ketat antara MG dan Topchord dalam pemilihan lagu-lagu yang ditampilkan setiap edisinya.Bahkan majlah Topchord menurut saya selangkah lebih maju karena menghadirkan apresiasi terhadap lirik lagu yang dibedah oleh Ariel Heryanto.Ulasan Ariel Heryanto ,alumni Universitas Satya Wacana Salatiga ini cukup dalam dan agaknya sangat memahami budaya pop dengan baik.Saya banyak mengambil saripati dari tulisan apresiasi Ariel Heryanto dalam setiap penerbitan majalah Topchord tersebut.

Majalah Topchord edisi No.49 tahun 1981 dengan cover Andy Gibb

Majalah Topchord edisi No.49 tahun 1981 dengan cover Andy Gibb

Sebaliknya, salah satu tokoh pencinta musik yang ikut mengasuh majalah MG ini adalah Tim Kantoso yang saat itu kerap dikaitkan dengan komunitas musik jazz.Almarhum Tim Kantoso ini juga yang kerap menulis editorial MG dan selalu ditutup dengan semboyan khasnya “Music as always.MG as always”.MG juga menghadirkan sedikit ulasan mengenai hiruk pikuk dunia musik.

Ida Royani pertamakali meniti karir dalam industri rekaman pada pertengahan era 60an dengan merilis album Dinamika Suara dan Gaja yang dirilis oleh Irama Recording milik Soejoso Karsono. Dalam album debutnya ini Ida Rojani diiringi oleh Orkes Baju (baca : Bayu) dibawah pimpinan F Parera.

Penyanyi berkulit hitam manis ini memiliki daya vokal yang kuat dan karakter yang khas.Artikulasinya bening.Dan Ida Rojani juga memiliki daya tarik fisik .Setidaknya ini membuat kehadirannya dalam dunia hiburan cepat menjadi sorotan siapa saja.Menariknya lagi,di dalam album ini Ida Rojani juga unjuk kemampuan sebagai penulis lagu.Salah satu lagu karyanya yang disenandungkannya di album ini adalah Adikku Sajang.Lagu karya Ida Rojani tampaknya tak kalah bagus dengan lagu-laguy karya Jasir Sjam yang mendominasi isi album ini.

Ida Rojani

Ida Rojani

Berikut ini tulisan pemusik Mamon Sigarlaki yang dimuat di cover belakang album Ida Rojani Dinamika Suara dan Gaja yang dirilis di sekitar tahun 1966 :

Liner Notes Ida Rojani ditulis Mamon Sigarlaki

Liner Notes Ida Rojani ditulis Mamon Sigarlaki

Kata dinamika-lah jang memang tepat dipergunakan, apabila kita hendak membitjarakan debut seseorang pendatang baru dibidang seni suara, djika dia itu telah berhasil merebut hati masjarakat ramai.

Pada dewasa ini, djustru dinamikalah jang harus dimiliki, baik dinamika suara jang lantang-menantang, maupun dinamika gaja serta pembawaan jang lintjah gembira, agar seseorang penjanji dapat berhasil mendjadi favorit massa.

Demikianlah halnja dengan biduan kita ini: IDA ROJANI, jang usianja belum mentjapai 13 tahun, hanja bedanja ialah, bahwa dinamika IDA ROJANI tidak terletak pada suara jang lantang-menantang ataupun gaja pembawaan jang lintjah berliku-liku, tetapi jang mempesonakan para pendengarnja adalah djustru ,,dinamika-perpaduan” antara suara jang kekanak-kanakan jang murni dan pembawaan jang menggambarkan seorang gadis jang karena usianja berada diambang keremadjaan jang masih sutji.

DS

Dengarkanlah lagu2nja, seperti: ,,Tamasja”, ,,Tjedera Lagu”, ataupun ,,Terkenang Dikau”. Apabila lagu2 buah tangan JASIR SJAM ini dibawakan oleh seorang biduan lain, nistjaja akan terdapatlah suatu gambaran jang mendalam arti tjinta-kasih, halmana dewasa ini sudah membosankan; tetapi oleh karena interpretasi2 jang diungkapkan IDA ROJANI ini, kita menangkap suatu spontanitas dari suatu ketidakpuasan atau ketjemasan, jang ditjetuskan setjara remadja, dipadukan dengan suara dan gaja jang memikat hati, seperti hanja IDA ROJANI sadjalah jang dapat menjadjikannja.

Lagu2 lainnja dalam L.P. ini, jang sejogjanja lebih tjotjok dengan ,,diri” IDA, adalah: ,,Adikku Sajang”, tjiptaannja sendiri, ,,Sepatu Baru”, ,,Merpatiku”, ,,Kenalan Lama”, ,,Melati”, ,,Teman Baru”, ,,Gunung Agung”, ,,Tidurlah Adikku” dan ,,Djumpa Diperdjalanan”, kesemuanja ini tjiptaan JASIR SJAM.

Bagaimanapun djuga dinamika seseorang penjanji, djika tidak diiringi orkes jang baik dan jang dapat ,,memahami” bakat dari penjanji tersebut, hasilnja tidaklah akan memuaskan. Dalam hal inilah Orkes ,,BAJU” pimpinan F. PARERA menundjukkan kemampuannja dalam ,,menjelami djiwa” dari tiap2 penjanji jang diiringnja serta menjusun arransemen jang sesuai.

Pendek kata: L.P. IDA ROJANI ini, merupakan suatu perpaduan antara iringan musik dan dinamika penjanji jang sukses.

MAMON SIGARLAKI

Trio Bersaudara Berdasarkan Zodiak

Posted: Desember 2, 2014 in Kisah, Koleksi

Trio Visca adalah kelompok vokal bersaudara yang terdiri atas Winny Prasetyo ,Widyawati Sophiaan  dan Ria Likumahuwa .Nama Visca diambil dari akronim zodiak ketiga bersaudara ini yaitu VIrgo,Scorpio dan CAncer.

Winny yang berbintang Virgo adalah yang paling sulung ,diilahirkan 28 Agustus 1947.Ria berbintang Scorpio dilahirkan pada tanggal 7 November 1948 dan yang bungsu Widyawati berbintang Cancer dilahirekan pada 12 Juli 1950.Trio ini terbentuk pada tahun 1965 dan mengikuti pola trio Motown ala The Supremes yang saat itu memang jadi perbincangan dunia.Trio Visca banyak menyerap pengaruh dan inspirasi dari The Supremes.

Album debutnya Black Is Black yang diambil dari lagu karya Michelle Grainger, Tony Hayes, Steve Wadey yang dipopulerkan Los Bravos tahun 1966.Trio Visca meremakenya di tahun 1968 lewat label Elshinta Record milik Soejoso Karsono a.k.a Mas Jos.Trio Visca diiringi oleh Orkes Gaja Remadja pimpinan Ireng Maulana..Ireng Maulana memberikan sentuhan pop dengan sedikit mengarah ke arah Pop R&B. serta beberapa malah diarahkan ke Latin Pop dan Bossanova  termasuk bernuansa blues ringan lewat lagu Boom Boom yang pernah menjadi hits di sekitar tahun 1962. 

Ada 12 track lagu di album ini,masing2 6 track di sisi A dan 6 track disisi B.Selain meremake atau menyanyikan ulang beberapa karya-karya mancanegara seperti Black Is Black,Boom Boom, Morgen Ben Ik De Bruid,Blame It On The Bossa Nova,Pretty Flamingo,Quizas Quizas Quizas, juga ada beberapa lagu karya W.Monrady seperti Tjinta Kasihku, Lambretta dan  Senjum Dikala Duka.Kemudian komposer Bambang D.E.S menyumbangkan lagu-lagu seperti  Mari Bergembira dan Putus Diudjung Tahun.  Juga ada Tjempaka karya Hamid.

Trio ini memiliki karakter kuat dalam harmoni vokal yang khas.Sayangnya Trio Visca hanya sempat merilis beberapa single 45 RPM dan sebuah album tunggal, setelah itu masing-masing personilnya mulai melakukan kegiatan yang berbeda.Widyawati memulai debut akting di layar lebar lewat film Pengantin Remadja di tahun 1971.Winny aktif berkegiatan di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini dikenal sebagai Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Ria yang kemudian sempat hengkang ke Bali.

Trio Visca terdiri atas Widyawati,Winny dan Ria

Trio Visca terdiri atas Widyawati,Winny dan Ria

Ini urutan tracklist album Trio Visca.
A1

Black Is Black

Songwriter – Michelle Grainger, Tony Hayes, Steve Wadey

2:37

A2

Morgen Ben Ik De Bruid

Songwriter – Adriaan van de Gein, Ger Rensen, Joop Luiten

3:15

A3

Blame It On The Bossa Nova

Songwriter – Cynthia Weil, Barry Mann

2:01

A4

Boom Boom

Songwriter – John Lee Hooker

2:25

A5

Pretty Flamingo

Songwriter – Mark Barkan

1:58

A6

Quizas Quizas Quizas

Songwriter – Osvaldo Farrés

2:04

B1

Mari Bergembira

Songwriter – Bambang D. E. S.

1:55

B2

Tjempaka

Songwriter – Hamid

2:49

B3

Tjinta Kasihku

Songwriter – W. Monrady*

2:18

B4

Senjum Dikala Duka

Songwriter – W. Monrady*

2:25

B5

Lambretta

Songwriter – W. Monrady*

2:02

B6

Putus Diudjung Tahun

Songwriter – Bambang D. E. S.

Saya dan piringan hitam Black Is Balck dari Trio Visca (Foto Agus WM).

Saya dan piringan hitam Black Is Balck dari Trio Visca (Foto Agus WM).

Beach Girls bukanlah jawaban Indonesia atas The Beach Boys, tapi band wanita ini cukup diperhitungkan setelah Dara Puspita membuka peluang band wanita di permukaan musik Indonesia.Band Beach Girls dimotori oleh Anny Kusuma.Salah satu personilnya kemudian menikah dengan Oma Irama.Bahkan Veronica Timbuleng di paruh era 70an juga membentuk Soneta Girls.

1901774_10152595678263285_2242708098184719977_n

Dinihari ini saya mendadak teringat dengan acara musik yang saya pandu seminggu sekali setiap rabu ,alam di radio classic rock M97FM yang bermarkas di Jalan Borobudur 10 Jakarta Pusat, namanya Collector’s Time. Acara berdurasi 3 jam dimulai dari jam 21.00 hingga 24.00 ini mengulas tentang musik classic rock baik dari dalam maupun luar negeri secara mendetil secara historik yang dilengkapi mereviw diskografi serta proses kreativitas karya-karya rock klasik tersebut.

Chrisye menjadi tamu di Collector's Time tahun 1996 (Foto Denny Sakrie)

Chrisye menjadi tamu di Collector’s Time tahun 1996 (Foto Denny Sakrie)

Ketika radio M97FM ini berdiri pada paruh tahun 1995,niatnya adalah membangun radio dengan segmentasi pria dewasa hingga paruh baya.Karena pria,asumsi utama yang langsung tercerabut saat riset memilih genre musik yang pantas dan cocok dengan dunia kaum pria adalah musik rock,yang kemudian dipersempit menjadi classic rock.Timeline classic rock ini lalu diambil patokan dari paruh dasawarsa 60an saat The Beatles membombardir musik ke penjuru jagad yang dikenal dengan terminologi British Invasion hingga memasuki era 70an dan berimbas ke era 80an. dari timeline classic rock seperti itulah akhirnya Radio yang sebelumnya bernama Radio Monalisa mulai mengudara dengan musik rock sebagai jatidiri.

Bersama gitaris Giant Step Albert Warnerin (Foto Denny Sakrie)

Bersama gitaris Giant Step Albert Warnerin (Foto Denny Sakrie)

Diawal terbentuknya radio M9FM saya mendapat tugas untuk meriset sekaligus memilih lagu-lagu yang masuk dalam kategori klasik rock hingga akhirnya kemudian saya malah ditawari untuk memegang kendali sebagai music director radio M97FM.Pada saat siaran percobaan, mulailah disusun berbagai program acara yang bakal menemani keseharian para pendengar radio ini kelak.Paul Souhwat yang saat itu berada ditampuk Program Director mulai mencorat coret beberapa acara-acara khusus yang hanya mengudara seminggu sekali. Salah satu idenya adalah membuat acara musik apresiasi dengan memakai nama “Collector’s Time”.

Kenapa Collector’s Time namanya ? sergah saya ke Paul yang asyik manggut manggut dengan lantunan musik Pink Floyd The Great Gig In The Sky.

Paul lalu menimpali :”Musik semacam ini rock yang berjaya di era 60an dan 70an pasti menjadi bagian dari orang-orang yang mengalami romantikanya saat itu.Dan mereka pasti masih menyimpan karya-karya monumental itu…..dan pastilah dia kolektor.Acara ini kita bikin untuk mewadahi mereka”.

Saya terdiam dan mulai menyetujui gagasan unik dari Paul Souhwat yang sebelumnya bekerja di radio Prambors.Tiba-tiba Paul menepuk pundak saya :” Nah elo aja yang membawakan acara ini.Gua yakin elo bisa membawakan acara ini.Elo suka musik rock dan juga ngumpulin album-album rock”.

Wow…….saya terperangah dan tanpa pikir panjang lagi,tawaran Paul Souhwat itu pun saya terima dengan suka cita.Ini adalah obsesi saya sekian lama yang rasanya tak bakal terwujud,karena mana mungkin ada radio yang bakal memutar musik rock dengan pelbagai subgenrenya dan terasa segmented itu.

Singkat cerita,mulailah saya membawakan acara Collector’s Time pada sekitar September 1995.Konsep acara Collector’s Time ini adalah membahas lagu-lagu classic rock beserta pernak-perniknya dengan mengundang seorang tamu sebagai narasumber setiap minggu.Narasumbernya bisa siapa saja, bisa penikmat musik,kolektor musik,produser rekaman hingga para pemusiknya itu sendiri.

Diluar dugaan ternyata acara Collector’s Time mendapat respon bagus.Suatu hari Budiarto Shambazzy wartawan harian Kompas menyambangi saya dan mewawancarai saya mengenai musik rock yang dipilih radio M97FM sebagai identitas radio dan acara Collector’s Time.Budiarto Shambazzy bertutur bahwa dia dan rekan-rekannya di kantor mulai ketagihan menyimak radio M9&FM. Saya lalu menawarkan pada Budiarto Shambazy untuk menjadi tamu dalam acara Collector’s Time.Ternyata Budiarto Shambazy menerima tawaran saya itu dengan suka cita pula apalagi ketika saya menawarkan untuk membahas Led Zeppelin, salah satu band rock favoritnya.

Drummer seribu band Jelly Tobing adalah tamu pertama yang saya undang dalam acara Collector’s Time. Sejak itu,hampir saban rabu malam Collector’s Time menghadirkan berbagai tamu atau narasumber.dari kalangan pemusik hingga ke penggila musik rock.Seingat saya ada penggemar rock yang berkali-kali saya undang sebagai bintang tamu, mulai dari Indra Kesuma seorang bankir yang punya pengalaman nonton band band rock mancanegara saat mengenyam pendidikan di Amerika.Juga ada penggila The Beatles seperti Pandu Ganesha hingga fanatikus Kiss Nelwin Aldriansyah.

Harry Roesli jadi tamu Collector's Time di tahun 1997 (Foto Denny Sakrie)

Harry Roesli jadi tamu Collector’s Time di tahun 1997 (Foto Denny Sakrie)

Dari kalangan pemusik saya pernah mengundang Harry Sabar,Debby Nasution,Harry Roesli,Deddy Stanzah,Andy Julias dan Januar Irawan dari Makara,Keenan Nasution,Ekki Soekarno,Chrisye,Benny Soebardja,Donny Fattah,Albert Warnerin,Emmand Saleh,Donny Suhendra,Benny Likumahuwa,Abadi Soesman,Lilo Kla,Gilang Ramadhan,Eet Syahrani termasuk kritikus musik paling gahar era 70an Remy Sylado serta dua wartawan Aktuil Denny Sabri dan Buyunk dan masih sederet panjang lainnya.Fariz RM tercatat sebagai pemusik yang paling sering saya ajak sebagai narasumber.

Menariknya dalam berbagai siaran, saya selalu meminta beberapa pemusik untuk memperlihatkan cara bermain musik terutama gitar dan keyboard yang semuanya berlangsung live di studio M97FM seperti Albert Warnerin,Eet Syahrani,Tony Wenas,Emmand Saleh hingga Donny Suhendra.

Bersama drummer Ekki Soekarno (Foto Denny Sakrie)

Bersama drummer Ekki Soekarno (Foto Denny Sakrie)

Waktu yang berdurasi 3 jam terkadang terasa cepat berakhir.Ketika peminat Collector’s Time mulai membanyak,pihak M97FM kemudian mulai mengadakan acara off air Collector’s Time yang berlangsung di News Cafe dan Poster Cafe.Seingat saya ada 4 event off air yang berhasil membuat reuni beberapa band yaitu reuni The Rollies,reuni Gang Pegangsaan,reuni Cockpit Band  dan reuni Gang of Harry Roesli.Siapa yang tidak bangga dengan acara musik yang kian banyak dinikmati publik.

Dan malam ini saya hanya bisa mengenang saat-saat memandu Collector’s Time dengan segenap passion yang ada dalam diri saya.Sebuah kerinduan yang tak terobati,tapi masih bisa dikenang

Diskusi Rock Diatas Atap

Posted: November 29, 2014 in Kisah, Opini

Sekelompok mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia bikin hajat apresiasi musik.Mereka sepertinya tiap tahun selalu bikin acara semacam ini.Sebuah gagasan bagus untuk memberikan wawasan musik terutama dari koridor pop culture terhadap para mahasiswa yang setiap harinya telah bergelut mengenyam ilmu dan pendidikan.Tanggal 1 November 2014,para mahasiswa yang tergabung dalam BSOBand UI menggelar diskusi Music Industry Seminar dengan tema Defining Rock. Mereka mempertemukan dua generasi musik berbeda,Donny Fattah dari generasi pemusiki 70an dan kelompok tigapagi dari generasi musik sekarang ini.

poster.

Saya diminta untuk mengarahkan lalu lintas perbincangan yang berlangsung di atas atap Teater Salihara yang terletak di Jalan Salihara 16 Jakarta Selatan.Diskusi membahas musik rock di udara terbuka di atas atap sebuah gedung yang artistik ternyata mampu membuat yang hadir jadi lebih bergairah meskipun wajah dan tubuh diterpa udara  panas nan menyengat. Tapi toh bincang-bincang dari dua generasi rock berbeda ini terasa memiliki dinamisasi.

Suasana diskusi musik  di atas atap Teater Salihara 1 November 2014 yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Suasana diskusi musik di atas atap Teater Salihara 1 November 2014 yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Kesempatan pertama saya berikan kepada Donny Fattah bassist band rock God Bless yang telah malang melintang 41 tahun sejak terbentuk pada tahun 1973.Donny Fattah juga dikenal sebagai seorang songwriter,Selain aktif dan setia dalam tubuh God Bless, Donny yang sejak awal 70an telah ikut mendukung berbagai grup rock seperti Zonk hingga Fancy jr, juga memiliki kegiatan musik lain diluar God Bless.Dari tahun 1977 hingga 1981 Donny bersama adiknya Rudi Gagola membentuk proyek musik D & R yang melahirkan sebanyak 3 album .Di paruh 80an Donny membentuk Donny & Friends yang menyatukan kolega-koleganya dalam musik rock merilis album dan manggung.Di awal 90an Donny Fattah diajak Yockie Surjoprajogo ikut mendukung Kantata Takwa yang digagas maesenas Setiawan Djody.Di akhir 80an Donny Fattah pun ikut mendukung Gong 2000 yang dibentuk gitaris Ian Antono.

10378061_10152589872178285_6246359463196294620_n

Dengan gaya yang santai,Donny menuturkan pengalamannya sejak akhir 60an hingga masuk ke dasawarsa 70an saat musik rock mulai berkembang di Indonesia.”Saat itu kami lebih banyak memainkan karya-karya rock mancanegara.Karena zamannya memang seperti itu” urai Donny Fattah.

10456227_10152535065568285_4520955121085267374_n

Itu adalah era Orde Baru mulai berkuasa, dimana musik Barat atau rock yang dalam rezim Orde Lama  dianggap dekaden dan ngak ngik ngok mulai bisa diputar di radio-radio atau dipentaskan secara umum di panggung-panggung pertunjukan.”Namun saat di God Bless kami berupaya tetap kreatif dengan tidak memainkan lagu-lagu orang sepersis mungkin tapi kami arransemen ulang dengan gaya musik kami” imbuh Donny Fattah.

Defining Rock bersama Donny Fattah dan tigapagi (Foto Iman Fattah)

Defining Rock bersama Donny Fattah dan tigapagi (Foto Iman Fattah)

Di era 70an banyak band-band rock yang tampil aktraktif dan dinamis di panggung tapi harus melakukan kompromi saat masuk ke dalam bilik rekaman.God Bless malah melakukan hal yang berbeda.Mereka tak mau disetir oleh label rekaman.Di tahun 1976 God Bless merilis album debut pada label Pramaqua dengan memainkan musik rock tanpa harus menyanyikan lagu-lagu pop yang mendayu-dayu.

Lagi berbincang dengan kelompok musik tigapagi di Teater Salihara sebelum berdiskusi tentang Defining Rock yang diadakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jam 15.00 WIB sabtu 1 November

Lagi berbincang dengan kelompok musik tigapagi di Teater Salihara sebelum berdiskusi tentang Defining Rock yang diadakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jam 15.00 WIB sabtu 1 November

Lain pula dengan generasi sekarang yang sudah dilengkapi dengan perkembangan teknologi yang banyak memiliki fasilitas pendukung sebuah proses kreatif termasuk proses rekaman.Idealisme bermusik mungkin lebih bisa dikemabngkan pada zaman sekarang, hal yang nyaris sulit untuk dilakukan pada era 70an.Jika rata-rata anak band era 70an lebih bangga memainkan repertoire asing, maka anak band sekarang justru menanggung beban malu jika hanya sekedar menjadi copycat belaka.Sigit dari tigapagi juga gitaris jazz Tesla Manaf menguraikan argumen tentang kondisi bermusik zaman sekarang yang jelas berbeda dengan yang dialami oleh generasi Donny Fattah pada era 70an.

10624786_10152590018463285_8680836674563977415_n

Konsep D.I.Y atau Do It Yourself yang menjadi kredo musik anak band zaman sekarang pada akhirnya memang mampu mempertahankan idealisme bermusik.Namun baik Sigit maupun Tesla Manaf mengaku kagum dengan alotnya posisi tawar yang dilakukan God Bless hingga menghasilkan album debut rekaman yang tetap mempertahankan idealisme yakni memainkan musik rock gaya mereka sendiri.

10411814_10152535069428285_3931851301074616081_n

“Album perdana God Bless memang tidak laku dipasaran,tapi kami semuanya merasa puas karena telah mengeluarkan semua energi kreativitas kami” ujar Donny Fattah.Baru di tahun 1988,God Bless secara perlahan mampu berbicara secara pencapaian ekonomi dalam penjualan albumnya.Saat itu,album “Semut Hitam” yang dirilis Logiss Record terjual melampaui jumlah 400.000 kaset. Ini sebuah pencapaian luar biasa dari penampilan band rock di jalur rekaman.