Archive for the ‘Liputan’ Category

Tiga Jam Diguyur Metal Progresif

Posted: Desember 5, 2014 in Konser, Liputan

Tulisan saya ini dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2014

Walaupun tak sebesar dan sekolosal Metallica, namun band progresif metal Dream Theater juga meraup banyak penggemar fanatik yang memenuhi lahan Lapangan D Senayan pada minggu 26 Oktober 2014.Sekitar 5000 penonton memenuhi lahan yang letaknya berdampingan dengan Jakarta Convention Center, yang saat itu juga tengah mengadakan perhelatan musik lintas genre Sounds Fair.Konser Dream Theater bertajuk Along For The Ride Tour 214 merupakan yang keduakalinya sejak John Petrucci (gitar),James LaBrie (vocal ),John Myung (bass),Jordan Rudess (keyboard) dan Mike Mangini pertamakali menggelar konser di Jakarta 21 April 2012 di MEIS Ancol Jakarta. Along For The Ride Tour merupakan tur yang dilakukan Dream Theater untuk mendukung album “Dream Theater” yang dirilis tahun 24 September 2013.Tur ini dimulai di Eropa 15 Januari 2014.
“Malam ini kami akan bermain sekitar 3 jam penuh” ucap John Petrucci gitaris dan salah satu pendiri Dream Theater, saat saya mewawancarainya sekitar 6 jam sebelum konser berlangsung.
Menurut,John Petrucci, selain membawakan lagu-lagu dari album “Dream Theater” ,konser ini juga membawakan sebagian repertoar dari album “Awake” yang tahun ini genap berusia 20 tahun serta selebrasi album “Metropolis Pt2 :Scenes From A Memory “ yang tepat saat konser berlangsung 26 Oktober genap berusia 15 tahun.Konser ini setidaknya merupakan retropeksi atas perjalanan karir band yang dibentuk pertamakali oleh tiga mahasiswa Berklee College of Music di Boston,Massachusetts Mike Portnoy,John Myung dan John Petrucci pada tahun 1985 dengan nama Majesty dan berubah menjadi Dream Theater di tahun 1988.
Dream Theater yang kini berada dibawah naungan label Road Runner betul memenuhi janjinya untuk tampil selama 3 jam.James LaBrie sang vokalis meyibak pertunjukan dengan berucap : “Selamat malam Jakarta.Kami akan memainkan musik selama tiga jam”,yang disambut gemuruh para penggemar Dream Theater yang datang dari berbagai kota di Indonesia.Saat itu saya sempat melihat penggemar Dream Theater yang datang dari Bali,Malang,Surabaya,Makassar,Medan dan juga Lampung.
Konser Dream Theater dibagi dalam dua sesi yaitu Act 1 dan Act 2 termasuk encore yang menyajikan sekitar 4 komposisi.Kedua sesi ini disela jeda pemutaran kumpulan klip dan footage yang berkaitan dengan Dream Theater termasuk klip para penggemar Dream Theater yang mengcover lagu-lagu Dream Theater di kanal Youtube.
Konser Dream Theater yang didukung pernak pernik visual rasanya tepat untuk mengimbuh mood dan atmosfer konser selama 3 jam tersebut .Sesi Act 1Dibuka dengan introduksi bernuansa orchestral “False Awakening” yang ditulis John Petrucci dan Jordan Rudess dan berlanjut dengan beberapa komposisi dari album “Dream Theater” seperti “The Enemy Inside”,”The Looking Glass”,”Along For The Ride” serta “Enigma Machine” yang dilanjutkan dengan solo drum dari Mike Mangini.Dalam Act 1 ini para pemusik virtuoso ini juga memainkan “The Shattered Fortress” dari album Black Clouds & Silver Linings (2009),”On The Back of Angels” dan Breaking All Illusion “dari album “A Dramatic Turn of Events” (2011) serta ,”Trial of Tears” dari album “Falling Into Infinity” (1997).
Setelah jeda intermission sekitar 15 menit Dream Theater meneruskan penjelajalahan musiknya pada Act 2 yang khusus memainkan repertoar album “Awake” .Awake adalah salah satu album terbaik Dream Theater yang mendapat review bagus atas pencapaian musiknya.Album yang dirilis 4 Oktober 1994 ini muncul pada saat industri musik dunia masih di cengkram ketenaran musik grunge dengan band-band seperti Nirvana,Pearl Jam,Alice In Chain hingga Stone Temple Pilot.Namun album yang kuat nuansa progresifnya ini mampu mencapai peringkat 32 dalam “Top 200 Albums” di majalah industri musik Billboard selama 6 pekan.

DTT
Di penghujung era 90an itulah sosok Dream Theater mulai dikenal di Indonesia.Anak muda yang bermain band mulai menoleh pada aura musik Dream Theater dengan penyajian musik yang cenderung ke arah virtuositas.”Anak anak muda yang tadinya memainkan metal,mulai mengulik karya-karya Dream Theater” urai Andy Julias drummer Makara,yang juga dikenal sebagai penggagas berdirinya Indonesia Progressive Society di awal era 2000an. Eramono Soekaryo,pemain keyboard alumnus Berklee Music Of College Boston juga ikut tertarik dengan konsep fusi antara musik rock progresif dan metal yang digagas Dream Theater.Di tahun 1995 Eramono Soekaryo mengubah warna music bandnya Spirit dari fusion menjadi prog metal ala Dream Theater.Jika Dream Theater menghadirkan saxophonis jazz Jay Beckenstien dari grup Spyrogyra pada lagu “Another Day” dari album “Images and Words” (1992) , Eramono Soekaryo dalam band Spirit menghadirkan saxophonis jazz Didiek SSS dalam album “Salahkanku” (1995).

DT@
Saat itu repertoar Dream Theater menjadi pilihan bagi berbagai band-band remaja saat ikut berkompetisi dalam berbagai Festival Band.”Saya dan teman-teman saat ikut festival band pernah membawakan lagu milik Dream Theater” ujar Rian D’Masiv vokalis band pop D’Masiv.
Andy Julias lalu menyebut beberapa nama band progresif yang banyak terpengaruh dengan konsep progresif metal Dream Theater seperti The Miracle,Jukebox, dan Ballerina.Meskipun mereka telah merilis album dengan komposisi sendiri misalnya The Miracle merilis album bertajuk “M” (2008) atau Ballerina yang merilis dua album “Hayal” (2003) dan “Dance of Ballet” (2008) .Bahkan saya sempat melihat penampilan Paraikatte Band, band asal Makassar yang menyerap pengaruh Dream Theater saat tampil dalam sebuah kompetisi band
Setidfaknya ini menyiratkan bahwa Dream Theater memiliki banyak penggemar di Indonesia.Komunitas penggemar Dream Theater tumbuh kembang di beberapa kota di Indonesia.
Dalam sesi Act 2 ,kita seolah digiring kembali ke Dream Theater era lalu dengan sederet lagu dari album “Awake” seperti “The Mirror”,”Lie”,”Lifting Shadows off a Dream”,”Scarred”,”Space-Dye Vest” dan diakhiri dengan epic berdurasi 22.18 menit “Illumination Theory” yang terbagi dalam 5 movement, dari album “Dream Theater” (2013).
Penggemar Dream Theater di Indonesia agaknya menikmati sajian yang dahsyat dari Dream Theater yang masih menambahkan encore sebanyak 4 komposisi dari album Metropolis pt 2 : Scenes From A Memory” yaitu Overture 1928,Strange Deja Vu,The dance of Eternity,Finally Free serta outro dari Ilumination Theory.Menyajikan encore dari album Metropolis Pt2 :Scenes From A Memory” ini rasanya merupakan pilihan tepat.Pertama,karena malam itu album yang untuk pertamakali menyertakan keyboardis Jordan Rudess ini merayakan ulang tahun yang ke 15 sejak dirilis 26 Oktober 1999.Kedua,album ini juga merupakan salah satu album landmark dari Dream Theater,dimana majalah Rolling Stone pada edisi akhir Juli 2012 telah memilih album ini sebagai album no.1 dalam polling Album Progresif Rock Terbaik Sepanjang Waktu,mengalahkan album klasik “Close To The Edge” dari Yes (1972) dan album 2112 dari Rush (1976) .
Suara James LaBrie terdengar lirih di ujung konser saat menyanyikan bait bait terakhir lirik Finally Free :” We’ll meet again my friend.Someday Soon !”

Ini ada kisah napak tilas perjalanan musik jazz di Indonesia yang dilakukan oleh sederet pemusik jazz terbaik Indonesia pada dekade 60an. alkisah.di i tahun 1967 kelompok jazz Indonesia The Indonesian All Stars yang terdiri atas Jack Lesmana (Gitar),Bubi Chen (piano,zither),Maryono (saxophone,flute,suling),Jopie Chen (double bass) dan Benny Mustafa van Diest (drums) melakukan tur konser menjelajahi berbagai kota di wilayah Jerman Barat (saat itu) selama kurun waktu hampir sebulan.

Art work piringan hitam Djanger Bali

Art work piringan hitam Djanger Bali

Mereka bermain jazz tanpa henti.”Kami betul betul melakukan tur jazz yang padat termasuk tampil di Berlin Jazz Festival yang juga ditonton Herbie Hancock sampai Miles Davis ” ungkap Benny Mustafa van Diest,satu-satunya anggota The Indonesian All Stars yang masih hidup,ketika ditemui dikediamannya di bilangan Gandul Cinere awal November lalu.Sangat menarik menyimak tutur drummer jazz turunan Belanda ini seputar sepak terjang pemusik jazz Indonesia.Sebersit kebanggaan saat menyimak kisah jazz Indonesia yang dituturkan drummer legendaris ini

Benny Mustafa bersama pianis jazz Rene Helsdingen serta tim Demajors Record yang akan merilis ulang album Djanger Bali (Foto Demajors)

Benny Mustafa bersama pianis jazz Rene Helsdingen serta tim Demajors Record yang akan merilis ulang album Djanger Bali (Foto Demajors)

Kedatangan saya bersama David Karto dan David Tarigan dari Demajors Record beserta tim audio visual adalah untuk mewawancarai Benny Mustafa seputar proses penggarapan album Djanger Bali yang dirilis oleh MPS/Saba pada tahun 1967 bersama peniup klarinet asal Amerika Tony Scott.

“Jadi disamping kami melakukan serangkaian tur panjang di Jerman,dua hari diantaranya dipergunakan untuk merekam album Djanger Bali itu bersama Tony Scott” urai Benny Mustafa yang tanggal 22 September lalu genap berusia 75 tahun.

Piringan Hitam Djanger Bali asli harganya telah mencapau sekitar Ro 2,5 juta di situs e-Bay maupun Discog

Piringan Hitam Djanger Bali asli harganya telah mencapau sekitar Ro 2,5 juta di situs e-Bay maupun Discog

Tawaran untuk membuat album Djanger Bali,menurut Benny Mustafa datang dari seorang tokoh dan produser jazz di Jerman.”Namanya Joachim Berendt,dia sangat mengagumi musikalitas pemusik jazz Indonesia.Dia tertarik untuk merekam permainan jazz kita” timpal Benny Mustafa yang sore itu ditemani pianis jazz Belanda Rene Helsdingen.

Joachim Berendt ini yang kemudian berperan sebagai produser album Djanger Bali tersebut.

Lalu bagaimana hingga bisa berkolaborasi dengan Tony Scott ?

“Tony  Scott itu selalu mengajak kita untuk jam session. Kami beberapa kali melakukan pertunjukan . Dia beberapa bulan sempat tinggal di Jakarta ” tutur Benny Mustafa.

Djanger Bali akan dirilis ulang Demajors dalam format Compact Disc

Djanger Bali akan dirilis ulang Demajors dalam format Compact Disc

Peniup klarinet Tony Scott asal New York Amerika Serikat ini pernah wara-wiri di Asia sekitar 6 tahun seperti di Thailand,Taiwan serta Indonesia.Tony yang lalu sempat bermukim di Jakarta justeru banyak menyerap musik tradisi yang lalu dibaurkan dengan elemen jazz.
Selama 6 bulan Tony Scott melakukan pendekatan dengan Indonesian All Stars yang didukung Jack Lesmana (gitar),Bubi Chen (piano,zither),Benny Mustafa Van Diest (drums),Maryono (suling,flute,saxophone) dan Jopie Chen (bass).Ternyata antara Tony Scott dan The Indonesian All Stars terdapat chemistry yang tepat.Mereka menemukan bentuk kolaborasi yang tepat.

Saya mewawancarai Benny Mustafa,drummer The Indonesian All Stars,satu-satunya pemusik jazz yang terlibat proyek tersebut yang masih hidup (Foto Demajors)

Saya mewawancarai Benny Mustafa,drummer The Indonesian All Stars,satu-satunya pemusik jazz yang terlibat proyek tersebut yang masih hidup (Foto Demajors)

Lalu selama 2 hari  di kota  Berlin grup jazz kebanggaan Indonesia ini melakukan sesi rekaman untuk MPS/Saba Record yang kemudian menghasilkan album “Djanger Bali”.Album yang covernya mengambil nukilan salah satu relief di Candi Borobudur ini mengajukan konsep “East meet West”.
Beberapa instrumen musik tradisional Indonesia seperti suling bambu,kecapi dan zither dihadirkan pula di album Djanger Bali ini..Adapun sesi rekaman album ini dilakukan oleh sound engineer Rolf Donner di Saba Tonstudio ,Villingen,Black Forrest pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1967.

Benny Mustafa dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

Benny Mustafa dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

The Indonesian All Stars banyak melakukan eksperimen dan eksplorasi saat penggarapan album monumental tersebut.
Jack Lesmana  misalnya, melakukan eksplorasi  dengan memainkan nada rendah pada gitarnya untuk menyiasiati penggantian bunyi gong.Dan hasilnya memang cemerlang, tanpa gong nuansa etnik Bali bisa tercipta.
Mereka pun mencoba menafsirkan karya George Gershwin  bertajuk “Summertime” dalam perspektif tradisi karawitan.Tak ada intimidasi dua kutub budaya yang berbeda.Sesuatu yang mungkin saat itu termasuk sebuah pencapaian luar biasa.
Sebahagian besar komposisi di album ini,arransemennya dibuat oleh Bubi Chen,kecuali “Ilir Ilir” digarap oleh almarhum Maryono.Di lagu ini pun Maryono bersenandung.”Kami yang meminta dia menyanyikan lagu tersebut,karena Maryono itu orang Jawa.Kami sendiri selalu memanggil dia Jawa” ujar Benny Mustafa terkekeh.

IMG_1414

Sayangnya ketika album Djanger Bali dirilis pertamakali pada akhir tahun 1967 oleh SABA, album ini bisa dikatakan kurang mendapat perhatian.Belum ada review yang positif atas materi album ini.Kemudian album Djanger Bali dirilis kembali di awal 1969 atau 1970 ketika label SABA mengalami masalah ketika  diambil alih atau dikonsolidasikan dengan MPS/BASF. Untuk rilisan kedua Djanger Bali dirilis dengan label MPS. Disekitar dekade 90an album Djanger Bali yang termasuk dalam kategori langka  kembali dirilis ulang  oleh label  MPS dengan tajuk  “Jazz Meets the World No. 2: Jazz Meets Asia”.Di album ini terdapat dua album jazz dalam satu kemasan CD,pertama Djanger Bali dari Tony Scott and The Indonesian All Stars dan album jazz dari pemusik jazz Jepang Terumasa Hino. Dalam rilisan berformat CD ini ternyata ada satu komposisi yang tidak diikutsertakan yaitu “Mahlke” dari “Katz Und Maus” yang ditulis oleh Attilla  Cornellus Zoller gitaris jazz asal Hungaria.

Ada sedikit cerita menarik mengenai dibawakannya lagu “Mahlke” ini oleh The Indonesian All Stars.Ketika produser Joachim Berendt merlakukan muhibah  Indonesia .dia membawa  album milik Attila Zoller yang akan dirilis oleh label  SABA dimana dalam salah satu tracknya termaktub komposisi  ‘Mahlke’, yang sebenarnya merupakan sound-track dari sebuah film Jerman yang berjudul “Katz und Maus,”  berdasarkan karya Gunter Wilhelm Grass sastrawan Jermain peraih Hadiah Nobel Sastra .

Jack Lesmana tertarik untuk menyimak album Attila Zoller tersebut.Jack Lesmana ternyata menyukai komposisi lagu tersebut dan kemudian menguliknya bersama Indonesian All Stars. Pada saat The Indonesian All Stars bermuhibah  ke Jerman, mereka telah mampu memainkan lagu itu dengan penafsiran jazz yang menarik,dan  Joachim Berendt malah tertarik untuk merekamnya sebagai bagian dari materi album  “Djanger Bali”.
Album Djanger Bali pada akhirnya menjadi album jazz yang dipertimbangkan sebagai musik jazz Indonesia.Banyak review dan tinjauan musik yang memuji eksperimen The Indonesian All Stars bersama Tony Scott.

Benny Mustafa van Diest dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

Benny Mustafa van Diest dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

Sayangnya album ini sudah termasuk langka dan hanya milik para kolektor belaka.Sebuah karya besar pemusik Jazz Indonesia yang patut dikenang sepanjang masa.Beberapa waktu lalu dalam situs e-Bay maupun Discogs harga vinyl original Djanger Bali ini telah memasuki kisaran harga sekitar Rp 2,5 juta jika dikurs dalam nilai rupiah.Sangat fantastik.

Dengan melambungnya  harga atau nilai jual album otentik Djanger Bali yang kian meresahkan serta desakan keinginan untuk mendokumentasikan salah satu artefak terpenting dalam perjalanan musik jazz (di) Indonesia, pihak label Demajors terketuk untuk melakukan reissue atau rilis ulang album jazz yang menjadi target para kolektor dunia itu.

“Kami akan merilis ulang album Djanger Bali dalam format CD.Ini memang ingin meneruskan apa yang telah kami lakukan di sekitar beberapa tahun lalu saat melakukan remaster dan rilis ulang album Kuartet Bubi Chen yang pernah dirilis Lokananta Solo.Sekarang kami merasa terpanggil untuk melakukan hal yang sama lewat album Djanger Bali” jelas David Karto dari Demajors Record.

“Kami ingin agar generasi sekarang bisa mengetahui sejarah musik Indfnesia di masa silam” imbuh David Karto lagi.

Usai sesi interview untuk Behind The Scene Reissue Djanger Bali - Tony Scott and The Indonesian All Stars (Foto Demajors)

Usai sesi interview untuk Behind The Scene Reissue Djanger Bali – Tony Scott and The Indonesian All Stars (Foto Demajors)

Saat Pertama Nonton Bharata Band

Posted: September 14, 2014 in Kisah, Liputan

Sebetulnya usia Bharata Band itu bisa dianggap sama dengan usioa The Beatles, band Liverpool yang mereka kagumi dan mereka pilih sebagai band yang dijadikan sebagai impersonator.Menurut Tato Bharata,gitaris Bharata,.band yang dibentuknya bersama sauidara-saudara kandungnyta itu terbentuk tahun 1963.Bharata Band juga sempat merasakan tembok penjara di zaman Orde Lama Bung Karno karena kena razzia aparat saat menyanyikan lagu-lagu dari The Beatles seperti halnya yang dialami Kus Bersaudara di tahun 1965.

Bharata Band yang sekian lama vakuum mulai muncul lagi pada tahun 1984 namun dengan menambahkan dua anggota baru yaitu Jelly Tobing (drum) dan Abadi Soesman (gitar,keyboard dan vokal).Kembalinya Bharata Band dalam dunia hiburan panggung pada paruh dasawarsa 80an serta merta mendap[at sambutan hangat luar biasa.Bharata Band lalu mulai tampil dimana-mana dengan jadwal manggung yang luar biasa padat.

Saat itu rasa penasaran saya semakin menggebu membaca berita-berita tentang konser-konser Bharata Band yang membawakan lagu-lagu The Beatles sejak tahun 1984.Sebagai penggemart The Beatles pastilah saya memendam hasrat meluap untuk menyaksikan salah satu tribute band The Beatles terbaik di negeri ini.

Pucuk dicinta ulam tiba, di tahun 1987,saya memetik kabar bahwa Bharata Band akan manggund di Ujung Pandang.Saat itu saya masih bermukim di ibukota provinsi Sulawesi Selatan itu.Saya masih kluliah di Fakultas Ekonomiu Universitas Hasanuddin.Saya pun tak menyia-nyiakan peluang untuk nonton konser  Bharata Band.

Abadi Soesman memprovokasi penonton Bharata Band di Ujung Pandang tahun 1987 (F oto Denny Sakrie)

Abadi Soesman memprovokasi penonton Bharata Band di Ujung Pandang tahun 1987 (F
oto Denny Sakrie)

Bharata Band mel;akukan konser di Gedung Kemanunggalan ABRI & Rakyat di Jalan Jendereal Sudirman Ujung Pandang.Selain nonton,saya ingin menulis  liputan konser Bharata Band ini untuk majalah Vista Jakarta.Saat itu saya memang jadi kontributor atau istilahnya saat itu adfalah koresponden,majalah Vista dari Ujung Pandang..

Saat Jelly Tobing menghajar drum dan muncul introduksi Twist and Shout,aura The Beatles pun merebak di ruang berkapasitas sekitar 1500 penonton itu.Semuanya larut dengan lagu-lagu era awal The Beatles seperti I Saw Her Standing There,She Loves You hingga Oh Darling yang justru dinyanyikan Jelly Tobing.

Konser ini bisa diosebut sukses,komunikasi yang dilakukan Abadi Soesman memang mampu memprovokasi penonton yang semula dingin dan adem ayem merespon penampilan Bharata Band yang tampil sekitar 2 jam tanpa jeda. Sebuah tontonan yang tak terlupakan sepanjang zaman.

Groovie Record dengan logo membajak logo Mesra Record milik almarhum Dick Tamimi merilis sebuah album vinyl yang isinya merupakan kompilasi lagu-lagu band wanita pertama Indonesia Dara Puspita dengan tajuk The Garage Years.Label Groovie Record ini dimiliki oleh seseorang bernama Edgar dari Portugal.Konon,Edgar ini telah menghubungi Dara Puspita untuk izin reissue album tersebut, tapi karena nilai nominalnya terlalu mahal,Edgar dari Groovie Records tetap ngotot merilis album ini tanpa peduli sama sekali.

Album Dara Puspita yang dibajak oleh label asal Portugal

Album Dara Puspita yang dibajak oleh label asal Portugal

Ternyata lagu lagu milik Dara Puspita yang dirilis oleh label Irama dan Mesra pada dasawarsa 60an yang masih dilumuri gaya rock n’roll membuat sebagian penggemar musik di luar Indonesia jatuh cinta.Dalam blog-blog bisa kita lihat mereka dengan antusuias memperbincangkan dan mereview karya-karya dari band wanita yang berasal dari Surabaya itu.Bahkan entah bagaimana mereka menyebut Dara Puspita sebagai band wanita bergaya garage.Garage rock saat itu memang tak dikenal di Indonesia. Dara Puspita saat itu yang banyak menyimak lagu-lagu karya The Beatles dan hingga The Rolling Stones (coba simak intro lagu Marikah Kemari yang menggunakan introduksi lagu The Rolling Stones Under My Thumb).Dengan teknik rekaman yang masih primitif, rekaman rekaman musik Dara Puspita pada label Irama memang terkesan lebih raw.Mungkin dengan asumsi inilah banyak music enthusiast di belahan bumi sana melabelkan Dara Puspita sebagai band garage dari Indonesia.

Di tahun 2010 Alan Bishop dari  Sublime Frequencies pernah merilis ulang sejumlah lagu-lagu Dara Puspita dari era 1966-1968 dalam sebuah CD kompilasi yang ternyata mendapat respon bagus dari dunia internasional.Album Dara Puspita ini direview oleh berbagai media online dsan cetak bahkan situs musik Allmusic.Com menempatkan album kompilasi Dara Puspita ini sebagai salah satu album terbaik.Allmusic.com pun  menulis : Overall the sense is of an accomplished band whose members know everything that’s happening around them and then twist it to create something inspiring, both utterly familiar and totally unexpected.  

Untuk kesekian kali saya diminta untuk memandu konser musik Orkes White Shoes and The Couples Company.Kenapa Orkes ? Aha….ini sebetulnya hanya mencoba mengangkat istilah yang pernah dipakai pada era 50an dan 60an dalam khazanah dunia musik Indonesia, dimana sebuah kelompok musik masih disebut dengan istilah Orkes.Saat itu memang belum dikenal istilah band. Jadi saat saya memandu konser kecil White Shoes and the Couples Company pada 27 April 2014 di Kopi Tiam Tan yang berada di area SCBD Sudirman saya menyebut mereka sebagai Orkes White Shoes and The Couples Company.

Inilah Orkes White Shoes and The Couples Company

Inilah Orkes White Shoes and The Couples Company

Santai dan separuh becanda adalah atmosfer yang kerap saya rasakan jika memandu konser White Shoes and The Couples Company.Apalagi mereka,Sari,Mela,Rio,Ale,Ricky dan John, kesemuanya memang selalu bersikap santai.Walhasil konser White Shoes and The Couples Company yang dikaitkan dengan peluncuran vinyl Menyanyikan Lagu2 Daerah bisa berlangsung penuh keintiman.

Saat membuka penampilan White Shoes and The Couples Company sore itu saya memperkenalkan mereka sebagai kelompok musik yang didukung oleh 3 etnis besar yang memiliki kemampuan berdagang yaitu etnis Arab,Cina dan Melayu sembari memanggil Ale sang gitaris yang turunan Arab,drummer John yang berdarah Tionghoa serta keempat lainnya Rio,Sari,Mela dan Ricky yang mewakili etnik Melayu.Saya menyebut mereka sebagai saudagar yang bermusik,tentunya ini sekedar canda untuk mencairkan suasana.Kenapa saya menyebut mereka saudagar dengan intuisi berniaga yang tinggi, karena ternyata sore itu sekitar 100 keping vinyl White Shoes and The Couples Company Menyanyikan lagu2 Daerah habis terjual.Laris manis.Fantastis.Harga yang dibandrol Rp 280.000 sepertinya bukan kendala bagi para penggemar  White Shoes and The Couples Company.

GG

Sore itu,konser Orkes White Shoes and The Couples Company dibagi dalam dua sesi.Sesi pertama mereka membawakan lagu-lagu dari album debut serta Album Vakansi termasuk saat mengcover lagu milik Jimi Hendrix Crosstown Traffic.Tak lupa juga mereka menginterpretasikan lagu karya Fariz RM di tahun 1979 “Selangkah Ke Seberang”.

Orkes White Shoes and The Couples Company di Kopi Tiam Tan SCBD 27 April 2014 (Foto Denny Sakrie)

Orkes White Shoes and The Couples Company di Kopi Tiam Tan SCBD 27 April 2014 (Foto Denny Sakrie)

White Shoes and The Couples Company dimata saya adalah Orkes yang termapil melakukan interpretasi terhadap lagu-lagu milik pemusik lain dengan menjadikannya sebagai signatural mereka sendiri.Artinya White Shoes mampu menjadikan lagu orang lain seolah menjadi karya mereka dengan jatidiri yang khas.

Interpretasi mereka terhadap khazanah lagu-lagu daerah yang pernah mencapai tingkat kejayaan di Indonesia pada akhir 50an hingga era 60an pun merupakan satu catatan khusus terutama bagaimana upaya mereka melestarikan karya-karya seniman musik era masa lalu ke dalam penyajian yang terasa kekiniannya.

Di dasawarsa itu ,50an dan 60an, sebagian besar pemusik Indonesia menebar karya dalam bahasa daerah masing masing mulai dari bahasa Jawa,Sunda,Minang,Kalimantan,Minahasa,Ambon,Bugis Makassar hingga Papua.Dan bisa populer contoh misalnya ketenaran lagu Ayam Den Lapeh,Lembe Lembe Lembe,Anging Mamiri hingga O  Ina Ni Ke Ke dan masih banyak lagi.

Vinyl Orkes White Shoes and The Couples Company Menyanyikan Lagu2 Daerah

Vinyl Orkes White Shoes and The Couples Company Menyanyikan Lagu2 Daerah

Kenapa lagu-lagu daerah bisa mengangkasa saat itu.Ini mungkin merupakan dampak dari maklumat presiden Soekarno yang bersikap anti Barat dan berinisiatif mengangkat budaya bangsa sendiri.Itu jelas termaktub dalam Manipol Usdek.Musik Barat bagi Bung Karno dianggap sebagai musik ngak ngik ngok yang tak sesuai dengan jatidiri bangsa.

Sebetulnya ini upaya bagus dari seorang pemimpin negeri yang menaruh perhatian luar biasa dalam seni dan budaya.

Momen ini kemudian ditangkap dan diolah lagi oleh White Shoes and The Couples Company yang lalu menggagas untuk merekam Lima lagu-lagu daerah yang pernah ngetop pada masanya di Studio rekaman milik Pemerintah Lokananta Solo.

Sebelum memasuki sesi kedua dimana White Shoes and The Couples Company akan menyanyikan lagu-lagu daerah, saya sengaja memutar kembali piringan hitam EP 45 RPM yang memuat lagu berbahasa Sunda karya Koko Koswara “Tjangkeurileung” yang di era 60an dinaynyikan oleh Jules Fiole bersama Orkes Simanalagi pada label Irama milik Soejoso Karsono.Sejenak penonton menyimak dengan takzim versi Jules Fiole yang dipengaruhi aura rock n’roll.

White Shoes and The Couples Company (Foto Denny Sakrie)

White Shoes and The Couples Company (Foto Denny Sakrie)

Usai pemutaran vinyl Jules Fiole saya memanggil personil Orkes White Shoes And The Couples Company untuk berbincang-bincang perihal album Menyanyikan Lagu2 Daerah yang ternyata mendapat respon bagus dari anak muda yang menggemari White Shoes and The Couples Company.

Setelah itu Orkes White Shoes and The Couples Company kembali tampil dalam sesi dua yang membawakan lagu-lagu daerah mulai dari Tjangkeurileung hingga Tam Tam Buku.

Apa yang dilakukan Orkes White Shoes and The Couples Company yang membongkar ulang khazanah lagu-lagu daerah jelas merupakan upaya terpuji membingkai mahakarya musik Indonesia yang selama ini kerap terabaikan bahkan terlupakan oleh generasi-generasi setelahnya.

Pianis jazz muda Indonesia Joey Alexander  (10 tahun) akhir April ini direncanakan menuju Amerika Serikat untuk melakukan serangkaian konser jazz. Ini tentunya sebuah warta yang membanggakan bagi dunia jazz negeri ini terutama juga kebanggaan untuk Indonesia.

Joey Alexander (Foto Tempo)

Joey Alexander (Foto Tempo)

Kehadiran Joey Alexander di Amerika Serikat atas undangan dari trumpetis jazz sohor Wynton Marsalis dalam sebuah konser dan gala dinner bertajuk “Love,Loss and Laughter: The Story of Jazz” yang mengambil tempat di Frederick P Rose Hall “The House Of Swing” yang berlokasi di Broadway 60 th Street,New York .Acara ini merupakan event tahunan dari Jazz At Lincoln Center yang digagas oleh Wynton Marsalis.Acara ini berbentuk musical revue yang menampilkan highlight karya-karya musik jazz dalam sejarah musik jazz yang berkembang dari New Orleans dan menjalar ke New York hingga pada akhirnya menyeruak dalam budaya global ke seantero jagad. Acara yang dipandu oleh aktor Billy Crystal ini menampilkan banyak tokoh-mulai dari tokoh jazz,blues hingga actor seperti Jon Faddis,Bill Cosby,Jonathan Batiste,Marcus Roberts,Dianne Reeves,Mark O’Connor,Taj Mahal,Dominick Farinacci,Pedrito Martinez,Brian Stokes Mitchel,Cecile McLorin Salvant serta Fairview Baptist Church Brass Band.Dan tentunya Wynton Marsalis with Jazz At Lincoln Center Orchestra.

JOEY
Joey Alexandera sendiri adalah satu-satunya pemusik yang datang dari luar Amerika Serikat.Direncanakan Joey akan memainkan dua komposisi jazz ,sebuah solo piano serta sebuah penampilan yang membanggakan karena Joey akan bermain piano diiringi Jazz At Lincoln Orchestra yang dipimpin Wynton Marsalis.
Lalu bagaimana Joey Alexander bisa diundang bermain di acara jazz bergengsi itu ?
Ikhwalnya bermula ketika Wynton Marsalis melihat permaianan piano solo Joey yang membawakan komposisi karya Thelonius Monk “Round Midnight” lewat video bertajuk “Son Of The Future” yang diunggah dikanal youtube dan kemudian ditampilkan lewat The Good News With The Ellen DeGeneres Show. Kemudian Jason Olaine Director of Programming and Touring dari Jazz At Lincoln Center menghubungi pihak Joey Alexander melalui facebook dan meminta kesediaan Joey Alexander tampil di New York Amerika Serikat.
Wynton Marsalis,pemusik jazz peraih 9 Grammy Award ini tertarik dan kagum melihat ekspresi dan karakter permainan piano jazz Joey Alexander.Lalu Wynton Marsalis bersama Jazz At Lincoln Center tertarik untuk mengajak Joey Alexander tampil sebagai “surprising guest” di acara gala dinner “Love ,Loss and Laughter :The Story Of Jazz” pada 1 Mei 2014 nanti.

Saya sedang berbincang dengan pianis Joey Alexander di Goethehaus Agustus  2013 (Foto Jazzuality)

Saya sedang berbincang dengan pianis Joey Alexander di Goethehaus Agustus 2013 (Foto Jazzuality)

Joey Alexander pun dijadwalkan akan tampil bermain solo piano jazz pada tanggal 7 Mei di Paul Roberson Center For The Arts , 102 Witherspoon Street Princeton,New Jersey, Amerika Serikat.Konser yang ini atas prakarsa dari Leonardo Pavkovich, pemilik label Moonjune Record di New York, yang juga merilis album-album jazz dari simakDialog,Dewa Budjana hingga Tohpati secara internasional.
Joey Alexander memang pianis jazz berbakat.Joey belajar jazz secara otodidak. Bakat musik terutama jazz yang dimiliki Joey memang telah ditelisik oleh kedua orang tuanya Denny Sila dan Farah Sila .Menurut ayahnya Denny, Joey , telah memperlihatkan talenta dan minatnya yang tinggi terhadap permainan piano sejak berusia 6 tahun. Di bawah asuhan ayahnya, Joey Alexander pun mengikuti berbagai festival jazz antara lain Java Jazz International Festival, Jakarta I, World Youth Jazz Festival di Kuala Lumpur. Hingga suatu hari tepatnya tanggal 23 Desember 2011 Joey juga diundang oleh UNESCO untuk bermain di depan tokoh jazz dunia yang juga berperan sebagai Unesco Goodwill Ambassador , Herbie Hancock, di @atamerica
Herbie Hancock terperangah saat Joey memainkan komposisi karyanya Watermelon Man dengan fasih diatas tuts grand piano.

Joey Alexander (Foto Jazzuality)

Joey Alexander (Foto Jazzuality)

Joey Alexander  tercatat berhasil meraih prestasi dalam event dunia dengan meraih Grand Prix 1st International Festival – Contest of Jazz Improvisation Skill yang diselenggarakan pada 5-8 Juni 2013 di Odessa, Ukraina.
Dalam situs resmi International Festival–Contest of Jazz Improvisation Skill disebutkan, para juri akhirnya menyimpulkan penghargaan tidak hanya diberikan untuk musisi jazz profesional dan berbakat, tetapi juga untuk mereka yang menjadi fenomena di dunia jazz. Joey Aleaxander adalah pemusik jenius muda yang dimaksud. Joey merupakan peserta termuda dan mampu mengalahkan 43 peserta final dari 15 negara yang rata-rata musisi jazz mumpuni.
Semoga penampilan pianis belia Joey Alexander Sila membuka mata dunia terhadap konstelasi musik jazz di Indonesia.
Denny Sakrie

PainKillers salah satu penampil dalam Hard Rock Rising The Global Battle Of Bands yang diselenggarakan Hard Rock Cafe Jakarta 11 Maret 2014 (Denny Sakrie).

PainKillers salah satu penampil dalam Hard Rock Rising The Global Battle Of Bands yang diselenggarakan Hard Rock Cafe Jakarta 11 Maret 2014 (Denny Sakrie).

Setiap tahun Hard Rock Cafe mengadakan kompetisi band Hard Rock Rising The Global Battle Of Bands termasuk pula Indonesia tentunya.Ini sebuah ajang bagus yang mendeteksi band-band rock dan memberikan peluang terhadap para pemenangnya untuk tampil dalam konser kelas dunia yang banyak didamba-dambakan anak band Indonesia.

Inilah juri Hard Rock Rising The Global Battl Of Band 2014 yang diadakan oleh Hard Rock Cafe Jakarta terdiri atas Denny Sakrie (pengamat musik),Ariyo Wahab (penyanyi,Rya Karina (Hard Rock FM Jakarta) dan Andre O Sumual (Majalah Trax Indonesia).

Inilah juri Hard Rock Rising The Global Battl Of Band 2014 yang diadakan oleh Hard Rock Cafe Jakarta terdiri atas Denny Sakrie (pengamat musik),Ariyo Wahab (penyanyi,Rya Karina (Hard Rock FM Jakarta) dan Andre O Sumual (Majalah Trax Indonesia). Untuka

Untuk penyelenggaraan di tahun 2014 ini Hard Rock Rising telah menyiapkan perhelatan puncak bertempat di Piazza Del Popolo yang terdapat di Roma,Italia.Para pemenang lomba band ini akan tampil dihadapan sekitar 40 ribu penonton, dan sudah pasti merupakan pengalaman tak terlupakan sepanjang zaman. Ajang yang menguak peluang anak band main di mata internasional ini didukung oleh 82 Hard Rock Cafe yang tersebar di seluruh dunia termasuk Jakarta,Indonesia tentunya.

Dari Hard Rock Cafe Jakarta event Hard Rock Rising The Global Battle of Bands yang mulai dilakukan sejak tahun 2011 ini telah menetaskan band-band yang sempat bermain unjuk kemampuan di mata dunia internasional yaitu Gugun Blues Shelter (tahun 2011) serta FOS (tahun 2012).Di tahun 2013 lalu Sandhy Sondoro tercatat keluar sebagai pemenangnya, namun urung di kirim ke luar negeri.

Untuk tahun 2014 ini saya bersama Ariyo Wahab (Vokalis FOS),Andre O Sumual (majalah TRAX) danm Rya Karina (HardRock Cafe Jakarta) d