Archive for the ‘Musik Indonesia’ Category

Jelas merasa turut berbangga hati lantaran .3 album Indonesia  sekitar 4 tahun silam masuk dalam daftar “AllMusic’s Favorite World Compilations of 2010″

Ketiga album itu adalah “To The So Called Guilties” (Koes Bersaudara).”Dheg Dheg Plas” (Koes Plus) dan “Dara Puspita” (Dara Puspita).

Saya dan David Tarigan bersama bassist Koes Plus Yok Koeswoyo tahun 2009 (Foto Denny Sakrie)

Saya dan David Tarigan bersama bassist Koes Plus Yok Koeswoyo tahun 2009 (Foto Denny Sakrie)

Turut bangga juga,karena saya ikut dalam tim riset rilis ulang album tersebut yang digagas oleh Alan Bishop,pemilik label Sublime Frequencies Record yang berada di Seattle,Amerika Serikat.

Tahun 2009 silam Alan Bishop mengajak saya dan David Tarigan untuk merilis ulang ketiga album yang menjadi landamark musik pop Indonesia di era 60-an itu.Kami bertiga lalu mendatangi satu persatu para pemusik tersebut antara lain Yon Koeswoyo,Yok Koeswoyo hingga Titi Hamzah mewakili Dara Puspita.

Alan Bishop dan Yon Koeswoyo di tahun 2009 (Foto Denny Sakrie)

Alan Bishop dan Yon Koeswoyo di tahun 2009 (Foto Denny Sakrie)

Yang bikin kita miris,ternyata upaya apresiasi seperti ini justeru datang dari orang bukan Indonesia dalam hal ini adalah Alan Bishop.Dan media yang mengapresiasi juga bukan dari media Indonesia.Sungguh sangat ironis.

Dan inilah petikan dari “AllMusic’s Favorite World Compilations of 2010”

 

The AllMusic editors are recapping the year in recordings with well over a dozen posts in which they present their favorites within specific genres and styles. Right now, on the AllMusic Blog, they provide a list of their favorite compilations of international music. Thanks to labels who spared no effort or expense digging up the amazing music that was circling the globe years ago, it was a really exciting year for people who wanted to check out stuff outside the pop/rock mainstream. Check the album pages linked in each post for reviews and samples, and make sure you also check AllMusic Loves 2010 — the editors’ personal lists of albums and tracks — as well as the forthcoming overall feature on new albums and classical releases.

Reissue album debut Koes Plus di tahun 1969 "Dheg Dheg Plas" yang (Melody /Dimita) (Foto Denny Sakrie)

Reissue album debut Koes Plus di tahun 1969 “Dheg Dheg Plas” yang (Melody /Dimita) (Foto Denny Sakrie)

Reissue album Koes Bersaudara "To The So Called The Guilties" (1967) (Foto Denny Sakrie)

Reissue album Koes Bersaudara “To The So Called The Guilties” (1967) (Foto Denny Sakrie)

Dara Puspita – Dara Puspita 1966-1968

Koes Bersaudara – Koes Bersaudara 1967: To the So Called “the Guilties”

Koes Plus – Dheng Dheng Plas/Koes Plus, Vol. 2

Anibal Velasquez y Su Conjunto – Mambo Loco

MST – Angola Soundtrack: The Unique Sound Of Luanda 1968-1976

VA – Afro-Beat Airways: West African Shock Waves (Ghana & Togo 1972-1978)

VA – Brazilian Guitar Fuzz Bananas: Tropicalia Psychedelic Masterpieces 1967-1976

V/A – Dengue Fever Presents: Electric Cambodia

VA – Lagos Disco Inferno

VA – Next Stop… Soweto, Vols. 1-3

VA – Nigeria Afrobeat Special: The New Explosive Sound in 1970s Nigeria

VA – Palenque Palenque: Champeta Criolla & Afro Roots in Colombia 1975-91

V/A – Pomegranates – Persian Pop, Funk, Folk, and Psych Of The 60s & 70s

V/A – Sound of Siam: Leftfield Luk Thung, Jazz & Molam In Thailand 1964-1975

VA – The World Ends: Afro Rock & Psychedelia in 1970s Nigeria

Ini adalah kelompoknya Sawung Jabo……..Genggong.”Genggong adalah kelompok lintas bahasa,lintas bangsa” ujar Sawung Jabo tentang Genggong yang terdiri atas Sawung Jabo,Ron Reevees,Kim Sanders,dan Reza Rachman.
Karena Genggong ,para anggotanya justeru terdiri dari para pemusik asal berbagai negara,seperti Indonesia, Australia, Turki, dan Bulgaria.

Kelompok Genggong

Kelompok Genggong

Genggong adalah grup kesekian dari pengembaraan Johan,nama asli Sawung Jabo,sejak Sirkus Barrock,Kantata Takwa,Swami,Dalbo dan entah apalagi.Almarhum Rendra yang membernya nama panggung Sawung.Rendra pula yang memberi nama Areng untuk Areng Widodo.
Genggong memang seperti pertemuan arus Barat dan Timur.Perangkat musik Barat teronggok seperti gitar, perkusi, drum, flute, saksofon, dan sebuah bagpipe yang melahirkan bunyi-bunyi nada mirip synclavier-instrumen musik khas Skotlandia siap untuk digaungkan bersanding dengan tabuh tabuhan perangkat tradisional Indonesia .
Di Genggong Jabo menyusupkan anasir humor yang bikin geli.
Semisal, sederet lagu yang dilantunkan Jabo seperti Garuk-garuk Sampai Ngantuk, Kontal-kantil Kentul, Sweet Kambing Guling, dan tak ketinggalan Tut-tat-tit-tut. Sebuah kenorakan yang kerap pula disuguhkan Frank Zappa.Ujung ujungnya memang menghibur namun juga mengendapkan sebuah renungan sebetulnya.
Genggong ditetaskan di Sidney,Australia.Genggong sebuah kelompok musik yang oleh Jabo selalu diartikan sebagai grup pemusik dengan tagline: Not Just Music.

Album Genggong yang dirilis Musica Studios

Album Genggong yang dirilis Musica Studios

“Main musik, itu jelas.Itu pasti.Tetapi, bagi GengGong, itu hanya merupakan satu fungsi saja. Lainnya adalah keinginan bersama untuk bisa mengembangkan musik tradisi-baik itu Barat, Aborigin, serta tentu saja Indonesia dan itu bagi saya berarti musik gamelan,” papar Sawung Jabo.
Terbentuk awal tahun 1999 di Sidney, GengGong lahir atas prakasa Jabo yang ingin mengumpulkan kembali sejumlah musisi Indonesia yang-katanya-suka “berkeliaran” tanpa arah di Australia khususnya di Sidney. Sejak permulaan, kata Jabo, GengGong sudah dikonsep sebagai sebuah grup terbuka yang mau menerima partisipasi para pemusik Barat. “Itulah sebabnya, sejumlah musisi Australia lalu bergabung bersama kami,” jelasnya.

Kini, setelah hampir dua tahun berkiprah di blantika musik Australia, GengGong dimotori Jabo pada gitar, perkusi, bedug, bonang, dan sebagai lead vocalist, Reza Achman (drum, perkusi, gendang Batak, dan vokal), Kim Sanders yang berdarah campuran Turki-Bulgaria (bagpipe, flute, saksofon), Ron Reeves (gendang Sunda, alat tiup Aborigin, vokal, dan perkusi), dan tak ketinggalan Monica Willy (penari Topeng dan vokal).

Cakram padat Genggong

Cakram padat Genggong

Lho kok ada penari segala ?
“Itulah yang dimaksud dengan Not Just Music.Gak hanya musik sejak awal kami sudah mengatakan, GengGong tak sekadar main musik alias not just music. Jadi, sekali naik pentas di panggung, kami bisa main musik, jejogedan nari, dan melucu,” jtukas Jabo tangkasi. Uniknyak, untuk urusan penggrarapan aransemen-semua anggota grup GengGong ini mengerjakan hal itu secara bersama-sama. Ada kebersamaan disitu tampaknya.
Menurut Jabo, sambutan publik Australia terhadap kehadiran GengGong cukup melegakan. Pernah, misalnya, GengGong diundang tampil di forum Wolrd Music Festival di New South Wales.
“Reaksi penonton luar biasa, karena di tengah permainan kami mereka nekat naik ke pentas untuk berjoged bersama kami. Lebih jauh, di antara mereka malah ada yang mulai menitikkan air mata karena tersentuh oleh musik GengGong,” tutur Jabo bangga.
Memempelaikan musik gamelan dan instrumen Barat. Inilah yang kini tengah dikerjakan grup musik Australia bernama GengGong pimpinan Sawung Jabo asli Indonesia.
Unsur paling menonjol pada musik GengGong adalah beat-beat sederhana dari musik tradisi Indonesia-dalam hal ini gamelan-yang kemudian dipadu dengan unsur-unsur musik tradisi lain dari belahan dunia di luar Indonesia.
“Genggong mengambil, unsur-unsur musik tradisi Turki, Bulgaria, dan Barat yang berarti Australia serta apa saja yang bisa kami lebur untuk kemudian dibuat komposisi-komposisi baru tanpa harus memaksakan, seperti layaknya pergaulan antar manusia pada galibnya,” jelas Sawung Jabo.

Saat Vina Merekam Citra Biru

Posted: Desember 14, 2013 in Kisah, Musik Indonesia

Tahun 1979 Vina Sastaviyana Panduwinata pulang kampung setelah bertahun-tahun bermukim di Jerman Barat.Kerabat dekat maupun keluarganya meminta agar Vina lebih baik menjalani karir musik di Indonesia saja. Pemusik Mogi Darusman bahkan membujuk agar Vina lebih bagus berkiprah di Indonesia saja.Vina yang telah melahirkan singles Java/Singles Bar pada label RCA Jerman Barat akhirnya luluh,dan pulang ke Jakarta Indonesia.

Vina Panduwinata saat rekaman album Citra Biru di Golden Hand Studio (Dokumentasi Denny Sakrie)

Vina Panduwinata saat rekaman album Citra Biru di Golden Hand Studio (Dokumentasi Denny Sakrie)

Suaranya yang khas,kenes,sexy dan manja menjadi daya tarik yang memikat banyak kalangan di Jakarta pada awal 80an termasuk Jackson Arief pendiri dan pemilik label Jackson Records and Tapes yang berdomisili di Pluit Jakarta itu.Jackson Arief memiliki persyaratan utama untuk mengontrak penyanyi atau band dibawah label Jacksons Record.”Mereka harus memiliki suara yang unik dan berbeda dari penyanyi yang telah ada.Karakternya harus kuat” kurang lebih demikianlah yang dipaparkan Jackson Arief.

Maka lihatlah para penyanyi yang dikontrak pada saat Jackson Record pertamakali berdiri pada tahun 1977 antara lain adalah Farid Hardja bersama Bani Adam hingga Deddy Stanzah bersama Silver Train.Keduanya memiliki warna suara yang unik dan berkarakter.

Vina Panduwinata dan bassist serta komposer Rudy Gagola (Dok.Denny Sakrie)

Vina Panduwinata dan bassist serta komposer Rudy Gagola (Dok.Denny Sakrie)

Akhirnya Vina Panduwinata pun dikontrak oleh Jackson Record & Tapes.Suara Vina yang lentur,sexy dan manja ini memang dekat dengan musik bernuansa R&B kontemporer.Musik pop yang berkecemndrungan seperti itulah yang kemudian menyarungi nuansa album debut Vina Panduwinata bertajuk “Citra Biru” itu.

Carry Poetirai,Chris manuel Manusama dan Morgan Sigarlaki sebagai penyanyi latar Vina Panduwinata (Dok.Denny Sakrie)

Carry Poetirai,Chris manuel Manusama dan Morgan Sigarlaki sebagai penyanyi latar Vina Panduwinata (Dok.Denny Sakrie)

Sederet pemusik muda berbakat ditunjuk untuk mengiringi vokal Vina Panduwinata yang khas.Mereka adalah Billy Budiardjo,Rudy Gagola,Dodo Zakaria,Chris Manuel Manusama,Jose,Morgan Sigarlaki dan Carry Poetirai. Adapun lagu-lagu yang dinyanyikan Vina ditulis oleh Billy J Budiardjo,Rudy GagolaDarwin,Dodo Zakaria serta dua komposer alumni Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors James F Sundah yang dikenal lewat lagu Lilin Lilin Kecil serta Chris Manuel Manusama yang dikenal lewat lagu Kidung.

Billy Budiardjo dan Dodo Zakaria (Dok.Denny Sakrie)

Billy Budiardjo dan Dodo Zakaria (Dok.Denny Sakrie)

Album ini berhasil mencuatkan lagu Citra Biru karya James F Sundah yang saat itu mulai kerap di putar diberbagai radio swasta .Bahkan setelah  album perdana ini dirilis  Vina Panduwinata  memperoleh penghargaan sebagai  “Penyanyi Wanita Terbaik” dari hasil polling pembaca majalah remaja Gadis.

Muka A

  1. “Mawar Merah (Rudy Gagola) 
  2. “Citra Biru”(James F Sundah)
  3. “Aku Cinta Kau” (James F Sundah
  4. “Bahagia” (Rudy Gagola)
  5. “Rindu” (Rudy Gagola)

Muka  B

  1. “Khusuk” (Chris M Manusama)
  2. “Denny” (Rudy Gagola)
  3. “Jejaka Sendu” (Billy J Budiardjo/Amir ) 
  4. “Murka” (Rudy Gagola)
  5. “Salam Kami Dalam Lagu” (Chris M Manusama)

Di paruh era 80an mencuat tren baru dalam khazanah musik Indonesia yaitu merebaknya teknologi MIDI yang merupakan singkatan dari Musical Instruments Digital Interface.Teknologi yang diterapkan dalam instrumen musik berbasis digital ini bisa dihubungkan satu dengan yang lainnya melalui perangkat komputer.

SuperDigi

SuperDigi

Teknologi MIDI ini mulai distandarisasikan pada tahun 1983.Teknologi MIDI dalam bermain musik ini menjadi isu hangat pada sepanjang dasawarsa 80an.Fariz RM adalah salah satu pemusik Indonesia yang cepat menanggapi kehadiran teknologi MIDI ini.Apalagi sejak tahun 1986 Fariz RM mulai tertarik untuk lebih banyak memainkan musik dalam sejumlah rekaman-rekaman albumnya dengan menggunakan instrumen musik digital yang programmable.

Super Digi dalam pentas udara terbuka, dari kiri Dandung Sandewa,Eet Sjahranie,Fariz RM dan Sonny Subowo

Super Digi dalam pentas udara terbuka, dari kiri Dandung Sandewa,Eet Sjahranie,Fariz RM dan Sonny Subowo

Beberapa keistimewaan dari teknologi MIDI adalah penerapan software sequencer yang sangat membantu seorang pemusik menghasilkan musik secara akurat dan paripurna.

Super Digi terdiri atas Eet Sjahranie,Fariz RM dan Sonny Subowo

Super Digi terdiri atas Eet Sjahranie,Fariz RM dan Sonny Subowo

Piranti-piranti seperti looping,quantization,randomization dan transposition inilah yang menjadi elemen basis teknologi MIDI.

SuperDigi diatas pentas pertunjukan

SuperDigi diatas pentas pertunjukan

Sejak album solo “Living In Western World” (1987) Fariz RM mulai cenderung menggunakan instrumen musik digital dalam bentuk keyboard programming. Di album yang menghasilkan hits “Barcelona” ini Fariz RM mengendalikan semua perangkat keyboard dalam membuat arransemen dan rhythm section.Fariz hanya ditemani Eet Sjahranie yang memainkan gitar akustik dan elektrik.

Superdigi tampil live di stadion olahraga

Superdigi tampil live di stadion olahraga

Album yang dirilis Grammy Record  inilah yang bisa dianggap cikal bakal terbentuknya kelompok musik yang diberi nama Super Digi, dan merupakan akronim dari Suara Perangkat Digital.Selain gitaris Eet Sjahranie,Fariz RM juga didukung pemain keyboard dan juga programmer bernama Sonny Subowo.Ketiga orang inilah yang kemudian mendeklarasikan diri sebagai Super Digi.Dalam kaset kompilasi Indonesia’s Top 10’89, Superdigi tampil bersama Malyda lewat lagu “Kencan” serta bersama penyanyi asal Malaysia Fairuz dalam lagu “Night In Barcelona“.Superdigi di kaset ini terdiri atas Fariz RM (keyboard),Dandung Sadewa (keyboard,vokal),Eet Sjahranie (gitar) dan Sonny Subowo (keyboard programming).

Eet Sjahranie dan Fariz RM

Eet Sjahranie dan Fariz RM

Album-album yang mereka hasilkan antara lain album solo Fariz RM “Cover Ten” yang dirilis tahun 1989 maupun “Fashionova” (1990) dengan hits Susie Bhelel dan Sungguh .Superdigi juga merilis album solo Nourma Yunita “Malam Dansa” (1990) serta album solo Malyda bertajuk “Awas”.

Di awal era 90an Superdigi termasuk padat jadwal manggungnya termasuk paling produktif dalam menghasilkan rekaman baik dalam bentuk album maupun album kompilasi yang mengandalkan singles.

Saya beruntung sempat menyaksikan salah satu konser Superdigi yang berlangsung di Gedung Kemanunggalan ABRI Rakyat Ujung Pandang pada sekitar tahun 1990.Saat itu Superdigi didukung oleh Fariz RM (vokal,keyboard),Eet Sjahranie (gitar),Sonny Subowo (programming) dan Budi Bhidun (keyboard). Superdigi tampil tanpa pemain drum dan juga pemain bass.Di pentas terlihat 3 pemusik yang masing-masing mencangklong keytar Yamaha KX 1 dan Roland.

Struktur dan karakter  musik yang dimainkan Super Digi memang tetap berada di zona musik pop, namun tetap secara lentur bisa mengarah ke R&B,funk bahkan rock sekalipun.Meskipun nuansa rock yang dihasilkan dari bunyi gitar elektrik yang dimainkan Eet Sjahranie tidak terlalu dominan, namun distorsi gitar khas Eet ini memberikan aksentuasi tersendiri dalam tatanan musik SuperDigi.

Setiap Superdigi tiba di sebuah kota untuk  menggelar konser, hal pertama yang menjadi titik fokus mereka adalah melakukan setting terhadap perangkat keyboard digital myang menjadi tulang pungung pertunjukan mereka.”Jika setting nya meleset,maka program bisa kacau balau berantakan” ujar Fariz RM menguraikan pengalamannya saat membentuk kelompok Super Digi ini.

Eet Sjahranie dan Fariz RM tengah melakukan setting equipment sebelum konser berlangsung

Eet Sjahranie dan Fariz RM tengah melakukan setting equipment sebelum konser berlangsung

Pemusik pemusik yang banyak mengandalkan keyboard digital seperti Thomas Dolby dan Howard Jones merupakan inspirasi dari kelompok Superdigi ini.Sayang Super Digi tak berusia panjang terutama ketika Eet Sjahranie lebih memilih ingin menjadi gitaris rock dengan bergabung bersama God Bless menggantikan posisi gitaris Ian Antono serta membentuk kelompok EdanE di sekitar tahun 1992. Fariz RM sendiri lalu membentuk Fariz RM Group dan mulai meninggalkan konsep band berbasis teknologi MIDI.

Slank Nggak Ada Matinya !

Posted: November 22, 2013 in Kisah, Musik Indonesia, profil

Dulu di era 70an, jika ditanya tentang siapakah band yang sangat dikenal oleh rakyat Indonesia ? , setidaknya 80 persen dari masyarakat Indonesia mengetahui dan mampu menyanyikan lagu-lagunya .Maka jawaban yang pasti adalah Koes Plus.Mulai dari akar rumput hingga menengah keatas mengetahui keberadaan mereka.Namun agaknya,kini kita harus menambah satu lagi band seperti yang saya sebut tadi, yaitu Slank yang sejak awal mulai menebar virus musiknya kemana-mana. Musik Slank memang bagai virus yang tak terhindarkan dan tak ada yang mampu menghalangi, mulai menembus ke sendi-sendi kehidupan.

Slank era 90an

Slank era 90an

Bahkan,diluar dugaan,Slank berhasil membentuk “rakyat” baru yang kemudian dikenal sebagai Slankers.Dalam sejarah industri musik di negeri ini, mungkin baru Slank, kelompok musik yang dianggap berhasil menghimpun jutaan penggemar fanatik dalam fanbase yang tertata dibawah panji Slankers. Band-band sebelum Slank memang memiliki banyak penggemar juga tapi tampaknya belum ada kesadaran untuk menghimpun diri secara lugas seperti Slankers.Jelas ini merupakan sebuah fenomena musik yang menarik tentunya.Mereka tak lagi sekedar mengagumi atau menempatkan Slank sebagai sosok idola, tapi bahkan jauh melesat melebihi batas antara penggemar dan idolanya.Slank dianggap sebagai panutan jalan hidup, semacam way of life yang diimani kredo dan petuah musikalnya secara takzim.

Slank sekarang

Slank sekarang

Slank akhirnya tumbuh sebagai komunal,sebagai wadah dari perjuangan dan penyatuan sikap hidup terutama pada kalangan working class,pada kalangan kaum marjinal yang terpinggirkan.Dalam sudut pandang mereka Slank adalah sahabat seperjuangan yang memperjuangkan atau menyuarakan nasib atau uneg-uneg mereka.Pendek kata,bagi para Slankers, Slank bukan hanya sebagai band rock yang mengisi ruang hati mereka saja.Slank dimata mereka adalah isme atau mazhab yang mereka taati petuah-petuahnya.

Slank formasi 13

Slank formasi 13

Dengan rakyat Slank yang jumlahnya jutaan itulah,mungkin yang menyebabkan banyak kalangan politik mulai membidik Slank sebagai ikon politik yang menurut pikiran dan perkiraan mereka bakal mampu “ menyumbangkan” banyak suara untuk kepentingan politik.Namun,untunglah Slank tak bergeming sedikitpun.Mereka tak tertarik untuk menjalin kemesraan terselubung dengan para pelaku dunia politik.Slank tetap merupakan kelompok musik dengan fanbase terbesar serta kesadaran politik yang tinggi tanpa harus ikut berkubang dalam dunia politik.Slank tetap menebar virus musik.Seperti tagline Slank : Selama Republik Ini Berdiri.Slank Gak Bakal Mati.Titik.
Dan inilah komentar mereka tentang Slank :

Glenn Fredly (pemusik) :
Slank ada dimana-mana mereka lebih dari sebuah band rock n’roll, mereka adalah gaya hidup generasi menolak lupa…..
Erros Djarot (politikus,seniman) :
Mengapa Slank tetap bersemayam di hati penggemarnya ? Karena Slank hadir dengan kepribadian musik yang mampu masuk dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang menghidupinya.Karenanya Slank dapat tumbuh dan mengakar.
Aldo Sianturi (mantan Ketua Slankers Jakarta tahun 1993) :
Slank adalah bola api yang bergulir sesuka hati. Dia mampu membakar dan menghibur dengan pijar api yang menggelora. Slank adalah Slank yang tidak pernah mau diatur dan direkayasa tetapi lentur dalam beradaptasi. Sejak awal, karya cipta yang digulirkan Slank berhasil membentuk anak tangga yang tiada berujung.
Setiawan Djody (Maecenas) :
Aku mendengar,melihat dan memahami musik Slank.Mungkin boleh saja kalau aku disebut Slanker juga he he he it’s fine for me .Melihat sosok Kaka mengingatkan kenangan saya pada Iggy Pop. Slank memunculkan ekpresionisme serta sikap berontak.Slank maju terus berkarya melahirkan produk kebudayaan lewat musik.
Sudjiwotedjo (Seniman,Budayawan) :
Slank itu disegani i …waktu saya tur ngabuburit bareng GIGI di Cirebon, massa ricuh, Armand Maulana lalu bilang, nanti kalian kubilang ke Slank lho”…langsung mereka tertib seketika ..Slank itu PeDe tapi tidak arogan. Terakhir aku seruang dengan mereka dan Bunda Ipet September bulan lalu waktu ada acara di Teater Tanah Air.Mereka ramah….
Indra Yudhistira (sutradara dan praktisi TV) :
Kalau ada virus yang efeknya membuat orang menjadi senasib sepenanggungan, virus itu bernama Slank. Ia bukan cuma musik tapi cara berpikir anak muda Indonesia

Akmal N Basral (sastrawan) :

30 tahun Slank mengisi semesta musik Indonesia adalah 30 tahun yang membuat telinga dan mata penduduk Indonesia terbuka bahwa generasi muda tidak cukup hanya dijejali pelajaran formal di sekolah. Mereka bisa mendapatkan inti nilai-nilai persaudaraan dalam kemanusiaan, kepedulian pada lingkungan, menjauhi sifat munafik dalam politik, selain romansa masa remaja, dari syair-syair Slank yang ditulis tanpa beban teori selain ungkapan hati yang murni. Itu sebabnya mengapa Slank terus bertahan menjadi salah satu dekorator terindah salam cakrawala musik kita. Selamat melangkah ke-30 tahun kedua bagi Slank.”
Peter F Gontha (Pengusaha) :
Waktu saya tampilkan Slank di Java Jazz tahun 2009 banyak yang kaget dan bilang gak salah tuh.Tapi Slank akhirnya tampil memikat,apalagi saya mengajak pemusik jazz Michael Paulo,Tom Luer,Jaques Voyemant dan Tony Monaco untuk berkolaborasi dengan Slank.Dan, ternyata masyarakat terhibur sekali dengan kehadiran Slank.

Budi Schwarzkrone (Insan Film dan TV) :

Sebuah group band bertahan 3 dekade…luar biasa, bisa melembagakan komunitas penggemar yang fanatik dan kreatif..fans yg dikenal dengan sebutan ‘slankers’ …dari anak2 sampai remaja..sangat luar biasa. The rolling stone adalah awal ‘mentor’ bimbim sebelum membentuk slank, bila stone memiliki identitas grafiti bibir dower dan lidah terjulur maka slanks memiliki identitas grafiti lambang kupu2 yg membetuk huruf slank. Perlahan slank membentuk dan menemukan musik identitasnya sendiri..album pertama Suit suit…hehehe..langsung jadi ‘enormous hit’..sangat luar biasa, popularitas melambung, pemasukan berlimpah. Dalam perjalanan slank, sebagaimana kelompok musik remaja pun tidak lepas dari masalah ‘defections’ berseberangan pendapat antar personilnya, terutama dalam hal creative decisions menyangkut pilihan kreatitifitas. Sekalipun dalam warna musik Slank sudah lepas dari the rolling stone selaku mentor idola awal perjalanan karir, namun slank terpaku pada pakem gaya hidup ‘extra ordinary’ idolanya.. termasuk mengkonsumsi suplemen ‘pendongkrak’ kreatifitas dan energi ketika beraksi di panggung. Dalam hal ini peran bunda Iffet lah yang sangat luar biasa, bunda kandung bimbim ini bisa diterima sebagai ‘ibunda’ sekaligus manajer bagi seluruh personil slank..boleh jadi bunda iffet lah ‘perekat’ slank hingga bisa bertahan selama 30 tahun . selama 3 dekade peran bunda iffet bukan sekedar manager atau chaveron pengantar tapi betul2 jadi bagian slank. Pengalaman pahit, ketika menghadapi kenyataan anak dan keponakan terjerat narkoba. tidak ada seorang orangtua pun di dunia yang tak terpukul melihat anaknya menjadi pemakai narkoba. Apalagi ia seorang ibu. Jenisnya putau lagi, yang biasanya berujung maut bagi para pemakainya. Menyerahkah melihat kenyataan ini? Bunda Iffet malah menghadapinya dengan sabar, sampai akhirnya anak dan keponakannya itu terbebas dari jerat narkoba yang mematikan ini. Selamat ulang tahun..selamat berkarya..kembali meluncurkan album2 ‘enormous hit’ lainnya.

Firman (Slankers Palembang) :
Yang gua kenal, Slank mempunyai solidaritas tinggi dibanding band-band yang lain.Semua orang juga tau lagunya Slank selalu merakyat dengan selalu merakyat dengan apa adanya.
Dahlan Iskan (Menteri BUMN) :
Slank berumur panjang adalah karakter Slank yang kuat, Jadi kalau Slank nggak ada matinya itu saya terjemahkan dengan nggak ada matinya terhadap relevansi. Slank tetap relevan karena bisa menyesuaikan dari lagu-lagu perlawanan terhadap keadaan sosial yang berat menjadi lagu-lagu tentang perlawanan kepada yang lebih universal.
Addie MS (pemusik) :
Banyak grup musik yang yang terkenal karena karya-karyanya. Tapi Slank menjadi besar dan bertahan karena karya dan sikapnya yang justeru menginspirasi.
Eggy Melqiansyah (Slankers Indramayu) :
Menurutku Slank bukan sekedar band biasa tapi sangat Luar biasa.Lewat karya-karyanya yang mengangkat soal kehidupan sehari-hari baik lingkungan,politk dan lainnya.Slank juga bias menyatukan para pemuda se Indonesia untuk selalu PLUR.

Ekky Imanjaya (dosen dan peneliti budaya pop)
Tidak hanya bertahan hidup, Slank melakukan lebih dari itu, mengembangkan gaya Sembari mempertahankan semangat independen dan lirik yang selengean dan apa adanya namun kritis dan menghujam. Yang tak kalah menarik adalah bagaimana Slank membentuk sebuah subkultur yang kuat, unik, dan aktif: para penggemarnya.

Naratama (VOA TV Program Director) :

“If Rolling stones plays British rock genre, Slank also has its own Indonesian rock genre. They both have local touch, that’s why their music never dies”.
Mahfud MD (mantan Ketua MK) :
Saya lihat Slank sekarang rasa nasionalismenya sudah tinggi. Dulu lagunya Slank untuk kritik sosial sangat tinggi, birokrasi juga disentuh, lagunya Slank yang kritis juga dicekal.Saya berharap Slank akan tetap konsisten dengan musiknya.
Ade (Slankers Jambi) :
Slank itu rumahku ,tempatku bermain,curhat,senang susah,tempat aku berbagi.Setiap lagu-lagu Slank mengandung arti dalam kehidupan sehari-hari kita.
JJ Rizal ( Sejarawan) :
Slank bukan hanya membuat musik, tetapi dokumentasi sosial-budaya sezaman dengan sikap keberpihakan yang nyata.

Trio Lesmana Likumahuwa Winarta di Blue Note Tokyo Jepang 28 Desember 2011

“Just had a great show @bluenotetokyo.. Full house n what a great audience.”
Itulah kalimat yang ditulis oleh pemusik jazz Indra Lesmana di akun twitter-nya pada Rabu 28 Desember 2011, jam 19.20 WIB.

Indra Lesmana (keyboard) bersama trio jazz LLW yang terdiri atas, Barry Likumahuwa (bass) dan Sandy Winarta (drums), menutup catatan musik Indonesia 2011 dengan bermain jazz di Blue Note Tokyo Jepang. Trio jazz ini diam-diam, tanpa gembar-gembor diekspos media, melakukan terobosan secara internasional.

Pada tanggal 25 April 2011 LLW merilis album “Love Life Wisdom” secara digital. Tanpa dinyana, publik merespon pemunculan trio ini dengan men-download album jazz tersebut. Di minggu pertama pasca rilis-nya, album itu menduduki peringkat 42 sebagai new entry album dalam Most Download Album Chart. Diminggu kedua, mereka memang sempat turun ke peringkat 50, tapi lalu melejit ke peringkat 18 dari 100 album yang dipantau dalam perolehan download.

Ini merupakan prestasi gemilang era musik digital. Keterpurukan musik Indonesia dengan terkuburnya penjualan fisik, pada akhirnya memiliki peluang lain dalam sebuah distribusi alternatif yang futuristik. Sekaligus membuktikan bahwa industri musik bisa menjauh dari pintu kiamat.

Lewat akun twitternya tanggal 13 Mei lalu Indra Lesmana menulis quote yang menggelitik dan provoke:

Istilah “Go-International” sudah kadaluarsa sejak adanya Internet”.

Dewa penyelamat bernama ring back tones

Dan industri musik Indonesia pun tertolong dari jurang kehancuran ketika pertengahan era 2000-an muncul dewa penyelamat bernama ring back tones. Beberapa label yang beringsut mati suri akhirnya seolah mendapat suntikan darah segar dengan merebaknya tren RBT yang sebetulnya hanyalah sebuah gimmick marketing belaka.

Sayangnya revolusi musik dalam era digital ini di Indonesia hanya menghasilkan bisnis yang menggiurkan pada RBT saja. Selebihnya hanyalah download gratisan dari berbagai situs yang tidak jelas penerapan copy right-nya alias situs download music secara illegal.
Masyarakat Indonesia, apa boleh buat, lebih menyukai hal-hal yang gratis dan cenderung lebih berminat mendengarkan musik melalui CD bajakan maupun MP3 illegal yang dijajakan secara bebas dimana-mana.

Berbeda dengan Amerika Serikat atau Negara Negara maju lainnya yang telah melakukan revolusi musik digital, semisal teknologi Cloud yang menjadi isu hangat.

Teknologi Cloud itu pada akhirnya memunculkan nama nama seperti Spotify, iTunes Match,Google Music,MOG hingga Amazon Cloud.

Di Indonesia sendiri,industri musiknya tiba-tiba limbung ketika RBT dibekukan penggunaannya pada tanggal 18 Oktober sebagai reaksi pemerintah terhadap penyalahgunaan pengaktivasian SMS Premium serta kasus RBT yang tak bias unreg.

Akhirnya, jumlah pengaktivasian RBT menyusut drastis setelah terjadinya reset ulang. Menurut data dari ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia), penggunaan RBT menukik tajam hingga 90 persen.
Di sisi lain pemanfaatan media sosial seperti kanal Youtube maupun Twitter termasuk yang lebih banyak memberikan peluang kepada siapa saja untuk melambungkan diri dalam dunia hiburan terutama musik.

YouTube

Kanal Youtube sendiri di tahun 2011 banyak melejitkan bintang baru secara instan. Seperti duo lipsynch Shinta Jojo, Norman Kamaru hingga artis artis dadakan lainnya seperti Bona Paputungan dan Udin Sedunia serta Ayu Tingting. Promosi lewat Youtube ternyata cukup ampuh untuk mengkatrol popularitas siapa saja yang ingin menerobos dunia hiburan yang sarat kemilau.

Ya! Walaupun kenyataannya artis-artis instan ini terbukti hanya berhenti sebagai sensasi belaka. Sepak terjang mereka pun cepat dilupakan orang, karena memang tak diikuti dengan planning secara managerial yang terarah. Padahal mereka telah mengantongi peluang menembus industri hiburan, tapi karena tak adanya perencanaan jangka panjang secara professional, akhirnya karir mereka pun terlupakan khalayak dalam sekejap.

Tren Musik memuakkan

Industri musik mainstream pun terlihat hanya mengandalkan metode aji mumpung.

Ketika sebuah band berhasil menancapkan popularitas membawakan lagu-lagu pop bercengkok Melayu, seterusnya diikuti oleh sederet panjang band dengan epigonisme yang memuakkan dan bikin jengah.

Ini pun terjadi ketika merebak tren boyband atau girlband setelah mengkloning mentah-mentah gaya K-Pop dari Korea Selatan. Semuanya pun hanya mementingkan rating.

Lihatlah! Hampir semua TV swasta setiap pagi menjejalkan program acara musik yang senada dan sejenis. Padahal sesungguhnya, iklim musik di negeri tak sesemrawut yang ditayangkan berbagai TV swasta di negeri ini.

Keragaman musik sebenarnya masih bernafas di negeri ini,tapi tak pernah diendus atau diekspos oleh media-media mainstream karena dianggap tak memiliki rating yang bagus.

Ketika trio blues rock Gugun Blues Shelter tampil di Hyde Park London bersama band-band besar seperti Bon Jovi, banyak masyarakat kita yang tak mengetahuinya.
Ini hanya sekelumit permisalan dari banyak peristiwa di skena musik Indonesia yang tak pernah diekspos media.

Sebaliknya, justru band-band dengan keseragaman bunyi dan lagu lah yang berjaya. Kegetolan menampilkan band-band seragam ini selalu diasumsikan sebagai selera masyarakat atau selera pasar.

Menyinggung soal selera masyarakat itu adalah sesuatu yang mutlak. Tapi praktek yang ada justru penyeragaman selera.

Cutting Edge

Pemusik atau band yang kerap disekat dalam terminologi cutting edge atau non mainstream justru tak pernah terganggu dengan anjloknya pengguna aktivasi RBT. Mereka tetap manggung dan tetap rilis CD.

Bagi mereka kreativitas musik tetap berkibar bahkan (sekalipun) tanpa adanya exposure dari media-media lokal. Mereka pun cuek maju untuk melakukan silaturahmi musik secara internasional.

Banyak contoh yang bisa dipetik, ketika Superman Is Dead, Burgerkill, White Shoes and Couples Company, Endah N Rhesa, Adhitya Sofyan, Tohpati Etnomission, Gugun Blues Shelter, Bottlesmoker,LLW dan masih sederet panjang lainnya melanglang buana memainkan musik mereka. Hal tersebut adalah prestasi yang jarang atau bahkan nyaris tak diketahui khalayak luas.

Kesimpulannya adalah…

Tentunya di tahun 2012 kita selalu menginginkan adanya perubahan dengan munculnya pergeseran. Apakah kita bisa menjadikan industri musik Indonesia lebih maju dan bersinar di tahun 2012?

Dengan tekad dan komitmen yang jelas pasti bisa. Setidaknya problematika industri musik yang tercacah di negeri pasti bisa diatasi jika kita melakukannya bersama-sama dan bukan sekedar wacana mewah yang sama sekali tanpa aksi.

Selamat tahun baru 2012!
Dukung terus Musik Indonesia!