Archive for the ‘Obituari’ Category

Paul McCartney dan Ringo Starr, dua yang tersisa dari The Beatles merasa kehilangan atas berpulangnya penyanyi soul berkulit putih Joe Cocker 22 Desember 2014.Baik Paul McCartney maupun Ringo Starr mengangap Joe Cocker adalah figur yang menjadikan lagu “With A Little Help From My Friends” memiliki soul berbeda dengan yang dinyanyikan Ringo Starr pada album “Sgt Pepper’s Lonely Heart’s Club Band” (1967).

Versi yang disajikan Joe Cocker pada album yang bertajuk sama dengan lagu The Beatles itu dirilis 23 April 1969 diinterpretasikan dalam dimensi soul dan gospel yang kuat.Teknik nyanyi Joe Cocker yang dipengaruhi Ray Charles terasa begitu ekspresif, dan jangan lupa di lagu ini Jimmy Page gitaris Led Zeppelin member sentuhan yang memikat lewat petikan gitar elektriknya.Oleh Joe Cocker lagu With A Little Help From My Friend mampu keluar dari cita rasa The Beatles yang sesungguhnya.”Saya suka cara bernyanyi Joe Cocker dan menurut saya versi Cocker adalah versi yang sangat bagus dan berbeda dari The Beatles ” timpal Paul McCartney. Ringo Starr pun menulis obituari : ““Goodbye and God bless to Joe Cocker from one of his friends peace and love. R.”
Jika menyebut sosok Joe Cocker, maka nyaris setiap orang tak bisa melupakan penampilannya yang monumental dalam perhelatan budaya popular Woodstock di tahun 1969.Dengan suara paraunya yang khas serta gerakan tubuhnya yang eskpresif dan unik.Penampilan Joe Cocker membawakan With A Little Help From My Friends di ajang Woodstock dianggap sebagai penampilan rock bernilai historik.Mereka menyebut penampilan Joe Cocker bagaikan sebuah gerhana dalam kegelapan.
Joe Cocker dan The Beatles bisa disebut sebagai sebuah simbiose mutualisme.Di saat akan membuat album solonya yang kedua ,Joe minta izin pada Paul McCartney dan George Harrison untuk kembali mengcover dua komposisi dari The Beatles yaitu She Came In Through The Bathroom Window dan Something.Sebetulnya ada satu lagu The Beatles lainnya yang direkam Joe Cocker pada sesi rekaman tersebut yaitu Let It Be,namun lagu ini baru dimasukkan sebagai bonus track pada saat album tersebut dirilis ulang dalam bentuk CD kelak.
Bahkan sutradara Julie Taymor yang membesut film musikal “Across The Universe” yang diangkat dari repertoar karya-karya The Beatles,Joe Cocker pun tampil sekejap dalam beberapa adegan film sebagai hippies sinting .
Joe Cocker dilahirkan dengan nama lengkap John Robert Cocker pada 20 Mei 1944 di Sheffield Inggris.Mulai memasuki dunia hiburan sebagai penyanyi dengan menggunakan nama panggung Vance Arnold.Joe lalu membentuk band dengan nama Vance Arnold and The Avengers.

JoeCockerChickWoodstockPeacefencecom

Saat itu Joe lebih cenderung menyanyikan lagu-lagu soul R&B dan rock and roll mulai dari Chuck Berry hingga Ray Charles di beberapa tempat minum kawasan Sheffield.Tahun 1963 band Joe Cocker ini sempat menjadi atraksi pembuka konser The Rolling Stones di Sheffield.
Di tahun 1964 Joe Cocker mulai merintis solo karir dengan merilis lagu milik The Beatles “I’ll Cry Instead” yang didukung gitaris Jimmy Page.Sayangnya langkah awal Joe Cocker ini gagal.Albumnya keok dipasaran.
Tahun 1966 Joe Cocker membentuk band baru dengan nama The Grease Band.
Tahun 1968 disaat dunia dilanda atmosfer psikedlia,Joe Cocker menandatangani kontrak rekaman dan disepanjang seperempat abad berkarir dalam dunia hiburan Joe Cocker telah merilis lebih dari 40 album.
Benang merah musik Joe Cocker adalah musik rock maupun pop yang berlumur aksentuasi bluesy yang khas.Ditunjang dengan suara yang serak dan parau,Joe Cocker kerap disebut sebagai balladeer yang ekspresif dalam menginterpretasikan lagu terutama pada lagu lagu cover seperti The Beatles ,Traffic ,The Boxtops,Leonard Cohen,Leon Russell hingga Bob Dylan .

COCKER
Memasuki era 70an Joe Cocker membentuk band baru lagi bernama Mad Dog & Englishmen yang dimotori pianis dan penulis lagu Leonn Russell.Sayangnya dalam kurun waktu 1972 -1982 Joe Cocker banyak mengalami kemunduran dari sisi mental,antara lain terjebak narkotika dan alkoholik.Meskipun masih tetap melakukan tur dan rilis album seperti “I Can Stand A Little Rain” (1974),”Jamaica Say You Will (1975),Stingray (1976) maupun Luxury You Can Afford (1978),popularitas Joe Cocker kian menukik.Joe lebih banyak terjerembab dalam pelukan alkohol
Namun Joe Cocker tetap berupaya untuk kembali melakukan pembenahan dari kehidupannya yang kusut,Tahun 1982 Joe Cocker ditawari berduet dengan Jennifer Warnes menyanyikan sebuah ballad bertajuk Up Where We Belong yang menjadi soundtrackj film An Officer and Gentleman yang dibintangi actor Richard Gere dan Louis Gossett Jr.Lagu menjadi hits Billboard Hot 100 Singles di tahun 1982 dan berhasil meraih Grammy Ward untuk kategori Best Pop Performance by a Duo serta meraih Oscar dalam Academy Award Winner untuk kategori Best Original Song.
Tahun 2007 Joe Cocker menerima penghargaan OBE (Order of The British Empire) dari Kerajaan Inggris atas sumbangsihnya terhadap musik di Inggris .Joe Cocker tetap merekam album solonya.Tahun 2012 Joe merilis album bertajuk Fire It Up yang sempat mencapai peringkat ke 17 album terlaris di Inggris Raya.Meskipun mengidap penyakit kanker yang akut,Joe Cocker tetap bersemangat di panggung,tur terakhirnya yang berlangsung di beberapa kota di Eropa berakhir di Hammersmith pada Juni tahun 2014.

Joe_Cocker07
Joe Cocker,salah satu legenda Woodstock 1969 akhirnya menutup mata selama-lamanya pada 22 Desember 2014.
Sayup sayup suara Joe Cocker yang serak dan agak parau terdengar lamat-lamat namun penuh tenaga :
What would you think if I sang out of tune
Would you stand up and walk out on me?
Lend me your ears and I’ll sing you a song
And I’ll try not to sing out of key

Rudi Gagola adalah pemusik komplit.Mampu bermain drum,gitar,bass,piano.Juga menulis lagu beserta lirik yang memikat serta mengarransemen musik.Musik yang dimainkan adik Donny Fattah ini lebar mulai dari pop,rock,soul,funk,jazz hingga country sekalipun.Saat masih belia bersama Donny Fattah Gagola,Rudi membentuk band dengan nama Iyamba.

Rudi Gagola di studio Jackson Record & Tapes Pluit Jakarta (Foto Dokumentasi Denny Sakrie)

Rudi Gagola di studio Jackson Record & Tapes Pluit Jakarta (Foto Dokumentasi Denny Sakrie)

Di band keluarga ini Rudi bermain drum.Memasuki era 70an Rudi bergabung sebagai bassist The Steel,band berbasis horn section dibawah naungan Krakatau Steel.Paruh era 70an Rudi Gagola bergabung bersama Fadil Usman ,Farid Hardja,Tommy dan Harry Anggoman dalam Brotherhood.

Rudi Gagola sedang mengisi bass untuk rekaman dasar album debut Vina Panduwinata Citra Biru di tahun 1981 (Foto Dokumentasi Denny Sakrie)

Rudi Gagola sedang mengisi bass untuk rekaman dasar album debut Vina Panduwinata Citra Biru di tahun 1981 (Foto Dokumentasi Denny Sakrie)

Tahun 1976 hingga 1981 Rudi bersama sang kakak Donny Gagola membentuk proyek musik D& R yang sempat merilis 3 album.

Rudi Gagola saat menjadi Music Supervisor pada label Jackson Record & Tapes (Foto Dok.Denny Sakrie)

Rudi Gagola saat menjadi Music Supervisor pada label Jackson Record & Tapes (Foto Dok.Denny Sakrie)

Lalu di tahun 1977 hingga 1978 Rudi memperkuat Bani Adam dalam studio rekaman.Akhir tahun 1979 Rudi bersama Gideon Lj Tengker,Dodo Zakaria,Dani Mamesah dan Ricky Basuki membentuk band dengan basis horn section Drakhma dan menghasilkan 3 album.Dari tahun 1978 hingga 1985,Rudi bekerja sebagai music supervisor di Jackson Record & Tapes dan sempat mengiringi penyanyi2 yang dikontrak Jackson Record seperti Iis Soegianto,Priyo Sigit hingga Farid Hardja.Tahun 1981 saat Donny ke AS,Rudi menggantikan posisinya sebagai basis dalam formasi God Bless.(Foto dokumentasi Denny Sakrie).

Saya terhenyak pagi ini mendapat berita duka cita tentang berpulangnya Frank Yudowibowo atau kerrap dipanggil Yudo.Almarhum adalah pemusik metal yang berasal dari Semarang.Dengan logat Jawa yang medok Yudo menghubungi saya pertama kali lewat inbox Facebook.

GButo

Dengan santun dia memperkenalkan band metal yang dibentuiknya sejak tahun 1995 Grind Buto.Menurut Yudo,band metalnya mendapat respon bagus di scenew metal Internasional.Dari cara bertuturnya saya menangkap kesan lelaki berambut gondrong ini memiliki tekad dan ambisi kuat untuk membawa band metalnya menembus dunia internasional.Ada kegigihan yang nyata yang saya tangkap dalam narasi yang dituturkan Yudo.Sejak memperkenalkan diri via inbox Facebook,kami saling tukar no telpon genggam.Yudo aktif menelpon saya dan mengajak bertukar pikiran.Bahkan kami sering membuat janji untuk ketemu,terutama saat Yudo tengah berada di Jakarta, tapi entah kenapa selalu ada kendala untuk bertemu.Di saat saya punya waktu,Yudo malah gak bisa,begitu juga sebaliknya.Kekagetan saya pagi ini semakin menggedor nurani,apalagi mengetahui bahwa almarhum sebetulnya punya jadwal manggung di Jakarta pada tanggal 30 Agustus 2014.
Saya masih menyimpan ,inbox Yudo pada tanggal 11 Juli 2013 yang ditujukan pada saya untuk pertamakali pada tahun 2013 silam .Ini inbox almarhum Yudo :

Denny Sakrie Dua

Salam kenal juga
Frank Yudowibowo
11/07/2013 14:44
Frank Yudowibowo

Ya Mas..kamu band metal dari Indonesia yg telah di kenal di dunia metal scene di luar negri mas..saat ini mau introduce band kami di lokal

Ya Mas..kami band metal dari Indonesia yg telah di kenal di dunia metal scene di luar negri mas..saat ini mau introduce band kami di lokal
Denny Sakrie Dua
11/07/2013 15:22
Denny Sakrie Dua

Ini no hp saya 0818417357
Frank Yudowibowo
11/07/2013 15:24
Frank Yudowibowo

Ok Mas Denny btw saat ini kami mau recording materi album kami terbaru di Westfall Recording di New York City USA.kami lagi cari bapak angkat yg mau danai..kira2 Mas Denny ada link ga ya? ato Mas Denny jd manajer band kami saja?

Dan inilah karya-karya metal peninggalan Frank Yudiwibowo bersama bandnya Grind Buto :

DISCOGRAPHY: 2013 “Mince Core” 3 way split Cd album released at Grindfather UK

2010 “In To The HELL” -Reherseals

2009 “EVILDEMIC” -Reherseals

2007 “FRONTLINE” reherseals

2004 “Welcome To Annihilation” Released by Bloodbath Record TOKYO JAPAN

2001 Tribute To Regurgitate Released by BLP Records Checz Rep/EUROPE

2000. Santa Is Satan SPLIT Cd with Murder Corporation/Deranged ( Sweden ) Released by PSE Records Malay

1999. SPLIT 7′ with Agathocles (Belgium) Released by Uxicon Record Belgium/EUROPE

1998 GRIND BUTO “The Malevolence” Released by GB Records

1997 GRIND BUTO “Extreme Damage” Released by GB Records

1996 GRIND BUTO “In Hell Beast From”

1995 BRUTAL SADISTIC “Savage Predator” – Reherseals

 

 

Akhirul kalam,selamat jalan saudaraku Frank Yudowibowo

Jabat tanganku untuk terakhir kali

Kita berpisah di dalam liang kubur yang sama

 

Tanpa sadar saya mengingat bait awal lirik lagu “Armageddon” dari kelompok Wow yang dinyanyikan Iwan Madjid dalam album Produk Hijau yang dirilis Musica Studio tahun 1983,ketika tadi siang saya mendapat kabar bahwa sahabat saya Iwan Madjid telah berpulang kerahmatullah.Saya tercenung sejenak terutama menelusuri momen-momen terakhir bersama Iwan Madjid yang bernama lengkap Iwan Sutritjondro Madjid  dikenal sebagai anggota beberapa band bernuansa rock progresif seperti Abbhama,Wow,Cynomadeus dan Shagi.

Lirik lagu “Armageddon “ walaupun temanya bertutur tentang hancurnya peradaban sebuah bangsa karena peperangan, terasa seperti isyarat kepergian Iwan Madjid yang lahir 27 Maret 1957,.

Saya terakhir bersua dengan Iwan Madjid di kediamannya di bilangan Ciracas pada 10 Juni 2014.Saat itu saya bersama Agus dan Ridwan dari Majemuk Records bertandang menemui Iwan Madjid untuk memberikan album “Alam Raya” milik Abbhama yang dirilis ulang dalam format compact disc dan vinyl oleh Strawberry Rain (Kanada) dan Majemuk Record (Indonesia).Album yang pertamakali dirilis dalam bentuk kaset oleh Tala & Co Studio pada tahun 1979 ternyata mendapat respon yang bagus dari penikmat musik dunia.Ini terlihat jelas jika melihat berbagai review yang memuji-muji kualitas musik Abbhama band underrated Indonesia yang memiliki konsep musik cemerlang.  .\

Ketika ngobrol panjang lebar dengan Iwan Madjid terbersit kenyataan baru bahwa Iwan mulai memperlihatkan kegairahan untuk kembali menerjuni musik setelah sekian lama vacuum dari ingar bingar dunia musik.Beberapa tahun belakangan ,Iwan memang memperlihatkan perubahan dengan menekuni dunia spiritual dan religius.Saya melihat Iwan mulai sholat 5 waktu kembali.

“Gua mulai bikin lagu lagi nih.Kebanyakan lagu itu gua bikin bareng Fariz.tapi sekarang gua lebih cenderung menulis lagu dengan tempo upbeat.Yang agak bernuansa dance” tutur Iwan Madjid bulan lalu sambil memperdengarkan demo tape lagunya  yang masih belum berlirik.

“Rencananya kalo lagu-lagu sudah jadi, ada niat gua dan Fariz untuk menghidupkan lagi Wow” urainya.Wow adalah band prog-rock berbentuk trio yang dibentuk Iwan Madjid bersama Darwin B.Rachman,bassist yang juga ikut mendukung Abbhama, serta Fariz RM.

Iwan Madjid mengakui bahwa gairah musiknya tercetus saat menyimak karya-karya band progresif seperti Yes,King Crimson,Emerson ,Lake and Palmer dan Genesis.Jadi tak heran jika kita akan menemui benang merah pengaruh musik band band tadi dalam karya-karya Iwan Madjid pada Abbhama,Wow maupun Cynomadeus. Selain menggandrungi rock,Iwan pun menyukai musik klasik terutama dari karya-karya Bach hingga Debussy. Iwan yang pernah mengenyam pendidikan musik di Institut Kesenian Jakarta pada paruh era 70an terampil bermain piano hingga flute dan memiliki suara yang bening saat bernyanyi.tak sedikit review yang bisa kita baca di dunia maya yang memuji suara Iwan sebagai angelic voice.

Ketika saya memaparkan perihal kekagaman penikmat musik mancanegara terhadap materi album Alam Raya Abbhama,Iwan tergelak seolah tak percaya.”Masak sih ?” sergahnya tak percaya.

Dengan adanya respon yang bagus seperti akhirnya membuat Jason Connoy dari Strawberry Rain Record di Kanada tertarik dan berminat merilis ulang album milik Abbhama tersebut.

Abbhama adalah band yang digagas Iwan di lingkungan kampus IKJ Jalan Cikini Raya.”Saat itu saya ingin memberikan semacam wadah pelampiasan para mahasiswa IKJ jurusan musik untuk bermain musik” ungkap Iwan Madjid.

Sebelum membentuk Abbhama,Iwan Madjid sudah sering terlibat dalam penggarapan operette berbasis musik rock yang mengangkat tema-tema hikayat seperti Ramayana dan Mahabarata bersama kelompok Operette Cikini yang digagas para alumnus SMA Perguruan Cikini pada sekitar tahun 1976-1979.

Sayangnya Abbhama hanya sempat merilis satu album saja, setelah itu para personilnya berpencar entah kemana kecuali Iwan dan Darwin yang kemudian melanjutkannya dengan membentuk Wow bersama Fariz RM pada dasawarsa 80an.

Niat mereka baru terwujud pada tahun 1983 setelah bersua dengan multi-instrumentalis, Fariz RM. Iwan menganggap Fariz adalah sosok yang tepat untuk mengakomodasikan warna musik mereka. ”Kami satu selera dalam bermusik” ujar Iwan Madjid . Tak lama berselang, mereka bertiga Iwan (vokal, piano, keyboard), Darwin (bas), dan Fariz (drum) mendeklarasikan terbentuk Wow yang merilis album bertajuk Produk Hijau. Popularitas Fariz RM rasanya banyak pula membantu. Terutama ketika Wow harus berhadapan dengan khalayak. Wow tetap menghadirkan nuansa rock progresif lewat lagu-lagu seperti Pekik Merdeka, Armageddon hingga Purie Dhewayani.

Di tahun 1988, Iwan Madjid menggarap album solo bertajuk Pesta Reuni yang didukung Fariz RM (drum, keyboard), Uce Haryono (drum), Darwin B Rachman (bass, keyboard), dan Eet Syahrani (gitar). Lirik-lirik lagu di album ini terasa ringan. Cenderung ngepop. Iwan Madjid malah menyanyikan kembali lagu Asmara, yang pernah dibawakan pada album Abbhama.

Ketika menggarap album solo Iwan Madjid ini, Fariz RM, ternyata tertarik untuk bergabung lagi bersama Wow yang ditandai dengan merilis album Rasio dan Misteri. Salah satu lagu di album ini yakni ‘Lapangan Merah’ sempat menjadi hit di radio-radio Jakarta, seperti di Prambors Rasisonia. Saat itu, Wow diberi kepercayaan untuk menggarap soundtrack film remaja Lupus IV yang dibintangi Ryan Hidayat.

Sejak merilis album soundtrack Lupus IV, Wow kembali vakuum panjang. Namun, Iwan Madjid telah siap dengan sebuah band baru dengan nama Cynomadeus yang terdiri dari Iwan Madjid (keyboard), Todung Panjaitan (bas), Eet Syahrani (gitar), Fajar Satriatama (drum), dan Arry Safriadi (vokal). Kelompok yang juga berkonsep menautkan elemen musik klasik dan rock ini pun usianya tak panjang. Cynomadeus hanya merilis sebuah album saja. Fajar dan Eet lalu membentuk grup bernuansa metal bernama E dan E. Iwan Madjid masih terus berkutat di dunia musik, antara lain mendukung proyek solo mantan vokalis Cynomadeus, Ary Safriadi bertajuk Mercurius (1992).

 

Iwan Madjid sendiri juga melebarkan kegiatannya dengan membuat music score film-film layar lebar seperti “Lupus IV” (1990),”Olga dan Sepatu Roda” (1991) dan “Ojek” (1991) termasuk membuat musik tema serial sinetron “Rumah Masa Depan” di TVRI.

Tahun 2014 ini Iwan Madjid memang telah berupaya kembali ke musik, ini terlihat ketika ikut mendukung album solo Baruna,penyanyi rock yang pernah menjadi vokalis El Pamas dan Jagat .Iwan pun sangat bangga ketika album Abbhama yang masuk dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia itu dirilis secara internasional, termasuk betapa bersemangatnya Iwan untuk kembali menyentuh piano tua yang teronggok di sudut kamarnya sembari menulis lagu-lagu baru serta persiapan untuk reuni Wow bersama Fariz RM. Namun saying rencana-rencana itu tak jadi terwujud, karena Sang Khalik telah memanggilnya. Selamat Jalan Iwan  Madjid.

 

 

Kenang kenangan bersama almarhum Iwan Madjid

Kenang kenangan bersama almarhum Iwan Madjid

Saya mendengar berita berpulangnya trumpetis jazz legendaris Indonesia Karim Tess dari drummer jazz Benny Mustafa van Diest melalui satus Facebooknya yang mewartakan bahwa pemusik yang bermukim di Cibadak,Sukabumi telah pergi untuk selamanya pada hari minggu 13 Juli 2014.

Sekelebat langsung ingatan saya mengawang ke sekitar Desember 2004, ini merupakan terakhir kalinya saya bertemu dengan sosok trumpetis yang humoris dan penuh canda.Saat itu adalah sesi shooting acara kuis musik Berpacu Dalam Melodi karya Ibu Ani Sumadi yang hak siarnya dipegang Metro TV.Karim Tess, termasuk salah satu pemusik yang ikut mendukung acara kuis musik yang dipandu MC dan penyanyi bersuara emas Koes Hendratmo,bersama Ireng Maulana All Stars adalah kelompok musik yang mengawal Berpacu Dalam Melodi sejak era 80an.

Karim Tess dan Tetty Tess jadi cover majalah hiburan era 70an

Karim Tess dan Tetty Tess jadi cover majalah hiburan era 70an

Mungkin,generasi sekarang banyak yang tak mengenal kiprah musik Karim Tess yang telah bermusik sejak dasawarsa 60an.Karim berasal dari keluarga pemusik,beberapa saudara kandungnya juga ikut terlibat sebagai pemusik mulai dari Tetty Tess hingga Arie Tess. Karakter permainan Karim Tess memang mencuat,terutama saat almarhum diajak bergabung dalam band instansi bernama The Tankers. Band yang kerap tampil sebagai band pengiring dalam berbagai acara hiburan musik di TVRI ini pada akhirnya memilih sosok Karim Tess sebagai leader of the band disamping tetap meniup trumpet.

The Tankers yang juga didukung sederet pemusik mumpuni seperti Aldin dan Willy Sumantri ini akhirnya tampil sebagai band papan atas di Jakarta, bahkan di tahun 1973 The Tankers sempat sepanggung dengan band rock God Bless dalam sebuah pertunjukan di Istora Senayan Jakarta.

Di era 70an Karim Tess juga ikut mendukung berbagai kelompok jazz antara lain ikut mendukung Jack Lesmana Combo,Bubi Chen serta Didi Tjia.

Pada tahun 1978,Karim Tess bergabung dengan Ireng Maulana All Stars yang tampil dalam beberapa rekaman jazz maupun penampilan-penampilan di atas panggung maupun TVRI.Formasi Ireng Maulana All Stars saat itu adalah Ireng Maulana (gitar,banjo),Benny Mustafa van diest (drums),Benny Likumahuwa (trombone,saxophone,flute),Maryono (saxophone),Hendra Widjaja (piano) serta Ronni Isani (bass)

Selamat jalan om Karim Tess.

Mengenang Anto Praboe

Posted: Mei 24, 2014 in Obituari

Ini adalah peristiwa yang terjadi sekitar empat tahun silam. Sekitar jam 19.00 lebih pada hari  Minggu 23 Mei 2010 saya mendapat pesan singkat yang betul-betul singkat dari Iwan Hasan,gitaris dan leader kelompok progresive rock Discus : Den,Anto Praboe telah meninggal jam 7 tadi.Belum habis rasa kaget saya ,mulailah masuk bertubi tubi info mengenai berpulangnya sahabat saya Anto Praboe,pemusik yang menguasai hampir semua jenis alat musik tiup baik western maupun maupun tradisional..Ternyata Anto Praboe yang belakangan terlihat beraura religius meninggal dunia karena serangan jantung.Oh my God !.

Anto Praboe

Anto Praboe

Terbayang lagi wajahnya yang selalu terlihat serius,bagai pejabat.Dulu,Krisna Prameswara,keyboardis Discus sering bercanda menyebut almrhum mirip mantan Mensekneg Moerdiono.Tapi sesungguhnya Anto Praboe juga gemar bercanda.Dia tak seserius tampangnya.
Pertamakali mengenal Anto Praboe di tahun 1999,saat itu saya masih menjadi penyiar di radio “sontoloyo” M97FM The Classic Rock Station.Anto datang ke studio yang berada di flat Jalan Borobudur 10 Menteng Jakarta bersama seluruh kurawa Discus.Saat itu saya tengah ngebahas Discus yang baru saja merilis album pertamanya “Discus 1st” yang dirilis Chicoira Production.
Setelah itu saya memang sering menulis tentang Discus di beberapa media cetak seperti Kompas maupun majalah dan koran Tempo.
Saya pun akhirnya mengetahui bahwa nama Discus justeru diberikan oleh Anto Praboe yang ikut membangun band gokil ini di paruh era 90-an bersama Iwan Hasan dan Fadhil Indra.

Kalau mau dirunut secara kronologis maka Discus berembrio dari dari pertermuan antara Iwan Hasan dan Anto Praboe .Saat itu Iwan Hasan didapuk menjadi conductor sebuah orkestratra yang dibentuk secara khusus untuk membawakan komposisi karya musikolog Franki Raden “Simfoni Merah Putih” dalam perayaan HUT SCTV ke 5 di 1995.
Anto Praboe ternyata adalah principal clarinettist dalam orkestra tersebut. Ternyata lagi ,Iwan Hasan yang juga gitaris dan komposer itu kepincut dengan musikalitas Anto Praboe .Iwan lalu mengajaknya membentuk sebuah band bersama teman lamanya Fadhil Indra, yang telah bermain band bersama Iwan selama 25 tahun sejak keduanya duduk di bangku sekolah dasar. Pada 1996 ketiganya membentuk sebuah band yang kemudian akan bernama Discus,spesies ikan yang gagasannya justeru datang dari benak Anto Praboe.

Anto Praboe (Foto Komunitas Salihara)

Anto Praboe (Foto Komunitas Salihara)

Kredo musik Discus l adalah menciptakan musik yang tidak mengenal batas, melintasi sebanyak mungkin batas pengkotakan genre musik dan menciptakan sebuah style yang original dengan influences yang luas dan berbeda-beda. Tanpa bermaksud menjadi band berlabel “Progressive Rock” maupun “Jazz Fusion”, ternyata album pertama Discus dirilis oleh sebuah perusahaan rekaman Progressive di Italia, sekaligus sebuah label Jazz di Indonesia. Discus tak mengklaim diri sebagai pengusung genre atau subgenre apapun.

Dengan diterimanya musik Discus untuk dirilis oleh sebuah label progressive Italia (dan suksesnya Discus diundang dan tampil di berbagai festival musik progressive mancanegara), maka menjadi sah apabila Discus disebut sebagai group musik Progressive, karena karakter musiknya yang memang “progressive”. Namun dirilisnya album yang sama oleh sebuah label jazz di tanah air (dimana belakangan, enam tahun setelah rilisnya album tersebut disebut sebagai sebuah album JAZZ yang penting oleh Denny Sakrie di majalah Rolling Stone), menunjukkan bahwa Discus tidaklah terikat pada pembatasan apapun dalam mengolah musiknya sehingga menjadi sesuatu yang original sehingga sulit dikotakkan.
Yang khusus dari DISCUS adalah resistensinya untuk sejauh mungkin menjaga intensitas perpaduan pola-pola komposisi yang unik dan inovatif, ketimbang duplikatif. Sebuah penjelajahan ke dalam “percampuran” berbagai elemen seperti jazz, rock, klasik, pop, kontemporer/eksperimental mau pun tradisional ke dalam musiknya.
Bersama Discus Anto memainkan pelbagai instrument tiup,mulai dari klarinet,oboe,flute,saxophones,seruling hingga pui-pui.Yang disebut terakhir adalah sejenis instrumen tiup tradisional khas dari Makassar,Sulawesi Selatan.
Siapakah Anto Praboe ?

Kelompok musik prog-rock Discus tampil di Saligara 5 November 2008 (Foto Salihara)

Kelompok musik prog-rock Discus tampil di Saligara 5 November 2008 (Foto Salihara)

Dia adalah pemusik yang meraih gelar sarjana musik di ISI Yogyakarta.Anto pPernah aktif bermain di berbagai orkestra klasik dan pop serta big band jazz antara lain Twilite Orchestra, Nusantara Chamber Orchestra, Jamz Matra Big Band, Orkes Simfoni Jakarta serta Erwin Gutawa Orchestra. Dalam orkestra-orkestra klasik,Anto Praboe beberapa kali tampil sebagai soloist dalam sejumlah concerto dan selalu menjadi principal clarinetist atau peniup klarinet utama.

Tak syak lagi.alamrhum Anto Praboe merupakanh salah satu clarinetist klasik dan jazz terbaik negeri ini yang kemampuan teknisnya diakui oleh hampir semua peniup kclarinet. Anto juga seorang pengajar dengan banyak murid. Seorang improviser handal dengan ciri permainan yang berteknik tinggi, permainan Anto tidak dapat dipisahkan dari warna musik Discus.
Kita akhirnya memang kehilangan seorang pemusik handal.
Selamat jalan saudaraku Anto Praboe.Tuhan selalu memilihkan jalan terbaik untuk ummatNYa

Mengenang Priyo Sigit

Posted: Mei 21, 2014 in Obituari

Sahabat saya Denny Dardiri asal Malang memberi kabar dukacita : Priyo Sigit telah berpulang hari ini sabtu 28 November 2009.Sejenak saya terdiam.Jika mendengar nama Priyo Sigit pastilah ingatan saya akan kembali pada akhir era 70-an ketika sesosok lelaki bertubuh agak gempal dengan tatapan wajah yang nyaris keras melontarkan suara nyaris memiripi Demis Roussos,vokalis asal Yunani yang pernah sukses dengan kelompoknya Aphrodithe’s Child pada akhir 60-an hingga 70-an terutama dengan single “Rain And Tears”.
Di tahun 1978,muncullah album perdana Priyo Sigit dibawah label Jackson Records & Tapes milik almarhum Jackson Arief,bertajuk “Senyum”.Lagu lagu yang dibawakan Priyo Sigit auranya memang dibuat mendekati gaya lagu-lagu Demis Rousos seperti “Forever and Ever”,”Good Bye My Love Goodbye” atau “My Friend The Wind”.
Dan malam ini saya teringat dengan lagu “Senyum” yang disenandungkan almarhum Priyo Sigit :

Saat kau tersenyumpun
Sinar mentari mencium dan membelai
Bercahaya wajahpun seakan embun pagi
Dan hapuslah segala airmata di dalam sedih
Meskipun kau berduka mari coba tersenyum

Suara Priyo memang nyaris pleg.Melengking dan kadang menjulang dengan falsetto yang mengagumkan.
Priyo Sigit berasal dari Surabayal Jawa Timur.Priyo yang kerap dipanggil Pritje ini memulaii karirnya di tahun 1967 bersama kelompok AKA (Apotik Kali Asin) di Surabaya bersama Utjok Harahap,Toar Tangkau,Peter Waas dan Fendy.Pritje belum tergila gila pada Demis Roussos saat itu.Selain menyanyi Pritje bermain keyboards.
Namun dukungannya terhadap AKA itu tak lama karena harus menyelesaikan studinya.Di tahun 1972 Pritje mulai serius di dunia musik dengan membentuk band Black Power serta membentuk Casino yang selain rekaman juga bermain diberbagai night club terkemuka di Surabaya.

kaset Priyo Sigit yang dirilis Jackson Records and tapes

kaset Priyo Sigit yang dirilis Jackson Records and tapes

Sekitar tahun 1977 Pritje ke Jakarta dan dikontrak oleh Jackson Records & Tapes.Dalam album solonya Pritje didukung oleh Rudy Gagola dan kawan kawan .

Suara Pritje seolah terulang lagi menelusuri lirik yang menyentuh :

Dan hapuslah segala airmata di dalam sedih
Meskipun kau berduka mari coba tersenyum

Selamat jalan,Pritje………….Forever and Ever !!!!