Archive for the ‘Opini’ Category

Vinyl Countdown

Posted: Januari 1, 2015 in Opini

Kecemasan akan punahnya rekaman musik dalam bentuk fisik karena menggelegaknya distribusi musik secara digital dan maraknya pembajakan kini pupus sudah.Diminatinya kembali format piringan hitam belakangan ini merupakan indikasi kuat bahwa sebagian besar penikmat musik masih memilih format fisik dalam mendengarkan dan mengoleksi rekaman-rekaman musik.Disepanjang tahun 2014 data penjualan vinyl di Amerika Serikat dan Inggris cenderung memperlihatkan grafik meningkat.Di Amerika Serikat dalam 7 tahun terakhir,penjualan vinyl mulai naik dari tahun ke tahun.
Dalam catatan asosiasi industri rekaman di Inggris BPI (British Phonographic Industry) tahun 2014 penjualan format vinyl mencapai posisi tertinggi mencapai 1,3 juta keping sejak tahun 1995,disaat Inggris tengah menjadi perhatian industri musik dunia lewat tren Britpop.

pinkfloyd-vinyl-endlessriver-1500x1000

Walaupun pencapaian penjualan vinyl berkisar 2 persen dari total pasar musik di Inggris, namun data di tahun 2014 ini menunjukkan tren kembalinya para penikmat musik menjamah piringan hitam.Album terbaru Pink Floyd bertajuk “The Endless River” menduduki peringkat no.1 dari 10 Album berbasis vinyl terlaris di Inggris di tahun 2014.
Di Amerika Serikat penjualan vinyl melonjak dari kisaran 6,1 juta keping di tahun 2013 menjadi 9,2 juta keping di tahun 2014. Konfigurasi penjualan vinyl bertumbuh sebanyak 52 persen.

Jack White bersama Jimmy Fallon tentang vinyl Lazaretto (Foto Billboard)

Jack White bersama Jimmy Fallon tentang vinyl Lazaretto (Foto Billboard)

Tahun lalu,album solo Jack White “Lazaretto” terjual 87.000 keping dan pada tahun 2013 album Daft Punk “Random Acces Memories” terjual 49 000 keping.
3,6 persen dari total penjualan album di tahun 2014 adalah vinyl. Ada sekitar 94 album dalam format vinyl yang sedikitnya terjual sekitar 10 .000 keping per album di tahun 2014 setelah tahun 2013 tercatat sekitar 46 judul album.
Bandingkan dengan data 10 tahun lalu dimana penjualan vinyl hanya mencapai 0,2 persen yaitu sekitar 1,2 juta dari total 681.400.000 keping.Adapun 57 persen dari total penjualan vinyl di Amerika tahun 2014 diperoleh dari hasil penjualan di gerai musik independen.
Lalu bagaimana dengan Indonesia sendiri ? Rilisan musik rekaman dalam bentuk vinyl mulai menggeliat walau belum dalam skala besar dan masih berkisar di kota-kota besar seperti Jakarta atau Bandung. Kebanyakan rilisan vinyl dilakukan oleh label-label independen seperti Demajors Record,Fast Forward,Elevation Record,Majemuk Record,Ivy League,Stock Room Recording maupun Organic Records .
Biasanya mereka merilis dalam jumlah yang terbatas berkisar antara 200 hingga 500 keping .Beberapa label besar pun mulai tertarik merilis format vinyl diantaranya Sony Music yang merilis album Superman Is Dead “The Early Years,Blood,Sweat and Tears” (2012) sebanyak 1000 keping dan Musica Studios yang merilis album d’Masiv “Hidup Lebih Indah” (2014).Memang hingga saat ini belum ada data akurat pencatatan total penjualan vinyl di Indonesia di sepanjang tahun 2014, tapi dengan maraknya hadir gerai-gerai musik independen yang menjual vinyl di basement Blok M Square maupun Pasar Santa Kebayoran dan beberapa titik lainnya menunjukkan bahwa tren vinyl telah memiliki pasar tersendiri dan memiliki peluang yang cerah dalam industri musik Indonesia .

Album vinyl reissue "Matraman" - The Upstairs (Doto Denny Sakrie)

Album vinyl reissue “Matraman” – The Upstairs (Doto Denny Sakrie)

Catatan lain menunjukkan ketika The Upstairs merilis vinyl reissue “Matraman” pada 16 Desember 2014,dalam hitungan jam vinyl mereka sebanyak 200 keping yang dirilis ulang oleh Demajors telah ludes dibeli para penggemarnya.
Label independen Demajors di tahun 2015 ini telah siap merilis album-album dari Naif hingga Pure Saturday. Bahkan Musica Studios,setelah merilis vinyl d’Masiv,berencana akan melakukan rilis ulang vinyl album-album dari back catalogue Guruh Sukarno Putra,Chrisye,Harry Roesli dan Iwan Fals yang dulu pernah dirilis di akhir era 70an hingga 80an.
Boleh jadi tren kembali ke vinyl ini merupakan salah satu solusi untuk menjegal maraknya pembajakan musik yang hingga saat ini tak pernah tuntas diberantas .

Iklan

Semak Belukar (Nan) Terasingkan

Posted: Desember 31, 2014 in Opini

Apakah kelompok musik (Indonesia) yang fenomenal di jelang akhir tahun 2014 ?.Maka dengan lantang saya akan bersuara : Semak Belukar.Bah, kelompok musik apa ini ? Pasti sergahan semacam ini akan mencuat menyambut prakata saya dalam tulisan saya di akhir tahun 2014 ini.Betul,tak semua orang mengetahui atau ngeh tentang kelompok Semak Belukar yang bermuasal dari bumi Sriwijaya Palembang.Seperti tajuk album antologinya Terlahir & Terasingkan. 14856462457_8060626695_b

Dara Puspita dan Kesetaraan Gender

Posted: Desember 24, 2014 in Opini

Dara Puspita akhirnya jadi perbincangan lagi.Setidaknya diantara para dewan juri tetap Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) untuk periode 2013-2014 yang terdirib atas Indra Ameng,David Tarigan,Harlan Bin,Eric Wirjanatha,Sandra Asteria,Wendi Putranto dan saya sendiri.Jelang akhir penjurian ICEMA Award, kami mendapat tugas berat untuk memilih dan menentukan siapa sosok pemusik yang akan disematkan anugerah Lifetime Achievement. Kriterianya mencakupi gagasan dan konsep bermusik serta pengaruh musik yang mereka ciptakan dan mainkan pada generasi di jamannya maupun generasi di era-era sesudahnya.

Dara Puspita di atas pentas pertunjukan

Dara Puspita di atas pentas pertunjukan

Ada terobosan yang kuat dalaqm menebar karya-karya mereka.Dari elemen-elemen yang telah terpatri dibenak kami ,akhirnya tercetus sebuah nama band yang mulai menguak pada dasawarsa 60an. Ini jelas masih direzim Orde Lama yang tak memberi ruang terhadap pola bermusik anak muda yang bermuara pada aspek dank redo kebebasan berekspresi.Di zaman itu,dunia musik internasional telah bersimbah virus British Invasion dimana band-band popular yang berasal dari Britania Raya tengah menjadi idola dan acuan anak muda diseantero jagad termasuk Indonesia.Band-band seperti Dara Puspita yang menguntit pamor pendahulunya Koes Bersaudara juga tak berdaya menghadapi sensor pemerintah yang anti ngak ngik ngok.Ngak ngik ngok adalah idiom yang dilontarkan Bung Karno terhadap perilaku budaya popular yang dikumandangkan lewat band-band atau pemusik bernafas rock’nroll mulai dari Elvis Presley,Bill Haley and His Comets dari Amerika Serikat hingga The Beatles dan The Rolling Stones dari Inggris.

Darfa Puspita On nTour

Walaupun Dara Puspita tak sampai mendekam dalam penjara seperti halnya Koes Bersaudara yang digiring ke kursi tertuduh karena dianggap menyepelekan budaya bangsa Indfonesia,kebarat-baratan tanpa kepribadian sama sekali, namun keempat gadis berambut poni yang terampil bermusik ini harus dibreidel aparat dan diharuskan melakukan wajib lapor.Saat itu pemerintah dengan tegas tanpa tedeng aling-aling ingin membumihanguskan perilaku budaya Barat yang tercerabut dalam musik popular.
Menariknya,Lies AR (gitar) ,Titiek AR (gitar) ,Susy Nander (drums) dan Titik Hamzah (bass) tak gentar.Mereka tetap konsisten dengan raungan musiknya yang direkam secara porimitif di studio Irama milik Soejoso Karsono maupun Mesra Record milik Dick Tamimi.Jiwa rockn’roll Dara Puspita terlihat jelas saat menghadapi kasus ngak ngik ngok ini.Keempat wanita ini tetap berperilaku mbalelo.

Susi Nander
Harap diketahui bahwa pilihan keempat wanita asal Surabaya ini memilih membentuk band sebagai ekspresi berkesenian adalah hal yang sangat luarbiasa.Mengingat tatakrama dan adat ketimuran yang masih dijunjung tinggi dalam masyarakat kita seolah menggariskan bahwa wanita tak pantas menggebuk perangkat drum,memetik dan meraungkan gitar elektrik maupun bass serta tampil energik baik di bilik rekaman maupun pentas pertunjukan.
Kepeloporan Dara Puspita yang dalam hal ini bias disebut pula sebagai upaya kesetaraan gender, pada akhirnya menyemaikan tren bermunculannya banyak band-band wanita saat itu.

DP

Setelah pemunculan Dara Puspita yang fenomenal dengan kredo rock n’roll yang kuat ,arkian muncullah sederet panjang band-band wanita yang seolah tak ingin kalah dengan band-band pria yang telah menuai kejayaan.Ada The Singers,The Beach Girls di akhir era 60an.Lalu ada Pretty Sisters,Aria Junior,One Dee and The Ladyfaces,The Orchids,Anoas,Antique Clique ,Ress Group,Partha Putri dan masih sederet panjang lagi di era 70an hingga 80an.Bahkan di tahun 1976 majalah pop culture Top yang terbit di Jakarta pernah menggagas menyelenggarakan Festival Band Wanita pertama di Indonesia.Festival ini hanya sempat dilakukan sekali saja.

article_large

Namun,band band wanita tetap deras bermunculan dan tumbuh kembang di seluruh Indonesia. Jelas ini adalah pengaruh besar yang ditularkan oleh Dara Puspita, yang juga telah melakukan bebereapa konser muhibah ke berbagai penjuru dunia, mulai dari wilayah Asia hingga Eropah.Dara Puspita pun sempat merilis beberapa singles pada label Decca Record di Inggris.
Belakangan di erea 80an,banyak blog-blog dalam dan luar negeri mulai mentahbiskan Dara Puspita sebagai band garage wanita pertama di Indonesia.Istilah garage band ini kemungkinan karena mereka menyimak kualitas rekaman Dara Puspita yang masih menggunakan teknologi primitive terdengar lebih raw,apa adanya dan lugas.

Lies AR
Sara Schondhardt dalam The Wall Street Journal edisi 25 September 2014 menulis tentang sepak terjang Dara Puspita dengan tajuk “Indonesia’s First All-Girl Rock Band Still Has The Power To Captive” yang antara lain menyebut bahwa Dara Puspita adalah band wanita yang tampil dengan semangat berapi-api penuh daya dan gaya musik gugat.Schondhardt bahkan membandingkan Dara Puspita dengan Pussy Riot ,band punk wanita Rusia yang menawarkan aura feminisme .
Di mata mereka Dara Puspita adalah sebuah keajaiban dari Negara ketiga yang tengah memulai kebangkitan.Ketakjuban mereka terlihat jelas ketika selama seminggu dari tanggal 1 hingga 6 Oktober kemarin di Casa Luna Ubud Bali berlangsung pameran tentang Dara Puspita dengan tajuk Dara Puspita : The Greatest Girl Group That (N)ever Was yang digagas oleh Julien Poulson,orang Australia yang bermukim di Phnom Penh Kamboja.Julien Poulson bahkan berencana ingin membuat album Tribute To Dara Puspita.

DP
Terbetik pula berita bahwa sebuah label rekaman asal Portugal bernama Groovie Record merilis album kompilasi hits Dara Puspita dalam format vinyl secara illegal.Album yang dirilis tanpa izin dari Dara Puspita ini ternyata mendapat sambutan hangat dimancanegara.
Di Detroit Michigan Amerika Serikat ada seorang disc jockey yang kerap memutarkan piringan hitam Dara Puspita dihadapan para pengunjung bar. Merekap pun larut dalam hits Dara Puspita Marilah Kemari yang ditulis Titiek Puspa.
Empat ahun sebelumnya Alan Bishop pemilik label rekaman Sublime Frequencies yang berada di Seattle AS merilis ulang secara resmi kumpulan hits Dara Puspita (1966 -1968) .Album yang berisikan 26 lagu itu bahkan masuk dalam 25 Favorite World Compilations of 2010 yang dipilih situs music terbesar dan berwibawa All Music Guide.
Di Australia sendiri muncul sebuah tribute band yang khusus membawakan repertoar Dara Puspita.Band yang bernama 45 ini beberapa waktu lalu menggelar konser di Jakarta.

DAR
Fakta-fakta ini jelas menunjukkan bahwa Dara Puspita merupakan salah satu pilar bersejarah dalam konstelasi musik popular di Indonesia.Dara Puspita walaupun tak menyuarakan ekspresi politiknya dalam bermusik,tapi dari ragam musik yang mereka mainkan,ekspresi bermusik serta fashion yang mereka kenakan menyiratkan bahwa Dara Puspita bersikap seperti halnya kredo pemusik rock n’roll : anti kemapanan.
Sayangnya,perilaku budaya pop yakni musik serapan – rock and roll dengan rasa Indonesia , yang pernah dimunculkan Dara Puspita pada zamannya seperti raib begitu saja ditelan waktu.

DRRRRRR
Bisa dihitung dengan jari penikmat musik sekarang yang mengenal Dara Puspita.Ketika masyarakat internasional menggunjingkan dan memberikan apresiasi setinggi langit pada Dara Puspita,kita sendiri malah tak tahu menahu dengan keberadaan dan jatidiri Dara Puspita.Ironis.
Terpilihnya Dara Puspita memperoleh anugerah Lifetime Achievement dari Indonesia Cutting Edge Music Award 2014, menurut saya merupakan momentum yang tepat untuk menggali lagi khazanah musik Indonesia yang menginspirasi dari era-era sebelumnya .Sudah saatnya generasi sekarang mengetahui dengan pasti jejak-jejak musik para pendahulunya.

Rhoma Irama 68 Tahun

Posted: Desember 11, 2014 in Opini

Hari ini,kamis 11 Desember 2014 Raja Dangdut yang tak pernah turun tahta Rhoma Irama genap berusia 68 tahun.Dan tampaknya gelar Raja Dangdut itu tersemat seumur hidup.Karena hingga saat ini,tak satu pun sosok pemusik dangdut yang mampu mengungguli kharisma sang Raja Dangdut.Seperti lirik dari salah satu lagu yang pernah disenandungkannya :”Kau yang mulai kau yang mengakhiri”, Rhoma Irama memulai eksplorasi dangdut di akhir 60an dan mengembangkannya secara ekspresif,antara lain menyusupkan aura rock di awal 70an, dan setelah itu semua pemusik atau insan dangdut mengikuti jejaknya tanpa ada yang mampu menggesernya dalam satu titik evolusi sekali pun.
Karya-karya dangdut Rhoma Irama menjadi telaah dan kajian ilmiah dari belahan bumi sana.Orang-orang asing menaruh respek luar biasa dalam karya-karya si Raja Dangdut.Musik dangdut yang ditoreh Rhoma Irama bukan hanya hiburan semata,sekedar bergoyang dan melampiaskan gundah gulana belaka, tapi karya-karya dangdutnya menyimpan pelbagai aspek kehidupan dengan beragam sudut pandang mulai dari sisi sosial hingga kaidah agama.

Karya-karya dangdut Rhoma Irama menjadi telaah dan kajian ilmiah dari belahan bumi sana.Orang-orang asing menaruh respek luar biasa dalam karya-karya si Raja Dangdut.Musik dangdut yang ditoreh Rhoma Irama bukan hanya hiburan semata,sekedar bergoyang dan melampiaskan gundah gulana belaka, tapi karya-karya dangdutnya menyimpan pelbagai aspek kehidupan dengan beragam sudut pandang mulai dari sisi sosial hingga kaidah agama.
Dalam bermusik,Rhoma Irama memang menunjukkan sikap yang tegas dan lugas.Tertera jelas dalam deretan lirik-lirik lagu yang ditulisnya.
Banyak orang bermain musik
Bermacam-macam warna jenis musik.
Dari pop sampai yang klasik.
Bagi pemusik yang anti Melayu.
Boleh benci, jangan mengganggu.
Biarkan kami mendendangkan lagu.
Lagu kami lagu Melayu.
(“Musik” –Rhoma Irama ,1977).

Jelas ini merupakan sebuah refleksi eksistensi musik dangdut, jenis musik yang kerap dicemoohkan karena dianggap merefleksikan kalangan akar rumput yang jauh dari estetika dan harmonisasi lagu-lagu popular yang bermuara dari pengaruh westernisasi.
William Frederick seorang peneliti dari Amerika Serikat yang menelaah ikhwal musik dangdut yang dimainkan Rhoma Irama menguraikannya dalam tulisan bertajuk”Rhoma Irama and The Dangdut Style : Aspects of Contemporary Popular Culture” di tahun 1982.

Mengenai proses hibrida musik antara Barat dan Timur yang dilakukan Rhoma Irama dalam Dangdut pada era 70an terlihat dalam penggalan kalimat berikut ini :
By 1975 ,however,the outlines of a tighter synthesis and a patently individual personality could be seen in Oma’s music.It was above all an energetic style that pumped the Melayu songfull of a liquid ,flowing rhythm and highlighted its characteristic waves of melody .In part the effect was achieved with subtle changes in orchestration, but it came more noticeable with the incorporation of electrical instruments—guitar ,organ,even mandolin—and increasingly powerful acoustical equipment .This kind of music could be felt in an almost visceral way .If Melayu music was customarily foot-tapping stuff , then this dangdut (as it was now being called ) practically shook young listeners , compelling them to toss off their footgear and rock (bergoyang) to the music .Indeed ,dancing in this particular manner , across between the traditional kampung-style joget and vaguely rock and-roll motions ,became a hallmark of Soneta a performances .

ri
Anasir-anasir  seperti inilah yang menjadikan sosok Rhoma Irama bukan lagi sebagai superstar yang berjubah arogansi dan segala perilaku rekayasa seperti yang kerap kali diperlihatkan pemusik pop dan rock kita yang menyadap habis perilaku superstar dibelahan barat sana tanpa memahami esensi yang sesungguhnya.
Rhoma Irama tak hanya menawarkan goyang dangdut atau joget belaka seperti pada lagu “Joget“ maupun ”Dangdut” :yang kemudian lebih popular dengan judul  “Terajana” :
Sulingnya suling bambu
Gendangnya kulit lembu
Dangdut suara gendang
Rasa ingin berdendang

Rhoma Irama tak hanya membuai penggemarnya dengan lagu-lagu romansa yang nelangsa  seperti “Kegagalan Cinta” atau kegenitan atmosfer insan yang tengah kepayang seperti dalam lagu “Tung Keripit”  yang mengambil gaya pantun :
Tung keripit Hai si Tulang Bawang
Kalau pacar yang gigit sakit tak mau hilang
Tapi juga menyebarkan pesan moral dalam sederet lagu-lagunya semisal “Begadang”,”Darah Muda” maupun “Rupiah” yang entah kenapa sempat dicekal TVRI pada jelang dasawarsa 70-an :
Memang sungguh luar biasa
itu pengaruhnya rupiah
Sering karena rupiah
Jadi pertumpahan darah
Sering karena rupiah
Saudara jadi pecah
Memang karena rupiah
Orang menjadi megah
Kalau tidak ada rupiah
Orang menjadi susah
Hidup memang perlu rupiah
Tetapi bukan segalanya
Silakan mencar rupiah
Asal jangan halalkan cara

Lihat pula bagaimana Rhoma Irama menyuarakan anti segala bentuk perjudian :
Judi! menjanjikan kemenangan
Judi menjanjikan kekayaan
Bohong! Bila engkau menang,
Itu awal dari kekalahan
Bohong! bila engkau kaya itu awal dari kemiskinan.

Dari departemen lirik  yang dijejalkan  Rhoma Irama pun mengubah kecenderungan pemaparan tema.Rhoma Irama  berubah menjadi bijak dengan pelbagai petuah beratmosfer moralitas.Hal ini diungkap pula oleh peneliti asal Amerika Serikat William H Frederick dalam tesis bertajuk “Rhoma Irama and the Dangdut Style : Aspects of Contemporary Indonesia Popular Culture” tersebut
. Since much of Oma’s songwriting was leading inescapably^toward both storytelling and moralizing, he was naturally intrigued with the notion of integrating story line more closely with the music, and making of the whole something more “serious.”
Dan akkhirnya kita pun mahfum bahwa Rhoma Irama menjadi sosok panutan ummat.Menjadi suri tauladan.
Rhoma Irama bagaikan trubadur,pemusik pengelana  yang bertutur lewat dendang lagu tentang apa saja.
Puncak pencapaian Rhoma Irama dalam berkarya adalah ketika dia memproklamirkan “Sound Of Moslem” pada tahun 1973 .Lirikk lirik yang ditulis Rhoma Irama   mulai terasa  menyelinap ke wilayah  religi.
Ini salah satu  keprihatinan Rhoma terhadap nilai keimanan muslim di abad modern yang tertuang dalam lirik  lagu bertajuk “Koran dan Qur’an” :
Kalau bicara tentang dunia ,aduhai pandai sekali
Tapi kalau bicara agama,mereka jadi alergi
Membaca Koran jadi kebutuhan
Sedang Al Qur’an Cuma perhiasan.
Rhoma Irama pada akhirnya mengingatkan kita akan sosok  Sunan Kalijaga yang menggunakan anasir seni untuk tujuan dakwah Islam.
Perkembangan Rhoma Irama terasa signifikan dalam konsep bertutur,dimana pada akhirnya kita pun memaklumi jika sesungguhnya Rhoma Ira memang telah  melakukand akwah lewat media  musik :
Segelintir orang yang haus akan kekuasaan
Membuah dunia penuh penderitaan
Hentikanlah penindásán, hentikan kezaliman
Kapan kiranya akan tegak keadilan
Dimana-mana hampir di seluruh punggung dunia
Terdengar suara keluhan manusia yang gelisah
Dimana-mana hampir di seluruh punggung dunia
Banyak manusia jádi mangsa dari sesamanya
Itu karena sang manusia sudah lupa kepada Penciptanya
Agama hanya pelengkap belaka
Manusia telah bertuhan dunia

Dan hari ini,pencapaian-pencapaian Rhoma Irama dalam dunia seni terutama musik masih bisa kita leretkan dalam persolan kreativitas yang menginspirasi siapa saja, termasuk juga bagi orang yang tak menyukai jenis musik yang dimainkan Rhoma Irama.

Selamat ulang tahun Bang Haji Rhoma Irama.

Satu Dasawarsa Kepergian Si Biang Bengal

Posted: Desember 10, 2014 in Opini

Opini
Satu Dasawarsa Kepergian Harry Roesli
Hari ini 11 Desember,telah satu dasawarsa pemusik Harry Roesli meninggalkan kita.Harry Roesli adalah sosok seniman yang memiliki kepedulian dalam social dan kerap mengkritisi perilaku politik yang terjadi di negeri ini.Dengan karya-karya musiknya yang kerap bernuansa satir dan getir,Harry seperti ingin menjewer siapa saja yang dianggap menyimpang.Ketika gerakan mahasiswa di tahun 1998 berhasil menggulingkan kekuasaan Presiden Soeharto,tiba-tiba lagu Jangan Menangis Indonesia yang direkamnya pada album “Lima Tahun Oposisi” (1978) berkumandang lagi di radio dan TV.Lagu yang ditulisnya usai kejadian Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) agaknya masih relevan dengan suasana politik negeri ini di jelang akhir era 90an.
Dengan kebisaannya bermain musik,Harry Roesli melakukan kritik lewat lirik-lirik lagunya mulai dari yang absurd hingga tanpa tedeng aling-aling.Harry melakukan apa saja untuk ritual gugat terhadap ketimpangan-ketimpangan yang berlangsung dipelupuk mata.Periaku korup adalah salah satu fragmen yang kerap menjadi sasaran kritik Harry Roesli.Secara satir Harry Roesli menyerang perilaku korup pada opera rock yang diangkatnya berdasarkan sejarah Ken Arok,sosok ambisius yang akhirnya bertahta di kerajaan Singosari.Karya-karya gugat Harry Roesli memang terasa cair dan berbalut humor karena ditumpahkan dalam aksentuasi bercanda.Dan itulah yang menjadi bagian menarik jika kita menelaah karya-karya Harry Roesli yang terbentang dari tahun 1973 hingga 2004.
Dimata saya Harry Roesli adalah sosok yang anti birokrasi,anti hipokrit dan anti korupsi.Ini adalah prinsip yang tetap kukuh digenggam Harry Roesli hingga ke liang lahat.Di tahun 1998 banyak yang menyayangkan kenapa Harry Roesli memelintir lirik lagu Garuda Pancasila menjadi : . “Garuda Pancasila/ Aku lelah mendukungmu/ Sejak proklamasi selalu berkorban untukmu/ Pancasila dasarnya apa?/ Rakyat adil makmurnya kapan?/ Pribadi bangsaku tidak maju-maju.” .Tapi sesungguhnya ini adalah kritik yang paling menohok dari sosok Harry Roesli yang sejak paruh era 70an dijuluki Biang Bengal Bandung .
Harry Roesli adalah seniman yang mengaduk aduk banyak dimensi seni,entah itu musik,teater hingga film menjadi medium untuk bercermin,medium untuk menera perilaku kita termasuk medium untuk kritisi.Walaupun banyak yang kerap tidak nyaman dengan idiom idiom Harry Roesli dalam mengkritik tapi dia tak pernah lelah melakoni sosok kesenimanannya untuk mengabarkan ketimpangan-ketimpangan serta berbagai telikung telikung yang berpendar diman-mana.
Saya yakin Harry Roesli adalah seniman yang cinta negerinya.Harry Roesli,tak berlebihan jika saya sebut sebagai seorang nasionalis sejati. Di tahun 1973 saat tampil di acara musik kolosal “Summer’28” yang berlangsung di kawasan Pasar Minggu,Harry Roesli dengan lantanng menyanyikan lagu karyanya dalam bahasa Inggris “Peacock Dog”.Peacock Dog adalah idiom aneh yang nyaris tak terpahami hingga suatu hari Harry Roesli mentakwilkan bahwa Peacock Dog itu adalah sindiran untuk Indonesia, Negara yang mempesona seperti burung merak tapi berperilaku menyebalkan seperti (maaf) anjing.
Harry Roesli boleh jadi adalah seorang visioner sejati.Disaat kisruh yang terjadi antara dua kubu dalam Pilpres 2014, saya teringat cuplikan lirik lagu “Bharatayuda” yang direkam Harry Roesli di tahun 1977 :”Mulut yang penuh tetapi kosong.Ini disebut jantan ?.
Atau ketika kegiatan korupsi kian marak terjadi diantara para pejabat pemerintahan belakangan ini , sebuah lagu karya Harry Roesli yang direkam pada tahun 1978 justru menjadi soundtrack yang tepat dengan lirik seperti ini :” Seratus pencuri membuat fraksi di tanahku ini
Sepuluh penipu,mereka bersatu di tanahku ini
Dapatkah anda membayangkan kini?

Hari ini 11 Desember,sepuluh tahun silam sosok Harry Roesli yang humoris tapi kritis telah meninggalkan kita,tetapi lagu-lagu yang pernah ditulisnya ternyata masih tetap relevan dengan kekinian.Apa yang dikritik Harry Roesli masih tetap terjadi dan berlangsung.
Harry Roesli telah tiada,tapi karyanya masih bersemayam dibenak kita termasuk himbauan Harry Roesli dalam lagu “Berduka Cita” (1977) :
Menjelaskan kepada dunia bahwa kita kan tetap bersatu
Tutup matamu dari rayuan bukakan lah tentang keadilan

Satu Dasawarsa Berpulangnya Harry Roesli

Posted: Desember 2, 2014 in Opini

10 Tahun silam,tepatnya tanggal 11 Desember 2004,pemusik multitalenta Harry Roesli berpulang meninggalkan kita.Karya-karya Harry Roesli yang multi dimensi bertebar dimana-mana,salah satunya adalah di saat Harry Roesli diminta melatih Kharisma Vokal Group Bandung dan hasilnya Vokal Group SMA di Bandung ini merilis sebanyak dua album.Di album ini Harry Roesli memberikan 3 komposisi karyanya yaitu Trenggiling,Kudan Jantan dan Lukisan Kera.Ini adalah era Harry Roesli kerap menuliskan metafora satwa dalam lirik-lirik lagunya.Selebihnya adalah lagu-lagu daerah/tradisonal yang telah diarransemen ulang seperti Suwe Ora Jamu (Jawa) dan Huhate (Maluku) serta lagu karya Mang Koko bertajuk Badminton.

Album Harry Roesli dan Kharisma Vokal Grup Bandung tahun 1978

Album Harry Roesli dan Kharisma Vokal Grup Bandung tahun 1978

Dinihari ini saya mendadak teringat dengan acara musik yang saya pandu seminggu sekali setiap rabu ,alam di radio classic rock M97FM yang bermarkas di Jalan Borobudur 10 Jakarta Pusat, namanya Collector’s Time. Acara berdurasi 3 jam dimulai dari jam 21.00 hingga 24.00 ini mengulas tentang musik classic rock baik dari dalam maupun luar negeri secara mendetil secara historik yang dilengkapi mereviw diskografi serta proses kreativitas karya-karya rock klasik tersebut.

Chrisye menjadi tamu di Collector's Time tahun 1996 (Foto Denny Sakrie)

Chrisye menjadi tamu di Collector’s Time tahun 1996 (Foto Denny Sakrie)

Ketika radio M97FM ini berdiri pada paruh tahun 1995,niatnya adalah membangun radio dengan segmentasi pria dewasa hingga paruh baya.Karena pria,asumsi utama yang langsung tercerabut saat riset memilih genre musik yang pantas dan cocok dengan dunia kaum pria adalah musik rock,yang kemudian dipersempit menjadi classic rock.Timeline classic rock ini lalu diambil patokan dari paruh dasawarsa 60an saat The Beatles membombardir musik ke penjuru jagad yang dikenal dengan terminologi British Invasion hingga memasuki era 70an dan berimbas ke era 80an. dari timeline classic rock seperti itulah akhirnya Radio yang sebelumnya bernama Radio Monalisa mulai mengudara dengan musik rock sebagai jatidiri.

Bersama gitaris Giant Step Albert Warnerin (Foto Denny Sakrie)

Bersama gitaris Giant Step Albert Warnerin (Foto Denny Sakrie)

Diawal terbentuknya radio M9FM saya mendapat tugas untuk meriset sekaligus memilih lagu-lagu yang masuk dalam kategori klasik rock hingga akhirnya kemudian saya malah ditawari untuk memegang kendali sebagai music director radio M97FM.Pada saat siaran percobaan, mulailah disusun berbagai program acara yang bakal menemani keseharian para pendengar radio ini kelak.Paul Souhwat yang saat itu berada ditampuk Program Director mulai mencorat coret beberapa acara-acara khusus yang hanya mengudara seminggu sekali. Salah satu idenya adalah membuat acara musik apresiasi dengan memakai nama “Collector’s Time”.

Kenapa Collector’s Time namanya ? sergah saya ke Paul yang asyik manggut manggut dengan lantunan musik Pink Floyd The Great Gig In The Sky.

Paul lalu menimpali :”Musik semacam ini rock yang berjaya di era 60an dan 70an pasti menjadi bagian dari orang-orang yang mengalami romantikanya saat itu.Dan mereka pasti masih menyimpan karya-karya monumental itu…..dan pastilah dia kolektor.Acara ini kita bikin untuk mewadahi mereka”.

Saya terdiam dan mulai menyetujui gagasan unik dari Paul Souhwat yang sebelumnya bekerja di radio Prambors.Tiba-tiba Paul menepuk pundak saya :” Nah elo aja yang membawakan acara ini.Gua yakin elo bisa membawakan acara ini.Elo suka musik rock dan juga ngumpulin album-album rock”.

Wow…….saya terperangah dan tanpa pikir panjang lagi,tawaran Paul Souhwat itu pun saya terima dengan suka cita.Ini adalah obsesi saya sekian lama yang rasanya tak bakal terwujud,karena mana mungkin ada radio yang bakal memutar musik rock dengan pelbagai subgenrenya dan terasa segmented itu.

Singkat cerita,mulailah saya membawakan acara Collector’s Time pada sekitar September 1995.Konsep acara Collector’s Time ini adalah membahas lagu-lagu classic rock beserta pernak-perniknya dengan mengundang seorang tamu sebagai narasumber setiap minggu.Narasumbernya bisa siapa saja, bisa penikmat musik,kolektor musik,produser rekaman hingga para pemusiknya itu sendiri.

Diluar dugaan ternyata acara Collector’s Time mendapat respon bagus.Suatu hari Budiarto Shambazzy wartawan harian Kompas menyambangi saya dan mewawancarai saya mengenai musik rock yang dipilih radio M97FM sebagai identitas radio dan acara Collector’s Time.Budiarto Shambazzy bertutur bahwa dia dan rekan-rekannya di kantor mulai ketagihan menyimak radio M9&FM. Saya lalu menawarkan pada Budiarto Shambazy untuk menjadi tamu dalam acara Collector’s Time.Ternyata Budiarto Shambazy menerima tawaran saya itu dengan suka cita pula apalagi ketika saya menawarkan untuk membahas Led Zeppelin, salah satu band rock favoritnya.

Drummer seribu band Jelly Tobing adalah tamu pertama yang saya undang dalam acara Collector’s Time. Sejak itu,hampir saban rabu malam Collector’s Time menghadirkan berbagai tamu atau narasumber.dari kalangan pemusik hingga ke penggila musik rock.Seingat saya ada penggemar rock yang berkali-kali saya undang sebagai bintang tamu, mulai dari Indra Kesuma seorang bankir yang punya pengalaman nonton band band rock mancanegara saat mengenyam pendidikan di Amerika.Juga ada penggila The Beatles seperti Pandu Ganesha hingga fanatikus Kiss Nelwin Aldriansyah.

Harry Roesli jadi tamu Collector's Time di tahun 1997 (Foto Denny Sakrie)

Harry Roesli jadi tamu Collector’s Time di tahun 1997 (Foto Denny Sakrie)

Dari kalangan pemusik saya pernah mengundang Harry Sabar,Debby Nasution,Harry Roesli,Deddy Stanzah,Andy Julias dan Januar Irawan dari Makara,Keenan Nasution,Ekki Soekarno,Chrisye,Benny Soebardja,Donny Fattah,Albert Warnerin,Emmand Saleh,Donny Suhendra,Benny Likumahuwa,Abadi Soesman,Lilo Kla,Gilang Ramadhan,Eet Syahrani termasuk kritikus musik paling gahar era 70an Remy Sylado serta dua wartawan Aktuil Denny Sabri dan Buyunk dan masih sederet panjang lainnya.Fariz RM tercatat sebagai pemusik yang paling sering saya ajak sebagai narasumber.

Menariknya dalam berbagai siaran, saya selalu meminta beberapa pemusik untuk memperlihatkan cara bermain musik terutama gitar dan keyboard yang semuanya berlangsung live di studio M97FM seperti Albert Warnerin,Eet Syahrani,Tony Wenas,Emmand Saleh hingga Donny Suhendra.

Bersama drummer Ekki Soekarno (Foto Denny Sakrie)

Bersama drummer Ekki Soekarno (Foto Denny Sakrie)

Waktu yang berdurasi 3 jam terkadang terasa cepat berakhir.Ketika peminat Collector’s Time mulai membanyak,pihak M97FM kemudian mulai mengadakan acara off air Collector’s Time yang berlangsung di News Cafe dan Poster Cafe.Seingat saya ada 4 event off air yang berhasil membuat reuni beberapa band yaitu reuni The Rollies,reuni Gang Pegangsaan,reuni Cockpit Band  dan reuni Gang of Harry Roesli.Siapa yang tidak bangga dengan acara musik yang kian banyak dinikmati publik.

Dan malam ini saya hanya bisa mengenang saat-saat memandu Collector’s Time dengan segenap passion yang ada dalam diri saya.Sebuah kerinduan yang tak terobati,tapi masih bisa dikenang