Archive for the ‘Piringan Hitam’ Category

Mulai dari paruh era 60an ,lalu masuk  dasawarsa 70an hingga 80an  beberapa penyanyi Indonesia tercatat merekam album di Jerman Barat.Mulai dari kelompok jazz The Indonesian All Stars,Mogi Darusman,Vina Panduwinta serta kuartet Vanua Levu yang antara lain didukung dua penyanyi tenar Indonesia Duddy Iskandar dan January Christy.

Single Vanua Levu Shulu,Shululu

Single Vanua Levu Shulu,Shululu

Di tahun 1981 ada sebuah rilisan rekaman yang beredar secara internasional di Jerman Barat bertajukIsland Of Fantasy, sebuah album dengan materi musik crossover antara musik populer Hawaii dengan dikemas beat ala disko.Album ini berisikan sekitar 18 lagu .

vanua_levu-islands_of_fantasy

Ini ke 18 track album Vanua Levu :

Tracklist:

A1 Shulu, Shululu
Written-By – John Battes , Michael Zai
A2 Aloha Ohe
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
A3 Blue Moon
Written-By – R. Rodgers / Hart*
A4 Bali-Hai
Written-By – R. Rodgers / O. Hammerstein*
A5 Honolulu Love Song
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , N. Martinique*
A6 Suma Hama
Written-By – M. Love*
A7 Bananaboat Song
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
A8 Suki Yaki
Written-By – Ei Rokusuke , Nakamura Hachidai*
A9 Sleepy Lagoon
Written-By – E. Coates* , J. Lawrence*
B1 Jamaika Farewell
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B2 Islands Of Fantasy
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , N. Martinique*
B3 Hawaiian Rose (Danny Boy)
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B4 Only A Fool
Written-By – G. Kennedy*
B5 Island Of Dreams (There’s No More Corn On The Brassos)
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B6 Moonlight In Hawaii
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade*
B7 The Moon Of Manakoora
Written-By – A. Newman* , F. Loesser*
B8 Yellow Bird
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B9 Vanua Levu

Vanua Levu juga merilisnya dalam beberapa format vinyl single.

VVVVV

Iklan

Piringan hitam jazz ini usianya telah memasuki tahun ke 51 sejak dirilis pertamakali oleh label Irama milik Soejoso Karsono pada sekitar tahun 1962.Apabila ingin menelusuri perjalanan sejarah musik jazz Indonesia, maka album yang bertajuk “Lagu Untukmu” ini patut anda simak dengan sedalam-dalamnya.Karena musikalitas dari Kwartet Irama yang terdiri atas Bubi Chen (piano),Jack Lemmers (gitar,glockenspiel),Sarono (bass) dan Atje (drusm) ini telah memperlihatkan tingkat kematangan yang mumpuni.Mereka menafsirkan melodi langgam krontjong dan pop ke dalam aura jazz yang terasa lebih modern.

Dengan menggunakan potret Nien Karsono,adik Soejoso Karsono yang saat itu menjalin hubungan dekat dengan Jack Lemmers kerap membuat orang terkecoh.Banyak yang menyangka album Lagu Untukmu yang diambil dari lagu karya Jack Lemmers,adalah album solo Nien yang saat itu memang merupakan salah satu crooner pop terbaik Indonesia.

Album jazz ini juga merupakan contoh produksi rekaman yang patut ditelkadani mulai dari rancangan sampul dan kemasan album yang disertai sebuah liner notes yang ditulis Wienaktoe,cerita dibalik penggarapan album di studio yang disertai data-data teknis rekaman.Dengan membaca tulisan tulisan pada sampul album album ini bisa juga menjadi semacam buku sejarah yang menceritakan tentang peristiwa atau kejadian-kejadian masa lalu terutama musik jazz.

Untuk lebih lengkapnya, saya sertakan kembali liner notes album Lagu Untukmu dibawah ini.

Masa sekitar tahun 1943 merupakan masa permulaan muntjul music dalam bentuk jang kemudian dikenal sebagai langgam krontjong di Indonesia. Merupakan pula suatu masa peralihan modernisasi daripada bentuk krontjong asli ke bentuk mpopuler jang lambat laun kemudian mendjadi bentuk lagu hiburan. Indonesia di zaman permulaan Kemerdekaan.Masa itu bagi setiap pemusik dan pentjinta lagu Indonesia amat menarik untuk dikenang. Beratus-ratus lagu dalam bentuk serba baru itu menjebar, mula-mula  disadjikan dalam irama  krontjong ,kemudian djuga diberi iringan jang lebih bertitik-berat pada ritme, tanpa  menghilangkan sifat-sifat daripada bentuknja semula sebagai langgam.

Album ini membawakan pada anda suatu kenangan akan masa itu,dengan suatu seri lagu-lagu jang namanja sudah serba abadi dari djaman tersebut, dalam suatu bentuk music Indonesia modern instrumental..Suatu sadjian instrumental jang pengerdjaan musiknja tidak terpaku pada sifat langgamnya itu sendiri., melainkan jang diubah menurut modernisasi zaman.Unsur2 ritme dipadukan disini dengan kelintjahan tarian nada2 jang melodieus,setengah improviastoris.Kesemuanya dibawakan dan ddjiwai oleh seorang pemain piano jang selama ini sebagai pemain jang lebih banjak bergerak didunia musik jazz dan music dansa jaitu Bubi Chen.Dalam kwartet “Irama” jang baru ini.Bubi Chen dibantu oleh Jack Lemmers pada gitar dan glockenspiel. Atje pada drums dan Sarono pada string bass , berhasil memperpadukan ritme pianonja pada nada lagu2 dari musik langgam, menghilangkan sifat2 montonnja dan mengubahknja kedalam bentuk2 arransemen jang bisa didengar telinga modernwaktu itu.

Motifnja,polanja memang pola lama,jang membawakan kenangan pada masa kegemilangan lagu-lagu dari zaman tahun2 sekitar 1943..Tetapi suasana jang ditjiptakan merupakan suasana modern sekarang, suasana dimana warna dan ritme makin berkumandang mengisi selera pada pentjipta music Indonesia jang preogresif.

Dengarkanlah introduksi nada-nada tunggal dalam alunan irama membujar, sebagai usaha permulaan membawakan suasana tiupan angin melalui daun-daunan Pohon Beringin jang segera dialihkan pada irama tetap penuh musikaliteit.Dengarkan ritme lebih kuat ditondjolkan dalam lagu Mande-Mande,arransemen lintjah mengadjak dari Sinandi-Nandi jang membawakan ritme dan style musik gairah keremadjaan sekarang..Banjak variasi dalam modulasi nada ditjurahkan dalam lagu seperti Minapadi,Pulau Djawa,Saputangan,Tirtonadi atau Djembatan Merah dan lain lagu dari zaman tadi.Kesemuannja mana sebenarnja ditjoba pula dipusatkan pada satu lagu :””Lagu Untukmu” hasil tjetusan Jack Lemmers,gitaris-tehnikus-komponis, jang menjertai kwartet ini dengan isian2 ritme dari kedjernihan bunji rangkaian lagu2 serba abadi ,didalam album ini

 

Wien 

Rekaman dari “Lagu Untukmu” ini direkam pada malam hari mulai dari djam 21.00 hingga djam 04.00 pagi pada tanggal 8-7-1962 dan 15-7-1962.

Track List

Muka 1

1.Sinandi-Nandi (Agus Nandi)

2.Djembatan Merah (Gesang)

3.Pohon Beringin (S.Suwandi)

4.Irama Mesra (Jack Lemmers)

5.Sapu Tangan Dari Bandung Selatan (Ismail Mz)

6.Tirtonadi (Gesang)

Muka 2

1.Mande Mande (n.n)

2.Gerbang Nirwana (Ismail Mz)

3.Pulau Djawa (n.n.)

4.Lagu Untukmu (Jack Lemmers)

5.Minapadi (n.n.)

6.Saputangan (Gesang)

Recording Engineer   : Jos

Tape Editing/Queing : Djoko,Markus,Koko

Neumann Discouting Engineer  : Tan JG

Stereo To Mono Balancing        :  Jack Lemmers

Nickerl Matrix  Platting             :  Taslan Sujatno

Cover Design                             :   Pandji Kamal

Cover Girl                                  :   Nien

Photographie                               : Oey

Liner Notes                                 : Wienaktoe

Offset Printing                            :  NV Andjar

Sejak tahun 2007 saya mencoba hunting alias mengumpulkan piringan hitam atau vinyl berukura 7 inch dalam format 45 RPM dari band favorit saya Genesis serta single single solo karir penyanyi dan drummer Genesis Phil Collins.

Singles Separate Live duet Phil Collins dan Marylin Matlin dari soundtrack album film White Night (1984)  (Foto Denny Sakrie)

Singles Separate Live duet Phil Collins dan Marylin Matlin dari soundtrack album film White Night (1984)
(Foto Denny Sakrie)

Sebetulnya apa yang menarik dari mengejar serta mengumpulkan rekaman-rekaman single terutama Genesis ? Pertama,menurut saya, yang menarik dari piringan hitam single adalah B Side yang pada galibnya justeru tak ditemukan pada full length albumnya.Kedua, karena formatnya yang unik,kecil dan menggemaskan.Namun yang terakhir ini memang relatif dan menurut hemat saya diabaikan saja, karena toh tak penting penting banget. Hingga sekarang ini saya telah memiliki sekitar 25 single atau vinyl 7 inch dari Genesis, yang didominasi oleh Genesis era Phil Collins pada akhir 70an hingga 80an.

Singles You Can't Hurry Love di tahun 1982 (Foto Denny Sakrie).

Singles You Can’t Hurry Love di tahun 1982 (Foto Denny Sakrie).

Terutama Genesis era 80an mayoiritas durasi lagu-lagunya sudah tak sepanjang Genesis era Peter Gabriel yang menghabiskan durasi diatas dari 5 menit hingga 20 menit.

Single Genesis Throwing It All Away dari album Invisible Touch di tahun 1986 (Foto Denny Sakrie)

Single Genesis Throwing It All Away dari album Invisible Touch di tahun 1986 (Foto Denny Sakrie)

Dalam riset saya,piringan hitam single ini kebanyakan berasal dari stasiun radio swasta yang memang memilih segmentasi Top 40 Radio atau yang berformat CHR (Chart Hits Radio),Disamping itu vinyl berukuran 7 inch ini kebanyakan pernah dimiliki oleh orang orang yang pernah kuliah atau bekerja di luar negeri entah itu di Amerika Serikat maupun Inggris dan negara-negara Eropah lainnya.

Vinyl vinyl Genesis 45 RPM ini kebanyakan saya peroleh di sekitar Jalan Surabaya,Taman Puring dan kini lebih banyak saya temukan di rubanah Blok M Square Jakarta Selatan.

Sampai detik ini saya masih tetap terus hunting vinyl 45 RPM milik Genesis dan Phil Collins. Ada yang jual ke saya ? Let me know

Piringan hitam single Genesis "Abacab" dan "Another Record" (1981) (Foto Denny Sakrie)

Piringan hitam single Genesis “Abacab” dan “Another Record” (1981) (Foto Denny Sakrie)

Saya berpose didepan turntable + radio Grundig saat ulang tahun yang ke 6 di Ambon tahun 1969

Saya berpose didepan turntable + radio Grundig saat ulang tahun yang ke 6 di Ambon tahun 1969

Kapan pertama kali saya mengenal piringan hitam ? Ini terjadi di tahun 1969,saat saya merayakan ulang tahun saya yang ke 6.Saat itu saya dan keluarga saya menetap di Ambon.Sebetulnya ayah saya telah memiliki perangkat turntable yang compact dengan radio bermerk Grundig itu pada tahun 1966.Namun saya baru ngeh ketika saya duduk di bangku kelas 1 SD.Saya masih ingat saat itu ayah saya kerap memutar piringan hitam single 7 inch Hey Jude milik The Beatles.Hey Jude adalah lagu terpanjang dengan durasi sekitar 7 menit 11 detik.Sebagai bocah yang baru melek musik merasakan sesuatu yang aneh dan unik lewat lagu dengan durasi panjang dengan outro yang berulang ulang.Di saat itu juga saya mengenal album Bee Gees yang bercover merah bertajuk Odesa.Lagu yang saya langsung suka dari album ini adalah First of May.Menurut ayah saya Bee Gees ini terpengaruh The Beatles.

Menyimak atau mendengarkan musik melalui piringan hitam saat itu merupakan pengalaman yang tak terlupakan.Record Machine itu merupakan hiburan keluarga disamping radio yang menggunakan tabung tabung itu.Apalagi di Ambon,kota kecil yang berada di unung Timur Indonesia.Mendengarkan aluanan musik melalui piringan hitam dan radio jelas merupakan sesuatu yang mewah saat itu.Siaran TVRI hanya ada di Jakarta.

Tapi toh dengan medium piringan hitam,kami sama sekali tak memiliki kendala mengupdate kekinian dalam perkembangan musik.Setiap ayah saya pulang dari Jakarta,dia pasti membawakan setumpuk piringan hitam terbaru, baik rilisan lokal maupun internasional.

Tak berlebihan jika saya beranggapan bahwa piringan hitam dari Bee Gees dan The Beatles inilah yang meracuni selera saya untuk menyukai alunan musik.Selain itu,koleksi piringan hitam ayah saya pun lumayan variatif.Misalnya ada lagu yang gampang diingat dan seketika langsung bisa dinyanyikan yaitu Chewy Chewy milik the Ohio Express yang menurut ayah saya lagi ngetop-ngetopnya di tahun 1969.

. Racun ini tak bisa  saya tepiskan hingga saat sekarang ini, disaat usia saya menjelang separuh abad.

Bersama kedua adik saya dan adik sepupu serta tante saya lagi menyimak lagu Chewy Chewy dari The Ohio Express

Bersama kedua adik saya dan adik sepupu serta tante saya lagi menyimak lagu Chewy Chewy dari The Ohio Express