Archive for the ‘profil’ Category

Selamat Ulang Tahun Fariz RM

Posted: Januari 2, 2015 in Kisah, profil

Sahabat saya Fariz Rustam Munaf berulang tahun 5 Januari.Saya selalu mengingat tanggal kelahiran pemusik multi talenta ini, karena tanggal kelahirannya berada disetiap awal tahun baru.Hingga saat sekarang Fariz yang biasa dipanggil dengan Bule masih tetap aktif mendenyutkan musik di berbagai panggung pertunjukan .Fariz seperti halnya di era 80an,ketika masa kejayaannya tengah pasang menggelegak,masih tetap berkiprah di dunia musik. Dalam beberapa event musik saya selalu ikut bersama dengan Fariz baik sebagai pemandu acara konser-konsernya hingga road manager dadakan saat Fariz melakukan konser di daerah di luar Jakarta.Fariz juga sering menghubungi saya jika tengah melakukan proses kreativitas bikin lagu atau pun bikin album.Kita berdua kerap melakukan brainstorming yang seru.

Saya memberikan testimoni untuk album Fenomena Fariz RM yang digarap oleh Erwin Gutawa (Foto Denny Sakrie)

Saya memberikan testimoni untuk album Fenomena Fariz RM yang digarap oleh Erwin Gutawa (Foto Denny Sakrie)

Ketika Fariz merilis album Fenomena di tahun 2012 yang berisikan CD dan DVD,saya pun diminta untuk memberikan testimony terhadap karya dan sosok Fariz RM .Pada saat saya masih bekerja sebagai penyiar di Radio M9&FM Classic Rock Station,saya kerap mengajak Fariz siaran bareng membahas band-band klasik rock seperti Yes,Genesis,Traffic dan banyak lagi.Begitupula ketika saya jadi penyiar di FeMale Radio saya kerap mengundang Fariz sebagai partner siaran membahas musik mulai dari Earth Wind & Fire hingga Gino Vannelli.Fariz memang suka ngobrol dan bertukar fikiran.

Fariz RM di tahun 1980 saat rilis album Sakura (Akurama Record)

Fariz RM di tahun 1980 saat rilis album Sakura (Akurama Record)

Saya mengenal sosok  Fariz RM sekitar tahun 1979.Saat itu Fariz bersama Badai Band bikin konser di Gedung Olahraga Mattoanging Ujung Pandang .Terus terang saya sangat terpesona dengan pola permainan drum Fariz yang melakukan duet drum dengan Keenan Nasution.

Fariz RM

Fariz RM

Dahsyat sekali permainan drum Fariz.Setahun kemudian,Fariz merilis album Sakura yang kian membuat saya terkagum-kagum.Bayangkan,Fariz nyaris melakukan apa saja di album fenomenal itu,mulai dari bikin lagu,arransemen,nyanyi,main drum,bass,gitar hingga keyboard.Sejak saat itu saya mencatatkan diri sebagai penggemar Fariz RM. Konsep musiknya . Ada secercah atmosfer baru dalam musik Fariz yang disumbangkan pada khazanah musik Indonesia saat itu.Konsep musiknya telah menghela kredo musikal futuristik.Jatidiri musiknya kian mengkristal saat merilis album debut “Sakura” di tahun 1980.Pertengahan dasawarsa 80an Fariz kembali menggurat fenomena dengan eksperimentasi musik yang menghasilkan  musik lewat bantuan MIDI ,sebuah system programming yang mempermudah memainkan perangkat musik secara simultan dalam sebuah kendali.

Tahun 1979 saat Fariz RM bergabung sebagai drummer Badai Band

Tahun 1979 saat Fariz RM bergabung sebagai drummer Badai Band

Sejak awal bergelut di dunia musik , Fariz memilih memainkan musik apa saja  tanpa sekat genre sedikitpun.Fariz bermain genre pop,R&B,soul funk,blues,rock bahkan  jazz sekalipun .Dalam komunitas jazz Fariz peranh bersekutu dengan Candra Darusman hingga Jack Lesmana. Diparuh era 80an bersama Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan,Fariz ikut tergabung dalam Trio GIF. Pilihan bermusik semacam ini  setidaknya menjadikan pergaulan musik Fariz menjadi lebih luas dan lebar. Fariz bisa bermain dan berkolaborasi dengan pemusik mana saja. Fariz tetap konsisten dengan paradigma musiknya.Dia tetap menyeruak dalam kekinian yang secara lentur diadaptasinya dalam gaya bermusiknya yang tetap kukuh dan ajeg.

Dengan pergaulan musik yang luas ,mulai dari Jakarta hingga Bandung.justru membentuk sosok Fariz RM menjadi lebih open minded terhadap genre/subgenre musik apapun.

Di Jakarta, Fariz yang dulu tinggal di kawasan Jalan Maluku, Menteng kerap nongkrong di Jalan Pegangsaan Barat No.12 A, Menteng, rumah kediaman Keenan Nasution, penabuh drum Gipsy dan juga God Bless.

Di rumah yang kini telah berubah menjadi apartemen mewah itu dulu adalah tempat nongkrong anak band serta para simpatisannya. Fariz yang saat itu duduk di bangku SMP seusai pulang sekolah pasti tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan mampir ke Jalan Pegangsaan.

”Saya masih ingat si Bule (panggilan akrab Fariz) datang ke rumah masih menggunakan seragam sekolah. Bercelana pendek terus gebuk-gebuk set drum dan ngeband bareng Oding dan Debby, adik-adik saya,” ungkap Keenan Nasution yang pada 1977 meminta lagu karya Fariz “Cakrawala Senja” untuk dimasukkan ke album solo perdananya, Di Batas Angan Angan (1978).

Bahkan Chrisye kemudian mengajak Fariz RM yang saat itu duduk di bangku SMA Negeri 3 Setiabudi, Jakarta untuk bermain drums di album fenomenal Badai Pasti Berlalu. Jika kita bertanya soal ikhwal terjunnya Fariz ke dunia musik secara profesional maka pastilah dia akan menyebut nama Keenan dan Chrisye, dua pemusik Gipsy yang kediamannya hanya dibatasi tembok di bilangan Pegangsaan itu sebagai biang keladinya.

Nah, itu adalah komunitas musik yang dimasuki Fariz di Jakarta. Komunitas musik lainnya yang disambangi Fariz adalah Paris Van Java alias Bandung.

Bersama Fariz RM dan Oneng tahun 1990 (Dokumentasi Denny Sakrie)

Bersama Fariz RM dan Oneng tahun 1990 (Dokumentasi Denny Sakrie)

Seusai menamatkan pendidikan SMA di Jakarta, Fariz mendaftarkan diri ke ITB Bandung jurusan Seni Rupa. Hijrahlah Fariz ke Bandung untuk menuntut ilmu. Di Bandung Fariz bermukim di rumah saudara sepupunya yang juga anak band, namanya Triawan Munaf.

Triawan adalah salah satu pemain keyboards yang diperhitungkan dalam skena rock di Bandung antara lain pernah mendukung band Tripod United bersama Deddy Stanzah, lalu membentuk Lizzard bersama Harry Soebardja, kemudian direkrut Benny Soebardja di Giant Step menggantikan posisi Deddy Dorres.

Triawan juga dikenal sebagai pemain keyboard dari Gang of Harry Roesli. Berkat Triawan lah akhirnya Fariz RM diperkenalkan dengan Harry Roesli, Benny Soebardja hingga Hari Soebardja. Di luar kegiatan kuliahnya di ITB Bandung, Fariz pun mulai menyusup di komunitas musik Bandung. Di antaranya adalah nongkrong di kediaman Harry Roesli yang berada di Jalan WR Supratman 57 Bandung. Fariz lebur di komunitas musik yang dikembangkan Harry Roesli.

Dia mulai terlibat diskusi musik hingga jam session dengan Harry Roesli. Hal yang tak pernah dilupakan Fariz manakala Harry Roesli mengajarkan teknik bermain bass funk yang digagas oleh Larry Graham dari Sly and The Family Stones. Harry Roesli adalah salah satu pencabik bass funk terbaik di Bandung. Saat itu Harry Roesli tengah siap-siap meninggalkan Bandung untuk mengambil beasiswa studi musik di Amsterdam, Belanda.

m1
Menurut Fariz RM, Harry Roesli menitipkan Kharisma, grup vokal yang dibina dan dikelola Harry Roesli. Tentu saja Fariz bersuka cita mendapat mandat seperti ini dari Harry Roesli. Apalagi bagi Fariz dunia vocal groupbukan hal baru baginya. Saat masih duduk di bangku SMA 3 Setiabudi, Jakarta, Fariz RM tergabung dalam Grup Vokal SMA 3 Jakarta bersama rekan rekannya seperti Adjie Soetama, Addie MS, Raidy Noor, dan Iman Sastrosatomo. Prestasi Grup Vokal SMA 3 Jakarta ini memang patut diacung jempol lantaran pernah menggelar pertunjukan Opera dan berhasil menempatkan 3 lagu karya mereka sebagai finalis dalam 10 Besar ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia pada 1977.

Selain terlibat dalam kegiatan Kharisma Vocal Group, Fariz RM pun mulai sering diminta membantu band-band Bandung yang akan konser, misalnya menggantikan posisi drummer The Rollies, Jimmie Manopo yang berhalangan main, termasuk menggantikan saudara sepupunya Triawan Munaf yang harus meninggalkan formasi Giant Step untuk melanjutkan studi ke London, Inggris. Fariz akhirnya menjadi bagian skena musik Bandung saat itu.Uniknya kegiatan musik yang digeluti Fariz memiliki genre/sub-genre yang tak sama. Setidaknya Fariz berhasil memperlihatkan kemampuan bermain rock, blues, funk, soul hingga pop secara merata.

Benny Soebardja, dedengkot Giant Step menaruh kepercayaan soal musik pada Fariz RM untuk penggarapan dua album solonya yaitu, Setitik Harapan (1979) dan Lestari (1980). Di kedua album solo Benny Soebardja itu, Fariz bermain keyboards dan drums serta menulis lagu berikut aransemennya. Saat itu Fariz cukup dekat dengan Hari Soebardja, adik Benny yang juga ikut mendukung album solo kakaknya sebagai gitaris.

Pada 1979 Fariz RM diminta menjadi music director album solo Harie Dea, penyanyi dan penulis lagu dari Vocal Group Balagadona Bandung. Ini adalah untuk pertama kali Fariz berperan sebagai music director dalam penggarapan sebuah album rekaman. Musik album Harie Dea digarap oleh Fariz yang memainkan semua perangkat keyboards dan drums serta Hari Soebardja yang memainkan gitar, bass dan drum. Album Harie Dea ini diberi judul Santun Petaka.

Selain Hari Soebardja, Fariz juga bersahabat dengan Oetje F. Tekol (bass) dan Jimmie Manopo (drums) dari The Rollies. Untuk penggarapan album solo perdana Fariz bertajuk Selangkah Ke Seberang (PramAqua 1979), Fariz juga mengajak Oetje F. Tekol sebagai pencabik bass. Begitu pula ketika Fariz diminta menggarap album jazz milik penyanyi jazz Jacky, Gairah Baru, dia pun mengajak dua pemusik Bandung, yaitu Oetje F Tekol dan Hari Soebardja sebagai session musician-nya.

Perjalanan karir musik Fariz RM yang dimulai sejak tahun 1977 hingga sekarang ini bagai bianglala,sarat warna.Saya yakin Fariz tak akan meninggalkan atau menjauhi dunia musik.Karena kemampuan bermusik itu anugerah.Rasanya kita setuju jika ada yang menyebutkan bahwa profesi pemusik tak pernah mengenal kata pensiun.Selamat Ulang tahun Bule eh…..Fariz…….

Iklan

Mulai dari paruh era 60an ,lalu masuk  dasawarsa 70an hingga 80an  beberapa penyanyi Indonesia tercatat merekam album di Jerman Barat.Mulai dari kelompok jazz The Indonesian All Stars,Mogi Darusman,Vina Panduwinta serta kuartet Vanua Levu yang antara lain didukung dua penyanyi tenar Indonesia Duddy Iskandar dan January Christy.

Single Vanua Levu Shulu,Shululu

Single Vanua Levu Shulu,Shululu

Di tahun 1981 ada sebuah rilisan rekaman yang beredar secara internasional di Jerman Barat bertajukIsland Of Fantasy, sebuah album dengan materi musik crossover antara musik populer Hawaii dengan dikemas beat ala disko.Album ini berisikan sekitar 18 lagu .

vanua_levu-islands_of_fantasy

Ini ke 18 track album Vanua Levu :

Tracklist:

A1 Shulu, Shululu
Written-By – John Battes , Michael Zai
A2 Aloha Ohe
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
A3 Blue Moon
Written-By – R. Rodgers / Hart*
A4 Bali-Hai
Written-By – R. Rodgers / O. Hammerstein*
A5 Honolulu Love Song
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , N. Martinique*
A6 Suma Hama
Written-By – M. Love*
A7 Bananaboat Song
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
A8 Suki Yaki
Written-By – Ei Rokusuke , Nakamura Hachidai*
A9 Sleepy Lagoon
Written-By – E. Coates* , J. Lawrence*
B1 Jamaika Farewell
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B2 Islands Of Fantasy
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , N. Martinique*
B3 Hawaiian Rose (Danny Boy)
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B4 Only A Fool
Written-By – G. Kennedy*
B5 Island Of Dreams (There’s No More Corn On The Brassos)
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B6 Moonlight In Hawaii
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade*
B7 The Moon Of Manakoora
Written-By – A. Newman* , F. Loesser*
B8 Yellow Bird
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B9 Vanua Levu

Vanua Levu juga merilisnya dalam beberapa format vinyl single.

VVVVV

75 Tahun Bob Tutupoly

Posted: November 29, 2014 in Kisah, profil

Beberapa pekan lalu penyanyi populer Indonesia Bob Tutupoly menelpon saya,meminta alamat kediaman saya.”Saya mau bikin pesta ulang tahun yang ke 75.Datang ya Den” ucap Bob Tutupoly dengan suara yang ramah.
Wow ,Bob Tutupoly telah berusia 75 tahun.Rasanya baru kemarin saya yang masih duduk di bangku SMP menyimak suara om Bob Tutupoly menyanyikan Widuri,hamper saban hari baik di radio-radio maupun TVRI. Sejak kecil saya sudah akrab dengan suara dan lagu-lagu dari Bob Tutupoly melalui speaker turntable ayah saya.Yang saya ingat ketika saya duduk dibangku kelas 1 SD pada tahun 1969, saya telah mendengarkan Bob Tutupoly yang diiringi Enteng Tanamal menyanyikan Stone Free-nya Jimi Hendrix denganwarna suara yang soulful. Beberapa tahun kemudian suara Bob Tutupoly terdengar di semua gelombang radio menyanyikan lagu karya Ismail Marzuki “Tinggi Gunung Seribu Janji” yang lebih banyak dikenal orang sebagai lagu “Memang Lidah Tak Bertulang”.
Di usia 75 tahun,Bob Tutupoly tak terlihat letih meniti karir musiknya.Bob Tutupoly tetap ceria tanpa beban.Kehidupan hari tuanya jauh berbeda dengan tipikal seniman musik kita yang terlihat terlunta-lunta menjalani masa tua. Bob Tutupoly memiliki asset hari tua yang menjanjikan.Bahkan di tahun 2012 Bob Tutupoly merilis album solo dengan hits single “Melodi Cintaku” karya Younky Soewarno & Maryati. Bob Tutupoly juga kerap berkolaborasi dengan pemusik-pemusik yang usianya terpaut jauh.Misalnya di tahun 2005 band Mocca mengajak Bob Tutupoly berduet lewat lagu “This Conversation” dan “Swing It Bob”.

Lalu di tahun 2012 Bob Tutupoly berkolaborasi dengan Shaggydog di pentas pertunjukan Djakarta Artmosphere. Bob Tutupoly bisa berbaur dan bersenyawa dengan pemusik lintas generasi.
Ini justru mengingatkan saya pada Tony Bennet,penyanyi pop legendaries yang kerap melakukan kolaborasi dengan berbagai pemusik lintas genre dan lintas generasi.Terakhir,Tony Bennet yang telah berusia 88 tahun,melakukan kolaborasi duet dengan Lady Gaga yang kontroversial.
Bahwa pada akhirnya kita pun mahfum bahwa musik memang tak mengenal sekat usia,sekat genre maupun sekat generasi.
Jika kita telusuri perjalanan karir musik Bob Tutupoly,penyanyi yang dilahirkan 13 November 1939 memang bak bianglala, sarat warna.Bob Tutupoly memasuki ranah genre apapun.Mulai dari pop,jazz,hingga rock,soul funk dan R&B.
Karir musik Bob Tutupoly terbentang amatlah panjang..

“Tahun 1957 saya diminta mengisi acara Jazz di RRI Surabaya bersama Quartet Modern Jazz yang dipimpin Didi Pattirane.Saat itu kita mulai menyanyi dengan gaya The Hi-Lo’s hingga Four Freshmen” kisah Bob.Selain itu bersama Didi Pattirane juga,serta Loddy Item,ayahnya Jopie Item,Max Lee,kami tergabung dalam Band Bhineka Ria Surabaya.Band ini lalu ikut dalam event Festival band se Indonesia yang digelar di Gedung Ikada Jakarta tahun 1959.”Saat itu Bhineka Ria meraih juara 1 lho” kenang Bob Tutupoly. Dalam beberapa acara pesta,Bob Tutupoly tampil bersama Bubi Chen (piano) dan Jopie Chen (bass) dari The Chen Brothers.
Di tahun 1959 pula Bob merekam lagu lagu Maluku seperti “Sarinande”,”Mande Mande” di perusahaan rekaman milik Negara Lokananta yang ada di kota Solo.”Tapi rekamannya di RRI Surabaya” ujar Bob.Setahun kemudian Bob merampungkan rekaman di Irama milik perwira Angkatan Udara Soejoso Karsono menyanyikan lagu-lagu : Kopral Djono hingga Oto Bemo.Lalu Bob pindah kuliah di Bandung.”Disini saya bergabung dengan band Crescendo menghibur publik di Bumi Sangkuriang” ingat Bob Tutupoly.
Di tahun 1963 Bob bergabung sebagai penyanyi dalam kelompok The Jazz Riders yang didukung almarhum pianis Didi Tjia serta multi instrumentalis Bill Saragih.Kelompok elit jazz ini bermain di Hotel Indonesia Jakarta.
Di jelang akhir dasawarsa 60-an,Bob merekam suaranya di Remaco bersama iringan Pantja Nada-nya Enteng Tanamal,dan menghasilkan hits “Tinggi Gunung Seribu Djandji.

Bob Tutupoly tampil di TVRI bersama Udinsyach dan Gatot Soenjoto tahun 1975 (Foto Dokumentasi TVRI)

Bob Tutupoly tampil di TVRI bersama Udinsyach dan Gatot Soenjoto tahun 1975 (Foto Dokumentasi TVRI)

Tahun 1968 melalui label Remaco Bob Tutupoly merilis dua album cover masing-masing bertajuk “Dedicated To Dr.Martin Luther King” dan “Merci”
Di tahun 1969 Bob merantau ke negeri Paman Sam atas dukungan kelompok instrumental The Ventures,yang saat itu baru saja menyelesaikan konser di Jakarta.”Bob Bogle dari The Ventures yang tertarik mengajak saya untuk merekam album di AS” ujar Bob Tutupoly.
Antara tahun 1969-1971 Bob kerap melakukan pertunjukan di klab malam yang adadi LosAngeles bersama band The Midnighters.”Di tempat saya main,saat itu juga Al Jarreau sering tampil.Dia nyanyi sambil main gitar dan ditemani sebuah beatbox.Unik sih” kata Bob Tutupoly.
Saat itu pula Bob Tutupoly mendapat peluang rekaman di Reprise yang dimiliki Frank Sinatra.Bob dipersiapkan membuat single yang berisikan dua lagu :”I’ve Been Loving You Too Long” nya OtisRedding dan “Hello L.A.Bye Bye Birmingham” karya Delaney Bramlett dan Mac Davis..Namun ternyata rekaman itu akhirnya urung dirilis.
Di tahun 1972,Bob mendapat tawaran dari Ibnu Sutowo untuk bekerja di Ramayana Restaurant,yang dikelola Pertamina.Di situ Bob bertugas sebagai Public Realtion,manajer serta penghibur “Saya menyanyi,juga tampil sebagai MC” ungkap Bob.
Tahun 1976,Bob balik ke Indonesia untuk menikah.Kepulangannnya ditandai dengan kembalinya Bob ke Remaco.Diluar dugaan lagu “Widuri” karya Adriadie berhasil melambungkan namanya ke permukaan.”Terus terang Widuri lah yang banyak memberiku rezeki.Salah satunya ya rumah saya ini” kenang Bob.
Bob Tutupoly adalah artis musik yang tak hanya memiliki bakat luar biasa dalam musik, melainkan sosok perencana yang telah merancang perjalanan hidupnya secara seksama dan lentur.Bob Tutupoly bisa menyelusup sekaligus menyeruak kemana saja .Baginya tak ada kata pension bagi seorang seniman musik.Bermusik itu seolah takdir yang tak mungkir.
Mocca agaknya memahami pola kehidupan seorang Bob Tutupoly dalam berkesenian.Terlihat jelas dari deretan lirik yang ditulis Mocca tentang Bob Tutupoly dalam lagu bertajuk “Swing It Bob”.Dan Bob Tutupoly menyanyikan lagu ini dengan lepas tanpa beban :
Never Mind, Troubles That May Have Come
Just Go Along With The Tunes The Bad Are Playing
But Let s Go And Dance
Do The Tango Or A Mambo Jumbo I Don t Care
Do The Cha Cha Cha
Do The Tango
Do The Samba
Or Perhaps Play Something Sweet Slow And Nice Like A Waltz?
Naa I Prefer To Go Swinging
Swing It, Bob ……!!!!!

Saya terhenyak pagi ini mendapat berita duka cita tentang berpulangnya Frank Yudowibowo atau kerrap dipanggil Yudo.Almarhum adalah pemusik metal yang berasal dari Semarang.Dengan logat Jawa yang medok Yudo menghubungi saya pertama kali lewat inbox Facebook.

GButo

Dengan santun dia memperkenalkan band metal yang dibentuiknya sejak tahun 1995 Grind Buto.Menurut Yudo,band metalnya mendapat respon bagus di scenew metal Internasional.Dari cara bertuturnya saya menangkap kesan lelaki berambut gondrong ini memiliki tekad dan ambisi kuat untuk membawa band metalnya menembus dunia internasional.Ada kegigihan yang nyata yang saya tangkap dalam narasi yang dituturkan Yudo.Sejak memperkenalkan diri via inbox Facebook,kami saling tukar no telpon genggam.Yudo aktif menelpon saya dan mengajak bertukar pikiran.Bahkan kami sering membuat janji untuk ketemu,terutama saat Yudo tengah berada di Jakarta, tapi entah kenapa selalu ada kendala untuk bertemu.Di saat saya punya waktu,Yudo malah gak bisa,begitu juga sebaliknya.Kekagetan saya pagi ini semakin menggedor nurani,apalagi mengetahui bahwa almarhum sebetulnya punya jadwal manggung di Jakarta pada tanggal 30 Agustus 2014.
Saya masih menyimpan ,inbox Yudo pada tanggal 11 Juli 2013 yang ditujukan pada saya untuk pertamakali pada tahun 2013 silam .Ini inbox almarhum Yudo :

Denny Sakrie Dua

Salam kenal juga
Frank Yudowibowo
11/07/2013 14:44
Frank Yudowibowo

Ya Mas..kamu band metal dari Indonesia yg telah di kenal di dunia metal scene di luar negri mas..saat ini mau introduce band kami di lokal

Ya Mas..kami band metal dari Indonesia yg telah di kenal di dunia metal scene di luar negri mas..saat ini mau introduce band kami di lokal
Denny Sakrie Dua
11/07/2013 15:22
Denny Sakrie Dua

Ini no hp saya 0818417357
Frank Yudowibowo
11/07/2013 15:24
Frank Yudowibowo

Ok Mas Denny btw saat ini kami mau recording materi album kami terbaru di Westfall Recording di New York City USA.kami lagi cari bapak angkat yg mau danai..kira2 Mas Denny ada link ga ya? ato Mas Denny jd manajer band kami saja?

Dan inilah karya-karya metal peninggalan Frank Yudiwibowo bersama bandnya Grind Buto :

DISCOGRAPHY: 2013 “Mince Core” 3 way split Cd album released at Grindfather UK

2010 “In To The HELL” -Reherseals

2009 “EVILDEMIC” -Reherseals

2007 “FRONTLINE” reherseals

2004 “Welcome To Annihilation” Released by Bloodbath Record TOKYO JAPAN

2001 Tribute To Regurgitate Released by BLP Records Checz Rep/EUROPE

2000. Santa Is Satan SPLIT Cd with Murder Corporation/Deranged ( Sweden ) Released by PSE Records Malay

1999. SPLIT 7′ with Agathocles (Belgium) Released by Uxicon Record Belgium/EUROPE

1998 GRIND BUTO “The Malevolence” Released by GB Records

1997 GRIND BUTO “Extreme Damage” Released by GB Records

1996 GRIND BUTO “In Hell Beast From”

1995 BRUTAL SADISTIC “Savage Predator” – Reherseals

 

 

Akhirul kalam,selamat jalan saudaraku Frank Yudowibowo

Pesona Laya Pesulima

Posted: Mei 25, 2014 in profil

Saya pertama kali bertemu dengan putri kandung almarhum Broery Pesulima ini pada hari minggu 18 Agustus 2013 di Assembly Hall Jakarta Convention Center di event Kongres Diaspora Indonesia yang digagas Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Malam itu, Laya yang bernama lengkap Nabila Methaya Pesulima Putri bernyanyi diiringi permainan piano Abadi Soesman.”Saya sangat bangga malam ini diiringi oleh Om Abadi Soesman, teman papa dalam kelompok The Pro’s”. Putri Broery Pesulima ini tampaknya memang mewarisi bakat tarik suara dari sang ayah.Suaranya berkarakter.Laya memang layak diperhitungkan karirnya di masa depan.

Laya Pesulima Putri (Foto Denny Sakrie)

Laya Pesulima Putri (Foto Denny Sakrie)

Suara khas laya memang telah menghiasi soundtrack film layar lebar O My God karya sutradara Rako Prijanto lewat lagu Hilang yang ditulis oleh pianis jazz Nial Djuliarso dengan lirik yang digurat Venna Anissa.Menurut Laya, itulah debut nyanyi yang dilakukannya dalam bentuk rekaman.

Laya menetap di Bethesda, Maryland, Amerika Serikay , bersama saudara lelakinya, Indonesia Pesulima yang kerap dipanggil Don , dan ibunya, Wanda Irene Latuperisa. Di Amerika,Laya  kerap menyanyi di ajang-ajang amatir. Di sekolahnya, Walt Whitman High School, siswa tahun kedua tersebut menjuarai lomba tarik suara Walt Whitman Idol.

 

Dalam percakapan singkat dengan saya.Laya Pesulima mengaku, tertarik  berkecimpung di dunia musik terutama olah vokal, lantaran terilhami  oleh sepak terjang sang ayah  Broery Pesulima .

 

 

Sewaktu  masih duduk dibangku SD pada era 70an saya selalu menonton penampilan Zulkarnai pemusik tuna netra yang bernyanyi sambil bermain gitar di  layar kaca TVRI. Penampilan Zulkarnain yang berdarah Minangkabau ini cukup memukau dan unik karena dia menyanyi selalu dibumbui dengan menghadirkan semacam efek suara dari mulutnya serta memukul-mukul tubuh gitar untuk memperoleh efek bunyi  perkusi.Terkadang Zulkarnain pun meniup harmonika.Jadilah Zulkarnain sebagai one man band yang memikat pemirsa televisi.

Piringan Hitam Zulkarnain yang dirilis label PopSound Phillips Singapore (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Zulkarnain yang dirilis label PopSound Phillips Singapore (Foto Denny Sakrie)

Penampilan Zulkarnain ternyata tak hanya memikat penonton Indonesia melainkan juga ke negeri jiran Malaysia dan Singapore.Tak heran jika perusahaan rekaman Phillips PopSound di Singapore tertarik untuk merekam album Zulkarnain yang saat itu diiringi oleh Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin lewat album bertajuk Aneka Minang.

Album "Keajaiban" Zulkarnain pada label PopSound Singapore

Album “Keajaiban” Zulkarnain pada label PopSound Singapore

Dilahirkan di Bukit Tinggi tanggal 16 Juli 1938 dari keluarga Muhammad Zain.Di usia 4 tahun Zulkarnain mengalami panas dan demam. Menurut sang ayah Zulkarnain terkena penyakit stuip., dimana akan mengurangi daya penglihatan seseorang.Di saat memasuki usia 12 tahun,Zulkarnai mengalami kebutaan.

Sejak kecil bakat Zulkarnain memang telah terlihat jelas.Pada usia 5 tahun,Zulkarnain mulai suka meniru-niru lagak orang bernyanyi..Setahun setelah mengalami kebutaan,Zulkarnain untuk pertamakali tampil menyanyi di depan corong RRI Bukit Tinggi Sumatera Barat sambil memetik gitar akustik.Saat itu Zulkarnain mulai dikenal dengan sebutan Band Tunggal.Apalagi Zulkarnain memang anak semata ayang alias anak tunggal.

Untuk ketrampilan memetik gitar,Zulkarnain yang berzodiak Cancer ini belajar pada guru gitar yang bernama Adnil Moeis.Seterusnya Zulkarnain belajar sendiri termasuk mempeljari banyak repertoar lagu mulai dari lagu-lagu Indonesia,Mandarin,Inggris,India,Jepang hingga ke lagu-lagu daerah.Prestasi yang pernah dicapai Zulkarnai adalah pernah menjadi juara Bintang Radio RRI Bukit Tinggi sebanyak 11 kali serta merekam album di Singapore.

Akhirnya Zulkarnain memutuskan untuk mencari peruntungan dalam dunia hiburan ke Jakarta ditemani kedua orang tuanya setelah sebelumnya selama sekitar 2 bulan lebih berada di Yogyakarta untuk belajar huruf Braille Arab agar bisa mengaji dan ikut dalam lomba mengaji Musabaqah Tilawtil Qur’an (MTQ).

Di Jakarta Zulkarnain numpang di rumah penyanyi pop wanita asal Padsang Elly Kasim.Melalui bantuan Elly Kasim, Zulkarnain memperoleh peluang untuk tampil di layar kaca TVRI. Sejak itulah sosok Zulkarnain mulai dikenal luas dimana-,mana.

Sayangnya, rekam jejak Zulkarnain seperti hilang ditelan zaman.Hampir tak satu pun orang yang mengetahui atau setidaknya mengingat kiprah Zulkarnain dalam dunia hiburan.

Perkenalkan…… Yanti Bersaudara

Posted: Mei 25, 2014 in profil

Yanti Bersaudara adalah 3 gadis bersaudara dari keluarga Hardjakusumah dari Bandung. Terdiri atas Yani,Tina dan Iin.Mereka ditemukan oleh Hamid Gruno seorang pengarah acara TVRI di paruh era 60an.

Yanti Bersaudara

Yanti Bersaudara

Yanti Bersaudara kemudian muncul di acara musik TVRI bertajuk Gaja dan Irams dengan diiringi band Medenaz yang dipimpin Dimas Wahab. Saat itu Yanti Bersaudara membawakan lagu Abunawas dan Kisah Setangkai Daun karya Yessy Wenas. Soejoso Karsono atau Mas Jos lalu mengajak Yanti Bersaudara rekaman album debutnya di labelnya Irama. Di album debutnya Yanti Bersaudara diiringi kembali oleh Orkes Medenasz pimpinan Dimas Wahab.

Di album debutnya sang kakak Samsudin Hardjakudumsh menuliskan lagu2 seperti Pesan Ibu,Purnama dan Irama,Badju Merah Muda dan Lembajung.Lagu di trackv1 adalah karya Koswara bertajuk Gumbira..Yessy Wenas juga menulis lagu Lampu Aladin,Tiada,Bilakah,Menuai Padi.