Archive for the ‘Sejarah’ Category

Beach Girls bukanlah jawaban Indonesia atas The Beach Boys, tapi band wanita ini cukup diperhitungkan setelah Dara Puspita membuka peluang band wanita di permukaan musik Indonesia.Band Beach Girls dimotori oleh Anny Kusuma.Salah satu personilnya kemudian menikah dengan Oma Irama.Bahkan Veronica Timbuleng di paruh era 70an juga membentuk Soneta Girls.

1901774_10152595678263285_2242708098184719977_n

Tak berlebihan barangkali jika saya menyebut bahwa keluarga Widjaja adalah dinasti industri musik Indonesia yang telah merengkuh lebih dari 5 dekade konstelasi musik popular di Indonesia.Semuanya berawal dari gagasan dan kerja keras Jamin Widjaja yang telah merintis uasaha dibidang rekaman musik Indonesia sejak akhir 50an dan berkembang terus melalui era 60an,70an,80an,90an hingga era millennium ini.Dimulai dengan label Bali Record,Canary Record pada akhir era 50an hingga era 60an.Berlanjut dengan Metropolitan Studio pada akhir 60an hingga awal 70an,lalu berganti nama menjadi Musica Studios hingga saat sekarang ini. Ini merupakan prestasi tersendiri,dimana kesinambungan usaha industri musik yang mereka jalani tak lekang digerogoti waktu, serta menghadapi begitu banyak badai,kemelut serta ,pasang surut  industri musik itu sendiri.Ketika sebagian besar bisnis keluarga dalam industri mulai bertumbangan, keluarga Widjaja masih tetap mampu mempertahankan eksistensi.Pun ketika sekarang ini industri music tengah didera kesulitan paling dalam, mulai dari menggelegaknya pembajakan serta transisi paradigm musik dari era fisik hingga digital sekarang ini.

Jamin Widjaja atau kerap dikenal dengan panggilan Amin Cenglie tengah di studio Musica pada paruh era 70an bersama almarhum Idris  Sardi dan Grace Simon (Foto dokumentasi Musica Studios)

Jamin Widjaja atau kerap dikenal dengan panggilan Amin Cenglie tengah di studio Musica pada paruh era 70an bersama almarhum Idris Sardi dan Grace Simon (Foto dokumentasi Musica Studios)

Sebetulnya usaha niaga keluarga Widjaja adalah kopi, namun salah satu yang menyempal adalah Jamin Widjaja yang ternyata memiliki hobi elektronik dan menyukai musik. Amin memulai usaha dengan membuka gerai

elektronik dan distributor album rekaman yang berada  di kawasan Pasar Baru.Dari sinilah cikal bakal, dimulainya  sejarah panjang industri rekaman terbesar di Indonesia. Gerai  elektronik tersebut berdiri pada awal tahun 1961 dengan nama toko Eka Sapta.Sebelum membuka gerai elektronik,pada akhir era 60an Amin sebetulnya telah membuka usaha distributor rekaman musik dengan nama Bali Record dan Canary Recording.

Jamin Widjaja sejak kecil telah bersahabat dengan seniman serba bisa Bing Slamet.Dari Bing Slamet pula Amin lalu berkenalan dengan sederet pemusik papan atas lainnya seperti  Ireng Maulana, Enteng Tanamal dan Idris Sardi. Pergaulan di seputar orang musik itulah yang pada akhirnya menjadi inspirator lahirnya nama band Eka Sapta. Sebagai pemilik toko elektronik dan distributor rekaman yang ikut membangun band Eka Sapta, Amin bergerak lebih jauh dengan mendirikan perusahaan rekaman sendiri. Pada awalnya ia meminjam alat rekaman milik perusahaan Remaco, membuat rekaman di Singapura dan membangun studio rekaman sendiri dengan nama PT Warung Tinggi di kawasan Warung Kopi Jakarta. Perusahaan ini pada awalnya memproduksi sejumlah rekaman, satu diantaranya adalah album Titiek Puspa. PT Warung Tinggi inilah yang merupakan embrio berdirinya PT Metropolitan Studio pada tahun 1968. Hoki Amin Cengli – ayah 6 anak dan istri Lanni Djajanegara itu – kian berkembang. Pada awalnya memproduksi rekaman band Eka Sapta, karya lagu dan suara almarhum Bing Slamet, A. Riyanto dan sejumlah rekaman lain dalam bentuk piringan hitam (PH) dan kaset. Seiring dengan sukses debut rekaman tersebut, pada Oktober tahun 1971, Amin mengubah nama PT Metropolitan Studio menjadi PT Musica Studio’s dalam bentuk akte pendirian perusahaan rekaman formal.

Sejak saat itulah berlangsung pembenahan perangkat lunak dan perangkat keras perusahaan rekaman ini, misalnya dari jumlah studio rekaman yang hanya 2 buah dengan masing-masing 4 tracks pada tahun 1968 menjadi 8 tracks pada tahun 1979, berkembang lagi menjadi 16 tracks pada 1981 dan 24 tracks pada tahun 1983.

Logo khas Musica Studios

Logo khas Musica Studios

Saat sekarang  terdapat sekitar 5  studio rekaman yang terletak di kompleks PT Musica Studio Jl. Perdatam Pasar Minggu Jakarta Selatan . Sebagai perusahaan rekaman terbesar di Indonesia, Musica Studio’s segera melakukan inovasi dalam pola kerja manajemen produksi. Sumber daya manusianya ditingkatkan, kualitas produksi album rekaman diperbesar. Sewaktu Jamin Widjaja meninggal dunia pada bulan Agustus 1979, istrinya Ny. Lanni Djajanegara bersama 4 dari 6 anaknya – mengambil alih kendali, menjadi tulang punggung ‘kerajaan bisnis’ rekaman PT. Musica Studio’s. Empat orang putera-puterinya itu adalah Sendjaja Widjaja, Indrawati Widjaja, Tinawati Widjaja dan Effendy Widjaja. Di bawah kuartet pekerja rekaman bertangan dingin ini, PT Musica Studio’s berkembang bagai kerajaan musik raksasa di Indonesia, yang berhasil mengantar orang-orang musik muda menjadi artis tenar di bumi Indonesia. Sebelum itu, PT Musica Studio’s juga didukung oleh keluarga Widjaja lainnya, yaitu Seniwati Widjaja dan Sundari Widjaja.

Sendjaja Widjaja kemudian didapuk menjadi pengganti asang ayah sejak tahun 1979.Kini, tampuk Musica Studios dikendalikan oleh Indrawati Widjaja yang memulai karirnya di dalam perusahaan keluarga ini sebagai manajer marketing.

18 Juli 2014 lalu TV One mewawancara saya untuk acara Tempo Hari, sebuah acara yang merekam jejak sejarah.Acara ini kabarnya ditayangkan setiap hari rabu pagi jam 9.Mereka ingin mengangkat kiprah orang-orang Belanda Depok dalam kiprah Internasional.Dan salah satu yang sukses berkarir secara internasional pada era 60an adalah sebuah duo yang mengikuti gaya The Everly Brothers yaitu The Blue Diamonds.The Blue Diamonds mencatat reputasi internasional pada saat singles Ramona yang merupakan cover atas lagu yang pernah dibawakan Dolores Del Rio dalam film “Ramona”  di tahun 1927 berhasil menembus peringkat atau chart ke 72 dalam Billboard Hot 100 Singles Chart.

Duo The Blue Diamonds

Duo The Blue Diamonds

Saya sedang diwawancarai TV One tentang The Blue Diamonds untuk acara Tempo Hari (Foto Ekky  Imanjaya)

Saya sedang diwawancarai TV One tentang The Blue Diamonds untuk acara Tempo Hari (Foto Ekky Imanjaya)

The Blue Diamond memang lebih banyak ,dalam karir musiknya, menyanyikan atau menginterpretasikan lagu-lagu orang yang sebelumnya telah menjadi populer diantaranya adalah lagu milik The Everly Brothers bertajuk Till I Kissed You yang dinyanyikan ulang The Blue Diamonds pada tahun 1959.

Dua bersaudara Ruud dan Riem dilahirkan di Jakarta pada era 40an .Ruud DeWolf dilahirkan pada (12 May 1941  dan telah meninggal dunia pada tanggal 18 December 2000.Adiknya yang bernama Riem DeWolf  pada tanggal 15 April 1943.

Lalu pada tahun 1949 keluarga mereka hijrah ke negeri Belanda.Di Belanda lah karir musik duo ini melesat secara pesat. Saat remaja The Blue Diamonds mengikuti audisi penyanyi yang dilakukan oleh label rekaman terbesar di Belanda yaitu Phillips. Tahun aktif dan keemasan The Blue Diamonds berlangsung antara tahun 1959 -1971.

Harmoni vokal Ruud dan Riem memang sangat khas.Walaupun awalnya mereka adalah follower The Everly Brothers, namun seiring berjalannya waktu, The Blue Diamonds justru memiliki karakter yang sangat kuat.Meskipun lebih cenderung menyanyikan lagu-lagu cover version,namun The Blue Diamonds seolah memberi sukma yang berbeda dengan versi aslinya. Bahkan konon,The Everly Brothers saat ke Belanda sempat menemui The Blue Diamonds dan meminta agar Ruud dan Riem tidak lagi mengcover lagu-lagu The Everly Brothers.Kenapa ? Karena The Everly Brothers menyebutkan bahwa versi The Blue Diamonds justeru lebih  disukai orang. Entah benar atau tidak, tapi kenyataan itu memang tersimak jelas saat The Blue Diamonds mengcover lagu-lagu populer milik orang lain.

Mus Mualim, Mualim Musik

Posted: Mei 25, 2014 in Sejarah, Sosok

Jika musik itu kapal, maka Mus Mualim tak syak lagi adalah mualim musik yang mengarahkan musik ke pelbagai penjuru mata angin.Tamsil kata yang saya paparkan ini mungkin tepat untuk menggambarkan posisi seorang Mus Mualim dalam konstelasi musik populer di negeri ini.

Mus Mualim mengarahkan musik Tiga Dara Sitompul di era 60an

Mus Mualim mengarahkan musik Tiga Dara Sitompul di era 60an

Lalu siapakah sosok Mus Mualim ?

Mari kita telusuri hikayat kehidupannya.

Mus  Mualim saat masih berusia belia pernah menjadi guru mengaji di kampungnya, Cirebon. Ayah Mus Mualim  adalah pedagang barang bekas.

Lelaki yang memiliki bakat musik ini dilahirkan dengan nama Muslim di Bandung 12 Februari 1935.

Suatu ketika  Mus Mualim  menemukan sebuah gitar tua di atas tumpukan barang bekas dagangan ayahnya. Berbekal Dengan gitar usang  itulah Mus Mualm a mulai mempelajari musik dengan tekun. Setelah pandai memetik gitar, kemudian ia beralih belajar bermain bass dan bergabung dengan sebuah grup orkes keroncong yang sering tampil di RRI Cirebon. Mus juga  sempat belajar piano secara gratis dengan seorang guru berkebangsaan Belanda, Namun tidakk berlangsung lama karena saat itu Mus Mualim tidak memiliki piano dan sang guru keburu balik ke negaranya.

Menjelang penyelenggaraan kompetisi  Bintang Radio di Cirebon, pemain piano yang bertugas mengiring lomba tersebut menghilang dan pimpinan orkes langsung memilih Mus Mualim  sebagai pemain piano pengganti. Setelah dilatih secara spartan selama dua bulan, akhirnya Mus Mualim tampil juga sebagai pianis. Sejak saat itu memperdalam ketrampilannya memainkan piano.Sejak itu pula  khalayak mulai mengenalnya sebagai seorang pianis.

Pada awal tahun 1950-an, Mus Mualim  pindah ke Jakarta atas ajakan gitaris  Sadikin Zuchra  . Mendengar berita bahwa  pianis jazz bernama Nick Mamahit akan tampil di sebuah konser yang diselenggarakan di RRI Jakarta, dengan semangat yang melup-luap Mus Mualim datang ke tempat pertunjukkan tersebut dengan tujuan  agar dapat melihat langsung  gerakan jari  jemari “jagoan” gaya progresif lulusan sekolah musik Belanda itu.

Mus Mualim yang mengidolakan pianis jazz  Duke Ellington ini kemudian mulai tekun  memperdalam jazz sejak tahun 1961 dan mulai tampil sebagai aranger Orkes Simfoni Radio Jakarta. Bersama Bubi Chen, ia membuat rekaman jazz, dan bersama Benny Mustapha membentuk band populer dengan nama Mus Mustapha, sempat juga membuat album rekaman mengiringi Sitompul Bersaudara dibawah label Irama milik komodor Soejoso Karsono atau dikenal dengan panggilan Mas Jos.

Memasuki dasawarsa 60an, Mus Mualim mulai berkubang dalam industri rekaman musik . Bermula  sebagai musical supervisor Studio Piringan Hitam Irama pada tahun 1963 dan menjadi music director sederet rekaman musik populer yang dirilis label Irama.

Mus Mualim juga pernah menyelenggarakan acara-acara jazz beberapa kali di ITB pada tahun yang sama. Berturut-turut membuat piringan hitam sendiri, serta menghasilkan banyak album rekaman dalam kurun waktu 1962-1969.

Pada tahun 1965, membentuk Badan Kerjasama Artis dengan Kostrad bernama BKS-Kostrad dan ia memangku jabatan Wakil Ketua.

Pada masa Orde Lama, musik jazz menjadi salah satu kesenian yang dibantai oleh PKI/Lekra. Namun Mus Mualim malah tak gentar  membuat konser jazz pertama pada tahun 1965, di kampus Universitas Indonesia.

Dalam Expo 1970 di Osaka, Jepang, Mus dipercaya memimpin grup Indonesia Enam yang terdiri dari Maryono (saksofon), Sadikin Zuchra (gitar), George “Tjok”  Sinsoe (bass), Benny Mustapha (drum), Munir Mus, Idris Sardi (biola), dan Mus Mualim sendiri sebagai pianis sekaligus sebagai penata musik.Penampilan Indonesia Enam mencuri perhatian penonton terutama saat membawakan lagu Bajing Luncat dalam ramuan jazz yang memikat.

Ketika TVRI baru lahir, di sekitar tahun 1962, Mus Mualim  memegang jabatan sebagai koordinator artis musik. Juga bertugas menyiapkan aransemen musik bagi musisi yang akan tampil.

Bersama Jack Lesmana, Mus  Mualim menggelar acara yang diberi judul Pojok Jazz. Selain memainkan musik jazz, ia pernah menjadi sutradara film Bawang Putih serta membuat music score beberapa film nasional seperti  Pelabuhan, The Big Village, Hidup, Bintang Kecil (1963), Di Balik Cahaya Gemerlapan, Minah Gadis Dusun, Menyusuri Jejak Berdarah (1965), Cinta dan Air Mata (1970), Ambisi (1973), Inem Pelayan Seksi (1976) dan masih banyak lagi lainnya.

Mus Mualim tak hanya berkutat dengan musik pop dan jazz, tapi juga sempat melampiaskan obsesinya manggung bersama kelompok musik rock asal Pegangsaan Menteng Gipsy di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1971.Kolaborasi itu mendapat pujian terutama saat Mus Mualim dan Gipsy membawkan lagu tradisonal “Es Lilin”.

Di paruh era 70an,Mus Mualim bersama sang isteri Titiek Puspa menggarap operette Lebaran di TVRI.

Bintang Radio bisa dianggap sebagai ajang kompetisi  pertama yang tumbuh di Indonesia dalam upaya mencari bakat-bakat dalam dunia seni suara.Kompetisi seni suara ini digagas oleh Radio Republik Indonesia. Acara Bintang Radio pertama kali diadakan pada tahun 1951 dalam rangka memperingati Hari Radio pada tanggal 11 Desember ,  dengan melombakan 3 (tiga)  kategori jenis lagu yaitu Keroncong,Seriosa dan Hiburan. Pada saat itu musik pop kerap disebut sebagai musik Hiburan.

Setelah menjadi juara Bintang Radio,penyanyi Sam Saimun mendapat tawaran rekaman

Setelah menjadi juara Bintang Radio,penyanyi Sam Saimun mendapat tawaran rekaman

Elemen utama yang menjadi penilaian Bintang Radio ini adalah kemampuan vokal secara prima dan ekspresi bernyanyi.Saat itu kemampuan menyanyi secara Golden Voice  adalah tuntutan utama dan mutlak.Tak heran jika kualitas vokal para penyanyi tempo dulu sangat unggul dan bernas.

Bing Slamet juara Bintang Radio tahun 1953

Bing Slamet juara Bintang Radio tahun 1953

Presiden Soekarno bahkan menaruh harapan yang sangat tinggi terhadap penyelenggaraan Bintang Radio ini. Menurut Bung Karno, Dalam tingkatan revolusi seperti sekarang ini para bintang radio umumnja seniman seniwati radio diperlukan guna  membina dan  membentuk apresiasi musik  jang sehat dan baik.

Juara-Juara Bintang Radio Tahun 1959.

Juara-Juara Bintang Radio Tahun 1959.

Mereka termasuk  seniman jang harus mengembangkan music revolusioner melawan  pengaruh asing jang dekaden.Lagu-lagu jang didengungkan  haruslah lagu-lagu jang membawa  kepribadian kita  .

 

Penyanyi penyanyi yang berhasil mengukir prestasi di ajang Bintang Radio ini mulai dari era 50an hingga 70an  antara lain adalah Sam Saimun,Bing Slamet,Norma Sanger,Ping Astono,Pranadjaja,Ade Ticoalu, Mariati,Waldjinah,Ivo Nilakrisna,Masnun Satoto,Toto Salmon,Rose Pandanwangi,Sylvia Then,Ismijati,FX Rusmin,,Dedy Tupamuhu,Lies Sidik,,Benno Tatuhey,Rusli, Abdullah Sidjaja,Titiek  Puspa,Eddy Silitonga,Andi Meriam Mattalatta,Hetty Koes Endang,Ira Puspita,Murtini Suharto,Yan Berlin  dan masih banyak lagi.

Sebagian besar penyanyi-penyanyi yang telah mengukir prestasi di ajang Bintang Radio ini kemudian melangkah ke studio rekaman dan menghasilkan album rekaman melalui label-label rekaman terkemuka saat itu seperti Irama,Lokananta,Mesra dan Remaco.

Para Juara Bintang Radio era 50an Toto Mudjiharto,Sam Saimun dan Bing Slamet

Para Juara Bintang Radio era 50an Toto Mudjiharto,Sam Saimun dan Bing Slamet

Ini adalah jenjang yang menghantar mereka ke jenjang ketenaran.Walaupun harus diakui bahwa tak semuanya berhasil bergelimang dalam ketenaran .Hanya beberapa nama yang bisa tercatat meraih keberhasilan dalam industri rekaman diantarnya Sam Saimun,Bing Slamet,Waldjinah,Ivo Nilakrisna.Norma Sanger,Titiek Puspa,Eddie Silitonga,Hetty Koes Endang hingga Andi Meriem Mattalatta.

Memasuki era 70an ajang Bintang Radio semakin memperluas ruang geraknya setelah bersinergi dengan TVRI yang kemudian mengubah nama menjadi Bintang Radio dan Televisi sejak tahun 1974 . Bahkan di tahun 1976, ajang ini semakin meluaskan jangkauan peminatnya dengan mengadakan Pemilihan Bintang Radio dan Televisi Remaja yang kemudian menghasilkan nama-nama peraih juara seperti Harvey Malaiholo,Rafika Duri,Sundari Soekotjo,Binu N Dalip,Lex’s Trio,Pahama,Soraya Togas,Nouval Trio.Acara kompetisi vokal ini terus berlanjut hingga ke era 80an yang menghasilkan para juara seperti Sandro Tobing,Ricky Johannes,Trio Libels dan masih sederet panjang lainnya.

Harvey Malaiholo dan Rafika Duri,Juara Bintang Radio Remaja Tahun 1976 (foto Martha Boerhan)

Harvey Malaiholo dan Rafika Duri,Juara Bintang Radio Remaja Tahun 1976 (foto Martha Boerhan)

Sejak memasuki era 1990an hingga 2000an  para juara ajang Bintang Radio dan Televisi tak lagi terdengar gaungnya.Fenomena kompetisi nyanyi  yang dimulai sejak tahun 1951 ini mulai tergeser oleh munculnya ajang serupa yang  bermunculan di stasion TV Swasta misalnya acara Asia Bagus maupun Cipta Pesona Bintang. Acara kompetisi nyanyi ini kian membahana di era 2000an terutama karena konsep acaranya tak hanya mencari bakat bernyanyi tapi dibumbui dengan drama reality show.Bahkan acara seperti Akademi Fantasi Indosiar,Indonesian Idol,X Factor hingga The Voice yang merupakan program berlisensi ini juga menyertakan penonton sebagai voter melalui medium layanan pesan pendek atau SMS.

Walaupun demikian RRI hingga kini tetap menyelenggarakan kompetisi Bintang Radio.Di tahun 2013, final Bintang Radio berlangsung di Papua dan menghasilkan juara yaitu Bening Septaria dan Priyo Renandi.


Sejak tahun 1974 Bintang Radio dikembangkan lagi dengan bersinergi dengan TVRI menjadi Bintang Radio & Televisi.Dua tahun berselang di tahun 1976 acara lomba menyanyi ini dikembangkan lagi untuk peserta remaja dengan nama Bintang Radio dan Televisi Remaja. Adapun para juaranya antara lain Harvey Malaiholo,Rafika Duri,Lex’s Trio,Pahama hingga Trio Libel’s di era 1980an.

Selain itu sejak era 70an juga ada ajang Pop Singer dan Festival Penyanyi Pop Indonesia yang menghasilkan sederet penyanyi berbakat seperti Broery Marantika,Grace Simon,Hetty Koes Endang,Tina Roy,Deddy Damhudi,Ira Puspita dan banyak lagi.

Para juara yang muncul dari ajang lomba nyanyi ini seanjutnya mendapat peluang rekaman di berbagai perusahaan rekaman.Bintang Radio jelas merupakan tiket bagi penyanyi yang ingin mengembangkan karir dalam industri rekaman di Indonesia.Hal yang kelak kemudian diikuti dengan munculnya acara-acara semacam ini di berbagai TV Swasta sejak era 90an seperti Cipta Pesona Bintang,Asia Bagus,Akademi Fantasi Indosiar,Indonesian Idol,Mama Mia,X Factor atauThe Voice.

 

 

100 Pencipta Lagu Indonesia Terbaik

Posted: Januari 30, 2014 in Sejarah, Sosok
 

           Rhoma Irama

RI

Rhoma Irama adalah sosok pemusik  pembaharu dalam musik dangdut diantaranya memasukkan elemen rock dalam sajian musiknya sejak tahun 1974 lewat hits terbesarnya Begadang.Sekitar 700 lagu telah ditulis Rhoma Irama dari kurun waktu 1970 hingga saat sekarang ini. Menurut William H. Frederick, doktor sosiologi Universitas Ohio, Amerika Serikat  yang meneliti tentang kekuatan popularitas serta pengaruh Rhoma Irama pada masyarakat dalam telaah ilmiah  bertajuk “Rhoma Irama and the Dangdut Style : Aspects of Contemporary Indonesia Popular Culture” pada tahun 1982, menulis : Since much of Oma  songwriting was leading in escapably toward both storytelling and moralizing, he was naturally intrigued with the notion of integrating story line more closely with the music, and making of the whole something
more “serious.”.
Pesan moral serta kritik sosial  memang banyak ditemui dalam lirik-lirik lagu karya Rhoma Irama  seperti “Begadang”,”Darah Muda”,”Hak Azasi”,”,Adu Domna”,”Rupiah”,”Judi” dan masih sederet lagu-lagu lainnya.Namun Rhoma juga piawai menulis lagu bertema romansa seperti “Kegagalan Cinta”,”Syahdu”,”Bahtera Cinta” maupun “Dawai Asmara”.

 

      Yovie Widianto

YW

       Hitmaker kelahiran 21 Januari 1968 ini unggul dalam menuturkan narasi cinta dalam karya-       karyanya.Konon kabarnya hampir setiap lagu yang ditulisnya berdasarkan cerita nyata.Tapi yang jelas lagu-lagu karya Yovie banyak meluluhkan rasa pendengarnya, entah itu saat dibawakan bersama kelompoknya Kahitna atau Yovie and The Nuno maupun yang dinyanyikan banyak penyanyi mulai dari Ruth Sahanaya, Dea Mirella,Chrisye,Glenn Fredly,Audy,Rio Febrian,Hedi Yunus,Yana Julio,Pinkan Mambo,Rida Sita Dewi,Lingua,Astrid ,Bening,Monita Tahalea,Delon,Ihsan   hingga Rossa.

 David Foster adalah pemusik yang banyak mengilhami Yovie Widianto saat mulai memilih berkarir di dunia musik pop pada tahun 1986.Menurut Yovie,David Foster itu memiliki kepekaan luarbiasa dalam menulis lagu serta saat menjadi produser musik. Disamping itu Yovie pun mengakui banyak meraup ilmu musik pada Elfa Secioria.Tahun 2005, Yovie Widoanto  merilis album A Portrait of Yovie, kumpulan lagu-lagu terbaiknya yang dibawakan oleh berbagai penyanyi sohor dengan berbagai karakter.Album ini memang mengacu pada gagasan yang dilakukan David Foster.

      

     Ian Antono

Ian Antono (Foto NinoyNine)

Ian Antono (Foto NinoyNine)

Bermula dengan menulis lagu-lagu bernuansa rock untuk grupnya sendiri God Bless di tahun 1976, lalu merambah menulis lagu bergaya pop  hingga dangdut.Gitaris bernama lengkap Jusuf Antono Djojo yang dilahirkan di Malang  29 Oktober 1950 telah menulis banyak hits mulai dari Gadis Binal (God Bless),Biarawati (Sylvia Saartje) hingga Neraka Jahanam (Duo Kribo) di era 70an.

Sejak itu karya-karya  Ian Antono yang juga sempat membentuk Gong 2000,  mulai sering dibawakan oleh banyak penyanyi dan berhasil menjadi hits diantaranya Nicky Astria,Achmad Albar,Berlian Hutauruk,Hetty Koes Endang,Ikang Fawzi,Dolf Wemay,Anggun C Sasmi, hingga Iwan Fals.Ian Antono bahkan menulis lagu bergaya dangdut “Zakia” yang sukses dinyanyikan Achmad Albar pada tahun 1979. Dari sekian banyak lagu-lagu karya Ian Antono,lagu yang monumental adalah “Panggung Sandiwara” yang ditulisnya bersama sastrawan Taufiq Ismail sebagai penulis lirik.

Katon Bagaskara.

Puitis dan romantik adalah penanda sebagian besar lirik-lirik lagu yang ditulis Katon Bagaskara.Sebagian besar lagu-lagu karya lelaki kelahiran Magelang 14 Juni 1966 ini memang bermuara pada tema-tema romansa yang menggugah dengan barisan kata-kata bak pujangga.Katon kerap mengangkat thesaurus yang sudah jarang dipakai lagi dalam penulisan lirik ke dalam lirik-lirik lagunya.Sejak kecil Katon memang menggemari puisi.Ketika duduk di kelas IV SD Katon telah menulis lagu untuk mengenang kepergian sang kakek tercinta dengan menggunakan piano kecil.Setelah belajar gitar pada Andre Manika  kakaknya, Katon mulai terpicu untuk menulis lagu.Katon mengaku terinspirasi dengan penulisan lirik-lirik lagu Ebiet G Ade disamping mengagumi karya-karya Fariz RM. Keintiman Katon Bagaskara pada  puisi secara langsung banyak  memberi andil dalam  pola penulisan lagu-lagunya.Karya Katon yang monumental adalah Negeri Di Awan.

 

Yockie Surjoprajogo

Yockie Surjoprajogo

Yockie Surjoprajogo

Tak hanya piawai memainkan keyboards,tapi Yockie Surjoprajogo adalah sosok komposer mumpuni yang banyak menghasilkan karya-karya monumental baik dalam genre rock maupun pop .Pengalaman Yockie yang kerap hadir sebagai music director maupun arranger mulai saat merekam album bersama God Bless,menata musik album Badai Pasti Berlalu serta menjadi music director album Lomba Cipta Lagu Remaha Prambors di tahun 1977-1978 rasanya lebih melempangkan kemampuannya sebagai seorang komposer.Lagu-lagu karya Yockie yang monumental antara lain Jurang Pemisah (Chrisye),Juwita (Chrisye),Biar Semua Hilang (Nicky Astria),Kehidupan (God Bless) dan Kesaksian (Kantata Takwa).

   Di komunitas Kantata Takwa ini, Yockie bertemu dengan dimensi musik yang berbeda. Di sini dia berbaur dengan sosok-sosok seniman mulai dari WS Rendra hingga Sawung Jabo. Ada dialektika baru dalam karya-karya Yockie seperti terlihat pada lagu Orang Orang Kalah, Kantata Takwa, Kesaksian, Paman Doblang, Air Mata, Rajawali, Nocturno, dan Balada Pengangguran.

 

Erros Djarot

Erros Djarot

Erros Djarot

Saat membuat album soundtrack film Kawin Lari di tahun 1976 bersama bandnya Barong”s Band Erros berdisiplin tidak mau mendengar lagu-lagu Barat.”Saat itu saya membeli semua kaset Indonesia dan menyimak semua lirik-lirik lagunya.Ini untuk referensi saya menulis lagu dalam bahasa Indonesia” ungkap Erros Djarot yang dilahirkan di Rangkasbitung 22 Juli 1950.

.Dan Erros beserta  Barong’s pada akhirnya memang berhasil menampilkan sebuah soundtrack walau dengan latar musik Barat tapi memiliki rasa Indonesia.Sosok Erros kemudian mencuat saat membuat album soundtrack film Badai Pasti Berlalu di tahun 1977 yang berhasil sukses dan mengubah paradigma musik pop Indonesia kedalam tatanan penulisan lirik yang lebih terjaga kualitasnya.Erros Djarot memilih kata-kata puitik yang bersahaja tapi memiliki makna yang dalam.Dalam metafora Erros Djarot melukiskan romansa yang kadang menggelora,kadang merajuk tapi tidak terjebak dalam kecengengan.Lagu-lagu seperti Badai Pasti Berlalu,Pelangi,Merpati Putih ,Matahari atau Angin Malam adalah contoh kekuatan Erros Djarot dalam menata kata-kata.Karya-karya Erros Djarot tampaknya tetap bersemayam di benak penikmatnya hingga saat sekarang ini.

 

Franky Sahilatua

Franky & Jane Sahilatua

Franky & Jane Sahilatua

Kehadiran duo Franky & Jane di tahun 1977 dengan musik folk country membawa nuansa baru dalam gugus musik Indonesia. Lirik lagu-lagu  karya Franky pada masa Franky & Jane cenderung pada pemujaan alam pada awalnya, misalnya pada lagu Musim Bunga dan Kepada Angin dan Burung Burung.Saat itu Franky  yang dilahirkan di Surabaya 16 Agustus 1953 , kerap meminta bantuan  sastrawan Yudhistira ANM Massardi sebagai penulis lirik lagu-lagunya.Tak hanya tema alam dan lingkungan yang ditoreh Franky  Sahilatua dalam lagu-lagunya melainkan  juga tentang keseharian masyarakat marginal dan kritik sosial.Terlebih lagi ketika Franky berrnyanyi sendiri tanpa melibatkan Jane adiknya, sosaknya cenderung hadir sebagai protest singer yang kritis terhadap problematika sosial misalnya lagu “Perahu Retak” yang berkolaborasi dengan budayawan Emha Ainun Najib..Namun demikian Franky bersama adiknya Johnny Sahilatua mampu menuliskan sebuah lagu dengan lirik yang menyejukkan yaitu “Kemesraan” yang dinyanyikan oleh Iwan Fals,Chrisye,Rafika Duri dan beberapa penyanyi lainnya.

 

 Gombloh

Martin Hatch seorang peneliti dari Cornell University mempelajari lagu lagu dalam album Gombloh Berita Cuaca (1982) dan mengangkatnya dalam sebuah karya ilmiah bertajuk Social Criticsm In The Songs Of 1980′s Indonesian Pop Country Singers dan dipresentasikan dalam seminar musik The Society of Ethnomusicology yang berlangsung di Toronto Kanada pada 2 hingga 5 November 2000 silam. Dalam makalahnya Martin Hatch meneliti kekuatan dan nilai lagu-lagu karya Gombloh dalam perspektif kehidupan sosial seperti Berita Cuaca, Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng, Denok-Denok Debleng, Ujung Kulon Baloran, 3600 Detik, Kebayan-Kebayan, Hitam Putih dan Kami dan Alam.

Gombloh yang dilahirkan 14 Juli 1948 dengan nama asli Soedjarwoto Soemarsono mengawali karir musiknya di Surabaya tahun 1968 dengan memainkan musik folk bersama kelompok Lemon Tree’s  yang dibentuknya dengan Leo Kristi. Gombloh fasih menuturkan sketsa kehidupan rakyat jelata sehari-hari dalam lagu-lagu ciptaannya. Disisi lain, Gombloh justru tak bergeming ketika harus menghasilkan lagu seperti Kugadaikan Cintaku yang berhasil terjual diatas jumlah 1 juta keping pada paruh era 80an.Namun hal yang mungkin tak terpikirkan Gombloh adalah  ketika menulis lagu Kebyar Kebyar  dipertengahan era 70-an yang akhirnya dianggap sebuah anthem kebangsaan seperti halnya lagu Padamu Negeri karya Kusbini.

 

Sam Bimbo

Suatu saat di tahun 1973,Samsudin Hardjakusuma atau lebih dikenal dengan nama Sam Bimbo menunaikan sholat jumat di Masjid Salman ITB Bandung.Saat itu Sam mendapat ilham berupa melodi lagu serta sekaligus dengan liriknya.

“ Saya waktu itu habis sholat Jumat, begitu imam mengajak jamaah untuk berdoa, lirik lagu  itu keluar dengan sendirinya” ungkap Samsudin yang dilahirkan di Kuningan 6 Mei 1942.

Tak lama berselang Sam menulis ilham yang muncul dibenaknya.Lalu lahirlah lagu Tuhan yang kemudian dinyanyikannya bersama Bimbo, kelompok musik yang dibentuk Sam bersama dua adiknya Acil dan Jaka pada tahun 1967.Tuhan adalah karya terbesar Sam disepanjang karir musiknya bersama Bimbo.Sam tak hanya menulis lagu-lagu bertema religious saja,dia juga menulis lagu-lagu dengan tema yang beragam, mulai dari lagu-lagu bertema romansa asmara,jenaka hingga kritik sosial.Bahkan lagu “Surat Untuk Reagan dan Brezhnev” yang mengkritik tentang Perang Dingin, justru menerima penghargaan dari Ronald Reagan dan Leonid Brezhnev pada tahun 1982.Tapi lagu  karya Sam Bimbo lainnya yakni “Tante Sun” yang menyindir bisnis ibu-ibu pejabat malah dicekal di TVRI pada tahun 1977.

 

 

Glenn Fredly

Glenn Fredly masih ingat betul dimana dan kapan saat dia mendapat ilham untuk menulis lagu. “Waktu itu saya lagi di rumah petakan saya sendiri di kawasan Dapur Susu. Temen-temen saya lagi pada pergi.Lalu saya duduk di depan piano.Jari jari saya mulai mengetuk-ngetuk tuts piano berulang-ulang dan eh saya menemukan introduksi .Dan akhirnya jadilah lagu “Januari” “ tutur Glenn Fredly tentang lagu yang mengangkat popularitasnya dalam industri musik.Lagu “Januari” yang kemudian menjadi hits besar itu akhirnya menjadi lagu unggulan dari albumnya bertajuk “Selamat Pagi Dunia” (2003). Album solo Glenn Fredly yang ketiga itu memang banyak menghasilkan hits seperti “Sekali Ini Saja” dan “Belum Saatnya (Berpisah).Bahkan ketika album ini dirilis dalam bentuk repackage,masih menghasilkan hits sepertiSedih Tak Berujung dan Akhir Cerita Cinta.Sejak itu Glenn Fredly menjadi sosok singer/songwriter yang memiliki banyak penggemar.Selain memiliki suara yang berkarakter dan ekspresif, Glenn Fredly yang lahir 30 September 1975  bisa dianggap terampil menjalin nada dengan lirik-lirik romansa yang romantik.  Glenn Fredly pun menulis lagu untuk penyanyi lain juga mulai dari Joy Tobing,Pasto hingga Fariz RM.

 

Piyu

Lelaki kelahiran Surabaya 15 Juli 1973 ini bisa dianggap motor utama dari band Padi yang terbentuk tanggal 8 April  1997.Sebagian besar lagu-lagu Padi ditulis oleh gitaris yang bernama lengkap  Satriyo Yudi Wahono.Lagu pertama karya Piyu yang dibawakan Padi dalam album kompilasi Indie Ten adalah Sobat.Tema lagu yang ditulis Piyu pada awal-awal pemunculan Padi memang masih diseputar romansa meski dengan struktur melodi dan pendekatan musik yang lebih elegan dan terasa elemen rocknya.Pada album Lain Dunia (1999) muncul hits seperti Mahadewi dan Begitu Indah.Lirik lagu yang ditulis Piyu memiliki gereget, apalagi tak jarang dia kerap menyusupkan makna yang bernuansa filosofis.Lagu “Mahadewi” menurut pengakuan Piyu,memiliki nilai-nilai spiritual yang dalam.” Saya sendiri sering menangis jika mendengar lagu Mahadewi itu” ujar Piyu mengisahkan.

Puncak keberhasilan karya Piyu bersama Padi adalah saat merilis album “Sesuatu Yang Tertunda” (2001)  yang banyak menghasilkan hits seperti “Bayangkanlah”,”Kasih Tak Sampai”,”Semua Tak Sama” maupun “Sesuatu Yang Indah”.

 

 

 

Bimbim

Hampir 90 persen lagu-lagu Slank ditulis oleh  Bimo Setiawan Almachzumi Sidharta yang lebih dikenal dengan nama Bimbim ,drummer sekaligus pendiri Slank.Lirik-lirik lagu Slank yang ditulis Bimbim memang diangkat dari keseharian anak muda yang berkesan slenge’an,nakal ,apa adanya tanpa gincu kata dan lugas.Justru dengan pola penulisan lirik semacam ini justru menjadikan Slank seolah tak berjarak dan tak bersekat dengan para penggemarnya.Idiom-idiom yang berkembang diantara anak muda inilah yang diadopsi Bimbim ke dalam lirik-lirik lagu yang ditulisnya sejak album debut Slank “Suit…Suit…He…He…(Gadis Sexy) di tahun 1990 hingga album terbaru “Slank Nggak Ada Matinya (2013).

Pola penulisan lirik Slank yang lugas dan gamblang ini menjadi fenomena tersendiri dalam khazanah music Indonesia.Selain bertutur tentang keseharian,problematika anak muda dan asmara, Slank juga banyak menulis tentang kepedulian terhadap lingkup sosial hingga politik.Bahkan beberapa lagu Slank seperti Gossip Jalanan justru membuat gerah para pejabat dan politikus lantaran liriknya yang tajam menghujam.Namun menurut lelaki kelahiran 25 Desember 1966 ini, Slank bertanggung jawab dan siap menerima resiko apapun terhadap lagu-lagu yang ditulis termasuk pencekalan yang kerap terjadi pada kelompok musik yang telah berusia 30 tahun ini.Dan pada akhirnya,Slank memang didukung oleh siapa saja yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. 

 Oetje F Tekol

Oetje F Tekol

Oetje F Tekol

Sejak kecil bassist The Rollies ini telah terbiasa menulis lagu sendiri.Kebiasaan ini terus berlangsung hingga Oetje mulai bermain band saat duduk dibangku SMA.”Saya masih ingat ketika saya minta bantuan ibu saya untuk membuat lirik lagu dengan bahasa Inggeris.Judulnya kalo gak salah Forget Your Problem” cerita Oetje F Tekol tentang pengalamannya dalam menulis lagu.Tapi lagu karya Oetje untuk pertamakali direkam adalah lagu “Keadilan” oleh The Rollies di tahun 1977.”Bahkan lagu itu pun dijadikan judul album The Rollies Keadilan” kenang Oetje F.Tekol.Sejak itu Oetje banyak memberikan kontribusi lagu-lagu untuk The Rollies.Di tahun 1978 lagu “Hari Hari” yang dinyanyikan Gito Rollies menjadi hit The Rollies.Bahkan di tahun 1979 lagu “Kemarau” karya Oetje justru mendapat anugerah Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup karena lirik lagunya dianggap memiliki keterkaitan dengan masalah lingkungan hidup terutama tentang pengrusakan hutan secara semena-mena.

 Saat melakukan perjalanan Bandung – Jakarta, Oetje sering melihat penebangan pohon pohon secara membabi buta sejauh mata memandang. Kiri kanan jalan yang biasanya terlihat hijau kini berubah muram kecoklatan.Di koran maupun majalah Oetje pun sering membaca soal penebangan hutan secara liar.Ini dialami Oetje di tahun 1977.Mendadak Oetje pun tersentak.Sebentuk melodi pun secara tiba tiba menyembul dari alam imajinasinya.

 

 

Dian Pramana Putra

Tak pelak lagi,Dian Pramana Putra adalah seorang kreator yang produktif dalam ranah musik pop.Selain dikenal sebagai penyanyi, Dian yang dilahirkan 2 April 1961 ini  telah menghasilkan sederet hits yang dinyanyikan para penyanyi sohor mulai dari Chrisye, Vina Panduwinata, Utha Likumahuwa, Sheila Madjid, Harvey Malaihollo, Fariz RM, Broery Pesolima, Ruth Sahanaya, Trie Utami,Malyda, January Christy, Syaharani, Glenn Fredly dan masih berderet panjang lagi.

Di tahun 1980, lagu karya Dian Pramana Putra  bertajuk “Pengabdian” berhasil menempati juara 3 dalam Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia, Dian pun menyanyikan lagu “Pengabdian” bersama Bourest Vokal Grup dalam kaset Dasa Tembang Tercantik LCLR 1980 . Ini merupakan kali pertama suara Dian direkam dalam sebuah album.

Memasuki paruh dasawarsa 80-an, kegiatan musik Dian Pramana Putra semakin bercabang,antara lain bersekutu dengan Deddy Dhukun dalam menulist lagu. ”Biasanya saya menemukan melody, dan Deddy mulai menuliskan lirik lirik yang catchy.” jelas Dian Pramana Putra. Pasangan ini pun lalu kebanjiran pesanan membuat lagu dari sederet artis-artis rekaman diantaranya “Biru” yang dinyanyikan Vina Panduwinata dan “Aku Ini Punya Siapa” yang dinyanyikan January Christy.

 

 

Donny Fattah

Jika menyimak album debut God Bless yang dirilis Pramaqua tahun 1976, maka sosok Donny Fattah mendominasi penulisan lagu-lagu God Bless mulai dari hits Huma Diatas Bukit,Sesat,Setan Tertawa hingga She Passed Away.Saat itu Donny Fattah yang dilahirkan di Makassar 24 September 1949 memang memiliki referensi yang paling komplit.Donny tak hanya menyukai musik rock, tapi juga menyimak jazz hingga folk dan country.Dalam D & R,proyek rekaman yang digagas Donny dan adik kandungnya Rudy Gagola memperlihatkan kemampuan menulis lagu Donny yang luas.Di album ini Donny bersama Rudy menulis lagu dalam berbagai corak music mulai dari rock,pop hingga country folk, diantaranya lagu Cindy yang dipopulerkan Keenan Nasution dan Mimpi yang dinyanyikan Ida Noor lalu dipopulerkan lagi oleh Eddy Silitonga dan  Ira Puspita di tahun 1977.Lagu Mimpi  juga dibawakan secara instrumental oleh Jack dan Indra Lesmana di tahun 1978, kemudian diremake oleh band indie pop Klarinet di tahun 1999.Di tahun 1990 Nicky Astria mempopulerkan lagu karya Donny Fattah “Cinta Di Kota Tua”.Di tahun yang sama,dua lagu karya Donny Fattah dibawakan oleh kelompok Power Metal dalam album “Power One” yaitu “Pengakuan” dan  Mas & Mis Merozoth.Dalam album Gong 2000,Donny menulis lagu-lagu seperti Basa Basi ,Mulut-Mulut dan Penantian.Donny juga menulis lagu untuk  Freddy Tamaela bertajuk “Lari dan Lari” di album “Tetangga” (1985).

 

 

Indra Lesmana

Usai bermain bola, Indra Lesmana yang masih berusia 9 tahun lalu mengambil ukulele.Jari jemari Indra yang mungil lalu memetik dawai ukulele yang berjumlah 4 .Tak sekedar memetik,tapi dari ukulele muncul melodi lagu.Dan itulah lagu pertama yang ditulis Indra Lesmana,putra pemusik jazz Jack Lesmana dan penyanyi Nien Lesmana.Jack Lesmana menganggap lagu karya putra bungsunya itu layak untuk direkam.Nien Lesmana sang ibu kemudian menorehkan lirik liriknya .Lagu itu diberi judul Terlena dan dinyanyikan penyanyi jazz Margie Siegers di album “Semua Bisa Bilang” (Hidayat Audio 1975).Saat itu Indra banyak menulis lagu dengan menggunakan ukulele.”Waktu itu saya belum bisa main piano,jadi bikin lagu pake ukulele” ungkap Indra Lesmana yang lahir 28 Maret 1966. Sejak itu gairah Indra menulis lagu kian menggebu.Apalagi lagu ciptaannya Kabur yang berbentuk instrumental jazz dimasukkan Jack Lesmana dalam album Noor Bersaudara di tahun 1977.

Disaat berusia 12 tahun,Indra mulai menulis lagu dengan menggunakan piano dan merekam album debutnya bertajuk “Ayahku Sahabatku” (1978) dengan membawakan lagu ciptaannya “Anak Melamun”,”Terlena” dan “Ayahku Sahabatku”.Di tahun 1984 Indra mengajak kakaknya Mira Lesmana untuk menulis lirik-lirik lagunya.Kebersamaan Indra dan Mira ini menghasilkan banyak hits seperti “Nostalgia” hingga “Aku Ingin” termasuk saat menulis lagu buat Krakatau seperti “Sayap Sayap Beku”,”Dirimu Kasih” serta “Ekspresi” yang dipopulerkan Titi DJ.

Bagoes AA

Sosok komposer,arranger dan penyanyi  Bagoes A.Aryanto  tercatat banyak mendukung keberadaan Dian Pramana Putra dan Iwan Fals.banyak karya-karya Bagoes yang berkaitan dengan kedua penyanyi tersebut.Bagoes yang dilahirkan 29 April ini memang bersahabat karib dengan kedua penyanyi tersebut apalagi Bagoes serta Dian Pramana Putra dan Iwan Fals pernah bergabung dalam Bourest Vokal Group, kelompok vokal yang terbentuk di akhir era 70an .Menurut Bagoes, pertamakali menulis lagu terjadi saat masih duduk di bangku SMP.Saat itu dengan memainkan organ Farfisa, Bagoes menulis lagu bertajuk “Mawar”.Lagu itu tak pernah direkamnya.”Tapi tahun ini saya malah merekam lagu “Mawar” dalam bentuk instrumental secara sederhana.Hanya untuk kenang-kenangan saja” papar Bagoes A.Ariyanto yang di tahun 1978-1979 sempat menimba ilmu musik di Koeln Muziek Conzervatory Jerman.Sepulangnya dari Jerman, Bagoes kemudian mengikutserakan lagu-lagu ciptaannya pada ajang Lomba Cipta Lagu Remaja yang diadakan Radio Prambors Rasisonia.Diluar dugaan lagu karya Bagoes “Mahajana” berhasil meraih juara 1 dan kemudian direkam dengan penyanyi Louise Hutauruk.Tahun 1980 kembali lagu karya Bagoes bertajuk “Maheswara” masuk 10 besar Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors.Kali ini Bagoes menyanyikan sendiri lagu karya ciptanya. Setelah itu,Bagoes mulai aktif terjun dalam industri rekaman antara lain mendukung album solo Dian Pramana Poetra,Vina Panduwinata,January Christy,Tito Sumarsono,Chrisye,Lina Subardja serta Iwan Fals.Tahun 80an merupakan tahun tersibuk Bagoes sebagai komposer,arranger dan penyanyi.Apalagi saat itu Bagoes A.Aryanto  tergabung dalam Kelompok 3 Suara bersama Dian Pramana Putra dan Deddy Dhukun.

 

Iwan Abdurachman

            Iwan Abdurachman yang lahir 3 September 1947 di Karangnangka, Sumedang, Jawa Barat, ini dalam sejarah   musiknya memang tak bisa dipisah dengan kelompok Bimbo.Sejak usia 17 tahun Iwan telah menulis komposisi lagu.

Sejak kecil, Iwan telah menunjukkan rasa cinta yang tinggi pada alam dan lingkungannya dengan  sering masuk-keluar hutan dan aktif dalam organisasi Pramuka.Lalu sejak tahun 1964 ia bergabung dengan Wanadri, yakni organisasi penempuh rimba dan pendaki gunung tertua di Indonesia.Lagu karyanya yang pertama, Balada Seorang Kelana ditulis saat berada  di puncak Gunung Burangrang 25 Desember 1964 .Lagu ini kemudian direkam Trio Bimbo pada album “Mawar Terbiru” yang dirilis Remaco pada tahun 1972.

Karya monumental Iwan Abdurachman “Melati Dari Jayagiri” dan “Flamboyan” dibawakan Trio Bimbo pada debut album mereka yang direkam pada label Fontana di Singapore pada tahun 1971.Di paruh era 70an Iwan akhirnya bergabung sebagai pemain bass dalam Bimbo bersama Indra Rivai (keyboards) dan Rudy Soeparma (drums).Di penghujung era 70an,Iwan mundur dari Bimbo dan mendirikan Kali Kausar bersama Wandi Koeswandi dan Indra Rivai,dua pemusik yang banyak mendukung Bimbo pada era 70an.

 

 

Keenan Nasution

Keenan Nasution & Fariz RM (Foto Denny Sakrie)

Keenan Nasution & Fariz RM (Foto Denny Sakrie)

Tahun 1977 drummer dan penyanyi Keenan Nasution mengikut sertakan beberapa lagu karyanya yang ditulis bersama dr.Rudi Pekerti ke ajang Festival Lagu Populer Indonesia.Ternyata lagu karyanya bertajuk “Di Batas Angan-Angan” terpilih sebagai finalis.Lagu itu kemudian direkam dan dinyanyikan sendiri oleh Keenan Nasution bersama Hutauruk Sisters sebagai penyanyi latar.Lagu ini memang tidak berhasil menjadi juara 1,namun dengan terpilihnya sebagai finalis justru member semangat pada Keenan untuk lebih banyak menulis lagu-lagu sendiri.Setahun kemudian, mantan drummer God Bless ini telah memiliki puluhan lagu yang ditulisnya bersama penulis lirik Rudi Pekerti.”Kita berdua seperti Elton John dan Bernie Taupin lah ha ha ha” ujarnya terkekeh.Sekitar 14 lagu karya Keenan bersama Rudi Pekerti kemudian direkam pada album debutnya bertajuk “Di Batas Angan Angan” (Gelora Seni 1978) diantaranya adalah lagu karya Fariz RM “Cakrawala Senja” .Menariknya di album ini Keenan nyaris memainkan seluruh alat musik mulai dari drum,piano,synthesizers dan gitar, disamping dibantu oleh rekan-rekannya sendiri seperti Junaedi Salat,Harry Minggoes,Narry,Yanto,Trio Bebek,Abadi Soesman dan ketiga saudaranya yaitu Gauri,Oding dan Debby Nasution.Album ini mencuatkan hits besar Nuansa Bening.Lagu ini kemudian dinyanyikan kembali oleh Eddy Silitonga,Lucky Octavian serta Vidi Aldiano.Di tahun 1992 Keenan Nasution malah sempat menulis lagu untuk Benyamin S dengan judul “Seliweran”

 Younky  Soewarno

Younky Soewarno adalah keyboardis,arranger dan juga komposer  yang banyak terlibat dalam sejumlah rekaman musik pop Indonesia pada dasawarsa 80an hingga 90an.  Pengagum David Foster ini tercatat banyak menulis lagu-lagu hits yang dinyanyikan Chrisye,Atiek CB, AB Three, Ita Purnamasari,Oddie Agam,Jacky,  Trio Libels, Nike Ardilla, Chintami Atmanegara, Novia Kolopaking ,Ina Rawie ,Ismi Aziz,Fariz RM,Deddy Dhukun,Trie Utami ,Paramitha Rusady,Ruth Sahanaya hingga ke penyanyi penyanyi rock seperti  Nicky Astria, Ikang Fawzi ,Gito Rollies dan Achmad Albar .Dalam menulis lirik lagu-lagunya Younky Soewarno yang dilahirkan 15 Mei 1957 ini sering melibatkan Maryati isterinya maupun Deddy Dhukun.

Lagu-lagu karyaYounky Soewarno yang menjadi hits antara lain “Terserah Boy” (Atiek CB),”Hanya Satu Kamu” (Fariz RM dan Deddy Dhukun),”Jerat Jerat Cinta”,(Trio Libels),”Cintaku Padamu” (Ita Purnamasari),”Harus Kumiliki” (Ruth Sahanaya),”Shame On Me” (Jacky), termasuk “Akhirnya “ yang dinyanyikan Oddie Agam serta GIGI  dan menjadi lagu bernuansa religius belakangan ini.

 

Benny Soebardja

Sosok gitaris,penyanyi dan komposer Benny Soebardja yang di era 70an tergabung dalam beberapa band rock seperti The Peels,Sharmove dan Giant Step belakangan jadi perbincangan penikmat musik dunia, karena album “Gede Chokra’s” (Sharkmove) dirilis ulang oleh label Jerman Shadoks pada tahun 2006 dan label Strawberry Rain Kanada merilis ulang album-album solo Benny Soebardja “Gimme The Piece of Gut Rock” dan “Night Train” pada tahun 2012.Dari hasil rilis ulang tersebut,sosok Benny Soebardja dipuji dalam berbagai review di media cetak dan online secara internasional sebagai sosok pemusik rock dengan karya yang rock yang menginspirasi.Nama Benny Soebardja mulai dikenal saat bergabung dengan The Peels di tahun 1966.Ketika The Peels bubar tahun 1969,Benny Soebardja kemudian membentuk Sharkmove di tahun 1970 yang hanya sempat merilis album “Gede Chokra’s” yang dirilis Sharkmove Record.Tahun 1971 Benny Soebardja mulai berupaya membentuk band baru dengan nama Giant Step.Sejak membentuk Sharkmove,Benny Soebardja selalu mementingkan penulisan lagu sendiri.Kebiasaan ini pun berlanjut saat membentuk Giant Step.Selain menulis lagu sendiri, Benny Soebardja yang dilahirkan 4 Juli 1949 juga kerap meminta bantuan Bob Dook,orang Inggris yang saat itu kulaih di Bandung sebagai penulis lirik dalam bahasa Inggris.Lagu-lagu yang ditulis Benny Soebardja dan Bob Dook antara lain adalah Evil War,My Life,Fortunate Paradise,Pensive,Someday hingga Decision .Graham Reid dari Elsewhere Magazine bahkan menyebut Benny Soebardja sebagai the godfather of the Indonesian prog-rock underground.

 

            Oppie Andaresta

Singer/songwriter kelahiran 20 Januari 1973 ini sebelum merilis album “Albumnya Oppie” (1993) dengan hits “Cuma Khayalan” sebetulnya telah malang melintang dalam industri musik Indonesia   yaitu dengan merilis single Satu Macam Saja (1990).Saat itu sosok Oppie dipersiapkan sebagai lady rocker istilah untuk penyanyi-penyanyi rock wanita seangkatan Nicky Astria dan Anggun C.Sasmi.Oppie bahkan tergabung dalam trio bersama dua penyanyi rock wanita lainnya yaitu Lady Avisha dan Mayangsari..Tapi sejak “Cuma Khayalan” melejit,Oppie mulai menentukan sikap dalam bermusik.Dia tak hanya menyanyikan lagu-lagu cinta tapi mulai memasuki ranah kritik sosial, tak jauh beda dengan konsep musik yang diperlihatkan pemusik yang menjadi inspirasi musiknya : Tracy Chapman.Oppie mulai memperlihatkan jatidiri yang jelas dan lugas lewat lagu-lagu seperti    Cuma Khayalan”, “Na Na Na”, “Untung VS Buntung”, “Ingat-Ingat Pesan Mama”, dan “Cuma Karena Aku Perempuan“.

Oppie sendiri pertama kali menulis lagu di awal tahun 1990, salah satu lagu karya ciptanya bertajuk “Bersama Kita” akhirnya dibawakan oleh boyband 90an Hit Hot pada tahun 1992.Selain itu beberapa lagu karya Oppie juga pernah dinyanyikan Kris Dayanti dan Sania.

 

Wedhasmara

Wedhasmara adalah komposer lagu-lagu pop Indonesia era 60an hingga 70an .Karya-karyanya dikenal luas seperti Sendja Di Batas Kota,Berpisah Di St Carolous, Kau Selalu Di Hatiku dan masih banyak lagi. Penyanyi penyanyi yang menyenandungkan lagu-lagu Wedhasmara antara lain Ernie Djohan,Titiek Sandhora,Tetty Kadi,Deasy Arisandi hingga Lilies Surjani.

Sejak kecil lelaki kelahiran Denpasar 10 September 1932 ini telah menyukai dan memiliki bakat musik yang kuat.Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan SMP di Denpasar Bali.Wedhasmara kemudian pindah ke SMA St.Thomas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Antara tahun 1956 – 1963 Wedhasmara bekerja di Jawatan Pertanian Jakarta.

Bakat musiknya tersalurkan ketika ikut tergabung dalam berbagai kelompok musik seperti Orkes Gabungan Denpasar,Orkes Keroncong Denpasar,Kuartet Mulyana/Sutedja Yogyakarta,Orkes Kerontjong pimpinan Sukmini Yogyakarta,Orkes Melayu Ria Bluntas,Zaenal Combo hingga Empat Nada..

 

 

 

 

 

 

Harry Roesli

Saat terjadi kerusuhan nasional dan berakhir dengan munculnya gerakan Reformasi di tahun 1998, tiba-tiba lagu “Jangan Menangis Indonesia” karya Harry Roesli yang ditulis tahun 1974 dan direkam pada album “L.T.O” (1978) berkumandang lagi, baik di radio,televisi maupun panggung-panggung orasi di berbagai kampus. Sebetulnya lagu itu dulu ditulis Harry Roesli saat menjadi aktivis mahasiswa di ITB yang ikut menentang kebijakan pemerintah pada tahun 1974 dan menimbulkan kerusuhan nasional dan kerap disebut Malaria atau Malapetaka 15 Januari 1974.

Kebanyakan lagu-lagu karya Harry Roesli bertema gugat dan sindiran terhadap ketimpangan-ketimpangan yang berada disekitar kita baik dalam dimensi sosial maupun politik.Namun lelaki kelahiran 10 September 1951 dengan nama lengkap Djauhar Zaharsjah Fachrudin Roesli kerap membungkus lirik-lirik lagunya dengan metafora yang mengambil idiom cerita rakyat,legenda maupun sejarah diantaranya adalah kisah tentang Ken Arok ataupun tentang perang saudara dalam hikayat Mahabarata.Tak jarang banyak yang tak memahami idiom yang ditulis oleh Harry Roesli misalnya pada lagu “Peacock Dog” sebuah lagu dengan judul yang aneh.”Peacock Dog itu sebetulnya kiasan kata untuk Negara ini.Indonesia itu kan mempesona seperti burung merak tapi menyebalkan seperti anjing” demikian tutur Harry Roesli dalam wawancara bersama saya di tahun 1997.Di tahun 1974 saat ikut demonstrasi mahasiswa Harry Roesli sempat mendekam dalam penjara. Ha rry Roesli mementaskan pemutaran perdana film dokumenter Tragedi Berdarah Trisakti  dan  panggung seni dalam acara “Gelora Reformasi” di Universitas Parahyangan Bandung. Dalam acara ini Harry Roesli  kembali menyanyikan lagu Jangan Menangis Indonesia.

 

Elfa Secioria

Menulis lagu bagi Elfa Secioria bisa dimana saja termasuk ketika tengah berada diatas pesawat terbang seperti yang terjadi di tahun 1983, selama 7 jam dalam pesawat Elfa menulis lagu serta membuat arransemen 17 lagu.

Elfa  mulai bermain piano ketika berusia 5 tahun. Ketika berusia delapan tahun , ia pemain piano  dan vibraphone dalam Trio Jazz  IVADE. Kemudian Elfa Secioria mengikuti Piano Privat 1 dan 2 di Bandung (1970-1974), mempelajari musik Simfoni di Bandung (1971-1978) dan belajar Aransemen Orkestra di Bandung (1974-1978).

Kebanyakan lagu-lagu Elfa Secioria menjadi finalis serta menjadf juara dalam event Festival Lagu Populer Indonesia sejak era 1980an termasuk juga di ajang World Popular Song Festival di Jepang,ASEAN Songs Festival maupun Golden Kite Songs Festival.Untuk penulisan lirik Elfa Secioria banyak mempercayakannya pada Wieke Gur.”Saya memang tidak mampu menulis lirik lagu makanya saya selalu meminta bantuan orangh” jelas Elfa Secioria yang dilahirkan 20 Februari 1959.Elfa juga pernah meminta bantuan penulisan lirik pada Mira Lesmana saat menulis lagu-lagu untuk soundtrack film “Petualangan Sherina”. Lagu lagu karya Elfa Secioria dinyanyikan oleh Harvey Malaiholo,Elfa’s Singer,Ferina Zubeir,Andien,Sherina dan sederet lainnya.

 



Adjie Bandy

 

Komposer  Adjie Bandy yang dilahirkan di Blitar, 10 Januari 1947, menguasai dengan baik berbagai instrumen musik mulai dari gitar, keyboard, hingga biola. Musik klasik adalah dasar musik yang digelutinya sejak kecil. Adjie menimba ilmu musik klasik di Akademi Musik Yogya yang diselesaikannya pada 1969.Selanjutnya Adjie ikut bergabung dalam berbagai band pop dan rock  seperti C’Blues,Cockpit,Gipsy dan Contrapunk.

Di tahun 1976, lagu ciptaannya, “Puteri Mohon Diri”, berhasil meraih juara  kedua “Festival Lagu Pop Indonesia 1976″. Setahun berselang Adjie Bandy  kembali memasukkan karyanya bertajuk “Damai Tapi Gersang”  pada Festival Lagu Pop Indonesia 1977.  yang kemudian terpilih mewakili Indonesia  untuk  berlaga dalam ajang Yamaha World  Popular Songs Festival  yang berlangsung  di Nippon Budokan Hall, Tokyo, pada tanggal  11-13 November 1977. Lagu yang dinyanyikan Adjie Bandy berduet dengan Hetty Koes Endang  bercerita mengenai makna kehidupan ini berhasil menyabet Outstanding Song Award.,sebuah penghargaan atas karya lagu.

 

 

 

Aryono Huboyo Djati

Sebetulnya lelaki berkacamata minus inilah yang pantas disebut Si Burung Camar.Kenapa ? Karena Aryono Hubojo Djati inilah yang menuliskan komposisi dan notasi lagu Burung Camar yang dipopulerkanh Vina Panduwinata sebagai penyanyinya. Memang banyak yang tak mengetahui sepak terjang Aryono sebagai pemusik atau komposer.Profesi yang paling banyak diketahui orang adalah seorang fotografer profesional yang memiliki jam terbang tinggi.Lagu Burung Camar itu sebetulnya dibikin dalam komposisi piano klasik dan tak berlirik.Aryono yang terampil bermain piano dan keyboard itu lalu tertarik mengikutsertakan lagu ciptaannya itu ke Festival Lagu Populer Nasional Tahun 1985.Aryono lalu meminta kesediaan Iwan Abdurachman, penulis lagu yang pernah tergabung dalamBimbo, untuk menuliskan lirik lagunya.Menjelmalah lagu Burung Camar .Tak diduga  lagu ini berhasil menjuarai Festival Lagu Populer Indonesia 1985 dan mewakili Indonesia dalam Yamaha  World Popular Songs Festival Tokyo dengan judul “The Song of The Seagulls” . Burung Camar memperoleh penghargaan Kawakami Award di ajang ini.Aryono memang memiliki bakat musik yang luar biasa.Aryono pernah menjuarai Festival Electone Se Indonesia yang beralngsung di tahun 1985.Dia pun pernah membentuk band fusion dengan nama Warimoo dan ikut berlomba dalam kompetisi band Light Music Contest. Lulusan The University of Tokyo yang meraih gelar doktor dalam bidang marine biology ini juga  menulis lagu berjudul “Lirih” untuk almarhum Chrisye.

Arie  Wibowo

 

Madu dan Racun adalah lagu karya Arie Wibowo yang luar biasa populer dan dinyanyikan oleh setiap orang pada tahun 1985..Album “Madu dan Racun” yang terjual lebih dari 1 juta keping itu ternyata bukan hits sesaat pada zamannya saja..Tahun 2009  J-Rock meremake lagu ini dengan gaya yang lebih fresh.“Madu dan Racun” sebetulnya telah dibawakan oleh Prambors Vokal Group dalam kaset yang dirilis Pramaqua tahun 1975 tapi dengan judul “Bingung”. Sebelum diubah judulnya menjadi “Madu dan Racun”,lagu yang ditulis oleh Arie Wibowo dan Jonathan Purba ini sering dinyanyikan pula oleh almarhum Kasino saat melawak di panggung bersama Warung Kopi Prambors.Bahkan penyanyi cantik Nanin Sudiar pun pernah  menyanyikan lagu ini I dengan judul lain pula yaitu  “Dilema”.

Arie Wibowo adalah penulis lagu pop yang sangat produktif.Dia menulis hampir semua lagu dalam album Bill & Brod,kelompok yang dibentuknya di paruh era 80an. Saat tergabung dalam Prambors Vokal Group dan Topan Group, Arie Wibowo selain tampil sebagai penyanyi juga menulis semua lagu-lagunya

 

 

Ikang Fawzi

Sebetulnya Ikang Fawzi awal karirnya di dunia musik bukan sebagai penyanyi tapi seortang drummer dan penulis lagu.Tahun 1979 salah satu lagu karya Ikang bertajuk “Cahaya Kencana” berhasil menjadi finalis Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors.Ketika lagu tersebut akan direkam dalam album yang diberi judul Dasa Tembang Tercantik 1979, pihak Prambors lalu memilih penyanyi rock Achmad Albar sebagai penyanyinya.”Saya gembira dan bangga, karena Achmad Albar adalah penyanyi rock idola saya “ tutur lelaki kelahiran 23 Oktober 1959 dengan nama Achmad Zulfikar Fawzi.Ikang kemudian menulis lagu untuk beberapa penyanyi diantaranya Louise Hutauruk,Candra Darusman dan Raidy Noor. Bersama Addie MS dan Raidy Noor sahabatnya saat tergabung dalam Vokal Grup SMA 3 Setiabudi Jakarta,Ikang lalu membentuk band dengan nama AIR di tahun 1979.Di tahun 1982 AIR berubah nama menjadi Staff dan merilis album di tahun 1981.”Nah di band Staff itulah saya mulai memberanikan diri tampil sebagai penyanyi” cerita Ikang lagi.  Di tahun 1985 barulah Ikang terjun sebagai penyanyi solo dengan merilis album “Selamat Malam”.Dalam album-album solonya,Ikang hampir menulis semua lagu-lagunya.

 

             Sawung Jabo

 

Sebagian besar lagu-lagu yang ditulis Sawung Jabo berpijak pada kritik sosial dan narasi kemanusiaan.Penyebanya mungkin karena latar belakang Sawung Jabo yang bergabung dengan kelompok teater Bengkel yang dipimpin WS Rendra di Yogyakarta pada paruh era 70an.Dari komunitas teater ini pemilik nama Mohammad Djohansjah ini lalu membentuk Kelompok Kampungan bersama Bram Makahekum yang kerap mendukung pertunjukan teater Bengkel seperti pada pementasan lakon drama “Sekda” di tahun 1975. Tahun 1976 Sawung Djabo mendirikan kelompok musik Sirkus Barrock .Akhir era 80an Sawung Jabo membentuk kelompok Swami bersama sebagian pendukung Sirkus Barock serta Iwan Fals dan juga Yockie Surjoprajogo.Tahun 1990 personil Swami lalu melebur kedalam Kantata Takwa yang digagas maesenas Setiawan Djody bersama WS Rendra.Sawung Jabo juga membentuk beberapa kelompok musik lainnya seperti Dalbo dan Genggong.   Konsep musik yang  dipaparkan Sawung Jabo dalam  Sirkus Barock, Swami dan Kantata Takw dikenal penuh pendewasaan, kepolosan,lugas dan apa adanya.

Dengan berlatar tata  musik yang dinamis. Sawung  Jabo juga dikenal lewat ekspresi musikalnya yang khas seperti teriakan-teriakannya yang garang, liar, dan nyeleneh dalam berbagai pentas    pertunjukannya.Namun memasuki dasawarsa 2000, lagu-lagu Jabo condong  bernuansa religious,menggali makna hidup,kisah kasih  dan permenungan.

 

Bebi Romeo

 

Di akhir 90an hingga masuk ke era 2000an nama Bebi Romeo adalah hitmaker yang paling banyak dicari para penyanyi yang ingin membawakan lagu-lagu karya Bebi yang saat itu memang bertebaran sebagai hits mulai dari “Bunga Terakhir” yang dinyanyikannya sendiri bersama bandnya Romeo hingga “Mencintaimu” yang dipopulerkan Kris Dayanti,Selamat Jalan Kekasih (Rita Effendy),Perbedaan (Ari Lasso) serta “Andai Aku Bisa” yang dinyanyikan oleh Chrisye di tahun 2001.Nama Bebi Romeo kembali jadi jaminan sukses ketika di tahun 2007 lagu karya ciptanya “Bukan Cinta Biasa” mengangkat ketenaran penyanyi pendatang baru Afgan.

Karir musik lelaki kelahiran 6 September 1974 dengan nama lengkap Virdy Megananda ini dalam industri musik Indonesia bermula ketika membentuk kelompok Bima yang hanya sempat merilis satu album bertajuk “Sebuah Awal” (1997).Dua tahun kemudian Bebi bersama Bimo dan Yudha membentuk band Romeo yang menghasilkan 3 album “Romeo (1999),”Wanita” (2002) dan “Lelaki Untukmu” (2006)  

 

 

Deddy Dores

 

Di era 70an,Deddy Dorres yang bernama asli Deddy Setiadi Prayitno  adalah pemusik rock yang berkelebat diberbagai band rock papan atas sebagai gitaris dan pemain keyboard mulai dari Freedom Of Rhapsodia,Giant Step,The Road,Fantastique,God Bless hingga Superkid.Tapi memasuki era 80an Deddy Dorres malah dikenal sebagai seorang hitmaker dengan sederet hits yang laris manis di pasaran musik Indonesia.Kehadiran Deddy Dorres dalam industri musik Indonesia  tampaknya membayangi Rinto Harahap dan Pance Pondaag sebagai komposer lagu-lagu pop yang kebanyakan dinyanyikan oleh penyanyi wanita.Mereka itu antara lain Nike Ardilla,Conny Dio,Nafa Urbach,Ria Angelina,Lady Avisha ,Yessy Gasela,Inka Christy,Twin Sisters,Lydia Natalia,Annie Carera dan masih banyak lagi.Tapi yang paling sukses adalah ketika Deddy Dorres menulis lagu-lagu untuk Nike Ardilla seperti Seberkas Sinar dan Bintang Kehidupan yang kabarnya terjual hingga dua juta kopi kaset.  

 

Adriyadie

Saat Bob Tutupoly tengah melakukan rekaman album di studio Remaco bersama iringan De Meicy,tiba-tiba muncul seorang lelaki mendatangi Bob Tutupoly seraya menawarkan kepadanya agar mau membawakan lagu ciptaannya. Namun kehadiran lelaki bertubuh gelap itu dianggap mengganggu suasana rekaman oleh pihak Remaco yang meminta kepada Bob agar jangan menghiraukan lelaki yang tak dikenal itu.Tapi Bob bersikeras ingin membawakan lagu yang disodorkan sang lelaki itu padanya.Akhirnya pihak Remaco mau menerima lagu dari sang lelaki tadi sebagai lagu terakhir dalam album Bob Tutupoly.Diluar dugaan ternyata lagu yang berjudul Widuri itu meledak dipasaran.Insting Bob Tutupoly ternyata berbuah hasil.Lelaki yang bernama lengkap Slamet Adriyadie itu lalu mashur dengan nama Adriyadie.Sejak itu lagu-lagu karya Adriyadie dinyanyikan banyak penyanyi lain seperti Arie Koesmiran,Nur Afni Octavia,Ade Manuhutu,Broery Marantika , Purnama Sultan hingga Ria Restu Fawzy.

Slamet mengaku membutuhkan waktu enam bulan menyelesaikan lagu Widuri lengkap dengan notasinya. Inspirasi  lagu Widuri, diperoleh di saat rehat  sebagai buruh kapal di Pelabuhan Tanjungpriok. Saati itu,Adriyadie  menyendiri di tepi pantai memandangi Laut Jawa sembari memetik i gitar kesayangan,lalu  menuliskan notasi dan liriknya sekaligus.Kini Adriyadie bekerja di Yayasan Karya Cipta Indonesia.

 

Dorie Kalmas

Di era 80an pernah muncul istilah Pop Kreatif, sebuah genre yang dianggap mewakili lagu-lagu pop  dengan perpaduan warna rhythm and blues,jazz serta rock.Salah satu pencipta lagu yang kerap menulis lagu dengan gaya semacam itu adalah Dorie Kalmas.Penyanyi-penyanyi yang membawakan lagu karya Dorie Kalmas mulai dari Fariz RM,Neno Warisman,Utha Likumahuwa,Mus Mudjiono,Yana Julio,Andi Meriem Mattalatta,Asti Asmodiwati,Fryda,Irma June,Ronny Sianturi,Dian Pramana Putra,Warna dan Titi DJ.Adapun lagu-lagu Dorie Kalmas yang menjadi hits antara lain Nada Kasih yang dinyanyikan secara duet oleh Fariz RM dan Neno Warisman,”Selamanya Cinta” (Yana Julio),”Keagungan Cinta” (Mus Mujiono),”Mengapa Terpilih” (Warna) serta “Bahasa Kalbu” yang dipopulerkan Titi DJ.Lagu “Bahasa Kalbu” ditulis Dorie Kalmas bersama Andi Riyanto dan Titi DJ.

 

Dadang S Manaf

 

Dadang S Manaf adalah salah satu komposer musik pop yang produktif melahirkan sederet lagu pada era paruh 80an hingga awal 90an.Gaya penulisan lagu Dadang S Manaf bisa disebut beragam, artinya dia mampu menulis lagu dengan target pendengar dengan strata menengah kebawah maupun menengah keatas. Lagu-lagu Dadang S Manaf antara lain dibawakan oleh Endang S Taurina,Angel Pfaff,Iis Soegianto,Paramitha Rusady hingga Uci Bing Slamet dengan tema yang agak mendayu, tapi disisi lain Dadang toh mampu menulis lagu yang lebih berkelas seperti yang dinyanyikan Tika Bisono ,Ramona Purba,,Yana Julio,Ermy Kullit hingga Chrisye.Dadang S Manaf pernah meraih prestasi dalam Festival Lagu Populer Indonesia ke XII tahun 1984 saat lagu ciptaannya “Senyum Dalam Duka” yang dinyanyikan Bornok Hutauruk masuk dalam 10 Besar lagu Terbaik Di tahun 1987 kembali lagu karya Dadang bertajuk “Anugerah” terpilih dalam 12 Besar Lagu Terbaik Festival Lagu Populer Indonesia ke XV .Kakak tiri Ahmad Dhani ini pun pernah merilis sebuah album solo bertajuk Reuni SMA yang dirilis Akurama Record pada tahun 1987.  

 

Cecep AS

 

Meskipun banyak karya-karya Cecep AS yang dibawakan Atiek CB seperti “Risau”,”Maafkan” ,”Benci Sendiri” dan “Berhentilah”, namun sebetulnya lagu-lagu Cecep AS juga menjadi hits saat dinyanyikan Rafika Duri (Tirai),Harvey Malaiholo (Dara),Ramona Purba (Terlena),Jayanthi Mandasari (Ingkar),Andi Meriem Mattalatta (Pasrah),Novia Kolopaking (Kuserahkan) dan Ermy Kullit (Sesal). Lagu “Risau” juga dibawakan Melly Goeslaw dalam album “Mindsoul” di tahun 2007.

 Sebagian besar lagu yang ditulis Cecep AS bertema romansa asmara dengan nuansa melankolia walau tak berkesan cengeng dan mendayu-dayu.Cecep AS dalam menuliskan lirik-lirik lagunya kerap menggunakan gaya metafora seperti misalnya pada lagu Tirai yang dipopulerkan Rafika Duri.

Cecep AS pun merilis album solo yaitu album “Gusar” ditahun 1985 dengan musik  yang digarap Younky Soewarno serta album “Jatuh Cinta” di tahun 1987 dengan musik yang digarap Bambang B dan Cecep AS sendiri.  

Tulisan ini diambil dari artikel 100 Pencipta Lagu Indonesia Terbaik – Rolling Stone Indonesia edisi Februari 2014, dimana 60 entry merupakan tulisan saya

 

 

Masih ingatkah dengan ajang lomba cipta lagu tingkat dunia bertajuk World Popular Song Festival (WPSF) yang setiap tahun digelar di Budokan Hall Tokyo Jepang pada dasawarsa 70-an hingga 80-an ? Kompetisi bergengsi ini sesungguhnya merupakan semacam tolok ukur atau parameter puncak prestasi dari pelbagai ragam kompetisi musik internasional yang ada.Kenapa ? Karena pada ajang kompetisi yang digagas oleh perusahaan instrumen musik raksasa Yamaha Foundation ini, para kontestan dari penjuru dunia berdatangan mewakili tidak hanya negaranya saja,tetapi juga benua.

Dari Eropa yang merupakan gudang pemusik kualifaid,misalnya,pada tahun 1970 hingga 1980-an,peserta kompetisi asal Eropa dijaring dari arena kompetisi lagu yang disebut Eurovision Song Contest.Sementara dari benua Amerika,terbagi pula dalam dua blok peserta yang masing-masing memiliki gengsi tinggi : Amerika Serikat dan Amerika Latin.

Negara yang disebut terakhir sebetulnya juga merupakan gudang para pemusik dan penyanyi berkualitas dan berkarakter kuat.”Makanya jujur,saya merasa bangga terpilih menjadi juara penyanyi terbaik di World Pop Song Festival” kata Harvey Malaihollo yang pada tahun 1986 berhasil menyabet kategori Best Singer di World Pop Song Festival Tokyo melalui komposisi karya Elfa Secioria Hasbullah dan Wieke Gur bertajuk “Seandainya Selalu Satu(If We Could Always Be Together)”.Harvey Malaihollo saat itu mengungguli para Grand Finalis dari 28 negara di dunia. Bisa dikatakan itulah puncak atau akhir petualangan pemusik Indonesia pada ajang kompetisi internasional.Karena ,pada kompetisi yang ke 13 pada tahun 1988,acara yang diprakarsai pertamakali oleh Yamaha Music Foundation pada 1970 tersebut ditiadakan sama sekali. Indonesia pertamakali mengirimkan utusan ke World Pop Song Festival di Tokyo ini pada tahun 1971 dengan diwakili penyanyi Elly Srikudus yang membawakan lagu karya Mochtar Embut bertajuk “With The Deepest Love of Djakarta“.Tapi,tak berhasil menggurat prestasi sama sekali.Begitupula pada tahun selanjutnya yang diwakili almarhumah Tuty Ahem yang membawakan karya almarhum Mus K Wirya bertajuk “Before I Die“,juga tak menghasilkan prestasi sedikitpun.

Baru pada tahun 1977,nama Indonesia bergaung di acara yang digelar di gedung yang biasa dipakai untuk pertandingan olahraga khas Jepang Sumo itu.

Tahun itu almarhum Adjie Bandy berhasil memperoleh penghargaan dalam kategori “Outstanding Song Award” lewat lagu ciptaannya “Damai Tapi Gersang“,yang dinyanyikan secara duet dengan Hetty Koes Endang..

Sejak saat itu,semangat berkompetisi di kalangan pencipta lagu kembali terpacu dan terpicu.Lima tahun berselang tepatnya pada tahun 1982,Indonesia kembali memperoleh penghargaan berupa Kawakami Award yang disematkan untuk lagu “Lady” karya Anton Issoedibyo. Tahun 1985,Indonesian kembali berhasil meraih Kawakami Award lewat lagu “Burung Camar” karya Aryono Hubojo Djati dan Iwan Abdurachman yang disenandungkan Vina Panduwinata dan aransemen musik oleh Candra N Darusman.

Lagu Burung Camar karya Aryono Huboyo Djati dan Iwan Abdurachman meraih penghargaan The Kawakami Prizes dalam World Popular Songs Festival di Budokan Hall Tokyo Jepang tahun 1985.Tampak Candra Darusman (arranger),Aryono Huboyo Djati (komposer) dan Vina Panduwinata (penyanyi) saat Presiden Yamaha Music Foundation Gen'ichi Kawakami menyerahkan award

Lagu Burung Camar karya Aryono Huboyo Djati dan Iwan Abdurachman meraih penghargaan The Kawakami Prizes dalam World Popular Songs Festival di Budokan Hall Tokyo Jepang tahun 1985.Tampak Candra Darusman (arranger),Aryono Huboyo Djati (komposer) dan Vina Panduwinata (penyanyi) saat Presiden Yamaha Music Foundation Gen’ichi Kawakami menyerahkan award

Setahun kemudian,Harvey Malaihollo,yang rajin menjadi kontestan,berhasiol meraih kategori paling bergengsi yaitu Best Singers WPSF 1986 setelah melantunkan lagu “Seandainya Selalu Satu” karya Elfa Secioria Hasbullah dan Wieke Gur.Di tahun berikutnya,Indonesia malah memperoleh 2 penghargaan sekaligus yaitu “Audience Selection Award” dan “Kawakami Award” atas lagu “Kembalikan Baliku” karya Guruh Soekarno Putera yang dinyanyikan Jopie Latul.Tahun 1976 Guruh Soekarno Putera pernah mewakili Indonesia ke WPSF lewat lagu “Renjana” yang dinyanyikan Grace Simon,tapi tak berhasil meraih predikat apa-apa.

Sayangnya,ketika Indonesia tengah getol-getol mencetak prestasi di ajang kompetisi tingkat dunia,acara World Pop Song Festival itu pun ditiadakan oleh pihak Yamaha Music Foundations.Meskipun demikian,penyelenggaraan Festival Lagu Populer Indonesia toh masih tetap berlanjut hingga akhirnya juga harus ditiadakan sama sekali seusai penyelenggaraan kompetisi pada tahun 1991.

LAGU LAGU INDONESIA DALAM WPSF TOKYO (1971 -1987)

1.With The Deepest of Jakarta (Mochtar Embut) – Elly Srikudus (1971)

2.Before I Die (Mus K Wirya) – Tuty Ahem (1972)

3.Love Eternally (Nick Mamahit) – Broery Marantika (1973)

4.Cinta (Titiek Puspa)- Broery Marantika (1974)

5.Pergi Untuk Kembali (Minggoes Tahitu) – Melky Jannes Goeslaw (1975)

6.Indigo (Renjana) (Guruh Soekarno Putera) – Grace Simon (1976)

7.Damai Tapi Gersang (Adjie Bandy) – Hetty Koes Endang & Adjie Bandy (1977)

8.Harmoni Kehidupan (Ully Sigar Rusadi) – Dhenoik Wahyudi (1978)

9.Runtuhnya Keangkuhan Diri (Tarida Hutauruk) – Berlian Hutauruk (1979)

10.Senja Merah (Red Twilight) (Roekanto D dan Esti W) – Marini (1980)

11.Siksa (Titik Hamzah) – Euis Darliah & Hetty Koes Endang (1981)

12.Lady (Anton Issoedibyo) Harvey Malaihollo & Geronimo (1982)

13.Randu (Elfa Secioria & Ferina Zubeir) – Andi Meriem Mattalatta (1983)

14.Aku Melangkah Lagi (Santoso Gondowidjojo) – Vina Panduwinata (1984)

15.Burung Camar (Aryono Huboyo Djati & Iwan Abdurachman) – Vina Panduwinata (1985)

16.Seandainya Selalu Satu (If We Could Always Be Together) (Elfa Secioria & Wieke Gur)

Harvey Malaihollo (1986)

17.Kembalikan Baliku (Guruh Soekarno Putera) – Jopie Latul (1987)