Archive for the ‘Sejarah’ Category

Selayang Pandang Folk Indonesia

Posted: Desember 28, 2013 in Kisah, Sejarah

Siapakah penyanyi folk Indonesia yang pertama  ? Saya berasumsi bahwa almarhum Gordon Tobinglah orangnya.Bersama vokal grup yang dibentuknya dengan nama Impola, Gordon Tobing menyanyikan hampir seluruh lagu-lagu rakyat Indonesia.Gordon Tobing dan Impola acapkali dikirim ke luar negeri untuk misi kebudayaan Indonesia untuk seni musik.Musik folk yang dimainkan Gordon Tobing tampaknya memang menjadi representasi negeri ini, Indonesia.

Lalu siapakah Gordon Tobing ?.

Piringan Hitam Gordon Tobing dan Impola Vokal Grup (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Gordon Tobing dan Impola Vokal Grup (Foto Denny Sakrie)

Gordon Tobing dilahirkan  di Medan, Sumatera Utara,pada tanggal  25 Agustus 1925

Gordon Tobing yang berbakat musik,belajar musik secara otodidak.Dia  tak pernah mempelajari musik secara formal,.Di  tahun 1950 Gordon merantau ke Jakarta. Gordon sempat membentuk Kelompok Vokal bernama  Sinondang bubar. Ketika Sinondang bubar,Gordon kemudian  membentuk Vokal Grup “Impola”.Impola adalah bahasa Tapanuli yang artinya  inti yang terbaik dari yang terbaik. Vokal Grup Impola inilah yang membuat Gordon dan istrinya Theresia Hutabarat menjadi sangat terkenal sejak tahun 1960 an. Bersama VG Impola, dia mengunjungi berbagai  negara di dunia.
Pada tahun 1965 Gordon Tobing dan Impola  dipilih oleh suatu Panitia Jerman untuk turut serta dalam Press Fest di Jerman. Impola juga dipilih oleh Tim Ahli Seni Australia  untuk mewakili Asia  pada Art Festival of Perth  yang berlangsung tahun 1969.

Folk Songs dengan berbasis lagu-lagu rakyat tradisional ini memang merebak pada era 50an hingga 60an yang kemudian dibawakan dengan format vokal grup atau kelompok vokal. Tapi disamping itu  musik Folk dengan nuansa kontemporer mulai pula berkembang sejak akhir dasawarsa 60an.Salah satu inspirasi timbulnya musik folk yang berkembang diantara anak muda adalah musik-musik Folk Amerika yang digagas oleh Bob Dylan,Joan Baez,Melanie,Peter Seeger,Phil Ochs  hingga kelompok Crosby,Stills,Nash & Young.

Lagu-lagu folk kontemporer yang mulai memikat pendengar muda di Indonesia antara lain adalah “Blowin’ In The Wind” (1963)  dari Bob Dylan,”Donna Donna” (1960) dari Joan Baez hingga “Our House”(1970) dari Crosby Stills,Nash and Young yang mulai di putar di radio-radio anak muda yang menjamur pada akhir era 60an hingga awal 70an. Penikmat musik folk saat itu dari kalangan pelajar hingga mahasiswa.Mereka mulai mengakrabi musik folk dengan memetik gitar akustik sambil bernyanyi.

Kelompok folk bernuansa Latin Bimbo jadi laporan utama majalah Tempo

Kelompok folk bernuansa Latin Bimbo jadi laporan utama majalah Tempo

Setidaknya ada 3 (tiga) kota besar yang memiliki kepioniran dalam memperkenalkan musik folk di Indonesia yaitu Jakarta,Bandung dan Surabaya.Di ketiga kota ini komunitas penggemar musik folk mulai terlihat.Di Jakarta mulai terdengar Kwartet Bintang yang dimotori Guntur Sukarnoputra putra sulung Presiden Sukarno, Noor Bersaudara hingga Prambors Vokal Group.Di Bandung sejak tahun 1967 telah berkiprah  Trio Bimbo hingga Remy Sylado.Sedangkan di Surabaya sejak tahun 1969 telah terdengar nama Lemon Trees yang didukung oleh Gombloh dan Leo Imam Soekarno yang di era paruh 1970an dikenal dengan nama Leo Kristi.Beberapa diantaranaya bahkan telah merilis album rekaman seperti Trio Bimbo yang merekam album lewat label Fontana di Singapore pada tahun 1971 .Di album ini Trio Bimbo muncul dengan hits sebuah folk ballad bertajuk Melati Dari Jayagiri karya Iwan Abdurachman.

Remy Sylado pertamakali merekam album di tahun 1975 dengan tajuk Folk Rock Vol.1

Remy Sylado pertamakali merekam album di tahun 1975 dengan tajuk Folk Rock Vol.1

Iwan Abdurachman (Foto Djajusman Joenoes)

Iwan Abdurachman (Foto Djajusman Joenoes)

Pada tanggal 8 Juli  1973 diadakan acara Parade Folk Songs yang berlangsung di Youth Center Bulungan Jakarta Selatan dengan menampilkan sederet kelompok folk seperti Remy Sylado Company yang didukung 26 siswa SPG St.Angela Bandung,Noor Bersaudara,Gipsy dan Prambors Vokal Group dibawah pimipinan Iwan Martipala.Lalu pada tanggal  25 Agustus 1973 digelar Pesta Folk Songs Se Jawa yang berlangsung di Gedung Merdeka Jalan Asia Afrika Bandung menampilkan Noor Bersaudara dan Prambors Vokal Grup dari Jakarta.Kemudian ada Manfied,Vraliyoka dan Lemon Never Forget dari Surabaya, Azwar AN & The Ones dari Yogyakarta,Daniel Alexey dari Semarang, serta Singing Student Bandung (Double SB),The Gangs,The Mad,Numphist Group,Hande Bolon,GPL Unpad dan Remy Sylado Company.

Kemudian di Surabaya pada Mei 1974 berlangsung Parade Folk Songs di Kampus Universitas Airlangga Surabaya yang diikuti sekitar 16 kelompok folk antara lain Vraliyoka,Franky & Gina,Leo & Christie,Remaja Yudha,Manneke Pelenkahu & Manfied,Bengkel DKS serta 19 Nervous Breakdown.

Beberapa kelompok folk terdepan seperti Trio Bimbo,Noor Bersaudara hingga Remy Sylado Company juga ikut tampil dalam perhelatan musik terbesar Summer ’28 yang berlangsung di Ragunan Pasar Minggu pada 16 Agustus 1973.

Remy Sylado dengan lirik lagu yang mbeling pertamakali memproklamirkan diri sebagai kelompok Folk Rock

Remy Sylado dengan lirik lagu yang mbeling pertamakali memproklamirkan diri sebagai kelompok Folk Rock

Di kampus ITB Bandung selama dua tahun berturut-turut 1973 dan 1974 berlangsung diskusi musik tentang musik folk yang menghadirkan pula para musikolog dan kritikus musik  seperti Frans Haryadi dan JA Dungga.Pada paruh 70an di Bandung kerap diadakan acara Musik Akustik yang menampilkan sederet para pemusik dan kelompok folk seperti Monticelli Group,Singing Student Bandung,GPL Unpad,Jan Hartland,One Dee Group,Harry Roesli,Mythos Group,Pahama, dan masih banyak lagi.Bahkan di tahun 1977 Monticelli yang dipimpin Dini Soewarman merilis kompilasi musik folk Musik Akustik Monticelli yang dirilis Hidayat Audio.

Kelompok folk Heygress yang merekam album di Tala & Co tahun 1979

Kelompok folk Heygress yang merekam album di Tala & Co tahun 1979

Bimbo sendiri kemudian menghasilkan sederet pengikut dalam gaya bermusik mulai dari Geronimo II,Nobo,Pahama Group, Mythos Group,Kharisma Alam,Amudas dan banyak lagi lainnya.

Di Surabaya beberapa kelompok folk juga mulai merekam lagu-lagunya seperti Gombloh dan Lemon Tree’s Anno ’69 dan Manfied.Bahkan Leo Imam Soekarno yang awalnya tampil lewat duo Leo and Christie, mulai membentuk kelompok folk dengan nama Konser Rakyat Leo Kristi dan merilis album debut bertajuk Nyanyian Fajar pada label Aktuil Musicollection yang dikelola majalah music Aktuil di Bandung.

Remy Sylado dengan Remy Sylado Company juga merekam album bertajuk Folk Rock Vol.1 pada label Gemini Record.

Karena demam folk songs yang merebak dimana mana, akhirnya membuat Eugene Timothy dari Remaco meminta agar Koes Plus merilis album Folk Songs pada tahun 1976.

Memasuki  akhir dasawarsa  70an dan 80an, musik folk songs kian berkembang dengan munculnya sosok-sosok baru seperti duo Franky & Jane,Mogi Darusman,Tara & Jayus,Tika & Sita,  Iwan Fals,Wanda Chaplin,Tom Slepe,Doel Sumbang,Ritta Rubby Hartland,Elly Sunarya hingga Ully Sigar Rusady , Ebiet G Ade serta Kelompok Kampungan dari Yogyakarta . Kebanyakan mereka tampil dengan pola singer/songwriter yang membawakan lagu karya sendiri sambil memetik gitar akustik. Tema lirik lagunya berkisar dari tema alam dan lingkungan serta kritik sosial yang terkadang dibumbui dengan aura humor yang menggelitik.

Kelompok Geronimo 2 dari Yogyakarta

Kelompok Geronimo 2 dari Yogyakarta

Franky & Jane ,Iwan Fals dan Ebiet G.Ade muncul di posisi terdepan.Ketiganya bahkan menjadi protipe inspirasi  dari sederet pemusik yang muncul setelah mereka .Gaya bermusik Iwan Fals diikuti oleh Doel Sumbang,Tom Slepe dan Wanda Chaplin. Franky & Jane diikuti pula oleh duo Frans & Yenny,Nana Bodi,Jelly & Diana dan banyak lagi. Bahkan gaya bernyanyi Ebiet G Ade diikuti sederet follow seperti Endar Pradesa,Tommy J Pisa,Jamal Mirdad,Ade Putra,Jamil Mirzad .Bahkan Ritta Rubby Hartland  kerap dijuluki Ebiet G Ade wanita.

Sawung Jabo yang pernah bergabung dengan Kelompok Kampungan mulai terdengar kiprahnya dengan membentuk Sirkus Barock hingga Genggong. Sawung Jabo juga ikut mendukung Kantata Takwa,Swami dan Dalbo.

Di era 90an Iwan Fals,Ebiet G Ade dan Franky Sahilatua tetap berkibar membawakan musik folk.Iwan Fals juga ikut bergabung dalam Kantata Takwa dan Swami .Di tahun 1993 muncul seorang singer/songwriter berbakat Oppie Andaresta lewat album “Albumnya Oppie” yang menghasilkan hits “Cuma Khayalan”,”Inilah Aku” atau “Cuma Karena Aku Perempuan”. Oppie berlenggang sendirian sebagai penyanyi folk wanita dengan lirik yang lugas dan apa adanya.Ini terlihat jelas lewat album keduanya “Bidadari Badung” (1995) dengan lagu seperti “Ingat Ingat Pesan Mama” dan “Bidadari Badung”.

Payung Teduh menampilkjan Folk dengan rasa Kroncong (Foto Denny Sakrie)

Payung Teduh menampilkjan Folk dengan rasa Kroncong (Foto Denny Sakrie)

Di era 2000an, justeru semakin banyak kelompok-kelompok musik folk yang bermunculan dalam khazanah musik Indonesia seperti Endah N Rhessa,Dialog Dinihari,Payung Teduh,Deugalih & Folks,Frau,Harlan Boer,Sir Dandy,Payung Teduh,Tigapagi,Adhitia Sofyan,Teman Sebangku,Nada Fiksi,Semakbelukar,Rusa Militan.

Iklan

Ngak Ngik Ngok Versus Irama Lenso

Posted: November 25, 2013 in Sejarah
Sampul belakang album mari Bersukaria dengan Irama Lenso rilisan Irama tahun 1965 dengan tandatangan Presiden Soekarno pada 14 April 1965

Sampul belakang album mari Bersukaria dengan Irama Lenso rilisan Irama tahun 1965 dengan tandatangan Presiden Soekarno pada 14 April 1965

Apa boleh buat musik rock n’roll yang merupakan janin dari eksperimentasi musik blues yang dibawa kaum Afrika di Amerika pada akhirnya menjejal sebagai musik pergaulan yang mengharu-biru dunia di pelosok manapun termasuk Indonesia.Pada paruh era 50an negara kita pun tak kuasa menghadang derasnya arus rock n’roll yang jika ditelusuri ikhwal muasalnya merupakan tribal music dari Afrika.Rock n’roll yang sarat dinamika,lentur dan menjelmakan representasi kebebasan, memang memikat anak muda yang sedang berbuncah-buncah dalam berekspresi.

Saat itu pula Elvis Presley juga merebut simpati banyak anak muda Indonesia dengan sajian rock and rollnya.Budaya pop yang cenderung kebarat-baratan  ini menimbulkan inspirasi bagi anak muda yang kemudian keranjingan membentuk band yang saat itu popular dengan istilah Orkes. Beberapa kompetisi orkes pun mulai diadakan dimana-mana misalnya dengan nama Festival Irama Populer . Presiden Sukarno melihat gejala ini sebagai sesuatu yang meracuni jiwa dan budaya bangsa.Sukarno mengkhawatirkan budaya bangsa lama kelamaan akan terlupakan dan punah ditelan budaya Barat yang sarat kemilau itu.Untuk menangkalnya dalam perayaan Hari Proklamasi 17 Agustus 1959 dikeluarkanlah sebuah manifesto a yang diberi nama Manipol Usdek .Manifesto politik / Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia Pemerintah RI mengeluarkan keputusan untuk melindungi kebudayaan bangsa dari pengaruh asing terutama Barat.Sejak Oktober 1959 siaran Radio Republik Indonesia (RRI) ditegaskan untuk tidak lagi memutar atau memperdengarkan lagu-lagu rock and roll,cha cha,tango hingga mambo yang dinamakan musik ngak ngik ngok oleh presiden Sukarno. Manifesto Presiden Soekarno dan program acara RRI sebetulnya memperlihatkan sikap anti Barat  terutama budaya Barat yang muncul dari lagu-lagu Barat. Namun dengan adanya larangan senacam ini justru memecut kreativitas para seniman musik kita.Lihatlah bagaimana penyanyi Oslan Husein dengan iringan Orkes Teruna Ria yang dipimpin gitaris Zaenal Arifin  membawakan lagu Bengawan Solo karya Gesang dengan gaya bernyanyi ala Elvis Presley.Kejadian ini berlangsung di penghujung era 50an.

Inilah kelompok musik The Lensoist dari kiri Idris Sardi,Jack Lesmana,Munif Bahasuan,Loddy Item dan Maskan

Inilah kelompok musik The Lensoist dari kiri Idris Sardi,Jack Lesmana,Munif Bahasuan,Loddy Item dan Maskan

Disisi lain Presiden Soekarno tak hanya sekedar melarang memainkan musik-musik Barat,tetapi memberikan teladan dengan menggali budaya bangsa.Saat itu untuk menggantikan budaya dansa-dansi yang kerap berlangsung di berbagai Ballroom atau Klab, Bung Karno menggagas munculnya Irama Lenso yang digali dari khazanah seni budaya Maluku.Irama Lenso adalah semacam tarian pergaulan tradisional yang bermuasal dari Ambon Maluku.

Bung Karno dan isterinya Hartini tengah melakukan tarian Lenso

Bung Karno dan isterinya Hartini tengah melakukan tarian Lenso

Lenso adalah saputangan dalam bahasa Maluku.Dalam melakukan gerakan tari dengan iringan ritme musik bertempo medium, setiap orang memegag saputangan dalam genggaman.Tiga seniman musik Indonesia yaitu Jack Lemmers (kelak namanya berganti menjadi Jack Lesmana),Idris Sardi dan Bing Slamet diundang Bung Karno untuk menggali Irama Lenso. Bung Karno sendiri ikut terlibat dalam penggarapan lagu dalam irama Lenso tersebut. Satu diantaranya adalah lagu Bersuka Ria, yang merupakan galian Bung Karno dari khazanah musik daerah.Lagu Bersuka Ria ini kemudian dinyanyikan oleh Rita Zaharah,Nien Lesmana,Bing Slamet dan Titiek Puspa dalam album kompilasi bertajuk Mari Bersuka Ria Dengan Irama Lenso  pada label Irama yang dirilis pada tanggal 14 April 1965.Lagu-lagu yang terdapat di album ini memang sangat bernuansa Indonesia,mulai dari 3 lagu rakyat seperti Soleram,Burung Kakatua dan Gelang Sipaku Gelang, juga ada Bengawan Solo karya Gesang,Euis karya Trihanto,Malam Bainai karya Karim Nun dan Gendjer Gendjer karya Muhammad Arif. Lagu yang terakhir disebut ini kemudian menjadi kontroversi politik saat berlangsungnya Gerakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis.

Bing Slamet dan Adikarso

Bing Slamet dan Adikarso

.Gendjer Gendjer yang ditulis oleh seorang seniman LEKRA ini diasosiasi kan sebagai salah satu piranti PKI. Pemerintah Orde Baru dibawah rezim Soeharto melarang lagu Gendjer Gendjer yang dinyanyikan dengan menawan oleh Bing Slamet.Lagu yang bercerita tentang sayur sayuran ini bahkan dianggap sebagai bagian dari ajaran komunisme.

Bung Karno lalu membawa sejumlah seniman musik dalam lawatannya ke Eropa dan Amerika Serikat antara tahun 1964-1965.Sederet pemusik ternama akhirnya disatukan dalam proyek yang diberinama The Lensoist.Mereka terdiri atas para penyanyi  mulai dari Bing Slamet,Titiek Puspa,Nien Lesmana hingga Munif A Bahasuan  serta sederet pemusik seperti Idris Sardi (biola) ,Jack Lesmana (gitar),Bubi Chen (piano) ,Darmono (vibraphone) ,Loddy Item (gitar),Maskan (bass) dan Benny Mustafa (drums).

Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso 1965

Dalam liner note album Mari Bersuka Ria Dengan Irama Lenso, pemusik Sjaiful Nawas menuliskan : “Pemimpin besar Revolusi kita selalu mengandjurkan , agar kita berani berdiri di atas kaki sendiri ,tentu andjuran beliau itu mentjakup bidang musik kita pula.Tadi kita menjebut tentang beat mengiringi Tari Lenso Gaja Baru ,apakah beat itu sudah diketemukan ?  . Kita telah menemukannja dan hasilnja sangatmemuaskan.Beat itu telah dapat didengar dengan njata melalui rekaman terbaru Orkes Irama pimpinan Jack Lesmana bersama penjanji2 tenar seperti  : Titiek Puspa,Nien,Rita Zaharah dan Bing Slamet “.

 

School Of Rock : Perguruan Cikini

Posted: November 22, 2013 in Kisah, Sejarah

Ada dua hal yang membuat saya seketika jadi teringat dengan Sekolah Yayasan Perguruan Cikini atau lebih dikenal dengan sebutan Percik yang terletak di Jalan Cikini Raya,Menteng Jakarta Pusat.Pertama, saat saya lagi menyelesaikan buku bertajuk “Jejak Musik Anak Pegangsaan”, yang isinya menuturkan tentang perjalanan musik anak band yang nongkrong di Jalan Pegangsaan Barat Menteng Jakarta. Kedua, saat beberapa pecan lalu saya lagi menyelesaikan buklet tentang Slank dalam rangka peringatan 30 tahun Slank berkarir “Slank Nggak Ada Matinya” . Pada saat menulis dua naskah tersebut,saya menemukan benang merah yang sama yaitu baik Gang Pegangsaan maupun Gang Potlot,keduanya merupakan rumah mampir bagi anak-anak band di eranya.Jika Gang Pegangsaan yang terletak di Jalan Pegangsaan Barat 12 A adalah rumah keluarga Nasution yang menjadi rumah mampir anak-anak band era paruh 60an hingga paruh 80an.Maka Gang Potlot terletak di Jalan Potlot III No.14 Duren Tiga Jakarta Selatan adalah rumah keluarga Sidharta,orang tua Bimbim yang menjadi rumah mampir anak-anak band era 80an hingga sekarang ini.

Sebagian besar personil Gipsy bersekolah di Perguruan Cikini

Sebagian besar personil Gipsy bersekolah di Perguruan Cikini

Nah, dari penggarapan dua tulisan yang saya sebut diatas ternyata menyertakan sebuah sekolah yang pada zamannya sering disebut sekolah anak pejabat, karena ternyata murid-muridnya banyak berasal dari orang tua yang berada dalam jabatan tertentu dalam pemerintahan.Jika membolak balik lembaran sejarah,Yayasan Perguruan Cikini ini telah berdiri sejak tanggal 1 Agustus 1942 dengan nama Sekolah Rakyat Pertikelir Mayumi yang awalnya adalah sebuah tempat kursus bahasa Indonesia yang digagas oleh Pandu Suradiningrat. Pamor Yayasan Perguruan Cikini kian harum ketika ternyata  putra-putri Presiden Soekarno seperti Guntur Sukarno Putra,Megawati Sukarno Putri dan si bungsu Guruh Sukarno Putra bersekolah disitu. Termasuk pula anak-anak beberapa menteri RI saat itu juga bersekolah disitu.Singkatnya ,Sekolah Yayasan Perguruan Cikini yang terdiri atas Sekolah Rakyat yang kemudian berubah jadi Sekolah Dasar,SMP dan SMA itu menjadi semacam sekolah favorit.

 

Menariknya lagi, ternyata di Yayasan Perguruan Cikini ini secara tak sengaja menjadi tempat persemaian pemusik Indonesia.Saya sebut secara tidak sengaja, karena sekolah ini toh bukan sekolah musik, tetapi justuru di sekolah-sekolah yang berada dibawah naungan Yayasan Perguruan Cikini banyak menghasilkan pemusik-pemusik mumpuni dari era ke era.

Pada paruh dasawarsa  60an hingga akhir  dasawarsa 70an, Yayasan Perguruan Cikini dikenal sebagai salah satu sekolah favorit, ini disebabkan karena mulai dari anak-anak  Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto dan para pejabat tinggi maupun menteri serta pengusaha terkenal semua bersekolah di Yayasan Perguruan Cikini.
Tapi yang patut dicatat adalah bahwa di Sekolah Yayasan Percik ini semuanya bergaul tanpa membedakan status sosial,karena  bukan hanya anak-anak pejabat atau kalangan atas saja yang bersekolah disitu , misalnya ada juga anak penjual kembang di pasar Cikini yg kesohor bersekolah disana,Juga anak dari  penjaga sepeda yg kini menjadi dosen di Malaysia.

Achmad Albar murid SD Perguruan Cikini (Foto Koleksi Achmad Albar)

Achmad Albar murid SD Perguruan Cikini (Foto Koleksi Achmad Albar)


Perguruan Cikini juga merupakan tempat berkumpulnya para pemusik sohor mulai dari penyanyi rock turunan Arab Achmad Albar hingga  Nasution Bersaudara yang terdiri atas Zulham Nasution,Gauri Nasution,Keenan Nasution,Oding Nasution dan Debby Nasution.Di rumah keluarga Nasution,murid-murid Percik ini lalu berkumpul bermain musik.Pontjo Sutowo putra Direktur Utama Pertamina Ibnu Sutowo lalu membeli seperangkat alat band mewah dan sengaja ditaruh di Jalan Pegangsaan Barat.Kejadian itu berlangsung pada paruh era 60an.Dengan alat-alat band yang disediakan Pontjo Sutowo, lalu terbentuklah Sabda Nada yang kemudian berubah nama menjadi Gipsy di tahun 1967.Nasrul Harahap atau yang kerap dipanggil Atut lalu diangkat menjadi vokalis Gipsy sepulangnya dari Belanda pada akhir era 60an.Atut yang ayahnya adalah Menteri Keuangan pada cabinet pemerintahan Soekarno ini sejak kelas 1 SD hingga kelas 3 SMP satu kelas dengan Rada Krisnan Nasution yang lebih dikenal dengan panggilan Keenan Nasution. 

Putra tertua pasangan Soekarno dan Fatmawati juga membentuk band.Guntur awalnya tergabung dalam band Aneka Nada bersama Samsudin Hardjakusumah yang kemudian membentuk Trio Bimbo di tahun 1967.Di awal era 60an Aneka Nada merilis album debut di Lokananta Solo.

Guntur yang memainkan drum serta gitar itu lalu diajak  gitaris dan penulis lagu soshor Jessy Wenas membentuk Kwartet Bintang dan menghasilkan rekaman di Remaco.

Guruh Soekarno Putera ,adik kandung Guntur malah membentuk band dengan nama The Flower Poetman bersama sahabat dekatnya seperti Wibowo Soemadji dan Tjalik R.British Invasion banyak mempengaruhi Guruh dan kawan-kawan dalam bermain band.Di tahun 1975 Guruh Sukarno Putra lalu mengajak sahabat-sahabatnya di Perguruan Cikini yang saat itu aktif ngeband dengan nama Gipsy untuk membuat proyek musik eksperimen dengan nama Guruh Gipsy.

Pemusik lain yang ada di Percik saat itu adalah Harry Sabar dan Doddy Sukasah, mereka berdua adalah adik kelas dari Keenan Nasution dan Atut Harahap serta Guruh Sukarno Putra.Lalu ada dua bersaudara Adi Ichsan dan Firman Ichsan yang membentuk band The Beagle dan kemudian juga membentuk The Lords bersama Tammy Daudsyah.Tammy akhirnya ikut bergabung dengan Gipsy sebagai peniup flute dan saxophone.Firman Ichsan sendiri lalu meninggalkan perangkat drum dan lebih tertarik mendalami dunia fotografi.

Di era 70an murid-murid Percik kian banyak yang memperlihatkan bakat musik,satu diantaranya adalah Prasetyo, putra dari Pak Kasur tokoh anak-anak serta penulis lagu anak-anak.Adapun murid-murid era 70an ini ternyata lebih tertarik menghasilkan karya musik opera.Mungkin karena saat itu lagi booming dengan karya-karya opera rock seperti Tommy dari The Who,Jesus Christ Superstars karya Andrew Lloyd Weber dan Tim Rice atau karya musikal Hair yang ditulis James Rado,Gerome ragni dan Galt McDermot atau karya-karya opera rock Harry Roesli seperti Sangkuriang dan Ken Arok.Murid-murid Percik ini lalu membentuk Operette Cikini yang kemudian menginterpretasikan karya-karya pewayangan menjadi operette seperti Ramayana hingga Mahabarata.

Salah satu murid SMA Percik yang ikut dilibatkan dalam penggarapan musik Operette Cikini ini adalah Eet Syahranie, putra seoarang Gubernur di Kalimantan yang menuntut ilmu di Perguruan Cikini.”Saat itu saya sudah tergabung dalam band sekolah namanya Cikini Rock Band” cerita Eet Syahranie yang sekarang dikenal sebagai gitaris EdanE.Eet Syahranie disegani di Percik karena berhasil terpilih sebagai gitaris terbaik dalam ajang Festival Band Antar SLTA Se Jakarta.
“Saat itu Cikini Rock Band mungkin satu-satunya band yang main rock,sementara hampir semua band tendensinya memainkan music jazz.Musik jazz saat itu memang lagi booming” ungkap Eet Syahranie yang kemudian direkrut menjadi gitaris Operette Cikini dengan memainkan karya Mahabarata.”Seingat saya Operette Cikini itu tampil playback,jadi kita rekaman dulu di Tala & Co Studio yang ada di Jalan Kesehatan.jadi kalo bisa dibilang, Operette Cikini adalah saat saya pertamakali merekam permainan gitar saya di studio rekaman” imbuhnya lagi.

Di era 80an ada Cikini Stones Complex yang kemudian berubah menjadi Slank

Di era 80an ada Cikini Stones Complex yang kemudian berubah menjadi Slank

Memasuki dekade 80an, musik rock tetap bergaung di Yayasan Perguruan Cikini  .Sekitar Desember 1983 terbentuklah band rock dengan kiblat musik The Rolling Stones yaitu Cikini Stones Complex yang disingkat CSC.Mereka adalah murid-murid SMA Percik yang terdiri atas  Bimo “Bimbim” Setiawan (drum), Boy (gitar), Kiki (gitar), Abi (bas), Uti (vokal) dan  Welly (vokal).Saat itu Cikini Stones Complex kerap kali main diberbagai pertunjukan dengan membawakan sejumlah repertoar lagu milik The Rolling Stones.Mereka tampil mulai dari Taman Ismail Marzuki (TIM) hingga di Balai Sidang Senayan Jakarta.Inilah band yang menjadi cikal bakal munculnya Slank, band yang kini memiliki komunitas terbesar di negara ini.

Di era 90an Yayasan Perguruan Cikini masih menghasilkan sederet pemusik-pemusik yang memiliki kiprah dan karya dalam khazanah musik Indonesia, mulai dari Sore, hingga Superglad.

Empat dari personil Sore semuanya sekolah di Perguruan Cikini jakarta Pusat

Empat dari personil Sore semuanya sekolah di Perguruan Cikini jakarta Pusat

Seperti halnya pertemanan antara Keenan Nasution dan Guruh Sukarno Putra di era 60an saat mengenyam pendidikan di Percik, maka di era 90an setidaknya hal itu juga terjadi pada keempat personil band Sore yaitu Ade Paloh,Ramondo Gascaro,Awan Garnida serta Echa. “Saat itu kami berempat menjadi sahabat karena suka musik.Oh iya kami adalah angkatan 1995 di Percik “ tutur Ade Paloh lagi.

Menurut Ade Paloh,murid murid Percik dianggap kuat pada sisi musik karena program musiknya didukung oleh para alumnus Yayasan Percik itu sendiri..”Yang saya ingat adalah prakarsa dari guru  musik kami saat itu Pak Hari Purwanto.Pak Hari ini juga yang mengajar musik ketika kami masih duduk dibangku SD “ ungkap Ade Paloh.Pak Hari Purwanto ini selain berperan sebagai guru musik, dia juga yang bertindak sebagai leader dalam Cikini Ensembles.
“ Pak Hari itulah yang membuat aransemen orchestra sekaligus memimpin orkestrasi pada album debut Sore di tahun 2005 Centralismo” papar Ade Paloh.

Meskipun bukan sekolah musik.tapi tanpa kesengajaan ternyata Yayasan Perguruan Cikini bisa menjaga benang merah peta musik yang terbentang begitu panjang dari era awal 60an hingga era saat sekarang ini.   

 

 

Oh bagai raja-diraja
Dikala seseorang sedang mengalami jaya
Semua orang menyanjung-nyanjung dan memuja
Semua orang mengelu-elu dan memuji

Tapi bila telah tak terpakai
Dia dihina, dicaci
Dinista, dimaki
Seakan tak pernah dia berjasa
Seakan dia makhluk tak berguna

Namun tinta sejarah
Tak akan pernah musnah
Walau dihapuskan
Suatu saat kan tiba
Mata umat terbuka
Tinggal kesan dan sesal
Tinggal kesal dan sesal
Oh..

Seakan tak pernah dia berjasa
Seakan dia makhluk tak berguna

Namun tinta sejarah
Tak akan pernah musnah
Walau dihapuskan
Suatu saat kan tiba
Mata umat terbuka
Tinggal kesan dan sesal
Tinggal kesan dan sesal
Tinggal kesal dan sesal
Oh..

“Perikemanusiaan” adalah lagu yang ditulis oleh Guruh Soekarno Putera untuk ayahnya Soekarno. Lagu dengan lirik yang bersemburat gugat ini dinyanyikan dengan ekspresi geram,gugat dan gundah oleh penyanyi rock sohor  Achmad Albar dalam konser ” pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putera”  yang berlangsung di Balai Sidang Senayan Jakarta pada januari 1979 .Jika kita telusuri lebih dalam lirik lagu ini, maka kita akan membanding-bandingkan dengan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh para presiden republik ini di ujung tahta yang berakhir.Tragis dan mengenaskan. Agaknya sejarah terus berulang. lalu timbul pertanyaan apakah SBY akan mengalami hal serupa pula nanti ?Apa yang akan dialami SBY pada tahun 2014 nanti ?

Soekarno dan Soeharto

Soekarno dan Soeharto

Di tahun 1967 Herman Effendy putra bapak Soeharsono yang bermukim di Jalan Pekalongan Menteng Jakarta Pusat tengah menjalani acara khitanan. Mungkin karena tinggal di kawasan elit Menteng, keluarga Soeharsono malah mengundang band terkenal di kawasan Pegangsaan Menteng Jakarta sebagai atrksi hiburan.Saat itu band Gipsy dikenal sebagai band yang suka diundang dalam acara-acara seperti pesta ulang tahun atau pesta anak muda yang kerap disebut Pesta Dayak. Gipsy saat itu baru saja ganti nama dari Sabda Nada menjadi Gipsy.Selain ganti nama, dalam band  Gipsy pun terjadi beberapa kali bongkar pasang pemain hingga akhirnya muncul formasi yang cukup solid dan tangguh yang terdiri atas Keenan Nasution (drums),Chrisye (bass),Tammy Daud (saxophone,flute),Onan Susilo (organ) serta Gauri Nasution (gitar elektrik).

Gipsy band terdiri atas Keenan Nasution,Chrisye,Tammy daud,Onan Susilo dan Chrisye saat menjadi band penghibur di rumah Herman Gelly yang tengah melakukan khitanan (Foto Agus Press)

Gipsy band terdiri atas Keenan Nasution,Chrisye,Tammy daud,Onan Susilo dan Chrisye saat menjadi band penghibur di rumah Herman Gelly yang tengah melakukan khitanan (Foto Agus Press)

Saat dikhitan Herman Effendy baru berusia 10 tahun.Herman Effendy atau yang kerap dipanggil Herman Gelly ini tidak tahu secara persis kenapa keluarganya mengundang Gipsy sebagai hiburan acara khitanan.Tapi ada yang menarik jika kita mengamati garis takdir dari peristiwa sebuah band bermain di sebuah acara khitanan. Siapa yang menyangka anak kecil bernama Herman yang tengah menjalankan ritual khitanan itu justru kelak akan dipertemukan kembali dengan dua dari personil band Gipsy itu yaitu Chrisye dan Gauri Nasution. Antara tahun 1986-1987, Herman adalah salah satu pemusik dan arranger yang menata dan mengiringi 3 album solo Chrisye yaitu Aku Cinta Dia,Hip Hip Huran dan Nona Lisa. Dan ketiga album Chrisye tadi menyertakan Gauri Nasution sebagai perancang grafis cover album. Nah, siapa yang menyangka ?

Kelompok Panbers saat melakukan shooting videoklip di tahun 1975 dengan menggunakan playback atau full lipsynch

Kelompok Panbers saat melakukan shooting videoklip di tahun 1975 dengan menggunakan playback atau full lipsynch

Kapankah videoklip mulai hadir atau terlihat di negeri ini ? Siapakah pemusik atau penyanyi yang dibuatkan videoklip untuk pertamakalinya ? Lalu siapakah sutradara videoklip di Indonesia ?. Hingga detik ini belum ada sebuah kesepakatan tentang apakah videoklip pertama dan siapakah sutradara videoklip pertama di Indonesia. Namun saya dengan segenap upaya berupaya melakukan sedikit riset kecil-kecilan tentang hal ini.Boleh jadi hasilnya mungkin berbeda atau malah keliru sama sekali.Tapi toh dengan pembeberan atau pemaparan ini setidaknya bisa menjadi pemicu untuk penelitian yang lebih jauh dan mendalam lagi perihal sejarah videoklip di negara ini. Videoklip memang merupakan salah satu tools atau perangkat menunjang pesan dari sebuah lagu dengan imbuhan penyajian secara visual.Kepentingan lainnya yang sangat signifikan adalah sebagai medium promosi terhadap sebuah lagu dalam konstelasi industri musik tentunya.

Budi Schwarzkrone saat mengarahkan Bimbo dalam videoklip "Sendiri" di tahun 1976

Budi Schwarzkrone saat mengarahkan Bimbo dalam videoklip “Sendiri” di tahun 1976

Televisi Republik Indonesia yang didirikan Pemerintah 24 Agustus 1962 merupakan media yang banyak mendukung industri musik.Banyak acara-acara musik di TVRI yang pada galibnya mengangkat khazanah musik Indonesia seperti Gaja dan Irama,Nada dan Improvisasi,Kamera Ria,Aneka Ria Safari,Dari Masa Ke Masa,Irama Lautan Teduh,Musik Malam Minggu,Album Minggu Ini,Orkes Telerama,Orkes Chandra Kirana dan masih banyak lagi lainnya.

Acara musik Telerama dengan Orkes Telerama di TVRI tahun 1976

Acara musik Telerama dengan Orkes Telerama di TVRI tahun 1976

Dari siaran musik yang dikelola TVRI inilah para pemusik Indonesia secara perlahan membangun popularitas mereka secara maksimal.Pemunculan  para penyanyi dan band di TVRI menimbulkan inspirasi bagi para seniman musik untuk tampil pula di layar kaca. Di TVRI sendiri terdapat acara Wajah Baru atau  Kenalan Baru yang menampilkan penyanyi penyanyi pendatang baru dalam dunia musik  Indonesia.Untuk tampil di acara ini mereka harus melalui tahap audisi yang cukup ketat. 

Pada paruh era 1970an TVRI mulai bereksperimen menampilkan lagu dengan setting outdoor yang terlihat lebih natural.Boleh jadi ini merupakan embrio atau cikal bakal munculnya era videoklip yang mulai marak di era 80an hingga 90an. Menurut Budi Schwarzkrone, yang saat itu menjabat sebagai pengarah acara di TVRI, videoklip pertama yang muncul di TVRI adalah lewat penampilan penyanyi Ernie Djohan di tahun 1972 dengan menggunakan kamera Éclair 16 mm.Tetapi yang bisa dianggap videoklip utuh dengan memakai playback atau lipsynch adalah videoklip kelompok Panbers di tahun 1974 dengan memakai kamera Arriflex 16 BL.

Videoklip pertama Indonesia adalah Ernie Djohan garapan Budi Scwarczkrone (TVRI) th 1972 pake kamera Eclair 16 mm

Videoklip pertama Indonesia adalah Ernie Djohan garapan Budi Scwarczkrone (TVRI) th 1972 pake kamera Eclair 16 mm

Para pembuat videoklip kemudian lebih memperlihatkan kreativitas yang lebih modern pada era 1990an seperti karya-karya Rizal Manthovani,Jay Subyakto,Dimas Djajadiningrat,Garin Nugroho,Ria Irawan dan beberapa nama nama lainnya.Hingga memasuki akhir era 80an dan masuk awal era 90an videoklip ala TVRI ini bisa dianggap sebagai sebuah medium yang ampuh dan tetap untuk mendukung popularitas sebuah karya cipta lagu dalam lingkup industri musik. Dan ketika izin beroperasi stasiun TV swasta dibuka pada akhir 80an dengan resmi berdirinya RCTI secara perlahan mulai mencuat aktivitas produksi videoklip. Di era yang juga sangat terpengaruh oleh keberadaan MTV, bermunculanlah sosok sosok muda dalam penyutradaraan videoklip, sebut saja nama-nama seperti Riza Manthovani hingga Jay Subiakto mulai unjuk kreasi dengan sederet videoklip yang memiliki kadar kreativitas yang lebih modern.

Pemusik Gombloh bersama model videoklip Titi Qadarsih saat penggarapan videoklip Kugadaikan Cintaku di tahun 1984

Pemusik Gombloh bersama model videoklip Titi Qadarsih saat penggarapan videoklip Kugadaikan Cintaku di tahun 1984

Saya selalu memulai titik awal industri musik di Indonesia dengan mematok era 50an sebagai lokomotif yang kemudian menghela rangkaian  gerbong perjalanan   sejarah industri musik hingga sekarang ini.Kenapa ? Ini bertolak dari asumsi bahwa pada era 50an musik pop sebagai bagian dari budaya pop mulai menggeliat di dunia secara industrial pasca Perang Dunia ke II.Contoh paling gamblang adalah menyeruaknya virus rock and roll dari Amerika Serikat yang menyebar tanpa terbendung ke seantero jagad, termasuk Indonesia didalamnya. Rock and roll menjadi wabah global yang menggoda anak muda dengan kredo kebebasan dan pembebasan serta anti kemapanan.

Titik awal era 50an saya anggap sebagai tonggak monumental juga berdasar bahwa di awal era 50an mulai berdiri perusahaan rekaman  milik pribumi yang pertama yaitu Irama yang digagas seorang perwira Angkatan Udara bernama Soejoso Karsono.  

Namun sebetulnya jika menilik lebih jauh,sebelum menginjak ke era 50an yang secara politis kerap disebut era Orde Lama, di zaman kolonialisme Pemerintah Hindia Belanda cikal bakal industri hiburan musik telah memperlihatkan keberadaannya. Saat itu phonograph Colombia buatan Amerika Serikat telah diimpor ke Hindia Belanda pada awal abad 20 tepatnya di tahun awal 1900an . Antara kurun waktu tahun 1903 – 1917  beberapa album rekaman phonograph mulai masuk ke Indonesia dengan berbagai label rekaman seperti Gramophone Company,Odeon Record, BeKa Record dari Jerman ,Columbia dari Amerika Serikat,, Parlophone Record dari Inggris, Anker,Lyrophon serta  Bintang Sapoe. Dalam catatan, Odeon Record berada diurutan pertama sebagai label yang paling banyak merilis singles yaitu sebesar 2614 singles,disusul Bintang Sapoe sebanyak 1140 singles,Gramphone Company sebesar 632 singles,Anker sebanyak 478 singles dan Beka sebanyak 126 singles.Perkiraan data ini saya kutip dari disertasi Yampolsky tentang studi industri rekaman di Indonesia dari tahun 1903-1917. Dari data ini setidaknya menunjukkan bahwa ada geliat industri musik rekaman  pada zaman itu yang tak bisa diremehkan .Bahwa industri rekaman pada zaman Hindia Belanda telah memperlihatkan itikad baik untuk mendokumentasikan sebuah karya senio,dalam hal ini adalah musik.  

 Dimasa itu setidaknya ada tiga  saudagar Tionghoa yang menggeluti dunia musik dengan mendirikan perusahaan rekaman.Dua pengusaha rekaman itu berada di Batavia yaitu Tio Tek Hong di Pasar baru dan Lie A Kon di Pasar Senen dan Lie Liang Swie di Surabaya Jawa Timur  ,Tan Tik Hing di Semarang  meskipun sebetulnya ruang lingkup pasarnya sangatlah  terbatas yaitu pada kaum urban elit saja . Phonograph dan Grammophone adalah perangkat pemutar rekaman yang mewah dengan harga yang relatif sangat mahal tentunya.Salah satu dari pedagang Tionghoa yang tersohor saat itu adalah Tio Tek Hong yang berdagang aneka ragam barang kelontong di Jalan Passer Baroe No.93, Batavia.

Ini ditunjang pula dengan beberapa retailer yang bisa dianggap menunjang bisnis rekaman saat itu seperti Tan Tik Hing dan  Ouw Tek Hok.Bisnis musik rekaman di negeri ini secara historik memang lebih banyak dilakukan oleh peranakan Tionghoa.

Penyanyi dan aktris tunanetra Indonesia Annie Landouw pada tahun 1939

Penyanyi dan aktris tunanetra Indonesia Annie Landouw pada tahun 1939

Musik-musik yang berasal dari rekaman phonograph itu lalu dimainkan oleh  para pemusik Belanda ,Tionghoa,Ambon dan Manado  melalui berbagai pertunjukan panggung.Lagu-lagu Amerika yang populer dimainkan saat itu antara lain adalah Lazy Moon  yang dinyanyikan Oliver Hardy dalam film Pardon Us (1901), atau  Mother O’Mine lagu yang diangkat dari puisi karya Rudyard Kipling . Saat itu patut diakui kiblat bermusik adalah ke Amerika Serikat.Para penyanyi wanita yang ada di zaman Hindia Belanda disebut crooner bukan singer bahkan di depan nama para penyanyi wanita di beri embel-embel seperti Miss Tjitjih,Miss Riboet,Miss Roekiah,Miss Dja dan seterusnya. Dan ini berlangsung hingga akhir era 1940an.Mungkin hampir sama dengan keadaan sekarang ini dimana hampir semua penyanyi wanita bersematkan predikat diva.

 

Suara mendayu para miss ini lalu direkam oleh perusahaan rekaman seperti Tio Tek Hong yang berlokasi di Passer Baroe. Tio Tek Hong memulai bisnis rekaman di sekitar tahun 1904, dimana saat itu saudagar kaya ini mulai mengimpor phonograph  dengan memakai roll lilin.Setahun kemudian,tahun 1905, perusahaan rekaman Tio Tek Hong mulai merilis plaatgramofoon  atau piringan hitam ke seluruh Indonesia dari Sabang hingga Merauke.Saat itu Tio Tek Hong melakukan kerjasama dengan Odeon Record  mulai dari tahun 1905, lalu bekerjasama dengan Columbia Record pada tahun 1911-1912. dan Adapun lagu-lagu yang direkam Tio Tek Hong mencakupi jenis Stambul,Keroncong,Gambus,Kasidah,Musik India,Swing hingga Irama Melayu.

Penyanyi dan kelompok musik yang direkam Tio Tek Hong Record cukup beragam.Untuk musik keroncong ada Orkest Krontjong Park,Orkest Moeridskoe ,Krontjong Sanggoeriang,Kerontjong Aer Laoet,Krontjong Deca Park .Untuk musik Kasidah ada Kasida  Sika Mas,Orkese Gamboes Metsir,Kasida Rakbie Mas,Gamboes Boea Kana  serta Gamboes Turkey. Lagu-lagu yang populer saat itu antara lain  Tjente Manis,Boeroeng Nori,Djali Djali, Tjerai  Kasih,Paioeng Patah,Dajoeng Sampan,Kopi Soesoe,Sang Bango,Inang Sargie,Gelang Pakoe Gelang dan masih banyak lagi.Lagu-lagu ini direkam dalam bentuk vinyl berukuran 10 inci.Disamping itu Tio Tek Hong Record juga merekam sandiwara Njai Dasima yang dikemas dalam format  boxset berisikan sebanyak  5 keping  piringan hitam.

Tio Tek Hong ini memiliki trademark tersendiri pada album-album rekaman yang diproduksinya. Pada setiap vinyl produksi Tio Tek Hong di setiap sebelum lagu pada track pertama berkumandang, terdengar suara rekaman Tio Tek Hong melfalkan kalimat seperti ini : Terbikin oleh Tio Tek Hong, Batavia”.

Dalam iklan yang dimuat di Koran Ik PoSurakarta  terbitan tanggal 25 Februari 1908,Tio Tek Hong menuliskan sederet iklan yaitu :” (“Plaat plaat ini besarnja 27 c.M. dan sengadja saja soeroe bikin doewa moeka (djadi satoe plaat ada doewa lagoenja) soepaja harganja tida djadi terlaloe mahal, maski onkosnja bikin itoe plaat-plaat ada terlaloe berat.  

Jadi dalam setiap single piringan hitam ukuran kecil  yang dijual Tio Tek Hong  Record terdapat dua lagu yaitu satu di muka 1 dan satu lagi di muka 2.

Pembeli piringan hitam saat itu memang sangat terbatas,karena harganya relatif mahal. Belum lagi harga gramophone yang hanya terjangkau oleh kalangan menengah keatas.Karenanya masyarakat sebagian besar bisa  menikmati rangkaian lagu-lagu populer Inonesia saat itu justeru  dengan menonton pertunjukan yang digelar dan berlangsung di panggung-panggung hiburan yang berada  di Pasar Gambir,Globe Garden,Stem En Wyns,Maison Versteegh dan Prinsen Park,seperti yang ditulis Remy Sylado dalam buku Ensiklopedia Musik   .

Musik-musik Indonesia yang direkam pada awal era 1900an pada umumnya menggunakan bahasa Melayu terutama yang ditemui dalam irama Keroncong serta Stamboel.Genre dan subgenre musik yang berkembang sejak 1903 adalah musik-musik Indonesia yang merupakan serapan dari budaya Arab dan Cina serta yang tercerabut dari pola musik etnik mulai dari Jawa,Bali,Cirebon,Sunda dan kemudian memasuki dasawarsa 1930an mulai terdengar ragam etnik Tapanuli dan Minangkabau.  

 

Lalu siapa sajakah pemusik atau penyanyi Indonesia yang dikenal di era ini ?. Di awal abad ke 20 ini ada beberapa pemusik yang tercatat menyita perhatian antara lain Tio Tek Tjoe seorang penggesek biola andal  hingga Hasan Muna.Lalu penyanyi penyanyi yang merekam suaranya pada label Gramophone Company atau His Master Voices (HMV) saat itu adalah Miss Jacoba Siregar dari Sumatera Utara tapi bermukim di pulau Jawa,ada juga Nji Raden Hadji Djoelaeha penyanyi Sunda dari Jawa Barat serta Miss Norlia.

Album stamboel Miss Riboet "Jatalak" yang dirilis Beka Record sekitar tahun 1925

Album stamboel Miss Riboet “Jatalak” yang dirilis Beka Record sekitar tahun 1925

 Antara tahun 1926 – 1927 Beka Record menampilkan rekaman dari Miss Riboet,seorang penyanyi dan juga aktris layar lebar .Miss Riboet merekam sekitar 188 lagu pada label Beka Records ini.Selain Miss Riboet,penyanyi-penyanyi yang berada dibawah naungan Beka Record antara lain adalah Aer Laoet atau Herlaut,Toemina,juga ada Nji Moersih yang khusus menyanyikan lagu-lagu Sunda serta penyanyi pria bernama Amat .Lalu pada label Odeon bernaung sederet penyanyi penyanyi yang dikategorikan sebagai second-rank stars  antara lain adalah Miss Alang,Siti Amsah, Miss Lee ,Nji Resna dan Nji Iti Narem, dua nama terakhir khusus menyanyikan lagu-lagu bernuansa Sunda  .Di label Odeon ada Mr Jahri atau yang kerap dipanggil Jaar sebagai pemimpin ensemble yang mengiringi para artis Odeon. Di tahun 1928 muncul label Columbia Gramophone Company  yang mengetengahkan para penyanyi seperti Siti Aminah yang dikenal sebagai pelantun irama Melayu ,Miss Julie serta dua pemusik yang tampil sebagai pemimpin orkes yaitu Fred Beloni, lelaki blasteran Eropa dan Asia serta pemimpin ensemble Abdul Rachman.

 

Di era 1920an, genre musik populer  pun mulai bisa disimak melalui gelombang radio.
Siaran pertama  yang ada di negeri ini berasal dari siaran radio   Bataviase Radio  Vreniging (BRV) di Batavia yang resminya mengudara  16 Juni 1925  berstatus swasta .Lalu   berdirilah radio di daerah dengan  bantuan dari pemerintah Hindia Belanda. Dan dalam waktu singkat muncullah perkumpulan-perkumpulan siaran radio Bahasa Indonesia,yang tujuan utamanya menyiarkan kesenian dan kebudayaan Indonesia.Tampaknya Belanda berhasil  dalam upaya mengalihkan titik  perhatian masyarakat dari masalah-masalah politik lewat budaya dan kesenian .

Dan di era 20an ini musik  Barat  yang tengah populer adalah musik Jazz yang berasal dari Amerika Serikat.Musik jazz saat itu hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja mulai dari kalangan orang Belanda dan Eropah lainnya serta segelintir kaum intelektual dan menengah keatas Indonesia.

Di Surabaya mulai dikenal nama Jose  Marpaung, seorang pemain piano yang juga terampil melantunkan suara emasnya. Bersama Martin Kreutz dan Karel Lind, Josa Marpaung membentuk kelompok jazz bernama White Dove.Kelak hingga ke era 1960an dan 1970an, Surabaya tercatat banyak menetaskan pemusik-pemusik jazz berbakat mulai dari Jack Lesmana hingga Bubi Chen dan Maryono.

Di era 20an pula di Makassar juga terdengar kiprah musik jazz dengan munculnya kelompok musik bernama Black and White Jazz Band yang anggotanya terdiri dari orang-orang Belanda dan pribumi, satu diantaranya adalah Wage Rudolf Soepratman yang kelak dikenal sebagai komposer lagu kebangsaan Indonesia Raya. 

Sebelum meletusnya Perang Dunia ke II, dikenal pula penyanyi bernama Broer Nadus yang memiliki nama asli Bernardus Sapulette, putra Maluku yang dikenal sebagai penyanyi Hawaiian di Makassar.Ada juga seorang remaja bernama Tan Tjeng Bok yang dalam usia 14 tahun pada tahun 1912 telah meniti karir sebagai biduan atau penyanyi yang memiliki daya pikat.

Di era 1920an terdengar pula sosok lelaki Maluku bernama Bram Tutuheru yang berkarirs sebagai penyanyi dan pemimpin orkes di Batavia.  Di tahun 1927 seorang penyanyi wanita tunanetra Annie Landauw berhasil menjuarai kontes menyanyi di Surakarta,Jawa Tengah.Landouw kemudian diajak rekaman oleh perusahaan rekaman BeKa Record dan menetap di Batavia.

Di era 1930an kawasan Sumatera,Malaysia dan Permukiman Selat merupakan monopoli untuk rekaman piringan hitam 78 RPM (Rotation Per Minute)  yaitu Grammophone Company Limited yang merilis sederet lagu-lagu Melayu dengan label His Master’s Voice (HMV), dimana katalog berbahasa Inggris diperuntukkan buat Malaysia serta yang menggunakan bahasa Belanda dirilis hanya untuk wilayah Hindia Belanda.

Ada 3 jenis orkes yang mencuat pada era 1930an yaitu Orkes Harmonium, Orkes Gambus dan Orkes Melayu.

Syech Albar, ayah kandung penyanyi rock Achmad Albar, adalah pemusik Gambus yang sangat kesohor dari Surabaya Jawa Timur .Syech Albar ternyata sangat produktif merilis album-album baru, salah satu diantaranya “Zakhratoel Hoesoen” ditahun 1937.Juga terdengar berkibar nama S.Abdullah, seorang penyanyi dan pemusik yang mekam suara emasnya pada Gramphone Company serta Canary Record.Nama lainnya adalah penyanyi Menir Moeda yang kerap menyanyikan lagu-lagu Sunda serta dikenal pula sebagai seorang pelawak.Miss Eulis,Miss Soepija ,Gadjali,Miss Brintik,Mr Hanapi,Leo Sapulitu dan Bram Titalej atau lebih dikenal dengan nama panggung Bram Atjeh.

Di tahun 1936 muncul pemain biola  berbakat bernama Mas Sardi yang tergabung dalam Faroka Opera.Kelompok opera ini menggelar pertunjukan hingga ke Singapore.Setahun kemudian , tepatnya tahun 1937 Mas Sardi,yang juga ayah Idris Sardi ini bergabung dalam Sweet Java Opera.Dan sejak tahun 1939 Mas Sardi mulai terjun sebagai pembuat music score untuk film-film layar lebar seperti Rentjong Atjeh,Alang Alang,Srigala Item maupun Sorga Palsoe.Disamping itu juga dikenal penggesek biola sekaligus peniup klarinet Sastrodihardjo, ayah kandung dari peniup saxophone jazz Maryono.Lalu dikenal juga pianis dan komposer ternama Ismail Marzuki serta beberapa nama-nama pemusik yang berjaya pada era tersebut semisal, Kartolo, Abdullah,Jahja,Zahiruddin,Atungan serta Hugo Dumas.Salah satu Orkes Kerontjong yang disegani saat itu adalah Lief Java yang dibentuk Hugo Dumas dan Abdullah.

Penyanyi wanita Indonesia terkemuka era 1930an Roekiah

Penyanyi wanita Indonesia terkemuka era 1930an Roekiah

Di tahun 1937 muncul penyanyi wanita Roekiah yang juga meniti karir dalam dunia teater dan perfilman.Penampilan penyanyi Roekiah kerap diiringi Orkes Kroncong Lief Java pimpinan pemusik S. Abdullah dan H.Dumas .Roekiah mempopulerkan lagu-lagu seperti Terang Boelan hingga Kerontjong Moritsko.Di tahun 1938 penyanyi populer Annie Landouw akhirnya bergabung juga dengan Orkes Keroncong Lief Java ini.  Selain itu,di tahun 1937  juga  berdiri sebuah kelompok musik jazz bernama Melody Makers yang didukung gitaris Jacob Sigarlaki hingga drummer Boetje Pesolima.Mereka memainkan musik Dixie dan Ragtime secara mengagumkan.

Jangan lupa pula  sederet penyanyi lain yang tak kalah sohornya antara lain Miss Netty,Jan Bon,Van Der Mul,Miss Lie,Moenah,Paulus Itam,Miss J van Salk,Harry King,John Iseger,Miss Ninja,Miss J Luntungan,Mohammad Jasin Al Djawi,Miss C Luardie,Miss Dewe  serta Leo Spel.Gaya bernyanyi mereka terinspirasi dengan gaya crooner Amerika Serikat.  Di masa ini musik kroncong,langgam,gamelan,gambus dan jazz merupakan genre musik  yang mendapat sambutan baik dikalangan masyarakat luas.Untuk musik  gamelan dikenal 3 pesinden langgam Jawa yaitu Njai Demang Mardoelaras,Bok Bekel Mardoelaras dan M.A Worolaksmi.Untuk gambus maupun qasidah dikenal nama nama seperti Sjech Albar,S.H. Alaidroes dan Mohammad Jasin Al Djawi.

Untuk jenis keroncong dikenal 3(tiga)  penyanyi yang sangat terkenal yaitu Parmin,Soekarno dan Soeparto.

Para pemusik yang dianggap andal di era ini antara lain Hugo Dumas yang memimpin dua kelompok musik sekaligus yaitu Lief Java yang cenderung memainkan musik keroncong dan The Sweet Java Islanders yang memainkan musik Hawaii atau Irama Lautan Teduh.F.H Belloni seorang komposer dan pemimpin ensemble musik.S.Mohammad Bin Jitrip yang memimpin Orkes Gambus dan S.Mohammad Alajdroes yang mempin Orkes Harmonium.H.E.L.W.E DeSizo yang memimpin De Siso’s Strings Orchestra.

 

Pada saat pendudukan Jepang di Indonesia dalam kurun waktu 1942 hingga 1945 , musik Jazz nyaris tak terdengar gaungnya sama sekali.Tak satu pun kelompok musik Indonesia yang memainkan repertoar jazz,termasuk memutar rekaman musik  jazz melalui siaran radio.Penyebabnya adalah situasi politik yang tidak memperkenankan budaya Amerika berkembang di Indonesia.Ruang gerak musik jazz terbendung dan musik yang diperkenankan bergaung saat itu adalah musik yang bernuansa propaganda Jepang serta lagu-lagu daerah termasuk diantaranya adalah musik keroncong. Sebagian besar orang Jepang yang menduduki Indonesia malah terpukau dengan lagu Bengawan Solo karya Gesang.