Archive for the ‘Sosok’ Category

Tjitjiek Soewarno Yang Terlupakan

Posted: September 9, 2014 in Kisah, Sosok

Tjitjiek Soewarna selalu lekat dengan band pengiring Zaenal Combo pimpinan . Zaenal Arifien  terutama lewat lewat EP (Extended Play) format 7 inch  bertajuk “Yoshida” karya Asmoengin produksi Remaco  di tahun 1965 serta  tiga lagu lainnya, “Terlena di Senja Indah” (karya Sugiarto), “Kota Jakarta”, dan “Di Mana” (karya Harry. Soewarno).
Penyanyi wanita asal Yogyakarta kelahiran  18 Oktober 1945 ini memulai karirnya lewat  lagu “Terpaut di Jogya”  karya penulis lagu asal Bali Wedhasmara) yang diambil dari album “Sebiduk di Sungai Musi” karya Zaenal Arifien. Ternyata lagu ini justru lebih populer  dibanding “Selamat Jalan Kawan” maupun lagu karya Neneng Salmiah (“Malam Tiada Bintang” dan “Hampa”.

Album debut Tjitjiek Soewarno (Foto Denny Sakrie)

Album debut Tjitjiek Soewarno (Foto Denny Sakrie)

Ketenaran  Tjitjiek Soewarno bahkan melesat jauh diatas sederet  penyanyi seangkatannya  seperti Neneng Salmiah, Retno, Lena, Finny Rosita, Shinta Dungga, serta Tutty Thaher.Teruatama ketika “Remaco” merilis piringan hitam kompilasi“Aneka 12”.

Tjitjiek Soewarno saat ini tinggal di kawasan Puri Anjasmopro Semarang Jawa Tengah.

Dan inilah liner notes EP Tjitjiek Soewarno yang ditulis Ferry Iroth dari Remaco :

Beraneka warna pengalaman para penjanji kita dalam perdjoangannja untuk mentjapai ketenaran.
Tidak selamanja menjenangkan, tapi pula tidak seluruhnja memedihkan.
Begitu pula halnja dengan biduanita jang kini ingin kami perkanalkan kepada Anda:

TJITJIEK SOEWARNO

jang mungkin ada jang belum pernah dengar nama dan suaranja. Pada hal Tjitjik Soewarno sering mengikuti pemilihan Bintang Radio Daerah di Semarang dalam tahun 1960 hingga tahun 1963, dalam djenis seriosa. Namun sajang sekali, ia hanja dapat keluar sebagai djuara ke II dan ke III pada waktu itu.

Di Djokja, pada tahun 1964 ia pun pernah mengikuti pemilihan Bintang Radio Daerah dalam djenis Krontjong, dan untuk djenis ini ia hanja dapat keluar sebagai djuara harapan.

Disamping itu, Tjitjik Soewarno dalam siaran RRI di Semarang, Djokja dan Surabaja atjapkali menghibur masjarakat setempat dengan iringan orkes studio RRI atau lain2nja. Itulah sekelumit dari sekian banjak pengalaman2 Tjitjik Soewarno dalam bidang seni suara.

Dan untuk lebih menikmati alunan suara lintjah dan merdu dari biduanita ini, melalui EP ini kami hidangkan lagu2:

1. YOSHIDA,
2. TERLENA DISENDJA INDAH,
3. DIMANA.

Sebagai selingan Zaenal Combo menghibur Anda pula dalam sebuah lagu instrumental, jaitu:

4. KOTA DJAKARTA.

Sebagai ¬penutup kata kami harapkan:
Muntjulnja Tjitjip Soewarno dengan iringan orkes Zaenal Combo dalam EP ini semoga dapat memuaskan selera dan melipur Anda sekeluarga.

Bagi generasi penikmat musik pop 80an Atauw dikenal sebgai gitaris band Lolypop yang dibentuk Rinto Harahap sebagai homeband bagi semua artis musik pop yang merilis album pada label Lolypop milik Rinto Harahap itu,mulai dari Eddy Silitonga,Rita Butar Butar,Diana Nasution,Victor Hutabarat,Christine Panjaitan hingga Iis Soegianto.Pola permainan gitarnya khas terutama menghasilkan nada-nada yang merayu dan mendayu.

Tapi untuk generasi penikmat musik era 70an terutama ingar bingar musik rock,maka sosok Atauw ini selalu disebut sebagai impersonator dari Ritchie Blackmore gitaris Deep Purple yang kemudian membentuk Rainbow.Lewat grup rocknya bernama Equator Child, Atauw yang kemudian dikenal dengan nama Achmad Taufik setelah memilih masuk Islam, itu terlihat jelas banyak dipengaruhi gaya permainan gitar Ritchie Blackmore yang saat itu dielu-elukan sebagai salag satu gitaris rock papan atas yang memiliki pesona tersendiri.

Equator Child yang didukung oleh Atauw (gitar),Jimmy Wemay (drums),Joseph (bass),Jusuf (gitar) dan Imron (vokalis) ini terbentuk di kota Pontianak,ibukota provinsi Kalimantan Barat yang dijuluki kota Khatulistiwa.”Makanya band kami ini dinamakan Equator Child,artinya anak kota khatulistiwa” urai Atauw.

Sejak awal 70an Equator Child selalu membawakan lagu-lagu Deep Purple di sekitar Pontianak hingga Singkawang.Alhasil Equator’s Child menjadi band kebanggaan Pontianak saat itu.

Tak lama berselang disekitar tahun 1974 Equator’s Child lalu menembus Jakarta.Mereka tetap memainkan repertoar Deep Purple semirip mungkin.Equator’s Child mulai tampil di Taman Ria Senayan Jakarta .”Seingat saya kami dulu dibayar sekitar Rp 75 ribu” kenang Atauw yang memiliki atrkasi panggung atraktif mengikuti gaya Ritchie Blackmore. 

“Cuma saat itu saya masih belum memiki keberanian menghabcurkan gitar Fender saya seperti yang dilakukan Ritchie Blackmore” ungkap Atauw.

Atauw saat menjadi gitarois Equator's Child di era 70an (Foto Aktuil)

Atauw saat menjadi gitarois Equator’s Child di era 70an (Foto Aktuil)

Tapi toh,saya sempat terkejut ketika di sekitar tahun 1998 Atauw dengan gagah berani menghancurkan gitar Fendernya sampai patah dua.Ini serius.Kejadiannya berlangsung di Waroeng Kemang yang terdapat di Jalan Kemang Raya Jakarta Selatan.Saat itu,,saya masih bekerja di radio M97FM Classic Rock Station dan kami tiap bulan bikin acara yang diberinama Legend of The Month dengan menampilkan karya-karya band-band classic rock era 70an.Suatu ketika radio saya memilih tema Legend Of The Month nya adalah sosok gitaris Ritchie Blackmore yang di era 70an dikenang publik saat bergabung dalam band Deep Purple hingga Rainbow.Kami lalu meminta Jelly Tobing dkk untuk mengisi acara Tribute To Ritchie Blackmore ini.Jelly lalu menghadirkan dua gitaris sebagai impersonator Ritchie Blackmore yaitu Donny Suhendra dan Atauw. Diluar dugaan penampilan Atau membawakan lagu-lagu Deep Purple dan Rainbow sangat memukau para penonton yang memadati ruangan Waroeng Kemang.Lalu tanpa disangka-asangka Atauw saat bersolo gitar,mulai membanting gitar Fendernya ke lantai panggung.Menginjak-injak fretnya berulang ulang dan kemudian mengangkat gitar tersebut seraya membenturkan leher gitar ke bibir panggung.Gitar Fender itu lalu patah berkeping-keping.Sorak sorai penonton membahana membarengi atraksi penghancuran gitar ala Ritchie Blackmore yang dilakukan Atauw.Sadis nian.

Usai pertunjukan Atauw buka rahasia bahwa sebelum naik panggung dia telah mengganti leher gitar Fendernya dengan leher gitar imitasi.”Jadi saya tetap masih memiliki gitar Fender kesayangan saya” ucapnya sambil tersenyum.

Di paruh era 70an Rinto Harahap mengajak Atauw mendukung band Lolypop .Atauw lalu mengajak rekannya dari Equator’sChild yaitu drummer Jimmy Wemay.Ditambah dengan masuknya Adhi Mantra,keyboardis Golden Wing,band rock asal Palembang, Lolypop lalu berkibar sebagai band pop yang tugasnya mengiringi artis-artis yang dikontrak Lolypop Record.  

Hal utama yang paling menggelitik dalam benak saya, kenapa Peter Cetera, mantan bassist dan vokalis Chicago ini seperti tak mau melakukan reuni dengan grup musik yang diperkuatnya sejak tahun 1968 itu. Padahal,belakangan, banyak sekali band-band seangkatan Chicago yang melakukan reuni.Satu diantaranya adalah The Beach Boys,dimana saat merayakan 50 tahun usia The Beach Boys setahun silam,Brian Wilson mastermind dari Beach Boys akhirnya ikhlas dan rela bergabung lagi dengan band yang membesarkannya.

Bersama mantan vokalis dan bassist Chicago,Peter Cetera (Foto Denny Sakrie)

Bersama mantan vokalis dan bassist Chicago,Peter Cetera (Foto Denny Sakrie)

Dan ketika dapat kabar dari Hendy Liem promotor yang mendatangkan Peter Cetera dalam sebuah konser yang berlangsung di Kota Kasablanca Concer Hall jumat 6 Juni 2014 lalu, saya pun tak sabar ingin bertemu dan mewawancarai Peter Cetera yang kini telah berusia 68 tahun itu.

Kamis siang Jakarta dilanda kemacetan yang bikin saya ketar-ketir.Karena jam 14.00 saya telah buat janji untuk mewawancara Peter Cetera  di Kota Kasablanka Mall.Akhirnya saya memang telah sekitar 20 menit.Tapi untunglah Peter orangnya baik dan banyak becanda.Lalu saya mulai ngobrol dengan Peter dimulai dengan bertutur saat saya melihat lagu-lagu The Exceptions, band-nya Peter Cetera di sekitar tahun 1967 yang diunggah entah siapa di kanal Youtube.Peter Cetera terbahak mendengar cerita saya seraya bercerita tentang kelompok musiknya itu.

Jam 15.00 Peter Cetera harus melakukan pers conference di depan awak media.Saya lalu mengeluarkan vinyl Chicago VI yang dirilis tahun 1973 milik saya untuk ditandatangani Peter.Peter sempat membolak balik kemasan vinyl bermedium gatefold.Dari sorot matanya seperti terkuak kenangan2 tak terlupakan saat bergabung dengan Chicago dari tahun 1968 hingga 1985.

Bersama Peter Cetera

Bersama Peter Cetera

Saat itu,saya merasa ini adalah saat yang tepat untuk menanyakan kenapa dia tidak mau melakukan reuni dengan Chicago .

“Reuni dengan Chicago ? Wow, Bobby (maksudnya Robert Lamm) pernah menghubungi saya dan meminta saya untuk melakukan reuni dalam beberapa konser sebagai guest star menyanyikan beberapa hits Chicago.Saya suka dengan tawaran Bobby.Tapi saya merasa tidak mampu melakukannya.Aapalgi dengan tur tur yang melelahkan.You know, I just don’t want to work that hard.’” timpal Peter Cetera .

Peter Cetera lagi memandangi piringan hitam album Chicago VI yang dirilis tanggal 25 Juni 1973 (Foto Denny Sakrie)

Peter Cetera lagi memandangi piringan hitam album Chicago VI yang dirilis tanggal 25 Juni 1973 (Foto Denny Sakrie)

Lalu sebetulnya apa yang membuat anda keluar dari Chicago ?.Peter diam sejenak.Lalu menenggak air mineral dari botol plastik dan dengan lirih berujar :”Main band itu mirip dengan perkawinan.Pasti akan selalu timbul perbedaan atau ketidaksepakatan.Saya mau begini, tapi mereka ingin begitu.dan akhirnya muncullah perceraian”.

 

Sewaktu  masih duduk dibangku SD pada era 70an saya selalu menonton penampilan Zulkarnai pemusik tuna netra yang bernyanyi sambil bermain gitar di  layar kaca TVRI. Penampilan Zulkarnain yang berdarah Minangkabau ini cukup memukau dan unik karena dia menyanyi selalu dibumbui dengan menghadirkan semacam efek suara dari mulutnya serta memukul-mukul tubuh gitar untuk memperoleh efek bunyi  perkusi.Terkadang Zulkarnain pun meniup harmonika.Jadilah Zulkarnain sebagai one man band yang memikat pemirsa televisi.

Piringan Hitam Zulkarnain yang dirilis label PopSound Phillips Singapore (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Zulkarnain yang dirilis label PopSound Phillips Singapore (Foto Denny Sakrie)

Penampilan Zulkarnain ternyata tak hanya memikat penonton Indonesia melainkan juga ke negeri jiran Malaysia dan Singapore.Tak heran jika perusahaan rekaman Phillips PopSound di Singapore tertarik untuk merekam album Zulkarnain yang saat itu diiringi oleh Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin lewat album bertajuk Aneka Minang.

Album "Keajaiban" Zulkarnain pada label PopSound Singapore

Album “Keajaiban” Zulkarnain pada label PopSound Singapore

Dilahirkan di Bukit Tinggi tanggal 16 Juli 1938 dari keluarga Muhammad Zain.Di usia 4 tahun Zulkarnain mengalami panas dan demam. Menurut sang ayah Zulkarnain terkena penyakit stuip., dimana akan mengurangi daya penglihatan seseorang.Di saat memasuki usia 12 tahun,Zulkarnai mengalami kebutaan.

Sejak kecil bakat Zulkarnain memang telah terlihat jelas.Pada usia 5 tahun,Zulkarnain mulai suka meniru-niru lagak orang bernyanyi..Setahun setelah mengalami kebutaan,Zulkarnain untuk pertamakali tampil menyanyi di depan corong RRI Bukit Tinggi Sumatera Barat sambil memetik gitar akustik.Saat itu Zulkarnain mulai dikenal dengan sebutan Band Tunggal.Apalagi Zulkarnain memang anak semata ayang alias anak tunggal.

Untuk ketrampilan memetik gitar,Zulkarnain yang berzodiak Cancer ini belajar pada guru gitar yang bernama Adnil Moeis.Seterusnya Zulkarnain belajar sendiri termasuk mempeljari banyak repertoar lagu mulai dari lagu-lagu Indonesia,Mandarin,Inggris,India,Jepang hingga ke lagu-lagu daerah.Prestasi yang pernah dicapai Zulkarnai adalah pernah menjadi juara Bintang Radio RRI Bukit Tinggi sebanyak 11 kali serta merekam album di Singapore.

Akhirnya Zulkarnain memutuskan untuk mencari peruntungan dalam dunia hiburan ke Jakarta ditemani kedua orang tuanya setelah sebelumnya selama sekitar 2 bulan lebih berada di Yogyakarta untuk belajar huruf Braille Arab agar bisa mengaji dan ikut dalam lomba mengaji Musabaqah Tilawtil Qur’an (MTQ).

Di Jakarta Zulkarnain numpang di rumah penyanyi pop wanita asal Padsang Elly Kasim.Melalui bantuan Elly Kasim, Zulkarnain memperoleh peluang untuk tampil di layar kaca TVRI. Sejak itulah sosok Zulkarnain mulai dikenal luas dimana-,mana.

Sayangnya, rekam jejak Zulkarnain seperti hilang ditelan zaman.Hampir tak satu pun orang yang mengetahui atau setidaknya mengingat kiprah Zulkarnain dalam dunia hiburan.

Mus Mualim, Mualim Musik

Posted: Mei 25, 2014 in Sejarah, Sosok

Jika musik itu kapal, maka Mus Mualim tak syak lagi adalah mualim musik yang mengarahkan musik ke pelbagai penjuru mata angin.Tamsil kata yang saya paparkan ini mungkin tepat untuk menggambarkan posisi seorang Mus Mualim dalam konstelasi musik populer di negeri ini.

Mus Mualim mengarahkan musik Tiga Dara Sitompul di era 60an

Mus Mualim mengarahkan musik Tiga Dara Sitompul di era 60an

Lalu siapakah sosok Mus Mualim ?

Mari kita telusuri hikayat kehidupannya.

Mus  Mualim saat masih berusia belia pernah menjadi guru mengaji di kampungnya, Cirebon. Ayah Mus Mualim  adalah pedagang barang bekas.

Lelaki yang memiliki bakat musik ini dilahirkan dengan nama Muslim di Bandung 12 Februari 1935.

Suatu ketika  Mus Mualim  menemukan sebuah gitar tua di atas tumpukan barang bekas dagangan ayahnya. Berbekal Dengan gitar usang  itulah Mus Mualm a mulai mempelajari musik dengan tekun. Setelah pandai memetik gitar, kemudian ia beralih belajar bermain bass dan bergabung dengan sebuah grup orkes keroncong yang sering tampil di RRI Cirebon. Mus juga  sempat belajar piano secara gratis dengan seorang guru berkebangsaan Belanda, Namun tidakk berlangsung lama karena saat itu Mus Mualim tidak memiliki piano dan sang guru keburu balik ke negaranya.

Menjelang penyelenggaraan kompetisi  Bintang Radio di Cirebon, pemain piano yang bertugas mengiring lomba tersebut menghilang dan pimpinan orkes langsung memilih Mus Mualim  sebagai pemain piano pengganti. Setelah dilatih secara spartan selama dua bulan, akhirnya Mus Mualim tampil juga sebagai pianis. Sejak saat itu memperdalam ketrampilannya memainkan piano.Sejak itu pula  khalayak mulai mengenalnya sebagai seorang pianis.

Pada awal tahun 1950-an, Mus Mualim  pindah ke Jakarta atas ajakan gitaris  Sadikin Zuchra  . Mendengar berita bahwa  pianis jazz bernama Nick Mamahit akan tampil di sebuah konser yang diselenggarakan di RRI Jakarta, dengan semangat yang melup-luap Mus Mualim datang ke tempat pertunjukkan tersebut dengan tujuan  agar dapat melihat langsung  gerakan jari  jemari “jagoan” gaya progresif lulusan sekolah musik Belanda itu.

Mus Mualim yang mengidolakan pianis jazz  Duke Ellington ini kemudian mulai tekun  memperdalam jazz sejak tahun 1961 dan mulai tampil sebagai aranger Orkes Simfoni Radio Jakarta. Bersama Bubi Chen, ia membuat rekaman jazz, dan bersama Benny Mustapha membentuk band populer dengan nama Mus Mustapha, sempat juga membuat album rekaman mengiringi Sitompul Bersaudara dibawah label Irama milik komodor Soejoso Karsono atau dikenal dengan panggilan Mas Jos.

Memasuki dasawarsa 60an, Mus Mualim mulai berkubang dalam industri rekaman musik . Bermula  sebagai musical supervisor Studio Piringan Hitam Irama pada tahun 1963 dan menjadi music director sederet rekaman musik populer yang dirilis label Irama.

Mus Mualim juga pernah menyelenggarakan acara-acara jazz beberapa kali di ITB pada tahun yang sama. Berturut-turut membuat piringan hitam sendiri, serta menghasilkan banyak album rekaman dalam kurun waktu 1962-1969.

Pada tahun 1965, membentuk Badan Kerjasama Artis dengan Kostrad bernama BKS-Kostrad dan ia memangku jabatan Wakil Ketua.

Pada masa Orde Lama, musik jazz menjadi salah satu kesenian yang dibantai oleh PKI/Lekra. Namun Mus Mualim malah tak gentar  membuat konser jazz pertama pada tahun 1965, di kampus Universitas Indonesia.

Dalam Expo 1970 di Osaka, Jepang, Mus dipercaya memimpin grup Indonesia Enam yang terdiri dari Maryono (saksofon), Sadikin Zuchra (gitar), George “Tjok”  Sinsoe (bass), Benny Mustapha (drum), Munir Mus, Idris Sardi (biola), dan Mus Mualim sendiri sebagai pianis sekaligus sebagai penata musik.Penampilan Indonesia Enam mencuri perhatian penonton terutama saat membawakan lagu Bajing Luncat dalam ramuan jazz yang memikat.

Ketika TVRI baru lahir, di sekitar tahun 1962, Mus Mualim  memegang jabatan sebagai koordinator artis musik. Juga bertugas menyiapkan aransemen musik bagi musisi yang akan tampil.

Bersama Jack Lesmana, Mus  Mualim menggelar acara yang diberi judul Pojok Jazz. Selain memainkan musik jazz, ia pernah menjadi sutradara film Bawang Putih serta membuat music score beberapa film nasional seperti  Pelabuhan, The Big Village, Hidup, Bintang Kecil (1963), Di Balik Cahaya Gemerlapan, Minah Gadis Dusun, Menyusuri Jejak Berdarah (1965), Cinta dan Air Mata (1970), Ambisi (1973), Inem Pelayan Seksi (1976) dan masih banyak lagi lainnya.

Mus Mualim tak hanya berkutat dengan musik pop dan jazz, tapi juga sempat melampiaskan obsesinya manggung bersama kelompok musik rock asal Pegangsaan Menteng Gipsy di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1971.Kolaborasi itu mendapat pujian terutama saat Mus Mualim dan Gipsy membawkan lagu tradisonal “Es Lilin”.

Di paruh era 70an,Mus Mualim bersama sang isteri Titiek Puspa menggarap operette Lebaran di TVRI.

Mungkin hanya sedikit yang mengenal lelaki ini.Di tahun 1979 lelaki yang menuliskan namanya sebagai Tjali R ini berhasil dinobatkan sebagai juara pertama Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia yang ke 3 pada tahun 1979 lewat lagu Geram.

Ini foto Tjalik R sekarang ini

Ini foto Tjalik R sekarang ini

Saat itu Tjali R yang pernah ngeband bersama Guruh Sukarno Putra dan Wibowo Sumadji dengan nama The Flower Poetman ini telah berprofesi sebagai pilot pesawat garuda.Konon lagu Geram itu tercipta saat tengah terjadi mogok kerja atau mogok terbang yang dilakukan para pilot Garuda.Tjalik R yang bernama lengkap Rizali Affandi itu lalu juga tampil sebagai penyanyi di lagu Geram yang dikemas dalam album Dasa Tembang Tercantik 1979 yang disponsori rokok Marlbroro itu.

Lagu karya Tjali R "Geram" meraih juara 1 dalam Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1979

Lagu karya Tjali R “Geram” meraih juara 1 dalam Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1979

Musiknya digarap oleh Addie MS.Ternyata baik Tjali R maupun Addie MS sama sama alumni SMA III Teladan Setiabudi Jakarta.Addie MS mengarransemen lagu Geram karya Tjalik R itu dengan nuansa brass section ala Earth Wind & Fire.Bahkan intronya mengingatkan kita pada arransemen Earth Wind & Fire atas lagu The Beatles.Got To Get You Into My Life .Sekitar tahun 1993 saya pernah mewawancara Tjalik R melalui telephone saat saya masih bekerja di FeMale Radio.Saat itu Tjalik R menetap di Surabaya.

Kiprah Tjali R dalam dunia musik nyaris tak terdengar lagi.Namun hingga sekarang ini Tjali masih menggeluti dunia penerbangan dengan menjadi pilot pesawat milik swasta.

Pertamakali mengenal nama Chris Manusama saat menyimak album Dasa Tembang Tercantik Lomba Cipta Lagu  Remaja Prambors yang ke 2 tahun 1978 lewat lagu karyanya bertajuk “Kidung” yang masuk 10 Besar.Lagu “Kidung” yang bernuansa folk akustik itu dinyanyikan oleh Bram Manusama,Dianne Carruthers dan Chris Manusama sendiri.Di luar dugaan,ternyata lagu Kidung mendapat respon bagus dari penikmat musik.Lagu bertema humanis religius ini saat itu hampir tiap hari mengudara di Radio Prambors Rasisonia yang bermarkas di seputaran Menteng Jakarta. Saat itu lagu Kidung akhirnya terpilih sebagai Tembang Tersayang karena banyak disukai pendengar radio.Liriknya memang menyentuh :

Tak selamanya mendung itu kelabu.

Nyatanya hari ini kulihat begitu ceria
Hutan dan rimba turut bernyanyi pula.

Membuat hari ini berseri

Dunia penuh damai.

 

Di tahun 1979 lagu karya Chris Manusama masuk lagi dalam dereta Dasa Tembang Tercantik Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors yang ke tiga tahun 1979 berjudul Kehidupan.

Di tahun 1979,untuk pertamakali saya menyaksikan penampilan Chris Manusama di atas panggung.Saat itu, saya masih bermukim di Makassar.Chris Manusama tampil bersama Warung Kopi Prambors di Gedung Olahraga Mattoanging Ujung Pandang antara lain menyanyikan lagu Kidung yang tengah booming serta lagu “I Only Want To Say (Getshemane)” dari album opera rock Jesus Christ Superstars.Lagu yang dinyanyikan Ian Gillan vokalis Deep Purple terasa memiliki jiwa saat dinyanyikan Chris Manusama hanya diiringi petikan gitar elektrik  yang dimainkannya sendiri.Saya terperangah.Chris Manusama memang memiliki jiwa rock.Tapi dia mampu menulis lagu yang teduh seperti Kidung.

Chris Manusama diapit Ricky Poetiray dan Morgan Sigarlaki saat menjadi penyanyi latar album Citra Biru Vina Panduwinata di tahun 1980 (Foto Ray Junus)

Chris Manusama diapit Ricky Poetiray dan Morgan Sigarlaki saat menjadi penyanyi latar album Citra Biru Vina Panduwinata di tahun 1980 (Foto Ray Junus)

Dua tahun berselang, Chris Manusama datang lagi ke Makassar melakukan konser bersama beberapa pemusik lainnya.Saat itu saya berkesempatan mewawancarai Chris Manusama yang saat itu nginap di sebuah hotel yang terletak di jalan Gunung Bulukunyi Makassar.Chris Manusama banyak bertutur tentang ikhwal dirinya termasuk keterlibatannya dalam beberapa kelompok musik rock baik di Bandung maupun Jakarta.

Di tahun 1974-1975 Chris Manusama tergabung dalam kelompok trio yang dibentuk Deddy Stanzah (vokal,bassist) serta drummer Yaya Moektio.Menurut Chris saat itu Tripod membawakan lagu Queen “March of The Black Queen”. Di lain waktu Chris Manusama yang handal bermain gitar diajak oleh almarhum Micky Michael Merkelbach bergabung dalam band Alcatraz.Usia band ini memang tak lama.

Di tahun 1976 Chris Manusama ikut bergabung dengan band rock Hookerman.Musik yang digeluti Chris Manusama memang menjuntai dari satu grup rock ke grup rock lainnya.

Chris Manuel Manusama yang dilahirkan 25 Desember 1952 di Subang Jawa Barat.Mengikuti tugas sang ayah yang anggota kesatuan militer,membuat Chris sempat pula tinggal di Ambon,Maluku.Di saat berusia 9 tahun,Chris telah kehilangan sang ayah Jan Manusama yang meninggal dalam keadaan mengapung di Sungai Halmahera dalam Perang Permesta. 8 tahun berselang Chris Manusama kehilangan sang ibu Yohanna Manusama yang meninggal dunia di Bandung .

Inilah band rock Chris Manusama di Jakarta tahun 1975.dari kiri Bonny Alamsyah (organ),Chris Manusama (gitar),Tommy (drums) dan Havid (bass) (Foto Junior)

Inilah band rock Chris Manusama di Jakarta tahun 1975.dari kiri Bonny Alamsyah (organ),Chris Manusama (gitar),Tommy (drums) dan Havid (bass) (Foto Junior)

Setelah mendukung Suara Persaudaraan di tahun 1985, Chris Manusama mulai mengarahkan kegiatannya di sekitar gereja.Chris mulai menulis lagu-lagu bertema religius antara lain “Kasih” yang dinyanyikan duo kakak beradik Lydia dan Imaniar di paruh era 80an.Di tahun 1985 Chris mulai membina rumah tangga dengan menikahi Yoty Henny Rumahlewang.

Bertemu Chris Manusama di Plasa Senayan tahun 2012 (Foto Denny Sakrie)

Bertemu Chris Manusama di Plasa Senayan tahun 2012 (Foto Denny Sakrie)

 

Kini ayah dari dua putra ini dikenal sebagai pendeta GBI (Gereja Bethel Indonesia Rock Church di Ambon.Kegiatan kerohaniaan Chris Manusama terbilang padat, antara lain mondar mandir antara Ambon,Jakarta dan Belanda.

Walaupun demikian saya masih sering berkomunikasi dengan Chris Manusama melalui Blackberry atau sesekali ketemu Chris secara tak disengaja di sebuah mall di kawasan Senayan Jakarta. Chris Manusama tetap sosok yang murah hati dan penuh senyum.Rambutnya telah memutih tanpa selembar pun yang berwarna hitam.Di tahun 2006 saat Chris Manusama berada di Jakarta pernah saya ajak siaran di FeMale Radio, sayangnya waktu Chris Manusama di Jakarta sangat pendek karena dia harus terbang ke Belanda.Akhirnya siaran bareng Chris terpaksa dibatalkan.