Archive for the ‘Tinjau Album’ Category

Ida Royani pertamakali meniti karir dalam industri rekaman pada pertengahan era 60an dengan merilis album Dinamika Suara dan Gaja yang dirilis oleh Irama Recording milik Soejoso Karsono. Dalam album debutnya ini Ida Rojani diiringi oleh Orkes Baju (baca : Bayu) dibawah pimpinan F Parera.

Penyanyi berkulit hitam manis ini memiliki daya vokal yang kuat dan karakter yang khas.Artikulasinya bening.Dan Ida Rojani juga memiliki daya tarik fisik .Setidaknya ini membuat kehadirannya dalam dunia hiburan cepat menjadi sorotan siapa saja.Menariknya lagi,di dalam album ini Ida Rojani juga unjuk kemampuan sebagai penulis lagu.Salah satu lagu karyanya yang disenandungkannya di album ini adalah Adikku Sajang.Lagu karya Ida Rojani tampaknya tak kalah bagus dengan lagu-laguy karya Jasir Sjam yang mendominasi isi album ini.

Ida Rojani

Ida Rojani

Berikut ini tulisan pemusik Mamon Sigarlaki yang dimuat di cover belakang album Ida Rojani Dinamika Suara dan Gaja yang dirilis di sekitar tahun 1966 :

Liner Notes Ida Rojani ditulis Mamon Sigarlaki

Liner Notes Ida Rojani ditulis Mamon Sigarlaki

Kata dinamika-lah jang memang tepat dipergunakan, apabila kita hendak membitjarakan debut seseorang pendatang baru dibidang seni suara, djika dia itu telah berhasil merebut hati masjarakat ramai.

Pada dewasa ini, djustru dinamikalah jang harus dimiliki, baik dinamika suara jang lantang-menantang, maupun dinamika gaja serta pembawaan jang lintjah gembira, agar seseorang penjanji dapat berhasil mendjadi favorit massa.

Demikianlah halnja dengan biduan kita ini: IDA ROJANI, jang usianja belum mentjapai 13 tahun, hanja bedanja ialah, bahwa dinamika IDA ROJANI tidak terletak pada suara jang lantang-menantang ataupun gaja pembawaan jang lintjah berliku-liku, tetapi jang mempesonakan para pendengarnja adalah djustru ,,dinamika-perpaduan” antara suara jang kekanak-kanakan jang murni dan pembawaan jang menggambarkan seorang gadis jang karena usianja berada diambang keremadjaan jang masih sutji.

DS

Dengarkanlah lagu2nja, seperti: ,,Tamasja”, ,,Tjedera Lagu”, ataupun ,,Terkenang Dikau”. Apabila lagu2 buah tangan JASIR SJAM ini dibawakan oleh seorang biduan lain, nistjaja akan terdapatlah suatu gambaran jang mendalam arti tjinta-kasih, halmana dewasa ini sudah membosankan; tetapi oleh karena interpretasi2 jang diungkapkan IDA ROJANI ini, kita menangkap suatu spontanitas dari suatu ketidakpuasan atau ketjemasan, jang ditjetuskan setjara remadja, dipadukan dengan suara dan gaja jang memikat hati, seperti hanja IDA ROJANI sadjalah jang dapat menjadjikannja.

Lagu2 lainnja dalam L.P. ini, jang sejogjanja lebih tjotjok dengan ,,diri” IDA, adalah: ,,Adikku Sajang”, tjiptaannja sendiri, ,,Sepatu Baru”, ,,Merpatiku”, ,,Kenalan Lama”, ,,Melati”, ,,Teman Baru”, ,,Gunung Agung”, ,,Tidurlah Adikku” dan ,,Djumpa Diperdjalanan”, kesemuanja ini tjiptaan JASIR SJAM.

Bagaimanapun djuga dinamika seseorang penjanji, djika tidak diiringi orkes jang baik dan jang dapat ,,memahami” bakat dari penjanji tersebut, hasilnja tidaklah akan memuaskan. Dalam hal inilah Orkes ,,BAJU” pimpinan F. PARERA menundjukkan kemampuannja dalam ,,menjelami djiwa” dari tiap2 penjanji jang diiringnja serta menjusun arransemen jang sesuai.

Pendek kata: L.P. IDA ROJANI ini, merupakan suatu perpaduan antara iringan musik dan dinamika penjanji jang sukses.

MAMON SIGARLAKI

Iklan

Beach Girls bukanlah jawaban Indonesia atas The Beach Boys, tapi band wanita ini cukup diperhitungkan setelah Dara Puspita membuka peluang band wanita di permukaan musik Indonesia.Band Beach Girls dimotori oleh Anny Kusuma.Salah satu personilnya kemudian menikah dengan Oma Irama.Bahkan Veronica Timbuleng di paruh era 70an juga membentuk Soneta Girls.

1901774_10152595678263285_2242708098184719977_n

Wiwiek Lismani, Penyanyi Underrated

Posted: November 29, 2014 in Tinjau Album

Boleh jadi tak semua orang mengenal dengan baik sosok penyanyi wanita era 80an Wiwiek Lismani. Dia termasuk penyanyi underrated.Namun,karakter suaranya mencuat.Memiliki daya dan khas.

Pertamakali mendengar suara Wiwiek Lismani yaitu di album Dasa Tembang Tercantik LCLR Prambors 1980.Saat itu dengan suaranya yang mezzosopran berduet dengan Bagoes A.Ariyanto dalam lagu Maheswara.Sebagai nama baru dalam industri musik Wiwiek cukup memikat perhatian.Setidaknya diantara karakter vokal Berlian Hutauruk dan Louise Huatauruk yang telah memiliki nama,Wiweik Lismani  menyimpan harapan tersendiri.Apalagi tampaknya Wiwiek lebih cenderung memihak dengan lagu-lagu pop yang cenderung jazzy.
Wiwiek Lismanitak terlalu mengumbar melisma yang tak penting.
Kedua kali suara Wiwiek Lismani terdengar lagi di saat ikut mendukung album “Hotel San Vicente” yang dibentuk Fariz RM di tahun 1981.

25169_382405293284_946413_n
Tak lama berselang Wiwiek Lismani merilis album solo.Di album ini Wiwiek didukung oleh pemusik yang tergabung dalam Drakhma,Transs dan The Rollies.
Musiknya mungkin lebih tepat disebut adult contemporary pop.Arransemennya tampak berlenggang diantara wilayah pop dan jazzy.
Tak heran,karena penata musik dan pendukung musiknya antara lain ada Dodo Zakaria (keyboards),Jimmie Manopo (drums),Oetje F Tekol (bass),Djundi Karjadi (synthesizers) dan Uce Haryono (drums).
Arransemen musiknya memang tidak simple.Penuh sinkopasi serta progresi akord yang lebih luas dan kaya.
Simak saja introduksi lagu “Hari Bahagia” yang memperdengarkan harmonisasi antara trombone,vibraphone dan elusan bass yang membawa kita pada aura musik jazz.Beat samba pun terdengar.
Ungkapan jazzy itu pun terlihat jelas pada lagu-lagu karya Dian Pramana Poetra maupun Eddy Harris.
Sayangnya album ini memang tak berhasil mencuat.Bahkan banyak ornag yang tak tahu akan rilis album ini.

Track List :

01. SUARA DAN DOA (cipt. Jundi V.K. / Deddy Dhukun)
02. HARI BAHAGIA (cipt. Bambang BRT)
03. SALAMKU (cipt. Dian Pramana Poetra)
04. SEIA SEKATA (cipt. Dian Pramana Poetra)
05. DI ATAS SEGALANYA (cipt. Deddy Dhukun)
06. DEWI MALAM (cipt. Bambang BRT)
07. BUNGA ASMARA (cipt. Deddy Dhukun)
08. KHAYAL DAN KENANGAN (cipt. Eddy Haris)
09. KUSADARI YANG TERJADI (cipt. Deddy Dhukun)
10. HARAPAN YANG PUNAH (cipt. Eddy Haris)

Sekitar 28 tahun silam,saya nyaris tak percaya ketika melihat kaset Indra Lesmana “For Earth and Heaven” yang dirilis oleh Alpine Record berada di rak kaset Duta Suara di Jalan Sabang Jakarta.

Cover depan album For EWarth and Heaven - Indra Lesmana (Foto Denny Sakrie)

Cover depan album For EWarth and Heaven – Indra Lesmana (Foto Denny Sakrie)

Apalagi setelah melihat nama-nama pemusik yang tertera dalam sampul kaset merupakan nama-nama mumpuni dalam konstelasi musik jazz seperti almarhum Charlie Haden (bass),Vinnie Colaiuta (drums),Michael Landau (gitar elektrik),Airto Moreira (perkusi) dan masih sederet nama-nama kesohor lainnya.Terbersit kekaguman yang luar biasa terhadap sosok Indra Lesmana yang telah mengharumkan nama bangsa. Tapi sayangnya kaset yang saya beli itu adalah hasil bajakan Alpine Record terhadap rekaman yang dirilis oleh Zebra/MCA Record Amerika Serikat.Uhhhh. Tapi,karena piringan hitam Indra Lesmana itu memang tidak masuk ke wilayah pasaran Indonesia,ya dengan terpaksa album jazz fenomenal karya pemusik Indonesia itu saya beli juga.

Cover belakang album solo kedua Indra Lesmana di Zebra/MCA Reciord AS For Earth and Heaven (Foto Denny Sakrie)

Cover belakang album solo kedua Indra Lesmana di Zebra/MCA Reciord AS For Earth and Heaven (Foto Denny Sakrie)

Bagaimana hingga Indra Lesmana berhasil memikat perhatian salah satu label jazz ternama di Amerika Serikat saat itu ? Kabarnya, Indra Lesmana memperoleh rekomendasi dari pianis jazz ternama Chick Corea,pemusik yang jadi idola Indra Lesmana sekaligus menjadi sahabatnya.Ricky Schultz dari MCA Record tertareik dengan musikalitas Indra Lesmana.Tahun 1983 Ricky lalu meminta Indra Lesmana untuk merekam album debutnya di Zebra/MCA.
Bersama dengan kolega musiknya dari Australia Nebula yang terdiri atas Andy Evans (drums) ,Steve Hunter (bass),Ken James (saxophone), Carlinhos Goncalves (perkusi),dan Vince Genova (piano) ,Indra Lesmana lalu menghasilkan album bertajuk No Standing yang dirilis oleh Zebra/MCA Record pada tahun 1984 yang berisikan 5 komposisi, 4 diantaranya adalah karya Indra Lesmana seperti No Standing,Sleeping Beauty,First dan Tis Time For Part,satu lagu lainnya Samba For E.T ditulis oleh Steve Hunter.

IL2
Di tahun yang sama,Indra Lesmana segera masuk studio rekaman untuk album solo yang kedua.Kali ini Indra Lesmana menggunakan studio rekaman milik Chick Corea Mad Hatter Studio.Sederet pemusik jazz papan atas siap berkolaborasi dengan Indra Lesmana yang saat itu baru berusia 18 tahun.Masih sangat muda, memasuki usia remaja. Sudah barang tentu ini merupakan pengalaman jazz yang sangat luar biasa bagi Indra Lesmana yang memainkan seluruh instrumen keyboard dan menuliskan semua komposisi lagunya. Di album ini Indra Lesmana didukung oleh Jimmy Haslip (bass),Charlie Haden (bass),Vinnie Colaiuta (drums),Michael Landau (gitar elektrik),Martin Lund (flute),Joel Peskin (saxophone),Airto Moreira (perkusi),Bobby Shew (trumpet),Moqie Lund (vokal) dan Albert Tootie Heath (drums).Nama yang disebut terakhir itu adalah drummer be bop legendaris.Makanya album ini merupakan puncak pencapaian musik dari Indra Lesmana.Ada 9 komposisi di album For Earth And Heaven yang dirilis Zebra/MCA pada tahun 1986 yaitu Stephanie,L.A,Corrbores,Song For,For Earth and Heaven,Morro Rock,Dancing Shoe serta First Glance karya Martin Lund dan Christmas Songs karya Mel Torme dan Robert Wells.

Cover belakang album No Standing - Indra Lesmana (Foto Denny Sakrie)

Cover belakang album No Standing – Indra Lesmana (Foto Denny Sakrie)

Sayangnya setelah merilis album ini Indra Lesmana akhirnya memilih kembali ke Indonesia dan bergabung dengan kelompok Krakatau.Sangat disayangkan.Tapi mungkin itulah pilihan terbaik dari Indra Lesmana.

Seolah terseret ke sebuah masa di akhir era 70-an.Setidaknya ada juga label Indonesia yang mencoba mene-rapkan kiprah yang dilakukan label seperti Rhino, yang tiada henti merilis dan me-remaster album-album back catalog. Prambors Band adalah band yang dibentuk Mochammad Noor Aroembinang, salah satu dedengkot Radio Prambors yang juga ikut membidani ajang kompetisi Lomba Cipta Lagu Remaja di tahun 1977. Terdiri atas gitaris Oding Nasution, drummer Yaya Moektio, bassis Sudibyo, kibordis Dondy SM serta Eben dan Sarah Hutauruk sebagai penyanyi. Ada sederet hits dari empat album Prambors Band yang dirangkum di sini, yaitu Jakarta Jakarta (1978), Sebentuk Keresahan (1979), 10 Pencipta Remaja (1979), serta Kemarau II (1986). Untuk album yang keempat, formasi Prambors Band berubah dengan masuknya bassis Suresh Ariesta, kibordis Kicky Marakarma dan vokalis Roedy Damhudy. Menariknya, di album ini, terutama yang diambil dari 10 Pencipta Remaja, terdapat hit seperti ”Sepercik Air” yang dipopulerkan almarhum Deddy Stanzah,”Kehidupan” oleh Louise Hutauruk dan ”Cinta Diri” oleh Utha Likumahuwa.
Pengaruh dari sukses album LCLR 1977 dan LCLR 1978 serta album solo Chrisye dan Keenan yang kebetulan dirilis pada tahun 1978 banyak mempengaruhi perangai musik Prambors Band. Mochammad Noor Arumbinang mendominasi penulisan lagu dan lrik Prambors Band. Pada album Jakarta Jakarta, tampak jelas mereka ingin lain dari segi pengungkap-an lirik. Mulai dari isu gender yang terungkap dalam ”Pria dan Wanita”, juga lagu ”Jakarta Jakarta” yang disajikan dalam tema hustle yang riang. Lagu ini menjadi tema film Jakarta Jakarta yang dibesut almarhum Ami Priyono dan dibintangi Ricca Rachim dan El Manik.

CD kompilasi lagu-lagu terbaik Prambors Band

CD kompilasi lagu-lagu terbaik Prambors Band

Aransemen musik patut diakui mencoba mendekati gaya simfonik rock yang ditorehkan Yockie Soerjoprajogo dalam LCLR 1978. Keyboard agak mendominasi sebagai pengganti bunyian orkestral diimbuh permainan gitar elektrik Oding Nasution yang progresif. Nyata benar dalam menghasilkan solo melodi, Oding banyak menyimak pattern yang pernah diperkenalkan Jan Akkerman dan Steve Hackett. Permainan drum yang dimainkan Yaya memang akurat tapi kadang suka berlebihan. Pengaruh warna kelompok musik progresif se-perti Kayak dan Ekseption terasa terutama pada penonjolan unsur keyboard di album kedua bertajuk Sebentuk Keresahan.

Di tahun yang sama, Prambors Band kembali tampil dalam album 10 Pencipta Lagu Remaja yang berisikan 10 lagu yang masuk semi finalis dalam LCLR 1978. Lagu-lagu ini dianggap gagal untuk masuk Dasa Tembang Tercantik, tapi oleh panitia, kesepuluh lagu di album ini memiliki kualitas yang tak kalah dengan 10 Finalis LCLR 1979. Insting panitia ternyata berbukti lagu se-perti ”Sepercik Air” karya Iman A. Brata, ”Kehidupan” karya Michael Panggabean, maupun ”Cinta Diri” karya Harry Dea dari Balagadona Vokal Group. Lalu ada juga sequel dari Kemarau yang diberi judul ”Kemarau II” dengan mengedepankan vokalis pop beratmosfer rock Roedy Damhudi. Apabila Anda ingin menelusuri sekeping warna musik yang menggelayut di akhir dasawarsa ‘70-an, maka album ini layaklah berada di genggaman Anda.

DENNY SAKRIE

(Review ini dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2009)

Pemusik rock era 70an Benny Soebardja, 15 Juni 2014 lalu merilis ulang album Ghede Chokra’s dari Sjarkmove,band yang pernah dibentuknya pada sekitar awal era 70an sebelum munculnya Giant Step.Rilis ulang album Sharmove ini merupakan yang kedua kalinya setelah pada tahun 2007 album Sharkmove itu sudah pernah dirilis oleh Shadoks Record,sebuah label dari Jerman.Di tahun 2014 ini Ghede Chokra’s  Sharkmove di rilis ulang dalam bentuk piringan hitam atau vinyl oleh Rockpod,label milik Rhamadita Nalendra Soebardja,putra Benny Soebardja.

Cover dalam vinyl Sharkmove :Ghde Chokra;s" yang dirilis ulang oleh Rockpod Record

Cover dalam vinyl Sharkmove :Ghde Chokra;s” yang dirilis ulang oleh Rockpod Record

Album dengan sentuhan progresif rock 70an ini berisikan lagu-lagu seperti My Life,Madat,Bingung,Evil War,Butterfly,Insan dan Insan.Sharkmove didukung oleh Benny Soebardja (gitar,vokal),Janto “Diablo” Suprapto (bass),Sammy Zakaria (drums),Bhagu Ramchand (vokal), dan Soman Lubis (organ).Album reissue ini dibantu dengan konsultasi rekaman oleh Simon Gibson, salah seorang sound engineer yang pernah menghabiskan banyak waktu di studio EMI atau lebih dikenal dengan nama Abbey Road.Simon Gibbs lewat tangan dinginnya pernah menggarap ulang rekaman-rekaman milik Paul McCartney and Wings seperti album RAM dan Band On The Run.Simon juga yang mendandani album milik George Harrison “Living In The Material Wold”.

Di tahun 1972 perusahaan rekaman raksasa Remaco merilis album debut dari band dengan nama Fantasi.Band ini didukung oleh Jasir Sjam yang juga bertindak sebagai pimpinan band ,serta Minggoes Tahitoe,Robert De Fretes dan Jujun.Dua diantara pendukung Fantasi Band justru dikenal sebagai seoarng komposer atau penulis lagu-lagu pop. Keempat personil Fantasi Band juga tampil sebagai penyanyi.

fantasi1

Sayangnya album ini memang menjadi underrated.Bahkan album ini malah menjadi penghuni side B dari album Koes Plus.

Semua lagu yang termaktub di album ini merupakan karya dari Jasir Sjam

Ini tracklist album Fantasi Band :

Muka 1

1.Dengarkanlah

2.Gembira

3.Kembalilah Kasih

4.Datanglah

5.Apa Salahku

Muka 2

1.Tamasya

2.Berilah Harapan

3.Kukenang

4.Pelepas Rindu

5.Di Pantai

fan