Archive for the ‘Ulang Tahun Pemusik’ Category

Majalah Tempo yang memuat tentang Guruh 35 tahun silam tepatnya tanggal 13 januari 1979 (Foto Denny Sakrie)

Majalah Tempo yang memuat tentang Guruh 35 tahun silam tepatnya tanggal 13 januari 1979 (Foto Denny Sakrie)

Minggu sore tanggal 12 Januari 2014 saya mendapat pesan pendek dari Hifdal, asisten Guruh Soekarno Putra :”Mas Denny,mas Guruh mengundang mas untuk datang ke acara ulang tahun di Sriwijaya Raya 26.Jangan lupa pakai batik ya mas ”.Alhamdulillah walaupun nyaris tiap hari seragam kebesaran yang kerap saya pakai adalah kaos musik berwarna hitam tapi saya masih menyimpan beberapa setel kemeja batik yang biasanya saya pergunakan untuk acara-acara seremonial,setidaknya resepsi pernikahan. Saya pun bersiap-siap untuk ikut berbaur dalam acara perayaan  ulangtahun Guruh yang bernama lengkap Muhammad Guruh Irianto Sukarno Putra, putra kelima Ir Soekarno,presiden pertama negeri ini dengan Fatmawati.

Kesepakatan dalam Kepekatan (Foto Denny Sakrie)

Kesepakatan dalam Kepekatan (Foto Denny Sakrie)

Seperti tahun-tahun sebelumnya,perayaan ulang tahun Guruh Sukarno Putra selalu dihadiri sejawatnya dari berbagai kalangan dan komunitas,mulai dari ranah politik,kesenian dan banyak lagi.

Tepat jam 18.00 saya sudah tiba dikediaman Guruh yang asri dan resik serta tertata rapi.Meskipun tanpa halaman,rumah peninggalan almarhumah Fatmawati ini memang bernunasa kesenian yang terasa disudut-sudut rumah, mulai dari ruang tamu hingga ke ruang tempat latihan tari serta perpustakaan yang penuh dengan tumpukan buku.Hifdal menemui saya sembari berkata :”Mas Guruh lagi beres-beres didalam”. Satu persatu tetamu mulai berdatangan,juga para awak media mulai dari media cetak hingga infotainment.Maklum biasanya di acara ulangtahun Guruh yang nyaris dirayakan tiap tahun selalu terlihat banyak pesohor, baik pesohor masa lalu maupun pesohor yang lagi hot-hotnya diberitakan di layar kaca maupun tabloid gossip.

Selepas maghrib,acara ulang tahun ini pun mulai berlangsung dengan suguhan banyak acara dari para tetamu yang memang berkutat di dunia hiburan.Usai memotong tumpeng Guruh Sukarno Putra yang pernah membuat rekaman music eksperimen di paruh era 70an Guruh Gipsy dan membentuk kelompok seni Swara Maharddhika itu menyampai seulas kata perihal perayaan ulang tahunnya yang ke 61.”    Saya sadar usia saya sudah tidak muda lagi. Misi saya sebagai manusia adalah semakin dewasa sudah seharusnya semakin bisa lebih religius lagi, terutama dalam menghadapi ajal. Semoga apa yang saya lakukan di dunia ini bisa bermanfaat bagi banyak orang. Khususnya karya-karya yang saya ciptakan,” kata Guruh.

Sosok Guruh Sukarno Putra memang tak bisa dilepaskan dengan karya-karya seni yang dihasilkannya mulai dari seni suara,seni musik hingga seni tari.Karya-karya seni Guruh memang sarat gemuruh.

Tandatangan Guruh Sukarno Putra pada bagian dalam sampul kaset Guruh Gipsy (Foto Denny Sakrie)

Tandatangan Guruh Sukarno Putra pada bagian dalam sampul kaset Guruh Gipsy (Foto Denny Sakrie)

Saat mas Guruh mulai santai menikmati sajian musik dari berbagai penjuru Nusantara,saya mendekati mas Guruh sambil menyodorkan beberapa karya-karya Guruh dalam bentuk kaset diantaranya kaset Guruh Gipsy yang lekat dengan pemeo Kesepakatan dalam Kepekatan.Saya meminta mas Guruh untuk membubuhkan tandatangannya yang mirip tandatangan sang ayah,pada bagian dalam sampul kaset Guruh Gipsy yang dirilis secara indie pada tahun 1977. Setelah itu saya menyodorkan majalah Tempo edisi 13 Januari 1979 yang sampulnya menampilkan sosok Guruh Sukarno Putra sedang mengacungkan tangan ke udara.Lalu tertera tulisan “Waduh Guruh”.Majlah Tempo saat itu menulis tentang kiprah pertunjukan seni Guruh Sukarno Putra yang berlangsung tanggal 6 dan 7 Januari 1979 di Balai Sidang Senayan Jakarta. Sebelum Guruh membubuhkan tandatangannya di sampul majalah Tempo itu, saya lalu melempar kata ke Guruh :”Mas ingat gak majalah Tempo ini dulu diedarkan pada hari senin tanggal 13 januari 1979.Persis sama dengan sekarang ini, pada hari dan tanggal yang sama.Bahkan tepat di tanggal kelahiran mas Guruh…..”.Guruh lalu mengangguk sambil menyungging senyum seraya berkata :”Iya ya…..bisa jadi begitu ya…..” ucapnya.Guruh lalu memanggil Indra Bekti yang malam itu berperan sebagai MC. “Tolong nanti kamu panggil mas Denny kedepan,dia punya cerita menarik tentang saya lewat majalah Tempo ini” pinta Guruh.

Saya diminta Guruh untuk bercerita tentang kiprah karya Guruh yang menjadi sampul majalah Tempo edisi 13 januari 1979 (Foto Denny Sakrie)

Saya diminta Guruh untuk bercerita tentang kiprah karya Guruh yang menjadi sampul majalah Tempo edisi 13 januari 1979 (Foto Denny Sakrie)

Saya pun akhirnya berdiri dihadapan para undangan berbagi cerita tentang kesamaan tanggal lahir Guruh Sukarno Putra dengan tanggal edar majalah Tempo yang memberitakan kiprah seni Guruh sekitar 35 tahun yang silam.Saya pun bercerita sedikit tentang kiprah seni Guruh Sukarno Putra yang selalu berselubung aura nasionalisme.

Usai berbagi cerita,Guruh lalu menyalami saya :”Terimakasih ya Den………”.Sejak paruh era 70an Guruh memang sosok pekerja seni yang selalu tertawan oleh kegemilangan budaya bangsa, bangsa negerinyab sendiri.Sebuah warisan dan titisan yang menurun dari sang ayah Soekarno.

86 Tahun Bing Slamet

Posted: September 27, 2013 in Ulang Tahun Pemusik

Jika Bing Slamet masih hidup, hari ini 27 September 2013 dia akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke 86.Beda satu tahun dengan usia Tony Bennet crooner legendaris yang beberapa pekan silam menggelar konser di sebuah tempat mewah di Jakarta.Saat menyaksikan Tony Bennet yang berpendar dalam benak saya justru sosok Bing Slamet, seniman besar negeri ini yang salah satu kemampuannya adalah bernyanyi.Bing Slamet memiliki suara emas.Tak syak lagi Bing adalah crooner terbaik Indonesia yang hingga saat sekarang ini belum ada yang menandingi.Ketika Tony Bennet melantunkan I Left My Heart In San Fransisco dengan aksentuasi suara yang elegan, yang ada dalam benak saya adalah sosok Bing Slamet.Ah senadainya Bing Slamet masih hidup,mungkin dia akan berduet dipanggung dengan Tony Bennet yang berusia 87 tahun.Bing dan Tony jelas sepantaran.Mereka dibesarkan dalam aura musik yang sama dalam bingkai orkestra maupun big band  .Zaman mereka berdua adalah era golden voice, dimana seorang penyanyi harus memiliki teknik vokal yang mumpuni, sesuatu yang saat sekarang ini bias diselesaikan dengan kecanggihan teknologi.

Bing Slamet dan Idris Sardi di acara Festival Film Asean Tahun 1973

Bing Slamet dan Idris Sardi di acara Festival Film Asean Tahun 1973

Anak muda sekarang mungkin akan bergidik jika menelaah lika liku perjalanan seorang Bing Slamet dalam menapak dunia seni tanpa memanfaatkan aji mumpung tapi kerja keras dalam arti harafiah.Bisa jadi bakat hanya 10 persen, sisanya adalah kerja keras.Bing Slamet dibesarkan dalam suasana negara yang tengah bergejolak.Asap mesiu masih mengepul dimana-mana.Negeri ini masih mencari jatidiri.Dan disaat yang krusial seperti itu Bing Slamet tetap kokoh dalam dunia hiburan.Bing bernyanyi,bermusik,berakting bahkan melawak.Suatu pencapaian yang rada muskil,bahkan Bing Crosby yang diidolakan Bing Slamet mungkin tak memiliki kemampuan seni yang beragam seperti Bing Slamet.Semua ditekuninya dengan sungguh-sungguh.Sekali lagi,bukan aji mumpung.

Karya karya Bing Slamet terukir dalam kelebat adegan film layar lebar,piringan hitam,kaset serta layar kaca.Sejak wafatnya Bing Slamet pada 17 Desember 1974, jejak karya-karya Bing Slamet sempat pupus dikarenakan kita semua adalah bangsa yang kurang telaten,kurang menghargai sosok seniman yang sebetulnya begitu berjasa menghibur kita disaat mereka masih hidup.Era putus generasi memang selalu menjadi bagian dalam apresiasi seni di negeri ini, salah satu contoh konkretnya adalah karya karya Bing Slamet yang nyaris hilang ditelan zaman begitu saja. Namun untunglah masih ada segelintir orang yang masih berupaya untuk menghadirkan Bing Slamet sebagai salah satu saksi sejarah budaya pop Indonesia.Beberapa karya karya Bing Slamet dalam dunia musik,film dan komedi mulai terlihat bertebaran di kanal Youtube.Ini tentu sebuah fenomena menarik,pusaka budaya pop masalalu Indonesia sedikit demi sedikit mulai mengemuka.

Bing Slamet dalam film Koboi Cengeng (1974) bersama Vivi Sumanti,Iskak dan Mieke Wijaya

Bing Slamet dalam film Koboi Cengeng (1974) bersama Vivi Sumanti,Iskak dan Mieke Wijaya

Beberapa anak muda,meski tak terlalu banyak, mulai menafsir ulang karya-karya musik Bing Slamet.Jika menuliskan keyword Bing Slamet pada kolom Google kita mulai banyak menemukan arsip arsip perihal Bing Slamet meski tak terlalu banyak.Sekitar 5 tahun sebelumnya banyak yang kecewa tak menemukan data siapa itu Bing Slamet saat melakukan googling pada mesin pencari yang canggih itu.

Bing Slamet (Foto Dokumentasi Irama )

Bing Slamet (Foto Dokumentasi Irama )

Kini orang mulai mengetahui bahwa nama lengkap Bing Slamet adalah Raden Slamet dilahirkan di Cilegon Jawa Barat 27 September 1927.Dan Bing adalah nama depan yang dipasangnya sebagai jatidiri dalam dunia hiburan yang diambil dari nama Bing Crosby seniman serba bisa Amerika yang digandrunginya.

Kita pun mulai mengetahui bahwa Bing Slamet telah bermain film layar lebar sejak tahun 1950 lewat film bertajuk Irawati dan ditahun yang sama Bing untuk pertamakali masuk studio rekaman di Singapore menyanyikan lagu bertajuk Cemas.Bahkan sebetulnya sejak tahun 1939 saat masih berusia 12 tahun Bing Slamet telah bergabung dalam kelompok musik Terang Boelan pimpinan Husin Kasimun atau yang lebih dikenal dengan nama Husin Bangka dan ditahun 1944 bergabung dalam kelompok sandiwara Pantja Warna.

Seni adalah kehidupan Bing Slamet. Bing menampik keinginan orang tuanya agar dia menjadi dokter maupun insinyur. Meski sempat bersekolah di  HIS Pasundan, HIS Tirtayasa, Sjugakko, dan STM Pertambangan. Tekad Bing bulat: mengabdi untuk seni. Bing Slamet lalu bergabung pula pada Divisi VI Brawidjaja sebagai Barisan Penghibur. Di sini, kemampuannya bermusik dan melawak mulai terasah. Seolah tanpa pamrih, Bing lalu bersedia ditempatkan di kota mana saja. Bing yang mulai masuk Radio Republik Indonesia (RRI) kemudian ditempatkan di Yogyakarta dan Malang. Ia pun sempat bergabung di Radio Perjuangan Jawa Barat. Di tahun 1949, untuk pertamakali suara baritone Bing Slamet menghiasi soundtrack film Menanti Kasih yang dibesut Mohammad Said dengan bintang A Hamid Arief dan Nila Djuwita .

Karya karya musik Bing Slamet (Foto Denny Sakrie)

Karya karya musik Bing Slamet (Foto Denny Sakrie)

Kariernya di bidang tarik suara sebetulnya terlecut ketika memasuki dunia radio. Di RRI, Bing Slamet banyak menyerap ilmu dan pengalaman dari pemusik Iskandar dan pemusik keroncong tenar, M Sagi, serta sahabat-sahabat musikal lainnya seperti Sjaifoel Bachrie, Soetedjo, dan Ismail Marzuki. Dan, yang banyak memengaruhinya adalah penyanyi Sam Saimun yang dikenalnya sejak bertugas di Yogyakarta pada tahun 1944. Bagi Bing, Sam Saimun adalah tokoh penyanyi panutannya.

Antara tahun 1950 sampai 1952, Bing Slamet aktif pada Dinas Angkatan Laut Surabaya dan Jakarta. Di tahun 1952 saat Bing ditempatkan lagi di Jakarta, dia bergabung di RRI Jakarta dan mulai aktif mengisi acara bersama Adi Karso. Bakat dan kemapuan musiknya mulai memuncak saat bergabung di RRI hingga tahun 1962.

Rekaman rekaman single Bing Slamet di era 50-an diiringi oleh Orkes Keroncong M Sagi dan Irama Quartet yang didukung Nick Mamahit (piano), Dick Abell (gitar), Max Van Dalm (drum), dan Van Der Capellen (bas). Bing Slamet pun membangun sebuah kelompok musik yang diberi nama Mambetarumpajo, merupakan akronim dari Mambo, Beguine, Tango, Rhumba, Passo Double, dan Joged, yang saat itu adalah jenis musik untuk mengiringi dansa.

Tahun 1962, Bing bersama sahabatnya sejak kecil Amin Widjaja sang pemilik label Bali Record  membentuk sebuah grup musik yang diberi nama Eka Sapta dengan pendukungnya, antara lain Bing Slamet (gitar, perkusi, vokal), Idris Sardi (bass,biola), Lodewijk ‘Ireng’ Maulana (gitar, vokal), Benny Mustapha van Diest (drum), Itje Kumaunang (gitar), Darmono (vibraphone), dan Muljono (piano). Eka Sapta menjadi fokus perhatian, karena keterampilannya memainkan musik yang tengah tren pada zamannya. Eka Sapta lalu merilis sejumlah album pada label Bali Record, Canary Record, dan Metropolitan Records, yang kelak berubah menjadi Musica Studio’s. Eka Sapta adalah kelompok musik pop yang terdepan di negeri ini pada era 60-an hingga awal 70-an.Bing Slamet hebatnya mampu membagi konsentrasi antara bermain musik, menyanyi, bikin lagu, melawak, dan main film layar lebar. Setidaknya ada 20 film layar lebar yang dibintanginya, mulai dari era film hitam putih hingga berwarna. Bing pun tercatat beberapa kali membentuk grup lawak antara era 50-an hingga 70-an di antaranya Trio Los Gilos, Trio SAE, EBI, dan yang paling lama bertahan adalah Kwartet Jaya bersama Ateng, Iskak, dan Eddy Soed.

Bing Slamet dan Adi Karso bermain musik di pesta yang diadakan Soejoso Karsono pemilik label Irama (Foto Dokumentasi Keluarga Soejoso Karsono)

Bing Slamet dan Adi Karso bermain musik di pesta yang diadakan Soejoso Karsono pemilik label Irama (Foto Dokumentasi Keluarga Soejoso Karsono)

Untuk pengabdian dalam seni budaya , Bing, pada 10 Juni 1972 menerima Piagam Penghargaan dari Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Dan baru pada  pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Puteri, Bing Slamet memperoleh Anugerah Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma di Istana Negara tanggal 7 November 2003.

Dan hari ini,27 September 2013, kita kembali merayakan hari lahir Bing Slamet yang ke 86

Bob Dylan

Bob Dylan

How many roads must a man walk down,
before you call him a man?
How many seas must a white dove fly,
before she sleeps in the sand?
And how many times must a cannon ball fly,
before they’re forever banned?

Lirik lagu Blowin In The Wind yang ditulis Bob Dylan pada tahun 1962 dan direkam setahun kemudian dalam album “The Freewheelin’s Bob Dylan” dengan serta merta dibaptis sebagai  protest song lagu gugat pada zamannya.Di zaman,dimana kata damai seperti terkucil di pojok gudang tua tanpa satu pun orang pun yang ambil peduli.Lirik-lirik yang digurat Bob Dylan ini memajang pertanyaan retorika perihal damai,perang dan kebebasan.Tiga elemen yang menjadi isu paling hangat di Amerika,saat itu, dan diberbagai belahan dunia lainnya. Blowin’ In The Wind kemudian ditabalkan menjadi anthem gerakan civil right pada dasawarsa 60an yang nuansa musik serta budaya popnya beraroma psychedelia.   

Saya teringat dengan salah satu komentar dari penyanyi kulit hitam  Mavis Staples yang member komentar tentang Bob Dylan dalam film documenter Dylan “No Direction Home” besutan sutradara Martin Scorsese.Staples berucap seperti ini :”I could not understand how a young white man could write something which captured the frustration and aspirations of black people so powerfully”.

Dengan kata lain,Dylan sangat merasakan dan sangat memahami dera derita yang dirasakan kaum kulit hitam yang menjadi subyek diskriminasi di Amerika Serikat.

Dylan adalah turunan Yahudi yang memiliki kepekaan nan mendalam yang kemudian ditebar lewat lirik dan melodi lagu untuk selanjutnya mengetuk nurani penikmatnya.

Harin ini jumat 24 Mei 2013 saya memanggil ulang aura sensitivitas Bob Dylan, manakala saya mengetahui bahwa hari ini lelaki bernama lengkap Robert  Allen Zimmerman ini telah memasuki ambang senja usianya.Hari ini Bob Dylan genap 72 tahun.

Julukan ,protest singer melekat dibalik sosoknya yang sarat riap riap misteri.Namuni saya lebih suka menyematkan dia dengan sebutan penyanyi pengecam.Usia 72 tahun boleh jadi akan menimbulkan keraguan setiap orang akan tingkat kekritisan seseorang terhadap lingkung sosial maupun politik .Usia 72  tahun jelas merupakan usia mapan.Usia dimana seorang kakek hanya menjuntai-juntaikan kakinya di kursi malas,membaca headline Koran ditemani lagu-lagu nostalgia yang berpendar ke sudut ruang tamu. Bob Dylan memang telah beranjak tua.Kerutan di leher maupun di sebagian air mukanya menjelaskan semuanya.Lalu apa yang tersisa dari seorang Bob Dylan ?.Apakah Dylan masih gagah perkasa menyanyikan “The Time They Are A Changing”,”Like A Rolling Stones,Blowin’ In The Wind”,”Desolation Row” atau pun “Don’t Think Twice It’s Alright” termasuk juga lagu-lagu penanda zaman seperti “I Want You” maupun “It’s All Over Now,Baby Blue”.

Dylan memang tak pernah berhenti menata notasi dan menggurat lirik.Dylan masih tetap merilis album.Bahkan album-albumnya oleh sebagian besar majalah,media online maupun blog-blog pribadi direview dengan jumlah bintang yang bahkan mencapai 5 bintang.Itu terlihat jelas saat albumnya yang bertajuk Tempest dirilis pada tahun 2012 lalu. Bob Dylan pun masih tetap manggung.Ini memang luar biasa.Dylan seperti tak kehilangan energy dalam bermusik.Dylan menambah jadwal tur terbarunya mulai dari juni hingga agustus 2013.

Pada era 2000an.disaat dunia dilanda krisis global dalam ekonomi dan politik,Dylan merilis album juga seperti “Love & Theft” (2001),”Modern Times” (2006) hingga “Together Through Life” (2009).Memang sangat tak bijaksana jika membandingkan ketiga album yang masih dipuja kritikus musik itu dengan pencapaian artistic Dylan di era 60-an hingga 70-an.Tapi setidaknya kesan bahwa energi Dylan melemah itu memang tak mencuat.Tak ada bayangan bahwa karya-karyanya mengesankan seseorang yang siap melangkah ke liang lahat.

Prasangka orang akan memudarnya karya Dylan saat merilis album “Oh Mercy”(1989) yang merupakan comeback-nya Dylan ke dunia rekaman toh tetap tak berbuah bukti. Saya masih terkesima dengan deretan lirik yang digores Dylan dalam lagu yang berada di urutan pertama album “Oh Mercy” bertajuk “Political World” :

 We live in a political world
Wisdom is thrown in jail
It rots in a cell
Is misguided as hell
Leaving no one to pick up a trail.

We live in a political world
Where mercy walks the plank
Life is in mirrors
Death disappears
Up the steps into the nearest bank.

Pemunculan pertama Bob Dylan di tahun 1962 memang seperti merupakan estafet dari charisma Woody Guthrie.penyanyi folk Amerika yang banyak menyirami sekujur pikiran Dylan dengan inspirasi.Usia Dylan yang berdarah Yahudi saat itu 21 tahun.Dylan yang datang dari wilayah Duluth Minnesota ini memang tergila-gila dengan Woody Guthrie yang selama ini dikenal sebagai juru bicara generasi. Dylan tahun itu mengunjungi Woody Guthrie yang tengah terbaring tak berdaya di sebuah rumah sakit,seraya menyanyikan lagu-lagu karyanya sendiri.Tak lama berselang sosok Dylan menjadi terdepan dalam scene musik folk di Greenwich Village New York bahkan kemudian melambung lebih jauh ke tingkat dunia.

Tak berlebihan jika saya menyebut bahwa khazanah musik karya lelaki yang bernama asli Robert Zimmerman ini merupakan soundtrack yang melatari gelegak hiruk pikuk dunia di separuh abad ke 20 mulai dari gonjang ganjing politik dan sosial.Dimana ada peristiwa penting dan genting maka disitu jua lah menyelusup lagu-lagu  karya Bob Dylan,setidaknya pada 5 dasawarsa. Bob Dylan menguak karir musiknya yang panjang dan tak berkesudahan itu dengan lagu lagu protest yang beratmosfer anthemic di sepanjang era 60-an.Lalu beringsut ke tematik rock psychedelic yang puitik.Berlanjut ke intensitas lirik yang cenderung personal termasuk tentunya lirik lirik yang menakwilkan pesan bernuansa introspektif serta periode religius.

Dylan sendiri mengaku telah menulis sekitar 1000 lagu,bahkan dalam tercatat pula bahwa lagu-lagu karya Dylan telah dinyanyikan sebanyak 32.000 versi. Di usia yang ke 72  tahun,Bob Dylan yang konon pertamakali memperkenalkan psikotropika pada anggota the Beatles masih terlihat sehat walafiat.

Di usia yang ke 72 ini,Bob Dylan telah menapaki pelbagai lini kehidupan dalam era yang beda warna tapi tetap dengan dua wajah dunia yang  sama yang tak pernah berubah : yang baik dan yang buruk.

How many times must a man look up,
before he sees the sky?
And how many ears must one man have,
before he can hear people cry ?
And how many deaths will it take till we know,
that too many people have died?

The answer my friend is blowing in the wind,
the answer is blowing in the wind.

Bob Dylan tak hanya sesosok pengecam yang kerap menggemerutuk,tapi seorang saksi zaman dan saksi peradaban.

Happy Birthday Mr Zimmerman !

Mick Jagger 1967
Pete Townshend dan Mick Jagger dalam film “Rock N’Roll Circus”
Mick Jagger dalam film “Symphaty For The Devil” (1969) karya Jean Luc Godard

Tak salah jika Mick Jagger disebut sisa sisa laskar generasi bunga yang masih tetap bertahan dalam industri musik dunia.Ditengah tengah konsistensinya bersama The Rolling Stones, Sir Michael Phillip Jagger yang hari ini selasa 26 Juli 2011 genap berusia 68 tahun, seolah tiada henti berkutat di belantara musik.Saat ini lelaki kelahiran Dartford,Kent,Inggeris ini tengah disibukkan dengan proyek kolaborasi unik bertajuk Super Heavy bersama Dave E Stewart punggawa Eurytmics,Joss Stone,AR Rahman dan Damian Marley putera Bob Marley.

Mick Jagger tetap bergumul dengan musik.Tak henti,tak pernah puas.Seperti yang disyaratkan dalam lagunya yang fenomenal I Can’t Get No (Satisfaction) :

I can’t get no satisfaction,
I can’t get no girly action.
‘Cause I try and I try and I try and I try.
I can’t get no, I can’t get no.

When I’m ridin’ round the world
and I’m doin’ this and I’m signing that
and I’m tryin’ to make some girl
who tells me baby better come back later next week
’cause you see I’m on losing streak.

Sebuah corong hedonis materialistik yang masih tetap bergaung hingga kini,termasuk didalamnya kredo sex,drugs and rock n’roll yang seolah sebuah  apokaliptika bagi generasi muda dari zaman ke zaman,sejak The Rolling Stones berkecambah pada paruh era 60-an.

Di era yang kerap pula bersinggasana sebuah gerakan yang dinamakan British Invasion,Mick Jagger seolah memposisikan diri sebagai sosok bad boy yang tak mau diatur oleh tata karma yang normative.Dia selalu menyempal,dalam bentuk pilihan musik termasuk lirik-lirik lagunya yang provokatif.Kekagumannya pada music blues sesungguhnya merupakan refleksi pemberontakan atas sesuatu yang mapan.Dalam sejarah,musik blues adalah pemberontakan kaum kulit hitam yang terjajah dalam perbudakan.Mick Jagger mencuri saripati blues itu dalam adonan musiknya yang kemudian disusupi ruh rock yang riuh rendah serta melabrak kaidah kaidah yang penuh kepura-puraan dan rekayasa.

Di akhir era 60-an,Mick Jagger bahkan menyebut dirinya seorang anrkis sejati.Jagger mengambil bagian dalam demonstrasi anti Perang Vietnam di depan kedutaan Amerika Serikat di LondonmInggeris pada tahun 1968.Disinilah Jagger lalu tergerak untuk menuliskan geraman jiwanya lewat lagu “Street Fighting Man” yang beraura gugat itu.

Di sekitar tahun 1973,saat diwawancara sebuah majalah musik,Mick Jagger pernah mencanangkan akan pensiunn pada usia 40 tahun.Saat itu usianya baru saja memasuki kepala tiga. Jagger berdalih bahwa rock n’roll tak lagi pantas di usia 40.Rock n’roll,kata Jagger,adalah milik anak muda.Tapi ternyata apa yang telah diucapkannya ternyata justeru dilanggarnya.

Dan satu dasawarsa ke depan,di tahun 1983 saat usianya bertambah menjadi 40 tahun,Jagger masih tetap berjingkrak-jingkrak dengan energi yang tiada terkira : Start Me Up !.Dalam konser The Rolling Stones yang berskala arena stadium Mick Jagger masih tetap bervitalitas mengelilingi panggung yang maha luas,sembari berteriak :

If you start me up
If you start me up I’ll never stop
If you start me up
If you start me up I’ll never stop
I’ve been running hot

Beruntung saya masih bisa menyaksikan ulah panggung Mick Jagger yang sexy dan sensasional di saat usianya bertambah menjadi 45 tahun,di Stadion Senayan Jakarta pada tanggal 30 Oktober 1988.Mick Jagger saat itu tidak datang bersama The Rolling Stones,melainkan melakukan tur konser solo yang antara lain didukung sederet pemusik virtuoso seperti Joe Satriani (gitar) hingga Simon Philips (drums).

Tuduhan bahwa Mick Jagger adalah titisan iblis terkadang membuat saya terhenyak.Karena di saat Jagger menggelar konser di Stadion Senayan Jakarta,aksi brutal berupa pembakaran mobil berlangsung di luar stadion bagai ritual sekte pemuja setan.Saat itu saya jadi teringat peristiwa mengerikan yang terjadi saat the Rolling Stones menggelar konser gratis di Free Way Altamont pada tahun 1969 dengan jatuhnya korban seorang penonton berkulit hitam yang ditikam gang motor Hell Angels yang kerap menjadi malaikat pendamping tiap konser Rolling Stones,  tepat di depan panggung The Rolling Stones sedang berpentas.

Pada akhirnya The Rolling Stones konotatif dengan kerusuhan dan chaos tanpa alasan yang jelas .

Begitulah,Mick Jagger seperti halnya rekan sejawatnya Sir Paul Mc Cartney maupun Bob Dylan,adalah sosok rock yang menolak tua.Mereka seperti para highlander yang terus bergelayutan immortal dari satu panggung ke panggung lainnya dalam lintasan jaman.Mick Jagger,juga Keith Richard adalah fenomena rock and roll yang tak terbantahkan.Ketika sahabat sejawat seperti Brian Jones,Jimi Hendrix,Janis Joplin atau Jim Morrison telah terbang ke nirwana di saat usia 27 tahun,Jagger dan Richard masih berlenggang rock n’roll di berbagai pentas musik dunia.

Ah,jangan jangan malaikat maut sering melupakan tugasnya karena senantiasa menonton konser konser spekatkuler The Rolling Stones.Bah !

Tapi yang jelas Mick Jagger adalah legenda abadi rock n’roll tiada dua.Jagger masih tetap penuh vitalitas diatas pentas.

Happy Birthday Mick !.It’s Only Rock and Roll,but I like it !

Mick Jagger 1971