Paul McCartney dan Ringo Starr, dua yang tersisa dari The Beatles merasa kehilangan atas berpulangnya penyanyi soul berkulit putih Joe Cocker 22 Desember 2014.Baik Paul McCartney maupun Ringo Starr mengangap Joe Cocker adalah figur yang menjadikan lagu “With A Little Help From My Friends” memiliki soul berbeda dengan yang dinyanyikan Ringo Starr pada album “Sgt Pepper’s Lonely Heart’s Club Band” (1967).

Versi yang disajikan Joe Cocker pada album yang bertajuk sama dengan lagu The Beatles itu dirilis 23 April 1969 diinterpretasikan dalam dimensi soul dan gospel yang kuat.Teknik nyanyi Joe Cocker yang dipengaruhi Ray Charles terasa begitu ekspresif, dan jangan lupa di lagu ini Jimmy Page gitaris Led Zeppelin member sentuhan yang memikat lewat petikan gitar elektriknya.Oleh Joe Cocker lagu With A Little Help From My Friend mampu keluar dari cita rasa The Beatles yang sesungguhnya.”Saya suka cara bernyanyi Joe Cocker dan menurut saya versi Cocker adalah versi yang sangat bagus dan berbeda dari The Beatles ” timpal Paul McCartney. Ringo Starr pun menulis obituari : ““Goodbye and God bless to Joe Cocker from one of his friends peace and love. R.”
Jika menyebut sosok Joe Cocker, maka nyaris setiap orang tak bisa melupakan penampilannya yang monumental dalam perhelatan budaya popular Woodstock di tahun 1969.Dengan suara paraunya yang khas serta gerakan tubuhnya yang eskpresif dan unik.Penampilan Joe Cocker membawakan With A Little Help From My Friends di ajang Woodstock dianggap sebagai penampilan rock bernilai historik.Mereka menyebut penampilan Joe Cocker bagaikan sebuah gerhana dalam kegelapan.
Joe Cocker dan The Beatles bisa disebut sebagai sebuah simbiose mutualisme.Di saat akan membuat album solonya yang kedua ,Joe minta izin pada Paul McCartney dan George Harrison untuk kembali mengcover dua komposisi dari The Beatles yaitu She Came In Through The Bathroom Window dan Something.Sebetulnya ada satu lagu The Beatles lainnya yang direkam Joe Cocker pada sesi rekaman tersebut yaitu Let It Be,namun lagu ini baru dimasukkan sebagai bonus track pada saat album tersebut dirilis ulang dalam bentuk CD kelak.
Bahkan sutradara Julie Taymor yang membesut film musikal “Across The Universe” yang diangkat dari repertoar karya-karya The Beatles,Joe Cocker pun tampil sekejap dalam beberapa adegan film sebagai hippies sinting .
Joe Cocker dilahirkan dengan nama lengkap John Robert Cocker pada 20 Mei 1944 di Sheffield Inggris.Mulai memasuki dunia hiburan sebagai penyanyi dengan menggunakan nama panggung Vance Arnold.Joe lalu membentuk band dengan nama Vance Arnold and The Avengers.

JoeCockerChickWoodstockPeacefencecom

Saat itu Joe lebih cenderung menyanyikan lagu-lagu soul R&B dan rock and roll mulai dari Chuck Berry hingga Ray Charles di beberapa tempat minum kawasan Sheffield.Tahun 1963 band Joe Cocker ini sempat menjadi atraksi pembuka konser The Rolling Stones di Sheffield.
Di tahun 1964 Joe Cocker mulai merintis solo karir dengan merilis lagu milik The Beatles “I’ll Cry Instead” yang didukung gitaris Jimmy Page.Sayangnya langkah awal Joe Cocker ini gagal.Albumnya keok dipasaran.
Tahun 1966 Joe Cocker membentuk band baru dengan nama The Grease Band.
Tahun 1968 disaat dunia dilanda atmosfer psikedlia,Joe Cocker menandatangani kontrak rekaman dan disepanjang seperempat abad berkarir dalam dunia hiburan Joe Cocker telah merilis lebih dari 40 album.
Benang merah musik Joe Cocker adalah musik rock maupun pop yang berlumur aksentuasi bluesy yang khas.Ditunjang dengan suara yang serak dan parau,Joe Cocker kerap disebut sebagai balladeer yang ekspresif dalam menginterpretasikan lagu terutama pada lagu lagu cover seperti The Beatles ,Traffic ,The Boxtops,Leonard Cohen,Leon Russell hingga Bob Dylan .

COCKER
Memasuki era 70an Joe Cocker membentuk band baru lagi bernama Mad Dog & Englishmen yang dimotori pianis dan penulis lagu Leonn Russell.Sayangnya dalam kurun waktu 1972 -1982 Joe Cocker banyak mengalami kemunduran dari sisi mental,antara lain terjebak narkotika dan alkoholik.Meskipun masih tetap melakukan tur dan rilis album seperti “I Can Stand A Little Rain” (1974),”Jamaica Say You Will (1975),Stingray (1976) maupun Luxury You Can Afford (1978),popularitas Joe Cocker kian menukik.Joe lebih banyak terjerembab dalam pelukan alkohol
Namun Joe Cocker tetap berupaya untuk kembali melakukan pembenahan dari kehidupannya yang kusut,Tahun 1982 Joe Cocker ditawari berduet dengan Jennifer Warnes menyanyikan sebuah ballad bertajuk Up Where We Belong yang menjadi soundtrackj film An Officer and Gentleman yang dibintangi actor Richard Gere dan Louis Gossett Jr.Lagu menjadi hits Billboard Hot 100 Singles di tahun 1982 dan berhasil meraih Grammy Ward untuk kategori Best Pop Performance by a Duo serta meraih Oscar dalam Academy Award Winner untuk kategori Best Original Song.
Tahun 2007 Joe Cocker menerima penghargaan OBE (Order of The British Empire) dari Kerajaan Inggris atas sumbangsihnya terhadap musik di Inggris .Joe Cocker tetap merekam album solonya.Tahun 2012 Joe merilis album bertajuk Fire It Up yang sempat mencapai peringkat ke 17 album terlaris di Inggris Raya.Meskipun mengidap penyakit kanker yang akut,Joe Cocker tetap bersemangat di panggung,tur terakhirnya yang berlangsung di beberapa kota di Eropa berakhir di Hammersmith pada Juni tahun 2014.

Joe_Cocker07
Joe Cocker,salah satu legenda Woodstock 1969 akhirnya menutup mata selama-lamanya pada 22 Desember 2014.
Sayup sayup suara Joe Cocker yang serak dan agak parau terdengar lamat-lamat namun penuh tenaga :
What would you think if I sang out of tune
Would you stand up and walk out on me?
Lend me your ears and I’ll sing you a song
And I’ll try not to sing out of key

Ida Royani pertamakali meniti karir dalam industri rekaman pada pertengahan era 60an dengan merilis album Dinamika Suara dan Gaja yang dirilis oleh Irama Recording milik Soejoso Karsono. Dalam album debutnya ini Ida Rojani diiringi oleh Orkes Baju (baca : Bayu) dibawah pimpinan F Parera.

Penyanyi berkulit hitam manis ini memiliki daya vokal yang kuat dan karakter yang khas.Artikulasinya bening.Dan Ida Rojani juga memiliki daya tarik fisik .Setidaknya ini membuat kehadirannya dalam dunia hiburan cepat menjadi sorotan siapa saja.Menariknya lagi,di dalam album ini Ida Rojani juga unjuk kemampuan sebagai penulis lagu.Salah satu lagu karyanya yang disenandungkannya di album ini adalah Adikku Sajang.Lagu karya Ida Rojani tampaknya tak kalah bagus dengan lagu-laguy karya Jasir Sjam yang mendominasi isi album ini.

Ida Rojani

Ida Rojani

Berikut ini tulisan pemusik Mamon Sigarlaki yang dimuat di cover belakang album Ida Rojani Dinamika Suara dan Gaja yang dirilis di sekitar tahun 1966 :

Liner Notes Ida Rojani ditulis Mamon Sigarlaki

Liner Notes Ida Rojani ditulis Mamon Sigarlaki

Kata dinamika-lah jang memang tepat dipergunakan, apabila kita hendak membitjarakan debut seseorang pendatang baru dibidang seni suara, djika dia itu telah berhasil merebut hati masjarakat ramai.

Pada dewasa ini, djustru dinamikalah jang harus dimiliki, baik dinamika suara jang lantang-menantang, maupun dinamika gaja serta pembawaan jang lintjah gembira, agar seseorang penjanji dapat berhasil mendjadi favorit massa.

Demikianlah halnja dengan biduan kita ini: IDA ROJANI, jang usianja belum mentjapai 13 tahun, hanja bedanja ialah, bahwa dinamika IDA ROJANI tidak terletak pada suara jang lantang-menantang ataupun gaja pembawaan jang lintjah berliku-liku, tetapi jang mempesonakan para pendengarnja adalah djustru ,,dinamika-perpaduan” antara suara jang kekanak-kanakan jang murni dan pembawaan jang menggambarkan seorang gadis jang karena usianja berada diambang keremadjaan jang masih sutji.

DS

Dengarkanlah lagu2nja, seperti: ,,Tamasja”, ,,Tjedera Lagu”, ataupun ,,Terkenang Dikau”. Apabila lagu2 buah tangan JASIR SJAM ini dibawakan oleh seorang biduan lain, nistjaja akan terdapatlah suatu gambaran jang mendalam arti tjinta-kasih, halmana dewasa ini sudah membosankan; tetapi oleh karena interpretasi2 jang diungkapkan IDA ROJANI ini, kita menangkap suatu spontanitas dari suatu ketidakpuasan atau ketjemasan, jang ditjetuskan setjara remadja, dipadukan dengan suara dan gaja jang memikat hati, seperti hanja IDA ROJANI sadjalah jang dapat menjadjikannja.

Lagu2 lainnja dalam L.P. ini, jang sejogjanja lebih tjotjok dengan ,,diri” IDA, adalah: ,,Adikku Sajang”, tjiptaannja sendiri, ,,Sepatu Baru”, ,,Merpatiku”, ,,Kenalan Lama”, ,,Melati”, ,,Teman Baru”, ,,Gunung Agung”, ,,Tidurlah Adikku” dan ,,Djumpa Diperdjalanan”, kesemuanja ini tjiptaan JASIR SJAM.

Bagaimanapun djuga dinamika seseorang penjanji, djika tidak diiringi orkes jang baik dan jang dapat ,,memahami” bakat dari penjanji tersebut, hasilnja tidaklah akan memuaskan. Dalam hal inilah Orkes ,,BAJU” pimpinan F. PARERA menundjukkan kemampuannja dalam ,,menjelami djiwa” dari tiap2 penjanji jang diiringnja serta menjusun arransemen jang sesuai.

Pendek kata: L.P. IDA ROJANI ini, merupakan suatu perpaduan antara iringan musik dan dinamika penjanji jang sukses.

MAMON SIGARLAKI

Rhoma Irama 68 Tahun

Posted: Desember 11, 2014 in Opini

Hari ini,kamis 11 Desember 2014 Raja Dangdut yang tak pernah turun tahta Rhoma Irama genap berusia 68 tahun.Dan tampaknya gelar Raja Dangdut itu tersemat seumur hidup.Karena hingga saat ini,tak satu pun sosok pemusik dangdut yang mampu mengungguli kharisma sang Raja Dangdut.Seperti lirik dari salah satu lagu yang pernah disenandungkannya :”Kau yang mulai kau yang mengakhiri”, Rhoma Irama memulai eksplorasi dangdut di akhir 60an dan mengembangkannya secara ekspresif,antara lain menyusupkan aura rock di awal 70an, dan setelah itu semua pemusik atau insan dangdut mengikuti jejaknya tanpa ada yang mampu menggesernya dalam satu titik evolusi sekali pun.
Karya-karya dangdut Rhoma Irama menjadi telaah dan kajian ilmiah dari belahan bumi sana.Orang-orang asing menaruh respek luar biasa dalam karya-karya si Raja Dangdut.Musik dangdut yang ditoreh Rhoma Irama bukan hanya hiburan semata,sekedar bergoyang dan melampiaskan gundah gulana belaka, tapi karya-karya dangdutnya menyimpan pelbagai aspek kehidupan dengan beragam sudut pandang mulai dari sisi sosial hingga kaidah agama.

Karya-karya dangdut Rhoma Irama menjadi telaah dan kajian ilmiah dari belahan bumi sana.Orang-orang asing menaruh respek luar biasa dalam karya-karya si Raja Dangdut.Musik dangdut yang ditoreh Rhoma Irama bukan hanya hiburan semata,sekedar bergoyang dan melampiaskan gundah gulana belaka, tapi karya-karya dangdutnya menyimpan pelbagai aspek kehidupan dengan beragam sudut pandang mulai dari sisi sosial hingga kaidah agama.
Dalam bermusik,Rhoma Irama memang menunjukkan sikap yang tegas dan lugas.Tertera jelas dalam deretan lirik-lirik lagu yang ditulisnya.
Banyak orang bermain musik
Bermacam-macam warna jenis musik.
Dari pop sampai yang klasik.
Bagi pemusik yang anti Melayu.
Boleh benci, jangan mengganggu.
Biarkan kami mendendangkan lagu.
Lagu kami lagu Melayu.
(“Musik” –Rhoma Irama ,1977).

Jelas ini merupakan sebuah refleksi eksistensi musik dangdut, jenis musik yang kerap dicemoohkan karena dianggap merefleksikan kalangan akar rumput yang jauh dari estetika dan harmonisasi lagu-lagu popular yang bermuara dari pengaruh westernisasi.
William Frederick seorang peneliti dari Amerika Serikat yang menelaah ikhwal musik dangdut yang dimainkan Rhoma Irama menguraikannya dalam tulisan bertajuk”Rhoma Irama and The Dangdut Style : Aspects of Contemporary Popular Culture” di tahun 1982.

Mengenai proses hibrida musik antara Barat dan Timur yang dilakukan Rhoma Irama dalam Dangdut pada era 70an terlihat dalam penggalan kalimat berikut ini :
By 1975 ,however,the outlines of a tighter synthesis and a patently individual personality could be seen in Oma’s music.It was above all an energetic style that pumped the Melayu songfull of a liquid ,flowing rhythm and highlighted its characteristic waves of melody .In part the effect was achieved with subtle changes in orchestration, but it came more noticeable with the incorporation of electrical instruments—guitar ,organ,even mandolin—and increasingly powerful acoustical equipment .This kind of music could be felt in an almost visceral way .If Melayu music was customarily foot-tapping stuff , then this dangdut (as it was now being called ) practically shook young listeners , compelling them to toss off their footgear and rock (bergoyang) to the music .Indeed ,dancing in this particular manner , across between the traditional kampung-style joget and vaguely rock and-roll motions ,became a hallmark of Soneta a performances .

ri
Anasir-anasir  seperti inilah yang menjadikan sosok Rhoma Irama bukan lagi sebagai superstar yang berjubah arogansi dan segala perilaku rekayasa seperti yang kerap kali diperlihatkan pemusik pop dan rock kita yang menyadap habis perilaku superstar dibelahan barat sana tanpa memahami esensi yang sesungguhnya.
Rhoma Irama tak hanya menawarkan goyang dangdut atau joget belaka seperti pada lagu “Joget“ maupun ”Dangdut” :yang kemudian lebih popular dengan judul  “Terajana” :
Sulingnya suling bambu
Gendangnya kulit lembu
Dangdut suara gendang
Rasa ingin berdendang

Rhoma Irama tak hanya membuai penggemarnya dengan lagu-lagu romansa yang nelangsa  seperti “Kegagalan Cinta” atau kegenitan atmosfer insan yang tengah kepayang seperti dalam lagu “Tung Keripit”  yang mengambil gaya pantun :
Tung keripit Hai si Tulang Bawang
Kalau pacar yang gigit sakit tak mau hilang
Tapi juga menyebarkan pesan moral dalam sederet lagu-lagunya semisal “Begadang”,”Darah Muda” maupun “Rupiah” yang entah kenapa sempat dicekal TVRI pada jelang dasawarsa 70-an :
Memang sungguh luar biasa
itu pengaruhnya rupiah
Sering karena rupiah
Jadi pertumpahan darah
Sering karena rupiah
Saudara jadi pecah
Memang karena rupiah
Orang menjadi megah
Kalau tidak ada rupiah
Orang menjadi susah
Hidup memang perlu rupiah
Tetapi bukan segalanya
Silakan mencar rupiah
Asal jangan halalkan cara

Lihat pula bagaimana Rhoma Irama menyuarakan anti segala bentuk perjudian :
Judi! menjanjikan kemenangan
Judi menjanjikan kekayaan
Bohong! Bila engkau menang,
Itu awal dari kekalahan
Bohong! bila engkau kaya itu awal dari kemiskinan.

Dari departemen lirik  yang dijejalkan  Rhoma Irama pun mengubah kecenderungan pemaparan tema.Rhoma Irama  berubah menjadi bijak dengan pelbagai petuah beratmosfer moralitas.Hal ini diungkap pula oleh peneliti asal Amerika Serikat William H Frederick dalam tesis bertajuk “Rhoma Irama and the Dangdut Style : Aspects of Contemporary Indonesia Popular Culture” tersebut
. Since much of Oma’s songwriting was leading inescapably^toward both storytelling and moralizing, he was naturally intrigued with the notion of integrating story line more closely with the music, and making of the whole something more “serious.”
Dan akkhirnya kita pun mahfum bahwa Rhoma Irama menjadi sosok panutan ummat.Menjadi suri tauladan.
Rhoma Irama bagaikan trubadur,pemusik pengelana  yang bertutur lewat dendang lagu tentang apa saja.
Puncak pencapaian Rhoma Irama dalam berkarya adalah ketika dia memproklamirkan “Sound Of Moslem” pada tahun 1973 .Lirikk lirik yang ditulis Rhoma Irama   mulai terasa  menyelinap ke wilayah  religi.
Ini salah satu  keprihatinan Rhoma terhadap nilai keimanan muslim di abad modern yang tertuang dalam lirik  lagu bertajuk “Koran dan Qur’an” :
Kalau bicara tentang dunia ,aduhai pandai sekali
Tapi kalau bicara agama,mereka jadi alergi
Membaca Koran jadi kebutuhan
Sedang Al Qur’an Cuma perhiasan.
Rhoma Irama pada akhirnya mengingatkan kita akan sosok  Sunan Kalijaga yang menggunakan anasir seni untuk tujuan dakwah Islam.
Perkembangan Rhoma Irama terasa signifikan dalam konsep bertutur,dimana pada akhirnya kita pun memaklumi jika sesungguhnya Rhoma Ira memang telah  melakukand akwah lewat media  musik :
Segelintir orang yang haus akan kekuasaan
Membuah dunia penuh penderitaan
Hentikanlah penindásán, hentikan kezaliman
Kapan kiranya akan tegak keadilan
Dimana-mana hampir di seluruh punggung dunia
Terdengar suara keluhan manusia yang gelisah
Dimana-mana hampir di seluruh punggung dunia
Banyak manusia jádi mangsa dari sesamanya
Itu karena sang manusia sudah lupa kepada Penciptanya
Agama hanya pelengkap belaka
Manusia telah bertuhan dunia

Dan hari ini,pencapaian-pencapaian Rhoma Irama dalam dunia seni terutama musik masih bisa kita leretkan dalam persolan kreativitas yang menginspirasi siapa saja, termasuk juga bagi orang yang tak menyukai jenis musik yang dimainkan Rhoma Irama.

Selamat ulang tahun Bang Haji Rhoma Irama.

Satu Dasawarsa Kepergian Si Biang Bengal

Posted: Desember 10, 2014 in Opini

Opini
Satu Dasawarsa Kepergian Harry Roesli
Hari ini 11 Desember,telah satu dasawarsa pemusik Harry Roesli meninggalkan kita.Harry Roesli adalah sosok seniman yang memiliki kepedulian dalam social dan kerap mengkritisi perilaku politik yang terjadi di negeri ini.Dengan karya-karya musiknya yang kerap bernuansa satir dan getir,Harry seperti ingin menjewer siapa saja yang dianggap menyimpang.Ketika gerakan mahasiswa di tahun 1998 berhasil menggulingkan kekuasaan Presiden Soeharto,tiba-tiba lagu Jangan Menangis Indonesia yang direkamnya pada album “Lima Tahun Oposisi” (1978) berkumandang lagi di radio dan TV.Lagu yang ditulisnya usai kejadian Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) agaknya masih relevan dengan suasana politik negeri ini di jelang akhir era 90an.
Dengan kebisaannya bermain musik,Harry Roesli melakukan kritik lewat lirik-lirik lagunya mulai dari yang absurd hingga tanpa tedeng aling-aling.Harry melakukan apa saja untuk ritual gugat terhadap ketimpangan-ketimpangan yang berlangsung dipelupuk mata.Periaku korup adalah salah satu fragmen yang kerap menjadi sasaran kritik Harry Roesli.Secara satir Harry Roesli menyerang perilaku korup pada opera rock yang diangkatnya berdasarkan sejarah Ken Arok,sosok ambisius yang akhirnya bertahta di kerajaan Singosari.Karya-karya gugat Harry Roesli memang terasa cair dan berbalut humor karena ditumpahkan dalam aksentuasi bercanda.Dan itulah yang menjadi bagian menarik jika kita menelaah karya-karya Harry Roesli yang terbentang dari tahun 1973 hingga 2004.
Dimata saya Harry Roesli adalah sosok yang anti birokrasi,anti hipokrit dan anti korupsi.Ini adalah prinsip yang tetap kukuh digenggam Harry Roesli hingga ke liang lahat.Di tahun 1998 banyak yang menyayangkan kenapa Harry Roesli memelintir lirik lagu Garuda Pancasila menjadi : . “Garuda Pancasila/ Aku lelah mendukungmu/ Sejak proklamasi selalu berkorban untukmu/ Pancasila dasarnya apa?/ Rakyat adil makmurnya kapan?/ Pribadi bangsaku tidak maju-maju.” .Tapi sesungguhnya ini adalah kritik yang paling menohok dari sosok Harry Roesli yang sejak paruh era 70an dijuluki Biang Bengal Bandung .
Harry Roesli adalah seniman yang mengaduk aduk banyak dimensi seni,entah itu musik,teater hingga film menjadi medium untuk bercermin,medium untuk menera perilaku kita termasuk medium untuk kritisi.Walaupun banyak yang kerap tidak nyaman dengan idiom idiom Harry Roesli dalam mengkritik tapi dia tak pernah lelah melakoni sosok kesenimanannya untuk mengabarkan ketimpangan-ketimpangan serta berbagai telikung telikung yang berpendar diman-mana.
Saya yakin Harry Roesli adalah seniman yang cinta negerinya.Harry Roesli,tak berlebihan jika saya sebut sebagai seorang nasionalis sejati. Di tahun 1973 saat tampil di acara musik kolosal “Summer’28” yang berlangsung di kawasan Pasar Minggu,Harry Roesli dengan lantanng menyanyikan lagu karyanya dalam bahasa Inggris “Peacock Dog”.Peacock Dog adalah idiom aneh yang nyaris tak terpahami hingga suatu hari Harry Roesli mentakwilkan bahwa Peacock Dog itu adalah sindiran untuk Indonesia, Negara yang mempesona seperti burung merak tapi berperilaku menyebalkan seperti (maaf) anjing.
Harry Roesli boleh jadi adalah seorang visioner sejati.Disaat kisruh yang terjadi antara dua kubu dalam Pilpres 2014, saya teringat cuplikan lirik lagu “Bharatayuda” yang direkam Harry Roesli di tahun 1977 :”Mulut yang penuh tetapi kosong.Ini disebut jantan ?.
Atau ketika kegiatan korupsi kian marak terjadi diantara para pejabat pemerintahan belakangan ini , sebuah lagu karya Harry Roesli yang direkam pada tahun 1978 justru menjadi soundtrack yang tepat dengan lirik seperti ini :” Seratus pencuri membuat fraksi di tanahku ini
Sepuluh penipu,mereka bersatu di tanahku ini
Dapatkah anda membayangkan kini?

Hari ini 11 Desember,sepuluh tahun silam sosok Harry Roesli yang humoris tapi kritis telah meninggalkan kita,tetapi lagu-lagu yang pernah ditulisnya ternyata masih tetap relevan dengan kekinian.Apa yang dikritik Harry Roesli masih tetap terjadi dan berlangsung.
Harry Roesli telah tiada,tapi karyanya masih bersemayam dibenak kita termasuk himbauan Harry Roesli dalam lagu “Berduka Cita” (1977) :
Menjelaskan kepada dunia bahwa kita kan tetap bersatu
Tutup matamu dari rayuan bukakan lah tentang keadilan

Tiga Jam Diguyur Metal Progresif

Posted: Desember 5, 2014 in Konser, Liputan

Tulisan saya ini dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2014

Walaupun tak sebesar dan sekolosal Metallica, namun band progresif metal Dream Theater juga meraup banyak penggemar fanatik yang memenuhi lahan Lapangan D Senayan pada minggu 26 Oktober 2014.Sekitar 5000 penonton memenuhi lahan yang letaknya berdampingan dengan Jakarta Convention Center, yang saat itu juga tengah mengadakan perhelatan musik lintas genre Sounds Fair.Konser Dream Theater bertajuk Along For The Ride Tour 214 merupakan yang keduakalinya sejak John Petrucci (gitar),James LaBrie (vocal ),John Myung (bass),Jordan Rudess (keyboard) dan Mike Mangini pertamakali menggelar konser di Jakarta 21 April 2012 di MEIS Ancol Jakarta. Along For The Ride Tour merupakan tur yang dilakukan Dream Theater untuk mendukung album “Dream Theater” yang dirilis tahun 24 September 2013.Tur ini dimulai di Eropa 15 Januari 2014.
“Malam ini kami akan bermain sekitar 3 jam penuh” ucap John Petrucci gitaris dan salah satu pendiri Dream Theater, saat saya mewawancarainya sekitar 6 jam sebelum konser berlangsung.
Menurut,John Petrucci, selain membawakan lagu-lagu dari album “Dream Theater” ,konser ini juga membawakan sebagian repertoar dari album “Awake” yang tahun ini genap berusia 20 tahun serta selebrasi album “Metropolis Pt2 :Scenes From A Memory “ yang tepat saat konser berlangsung 26 Oktober genap berusia 15 tahun.Konser ini setidaknya merupakan retropeksi atas perjalanan karir band yang dibentuk pertamakali oleh tiga mahasiswa Berklee College of Music di Boston,Massachusetts Mike Portnoy,John Myung dan John Petrucci pada tahun 1985 dengan nama Majesty dan berubah menjadi Dream Theater di tahun 1988.
Dream Theater yang kini berada dibawah naungan label Road Runner betul memenuhi janjinya untuk tampil selama 3 jam.James LaBrie sang vokalis meyibak pertunjukan dengan berucap : “Selamat malam Jakarta.Kami akan memainkan musik selama tiga jam”,yang disambut gemuruh para penggemar Dream Theater yang datang dari berbagai kota di Indonesia.Saat itu saya sempat melihat penggemar Dream Theater yang datang dari Bali,Malang,Surabaya,Makassar,Medan dan juga Lampung.
Konser Dream Theater dibagi dalam dua sesi yaitu Act 1 dan Act 2 termasuk encore yang menyajikan sekitar 4 komposisi.Kedua sesi ini disela jeda pemutaran kumpulan klip dan footage yang berkaitan dengan Dream Theater termasuk klip para penggemar Dream Theater yang mengcover lagu-lagu Dream Theater di kanal Youtube.
Konser Dream Theater yang didukung pernak pernik visual rasanya tepat untuk mengimbuh mood dan atmosfer konser selama 3 jam tersebut .Sesi Act 1Dibuka dengan introduksi bernuansa orchestral “False Awakening” yang ditulis John Petrucci dan Jordan Rudess dan berlanjut dengan beberapa komposisi dari album “Dream Theater” seperti “The Enemy Inside”,”The Looking Glass”,”Along For The Ride” serta “Enigma Machine” yang dilanjutkan dengan solo drum dari Mike Mangini.Dalam Act 1 ini para pemusik virtuoso ini juga memainkan “The Shattered Fortress” dari album Black Clouds & Silver Linings (2009),”On The Back of Angels” dan Breaking All Illusion “dari album “A Dramatic Turn of Events” (2011) serta ,”Trial of Tears” dari album “Falling Into Infinity” (1997).
Setelah jeda intermission sekitar 15 menit Dream Theater meneruskan penjelajalahan musiknya pada Act 2 yang khusus memainkan repertoar album “Awake” .Awake adalah salah satu album terbaik Dream Theater yang mendapat review bagus atas pencapaian musiknya.Album yang dirilis 4 Oktober 1994 ini muncul pada saat industri musik dunia masih di cengkram ketenaran musik grunge dengan band-band seperti Nirvana,Pearl Jam,Alice In Chain hingga Stone Temple Pilot.Namun album yang kuat nuansa progresifnya ini mampu mencapai peringkat 32 dalam “Top 200 Albums” di majalah industri musik Billboard selama 6 pekan.

DTT
Di penghujung era 90an itulah sosok Dream Theater mulai dikenal di Indonesia.Anak muda yang bermain band mulai menoleh pada aura musik Dream Theater dengan penyajian musik yang cenderung ke arah virtuositas.”Anak anak muda yang tadinya memainkan metal,mulai mengulik karya-karya Dream Theater” urai Andy Julias drummer Makara,yang juga dikenal sebagai penggagas berdirinya Indonesia Progressive Society di awal era 2000an. Eramono Soekaryo,pemain keyboard alumnus Berklee Music Of College Boston juga ikut tertarik dengan konsep fusi antara musik rock progresif dan metal yang digagas Dream Theater.Di tahun 1995 Eramono Soekaryo mengubah warna music bandnya Spirit dari fusion menjadi prog metal ala Dream Theater.Jika Dream Theater menghadirkan saxophonis jazz Jay Beckenstien dari grup Spyrogyra pada lagu “Another Day” dari album “Images and Words” (1992) , Eramono Soekaryo dalam band Spirit menghadirkan saxophonis jazz Didiek SSS dalam album “Salahkanku” (1995).

DT@
Saat itu repertoar Dream Theater menjadi pilihan bagi berbagai band-band remaja saat ikut berkompetisi dalam berbagai Festival Band.”Saya dan teman-teman saat ikut festival band pernah membawakan lagu milik Dream Theater” ujar Rian D’Masiv vokalis band pop D’Masiv.
Andy Julias lalu menyebut beberapa nama band progresif yang banyak terpengaruh dengan konsep progresif metal Dream Theater seperti The Miracle,Jukebox, dan Ballerina.Meskipun mereka telah merilis album dengan komposisi sendiri misalnya The Miracle merilis album bertajuk “M” (2008) atau Ballerina yang merilis dua album “Hayal” (2003) dan “Dance of Ballet” (2008) .Bahkan saya sempat melihat penampilan Paraikatte Band, band asal Makassar yang menyerap pengaruh Dream Theater saat tampil dalam sebuah kompetisi band
Setidfaknya ini menyiratkan bahwa Dream Theater memiliki banyak penggemar di Indonesia.Komunitas penggemar Dream Theater tumbuh kembang di beberapa kota di Indonesia.
Dalam sesi Act 2 ,kita seolah digiring kembali ke Dream Theater era lalu dengan sederet lagu dari album “Awake” seperti “The Mirror”,”Lie”,”Lifting Shadows off a Dream”,”Scarred”,”Space-Dye Vest” dan diakhiri dengan epic berdurasi 22.18 menit “Illumination Theory” yang terbagi dalam 5 movement, dari album “Dream Theater” (2013).
Penggemar Dream Theater di Indonesia agaknya menikmati sajian yang dahsyat dari Dream Theater yang masih menambahkan encore sebanyak 4 komposisi dari album Metropolis pt 2 : Scenes From A Memory” yaitu Overture 1928,Strange Deja Vu,The dance of Eternity,Finally Free serta outro dari Ilumination Theory.Menyajikan encore dari album Metropolis Pt2 :Scenes From A Memory” ini rasanya merupakan pilihan tepat.Pertama,karena malam itu album yang untuk pertamakali menyertakan keyboardis Jordan Rudess ini merayakan ulang tahun yang ke 15 sejak dirilis 26 Oktober 1999.Kedua,album ini juga merupakan salah satu album landmark dari Dream Theater,dimana majalah Rolling Stone pada edisi akhir Juli 2012 telah memilih album ini sebagai album no.1 dalam polling Album Progresif Rock Terbaik Sepanjang Waktu,mengalahkan album klasik “Close To The Edge” dari Yes (1972) dan album 2112 dari Rush (1976) .
Suara James LaBrie terdengar lirih di ujung konser saat menyanyikan bait bait terakhir lirik Finally Free :” We’ll meet again my friend.Someday Soon !”

Trio Bersaudara Berdasarkan Zodiak

Posted: Desember 2, 2014 in Kisah, Koleksi

Trio Visca adalah kelompok vokal bersaudara yang terdiri atas Winny Prasetyo ,Widyawati Sophiaan  dan Ria Likumahuwa .Nama Visca diambil dari akronim zodiak ketiga bersaudara ini yaitu VIrgo,Scorpio dan CAncer.

Winny yang berbintang Virgo adalah yang paling sulung ,diilahirkan 28 Agustus 1947.Ria berbintang Scorpio dilahirkan pada tanggal 7 November 1948 dan yang bungsu Widyawati berbintang Cancer dilahirekan pada 12 Juli 1950.Trio ini terbentuk pada tahun 1965 dan mengikuti pola trio Motown ala The Supremes yang saat itu memang jadi perbincangan dunia.Trio Visca banyak menyerap pengaruh dan inspirasi dari The Supremes.

Album debutnya Black Is Black yang diambil dari lagu karya Michelle Grainger, Tony Hayes, Steve Wadey yang dipopulerkan Los Bravos tahun 1966.Trio Visca meremakenya di tahun 1968 lewat label Elshinta Record milik Soejoso Karsono a.k.a Mas Jos.Trio Visca diiringi oleh Orkes Gaja Remadja pimpinan Ireng Maulana..Ireng Maulana memberikan sentuhan pop dengan sedikit mengarah ke arah Pop R&B. serta beberapa malah diarahkan ke Latin Pop dan Bossanova  termasuk bernuansa blues ringan lewat lagu Boom Boom yang pernah menjadi hits di sekitar tahun 1962. 

Ada 12 track lagu di album ini,masing2 6 track di sisi A dan 6 track disisi B.Selain meremake atau menyanyikan ulang beberapa karya-karya mancanegara seperti Black Is Black,Boom Boom, Morgen Ben Ik De Bruid,Blame It On The Bossa Nova,Pretty Flamingo,Quizas Quizas Quizas, juga ada beberapa lagu karya W.Monrady seperti Tjinta Kasihku, Lambretta dan  Senjum Dikala Duka.Kemudian komposer Bambang D.E.S menyumbangkan lagu-lagu seperti  Mari Bergembira dan Putus Diudjung Tahun.  Juga ada Tjempaka karya Hamid.

Trio ini memiliki karakter kuat dalam harmoni vokal yang khas.Sayangnya Trio Visca hanya sempat merilis beberapa single 45 RPM dan sebuah album tunggal, setelah itu masing-masing personilnya mulai melakukan kegiatan yang berbeda.Widyawati memulai debut akting di layar lebar lewat film Pengantin Remadja di tahun 1971.Winny aktif berkegiatan di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini dikenal sebagai Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Ria yang kemudian sempat hengkang ke Bali.

Trio Visca terdiri atas Widyawati,Winny dan Ria

Trio Visca terdiri atas Widyawati,Winny dan Ria

Ini urutan tracklist album Trio Visca.
A1

Black Is Black

Songwriter – Michelle Grainger, Tony Hayes, Steve Wadey

2:37

A2

Morgen Ben Ik De Bruid

Songwriter – Adriaan van de Gein, Ger Rensen, Joop Luiten

3:15

A3

Blame It On The Bossa Nova

Songwriter – Cynthia Weil, Barry Mann

2:01

A4

Boom Boom

Songwriter – John Lee Hooker

2:25

A5

Pretty Flamingo

Songwriter – Mark Barkan

1:58

A6

Quizas Quizas Quizas

Songwriter – Osvaldo Farrés

2:04

B1

Mari Bergembira

Songwriter – Bambang D. E. S.

1:55

B2

Tjempaka

Songwriter – Hamid

2:49

B3

Tjinta Kasihku

Songwriter – W. Monrady*

2:18

B4

Senjum Dikala Duka

Songwriter – W. Monrady*

2:25

B5

Lambretta

Songwriter – W. Monrady*

2:02

B6

Putus Diudjung Tahun

Songwriter – Bambang D. E. S.

Saya dan piringan hitam Black Is Balck dari Trio Visca (Foto Agus WM).

Saya dan piringan hitam Black Is Balck dari Trio Visca (Foto Agus WM).

Beach Girls bukanlah jawaban Indonesia atas The Beach Boys, tapi band wanita ini cukup diperhitungkan setelah Dara Puspita membuka peluang band wanita di permukaan musik Indonesia.Band Beach Girls dimotori oleh Anny Kusuma.Salah satu personilnya kemudian menikah dengan Oma Irama.Bahkan Veronica Timbuleng di paruh era 70an juga membentuk Soneta Girls.

1901774_10152595678263285_2242708098184719977_n