Ketika Achmad Albar Berdangdut

Posted: Januari 8, 2014 in Kisah

Sebuah keputusan kontroversial telah dilakukan Achmad Albar disaat menerima kontrak senilai Rp 25 juta pada tahun 1979 untuk membuat album dangdut bertajuk “Zakia” yang dirilis oleh Sky Record.Saat itu Rp 25 juta adalah angka yang fantastik.

Para penggemar musik rock,terutama pencinta God Bless marah besar.Mencak-mencak.Tak terima.Namun sang rocker tetap melaju.Bahkan Achmad Albar pun mengajak Ian Antono dan Abadi Soesman untuk menggarap musiknya.

Pasal berdangdutnya Achmad Albar disebut sebagai pengkhianatan.Yang telah melacurkan jatidiri.

Lalu kenapa penggemar rock seperti kebakaran jenggot melihat ulah Achmad Albar ?Apakah sedemikian najisnya musik dangdut itu ? Apakah dangdut memang berada di kasta terbawah ?.Padahal ketika Achmad Albar menyanyikan lagu-lagu pop,toh tak ada hujatan sederas ketika dia memutuskan untuk berdangdut.

Album Dangdut perdana Achmad Albar "Zakia" dirilis Sky Record tahun 1979

Album Dangdut perdana Achmad Albar “Zakia” dirilis Sky Record tahun 1979

Saat itu memang,banyak orang yang naif,yang mengkotak-kotakan musik setara dengan status sosial.Dangdut konotatif dengan kelas bawah,working class,kaum papa,kurang pendidikan.Rock berada diatasnya,modern,lebih gaya dan lain sebagainya.

Bahkan pada paruh era 70-an sempat terjadi polemik yang berujung ke kuala pertikaian antara Benny Soebardja dan Oma Irama.Benny Soebardja yang dedengkot kugiran cadas Giant Steps menyebut Oma Irama dan dangdutnya adalah musik taik anjing (maaf !).Pertikaian ini kian memuncak ,apalagi setelah dikomporin oleh majalah Aktuil Bandung.

Namun ternyata hinaan dan sergahan dari zona rock malah menjadi tantangan bagi Oma Irama,yang kemudian menyusupkan elemen rock dalam musik dangdutnya.Sementara para rockers masih terbuai sebagai copy cat atawa impersonator band-band rock mancanegara.

Entah sengaja atau tidak,Oma Irama bahkan mengajak Ucok AKA Harahap dedengkot AKA menjadi lawan mainnya dalam film “Darah Muda”.Pertikaian antara rock dan dangut pun diangkat di film tersebut.Film ini memang sangat hitam putih.Dimana pada akhirnya musik rock yang diwakili Ucok Harahap dipatahkan oleh Oma Irama dengan Dangdutnya.

Pada era 80-an,giliran Ikang Fawzy yang diajak Oma eh Rhoma Irama bermain dalam film Menggapai Matahari dan Menggapai Matahari II (Firman Abadi Film ,1986) yang dibesut sutradara Nurhadie Irawan.

Disini Ikang Fawzy yang menjadi rockers harus tunduk pada Rhoma Irama.

Tapi entah kenapa,belum ada satu pun film film Rhoma Irama yang menampilkan sosok Achmad Albar dari God Bless.Apakah Iyek menolak “kalah” di ujung pedang dangdut Rhoma Irama ?.Nggak jelas.

Album dangdut kedua Achmad Albar tahun 1980

Album dangdut kedua Achmad Albar tahun 1980

Namun yang pasti Achmad Albar yang ayahnya adalah pemusik Gambus terkenal di zamannya itu,malah berduet dengan Elvy Sukaesih,mantan pasangan Rhoma Irama dalam berbagai album yang edar pada dasawarsa 70-an.Setidaknya Achmad Albar bermain dan berpasangan dengan Elvy si Ratu Dangdut pada film “Cubit Cubitan” (Rapi Film,1979) yang disutradarai oleh Maman Firmansyah dan “Irama Cinta” (Rapi Films 1980 disutradarai oleh Willy Willianto.

Kedua film ini memang bertema drama berlatar musik.Seperti melodrama film film India.Lihatlah film “Cubit Cubitan” yang diangkat dari lagu dangdut Koes Plus karya Murry yang bercerita tentang kisah rumah tangga suami isteri yang sudah tak seia-sekata lagi.

Syahdan.Hendra (A. Rachman Saleh,mantan Jaksa Agung RI) meninggalkan istri dan dua anaknya untuk pergi ke Jakarta. Di Jakarta dia sukses dan menikah lagi dengan sekretarisnya, melupakan anak istri di kampung. Ketika anak dan istrinya menyusul, malah diusirnya. Untung sang istri (Elvy Sukaesih) berjumpa dengan Achmad (Achmad Albar) anak muda yang akan rekaman. Jadilah Elvy rekaman dan sukses.

Film dangdut Achmad Albar dan Elvy Sukaesih "Cubit Cubitan"

Film dangdut Achmad Albar dan Elvy Sukaesih “Cubit Cubitan”

Waktu Hendra terpuruk, ia mencari anak dan istrinya. Namun anak-anaknya tidak mau menemui karena masih dendam. Mereka mau memaafkan setelah Hendra mendapat kecelakaan tertabrak mobil dan dirawat di rumah sakit.

Lalu film “Irama Cinta” sebetulnya yang menjadi pemeran utama adalah almarhum Farouk Afero dan Elvy Sukasesih,tapi entah kenapa dalam poster poster film tersebut justeru nama Achmad Albar yang sesungguhnya menjadi pemeran pembantu justeru ditongolkan laksana pemeran utama.

Film ini berkisah tentang penyanyi populerp Elvy (Elvy Sukaesih), memiliki kehidupan ganda.

Film Irama Cinta mempertemukan rocker Achmad Albar dan ratu dangdut Elvy Sukaesih (Foto Denny Sakrie)

Film Irama Cinta mempertemukan rocker Achmad Albar dan ratu dangdut Elvy Sukaesih (Foto Denny Sakrie)

Di panggung ia cemerlang,namun di rumah ia tidak bahagia karena suaminya terjerat judi dan terperangkap oleh hasutan kawannya yang ingin mengeruk harta Elvy. Rumah dan hartanya akhirnya berpindah tangan. Elvy yang sangat mencintai suaminya terguncang dan masuk rumah sakit jiwa. Sementa suaminya (Farouk) terlunta-lunta. Akhirnya Farouk minta maaf di pangkuan istrinya dan kembalilah mereka meniti hidup baru.

Memang film film dangdut diatas sangat stereotipikal.Tapi ini juga membuktikan bahwa seorang Achmad Albar ,penyanyi yang berlatar akting toh memperlihatkan kemampuan dalam zona dangdut.Lagu dangdut yang dinyanyikan Albar pun tak berkesan dipaksakan.Ibaratnya Albar memang berhasil menghidupkan sukma dangdut itu sendiri.

Lalu kenapa orang mencemooh rocker yang membawakan dangdut ? Padahal The Beatles sendiri punya lagu bernuansa “dangdut” lho dalam album Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band (1967) lewat vokal George Harrison…….hayoooooo !!!!!

 

Masih ingatkah dengan ajang lomba cipta lagu tingkat dunia bertajuk World Popular Song Festival (WPSF) yang setiap tahun digelar di Budokan Hall Tokyo Jepang pada dasawarsa 70-an hingga 80-an ? Kompetisi bergengsi ini sesungguhnya merupakan semacam tolok ukur atau parameter puncak prestasi dari pelbagai ragam kompetisi musik internasional yang ada.Kenapa ? Karena pada ajang kompetisi yang digagas oleh perusahaan instrumen musik raksasa Yamaha Foundation ini, para kontestan dari penjuru dunia berdatangan mewakili tidak hanya negaranya saja,tetapi juga benua.

Dari Eropa yang merupakan gudang pemusik kualifaid,misalnya,pada tahun 1970 hingga 1980-an,peserta kompetisi asal Eropa dijaring dari arena kompetisi lagu yang disebut Eurovision Song Contest.Sementara dari benua Amerika,terbagi pula dalam dua blok peserta yang masing-masing memiliki gengsi tinggi : Amerika Serikat dan Amerika Latin.

Negara yang disebut terakhir sebetulnya juga merupakan gudang para pemusik dan penyanyi berkualitas dan berkarakter kuat.”Makanya jujur,saya merasa bangga terpilih menjadi juara penyanyi terbaik di World Pop Song Festival” kata Harvey Malaihollo yang pada tahun 1986 berhasil menyabet kategori Best Singer di World Pop Song Festival Tokyo melalui komposisi karya Elfa Secioria Hasbullah dan Wieke Gur bertajuk “Seandainya Selalu Satu(If We Could Always Be Together)”.Harvey Malaihollo saat itu mengungguli para Grand Finalis dari 28 negara di dunia. Bisa dikatakan itulah puncak atau akhir petualangan pemusik Indonesia pada ajang kompetisi internasional.Karena ,pada kompetisi yang ke 13 pada tahun 1988,acara yang diprakarsai pertamakali oleh Yamaha Music Foundation pada 1970 tersebut ditiadakan sama sekali. Indonesia pertamakali mengirimkan utusan ke World Pop Song Festival di Tokyo ini pada tahun 1971 dengan diwakili penyanyi Elly Srikudus yang membawakan lagu karya Mochtar Embut bertajuk “With The Deepest Love of Djakarta“.Tapi,tak berhasil menggurat prestasi sama sekali.Begitupula pada tahun selanjutnya yang diwakili almarhumah Tuty Ahem yang membawakan karya almarhum Mus K Wirya bertajuk “Before I Die“,juga tak menghasilkan prestasi sedikitpun.

Baru pada tahun 1977,nama Indonesia bergaung di acara yang digelar di gedung yang biasa dipakai untuk pertandingan olahraga khas Jepang Sumo itu.

Tahun itu almarhum Adjie Bandy berhasil memperoleh penghargaan dalam kategori “Outstanding Song Award” lewat lagu ciptaannya “Damai Tapi Gersang“,yang dinyanyikan secara duet dengan Hetty Koes Endang..

Sejak saat itu,semangat berkompetisi di kalangan pencipta lagu kembali terpacu dan terpicu.Lima tahun berselang tepatnya pada tahun 1982,Indonesia kembali memperoleh penghargaan berupa Kawakami Award yang disematkan untuk lagu “Lady” karya Anton Issoedibyo. Tahun 1985,Indonesian kembali berhasil meraih Kawakami Award lewat lagu “Burung Camar” karya Aryono Hubojo Djati dan Iwan Abdurachman yang disenandungkan Vina Panduwinata dan aransemen musik oleh Candra N Darusman.

Lagu Burung Camar karya Aryono Huboyo Djati dan Iwan Abdurachman meraih penghargaan The Kawakami Prizes dalam World Popular Songs Festival di Budokan Hall Tokyo Jepang tahun 1985.Tampak Candra Darusman (arranger),Aryono Huboyo Djati (komposer) dan Vina Panduwinata (penyanyi) saat Presiden Yamaha Music Foundation Gen'ichi Kawakami menyerahkan award

Lagu Burung Camar karya Aryono Huboyo Djati dan Iwan Abdurachman meraih penghargaan The Kawakami Prizes dalam World Popular Songs Festival di Budokan Hall Tokyo Jepang tahun 1985.Tampak Candra Darusman (arranger),Aryono Huboyo Djati (komposer) dan Vina Panduwinata (penyanyi) saat Presiden Yamaha Music Foundation Gen’ichi Kawakami menyerahkan award

Setahun kemudian,Harvey Malaihollo,yang rajin menjadi kontestan,berhasiol meraih kategori paling bergengsi yaitu Best Singers WPSF 1986 setelah melantunkan lagu “Seandainya Selalu Satu” karya Elfa Secioria Hasbullah dan Wieke Gur.Di tahun berikutnya,Indonesia malah memperoleh 2 penghargaan sekaligus yaitu “Audience Selection Award” dan “Kawakami Award” atas lagu “Kembalikan Baliku” karya Guruh Soekarno Putera yang dinyanyikan Jopie Latul.Tahun 1976 Guruh Soekarno Putera pernah mewakili Indonesia ke WPSF lewat lagu “Renjana” yang dinyanyikan Grace Simon,tapi tak berhasil meraih predikat apa-apa.

Sayangnya,ketika Indonesia tengah getol-getol mencetak prestasi di ajang kompetisi tingkat dunia,acara World Pop Song Festival itu pun ditiadakan oleh pihak Yamaha Music Foundations.Meskipun demikian,penyelenggaraan Festival Lagu Populer Indonesia toh masih tetap berlanjut hingga akhirnya juga harus ditiadakan sama sekali seusai penyelenggaraan kompetisi pada tahun 1991.

LAGU LAGU INDONESIA DALAM WPSF TOKYO (1971 -1987)

1.With The Deepest of Jakarta (Mochtar Embut) – Elly Srikudus (1971)

2.Before I Die (Mus K Wirya) – Tuty Ahem (1972)

3.Love Eternally (Nick Mamahit) – Broery Marantika (1973)

4.Cinta (Titiek Puspa)- Broery Marantika (1974)

5.Pergi Untuk Kembali (Minggoes Tahitu) – Melky Jannes Goeslaw (1975)

6.Indigo (Renjana) (Guruh Soekarno Putera) – Grace Simon (1976)

7.Damai Tapi Gersang (Adjie Bandy) – Hetty Koes Endang & Adjie Bandy (1977)

8.Harmoni Kehidupan (Ully Sigar Rusadi) – Dhenoik Wahyudi (1978)

9.Runtuhnya Keangkuhan Diri (Tarida Hutauruk) – Berlian Hutauruk (1979)

10.Senja Merah (Red Twilight) (Roekanto D dan Esti W) – Marini (1980)

11.Siksa (Titik Hamzah) – Euis Darliah & Hetty Koes Endang (1981)

12.Lady (Anton Issoedibyo) Harvey Malaihollo & Geronimo (1982)

13.Randu (Elfa Secioria & Ferina Zubeir) – Andi Meriem Mattalatta (1983)

14.Aku Melangkah Lagi (Santoso Gondowidjojo) – Vina Panduwinata (1984)

15.Burung Camar (Aryono Huboyo Djati & Iwan Abdurachman) – Vina Panduwinata (1985)

16.Seandainya Selalu Satu (If We Could Always Be Together) (Elfa Secioria & Wieke Gur)

Harvey Malaihollo (1986)

17.Kembalikan Baliku (Guruh Soekarno Putera) – Jopie Latul (1987)

 

 

Dinihari jumat 3 Januari 2014 saya dikejutkan dengan Broadcast Message yang dikirimkan sobat saya Sam Alattas :” turut berduka cita atas wafatnya Yudhi Grass Rock semalam di RS Mitra Cibubur. Rumah duka di Jl. Putri Tunggal Sumur Bandung 3, Harjamukti, Cibubur, Akhirnya saya mendapatkan info bahwa Yudhi Rumput demikian panggilan akrbanya  telah meninggalkan kita semua pada jam 00:45 di Rumah Sakit Mitra Keluarga Cibubur. Yudhi memang hampir 3 tahun mengidap penyakit sokoris liver  yang kronis.Yudhi tercatat telah beberapa kali berpindah-pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.

Grass Rock saat latihan di Studio S 70 Makassar sebelum melakukan konser di GOR Mattoanging Makassar pada tanggal 30 Agustus 1988

Grass Rock saat latihan di Studio S 70 Makassar sebelum melakukan konser di GOR Mattoanging Makassar pada tanggal 30 Juli 1988

Hingga tanggal 2 Januari 2010 Yudhi tercatat  telah  3 kali keluar-masuk rumah sakit. Yudhia terbaring tak berdaya dengan fungsi hati tinggal 5 persen saja.

Saya masih ingat pada tanggal 10 Januari 2010 bertempat di Manchester United Cafe Thamrin Jakarta  sederet rekan rekan wartawan dan pemusik bahu membahu mengadakan kegiatan pengumpulan dana untuk biaya perawatan dan pengobatan Yudhi yang saat itu terbaring di Rumah Sakit Pelni Petamburan Jakarta.

Masih segar dalam benak saya, saat itu saya dan rekan rekan lainnya ikut terpanggil mendukung lancarnya acara penggalangan dana untuk Yudhi tersebut.Saya ikut menyumbangkan tenaga sebagai MC bersama banyak rekan-rekan lainnya.Pemusik yang tampil juga banyak ada Iwan Fals,Kotak,Ian Antono,Yockie Surjoprajogo,Slank,Black Out dan sederet pemusik lainnya.

Lelaki bernama lengkap Yudha Tamtama Adji  yang dilahirkan di Jakarta pada tanggal 26 Juni 1964 ini dikenal sebagai bassist band rock era 80an asal Surabaya Grass Rock.Yudhi bersama dua bersaudara Rere (drums) dan Mando (keyboards)  mendirikan Grass Rock pada 4 Mei 1984.Akhirnya mereka pun latihan di rumah Yudhi .Orangtua Yudhi tampaknya merestui putranya ngeband terutama dengan menyediakan seperangkat alat band.

Saat itu,keinginan membentuk band, karena mereka tertantang  untuk ikut dalam ajang Festival Rock Se Indonesia yang diadakan promotor rock asal Surabaya Log Zhelebour yang didukung rokok Djarum Super.

Namun pada saat ikut Djarum Super Festival Rock 1984 yang berlangsung di Stadion Tambaksari Surabaya, Grass Rock yang terdiri atas  Hari (vokal), Mando (kibor), Harto (gitar), Yudhie (bas), dan Rere (drum), gagal meraih gelar satu pun.Saat itu Grass Rock kerap membawakan lagu-lagu Yes seperti Roundabout,Long Distand Round Around (dari album Yes Fragile tahun 1971) Machine Messiah (dari album Yes Drama tahun 1980)  hingga Changes dari album 90125 (1983)  yang memang lagi ngetop-ngetopnya saat itu.

Tahun 1985 Grass Rock kembali mengikuti Djarum Super Rock Festival, dan berhasilmeraih  juara III dan Rere terpilih sebagai ar The Best Drumer.  Grass Rock pun kemudian diberi peluang  untuk ikuti tur konser  yang digelar promotor rock  Log Zhelebour.

Sejak awal terbentuk Grass Rock tercatat paling sering gonta-ganti  vokalis, mulai dari Hari, Karnoto, Arief, Zulkarnain, dan Dayan, adik kandung  Rere yang berduet dengan Zulkarnain.

Ketika Zulkarnain masuk pada tahun 1986 Grass Rock kembali mengikuti Djarum Super Rock Festival, dan berhasil jadi Juara I. bahkan untuk kedua kalinya Rere berhasil dinobatkan sebagai  The Best Drumer untuk keduakalinya. Grass Rock kemudian mendapatkan peluang  dari Log Zhelebour untuk ikut tur 10 kota sebagai band pendamping dan pembuka konser  God Bless.

Tahun 1987 Grass Rock ikut  festival lagi dan berhasil lagi meraih  Juara I disamping Rere sebagai  The Best Drumer serta  Mando yang terpilih sebagai The Best Keyboardist .

Sejak saat itu Grass Rock dengan cepat dikenal sebagai kelompok rock asal Surabaya  yang pantas diperhitungkan.Dan Grass Rock pun mulai menulis lagu-lagu sendiri.

Saya sendiri untuk pertamakali menyaksikan konser Grass Rock pada tanggal 30 Juli 1988 di Gedung Olahraga Mattoanging Makasaar.Saya akui Grass Rock memiliki musikalitas yang diatas rata-rata.Tak hanya sekedar kelompok rock yang hanya mengumbar ingar-bingar tapi mampu memainkan dinamika dan harmonisasi yang terjaga.Tak heran jika pada era 90an hingga 2000an, banyak pemusik yang mengajak para personil Grass Rock sebagai session player.Coba periksa kaset-kaset era 90an, maka pasti kalian akan menemukan nama-nama Rere,Edi Kemput,Yudhi maupun Mando sebagai line up pendukung rekaman.

Grass Rock telah merilis empat album Anak Rembulan (1990), Bulan Sabit (1992), Grass Rock (1994), Menembus Zaman (1999), serta sebuah single dari album Rock Kemanusiaan bertajuk  “Prasangka“. Tahun 1999 Grass Rock kehilangan sang vokalis Dayan yang meninggal dunia. Grass Rock yang akhirnya menyisakan Yudhi (bass),Rere (drum),Edi Kemput (gitar) dan Mando (keyboard) mulai tak terdengar kiprahnya.Keempat pemusik Grass Rock tetap bermusik sebagai session player diberbagai pertnjukan dan rekaman album artis-artis lain mulai dari Nicky Astria,Nike Ardilla,Iwan Fals hingga Chrisye. Yudhi sendiri kerap terlibat sebagai pemusik pendukung album Nicky Astria dan Iwan Fals.

Disela-sela hibernasi Grass Rock yang berkepanjangan,Yudhi malah membagi konsentrasi sebagai penulis dan fotografer Koran-Koranan Slank.Yudhi seperti menemukan jatidirinya yang baru dalam kegiatan jurnalistik.Di koran yang dikelola Slank itu Yudhi menggawangi rubrik Slank Diary.

Namun di tahun 2007  sebetulnya Yudhi sempat tergelitik dan terusik lagi untuk bermain musik,diantaranya adalah masuk ke studio rekaman lagi bersama gitaris Baron Aria,drummer Massto dan vokalis Eki Lamoh dengan menggunakan nama No Future,tapi proyek rekaman ini terbengkalai ketika Yudhi mulai jatuh sakit.

Tahun 2013 telah berlalu dari benak kita, tapi masih banyak peristiwa yang tak terlupakan termasuk kepergian dari sederet pemusik Indonesia.Kehadiran mereka sudah pasti merupakan bagian tak terlupakan bagi kita manakala kita menyimak karya-karya mereka.Berikut ini merupakan catatan saya, perihal sederet artis musik Indonesia yang meninggalkan kita.

Johnny Killian (Impersonator Elvis Presley)

Johnny Killian

Johnny Killian

Johnny Killian salah satu impersonator Elvis Presley di Indonesia meninggal dunia 19 Januari 2013.Sejak era 70an di Indonesia mulai muncul para impersonator Elvis diantaranya adalah W Errol,Mukti Wibowo,Johhny Killian,Gatot Soenyoto,Is Haryanto,John Phillips dan banyak lagi.Fenomena ini memang menjadi global,karena hampir semua Negara di seantero jagad memiliki para impersonator Elvis Presley.

A.Rafiq (Penyanyi Dangdut & Aktor Film)

A,Rafiq

A,Rafiq

A.Rafiq penyanyi dangdut dan aktor layar lebar yang kerap bergaya seperti Elvis Presley ini wafat pada tanggal 19 Januari 2013.A. Rafiq meninggal dunia di Rumah Sakit Medistra, Jakarta,karena mengidap penyakit jantung.Karir musik A.Rafiq bermula saat bergabung dengan OM Sinar Kemala pimpinan A.Kadir di awal era 60an.Pada paruh 70an sosok Rafiq kian mengangkasa lewat lagu Pengalaman Pertama dan Pandangan Pertama

Usman (gitaris dan vokalis Usman Bersaudara)

Almarhum Usman dua dari kiri

Almarhum Usman dua dari kiri

Usman adalah yang tertua dari kelompok bersaudara asal Surabaya Usman Bersaudara yang telah merintis karir bermusik sejak akhir era 60an dengan merilis album debut tahun 1968 di label J & B Record milik Soejoso Karsono.Tahun 1973 Usman membentuk Man’s Group bersama kedua adiknya Said dan Sofyan serta Anto dan merilis album di Mesra Record.Tahun 1974 Usman dan kedua adiknya itu diajak oleh Nomo Koeswoyo bergabung di No Koes.Tapi tahun 1976 Usman kembali membentuk Usman Bersaudara dan mengajak adiknya Mamo Agil dari band Pandawa Lima.Mereka lalu dikontrak Irama Tara dan menghasilkan hits seperti Sorry Boy dan Kiamat.Usman berpulang pada

9  Maret 2013.

Helmie Indrakesumah (Vokalis Chaseiro).

Helmie Indrakesumah, salah satu vokalis kelompok vokal Chaseiro meninggal dunia karena serangan jantung pada 10 Februari 2013.

Helmie Indrakesumah

Helmie Indrakesumah

Ricky Johannes (Vokalis Emerald Band)

Ricky Johannes yang kerap disapa Ricky Jo meninggal dunia pada 22 Maret 2013.Ricky mulai dikenal namanya saat menjadi juara Bintang Remaja Radio dan Televisi era 80an.Ricky pernah bergabung dalam sederet band seperti Splash Band,Emerald Band dan Rikardo Batista selain berkarir sebagai penyanyi solo.

Ricky Johannes

Ricky Johannes

Deasy Arisandi

Deasy Arisandi

 Deasy Arisandi (Penyanyi)

Sosok penyanyi Deasy Arisandi yang berdarah Bali mulai dikenal luas pada dasawarsa 70an lewat sederet album-album solo yang dirilis Remaco. Deasy Arisandi menghembuskan nafas terakhir pada 29 Juni 2013.

Pomo saat bersama The Pro's

Pomo saat bersama The Pro’s

Pomo (saxophonis The Pro’s) .

Pomo di era 70an dikenal sebagai peniup saxophone yang enerjik.Namanya mencuat saat mendukung band The Pro’s yang dibentuk Dimas Wahab.Di tahun 1978 Pomo sempat mendukung New Rollies lewat album Volume 3 dengan hits Bimbi.Pomo sendiri pernah merilis album solo di Remaco dengan hits Timang Timang Anakku Sayang.Pomo meninggal dunia pada 4 Juli 2013.

R.Tonny Soewandi (pianis,saxophonis).

R.Tonny Soewandi adalah pemusik serba bisa yang mampu memainkan banyak instrumen musik.Tonny Soewandi pun banyak membuat arransemen lagu dari berbagai genre mulai dari klasik,pop hingga jazz. R.Tonny Soewandi meninggal dunia pada  7 Juli 2013.

Emier Hassany saat ikut mendukung Farid Hardja & Non Block Band

Emier Hassany saat ikut mendukung Farid Hardja & Non Block Band

Emier Hassany (drummer Country Jack & Non Block Band)

Pemusik asal Sukabumi ini pernah tergabung dalam berbagai band seperti Bani Adam,Country Jack hingga Biru Langit sebagai drummer.Emier Hassany juga terampil dalam menulis lagu.Emier menghembuskan nafas terakhir pada 11 Juli 2013.

Kris Biantoro

Kris Biantoro

Kris Biantoro (pemusik,aktor dan MC).

Kris Biantoro adalah sosok multuitalenta yang menguasai permainan musik,menyanyi,menulis lagu,seni peran dan Master of Ceremony legendaris.Salah satu lagu karya Kris Biantoro yang populer adalah Dondong Opo Salak pada era 60an.Di paruh 70an Kris Biantoro mempopulerkan lagu karya drummer M.Sani bertajuk Mungkinkah.Kris Biantoro meninggal dunia 13 Agustus 2013.

Pungky Deaz (vokalis rock).

Pemilik suara yang melengking tegas itu telah pergi untuk selama-lamanya pada jam 17.55 senin 9 September 2013.Dia adalah Pungky Deaz penyanyi rock yang mulai dikenal luas sejak era 80an, setidaknya pada band Andromedha,Power Metal dan Kalingga. Pada paruh era 80an di Surabaya muncul band rock dengan nama Power yang kemudian berganti nama menjadi Power Metal pada tahun 1987.

Diana Nasution

Diana Nasution

Diana Nasution (penyanyi )

Di era 70an bersama kakaknya Rita Nasution, Diana Nasution meniti karir sebagai penyanyi duet dengan nama Nasution Sisters.Di akhir 70an Diana Nasution mulai merintis solo karir dengan merilis rekaman pada label Lolypop Record milik Rinto Harahap. Salah satu lagunya yang meledak dipasaran adalah Benci Tapi Rindu karya Rinto Harahap.Diana Nasution meninggal dunia karena mengidap kanker pada tanggal 4 Oktober 2013.

Gitaris Jazz Sadikin Zuchra

Gitaris Jazz Sadikin Zuchra

Sadikin Zuchra (pemusik,gitaris,arranger)

Pemusik serba bisa Sadikin Zuchra yang terampil bermain gitar jazz dan penggaransir musik ini memiliki banyak pengalaman dengan bergabung dalam sederet band seperti The Black Satin,The Jazzanova,The Fabolous hingga Indonesia Enam.Sadikin meninggal dunia pada tanggal 17 Oktober 2013.

Syech Abidin

Syech Abidin

Syech Abidin (drummer AKA dan SAS Group).

Syech Abidin adalah drummer dari band rock sensasional AKA dan juga SAS Group bersama Arthur Kaunang dan Sunatha Tanjung.Syech Abidin meninggal dunia pada tanggal 9 November 2013.

Banyak sekali komentar-komentar tentang tutupnya gerai musik Aquarius yang terletak di Jalan Mahakam Jakarta Selatan.tapi anehnya banyak komentar yang terlalu berlebihan hingga menyebut bahwa denagn tutupnya gerai musik Aquarius adalah kiamat bagi musik Indonesia.Ini jelas pernyataan paling dungu dan tidak memiliki analisa yang tepat.Asal ngejeplak. Mari kita coba melihat akar masalahnya,apa yang membuat Aquarius mengambil keputusan untuk menutup gerai musik yang telah terbentuk sejak tahun 1987 itu.Secara kasat mata yang bisa kita lihat adalah bahwa sejak dua tahun terakhir ini jumlah pembeli rekaman musik dengan format CD kian hari kian menurun secara drastis.Penyebabnya adalah pertama kegiatan pembajakan yang tak ada habis-habisnya dan tak bisa diberantas secara tuntas oleh pemerintah, kedua adalah mencuatnya distribusi secara digital yang sesuai dengan kekinian zaman.Nah ,menurut saya,dua hal inilah yang kian hari mencekin bisnis retail musik rekaman seperti yang dilakukan Aquarius selama 26 tahun.Dan ingat kurun waktu lebih dari dua dasawarsa ini bukanlah waktu yang singkat.Ini juga berarti bahwa bisnis musik memang pernah berjaya,pernah menguntungkan dan tak pernah mati.dari indikasi ini saja sudah mematahkan asumsi bahwa akan terjadi kiamat musik Indonesia.

Gerai musik Aquarius Mahakam ini berdiri sejak tahun 1987 (Foto Denny Sakrie)

Gerai musik Aquarius Mahakam ini berdiri sejak tahun 1987 (Foto Denny Sakrie)

Permasalahan dalam Aquarius secara internal sesungguhnya adalah masalah global yang telah terjadi dimana-mana.setidaknya 3 hingga 4 tahun belakangan ini.Bukanlah gerai musik rakasasa seperti Tower Record,Virgin Music Store hingga HMV secara perlahan telah tutup buku.Menurunnya pembeli rekaman musik ini penyebabnya adalah menggelegaknya paradigma atau platform musik digital.Banyak pihak yang tak menyikapi hal ini kecuali menganggap bahwa kemajuan teknologi IT ini hanya bentuk lain dari kegiatan pembajakan atau piracy di zaman modern. Jika kita jeli cikal bakal mencuatnya distribusi musik secara digital ini telah terlihat ketika Napster mempopulerkan file sharing musik yang membuat sebagian penikmat musik bersorak sorai tapi disisi lain menghukam pelaku bisnis musik serta para kreator musik dalam hal ini pemusik.Npaster yang digagas oleh Shawn Fanning,John Fanning dan Sean Parker ini sebetulnya adalah cikal bakal paradigma musik masa depan yang pasti akan kita hadapi.Pola yang dicetak Napster inilah yang kelak akan kita kenal sebagai online music store seperti i-Tunes dan semacamnya.Selama kurun waktu Juni 1999 hingga Juli 2001,Napster telah melakukan pelayanan yang menguntungkan para penikmat musik namun masih belum memiliki ikatan yang jelas dalam perlindungan HAKI.

Di Indonesia sendiri penikmat dan penggemar MP3 kian menjamur.Para pembajak berpesta pora dengan keuntungan yang berlapis-lapis.dampaknya jelas berbentur langsung dengan industri musik.Kesalahan utama industri musik adalah mengamggap pola distribusi secara digital ini adalah mengganggu atau bahkan memakan pola penjualan secara fisik.Idealnya adalah bahwa platform baru itu justru harus digamit bukan dijauhi. Meskipun demikian industri musik di Indonesia sempat mencicipi kejayaan Ring Back Tone (RBT) sejak tahun 2005 yang semula hanya sebuah gimmick marketing tapi ternyata memiliki potensi yang cenderung menguat seiring menjamurnya penggunaan telepon seluler dan gadget seperti i-Pod dan semacamnya dikalangan masyarakat.

Selama 26 tahun Aquarius menjalani bisnis gerai musik di Jakarta (Foto Denny Sakrie)

Selama 26 tahun Aquarius menjalani bisnis gerai musik di Jakarta (Foto Denny Sakrie)

Dalam buku bisnis musik bertajuk “Appetite For Self Destruction” yang ditulis oleh kolumnis musik Steve Knopper jelas-jelas dipaparkan perihal industri rekaman atau label musik yang menyatakan perang terhadap distribusi musik digital namun pada kenyataannya justeru musik digital inilah yang muncul sebagai pemenangnya.Dalam buku tersebut,Knopper yang dikenal sebagai kontributor majalah Rolling Stone membeberkan secara lugas kesalahan-kesalahan yang dilakukan industri musik terutama saat terjadinya pergeseran paradigma musik, dimulai dari menghilangnya fisik piringan hitam yang kemudian berganti dengan format kaset dan berganti lagi dengan munculnya teknologi cakram padat atau CD di tahun 1983 hingga menyeruaknya teknologi digital pada era 90an.

Steve Knopper tetap menyalahkan perbuatan para rippers atau burners yang mengambil seenaknya karya-karya musik orang secara membabi buta tanpa menghiraukan sisi HAKI.Sebaliknya Knopper secara kritis menyayangkan pihak label musik yang tak mau melakukan penyesuaian dengan perkembangan teknologi.

Nah, kembali ke soal tutupnya Aquarius Mahakam pada tanggal 31 Desember 2013 disaat kita merayakan Malam tahun Baru ini juga banyak melakukan kesalahan-kesalahan seperti apa yang dipaparkan Steve Knopper dalam bukunya yang best seller itu.Aquarius kurang jeli menyikapi tren yang berlangsung dalam tren bisnis gerai musik.Setidaknya mungkin Aquarius bisa melihat bagaimana maraknya gerai musik Amoeba Music sebuah jaringan gerai musik independen di Amerika Serikat yang tersebar di Berkeley,San Fransisco dan Hollywood Los Angeles California, ditengah tengah ambruknya jaringan Tower Record dan semacamnya .Amoeba Music berupaya memikat konsumen musik dengan menyediakan rekaman rekaman musik baik yang baru maupun lama atau kerap disebut back catalog dalam berbagai format mulai darfi vinyl atau piringan hitam,kaset hingga compact disc.Saat gerai musik Amoeba dibuka, mereka telah menyiapkan sekitar 250.000 judul album dari berbagai genre dan subgenre musik.Amoeba juga menyediakan venue untuk game musik seperti Guitar Hero Tour.Bahkan paul McCartney malah sempat tampil secara live di Amoeba pada 27 Juni 2007 dan kemudian rekamannya dirilis dengan judul “Amoeba’s  Secret”  .

Rak rak CD yang kosong di Aquarius tanggal 30 Desember menjelang tutup secara resmi pada tanggal 31 Desember 2013 (Foto Denny Sakrie)

Rak rak CD yang kosong di Aquarius tanggal 30 Desember menjelang tutup secara resmi pada tanggal 31 Desember 2013 (Foto Denny Sakrie)

Terobosan semacam Amoeba Music ini tampaknya terlihat pada gerai musik lainnya di Jakarta yaitu Musik Plus dan Duta Suara, dimana sekitar dua tahun belakangan ini,kedua gerai musik yang memiliki banyak outlet ini juga mulai menyediakan vinyl.Tampaknya kedua gerai ini mencoba merespon tren Back To Vinyl yang merebak di Amerika Serikat, hal mana justeru tak dilakukan oleh Aquarius.

Tapi akhirnya Aquarius Mahakam memang harus kita relakan kepergiannya.Bukan dengan ekspresi sedih yang dibuat- buat seperti yang banyak terlihat di sosial media seperti Twitter dan Facebook.Bahkan banyak yang menyatakan sedih justru tak pernah berbelanja CD di Aquarius. Dan berpulangnya Aquarius,sekali lagi, bukanlah Kiamat bagi Musik Indonesia.

Dimas Ario,mantan bassist Ballad of Cliche suatu hari menghubungi saya dan meminta saya untuk menjadi moderator diskusi musik yang akan membedah album fenomenal Indonesia yang secara kebetulan dirilis pada tahun 1977 yaitu Badai pasti Berlalu yang merupakan album soundtrack yang diinspirasikan dari film karya Teguh Karya “Badai pasti Berlalu” dan album Guruh Gipsy, sebuah proyek musik rock progresif yang menyandingkan musik tradisional Bali dan Rock. Kedua album ini bahkan berada di peringkat teratas dalam 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa yang dilakukan majalah Rolling Stone Indonesia pada akhir tahun 2007.Dalam polling tersebut Badai pasti Berlalu berada di posisi nomor 1 dan album Guruh Gipsy berada dibawahnya di peringkat 2.Kebetulan saya juga ikut dalam Tim Penilai pemilihan 150 Album Terbaik Indonesia tersebut bahkan kemudian saya juga diminta untuk menuliskan perihal ikhwal musabab kedua album yang secara kebetulan adalah pemusik-pemusik yang di era akhir era 60an hingga era 70an sering nongkrong di rumah milik bapak Hasjim Saidi Nasution,ayah dari empat pemusik bersaudara Gauri Nasution,Keenan Nasution,Oding Nasution dan Debby Nasution.

Inilah pembicara dalam diskusi musik kaset Badai pasti Berlalu dan Guruh Gipsy 15 Desember 2013 (Foto Asranur)

Inilah pembicara dalam diskusi musik kaset Badai pasti Berlalu dan Guruh Gipsy 15 Desember 2013 (Foto Asranur)

Karena saya telah mengakrabi kedua kaset  tersebut, dimana pertamakali saya beli dulu saat masih duduk di kelas 2 SMP dengan menabung dari uang jajan yang dikasih ortu .Dan saya kerap kali mengulas dan menulis tentang kedua album tadi di berbagai media massa, maka ajakan Dimas Ario itu saya terima dengan senang hati.

Peserta diskusi datang dari keragaman usia dan era (Foto Asranur)

Peserta diskusi datang dari keragaman usia dan era (Foto Asranur)

Termasuk secara senang hati saya ikut pula membantu Dimas dan kawan-kawan untuk menghubungi narasumber yang rada-rada susah dan bandel saat dihubungi. Awalnya direncanakan yang akan tampil sebagai narasumber adalah Erros Djarot dan Yockie Surjoprajogo mewakili Badai Pasti Berlalu serta Guruh Sukarnoputra dan Keenan Nasution yang mewakili Guruh Gipsy.Keenan akhirnya batal karena jadwalnya bertabrakan dengan muhibahnya ke negeri Cina.Sedangkan Guruh Sukarnoputra membatalkan kehadiran karena memiliki sederet kegiatan yang bernuansa politik.Akhirnya 3 pembicara yang tampil yaitu Erros Djarot,Yockie Surjoprajogo dan Roni Harahap pianis yang menulis dua komposisi dalam Guruh Gipsy bersama Guruh yaitu Indonesia Maharddhika dan Chopin Larung.

Peserta diskusi mengikuti diskusi dengan tekun dan takzim (Foto Asranur)

Peserta diskusi mengikuti diskusi dengan tekun dan takzim (Foto Asranur)

Tujuan diskusi ini sebetulnya ingin menguak tentang proses kreativitas saat penggarapan album disamping membahasa paradigma yang tengah berlangsung di era paruh 70an serta begitu banyaknya misteri-misteri yang belum terkuak dari pembuatan album ini.Contoh terbesar adalah begitu banyaknya kasus-kasus yang penuh konflik diantara para pendukung album Badai Pasti Berlalu atau tentang kenapa album Guruh Gipsy di era 2000an bisa jadi perbincangan dunia terutama lewat dunia maya.Apalagi di tahun 2006 album Guruh Gipsy malah dibajak oleh sebuah label di Jerman bernama Shadoks Record.

Tak bisa dimungkiri banyak yang merasa penasaran dengan kisah-kisah dari kedua album ini. Makanya tak heran ketika diskusi dilangsungkan pada hari minggu 15 Desember 2013 mulai jam 16.00 di One Fifteenth Cofffe, peminat diskusi terlihat memadati ruangan diskusi yang berlangsung di lantai 2.Menariknya peminat diskusi yang datang usianya beragam mulai dari yang muda hingga yang tua.Bahkan terlihat seorang ayah dan bersama anaknya.Ini merupakan pemandangan menarik,sebuah apresiasi yang bagus untuk karya musik seniman musik negeri ini.

BB5

Sebagai introduksi saya menguak diskusi sore itu dengan narasi tentang iklim industri musik Indonesia di era 70an yang nyaris seragam,hampir tak jauh beda dengan sekarang bahkan dari pengalaman saya dulu, anak muda Indonesia jarang yang menyukai musik Indonesia .Menurut Erros Djarot,  di era itu banyak yang menyepelekan musik Indonesia dengan sebutan Najis.Erros yang membentuk Barong’s Band saat kuliah di Koeln Jerman pada era 70an terusik rasa nasionalisme untuk membuat musik berbahasa Indonesia.”Saya saat pulang ke Jakarta tahun 1976 sempat nonton konser God Bless yang hanya menyanyikan lagu-lagu bule” cerita Erros Djarot.Meskipun mungkin jelek,Erros bertekad untuk menulis musik Indonesia.Lalu bersama Barong’s Band,Erros menulis sejumlah lagu yang kemudian dirilis dalam dua kaset di tahun 1976 “Barong’s Band” dan “Kawin Lari”.”Saat proses rekaman saya minta pada teman teman di Barong’s Band agar tidak mendengar lagu-lagu Barat.Sebaliknya saya memborong sekitar 60 kaset Indonesia yang lagi hits saat itu.Kami lalu mendengar musiknya ,juga liriknya sebagai perbandingan”.Secara cair Erros bertutur tentang proses kreativitas dalam bermusik mulai dari bersama Barong’s Band hingga Badai pasti Berlalu.”Saya bahkan ikut juga terlibat dalam penggarapan Guruh Gipsy” ungkap Erros yang pernah tinggal di salah satu kamar di rumah Guruh Sukarnoputra di Jalan Sriwijaya Raya 26 Jakarta Selatan.

BB6

Proses bermusik itu Erros berlanjut ke dunia film layar lebar.Eros Djarot pun mulai disibukkan sebagai peñata musik beberapa film garapan sutradara almarhum Teguh Karya seperti “Perkawinan Dalam Semusim” dan “Kawin Lari”.

Keterlibatan Erros dalam illustrasi musik film justeru berawal dari kemarahan sutradara Teguh Karya.Erros yang dijuluki big mouth oleh sohib terdekatnya memang selalu melontarkan kritik yang tajam dan pedas.Entah untuk musik hingga film.Suatu hari Teguh Karya yang selalu menjadi sasaran kritik Erros malah menyergah Erros :”Kalau lu ngerti,coba deh lu aja yang bikin illustrasi musik film gua nanti.Gua pengen tau tuh hasilnya kayak apa”.

Menurut Erros beberapa lagu-lagu karyanya banyak yang tercipta saat berada di Jalan Pegangsaan Barat 12 maupun di Jalan Sriwijaya 26. Lagu-lagu itu kemudian men jadi bagian dari album Barong’s Band serta album soundtrack “Badai Pasti Berlalu” .

BB7

Beberapa lagu dengan tema romansa pun tercipta yaitu “Angin Malam”,”Khayalku”dan “Cintaku”.”Ketiga lagu ini memang tercipta saat saya intens bermain di Pegangsaan.sedangkan lagu “Pelangi” dan “Semusim” justeru tercipta ketika saya main di rumah Guruh di Jalan Sriwijaya” ungkap Eros Djarot perihal gagasan awal munculnya album Badai Pasti Berlalu yang menjadi soundtrack film”Badai Pasti Berlalu” besutan Teguh Karya.

Erros bahkan menampilkan torehan lirik lagu yang romantis tanpa terjebak dengan pola-pola yang standar: patah hati berkepanjangan, meratap-ratap, dan cengeng.Pada akhirnya Badai Pasti Berlalu menjadi fenomenal.Menjadi album tonggak dalam sejarah musik pop Indonesia.”Saya bahkan tak menyangka Badai Pasti Berlalu bisa  menjadi album yang terus diperbincangkan orang” tukas Erros .

BBBBBBBB

Yockie yang diajak Erros Djarot mengerjakan Badai Pasti Berlalu lalu bertutur cukup panjang dengan berapi-api.”Saya diajak Erros dan Chrisye mengerjakan Badai Pasti Berlalu” kisah Yockie.

“Saat mengerjakan album itu tak ada pikiran macam-macam bahwa album ini akan meledak atau apalah. . Semua dikerjakan secara suka rela dan rasa kebersamaan , rasa persahabatan dan kekeluargaan. Seperti yang saya katakan disana , kondisi menjadi berubah 180 derajat ketika modernisasi hadir mengusung sistim management modern yg juga didukung oleh tehnologi yang semakin pesat. Lahirnya industri-industri modern yang mampu merancang metode baru eksploitasi bagi pendistribusian produk musik yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Jelas bahwa hak-hak tentang nilai2 ekonomis dari setiap orang lah yang kemudian menjadi problem mendesak untuk harus segera diatasi dan diselesaikan. Artinya itu adalah masalah aturan yaitu regulasi atau Hukum” papar Yockie berapi-api.

GUA

Yockie kemudian menambah lagi tuturnya tentang paradigma bermusik.Paradigma pemusik,kata Yockie, kerja pada saat itu hanyalah berbekal semangat , etos menghasilkan karya yg bisa terbaik tanpa pretensi apapun. Hal ini menjadi paradoks ketika hasil terbaik yang pernah kita kerjakan ternyata tidak mendapatkan perlindungan apa-apa agar kami bisa turut merasakan jerih payah dari keringat kami sendiri.

Roni Harahap pemain keyboard dan pianis Guruh Gipsy ini menuturkan tentang proses penggarapan lagu Indonesia Maharddhika dan Chopin Larung.”Ide dan melodi kedua lagu tadi dari saya,lalu ditambah lirik oleh Guruh”.

Di  tahun 1975  Guruh Soekarno Putera dan Roni Harahap hingga larut malam masih berkutat merampungkan sebuah lagu untuk album Guruh Gipsy dikediaman Guruh di Jalan Srwijaya 26 Kebayoran Jakarta Selatan.”Saya dan Guruh tidur sekamar bahkan seranjang saat itu.Tapi saya gak pernah disentuh dia” ucap Roni berseloroh.

Roni Harahap tengah bertutur tentang ikwal penulisan lagu Indonesia Maharddhika (Foto Asranur)

Roni Harahap tengah bertutur tentang ikwal penulisan lagu Indonesia Maharddhika (Foto Asranur)

”Saya sudah nggak sabar melihat Guruh yang menyenandungkan lagu ciptaannya tentang indahnya Indonesia.Mendayu dayu.Kurang semangat .Liriknya aku bermimpi……aku bermimpi…..“ ujar Roni Harahap pianis Gipsy yang tergila gila dengan Keith Emerson dan Chopin.

“Karena kesal,lalu saya mainkan intro lagu disko yang lagi ngetop saat itu “That’s TheWay I Like It dari KC & The Sunshine Band.Tapi aksentuasinya saya balik” ujar Roni Harahap .

“Wah,itu lagu ciptaanmu Ron ?” Tanya Guruh lirih.

“Iya……yang gini dong Gur biar lebih semangat” pancing Roni.

Alhasil Roni Harahap merampungkan seluruh melodi lagunya.Guruh kemudian beringsut menambahkan barisan lirik.Judulnya pun gagah : Indonesia Maharddhika.Sebuah lagu bercorak Bali rock pun menjelma.

Ketiga pembicara Erros,Yockie dan Roni menuturkan semuanya dengan detil.Banyak pencerahan-pencerahan yang muncul saat mereka bertiga tampil dalam diskusi yang berlangsung hangat dan meriah itu.Tanpa terasa diskusi berlangsung sekitar 3 jam lebih.Dan yang mencengangkan peserta diskusi tak satu pun yang meninggalkan tempat.Mereka,para peserta diskusi . rasanya memang haus dengan kisah-kisah dibalik pembuatan kedua album fenomenal itu.Setidaknya kisah-kisah yang dibeberkan dalam diskusi ini bisa menjadi semacam pembelajaran dalam upaya pembenahan kondisi bermusik di negeri ini termasuk pemahaman aspek hukum dalam karya-karya yang tercipta.

YER

Ketiga pembicara memang berupaya untuk berbicara apa adanya.Blak-blakan dan tak ada yang ditutupi.”Disini kita tidak lagi ingin tuding menuding,saling menyalahkan.Chrisye bisa salah,Yockie juga bisa salah,apa lagi saya.Ini kesalahan kolektif yang harus kita sikapi dengan arif.Dan bisa dipetik hikmahnya.Dan hari ini kita anggap case close” pungkas Erros Djarot.

Akhirnya saya pun menutup diskusi yang penuh dinamika itu.Banyak hal yang bisa dipetik dari kisah kisah mereka, saat menggarap sebuah karya seni yang bernama musik.

Selayang Pandang Folk Indonesia

Posted: Desember 28, 2013 in Kisah, Sejarah

Siapakah penyanyi folk Indonesia yang pertama  ? Saya berasumsi bahwa almarhum Gordon Tobinglah orangnya.Bersama vokal grup yang dibentuknya dengan nama Impola, Gordon Tobing menyanyikan hampir seluruh lagu-lagu rakyat Indonesia.Gordon Tobing dan Impola acapkali dikirim ke luar negeri untuk misi kebudayaan Indonesia untuk seni musik.Musik folk yang dimainkan Gordon Tobing tampaknya memang menjadi representasi negeri ini, Indonesia.

Lalu siapakah Gordon Tobing ?.

Piringan Hitam Gordon Tobing dan Impola Vokal Grup (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Gordon Tobing dan Impola Vokal Grup (Foto Denny Sakrie)

Gordon Tobing dilahirkan  di Medan, Sumatera Utara,pada tanggal  25 Agustus 1925

Gordon Tobing yang berbakat musik,belajar musik secara otodidak.Dia  tak pernah mempelajari musik secara formal,.Di  tahun 1950 Gordon merantau ke Jakarta. Gordon sempat membentuk Kelompok Vokal bernama  Sinondang bubar. Ketika Sinondang bubar,Gordon kemudian  membentuk Vokal Grup “Impola”.Impola adalah bahasa Tapanuli yang artinya  inti yang terbaik dari yang terbaik. Vokal Grup Impola inilah yang membuat Gordon dan istrinya Theresia Hutabarat menjadi sangat terkenal sejak tahun 1960 an. Bersama VG Impola, dia mengunjungi berbagai  negara di dunia.
Pada tahun 1965 Gordon Tobing dan Impola  dipilih oleh suatu Panitia Jerman untuk turut serta dalam Press Fest di Jerman. Impola juga dipilih oleh Tim Ahli Seni Australia  untuk mewakili Asia  pada Art Festival of Perth  yang berlangsung tahun 1969.

Folk Songs dengan berbasis lagu-lagu rakyat tradisional ini memang merebak pada era 50an hingga 60an yang kemudian dibawakan dengan format vokal grup atau kelompok vokal. Tapi disamping itu  musik Folk dengan nuansa kontemporer mulai pula berkembang sejak akhir dasawarsa 60an.Salah satu inspirasi timbulnya musik folk yang berkembang diantara anak muda adalah musik-musik Folk Amerika yang digagas oleh Bob Dylan,Joan Baez,Melanie,Peter Seeger,Phil Ochs  hingga kelompok Crosby,Stills,Nash & Young.

Lagu-lagu folk kontemporer yang mulai memikat pendengar muda di Indonesia antara lain adalah “Blowin’ In The Wind” (1963)  dari Bob Dylan,”Donna Donna” (1960) dari Joan Baez hingga “Our House”(1970) dari Crosby Stills,Nash and Young yang mulai di putar di radio-radio anak muda yang menjamur pada akhir era 60an hingga awal 70an. Penikmat musik folk saat itu dari kalangan pelajar hingga mahasiswa.Mereka mulai mengakrabi musik folk dengan memetik gitar akustik sambil bernyanyi.

Kelompok folk bernuansa Latin Bimbo jadi laporan utama majalah Tempo

Kelompok folk bernuansa Latin Bimbo jadi laporan utama majalah Tempo

Setidaknya ada 3 (tiga) kota besar yang memiliki kepioniran dalam memperkenalkan musik folk di Indonesia yaitu Jakarta,Bandung dan Surabaya.Di ketiga kota ini komunitas penggemar musik folk mulai terlihat.Di Jakarta mulai terdengar Kwartet Bintang yang dimotori Guntur Sukarnoputra putra sulung Presiden Sukarno, Noor Bersaudara hingga Prambors Vokal Group.Di Bandung sejak tahun 1967 telah berkiprah  Trio Bimbo hingga Remy Sylado.Sedangkan di Surabaya sejak tahun 1969 telah terdengar nama Lemon Trees yang didukung oleh Gombloh dan Leo Imam Soekarno yang di era paruh 1970an dikenal dengan nama Leo Kristi.Beberapa diantaranaya bahkan telah merilis album rekaman seperti Trio Bimbo yang merekam album lewat label Fontana di Singapore pada tahun 1971 .Di album ini Trio Bimbo muncul dengan hits sebuah folk ballad bertajuk Melati Dari Jayagiri karya Iwan Abdurachman.

Remy Sylado pertamakali merekam album di tahun 1975 dengan tajuk Folk Rock Vol.1

Remy Sylado pertamakali merekam album di tahun 1975 dengan tajuk Folk Rock Vol.1

Iwan Abdurachman (Foto Djajusman Joenoes)

Iwan Abdurachman (Foto Djajusman Joenoes)

Pada tanggal 8 Juli  1973 diadakan acara Parade Folk Songs yang berlangsung di Youth Center Bulungan Jakarta Selatan dengan menampilkan sederet kelompok folk seperti Remy Sylado Company yang didukung 26 siswa SPG St.Angela Bandung,Noor Bersaudara,Gipsy dan Prambors Vokal Group dibawah pimipinan Iwan Martipala.Lalu pada tanggal  25 Agustus 1973 digelar Pesta Folk Songs Se Jawa yang berlangsung di Gedung Merdeka Jalan Asia Afrika Bandung menampilkan Noor Bersaudara dan Prambors Vokal Grup dari Jakarta.Kemudian ada Manfied,Vraliyoka dan Lemon Never Forget dari Surabaya, Azwar AN & The Ones dari Yogyakarta,Daniel Alexey dari Semarang, serta Singing Student Bandung (Double SB),The Gangs,The Mad,Numphist Group,Hande Bolon,GPL Unpad dan Remy Sylado Company.

Kemudian di Surabaya pada Mei 1974 berlangsung Parade Folk Songs di Kampus Universitas Airlangga Surabaya yang diikuti sekitar 16 kelompok folk antara lain Vraliyoka,Franky & Gina,Leo & Christie,Remaja Yudha,Manneke Pelenkahu & Manfied,Bengkel DKS serta 19 Nervous Breakdown.

Beberapa kelompok folk terdepan seperti Trio Bimbo,Noor Bersaudara hingga Remy Sylado Company juga ikut tampil dalam perhelatan musik terbesar Summer ’28 yang berlangsung di Ragunan Pasar Minggu pada 16 Agustus 1973.

Remy Sylado dengan lirik lagu yang mbeling pertamakali memproklamirkan diri sebagai kelompok Folk Rock

Remy Sylado dengan lirik lagu yang mbeling pertamakali memproklamirkan diri sebagai kelompok Folk Rock

Di kampus ITB Bandung selama dua tahun berturut-turut 1973 dan 1974 berlangsung diskusi musik tentang musik folk yang menghadirkan pula para musikolog dan kritikus musik  seperti Frans Haryadi dan JA Dungga.Pada paruh 70an di Bandung kerap diadakan acara Musik Akustik yang menampilkan sederet para pemusik dan kelompok folk seperti Monticelli Group,Singing Student Bandung,GPL Unpad,Jan Hartland,One Dee Group,Harry Roesli,Mythos Group,Pahama, dan masih banyak lagi.Bahkan di tahun 1977 Monticelli yang dipimpin Dini Soewarman merilis kompilasi musik folk Musik Akustik Monticelli yang dirilis Hidayat Audio.

Kelompok folk Heygress yang merekam album di Tala & Co tahun 1979

Kelompok folk Heygress yang merekam album di Tala & Co tahun 1979

Bimbo sendiri kemudian menghasilkan sederet pengikut dalam gaya bermusik mulai dari Geronimo II,Nobo,Pahama Group, Mythos Group,Kharisma Alam,Amudas dan banyak lagi lainnya.

Di Surabaya beberapa kelompok folk juga mulai merekam lagu-lagunya seperti Gombloh dan Lemon Tree’s Anno ’69 dan Manfied.Bahkan Leo Imam Soekarno yang awalnya tampil lewat duo Leo and Christie, mulai membentuk kelompok folk dengan nama Konser Rakyat Leo Kristi dan merilis album debut bertajuk Nyanyian Fajar pada label Aktuil Musicollection yang dikelola majalah music Aktuil di Bandung.

Remy Sylado dengan Remy Sylado Company juga merekam album bertajuk Folk Rock Vol.1 pada label Gemini Record.

Karena demam folk songs yang merebak dimana mana, akhirnya membuat Eugene Timothy dari Remaco meminta agar Koes Plus merilis album Folk Songs pada tahun 1976.

Memasuki  akhir dasawarsa  70an dan 80an, musik folk songs kian berkembang dengan munculnya sosok-sosok baru seperti duo Franky & Jane,Mogi Darusman,Tara & Jayus,Tika & Sita,  Iwan Fals,Wanda Chaplin,Tom Slepe,Doel Sumbang,Ritta Rubby Hartland,Elly Sunarya hingga Ully Sigar Rusady , Ebiet G Ade serta Kelompok Kampungan dari Yogyakarta . Kebanyakan mereka tampil dengan pola singer/songwriter yang membawakan lagu karya sendiri sambil memetik gitar akustik. Tema lirik lagunya berkisar dari tema alam dan lingkungan serta kritik sosial yang terkadang dibumbui dengan aura humor yang menggelitik.

Kelompok Geronimo 2 dari Yogyakarta

Kelompok Geronimo 2 dari Yogyakarta

Franky & Jane ,Iwan Fals dan Ebiet G.Ade muncul di posisi terdepan.Ketiganya bahkan menjadi protipe inspirasi  dari sederet pemusik yang muncul setelah mereka .Gaya bermusik Iwan Fals diikuti oleh Doel Sumbang,Tom Slepe dan Wanda Chaplin. Franky & Jane diikuti pula oleh duo Frans & Yenny,Nana Bodi,Jelly & Diana dan banyak lagi. Bahkan gaya bernyanyi Ebiet G Ade diikuti sederet follow seperti Endar Pradesa,Tommy J Pisa,Jamal Mirdad,Ade Putra,Jamil Mirzad .Bahkan Ritta Rubby Hartland  kerap dijuluki Ebiet G Ade wanita.

Sawung Jabo yang pernah bergabung dengan Kelompok Kampungan mulai terdengar kiprahnya dengan membentuk Sirkus Barock hingga Genggong. Sawung Jabo juga ikut mendukung Kantata Takwa,Swami dan Dalbo.

Di era 90an Iwan Fals,Ebiet G Ade dan Franky Sahilatua tetap berkibar membawakan musik folk.Iwan Fals juga ikut bergabung dalam Kantata Takwa dan Swami .Di tahun 1993 muncul seorang singer/songwriter berbakat Oppie Andaresta lewat album “Albumnya Oppie” yang menghasilkan hits “Cuma Khayalan”,”Inilah Aku” atau “Cuma Karena Aku Perempuan”. Oppie berlenggang sendirian sebagai penyanyi folk wanita dengan lirik yang lugas dan apa adanya.Ini terlihat jelas lewat album keduanya “Bidadari Badung” (1995) dengan lagu seperti “Ingat Ingat Pesan Mama” dan “Bidadari Badung”.

Payung Teduh menampilkjan Folk dengan rasa Kroncong (Foto Denny Sakrie)

Payung Teduh menampilkjan Folk dengan rasa Kroncong (Foto Denny Sakrie)

Di era 2000an, justeru semakin banyak kelompok-kelompok musik folk yang bermunculan dalam khazanah musik Indonesia seperti Endah N Rhessa,Dialog Dinihari,Payung Teduh,Deugalih & Folks,Frau,Harlan Boer,Sir Dandy,Payung Teduh,Tigapagi,Adhitia Sofyan,Teman Sebangku,Nada Fiksi,Semakbelukar,Rusa Militan.