Selamat Ulang Tahun Fariz RM

Posted: Januari 2, 2015 in Kisah, profil

Sahabat saya Fariz Rustam Munaf berulang tahun 5 Januari.Saya selalu mengingat tanggal kelahiran pemusik multi talenta ini, karena tanggal kelahirannya berada disetiap awal tahun baru.Hingga saat sekarang Fariz yang biasa dipanggil dengan Bule masih tetap aktif mendenyutkan musik di berbagai panggung pertunjukan .Fariz seperti halnya di era 80an,ketika masa kejayaannya tengah pasang menggelegak,masih tetap berkiprah di dunia musik. Dalam beberapa event musik saya selalu ikut bersama dengan Fariz baik sebagai pemandu acara konser-konsernya hingga road manager dadakan saat Fariz melakukan konser di daerah di luar Jakarta.Fariz juga sering menghubungi saya jika tengah melakukan proses kreativitas bikin lagu atau pun bikin album.Kita berdua kerap melakukan brainstorming yang seru.

Saya memberikan testimoni untuk album Fenomena Fariz RM yang digarap oleh Erwin Gutawa (Foto Denny Sakrie)

Saya memberikan testimoni untuk album Fenomena Fariz RM yang digarap oleh Erwin Gutawa (Foto Denny Sakrie)

Ketika Fariz merilis album Fenomena di tahun 2012 yang berisikan CD dan DVD,saya pun diminta untuk memberikan testimony terhadap karya dan sosok Fariz RM .Pada saat saya masih bekerja sebagai penyiar di Radio M9&FM Classic Rock Station,saya kerap mengajak Fariz siaran bareng membahas band-band klasik rock seperti Yes,Genesis,Traffic dan banyak lagi.Begitupula ketika saya jadi penyiar di FeMale Radio saya kerap mengundang Fariz sebagai partner siaran membahas musik mulai dari Earth Wind & Fire hingga Gino Vannelli.Fariz memang suka ngobrol dan bertukar fikiran.

Fariz RM di tahun 1980 saat rilis album Sakura (Akurama Record)

Fariz RM di tahun 1980 saat rilis album Sakura (Akurama Record)

Saya mengenal sosok  Fariz RM sekitar tahun 1979.Saat itu Fariz bersama Badai Band bikin konser di Gedung Olahraga Mattoanging Ujung Pandang .Terus terang saya sangat terpesona dengan pola permainan drum Fariz yang melakukan duet drum dengan Keenan Nasution.

Fariz RM

Fariz RM

Dahsyat sekali permainan drum Fariz.Setahun kemudian,Fariz merilis album Sakura yang kian membuat saya terkagum-kagum.Bayangkan,Fariz nyaris melakukan apa saja di album fenomenal itu,mulai dari bikin lagu,arransemen,nyanyi,main drum,bass,gitar hingga keyboard.Sejak saat itu saya mencatatkan diri sebagai penggemar Fariz RM. Konsep musiknya . Ada secercah atmosfer baru dalam musik Fariz yang disumbangkan pada khazanah musik Indonesia saat itu.Konsep musiknya telah menghela kredo musikal futuristik.Jatidiri musiknya kian mengkristal saat merilis album debut “Sakura” di tahun 1980.Pertengahan dasawarsa 80an Fariz kembali menggurat fenomena dengan eksperimentasi musik yang menghasilkan  musik lewat bantuan MIDI ,sebuah system programming yang mempermudah memainkan perangkat musik secara simultan dalam sebuah kendali.

Tahun 1979 saat Fariz RM bergabung sebagai drummer Badai Band

Tahun 1979 saat Fariz RM bergabung sebagai drummer Badai Band

Sejak awal bergelut di dunia musik , Fariz memilih memainkan musik apa saja  tanpa sekat genre sedikitpun.Fariz bermain genre pop,R&B,soul funk,blues,rock bahkan  jazz sekalipun .Dalam komunitas jazz Fariz peranh bersekutu dengan Candra Darusman hingga Jack Lesmana. Diparuh era 80an bersama Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan,Fariz ikut tergabung dalam Trio GIF. Pilihan bermusik semacam ini  setidaknya menjadikan pergaulan musik Fariz menjadi lebih luas dan lebar. Fariz bisa bermain dan berkolaborasi dengan pemusik mana saja. Fariz tetap konsisten dengan paradigma musiknya.Dia tetap menyeruak dalam kekinian yang secara lentur diadaptasinya dalam gaya bermusiknya yang tetap kukuh dan ajeg.

Dengan pergaulan musik yang luas ,mulai dari Jakarta hingga Bandung.justru membentuk sosok Fariz RM menjadi lebih open minded terhadap genre/subgenre musik apapun.

Di Jakarta, Fariz yang dulu tinggal di kawasan Jalan Maluku, Menteng kerap nongkrong di Jalan Pegangsaan Barat No.12 A, Menteng, rumah kediaman Keenan Nasution, penabuh drum Gipsy dan juga God Bless.

Di rumah yang kini telah berubah menjadi apartemen mewah itu dulu adalah tempat nongkrong anak band serta para simpatisannya. Fariz yang saat itu duduk di bangku SMP seusai pulang sekolah pasti tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan mampir ke Jalan Pegangsaan.

”Saya masih ingat si Bule (panggilan akrab Fariz) datang ke rumah masih menggunakan seragam sekolah. Bercelana pendek terus gebuk-gebuk set drum dan ngeband bareng Oding dan Debby, adik-adik saya,” ungkap Keenan Nasution yang pada 1977 meminta lagu karya Fariz “Cakrawala Senja” untuk dimasukkan ke album solo perdananya, Di Batas Angan Angan (1978).

Bahkan Chrisye kemudian mengajak Fariz RM yang saat itu duduk di bangku SMA Negeri 3 Setiabudi, Jakarta untuk bermain drums di album fenomenal Badai Pasti Berlalu. Jika kita bertanya soal ikhwal terjunnya Fariz ke dunia musik secara profesional maka pastilah dia akan menyebut nama Keenan dan Chrisye, dua pemusik Gipsy yang kediamannya hanya dibatasi tembok di bilangan Pegangsaan itu sebagai biang keladinya.

Nah, itu adalah komunitas musik yang dimasuki Fariz di Jakarta. Komunitas musik lainnya yang disambangi Fariz adalah Paris Van Java alias Bandung.

Bersama Fariz RM dan Oneng tahun 1990 (Dokumentasi Denny Sakrie)

Bersama Fariz RM dan Oneng tahun 1990 (Dokumentasi Denny Sakrie)

Seusai menamatkan pendidikan SMA di Jakarta, Fariz mendaftarkan diri ke ITB Bandung jurusan Seni Rupa. Hijrahlah Fariz ke Bandung untuk menuntut ilmu. Di Bandung Fariz bermukim di rumah saudara sepupunya yang juga anak band, namanya Triawan Munaf.

Triawan adalah salah satu pemain keyboards yang diperhitungkan dalam skena rock di Bandung antara lain pernah mendukung band Tripod United bersama Deddy Stanzah, lalu membentuk Lizzard bersama Harry Soebardja, kemudian direkrut Benny Soebardja di Giant Step menggantikan posisi Deddy Dorres.

Triawan juga dikenal sebagai pemain keyboard dari Gang of Harry Roesli. Berkat Triawan lah akhirnya Fariz RM diperkenalkan dengan Harry Roesli, Benny Soebardja hingga Hari Soebardja. Di luar kegiatan kuliahnya di ITB Bandung, Fariz pun mulai menyusup di komunitas musik Bandung. Di antaranya adalah nongkrong di kediaman Harry Roesli yang berada di Jalan WR Supratman 57 Bandung. Fariz lebur di komunitas musik yang dikembangkan Harry Roesli.

Dia mulai terlibat diskusi musik hingga jam session dengan Harry Roesli. Hal yang tak pernah dilupakan Fariz manakala Harry Roesli mengajarkan teknik bermain bass funk yang digagas oleh Larry Graham dari Sly and The Family Stones. Harry Roesli adalah salah satu pencabik bass funk terbaik di Bandung. Saat itu Harry Roesli tengah siap-siap meninggalkan Bandung untuk mengambil beasiswa studi musik di Amsterdam, Belanda.

m1
Menurut Fariz RM, Harry Roesli menitipkan Kharisma, grup vokal yang dibina dan dikelola Harry Roesli. Tentu saja Fariz bersuka cita mendapat mandat seperti ini dari Harry Roesli. Apalagi bagi Fariz dunia vocal groupbukan hal baru baginya. Saat masih duduk di bangku SMA 3 Setiabudi, Jakarta, Fariz RM tergabung dalam Grup Vokal SMA 3 Jakarta bersama rekan rekannya seperti Adjie Soetama, Addie MS, Raidy Noor, dan Iman Sastrosatomo. Prestasi Grup Vokal SMA 3 Jakarta ini memang patut diacung jempol lantaran pernah menggelar pertunjukan Opera dan berhasil menempatkan 3 lagu karya mereka sebagai finalis dalam 10 Besar ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia pada 1977.

Selain terlibat dalam kegiatan Kharisma Vocal Group, Fariz RM pun mulai sering diminta membantu band-band Bandung yang akan konser, misalnya menggantikan posisi drummer The Rollies, Jimmie Manopo yang berhalangan main, termasuk menggantikan saudara sepupunya Triawan Munaf yang harus meninggalkan formasi Giant Step untuk melanjutkan studi ke London, Inggris. Fariz akhirnya menjadi bagian skena musik Bandung saat itu.Uniknya kegiatan musik yang digeluti Fariz memiliki genre/sub-genre yang tak sama. Setidaknya Fariz berhasil memperlihatkan kemampuan bermain rock, blues, funk, soul hingga pop secara merata.

Benny Soebardja, dedengkot Giant Step menaruh kepercayaan soal musik pada Fariz RM untuk penggarapan dua album solonya yaitu, Setitik Harapan (1979) dan Lestari (1980). Di kedua album solo Benny Soebardja itu, Fariz bermain keyboards dan drums serta menulis lagu berikut aransemennya. Saat itu Fariz cukup dekat dengan Hari Soebardja, adik Benny yang juga ikut mendukung album solo kakaknya sebagai gitaris.

Pada 1979 Fariz RM diminta menjadi music director album solo Harie Dea, penyanyi dan penulis lagu dari Vocal Group Balagadona Bandung. Ini adalah untuk pertama kali Fariz berperan sebagai music director dalam penggarapan sebuah album rekaman. Musik album Harie Dea digarap oleh Fariz yang memainkan semua perangkat keyboards dan drums serta Hari Soebardja yang memainkan gitar, bass dan drum. Album Harie Dea ini diberi judul Santun Petaka.

Selain Hari Soebardja, Fariz juga bersahabat dengan Oetje F. Tekol (bass) dan Jimmie Manopo (drums) dari The Rollies. Untuk penggarapan album solo perdana Fariz bertajuk Selangkah Ke Seberang (PramAqua 1979), Fariz juga mengajak Oetje F. Tekol sebagai pencabik bass. Begitu pula ketika Fariz diminta menggarap album jazz milik penyanyi jazz Jacky, Gairah Baru, dia pun mengajak dua pemusik Bandung, yaitu Oetje F Tekol dan Hari Soebardja sebagai session musician-nya.

Perjalanan karir musik Fariz RM yang dimulai sejak tahun 1977 hingga sekarang ini bagai bianglala,sarat warna.Saya yakin Fariz tak akan meninggalkan atau menjauhi dunia musik.Karena kemampuan bermusik itu anugerah.Rasanya kita setuju jika ada yang menyebutkan bahwa profesi pemusik tak pernah mengenal kata pensiun.Selamat Ulang tahun Bule eh…..Fariz…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s