Arsip untuk Februari, 2011

Piringan Hitam Orkres Keroncong Pimpinan Bram “Atjeh” Titaley

Keroncong Protol – Bondan & Fade2Black

Dian HP & Keroncong Tenggara

Piringan Hitam Waldjinah Produksi Lokananta Solo

Perangkat musik Keroncong

oleh  Denny Sakrie,(bukan) Buaya Keroncong

(Tulisan ini dimuat di majalah budaya GONG – Yogyakarta 2008)

 

Jikalau kau nanti lebih tinggi dari raja

Nikmati hidup dengan blangkon di kepala


Memang tak lebih hebat dari Bengawan Solo

Apalagi jika kau dengar alunan Gesang

Tapi please donk ah, yang tenang jangan parno

Demikian kata-kata yang dimuntahkan lagu “Keroncong Protol” dari Bondan Prakoso dan Fade2Black yang memadukan dua kultur musik berbeda,antara keroncong dan hip-hop.Banyak yang tersentak menyimak eksperimen anak-anak muda ini.Dari kalangan purist apa yang dilakukan Bondan Prakoso dan kawan kawan ini seperti menghina pakem keroncong yang sakral.Tapi dari komunitas musik pop,hal ini merupakan terobosan yang cerdas.Yakni mencoba mengangkat pamor musik keroncong kembali ke permukaan.Saya pun mengangap upaya Bondan Prakoso yang memempelaikan keroncong dengan hip hop dan rock sebagai upaya genial.

Jika kita melihat kejadian semacam ini,maka hal ini seperti sebuah repetisi terhadap kejadian yang juga pernah menimpa genre musik lain.Di akhir era 60-an,Miles Davis dikecam habis-habisan manakala dia berupaya menghibridasi musik jazz dengan gelegak musik rock.Miles Davis punya alasan tersendiri melakukan perkawinan antar genre musik tersebut.”Jazz sudah tidak menarik minat anak muda.Kenapa tidak dikawinkan saja dengan rock,yang menmbuat kaum muda seperti kena sihir” ucap Davis.baginya jazz adalah sebuah musik yang terus melakukan progresi dari zaman ke zaman.No look back,itu filosofi bermusik Miles Davis.

Apakah musik keroncong sudah tak sesuai dengan lajunya perkembangan zaman ? Bisa iya,bisa juga tidak.Karena sampai detik ini  toh  keroncong belumm lenyap ditelan bumi.Keroncong masih tetap ada dan selalu ada.Walau patut diakui,keroncong memang sudah tak bias berada di permukaan lagi.Upaya Bondan Prakoso menghadirkan keroncong dalam dimensi industrial,sebetulnya juga merupakan upaya luhur untuk tetap mempetahankan keroncong.Bahkan Nya’ Ina  Raseuki yang kerap dipanggil Ubiet mengajak pemusik pop Dian HP dan pemusik jazz Riza Arshad memainkan keroncong dalam album “Keroncong Tenggara” yang juga menyusupkan beberapa ruh musik lain ke dxalam acuan musik keroncong seperti jazz dan rag am musik etnik.Upaya serupa pun dilakukan Marco Maryadi dengan “congrock” atau keroncong rock.Erwin Gutawa menyanding penyanyi langgam Waljinah dengan Chrisye dalam lagu “Semusim” pada album “Badai Pasti Berlalu” di tahun 1999.

Kelompok Sore dari komunitas indie-pop menyelipkan cengkok dan ritme keroncong pada lagu “Hidup Itu Indah” dalam  album “Mesin Waktu” (Aksara Record,2007)yang merupakan album tribute untuk kelompok Naif.Ada juga “congdut” yang membaurkan keroncong dan dangdut. Di tahun 1996  Rama Aiphama yang menafsirkan kembali lagu “Dinda Bestari” ,”Telomoyo”,”Dewi Murni”,”Gambang Semarang”,”Bandar Jakarta” dan “Jembatan Merah” dalam album bertajuk “Keroncong  Disco Reggae”.Hetty Koes Endang melalui albumnya yang dirilis Musica Studio’s justeru menyanyikan lagu-lagu pop seperti “Tenda Biru” hingga “Kau Tercipta Bukan Untukku” dalam kemasan musik keroncong.

Jika kita mundur kebelakang,sebetulnya keroncong memang  sudah menjadi bahagian dari industri musik pop.Pada akhir dasawarsa 60-an dari industri musik pop Indonesia yang mulai melangkah,mulailah masuk anasir keroncong yang dipadu dengan peerangai musik pop.Kelompok The Steps yang didukung May Sumarna,Didi Hadju,Imron dan Ismet Januar misalnya mulai memperkenalkan istilah “Keroncong Beat”.The Steps memainkan keroncong tanpa menggunakan instrument seperti ukulele,cello maupun seruling.The Steps menggunakan perangkat band yang elektrik,mulai dari bass,gitar,drum hingga keyboards.Suara seruling pun dimanipulir dari bunyi keyboard.Mereka seolah menggabungkan gaya instrumental The Ventures maupun The Shadows tapi dalam nuansa keroncong.Album-album keroncong ini dirilis oleh Phillips/Pop Sound di Singapore.Di perusahaan rekaman yang sama,juga beredar album keroncong milik The Rollies bertajuk “Halo Bandung” (1969),juga kelompok The Peels yang didukung Benny Soebardja,Butje Garna dan Deddy Garna.

Hal yang sama pun dilakukan kelompok Eka Sapta yang didukung Idris Sardi,Ireng Maulana,Itje Kaumonang,Benny Mustafa van Diest dan Bing Slamet.Dalam album “Kerontjong Eka Sapta” (Canary,1968),kelompok musik ini bahkan mengkroncongkan sederet lagu-lagu pop seperti “A Whiter Shade of Pale” (Procol Harum),”Don’t Forget To Remember” (Bee Gees) hingga “Love Is Blue” (Francis Lai).”Apa yang dilakukan Eka Sapta ini ibaratnya menampilkan keju tapi tidak diatas piring yang lengkap dengan sendok dan garpu,tapi dihidangkan diatas daun seperti menikmati gado-gado.Begitu juga sebaliknya,.Artinya Eka sapta memainkan keroncong,tidak menggunakan cello atau ukulele tapi perangkat band komplit” ungkap Idris Sardi,yang saya temui pada awal November 2008 lalu.

Masih ingatkah anda ketika di awal 70-an,hampir semua band-band pop dan rock  seperti Koes Plus,Favorite’s Group,C’Blues ,Ternchem merilis album-album berlabel keroncong.Koes Plus dalam album “Bunga Di Tepi Jalan” (Dimita 1972) membnawakan lagu “Keroncong Pertemuan”.Setahun setelahnya Koes Plus lalu merilis album “Pop Keroncong” dengan lagu-lagu seperti “Keroncong Pulau Kelapa” hingga “Keroncong Sapu Tangan”.Dan tampaknya hal semacam ini berulang terus pada setiap dasawarsa.

Semangat pop dengan rincian seperti aransemen yang simple,melodi yang catchy memang merupakan rumus dagang yang tak terbantahkan.Menyusupnya tren dalam kandungan tata musik semisal rock,rap,hip hop,reggae ,jazz dan entah apa lagi merupakan adonan yang bisa lebih mendekatkan diri pada kuping penikmat musik yang usianya dalam setiap generasi tetaplah dari golongan anak muda.

Rasanya tak perlu lagi kita berteriak perihal pencemaran budaya dan sejenisnya.Karena sebetulnya hibridasasi seperti yang menyentuh keberadaan musik keroncong mau tidak mau adalah salah satu upaya memperpanjang nafas musik keroncong dari kepunahan.Bukan hanya pada musik keroncong.Itu pun terjadi pada ragam musik klasik hingga jazz sekalipun.Yang pantas diingat,jangan samapi akar keroncong itu terbabat habis.Dan dari sebuah radio,sayup terdengar celoteh Bondan Ptrakoso Featuring Fade2black :


Boleh dinikmati, ekplorasi, anti monoton

Kuharap kau suka dan mulailah bertanya

Siapakah mereka, kenapa, eh, asyik juga

One more time

Ciki one, ciki two

Nikmati aja, protesnya disimpan dulu

Kolaborasi hebat 2007

Kroncong Rap Rock ku boleh diadu


Piringan Hitam singles Koes Bersaudara rilisan Irama

Yon dan Yok Koeswoyo 1973

Yok Koeswoyo

Oleh  Denny Sakrie

(Tulisan ini dimuat di majalah Rolling Stone edisi Maret 2011)Yon dan Yok

Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo kembali menyatukan harmoni vokal mereka yang khas sejak era Koes Bersaudara hingga Koes Plus.Peristiwa ini berlangsung di The Sunan Hotel Solo 18 Januari 2011.Penggemar Koes Plus menyambut dengan sukacita,karena sudah sekian lama Yok Koeswoyo tidak lagi ikut memperkuat formasi Koes Plus yang kini tetap dipertahankan keberadaannya oleh Yon Koeswoyo.Bahkan selama ini terbetik kabar bahwa terjadi perseteruan sengit antara Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo yang mengakibatkan formasi Koes Plus jadi pecah berkeping-keping.Ini diperkuat lagi dengan fakta mundurnya Murry sebagai drummer Koes Plus.Spekulasi ini memang terus berkembang dan menjadi ajang diskusi bagi para penggemar fanatik Koes Plus yang berada di seantero negeri.Apalagi pada saat konser bertajuk “Reuni Koes Plus” yang digelar di Balai Sarbini,Plaza Semanggi Jakarta 29 Oktober 2010,Yon Koeswoyo tidak ikut bergabung bersama Yok Koeswoyo dan Murry.”Yon memang gak bisa ikut.Dia ada keperluan lain” ungkap Yok Koeswoyo yang ditemui di Kompleks Koes Plus Jalan Haji Nawi 71 Jakarta Selatan .

Tapi versi Yon Koeswoyo lain lagi “Penyelenggara menyediakan fasilitas yang kurang memadai.Saya takut ini akan mengecewakan penggemar Koes Plus.Apalagi pake embel embel Reuni Akbar segala.” tutur Yon Koeswoyo yang ditemui di rumah kediamannya di kawasan Salak Pamulang Jakarta Selatan.

“Apakah ada perseteruan antara anda dan Yok ?” tanya saya.

“Perseteruan apa ?.Ndak benar itu.Saya dan Yok selama ini baik baik saja.Itu hanya rekaan orang saja.Yok memang sudah gak mau bermain dengan Koes Plus.Tapi dalam beberapa kesempatan Yok sering tampil jadi bintang tamu.Malah Yok sendiri meminta saya agar Koes Plus tetap berjalan” ujar Yon Koeswoyo yang kini genap berusia 70 tahun.

Hal yang sama juga diungkapkan Yok Koeswoyo :”Antara saya dan Yon tidak terjadi apa-apa kok.Kenapa saya tidak ikut Koes Plus….ya karena saya orangnya tidak mau memaksakan keadaan.Kalau momennya cocok dan mengena toh saya akan tampil bersama Yon dengan Koes Plusnya.Contohnya ya ketika saya dan Yon tampil dalam acara yang digelar di Solo itu ternasuk ketika tampil bersama Murry di Balai Sarbini.Kedua acara itu kan tujuannya mencari dana kemanusiaan untuk korban Gunung Merapi.Lha saya merasa terpanggil untuk sekedar membantu.Karena saya bisanya main musik,saya pun tampil bersama Yon atau pun Murry” ungkap Yok Koeswoyo yang kini berusia 67 tahun.

Penampilan Yon dan Yok Koeswoyo di Solo boleh jadi merupakan pertunjukan langka.Saat itu duo yang memulai nyanyi bareng sejak tahun 1958 itu menyanyikan sekitar 7 lagu  diantaranya seperti Bis Sekolah,Dewi Rindu,Senjha ,Telaga Sunyi maupun ,Pagi Yang Indah.”Hebatnya Yok masih hafal luar kepala lagu lagu itu.Bahkan suaranya masih stabil dan tidak fals sedikitpun “ tukas Yon Koeswoyo memuji adiknya Yok Koeswoyo.

Yon lalu bertutur tentang saat pertama mereka,Yon dan Yok,mulai melakukan duet.”Almarhum Tonny yang menyarankan agar saya dan Yok berduet dengan membentuk sebuah harmonisasi vokal.Inspirasinya adalah The Everly Brothers yang di era 60-an sangat ngetop” ungkap Yon Koeswoyo.Yon Koeswoyo bernyanyi dengan suara satu,sementara Yok Koeswoyo menimpali dengan suara dua.Saat latihan bernyanyi dahulu,Yok terkadang sampai kelelahan karena harus bernyanyi dengan suara dua dan kondisi vokal yang tetap melengking.

“Awalnya saya dan Yon memang hanya menyanyi sambil memetik rhythm guitar.Mas Tonny main gitar,mas John main bass betot dan mas Nomo menggebuk drum.Sebetulnya inspirasi duet Yon dan Yok itu adalah Kalin Twins,dua penyanyi bersaudara yang kembar.Lalu mas Tonny menyuruh kita mendengar the Everly Brothers” cerita Yok Koeswoyo.Sepintas banyak yang mengira Yon dan Yok kembar,padahal usia mereka terpaut 3 tahun.

Keduanya sama sama dilahirkan pada bulan September di Tuban Jawa Timur

Yon yang nama aslinya Koesjono dilahirkan tanggal 27 September 1940.Yok yang bernama asli Koesrojo dilahirkan tanggal 3 September 1944.

”Mungkin kita mirip Nakula Sadewa ha ha ha” tutur Yon Koeswoyo bercanda.Dalam kitab Mahabharata, tokoh Nakula dan Sadewa digambarkan sebagai dua saudara kembar yang memiliki keistimewaan dalam merawat kuda dan terampil bermain pedang serta sebagai sosok yang sangat menghibur hati.Yon dan Yok sendiri memiliki keistimewaan dalam bermusik.

Baik Yon maupun Yok sampai sekarang ini masih terus berkarya.”Pemusik kan nggak ada pensiunnya.Jadi saya tetap melakoni musik sampai kapan pun” tukas Yon Koeswoyo

Bersama Koes Plus yang didukung 3 pemusik muda Danang (gitar,keyboard) ,Sonny (bass) dan Seno (drums) , ternyata Yon masih tetap manggung dengan enerjik.

”Setidaknya dalam sebulan paling dikit kita manggung 3 kali” imbuh Yon Koeswoyo yang mengisi waktu senggangnya dengan melukis.Yon pun mengaku masih tetap menulis lagu.”Ada 5 lagu baru yang saya rampungkan,satu diantaranya berjudul “Curiga”,dan sempat saya bawakan saat tampil di sebuah TV swasta belum lama ini” kata Yon lagi.Menurut Yon lagu-lagu yang ditulisnya itu cenderung bertema asmara.”Saya kurang mampu bikin lagu bertema kritik sosial” jelas Yon.

Beberapa waktu lalu Yon pernah merilis album yang bernuansa sosial bertajuk “Song of Porong”.Lagu ini bertutur tentang malapetaka lumpur yang terjadi di Porong.Tapi entah kenapa ,album yang didukung  sebuah partai itu kurang memuaskan bagi Yon Koeswoyo.

Berbeda dengan Yok Koeswoyo yang cenderung menulis lagu dengan lirik bertema kritik sosial dan kemanusiaan. Yok sendiri ketika berbincang bincang dengan saya memang lebih banyak bertutur tentang situasi sosial,politik dan Yok kerap bertutur dengan tamsil kata.Tampaknya Yok Koeswoyo yang rambutnya telah memutih itu sangat meminati filsafat.

Tahun 2009 lalu Yok Koeswoyo merilis sebuah album bernuansa akustik bertajuk “Yokustik”.Album yang dikemas dalam format CD ini diedarkan secara terbatas terutama disekitar penggemar Koes Plus.”CD itu terjual sebanyak 180 keping.Dan hasilnya saya sumbangkan untuk membantu korban bencana Gunung Merapi” urai Yok Koeswoyo.

Beberapa lagu karya Yok Koeswoyo ini juga dinyanyikan oleh BPlus,band pelestari Koes Plus yang anggota juga bermain bersama Yon Koeswoyo.”Anak anak BPlus ini yang ngotot mau bawain karya saya.Lalu saya kasih ke mereka.Dan ternyata mereka memaham sejiwa dengan saya.” Timpal Yok lagi.Salah satu lagu karya Yok Koeswoyo yang bertema kritik sosial bertajuk “Mabok Duren”.Yok lalu mengambil gitar akustik seraya menyanyikannya :

Buaya kok mabok duren.

Memang Duren si raja buah

Muncul duren lain lagi

Di Mahkamah Konstitusi

Entah buah entah upeti

Bikin rakyat tertawa geli

Lagu-lagu baru Yok Koeswoyo lainnya yang bertema kritik sosial antara lain “Omdo”,”Teratai” dan “Jangan Sampai Terlena”.

Di era keemasan Koes Plus pada dasawarsa 70-an Yok Koeswoyo berhasil menulis sebuah lagu yang bisa dianggap masterpiece yaitu “Kolam Susu” yang terdapat pada album Koes Plus Volume 8 (Remaco,1973).Lagu ini bertutur tentang kaya rayanya negeri kita Indonesia.”Untuk melukiskan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi itu saya menulis tongkat kayu dan batu jadi tanaman  .Dan istilah kolam susu itu justeru datang dari orang Jerman yang sempat mancing ikan di laut bersama saya.Orang Jerman itu  bilang negara anda itu seperti kolam susu” tutur Yok perihal lagu yang masuk dalam daftar “150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa” oleh Rolling Stone Indonesia.

Koes Bersaudara mengawali karir musik di tahun 1958.Lima bersaudara puteradari  pak Koeswojo Djojowasito Teruno Semito,seorang amtenaar yang memiliki darah seni dan mengalir deras ke anak-anaknya mulai dari yang tertua Koesdjono (John) bermain bass,Koestono (Tonny) bermain gitar ,Koesnomo (Nomo) bermain drum ,serta Koesjono (Yon) dan Koesrojo (Yok) yang bermain rhythm gitar sambil menyanyi.Band yang awalnya bernama Koes Brothers atau Koes Bros itu memang banyak terpengaruh musik Barat dengan penonjolan harmoni vokal yang menawan seperti Kalin Twins hingga The Everly Brothers.Koes Bersaudara lalu menjejakkan kaki dalam industry musik Indonesia dengan merekam lagu-lagunya pada perusahaan rekaman milik pribumi Irama yang digagas almarhum Soejoso Karsono atau lebih dikenal sebagai Mas Jos.Band keluarga ini memiliki tagline Missa Solemnis yang kurang lebih artinya sesuatu dari hati akan mendapt tempat di hati juga.

Kelak tagline itu memang benar adanya,bahwa karya karya Koes Bersaudara hingga Koes Plus mendapat tempat dihati khalayak luas.Lagu-lagu itu bahkan hingga sekarang ini masih bergema dan dinyanyikan siapa saja.

Koes Bersaudara lalu menawarkan sebuah reel berisikan dua lagu karya Tonny Koeswoyo pada mas Jos pemilik perusahaan rekaman Irama yang berlokasi dikawasan Cikini Jakarta pada tahun 1961.Kedua lagu itu adalah “Wenny” dan “Terpesona”.Dua lagu itu ditulis Tonny dengan gaya duet ala Kalin Twins atau The Everly Brothers.Sayangnya  lagu-lagu  itu ternyata tak jadi direkam.Pihak Irama akhirnya merekam lagu-lagu seperti “Telaga Sunyi”,”Pagi Yang Indah”,”Bis Sekolah”,Senja” ,”Oh Kau Tahu” dan “Kuduslah Cintamu”.Tonny Koeswoyo memang didapuk sebagai leader of the band. Tonny menulis semua lagu sekaligus menjadi music directornya.Tonny pun terampil menulis lirik-lirik lagu yang romantis dan menyentuh.

Selain direkam dalam bentuk single,lagu-lagu Koes Bersaudara itu lalu dikemas dalam bentuk album longplay yang berisikan sekitar 12 lagu yang kovernya menampilkan sosok Yon dan Yok yang tengah jalan berdua maupun yang duduk saling punggung.Sepintas gaya kover semacam itu memang mengingatkan kita pada tipikal kover album milik The Everly Brothers.

Album Koes Bersaudara itu muncul pertamakali pada tahun 1963,disaat Tonny Koeswoyo berinisiatif mengganti nama Koes Brothers menjadi Koes Bersaudara.Lagu-lagu Koes Bersaudara mulai berkumandang di Radio Republik Indonesia.Di saat hampir semua band band Indonesia sering membawakan repertoar asing,Koes Bersaudara telah mempelopori menulis lagu lagu sendiri.Ini pantas dicatat,perihal kepioniran Koes Bersaudara dalam menumbuhkan kreativitas menulis karya cipta sendiri.

Namun mendung hitam menyelubungi karir music Koes Bersaudara tepat di paruh tahun 1965,Berawal ketika Koes Bersaudara diundang untuk tampil menggelar pertunjukan di kediaman Kolonel Koesno yang antara lain dihadiri  diplomat dari Kedutaan Amerika Serikat.Saat Koes Bersaudara menyanyikan lagu The Beatles,mendadak rumah colonel Koesno mendapat serangan berupa lemparan batu dari kelompok yang menamakan diri “Pemuda Rakyat”.”Kami akhirnya memang selamat dari serbuan massa,tapi jeruji penjara justeru mengungkung kebebasan kita” tutur Yon Koeswoyo.Koes Bersauadar lalu ditangkap dan kemudian ditahan di Kejaksaan Tinggi di Jala Gajah Mada selama 3 hari.”Lalu kami dipindahkan ke penjara Glodok” kata Yon Koeswoyo.Koes Bersaudara ditangkap karena dianggap telah melanggar Instruksi Presiden Soekarno yang memberlakukan Panpres Nomor 11 Tahun 1965 yang pada intinya melarang keberadaan lagu ngak,ngik ngok seperti yang ditularkan The Beatles.

Koes Bersaudara pun harus mendekam di Penjara Glodok selama tiga bulan.Tapi Tonny Koeswoyo justeru kian terpicu kreativitas bermusiknya.Suasana dalam penjaran menjadi sumber inspirasi Tonny untuk menulis sederet lagu-lagu baru.Mulai dari Poor Clowm,To The So Called Guilties,Di Dalam Bui,Balada Kamar 13 hingga Jadikan Aku Dombamu.

Sehari sebelum meletus Gerakan 30 September PKI,Koes Bersaudara akhirnya dibebaskan dari kungkungan penjara Glodok.Situasi negara ini memang tengah dalam keadaan yang sangat mencekam .Menurut Yok Koeswoyo bahwa sebetulnya apa yang terjadi  di balik penangkapan Koes Bersaudara ,  pemerintahan presiden  Soekarno justeru menugaskan mereka dalam sebuah operasi Kontra Intelejen terutama untuk mendukung gerakan Ganyang Malaysia.”Saya baru mengungkapkan itu di masa sekarang.Karena orang-orang yang terkait sudah berpulang semua” timpal YokKoeswoyo lagi.

Di tahun 1967,Koes Bersaudara berpindah label dari Irama ke Dimita Moulding Company milik pengusaha Dick Tamimi.Di label inilah kemudian muncul album yang fenomenal dari Koes Bersaudara bertajuk “To The So Called Guilties” dengan kover berlatar hitam dan wajah Koes Bersaudara berbentuk siluet.Dari kover ini seolah telah menyiratkan isi album ini yang bernuansa gelap dan geram.Di album ini Tonny Koeswoyo mulai tampil menyanyi secara solo.Suaranya parau seolah memendam amarah dari dada yang menyesakkan.Itu tersimak jelas pada lagu “Poor Clown” yang ditulis dalam bahasa Inggeris.Lirik lagu ini seperti menyindir Presiden Soekarno dan kabinet pemerintahannya saat itu.Simak liriknya :

Before your mind has glued you down
For she shall take and move your hand
To hide your word word word word
Until your kingdom comes to end.Oh my poor clown.

Di tahun 1969 mulai terjadi pergeseran dalam tubuh Koes Bersaudara dengan mundurnya Nomo Koeswoyo yang saat itu ternyata lebih memilih menekuni dunia bisnis dibanding bermain musik.Posisi drum lalu diisi oleh Kasmuri atau yang dikenal dengan Murry.Masuknya Murry yang berasal dari band Patas ini ternyata membuat keretakan dalam hubungan  antara Koeswoyo bersaudara ini.Yok yang memihak ke Nomo Koeswoyo memutuskan mundur dari formasi Koes Plus.Album perdana Koes Plus bertajuk “Dheg Dheg Plas” itu malah didukung Totok AR,bassist yang juga saudara kandung Titik AR dan Lies AR dari Dara Puspita.

Tapi akhirnya Yok bersedia kembali masuk ke formasi Koes Plus saat memasuki penggrapan album Koes Plus Volume 2.Koes Plus menyelesaikan kontrak dengan label milik Dick Tamimi ini hingga volume 7.Di era Dick Tamimi ini Koes Plus berhasil mencetak banyak hits seperti “Manis dan Sayang”,”Kembali Ke Jakarta”,Kisah Sedih Di Hari Minggu,”Bunga Di Tepi Jalan”,”Why Do You Love Me””Derita”,”Andai Kau Datang”,”Cintamu Telah Berlalu ”Mari Mari,”Pelangi”,Nusantara” dan masih banyak lagi.

Singkatnya Koes Plus menjadi band paling fenomal saat itu.Koes Plus menjadi inspirasi munculnya band-band lain seperti Panbers,Favorite’s Group,The Mercy’s hingga D’Lloyd.

Nama Koes Plus kian mencorong lagi setelah pindah dari Mesra ke Remaco milik Eugene Timothy.Album Volume 8 dan Volume 9 membuktikan bahwa Koes Plus adalah komoditas yang menuai keberuntungan.Koes Plus  selalu mencetak banyak hits di setiap albumnya.

Eugene Timothy malah mengusulkan agar Koes Plus lebih banyak berkutat di studio menggarap banyak album disbanding memenuhi tawaran manggung yang sebetulnya juga mengalami peningkatan.Tonny Koeswoyo pun lebih memilih berkarya di studio.Kritikan pun mengalir ke kubu Koes Plus,bahwa mereka telah menjadi sapi perah Remaco.Tapi Koes Plus tetap tak peduli.Mereka tetap membuat album sebanyak-banyaknya.Di tahun 1974 Koes Plus merilis 22 judul album dari berbagai genre musikMulai dari Pop melayu,Pop Jawa,Pop Keroncong,Pop Anak Anak,Pop Christmas,Pop Qasidah,Folk Songs,Hard Beat   dan entah apa lagi. .Era itu berlangsung antara tahun 1973 hingga 1976 Koes Plus memang menjadi anak emas Remaco.Ini lumrah karena Koes Plus sendiri adalah tembang emas bagi Remaco.

Tapi memasuki akhir dasawarsa 70-an,Koes Plus mengalami kulminasi teruatama karena telah terjadi pergesaran yang cukup tajam dalam selera musik pop Indonesia.Minat penikmat musik mulai  beralih ke penyanyi solo seperti Chrisye,Keenan Nasution,Fariz RM disatu sisi serta menyeruaknya penyanyi penyanyi solo wanita dibawah payung Rinto Harahap seperti Diana Nasution,Iis Soegianto,Christine Pandjaitan,Betharia Sonata,Nia Daniaty dan banyak lagi.

Walaupun demikian,Koes Plus atau Koes Bersaudara masih tetap bertahan.Mereka masih tetap merilis album lewat berbagai label rekaman.

Namun guncangan yang paling dahsyat yang menimpa Koes Plus adalah ketika Tonny Koeswoyo menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 27 Maret 1987 karena mengidap kanker usus yang akut.Koes Plus menjadi gamang seketika.Tonny Koeswoyo patut diakui adalah konseptor sekaligus inspirator utama baik Koes Bersaudara maupun Koes Plus.Sepeninggal Tonny Koeswoyo,Koes Plus dan Koes Bersaudara tetap eksis.”Kami memang tetap mempertahankan Koes Plus tanpa ada lagi almarhum Tonny Koeswoyo” ungkap Yon Koeswoyo.Tekad Yon itu memang terbukti hingga sekarang ini.Nama Koes Plus masih berkibar walau hampir tak pernah menghasilkan album lagi.Yok Koeswoyo sendiri walau sudah tidak aktif lagi bermain bersama Koes Plus tapi tetap merasa jiwanya masih melekat di Koes Plus.

Nakula Sadewa dari keluarga Koeswoyo  itu ternyata tak pernah berseteru seperti yang diduga khalayak.Mereka tetap menyatu dengan musik :

Oh penyanyi tua lagumu sederhana
Lagu dari hatinya terdengar dimana mana
Oh penyanyi tua lagumu sederhana
Mutunya pun tak ada dan anehnya banyak penggemarnya

BOX

KOES BERSAUDARA DAN KOES PLUS DI MATA DUNIA

Dipenghujung tahun 2010 lalu saya sempat terhenyak ketika situs musik berwibawa Allmusic.com membuat sebuah list bertajuk “AllMusic’s Favorite World Compilations of 2010” yang meleretkan album-album terbaik dari berbagai negara di dunia seperti Brazil,Thailand,Nigeria,Colombia,Kambodja,Ghana,Angola serta Indonesia .Dalam list yang memuat 20 album terbaik itu 3 diantaranya berasal dari Indonesia masing masing album “Dara Puspita 1966-1968” (Dara Puspita) serta album “To The So Called Guilties/Koes Bersaudara Singles (Koes Bersaudara) dan album “Dheg Dheg Plas/Koes Plus Vol 2 “ (Koes Plus).Ketiga album kompilasi asalIndonesia itu meruapakan hasil remastered ulang dari sebuah label kecil yang berkedudukan di Seattle,Amerika Serikat milik seorang penggila musik bernama  Alan Bishop (52 tahun) .

Tahun 2009 silam  saya bersama David Tarigan membawa Alan Bishop ke rumah Yon dan Yok Koeswoyo .Selain mengaku sebagai penggemar berat Koes Bersaudara dan Koes Plus,Alan Bishop berhasrat ingin merilis ulang album-album milik Koes Bersaudara dan Koes Plus.”Koes Bersaudara dan Koes Plus memiliki pesona tersendiri.Walaupun terpengaruh The Everly Brothers dan The Beatles,mereka memiliki sound tersendiri yang sangat khas” puji Alan Bishop.

Alan Bishop sendiri mempunyai band di Seattle yang khusus membawakan lagu-lagu Koes Plus.Bishop menamai bandnya itu West Koes.Bahkan Alan mengganti namanya menjadi Alan Koeswoyo.Di bandnya itu Alan berperan sebagai vokalis.”Saya mulai mengenal Koes Plus sekitar tahun 1987,saat itu saya ke Jakarta dan mampir di sekitar jalan Surabaya,mencari piringan hitam dari artis Indonesia.Lalu saya menemukan album Pop Melayu Koes Plus.Musiknya unik dan berkarakter.Sejak itu setiap ke Jakarta,saya selalu mencari album-album Koes Plus dan Koes Bersaudara” kisah Alan Bishop yang berkepala plontos itu.

Mei 2010 Alan Bishop merilis ulang album Koes Bersaudara dan Koes Plus dalam format CD yang dilengkapi liner notes yang menarik , lewat label yang dikelolanya Sublime Frequencies.  CD itu dijual seharaga $ 19.00.Di luar dugaan ternyata rilis ulang Koes Bersaudara dan Koes Plus ini mampu memikat perhatian.Setidaknya ada 4 media yang kemudian mereview kedua album itu secara antusias seperti Spin Magazine,Prefix Magazine,Pitchfork,Dusted Magazine.

Spin dalam reviewnya  menulis :”Koes Bersaudara were four Javanese siblings who first emerged with Everly Brothers-style material and got swept up in global Beatlemania as Indonesia’s Sukarno regime condemned Western pop culture as imperialist.”.

Dusted Magazine pun memuji Tonny Koeswoyo yang menulis dan menyanyikan lagu “Poor Clown” :” Tonny Koewswoyo’s lyrics are delivered with confrontational aplomb culminating in an unhinged primal scream that precedes a gigantic power chord finale.”.

Yon dan Yok pun tak kalah terkejut membaca antusiasme penikmat musik dari mancanegara atas karya-karya mereka dulu.”Wah….saya gak nyangka dapat sambutan seperti itu” ucap Yon Koeswoyo.

Alan Bishop sendiri akhir tahun 2010 lalu kembali menemui Yon Koeswoyo  dan Yok Koeswoyo.”Saya menemui mereka kembali untuk meminta izin mereproduksi ulang album Koes Bersaudara dan Koes Plus dalam format vinyl” jelas Alan Bishop.

Entah kenapa bangsa kita selalu tak mau ambil peduli perihal dokumentasi music Indonesia yang jelas-jelas meruapakan asset negara dan bangsa.Selalu yang menggagas hal semacam ini adalah bangsa asing

Diskografi

Koes Bersaudara

1.Koes Bersaudara – Angin Laut (Irama) 1962

2.Koes Bersaudara – Djadikan Aku Dombamu (Mesra) 1965

3. Koes Bersaudara – To The So Called Guilties (Mesra) 1965

4.Koes Bersaudara – Kembali (Remaco) 1977

5.Koes Bersaudara – Pop Keroncong (Remaco) 1977

6.Koes Bersaudara –Volume 2 (Remaco) 1978

7.Koes Bersaudara – Boleh Cinta Boleh Benci (Purnama) 1979

8.Koes Bersaudara – Glodok Plaza Biru (Virgo Ramayana) 1980

9.Koes Bersaudara –Koes Bersaudara ’86 (Flower Sound) 1986

10.Koes Bersaudara – Kau Datang Lagi (Flower Sound) 1987

11.Koes Bersaudara – Pop Jawa (Flower Sound) 1987

12.Koes Bersaudara – Pop Anak Anak (Flower Sound) 1987

13.Koes Bersaudara – Happy Birthday (Flower Sound) 1987

14.Koes Bersaudara – Lembah Derita (Flower Sound) 1987

15.Koes Bersaudara – Pop Batak (Flower Sound) 1987

16.Koes Bersaudara – Bossas (Flower Sound) 1987

17.Koes Bersaudara – MilikIllahi (Flower Sound) 1987

Koes Plus

1.Koes Plus Vol 1 Dheg-Dheg Plas (Melody. LP-23) 1969

2. Natal bersama Koes Plus (EP) (Mesra. EP-97) 1970
3. Koes Plus Volume 2 (Mesra. LP-44) 1970

4. Koes Plus Volume 3 (Mesra. LP-48) 1971

5. Koes Plus Volume 4 Bunga Di Tepi Jalan (Mesra. LP-50) 1972
6. Koes Plus Volume 5 (Mesra. LP-51) 1972

7. Koes Plus Volume 6 (Mesra. LP-60)         1973
8. Koes Plus Volume 7 (Mesra. LP-65)         1973
9. Koes Plus Volume 8 (Remaco. RLL-187) 1973
10. Koes Plus Volume 9 (Remaco. RLL-208) 1973
11. Christmas Song (Remaco. RLL-210)         1973

12. Koes Plus Volume 10 (Remaco. RLL-209) 1974
13. Koes Plus Volume 11 (Remaco. RLL-301) 1974
14. Koes Plus Volume 12 (Remaco. RLL-302) 1974
15. Koes Plus Qasidah Volume 1 (Remaco. RLL-341) 1974
16. Natal bersama Koes Plus (LP) (Remaco. RLL-342) 1974
17. Koes Plus The Best Of Koes   (Remaco  RLL-343)  1974
18. Koes Plus Pop Anak-Anak Volume 1 (Remaco. RLL-306) 1974
19. Koes Plus Another Song For You (Remaco. RLL-348) 1974
20. Koes Plus Pop Melayu Volume 1 (Remaco. RLL-314)  1974
21. Koes Plus Pop Melayu Volume 2 (Remaco. RLL-347) 1974
22. Koes Plus Pop Jawa Volume 1 (Remaco. RLL-248) 1974
23. Koes Plus Pop Jawa Volume 2 (Remaco. RLL-311) 1974
24. Koes Plus Pop Keroncong Volume 1 (Remaco. RLL-299) 1974
25. Koes Plus Pop Keroncong Volume 2 (Remaco. RLL-300) 1974
26. Koes Plus Volume 13 (Remaco. RLL-303) 1975
27 Koes Plus Volume 14 (Remaco. RLL-631) 1975
28 Koes Plus Selalu Dihatiku (Remaco. RLL-468)
29. Koes Plus Pop Anak-Anak Volume 2 (Remaco. RLL-448)
30. Koes Plus Pop Melayu Volume 3 (Remaco. RLL-390) 1975
31. Koes Plus Pop Jawa Volume 3  (Remaco RLL -392)     1975
32. Koes Plus In Concert (Remaco. RLL-635) 1976
33. Koes Plus History Of Koes Brothers (Remaco. RLL-715) 1976
34. Koes Plus In Hard Beat Volume 1 (Remaco. RLL-717) 1976
35. Koes Plus In Hard Beat Volume 2 (Remaco. RLL-768) 1976
36. Koes Plus In Folk Song Volume 1 (Remaco. RLL-) 1976
37. Koes Plus Pop Melayu Volume 4 (Remaco. RLL-730) 1976
38. Koes Plus Pop Keroncong Volume 3 (Remaco. RLL-388) 1976
39. Koes Plus Pop Jawa Melayu (Remaco. RLL-633) 1976

40. Koes Plus Pop Jawa Volume 4 (Remaco RLL 640) 1977

41. Koes Plus 78 Bersama Lagi (Purnama. PLL-2061) 1978
42. Koes Plus 78 Melati Biru (Purnama. PLL-2077) 1978
43. Koes Plus 78 Pop Melayu Cubit-Cubitan (Purnama. PLL-3055) 1978

44. Koes Plus 79 Melepas Kerinduan (Purnama. PLL-323) 1979
45. Koes Plus 79 Berjumpa Lagi (Purnama. PLL-3040) 1979
46. Koes Plus 79 Aku  dan Kekasihku (Purnama. PLL-4022) 1979
47 Koes Plus 79 Pop Melayu Angin Bertiup (Purnama. PLL-4009) 1979

48. Koes Plus 80 Jeritan Hati (PurnamaPLL-4044) 1980

49. Koes Plus 81 Sederhana Bersamamu (Purnama. PLL-5091) 1981
50. Koes Plus 81 Asmara (Virgo Ramayana )1981
51. Koes Plus 81 Pop Melayu Oke Boss (Virgo Ramayana) 1981

52.Koes Plus Pop Dangdut (Virgo Ramayana) 1982

52. Koes Plus 82 Koperasi Nusantara (Virgo Ramayana) 1982
53. Koes Plus 82 Pop Keroncong  (Virgo Ramayana)      1982

54. Koes Plus 83 Da Da Da  (Pratama Record) 1983

55. Koes Plus 84 Angin Senja & Geladak Hitam (Puspita Record) 1984
56. Koes Plus 84 Palapa (Akurama Record) 1984
57. Koes Plus Memble  (Puspita Record) 1984

58. Koes Plus 85 Ganja Kelabu (Flower Sound) 1985

59. Koes Plus 87 Cinta Di Balik Kota  (Flower Sound) 1987
60. Koes Plus 87 Lembah Derita (Flower Sound) 1987

61.Koes Plus 87  AIDS (Flower Sound) 1987

Denny Sakrie,tengah menggarap buku biografi Koes Plus “Dheg Dheg Plas”

Takwil lagu “Tom Sawyer” Rush

Posted: Februari 24, 2011 in Tinjau Lagu

Album "Moving Pictures" Rusah (1981)

TOM SAWYER

A modern day warrior
Mean mean stride,
Today’s Tom Sawyer
Mean mean pride.

Though his mind is not for rent
Don’t put him down as arrogant
His reserve, a quiet defense
Riding out the day’s events
The river

What you say about his company
Is what you say about society
Catch the mist, catch the myth
Catch the mystery, catch the drift

The world is, the world is
Love and life are deep
Maybe as his skies are wide

Today’s Tom Sawyer
He gets high on you
And the space he invades
He gets by on you

No his mind is not for rent
To any god or government
Always hopeful, yet discontent
He knows changes aren’t permanent
But change is

And what you say about his company
Is what you say about society
Catch the witness, catch the wit
Catch the spirit, catch the spit

The world is, the world is
Love and life are deep
Maybe as his eyes are wide

Exit the warrior
Today’s Tom Sawyer
He gets high on you
And the energy you trade
He gets right on to the friction of the day

 

Betul,Tom Sawyer adalah remaja lelaki dari Mississippi yang pemberani,seperti yang saya baca sejak kecil sewaktu duduk di bangku SD di era 70-an.Tentunya lewat novel karya Mark Twain “Adventures of Tom Sawyer” yang kemmudian dialihbahasakan oleh Pusataka Jaya menjadi “Petualangan Tom Sawyer”.

Tapi pada awal dasawarsa 80-an,sata lebih mengenal “Tom Swayer” sebagai lagu rock yang bernuansa anthem miliki Rush,trio rock jenius asal Kanada.”Tom Sawyer” nyaris berdentam terus di gendang telinga saya.Selain vokal Geddy Lee yang mirip perempuan itu,keistimewaan lagu ini justeru pada pola drummingnya yang aneh dan sangat sulit untuk diikuti.Rumit tapi enak untuk disimak.

Saat itu anak band yang telah khatam memainkan “Tom Sawyer” pasti jadi perbincangan.Itu berarti dia sudah naik kelas,tak hanya mampu menggenjrengkan The Rolling Stones atau Deep Purple saja.Di Jakarta ada band yang menggunakan nama Punk Modern Band dan mangkal di sekitar Jalan Leuser Kebayoranyang getol banget ngebawain “Tom Sawyer” disetiap event konser yang saat itu kerap berlangsung di Teater Terbuka TIM atau Balai Sidang Senayan Jakarta yang kini populer dengan nama Jakarta Convention Center.

Drummer rock Jeli Tobing bahkan berpetuah kepada anaknya Ikmal Tobing “”Jika ingin menjadi drummer rock maka kamu harus mampu memainkan ‘Tom Sawyer’ nya Rush,’Rock N’Roll’ nya Led Zeppelin dan ‘Highway Stars’ nya Deep Purple.Karena ketiga lagu itu menampilkan pakem ngedrum rock yang bener”.Nah lho,kurang apa lagi ?

Tom Sawyer sendiri yang dirilis pada tanggal 12 Februari 1981,wow sudah memasuki 30 tahun silam,merupakan manifestasi racikan musik terbaru Rush yang sebelumnya seolah diawang-awang dengan konsepsi musik progresif rocknya .Mulai paruh hingga  70-an ,Rush menorehkan ciri dengan komposisi lagu yang berpanjang panjang dalam durasi.Saat itu tiap band yang mengusung panji prog-rock selalu ingin menafsirkan legenda yang mitikal hingga fiksi ilmiah dalam komposisi yang penuh lika-liku.Simak saja karya-karya Rushyang tertuang dalam album “Hemisphere”,”Fly By Night”,”Farewell To Kings” hingga “2112”.Drummer kutu buku Neil Peart lalu banyak mengadopsi karya literer sebagai konten utama lirik-lirik lagu Rush.

Ketika pilar progresive runtuh dihajar gerakan punk rock pada akhir dekade 70-an,banyak band-band progresif yang mulai menyederhanakan struktur komposisi musiknya,entah itu Yes,Genesis maupun E.L.P.Titik nadir yang kulminatif ini juga direspons oleh Rush yang kemudian menjejalkan album “Moving Pictures” di tahun 1981.Nuansa anyar itu langsung terpapar pada track pembuka “Tom Sawyer”.

Album “Moving Pictures” merupakan album Rush yang berhasil dalam penjualan serta pencapaian terbaik Rush dalam karir rekamannya sejak tahun 1975.

Alex Lifeson bahkan menyebut :”Tom Sawyer is a real trademark song for us”.Ucapan ini betul.Jika menyebut Rush,maka yang selalu kita ingat pertamakali adalah lagu “Tom Sawyer” yang juga kerap tampil dalam beberapa soundtrack film layar lebar Hollywood.

Tom Sawyer,kata Alex Lifeson, merupakan lagu yang sangat powerfull,dan liriknya memiliki ruh yang menyemangati banyak orang.”It’s a kind of an anthem” timpal Alex Lifeson lagi.

Di dasawarsa 70-an Rush tak syak lagi merupakan jawara progresif hard rock yang membuat nama mereka harum terutama lewat epik konseptual yang mereka tuangkan di seluruh permukaan album-albumnya.Tapi sejak merilis album “Permananent Waves” di tahun 1980 mulailah terjadi perubahan secara signikan.Rush mulai menata diri lagi.Melakukan rombak ulang kredo bermusiknya.

“Kami mulai menulis lagu dengan dimensi yang padat dan ketat bahkan cenderung dalam bentuk yang lebih ekonomis” jelas Alex Lifeson.Hasilnya adalah komposisi bertajuk “The Spirit of Radio”,sebuah tour deforce virtuoso rock yang dipadatkan tak lebih dari durasi 5 menit.Bayangkan,bagaimana Rush menyederhanakan durasi dari yang belasan menit menjadi lebih singkat tapi padat.Dan liriknya pun menjadi kian lugas dan to the point.Hal yang tak pernah dilakukan Neil Peart sebelumnya yang sejak tahun 1975 banyak memaparkan tematik sekitar mitologi kuno hingga fiksi ilmiah.Dalam album Permanent Waves pola penulisan lirik menjadi lebih sederhana bahkan subyektifitas tema terasa lebih wordly.

Walhasi,”Tom Sawyer” merupakan kristalisasi dari Rush dalam bingkai yang lebih modern :lagu rock yang powerful dibarengi pesan filosofi mendalam yang menohok.

Sesungguhnya selain menggamit inspirasi dari karya sastra besar Amerika Mark Twain,tapi juga diimbuh dengan susupan tema dari penulis Kanada Pye Dubois.

Pye Dubois ada;ah penyair dan penulis lirik yang kerap berkolaborasi dengan Max Webster,band yang berasal dari kawasan sarnia Ontario Kanada,yang satu  provinsi dengan Toronto,kediaman anggota Rush.Rush dan Max Webster ternyata saling bersahabat.Bahkan pernqah berkolaborasi bareng dalam lagu bertajuk “Battle Scar” yang termaktub dalam album Max Webster di tahun 1980 “Universal Juveniles”.

Di sekitar tahun 1980 Pye Dubois  mengirim sebuah puisi pada Neil Peart yang diniatkan menjadi sebuah karya kolaboratif.Puisi itu diberi judul “Louie The Warrior”.

Puisi itu,ternyata,dicuplik dari novel karya Mark Twain di tahun 1876 “The Adventures of Tom Sawyer”.Peart langsung menangkap saripati isi novel legendaris itu yang bertutur tentang jiwa berontak dan kebebasan .Apa yang ditorehkan Pye Dubois dalam “Louie The Warrior” seperti yang ditegaskan Neil Peart adalah sebuah potret pemberontakan di masa kini.

Neil Peart kemudian menggodok tematik lirik tersebut dengan mencuplik sebagian bait dari lirik yang disodorkan Dubois seraya mengimbuh bait yang ditulisnya sendiri yang diambil dari kisah hidupnya sendiri.

Peart lalu menyederhakanakan judul lagunya menjadi “Tom Sawyer” saja.Dan ini merupakan sebuah gagasan yang catchy.

Secara musikal Alex Lifeson menuturkan struktur komposisi “Tom Sawyer” :”Secara struktur,cara kami mengembangkan lagu ini sangat menarik yang dimulai dari verse pertama lalu masuk ke bridge kemudian chorus untuk kemudian masuk ke solo interlude dan kemudain berulang.”Sebetulnya kami tidak pernah melakukan hal semacam itu dahulu” ungkap Alex Lifeson.

Mereka berttiga menulis lagu itu pada saat musim panas disebuah  peternakan kecil di luar Toronto.Disebuah ruang kecil yang berdempetan dengan garasi,Geddy Lee,Alex Lifeson dan Neil Peart melakukan latihan dan jamming untuk mengembangkan pola lagu “Tom Sawyer”.

Rush kemudian merekam lagu tersebut di Le Studio yang berada di kawasan Morin Heights,Quebec yang dilatari pegunungan,tempat yang sama saat Rush merekam album “Permanent Waves”.Video promosi “Tom Sawyer” pun diambil di Le Studio di saat musim dingin yang mencekam.

Alex Lifeson lalu bertutur tentang pola arransemen Tom Sawyer.”Instrument synthesizers menjadi semacam kunci utama di lagu ini.Terjadi integrasi yang menarik antara kami bertiga  dengan synthesizers.Kami tetap berupaya menampilkan aura sebuah trio.Ini untuk lebih memungkinkan pada saat lagu ini akan dibawakan secara live pada saat konser di panggun.Jadi kami tak melakukan ada suara rhythm guitar yang melatari solo gitar atau hal hal semacam itu.”.

Geddy Lee tampaknya puas dengan pencapaian Rush lewat “Tom Sawyer” yang fenomenal itu.Lee bahkan menyebut Tom Sawyer sebagai “defining piece of music” dari Rush di awal dasawarsa 80an.

Hampir 3 dasawarsa,lagu “Tom Sawyer” ini masih terus bergema tanpa pudar dan pupus.Liriknya yang berceloteh tentang semangat kebebasan dan petualangan masih relevan dan inspiratif.

Suara Geddy Lee melengking,saya pun manggut-manggut mahfum :

 

No his mind is not for rent
To any god or government
Always hopeful, yet discontent
He knows changes aren’t permanent
But change is

 

Rush di Le Studio

Inspirasi Tuan Malmsteen

Posted: Februari 23, 2011 in Uncategorized

Jimi Hendrix dan aksi bakar gitar

Cover album Yngwie Malmsteen Trial By Fire

Tahun 1996,saya beruntung bisa bertemu dengan Tuan Fender yang kata hampir sebagian besar orang  amat teramat sangat “arogan”, siapa lagi kalo bukan tuan Yngwie Johann  Malmsteen.Gitaris Swedia yang dianggap salah satu gitaris yang didakwa menyebar paham neo-classical.

Saat jam menunjukkan 18.30 WIB Yngwie Malmsteen yang didampingi Kristanto Gunawan dari label Pony Canyon  menyambangi radio M97FM Classic Rock Station yang mangkal di Jalan Borobudur 10 Menteng Jakarta Pusat (sekarang radio itu telah berubah menjadi radio dangdut nan bahenol ….hiks).

Tuan Yngwie Malmsteed  sorenya baru saja melakukan klinik gitar di Hard Rock Cafe Sarinah Thamrin Jakarta.Saat itu Yngwie menebar ilmu gitar didampingi Lilo Romulo dari KLa Project.Bingung kan ?

Kesan awal bersua  memang Yngwie  Malmsteen berkesan dingin dan arogan.Tapi saya merasa kalo kita ajak dia ngobrolin musik dan musik…..masak sih dia cuek terus ?.Pasti gak mungki,kata saya membatin dalam hati.

Dan dugaan saya memang benar pada akhirnya.Yngwie yang awalnya jutek setengah mampus karena crew M97FM ingin foto bareng,akhirnya melunak.Itu pun setelah dibujuk-bujuk manajernya.

Well,Yngwie  sangat antusias ngobrolin musik mulai dari rock hingga klasik.Waktu itu saya memutar album “UK” (1977)  dari kelompok UK yang terdiri atas Bill Bruford (drums),Allan Holdsworth (gitar),John Wetton (bass,vokal) dan Eddie Jobson (keyboards,biola).”Heiiii………whatta music” teriak Yngwie Malmsteen seperti kesetanan.Hmmm…tampaknya tuan ini mulai menemukan “frekuensi” nya.

Tanpa ada pertanyaan dari saya ,tuan Yngwie yang terlihat gempal itu  nyerocos aja memuji kepiawaian gitaris Inggeris  Allan Holdsworth yang terkenal dengan gaya legato-nya itu.

“Saya ngefans sama Holdsworth.Begitu Allan cabut dari UK, band itu rasanya seperti kehilangan gigi”.tambahnya.

“Apakah anda suka dia,karena Allan juga penggesek biola” pancing saya.”That’s it” kata Malmsteen.”Konsep Legato Allan itu kan karena dia seorang violinist” imbuh Yngwie lagi.

Dan Yngwie Malmsteen yang pernah mampir di Alcatrazz juga adalah gitaris yang juga mengembangkan permainan gitarnya dari teknik vibrato yang biasa diterapkan para  pemain biola klasik.”Saya banyak menyerap dari gaya Paganini” urai tuan Yngwie.

Dalam album “Inspirations” yang dirilis tahun 1996,Yngwie Malmsteen membawakan sebuah track dari debut album kelompok UK yakni “In The Dead Of Night” yang ditulis oleh Eddie Jobson dan John Wetton.

Sebetulnya kalau ingin mengetahui gitaris gitaris yang menginspirasi Malmsteen,anda harus menyimak album ini.Karena di album ini selain,membawakan lagu dari UK,Yngwie pun membawakan “Manic Depression” (Jimi Hendrix),Gates of Babylon (Ritchie Blackmore’s Rainbow),”Picture Of Home” (Deep Purple),”Mistreated” (Deep Purple),”The Sails of Charon” (Scorpion,gitarisnya Uli John Roth),”Demon’s Eye” (Deep Purple),”Anthem” (Rush),”Child In Time” (Deep Purple),”Spanish Castle Magic” (Jimi Hendrix) dan “Carry On My Wayward Son” (Kansas).

Dan kalo kita lihat songlist-nya jelas terbukti bahwa Yngwie  Malmsteen harus diakui memang sangat tergila gila dengan Ritchie Blackmore.

“Waktu saya berumur sekitar 10 tahun,gitaris rock yang saya denger terus albumnya adalh Ritchie Blackmore.Gak ada yang lain cuma Blackmore.Saya memang menyukai Blackmore,tapi saya tak mau berada dibawah bayang bayang dia.And there was no one else. And then after that, I stopped listening to guitar players all together. ” tukasnya lagi sambil menyeruput secangkir cofee mix dan menampik tawaran memakan kue donat yang tersedia.

Tapi entah kenapa Yngwie terkadang suka mengingkari keterpengaruhannya dengan sejumlah guitar heroes yang hadir mendahului dia dalam khazanah musik rock.

Walaupun dalam album “Inspirations” Yngwie membawakan karya Jimi Hendrix maupun Uli Roth,dia tetap menyangkal sebagai pengagumnya.

“Bukankah anda pernah menyebut Hendrix sebagai salah satu pengaruh musik anda ? sergah saya.

“Tepatnya gini……I saw Hendrix on TV when I was 7 years old.And….

the day he died they showed a video of him lighting his guitar on fire, and that made me want to start playing guitar.” tukas tuan Malmsteen lagi.

Yang jelas cover album “Trial By Fire – Live In Leningrad” yang dirilis Polydor pada tahun 1989 terlihat tuan Yngwie meniru gaya Jimi Hendrix yang fenomenal : membakar gitar.

Sebaliknya dengan sumringah tuan Yngwie lebih mengelu-elukan supremasi para komposer klasik . ” When I was  kid I had my heroes that I listened their music , and…..you know  my biggest heroes are Johann Sebastian Bach, Vivaldi, and Nicolo Paganini”

Yngwie Johann Malmsteen dan Denny Sakrie

Perdamaian, perdamaian
Perdamaian, perdamaian
Perdamaian, perdamaian
Perdamaian, perdamaian

Banyak yg cinta damai
Tapi perang semakin ramai
Banyak yg cinta damai
Tapi perang semakin ramai

Bingung bingung ku memikirnya
Bingung bingung ku memikirnya
Bingung bingung ku memikirnya
Bingung bingung ku memikirnya

Banyak yg cinta damai
Tapi perang semakin ramai
Banyak yg cinta damai
Tapi perang semakin ramai

Wahai kau anak semasa
Ingin aman dan sentosa
Wahai kau anak semasa
Ingin aman dan sentosa

Tapi kau buat senjata
Biaya berjuta-juta
Tapi kau buat senjata
Biaya berjuta-juta

Banyak gedung kau dirikan
Kemudian kau hancurkan
Banyak gedung kau dirikan
Kemudian kau hancurkan

Perdamaian, perdamaian
Perdamaian, perdamaian

Banyak yg cinta damai
Tapi perang semakin ramai

Di tahun 2005 silam,kelompok Gigi menynayikan lagu religi bertajuk “Perdamaian”.Lagu ini pertamakali dibawakan oleh kelompok Qasidah Modern Nasyidah Ria Semarang dibawah pimpinan Hajjah Mudrikah Zaini yang didukung oleh  8 personel.Semuanya perempuan.Mulai dari yang menyanyi hingga memainkan perangkat musik,paduan rebana dan seperangkat instrumen band.

Album yang dirilis perusahaan rekaman Ira Semarang ini menampilkan 10 lagu.5 lagu masing masing berada di sisi A dan sisi B.Menariknya album Nasyidah Ria ini didukung pula oleh bintang tamu Rien Djamain dari Djamain Sisters,yang juga dikenal sebagai seorang penyanyi jazz.

Rien Djamain didaulat untuk menyanyikan lagu bertajuk “Asyik Santai”,disamping anggota Nasyidah Ria yang tampil sebagai lead singer seperti Mutoharoh,Nunung Muchayatoen dan Nur’ain.

Inilah tracklist selengkapnya album yang dirilis padac tahun 1973 :

1.Perdamaian

2.Asyik Santai

3.Lingkungan Hidup

4.Alabaladhi

5.Rahasia

6.Kota Santri

7.Shalawat Nabi

8.Anak Yang Kembali

9.Penganten Baru

10.Masa Muda


Piringan Hitam Nasyidah Ria "Perdamaian"

Digagas oleh Indonesian Corruption Watch (ICW)

CD 'Jangan Pilih Politisi Busuk"

bersama sederet pemusik yang selalu menggaungkan kritik sosial seperti almarhum Harry Roesli dan Franky Sahilatua.

Selain lagu,CD yang dibagikan secara gratis ini juga memuat Deklarasi Anti Politisi Busuk.Lalu ada berbagai pernyataan yang disampaikan oleh almarhum Cak Nur,Teten Masduki ,J.Kristiadi dan Longgena Ginting.

Harry Roesli yang didapuk banyak mengkontribusikan lagu-lagunya seperti “Maling”,”Sialan”,”Tulalit”,”Kami Cinta Indonesia”,”Politisi Busuk” dan “Jangan Menangis Indonesia” .Lagu yang disebut terakhir sebetulnya sebuah lagu lama milik Harry Roesli yang pertamakali direkam pada album “L.T.O” (Lima Tahun Oposisi) yang dirilis oleh Musica Studio’s pada tahun 1978.Konon,lagu ini ditulis oleh Harry Roesli ketika terjadi aksi demonstrasi mahasiswa besar-besaran pada tanggal 15 Januari 1974 yang kerap disingkat dengan akronim “Malari” (Malapetaka Limabelas Januari).

Di saat berlangsung aksi mahasiswa dalam gerakan reformasi pada tahun 1998,lagu “Jangan Menangis Indonesia” ini pun mulai diperdengarkan lagi.

Franky Sahilatua menutup album kompilasi berwarna dominan hitam ini dengan lagu “Jangan Pilih Mereka”.

1. Deklarasi Anti Plitisi Busuk 0:35
2. Jangan Pilih Mereka 3:56
3. Pernyataan Cak Nur 0:39
4. Sialan ( Harry Roesli)3:58
5. Pernyataan Teten Masduki 0:53
6. Politisi Busuk 4:10
7. Pernyataan J. Kristiadi ):21
8. Tulalit ( Harry Roesli)4:32
9. Pernyataan Longgena Ginting 1:01
10.Kami Cinta Indonesia ( Harry Roesli)4:05
11.Maling ( Harry Roesli )4:43
12.Jangan Menangis Indonesia ( Harry Roesli 5:48
13.Politisi Busuk ( Harry Roesli )4:10
14.Jangan Pilih Mereka ( Franky Sahilatua )3:56

 

Denny Sakrie

 

Album debut Gangstarasta "Unite"

Gangstarasta

Satu lagi kelompok reggae  made in Indonesia yang menyeruak setelah Rastafara,Asian Roots,Steven & Coconutztreez,Ras Muhammad  maupun Pace’rasta.Mereka adalah Gangstarasta.Terdiri atas Emilio (vokal),Uncle Bud (gitar),Cuwox (keyboards),Darta (bass) dan Boim (drums).

Visi bermusik Gangstarasta adalah mengembangkan cinta dan perdamaian tanpa perbedaan agama ,ras,suku,dan status sosial.Itu telah mereka buktikan .Dalam Gangstarasta sendiri didukung personil berbeda suku.Ada yang Batak,Sunda dan Papua.

Gangstarasta terbentuk 19 Desember 2001.Mereka,bermukim di Karawaci,Tangerang.Teklah bermain di berbagai event musik yang digelar di Jakarta.Mereka pun acapkali tampil di berbagai Pensi yang digelar di Jakarta dan sekitarnya.

Gangstarasta pun telah merilis sebuah debut album yang diproxduksi Fame Music bertajuk “Unite”.Tampaknya Gangstarasta punya obesesi terhadap persatuan yang tercermin dalam tajuk albumnya.Bisa saja ini terpicu melihat begitu banyaknya gerakan separatis di negeri ini.Mulai dari Aceh hingga Papua.

Dalam lagu “Unity” pesan itupun terlihat jelas :

Hear the drum and they come from the sea

Jah bring the tribal was a spoirit on me

Cause my life and my roots I believe

No this tribe you can’t take it from me

Gangstarasta pun meneriakkan gerajkan damai,selaik yang dilakukan Bob Marley semasa hidupnya.Simak lagu “What’s Up Bro”,sebuah komposisi yang ditulis dan dfinyanyikan oleh Emilio.Lagu ini memang terasa  kuat pengaruh Bob Marley :

What’s up bro ?

Teriakkan semangat persahabatan yang dulu pernah kita ciptakan

What’s up bro ?

Tebarkan rasa cinta damai kepada semua insan

Tapi Gangstarasta toh tetap pula menorehkan lagu beratmosfer kasmaran.Misalnya pada lagu “Hilang” maupun “Fly Away”.

Pada lagu “Unity” dan “Sunny Day”,kelompok Gangstarasta menyusupkan nuansa dancehall.Pengaruh Aswad terendus pada lagu “Sunny Day”  yang bernuansa riang.Liriknya tetap berceloteh pada gugus cinta dan damai.Terasa optimistik .

Sayangnya beberapa aksentuasi brass section justeru tidak menampilkan instrumen tiup sungguhan melainkan dari perangkat keyboards .Ini tersa sangat timpang,terutama pada lagu “Hilang” maupun “Langkah”.

Pada lagu “Sunshine”,gitaris Uncle Bud justeru memelintir melodi bluesy pada bagian interludenya.Setidaknya menyiratkan bahwa ada korelasi antara aura blues dan reggae.Yaitu sama sama menggunakan medium musik untuk menyurakan rasa pembebasan atas penindasan yang semena-mena.