Arsip untuk Desember, 2014

Semak Belukar (Nan) Terasingkan

Posted: Desember 31, 2014 in Opini

Apakah kelompok musik (Indonesia) yang fenomenal di jelang akhir tahun 2014 ?.Maka dengan lantang saya akan bersuara : Semak Belukar.Bah, kelompok musik apa ini ? Pasti sergahan semacam ini akan mencuat menyambut prakata saya dalam tulisan saya di akhir tahun 2014 ini.Betul,tak semua orang mengetahui atau ngeh tentang kelompok Semak Belukar yang bermuasal dari bumi Sriwijaya Palembang.Seperti tajuk album antologinya Terlahir & Terasingkan. 14856462457_8060626695_b

Review Blog Saya di Sepanjang tahun 2014

Posted: Desember 30, 2014 in Laporan

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Museum Louvre dikunjungi 8,5 juta orang setiap tahun. Blog ini telah dilihat sekitar 240.000 kali di 2014. Jika itu adalah pameran di Museum Louvre, dibutuhkan sekitar 10 hari bagi orang sebanyak itu untuk melihatnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Ketemu Jazzer Lasak ,Jamie Cullum

Posted: Desember 28, 2014 in Wawancara

Ada jiwa rock dalam raga Jamie Cullum yang dikenal orang sebagai penyanyi dan pianis jazz era kiwari.Lagaknya saat di pentas lasak.Lari berhamburan kesana kemari.Kerap jua Jamie dengan gaya slenge’an menaiki piano.Dan ternyata penonton suka akan gaya Jamie yang senantiasa berlaku lajak itu.Jeritan histeris pun kerap terdengar.Mungkin karena Jamie yang tak terlalu semampai ini memiliki paras ganteng mempesona.

Mendampingi Jamie Cullum sebagai moderator dalam Konperensi Pers di Java Jazz  Festival jumat 28 Februari 2014 (Foto Rio Anteve)

Mendampingi Jamie Cullum sebagai moderator dalam Konperensi Pers di Java Jazz Festival jumat 28 Februari 2014 (Foto Rio Anteve)

Jumat 28 Februari 2014,akhirnya saya ketemu dengan Jamie Cullum yang menjadi salah satu headliner dalam perhelatan jazz tahunan Indonesia Java Jazz Festival yang berlangsung di Kemayoran Jakarta.Ini merupakan muhibah Jamie Cullum yang kedua di festival jazz yang sama setelah perhelatan Java Jazz tahun 2007.
Saya diminta untuk menjadi moderator Konperensi Pers Jamie Cullum sebelum lelaki kelahiran 20 Agustus 1979 ini menggelar konsernya.Orangnya humoris,dan agaknya sudah mulai mengurangi gaya grasa-grusunya.Maklum,perubahan ini terjadi karena usia bertambah dan telah menikah dan memiliki keluarga. Momen ini pun saya pergunakan untuk sekedar menelisik kesukaannya terhadap jazz maupun genre dan subgenre musik lainnya.
Berikut ini kutipan obrolan saya dengan Jamie Cullum (JC)
DS : Anda menemukan jazz sebagai pilihan bermusik berasal setelah menggeluti rock termasuk juga hip-hop.Bagaimana sampai hal itu terjadi ?
JC : Kejadiannya sih terjadi begitu saja.Dimulai saat saya ikut bergabung dalam sebuah grup rock dan saya sangat menikmati fase ini.Apalagi saat itu kami sering berjam session dengan menyentuh area psikedelik juga.Suatu saya bilang ke temen-temen band :”Apakah kalian pernah mendengarkan musik jazz yang dahsyat ?”.Saya lalu memutarkan dua album Miles Davis yaitu Bitche’s Brew dan On The Corner.Mereka diam terhenyak dan berteriak :”Amazing !”.
DS : Lalu penyanyi jazz yang jadi inspirasi siapa ?
JC : Harry Connick Jr.Saya suka cara dia main piano sambil nyanyi.Ini membuat saya tergetar untuk berbuat sesuatu yang sama dengan Harry.
DS : Ketika anda muncul banyak yang mulai membanding-bandingkan anda dengan Harry Connick Jr .Apa komentar anda ?
JC : Saya memang seolah merasa jadi bagian dari tubuh Harry Connick Jr.Saya sangat suka ketika Connick berkolaborasi dengan Branford Marsalis di album Occasion.Karena dalam musik Harry ada juga elemen funk.Saya juga album Harry Blue Light,Red Light.Apalagi Harry juga suka Monk dan Sinatra.
DS : Banyak yang bilang penampilan anda di panggung lebih berkesan sebagai rock stars.Betulkah ?
JC : (tertawa)…..Saya selalu ingin tampil seekspresif mungkin di panggung.Tak heran saya terlihat liar dan terkesan suka-suka.Karena bagi saya di panggung harus menciptakan komunikasi yang baik dengan penonton.Dulu saya sering nonton konser-konser dari Ben Folds,Jeff Buckley hingga Radiohead serta Harry Connick tentunya.
DS : Boleh tau gak,rekaman jazz siapa yang pertama kali anda dengar ?
JC : Waktu masih kecil saya sudah terbiasa dengar jazz di rumah.Orangtua saya suka memutar album-album dari Dave Brubeck hingga Oscar Peterson.Lalu paman saya sering berbicara tentang Pat Metheny maupun Joe Pass.Tapi saat itu saya malah lebih suka mendengar album-album dari Irom maiden,Megadeth,AC/DC hingga Pantera dan Sepultura.Ketika saya berusia antara 10 hingga 12 tahun saya suka kagum sama gitaris yang mampu bermain cepat seperti Steve Vai,Joe Satriani maupun Yngwie Malmsteen. Dari situ kemudian saya mulai mengetahui bahwa Vai itu pernah ikut dalam album maupun konser Frank Zappa.dari Zappa akhirnya saya juga tahu bahwa George Duke pun ikut mendukung Frank Zappa.Kemudian saya tahu Herbie Hancock ketika grup hip hop Us3 mengambil sample dari karya Herbie Hancock “Cantaloupe Island”.Saya juga mulai mendengar bunyi Fender Rhodes yang dimainkan Hancock di album Headhunters.
DS : wah berarti anda memang penggila musik ya ?
JC : (tertawa)…iya boleh jadi,apalagi kemudian saya mulai berkenalan dengan para dedengkot acid Jazz seperti Brand New Heavies maupun Incognito, termasuk para artis hip hop seperti Common,A Tribe Called Quest hingga Q Tip.Ketika mulai memasuki universitas,barulah saya mengenal Harry Connick Jr.Lalu mendalami kord-kord dari George Gershwin dan Cole Porter.
DS : Lalu apa menurut anda jazz itu ?
JC : Hmmmm…jazz adalah musik yang bisa bersimbiose dengan musik apa saja.

Dara Puspita dan Kesetaraan Gender

Posted: Desember 24, 2014 in Opini

Dara Puspita akhirnya jadi perbincangan lagi.Setidaknya diantara para dewan juri tetap Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) untuk periode 2013-2014 yang terdirib atas Indra Ameng,David Tarigan,Harlan Bin,Eric Wirjanatha,Sandra Asteria,Wendi Putranto dan saya sendiri.Jelang akhir penjurian ICEMA Award, kami mendapat tugas berat untuk memilih dan menentukan siapa sosok pemusik yang akan disematkan anugerah Lifetime Achievement. Kriterianya mencakupi gagasan dan konsep bermusik serta pengaruh musik yang mereka ciptakan dan mainkan pada generasi di jamannya maupun generasi di era-era sesudahnya.

Dara Puspita di atas pentas pertunjukan

Dara Puspita di atas pentas pertunjukan

Ada terobosan yang kuat dalaqm menebar karya-karya mereka.Dari elemen-elemen yang telah terpatri dibenak kami ,akhirnya tercetus sebuah nama band yang mulai menguak pada dasawarsa 60an. Ini jelas masih direzim Orde Lama yang tak memberi ruang terhadap pola bermusik anak muda yang bermuara pada aspek dank redo kebebasan berekspresi.Di zaman itu,dunia musik internasional telah bersimbah virus British Invasion dimana band-band popular yang berasal dari Britania Raya tengah menjadi idola dan acuan anak muda diseantero jagad termasuk Indonesia.Band-band seperti Dara Puspita yang menguntit pamor pendahulunya Koes Bersaudara juga tak berdaya menghadapi sensor pemerintah yang anti ngak ngik ngok.Ngak ngik ngok adalah idiom yang dilontarkan Bung Karno terhadap perilaku budaya popular yang dikumandangkan lewat band-band atau pemusik bernafas rock’nroll mulai dari Elvis Presley,Bill Haley and His Comets dari Amerika Serikat hingga The Beatles dan The Rolling Stones dari Inggris.

Darfa Puspita On nTour

Walaupun Dara Puspita tak sampai mendekam dalam penjara seperti halnya Koes Bersaudara yang digiring ke kursi tertuduh karena dianggap menyepelekan budaya bangsa Indfonesia,kebarat-baratan tanpa kepribadian sama sekali, namun keempat gadis berambut poni yang terampil bermusik ini harus dibreidel aparat dan diharuskan melakukan wajib lapor.Saat itu pemerintah dengan tegas tanpa tedeng aling-aling ingin membumihanguskan perilaku budaya Barat yang tercerabut dalam musik popular.
Menariknya,Lies AR (gitar) ,Titiek AR (gitar) ,Susy Nander (drums) dan Titik Hamzah (bass) tak gentar.Mereka tetap konsisten dengan raungan musiknya yang direkam secara porimitif di studio Irama milik Soejoso Karsono maupun Mesra Record milik Dick Tamimi.Jiwa rockn’roll Dara Puspita terlihat jelas saat menghadapi kasus ngak ngik ngok ini.Keempat wanita ini tetap berperilaku mbalelo.

Susi Nander
Harap diketahui bahwa pilihan keempat wanita asal Surabaya ini memilih membentuk band sebagai ekspresi berkesenian adalah hal yang sangat luarbiasa.Mengingat tatakrama dan adat ketimuran yang masih dijunjung tinggi dalam masyarakat kita seolah menggariskan bahwa wanita tak pantas menggebuk perangkat drum,memetik dan meraungkan gitar elektrik maupun bass serta tampil energik baik di bilik rekaman maupun pentas pertunjukan.
Kepeloporan Dara Puspita yang dalam hal ini bias disebut pula sebagai upaya kesetaraan gender, pada akhirnya menyemaikan tren bermunculannya banyak band-band wanita saat itu.

DP

Setelah pemunculan Dara Puspita yang fenomenal dengan kredo rock n’roll yang kuat ,arkian muncullah sederet panjang band-band wanita yang seolah tak ingin kalah dengan band-band pria yang telah menuai kejayaan.Ada The Singers,The Beach Girls di akhir era 60an.Lalu ada Pretty Sisters,Aria Junior,One Dee and The Ladyfaces,The Orchids,Anoas,Antique Clique ,Ress Group,Partha Putri dan masih sederet panjang lagi di era 70an hingga 80an.Bahkan di tahun 1976 majalah pop culture Top yang terbit di Jakarta pernah menggagas menyelenggarakan Festival Band Wanita pertama di Indonesia.Festival ini hanya sempat dilakukan sekali saja.

article_large

Namun,band band wanita tetap deras bermunculan dan tumbuh kembang di seluruh Indonesia. Jelas ini adalah pengaruh besar yang ditularkan oleh Dara Puspita, yang juga telah melakukan bebereapa konser muhibah ke berbagai penjuru dunia, mulai dari wilayah Asia hingga Eropah.Dara Puspita pun sempat merilis beberapa singles pada label Decca Record di Inggris.
Belakangan di erea 80an,banyak blog-blog dalam dan luar negeri mulai mentahbiskan Dara Puspita sebagai band garage wanita pertama di Indonesia.Istilah garage band ini kemungkinan karena mereka menyimak kualitas rekaman Dara Puspita yang masih menggunakan teknologi primitive terdengar lebih raw,apa adanya dan lugas.

Lies AR
Sara Schondhardt dalam The Wall Street Journal edisi 25 September 2014 menulis tentang sepak terjang Dara Puspita dengan tajuk “Indonesia’s First All-Girl Rock Band Still Has The Power To Captive” yang antara lain menyebut bahwa Dara Puspita adalah band wanita yang tampil dengan semangat berapi-api penuh daya dan gaya musik gugat.Schondhardt bahkan membandingkan Dara Puspita dengan Pussy Riot ,band punk wanita Rusia yang menawarkan aura feminisme .
Di mata mereka Dara Puspita adalah sebuah keajaiban dari Negara ketiga yang tengah memulai kebangkitan.Ketakjuban mereka terlihat jelas ketika selama seminggu dari tanggal 1 hingga 6 Oktober kemarin di Casa Luna Ubud Bali berlangsung pameran tentang Dara Puspita dengan tajuk Dara Puspita : The Greatest Girl Group That (N)ever Was yang digagas oleh Julien Poulson,orang Australia yang bermukim di Phnom Penh Kamboja.Julien Poulson bahkan berencana ingin membuat album Tribute To Dara Puspita.

DP
Terbetik pula berita bahwa sebuah label rekaman asal Portugal bernama Groovie Record merilis album kompilasi hits Dara Puspita dalam format vinyl secara illegal.Album yang dirilis tanpa izin dari Dara Puspita ini ternyata mendapat sambutan hangat dimancanegara.
Di Detroit Michigan Amerika Serikat ada seorang disc jockey yang kerap memutarkan piringan hitam Dara Puspita dihadapan para pengunjung bar. Merekap pun larut dalam hits Dara Puspita Marilah Kemari yang ditulis Titiek Puspa.
Empat ahun sebelumnya Alan Bishop pemilik label rekaman Sublime Frequencies yang berada di Seattle AS merilis ulang secara resmi kumpulan hits Dara Puspita (1966 -1968) .Album yang berisikan 26 lagu itu bahkan masuk dalam 25 Favorite World Compilations of 2010 yang dipilih situs music terbesar dan berwibawa All Music Guide.
Di Australia sendiri muncul sebuah tribute band yang khusus membawakan repertoar Dara Puspita.Band yang bernama 45 ini beberapa waktu lalu menggelar konser di Jakarta.

DAR
Fakta-fakta ini jelas menunjukkan bahwa Dara Puspita merupakan salah satu pilar bersejarah dalam konstelasi musik popular di Indonesia.Dara Puspita walaupun tak menyuarakan ekspresi politiknya dalam bermusik,tapi dari ragam musik yang mereka mainkan,ekspresi bermusik serta fashion yang mereka kenakan menyiratkan bahwa Dara Puspita bersikap seperti halnya kredo pemusik rock n’roll : anti kemapanan.
Sayangnya,perilaku budaya pop yakni musik serapan – rock and roll dengan rasa Indonesia , yang pernah dimunculkan Dara Puspita pada zamannya seperti raib begitu saja ditelan waktu.

DRRRRRR
Bisa dihitung dengan jari penikmat musik sekarang yang mengenal Dara Puspita.Ketika masyarakat internasional menggunjingkan dan memberikan apresiasi setinggi langit pada Dara Puspita,kita sendiri malah tak tahu menahu dengan keberadaan dan jatidiri Dara Puspita.Ironis.
Terpilihnya Dara Puspita memperoleh anugerah Lifetime Achievement dari Indonesia Cutting Edge Music Award 2014, menurut saya merupakan momentum yang tepat untuk menggali lagi khazanah musik Indonesia yang menginspirasi dari era-era sebelumnya .Sudah saatnya generasi sekarang mengetahui dengan pasti jejak-jejak musik para pendahulunya.

Paul McCartney dan Ringo Starr, dua yang tersisa dari The Beatles merasa kehilangan atas berpulangnya penyanyi soul berkulit putih Joe Cocker 22 Desember 2014.Baik Paul McCartney maupun Ringo Starr mengangap Joe Cocker adalah figur yang menjadikan lagu “With A Little Help From My Friends” memiliki soul berbeda dengan yang dinyanyikan Ringo Starr pada album “Sgt Pepper’s Lonely Heart’s Club Band” (1967).

Versi yang disajikan Joe Cocker pada album yang bertajuk sama dengan lagu The Beatles itu dirilis 23 April 1969 diinterpretasikan dalam dimensi soul dan gospel yang kuat.Teknik nyanyi Joe Cocker yang dipengaruhi Ray Charles terasa begitu ekspresif, dan jangan lupa di lagu ini Jimmy Page gitaris Led Zeppelin member sentuhan yang memikat lewat petikan gitar elektriknya.Oleh Joe Cocker lagu With A Little Help From My Friend mampu keluar dari cita rasa The Beatles yang sesungguhnya.”Saya suka cara bernyanyi Joe Cocker dan menurut saya versi Cocker adalah versi yang sangat bagus dan berbeda dari The Beatles ” timpal Paul McCartney. Ringo Starr pun menulis obituari : ““Goodbye and God bless to Joe Cocker from one of his friends peace and love. R.”
Jika menyebut sosok Joe Cocker, maka nyaris setiap orang tak bisa melupakan penampilannya yang monumental dalam perhelatan budaya popular Woodstock di tahun 1969.Dengan suara paraunya yang khas serta gerakan tubuhnya yang eskpresif dan unik.Penampilan Joe Cocker membawakan With A Little Help From My Friends di ajang Woodstock dianggap sebagai penampilan rock bernilai historik.Mereka menyebut penampilan Joe Cocker bagaikan sebuah gerhana dalam kegelapan.
Joe Cocker dan The Beatles bisa disebut sebagai sebuah simbiose mutualisme.Di saat akan membuat album solonya yang kedua ,Joe minta izin pada Paul McCartney dan George Harrison untuk kembali mengcover dua komposisi dari The Beatles yaitu She Came In Through The Bathroom Window dan Something.Sebetulnya ada satu lagu The Beatles lainnya yang direkam Joe Cocker pada sesi rekaman tersebut yaitu Let It Be,namun lagu ini baru dimasukkan sebagai bonus track pada saat album tersebut dirilis ulang dalam bentuk CD kelak.
Bahkan sutradara Julie Taymor yang membesut film musikal “Across The Universe” yang diangkat dari repertoar karya-karya The Beatles,Joe Cocker pun tampil sekejap dalam beberapa adegan film sebagai hippies sinting .
Joe Cocker dilahirkan dengan nama lengkap John Robert Cocker pada 20 Mei 1944 di Sheffield Inggris.Mulai memasuki dunia hiburan sebagai penyanyi dengan menggunakan nama panggung Vance Arnold.Joe lalu membentuk band dengan nama Vance Arnold and The Avengers.

JoeCockerChickWoodstockPeacefencecom

Saat itu Joe lebih cenderung menyanyikan lagu-lagu soul R&B dan rock and roll mulai dari Chuck Berry hingga Ray Charles di beberapa tempat minum kawasan Sheffield.Tahun 1963 band Joe Cocker ini sempat menjadi atraksi pembuka konser The Rolling Stones di Sheffield.
Di tahun 1964 Joe Cocker mulai merintis solo karir dengan merilis lagu milik The Beatles “I’ll Cry Instead” yang didukung gitaris Jimmy Page.Sayangnya langkah awal Joe Cocker ini gagal.Albumnya keok dipasaran.
Tahun 1966 Joe Cocker membentuk band baru dengan nama The Grease Band.
Tahun 1968 disaat dunia dilanda atmosfer psikedlia,Joe Cocker menandatangani kontrak rekaman dan disepanjang seperempat abad berkarir dalam dunia hiburan Joe Cocker telah merilis lebih dari 40 album.
Benang merah musik Joe Cocker adalah musik rock maupun pop yang berlumur aksentuasi bluesy yang khas.Ditunjang dengan suara yang serak dan parau,Joe Cocker kerap disebut sebagai balladeer yang ekspresif dalam menginterpretasikan lagu terutama pada lagu lagu cover seperti The Beatles ,Traffic ,The Boxtops,Leonard Cohen,Leon Russell hingga Bob Dylan .

COCKER
Memasuki era 70an Joe Cocker membentuk band baru lagi bernama Mad Dog & Englishmen yang dimotori pianis dan penulis lagu Leonn Russell.Sayangnya dalam kurun waktu 1972 -1982 Joe Cocker banyak mengalami kemunduran dari sisi mental,antara lain terjebak narkotika dan alkoholik.Meskipun masih tetap melakukan tur dan rilis album seperti “I Can Stand A Little Rain” (1974),”Jamaica Say You Will (1975),Stingray (1976) maupun Luxury You Can Afford (1978),popularitas Joe Cocker kian menukik.Joe lebih banyak terjerembab dalam pelukan alkohol
Namun Joe Cocker tetap berupaya untuk kembali melakukan pembenahan dari kehidupannya yang kusut,Tahun 1982 Joe Cocker ditawari berduet dengan Jennifer Warnes menyanyikan sebuah ballad bertajuk Up Where We Belong yang menjadi soundtrackj film An Officer and Gentleman yang dibintangi actor Richard Gere dan Louis Gossett Jr.Lagu menjadi hits Billboard Hot 100 Singles di tahun 1982 dan berhasil meraih Grammy Ward untuk kategori Best Pop Performance by a Duo serta meraih Oscar dalam Academy Award Winner untuk kategori Best Original Song.
Tahun 2007 Joe Cocker menerima penghargaan OBE (Order of The British Empire) dari Kerajaan Inggris atas sumbangsihnya terhadap musik di Inggris .Joe Cocker tetap merekam album solonya.Tahun 2012 Joe merilis album bertajuk Fire It Up yang sempat mencapai peringkat ke 17 album terlaris di Inggris Raya.Meskipun mengidap penyakit kanker yang akut,Joe Cocker tetap bersemangat di panggung,tur terakhirnya yang berlangsung di beberapa kota di Eropa berakhir di Hammersmith pada Juni tahun 2014.

Joe_Cocker07
Joe Cocker,salah satu legenda Woodstock 1969 akhirnya menutup mata selama-lamanya pada 22 Desember 2014.
Sayup sayup suara Joe Cocker yang serak dan agak parau terdengar lamat-lamat namun penuh tenaga :
What would you think if I sang out of tune
Would you stand up and walk out on me?
Lend me your ears and I’ll sing you a song
And I’ll try not to sing out of key

Ida Royani pertamakali meniti karir dalam industri rekaman pada pertengahan era 60an dengan merilis album Dinamika Suara dan Gaja yang dirilis oleh Irama Recording milik Soejoso Karsono. Dalam album debutnya ini Ida Rojani diiringi oleh Orkes Baju (baca : Bayu) dibawah pimpinan F Parera.

Penyanyi berkulit hitam manis ini memiliki daya vokal yang kuat dan karakter yang khas.Artikulasinya bening.Dan Ida Rojani juga memiliki daya tarik fisik .Setidaknya ini membuat kehadirannya dalam dunia hiburan cepat menjadi sorotan siapa saja.Menariknya lagi,di dalam album ini Ida Rojani juga unjuk kemampuan sebagai penulis lagu.Salah satu lagu karyanya yang disenandungkannya di album ini adalah Adikku Sajang.Lagu karya Ida Rojani tampaknya tak kalah bagus dengan lagu-laguy karya Jasir Sjam yang mendominasi isi album ini.

Ida Rojani

Ida Rojani

Berikut ini tulisan pemusik Mamon Sigarlaki yang dimuat di cover belakang album Ida Rojani Dinamika Suara dan Gaja yang dirilis di sekitar tahun 1966 :

Liner Notes Ida Rojani ditulis Mamon Sigarlaki

Liner Notes Ida Rojani ditulis Mamon Sigarlaki

Kata dinamika-lah jang memang tepat dipergunakan, apabila kita hendak membitjarakan debut seseorang pendatang baru dibidang seni suara, djika dia itu telah berhasil merebut hati masjarakat ramai.

Pada dewasa ini, djustru dinamikalah jang harus dimiliki, baik dinamika suara jang lantang-menantang, maupun dinamika gaja serta pembawaan jang lintjah gembira, agar seseorang penjanji dapat berhasil mendjadi favorit massa.

Demikianlah halnja dengan biduan kita ini: IDA ROJANI, jang usianja belum mentjapai 13 tahun, hanja bedanja ialah, bahwa dinamika IDA ROJANI tidak terletak pada suara jang lantang-menantang ataupun gaja pembawaan jang lintjah berliku-liku, tetapi jang mempesonakan para pendengarnja adalah djustru ,,dinamika-perpaduan” antara suara jang kekanak-kanakan jang murni dan pembawaan jang menggambarkan seorang gadis jang karena usianja berada diambang keremadjaan jang masih sutji.

DS

Dengarkanlah lagu2nja, seperti: ,,Tamasja”, ,,Tjedera Lagu”, ataupun ,,Terkenang Dikau”. Apabila lagu2 buah tangan JASIR SJAM ini dibawakan oleh seorang biduan lain, nistjaja akan terdapatlah suatu gambaran jang mendalam arti tjinta-kasih, halmana dewasa ini sudah membosankan; tetapi oleh karena interpretasi2 jang diungkapkan IDA ROJANI ini, kita menangkap suatu spontanitas dari suatu ketidakpuasan atau ketjemasan, jang ditjetuskan setjara remadja, dipadukan dengan suara dan gaja jang memikat hati, seperti hanja IDA ROJANI sadjalah jang dapat menjadjikannja.

Lagu2 lainnja dalam L.P. ini, jang sejogjanja lebih tjotjok dengan ,,diri” IDA, adalah: ,,Adikku Sajang”, tjiptaannja sendiri, ,,Sepatu Baru”, ,,Merpatiku”, ,,Kenalan Lama”, ,,Melati”, ,,Teman Baru”, ,,Gunung Agung”, ,,Tidurlah Adikku” dan ,,Djumpa Diperdjalanan”, kesemuanja ini tjiptaan JASIR SJAM.

Bagaimanapun djuga dinamika seseorang penjanji, djika tidak diiringi orkes jang baik dan jang dapat ,,memahami” bakat dari penjanji tersebut, hasilnja tidaklah akan memuaskan. Dalam hal inilah Orkes ,,BAJU” pimpinan F. PARERA menundjukkan kemampuannja dalam ,,menjelami djiwa” dari tiap2 penjanji jang diiringnja serta menjusun arransemen jang sesuai.

Pendek kata: L.P. IDA ROJANI ini, merupakan suatu perpaduan antara iringan musik dan dinamika penjanji jang sukses.

MAMON SIGARLAKI

Rhoma Irama 68 Tahun

Posted: Desember 11, 2014 in Opini

Hari ini,kamis 11 Desember 2014 Raja Dangdut yang tak pernah turun tahta Rhoma Irama genap berusia 68 tahun.Dan tampaknya gelar Raja Dangdut itu tersemat seumur hidup.Karena hingga saat ini,tak satu pun sosok pemusik dangdut yang mampu mengungguli kharisma sang Raja Dangdut.Seperti lirik dari salah satu lagu yang pernah disenandungkannya :”Kau yang mulai kau yang mengakhiri”, Rhoma Irama memulai eksplorasi dangdut di akhir 60an dan mengembangkannya secara ekspresif,antara lain menyusupkan aura rock di awal 70an, dan setelah itu semua pemusik atau insan dangdut mengikuti jejaknya tanpa ada yang mampu menggesernya dalam satu titik evolusi sekali pun.
Karya-karya dangdut Rhoma Irama menjadi telaah dan kajian ilmiah dari belahan bumi sana.Orang-orang asing menaruh respek luar biasa dalam karya-karya si Raja Dangdut.Musik dangdut yang ditoreh Rhoma Irama bukan hanya hiburan semata,sekedar bergoyang dan melampiaskan gundah gulana belaka, tapi karya-karya dangdutnya menyimpan pelbagai aspek kehidupan dengan beragam sudut pandang mulai dari sisi sosial hingga kaidah agama.

Karya-karya dangdut Rhoma Irama menjadi telaah dan kajian ilmiah dari belahan bumi sana.Orang-orang asing menaruh respek luar biasa dalam karya-karya si Raja Dangdut.Musik dangdut yang ditoreh Rhoma Irama bukan hanya hiburan semata,sekedar bergoyang dan melampiaskan gundah gulana belaka, tapi karya-karya dangdutnya menyimpan pelbagai aspek kehidupan dengan beragam sudut pandang mulai dari sisi sosial hingga kaidah agama.
Dalam bermusik,Rhoma Irama memang menunjukkan sikap yang tegas dan lugas.Tertera jelas dalam deretan lirik-lirik lagu yang ditulisnya.
Banyak orang bermain musik
Bermacam-macam warna jenis musik.
Dari pop sampai yang klasik.
Bagi pemusik yang anti Melayu.
Boleh benci, jangan mengganggu.
Biarkan kami mendendangkan lagu.
Lagu kami lagu Melayu.
(“Musik” –Rhoma Irama ,1977).

Jelas ini merupakan sebuah refleksi eksistensi musik dangdut, jenis musik yang kerap dicemoohkan karena dianggap merefleksikan kalangan akar rumput yang jauh dari estetika dan harmonisasi lagu-lagu popular yang bermuara dari pengaruh westernisasi.
William Frederick seorang peneliti dari Amerika Serikat yang menelaah ikhwal musik dangdut yang dimainkan Rhoma Irama menguraikannya dalam tulisan bertajuk”Rhoma Irama and The Dangdut Style : Aspects of Contemporary Popular Culture” di tahun 1982.

Mengenai proses hibrida musik antara Barat dan Timur yang dilakukan Rhoma Irama dalam Dangdut pada era 70an terlihat dalam penggalan kalimat berikut ini :
By 1975 ,however,the outlines of a tighter synthesis and a patently individual personality could be seen in Oma’s music.It was above all an energetic style that pumped the Melayu songfull of a liquid ,flowing rhythm and highlighted its characteristic waves of melody .In part the effect was achieved with subtle changes in orchestration, but it came more noticeable with the incorporation of electrical instruments—guitar ,organ,even mandolin—and increasingly powerful acoustical equipment .This kind of music could be felt in an almost visceral way .If Melayu music was customarily foot-tapping stuff , then this dangdut (as it was now being called ) practically shook young listeners , compelling them to toss off their footgear and rock (bergoyang) to the music .Indeed ,dancing in this particular manner , across between the traditional kampung-style joget and vaguely rock and-roll motions ,became a hallmark of Soneta a performances .

ri
Anasir-anasir  seperti inilah yang menjadikan sosok Rhoma Irama bukan lagi sebagai superstar yang berjubah arogansi dan segala perilaku rekayasa seperti yang kerap kali diperlihatkan pemusik pop dan rock kita yang menyadap habis perilaku superstar dibelahan barat sana tanpa memahami esensi yang sesungguhnya.
Rhoma Irama tak hanya menawarkan goyang dangdut atau joget belaka seperti pada lagu “Joget“ maupun ”Dangdut” :yang kemudian lebih popular dengan judul  “Terajana” :
Sulingnya suling bambu
Gendangnya kulit lembu
Dangdut suara gendang
Rasa ingin berdendang

Rhoma Irama tak hanya membuai penggemarnya dengan lagu-lagu romansa yang nelangsa  seperti “Kegagalan Cinta” atau kegenitan atmosfer insan yang tengah kepayang seperti dalam lagu “Tung Keripit”  yang mengambil gaya pantun :
Tung keripit Hai si Tulang Bawang
Kalau pacar yang gigit sakit tak mau hilang
Tapi juga menyebarkan pesan moral dalam sederet lagu-lagunya semisal “Begadang”,”Darah Muda” maupun “Rupiah” yang entah kenapa sempat dicekal TVRI pada jelang dasawarsa 70-an :
Memang sungguh luar biasa
itu pengaruhnya rupiah
Sering karena rupiah
Jadi pertumpahan darah
Sering karena rupiah
Saudara jadi pecah
Memang karena rupiah
Orang menjadi megah
Kalau tidak ada rupiah
Orang menjadi susah
Hidup memang perlu rupiah
Tetapi bukan segalanya
Silakan mencar rupiah
Asal jangan halalkan cara

Lihat pula bagaimana Rhoma Irama menyuarakan anti segala bentuk perjudian :
Judi! menjanjikan kemenangan
Judi menjanjikan kekayaan
Bohong! Bila engkau menang,
Itu awal dari kekalahan
Bohong! bila engkau kaya itu awal dari kemiskinan.

Dari departemen lirik  yang dijejalkan  Rhoma Irama pun mengubah kecenderungan pemaparan tema.Rhoma Irama  berubah menjadi bijak dengan pelbagai petuah beratmosfer moralitas.Hal ini diungkap pula oleh peneliti asal Amerika Serikat William H Frederick dalam tesis bertajuk “Rhoma Irama and the Dangdut Style : Aspects of Contemporary Indonesia Popular Culture” tersebut
. Since much of Oma’s songwriting was leading inescapably^toward both storytelling and moralizing, he was naturally intrigued with the notion of integrating story line more closely with the music, and making of the whole something more “serious.”
Dan akkhirnya kita pun mahfum bahwa Rhoma Irama menjadi sosok panutan ummat.Menjadi suri tauladan.
Rhoma Irama bagaikan trubadur,pemusik pengelana  yang bertutur lewat dendang lagu tentang apa saja.
Puncak pencapaian Rhoma Irama dalam berkarya adalah ketika dia memproklamirkan “Sound Of Moslem” pada tahun 1973 .Lirikk lirik yang ditulis Rhoma Irama   mulai terasa  menyelinap ke wilayah  religi.
Ini salah satu  keprihatinan Rhoma terhadap nilai keimanan muslim di abad modern yang tertuang dalam lirik  lagu bertajuk “Koran dan Qur’an” :
Kalau bicara tentang dunia ,aduhai pandai sekali
Tapi kalau bicara agama,mereka jadi alergi
Membaca Koran jadi kebutuhan
Sedang Al Qur’an Cuma perhiasan.
Rhoma Irama pada akhirnya mengingatkan kita akan sosok  Sunan Kalijaga yang menggunakan anasir seni untuk tujuan dakwah Islam.
Perkembangan Rhoma Irama terasa signifikan dalam konsep bertutur,dimana pada akhirnya kita pun memaklumi jika sesungguhnya Rhoma Ira memang telah  melakukand akwah lewat media  musik :
Segelintir orang yang haus akan kekuasaan
Membuah dunia penuh penderitaan
Hentikanlah penindásán, hentikan kezaliman
Kapan kiranya akan tegak keadilan
Dimana-mana hampir di seluruh punggung dunia
Terdengar suara keluhan manusia yang gelisah
Dimana-mana hampir di seluruh punggung dunia
Banyak manusia jádi mangsa dari sesamanya
Itu karena sang manusia sudah lupa kepada Penciptanya
Agama hanya pelengkap belaka
Manusia telah bertuhan dunia

Dan hari ini,pencapaian-pencapaian Rhoma Irama dalam dunia seni terutama musik masih bisa kita leretkan dalam persolan kreativitas yang menginspirasi siapa saja, termasuk juga bagi orang yang tak menyukai jenis musik yang dimainkan Rhoma Irama.

Selamat ulang tahun Bang Haji Rhoma Irama.