Archive for the ‘Koleksi’ Category

Trio Bersaudara Berdasarkan Zodiak

Posted: Desember 2, 2014 in Kisah, Koleksi

Trio Visca adalah kelompok vokal bersaudara yang terdiri atas Winny Prasetyo ,Widyawati Sophiaan  dan Ria Likumahuwa .Nama Visca diambil dari akronim zodiak ketiga bersaudara ini yaitu VIrgo,Scorpio dan CAncer.

Winny yang berbintang Virgo adalah yang paling sulung ,diilahirkan 28 Agustus 1947.Ria berbintang Scorpio dilahirkan pada tanggal 7 November 1948 dan yang bungsu Widyawati berbintang Cancer dilahirekan pada 12 Juli 1950.Trio ini terbentuk pada tahun 1965 dan mengikuti pola trio Motown ala The Supremes yang saat itu memang jadi perbincangan dunia.Trio Visca banyak menyerap pengaruh dan inspirasi dari The Supremes.

Album debutnya Black Is Black yang diambil dari lagu karya Michelle Grainger, Tony Hayes, Steve Wadey yang dipopulerkan Los Bravos tahun 1966.Trio Visca meremakenya di tahun 1968 lewat label Elshinta Record milik Soejoso Karsono a.k.a Mas Jos.Trio Visca diiringi oleh Orkes Gaja Remadja pimpinan Ireng Maulana..Ireng Maulana memberikan sentuhan pop dengan sedikit mengarah ke arah Pop R&B. serta beberapa malah diarahkan ke Latin Pop dan Bossanova  termasuk bernuansa blues ringan lewat lagu Boom Boom yang pernah menjadi hits di sekitar tahun 1962. 

Ada 12 track lagu di album ini,masing2 6 track di sisi A dan 6 track disisi B.Selain meremake atau menyanyikan ulang beberapa karya-karya mancanegara seperti Black Is Black,Boom Boom, Morgen Ben Ik De Bruid,Blame It On The Bossa Nova,Pretty Flamingo,Quizas Quizas Quizas, juga ada beberapa lagu karya W.Monrady seperti Tjinta Kasihku, Lambretta dan  Senjum Dikala Duka.Kemudian komposer Bambang D.E.S menyumbangkan lagu-lagu seperti  Mari Bergembira dan Putus Diudjung Tahun.  Juga ada Tjempaka karya Hamid.

Trio ini memiliki karakter kuat dalam harmoni vokal yang khas.Sayangnya Trio Visca hanya sempat merilis beberapa single 45 RPM dan sebuah album tunggal, setelah itu masing-masing personilnya mulai melakukan kegiatan yang berbeda.Widyawati memulai debut akting di layar lebar lewat film Pengantin Remadja di tahun 1971.Winny aktif berkegiatan di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini dikenal sebagai Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Ria yang kemudian sempat hengkang ke Bali.

Trio Visca terdiri atas Widyawati,Winny dan Ria

Trio Visca terdiri atas Widyawati,Winny dan Ria

Ini urutan tracklist album Trio Visca.
A1

Black Is Black

Songwriter – Michelle Grainger, Tony Hayes, Steve Wadey

2:37

A2

Morgen Ben Ik De Bruid

Songwriter – Adriaan van de Gein, Ger Rensen, Joop Luiten

3:15

A3

Blame It On The Bossa Nova

Songwriter – Cynthia Weil, Barry Mann

2:01

A4

Boom Boom

Songwriter – John Lee Hooker

2:25

A5

Pretty Flamingo

Songwriter – Mark Barkan

1:58

A6

Quizas Quizas Quizas

Songwriter – Osvaldo Farrés

2:04

B1

Mari Bergembira

Songwriter – Bambang D. E. S.

1:55

B2

Tjempaka

Songwriter – Hamid

2:49

B3

Tjinta Kasihku

Songwriter – W. Monrady*

2:18

B4

Senjum Dikala Duka

Songwriter – W. Monrady*

2:25

B5

Lambretta

Songwriter – W. Monrady*

2:02

B6

Putus Diudjung Tahun

Songwriter – Bambang D. E. S.

Saya dan piringan hitam Black Is Balck dari Trio Visca (Foto Agus WM).

Saya dan piringan hitam Black Is Balck dari Trio Visca (Foto Agus WM).

Mulai dari paruh era 60an ,lalu masuk  dasawarsa 70an hingga 80an  beberapa penyanyi Indonesia tercatat merekam album di Jerman Barat.Mulai dari kelompok jazz The Indonesian All Stars,Mogi Darusman,Vina Panduwinta serta kuartet Vanua Levu yang antara lain didukung dua penyanyi tenar Indonesia Duddy Iskandar dan January Christy.

Single Vanua Levu Shulu,Shululu

Single Vanua Levu Shulu,Shululu

Di tahun 1981 ada sebuah rilisan rekaman yang beredar secara internasional di Jerman Barat bertajukIsland Of Fantasy, sebuah album dengan materi musik crossover antara musik populer Hawaii dengan dikemas beat ala disko.Album ini berisikan sekitar 18 lagu .

vanua_levu-islands_of_fantasy

Ini ke 18 track album Vanua Levu :

Tracklist:

A1 Shulu, Shululu
Written-By – John Battes , Michael Zai
A2 Aloha Ohe
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
A3 Blue Moon
Written-By – R. Rodgers / Hart*
A4 Bali-Hai
Written-By – R. Rodgers / O. Hammerstein*
A5 Honolulu Love Song
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , N. Martinique*
A6 Suma Hama
Written-By – M. Love*
A7 Bananaboat Song
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
A8 Suki Yaki
Written-By – Ei Rokusuke , Nakamura Hachidai*
A9 Sleepy Lagoon
Written-By – E. Coates* , J. Lawrence*
B1 Jamaika Farewell
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B2 Islands Of Fantasy
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , N. Martinique*
B3 Hawaiian Rose (Danny Boy)
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B4 Only A Fool
Written-By – G. Kennedy*
B5 Island Of Dreams (There’s No More Corn On The Brassos)
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B6 Moonlight In Hawaii
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade*
B7 The Moon Of Manakoora
Written-By – A. Newman* , F. Loesser*
B8 Yellow Bird
Written-By – G. Pocorni* , H.-R. Schade* , K. Semreh* , N. Martinique*
B9 Vanua Levu

Vanua Levu juga merilisnya dalam beberapa format vinyl single.

VVVVV

Dua Penyiar Memuji Deddy Damhudi

Posted: September 23, 2014 in Koleksi, Opini

Ada yang menarik ketika membaca guratan tulisan liner note yang termaktub di cover belakang album debut penyanyi Deddy Damhudi bertajuk Kasih Bersemi yang dirilis perusahaan rekaman Remaco tahun 1968 dengan kode produksi RL-046.Karena liner note nya ditulis oleh dua penyiar radio terdepan saat itu.Mereka adalah Jul Chaidir penyiar Radio Republik Indonesia (RRI) dan Rusman Pandjaitan a.k.a JT Rusman penyiar radio ABC Australia seksi Indonesia di Melbourne. Kedua penyiar ini juga dianggap penikmat musik yang telaten dalam menyimak karya-karya musik.

LN

Nah mari kita simak isi liner note album Deddy Damhudi,salah satu penyanyi bersuara emas terbaik Indonesia :

Tidak selamanja djalan menudju ketenaran itu merupakan djalan jang lurus lempang,lebar dan rata.Tidak semua penjaji dapat mengalami atau melalui proses jang sama untuk naik ditangga ketenarannja. Djika dibanding kepada Tetty Kadi maka jang dialami Deddy Damhudi pastilah djauh berlainan. Namun djika kita melirik sebentar ke Ernie Djohan djelaslah persamaan djalan jang ditempuh Deddy Damhudi. Sebab baru bertahun-tahun setelah ia muntjul dan membawakan bermacam-macam lagu dan styl,namanya mendjulang tinggi dengan pesatnja. Begitulah kita dapat mempersamakan biduan djangkung dari Bandung ini apabila ingin melihat kemasa depannja. Suaranja jang tinggi liris dan memiliki vibra jang chas itu betul-betul mempesonakan dengan pembawaan jang memang datang dari seorang biduan jang telah masak.

Pengalamannja dibidang pemilihan Bintang Radio Daerah ataupun seluruh Indonesia memang tjukup hebat, karena beberapa kali ia memenangkan kedjuaraan.Uuntuk Daerah ia menangkan kedjuaraan pertama baik dibidang seriosa ataupun hiburan.

Sedangkan dalam kedjuaraan Indonesia,ia pernah mendapat Djuara ke  III .Berdasdarkan bakat,pengalaman ,teknik dan ketekunan jang ia miliki ,kita jakin bahwa kedudukan Deddy Damhudi pada masa depan ,tanpa mendahului ,pastilah masa depan jang baik

Jul Chaidir – JT Rusman

Cover depan album debut Deddy Damhudi (Foto Denny Sakrie)

Cover depan album debut Deddy Damhudi (Foto Denny Sakrie)

Saat  menemani God Bless latihan pada hari selasa 26 Agustus 2014 lalu, saya membawa kepingan single 45 RPM Clover Leaf. Achmad Albar yang akrab dengan panggilan Iyek menyungging senyum saaat saya memperlihatkan  rekaman lawas tersebut.

Di single bertajuk Tell The World,gitaris Ludwig LeMans bergabung dengan Clover Leaf untuk pertamakali (Foto Denny Sakrie)

Di single bertajuk Tell The World,gitaris Ludwig LeMans bergabung dengan Clover Leaf untuk pertamakali (Foto Denny Sakrie)

Sambil memegang single 45 RPM Clover Leaf “Tell The World yang dirilis Imperial Record ,Achmad Albar yang pernah menjadi vokalis band yang terbentuk di Belanda itu lalu bertutur tentang ikhwal Clover Leaf. “Clover Leaf itu sebetulnya memainkan musik pop bukan rock” urainya.Saat itu Clover Leaf hanya membuat vinyl single,imbuh Achmad Albar lagi.Lalu kemanakah personil Clover Leaf ?.”Waktu saya ke Belanda tahun 2011 saya masih bertemu mereka,tapi bassist Jacques Verburgt telah meninggal dunia.Dua tahun lalu Ludwig LeMans malah pernah ke Yogya dan Bali bersama keluarganya” cerita Achmad Albar yang membentuk band Clover Leaf di tahun 1968.Para personil Clover Leaf yaitu Achmad Albar (vokal utama),Ludwig Loetje LeMans (gitar),Roy Stubb (drummer),Eugène den Hoed ( gitaris),Jacques Verburgt(bassist),Marcel Lahaye (keyboard) dan Adrrie Voorheijen-( drummer).

Bersama vokalis Clover Leaf (1968-1972) Achmad Albar (Foto Denny Sakrie)

Bersama vokalis Clover Leaf (1968-1972) Achmad Albar (Foto Denny Sakrie)

Sembari memperhatikan cover Tell The World/Come Home, Achmad lalu mengimbuh cerita :”Di rekaman ini adalah untuk pertamakali muncul gitaris baru Clover Leaf Ludwig LeMans yang masuk menggantikan Eugene De Hoed.Ludwig ini lebih terampil main gitarnya.Dan dia punya touch rock yang kuat.Saat itu saya sudah melihat kemampuan bermain gitar Ludwig saat masih tergabung dalam kelompok  musik 19th Dimensions” urai Achmad Albar.

Disepanjang karirnya, Clover Leaf hanya merilis rekaman dalam bentuk single 45 RPM yang dirilis oleh label Polydor Belanda,Decca Record  dan Imperial Record .antara lain Time Will Show/Girl Where Are You Going To  (1969),Grey Cloud/ Love Really Changed Me  (1969),Don’t Spoil My Day/Sweeter Better  (1970),What Kind Of Man/Time Of Troubles  (1970),Tell The World/Come Home  (1971), Oh What A Day/Such A Good Place (1971) serta Makin’ Believe/Mister Lonesome (1972) dan single terakhir Clover Leaf adalah Woman/If You Meet Her (1973)

Don’t Spoil My Day yang kemudian bisa dianggap yang menjadi parameter kesuksesan Clover Leaf,karena lagu ini menjad hits yang dikenal hampir setiap orang saat itu.

Lagu lagu Clover Leaf sempat masuk chart di negara-negara Eropah.Bahkan Clover Leaf pun telah melakukan tur konser di Belgia,Jerman,Austria  dan beberapa negara Eropa lainnya.”Seingat saya banyak yang memuji Clover Leaf saat tampil diatas panggung” kenang Albar lagi.

Band ini ,kata Achmad Albar lalu vakuum dan  membubarkan diri tahun 1972.Tahun 1973 Achmad Albar dan sang gitaris Ludwig LeMans berlibur ke Jakarta.”Saat berlibur lalu saya tertarik untuk bikin band rock di Jakarta.Dengan menggunakan visa turis Ludwig LeMans jadi gitaris pertama God Bless.Setelah memperpanjang izin visa dua kali,akhirnya Ludwig saat itu balik ke Belanda dan tercatat hanya 6 bulan jadi anggota God Bless” ucap Achmad Albar siang kemarin di DSS Studio.

Koes Plus adalah band pop termasyhur dan paling banyak digemari khalayak disepanjang era 70an.Popularitas band yang dimotori keluarga Koeswoyo ini seolah tak terbendung lagi semenjak mereka berempat melebur diri menjadi Koes Plus dari Koes Bersaudara pada tahun 1969 dengan masuknya drummer Kasmuri atau Murry yang menggantikan Nomo Koeswoyo pada posisi drummer.Tak heran,jika Koes Plus jadi pusat sorotan siapa saja.Koes Plus ada dimana-mana.

Koes Plus memulai gerakan merchandising pada era 70an dengan meluncurkan buku-buku tulis bergambar Koes Plus (Foto Denny Sakrie)

Koes Plus memulai gerakan merchandising pada era 70an dengan meluncurkan buku-buku tulis bergambar Koes Plus (Foto Denny Sakrie)

Berkumandang di radio,muncul di TVRI yang satu-satunya itu,juga tampil dalam berbagai iklan termasuk menjadi cameo disejumlah film layar lebar seperti “Bing Slamet Setan Djalanan” (1971) maupun “A.M.B.I.S.I” (1973).Koes Plus yang jadi ikon musik pop itu juga terlihat dalam postcard maupun kartu mainan anak-anak serta menjadi sampul buku tulis anak sekolah.Jaman dulu memang belum dikenal istilah merchandise, tapi agaknya dengan ketenaran Koes Plus yang merajalela ini, benda-benda bernuansa Koes Plus tersebut rasanya tak salah jika dileretkan sebagai merchandise. Rasanya tak salah jika saya menyebut bahwa band pop dalam budaya pop di Indonesia yang pertamakali menghadirkan format merchandise adalah Koes Plus dengan segala pernak-perniknya itu.Mungkin item yang belum missal saat itu adalah kaos T seperti yang lazim ditawarkan oleh artis atau band-band sekarang.

Inilah buku buku tulis bersampul foto-foto Koes Plus yang muncul di sekitar tahun 1974 (Foto Denny Sakrie)

Inilah buku buku tulis bersampul foto-foto Koes Plus yang muncul di sekitar tahun 1974 (Foto Denny Sakrie)

Seingat saya buku-buku tulis bergambar Koes Plus yang dilengkapi dengan lirik-lirik lagu Koes Plus pada sampul bagian dalam mulai merebak pada sekitar tahun 1973-1974.Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 4 atau 5 SD.Patut diakui,sebagai anak kecil,saya tengah menggandrungi Koes Plus yang konsernya saya tonton langsung saat Koes Plus bermuhibah manggung ke Ujung Pandang pada sekitar tahun 1972 di Gedung Olahraga Mattoanging Ujung Pandang.Saya betul-betul terkesima menyaksikan penampilan Koes Plus yang terdiri atas Tonny Koeswoyo (gitar,organ,vokal),Yon Koeswoyo (vokal utama,gitar),Yok Koeswoyo (bass,vokal) dan Murry (drummer).Mereka berempat betul-betul dinamis dan atraktif dengan setumpuk lagu yang mudah dan gampang diikuti.Saya yang sebelumnya menggemari lagu-lagu Heintje,akhirnya mulai meninggalkannya dan beralih ke kuartet pop yang berasa; dari Tuban,Jawa Timur itu.
Nah,ketika akhirnya muncul buku-buku tulis bergambar pose-pose Koes Plus yang diimbuh tandatangan (printing tentunya) serta lirik-lirik lagunya, tak ayal lagi saya pun segera meminta uang pada orang tua saya untuk membeli buku-buku Koes Plus yang dipampangkan di etalase toka alat tulis menulis.
Rasa gembira dan puas menyatu saat buku-buku bergambar Koes Plus tersebut telah berada dalam genggaman. Buku-buku itu dicetak oleh Tiara Sakti.Seitidaknya ada sekitar lebih dari 10 ragam buku bergambar Koes Plus yang dijual sekitar Rp 10 atau Rp 15 perbuku. Uniknya,buku buku Koes Plus tersebut tak pernah saya pakai untuk menulis pelajaran di sekolah.jadi buku buku itu saya perlakukan hanya sebagai merchandise belaka.
Saking lakunya buku-buku bergambar Koes Plus saat itu,hingga akhirnya muncul buku-buku Koes Plus yang dibajak atau dipalsukan.Kontan percetakan Tiara Sakti yang memproduksi buku-buku Koes Plus itu lalu mulai mencantumkna semacam maklumat dalam salah satu sampul buku Koes Plus tersebut.

Buku tulis Koes Plus dengan sebuah maklumat untuk menangkal pembajakan (Foto Denny Sakrie)

Buku tulis Koes Plus dengan sebuah maklumat untuk menangkal pembajakan (Foto Denny Sakrie)

Bunyi tulisannya seperti ini :
Kepada semua penggemar band Koes Plus dimana saja berada ,kami,Tonny Koeswoyo,Jok Koeswoyo,John Koeswoyo dan Murry mengajak para penggemarnya untuk menikmati hasil persetujuan kami dengan menyerahkan kepercayaan kepada percetakan TIARA SAKTI di Jakarta berupa hasil opname foto dengan gaya (pose) serba baru berbentuk buku –buku tulis,postcard dan gambar-gambar poster. Bantuan percetakan Tiara Sakti dalam terselenggaranya maksud tersebut telah memberikan jaminan buku-buku tulis,postcard dan gambar-gambar poster yang serba indah untuk selalu dikenang oleh setiap penggemar band Koes Plus.Terimakasih .
Jakarta 29 Maret 1974

Group Band Koes Plus :

Tonny Koeswoyo                                    Jok Koeswoyo

John Koeswoyo                                      Murry

Dan buku-buku tulis bergambar Koes Plus ini lalu diikuti dengan munculnya buku-buku tulis bergambar band atau artis lainnya mulai dari Panbers,Ernie Djohan hingga pasangan Benyamin Sueb dan Ida Royani.
Inilah era awal merchandise dalam industri musik popular di Indonesia.Semuanya berawal dari band Koes Plus yang fenomenal.
Buku-buku Koes Plus ini Alhamdulillah masih saya simpan rapi hingga saat ini.

 

 

Di tahun 1972 perusahaan rekaman raksasa Remaco merilis album debut dari band dengan nama Fantasi.Band ini didukung oleh Jasir Sjam yang juga bertindak sebagai pimpinan band ,serta Minggoes Tahitoe,Robert De Fretes dan Jujun.Dua diantara pendukung Fantasi Band justru dikenal sebagai seoarng komposer atau penulis lagu-lagu pop. Keempat personil Fantasi Band juga tampil sebagai penyanyi.

fantasi1

Sayangnya album ini memang menjadi underrated.Bahkan album ini malah menjadi penghuni side B dari album Koes Plus.

Semua lagu yang termaktub di album ini merupakan karya dari Jasir Sjam

Ini tracklist album Fantasi Band :

Muka 1

1.Dengarkanlah

2.Gembira

3.Kembalilah Kasih

4.Datanglah

5.Apa Salahku

Muka 2

1.Tamasya

2.Berilah Harapan

3.Kukenang

4.Pelepas Rindu

5.Di Pantai

fan

Mungkin banyak yang tidak mengetahui keberadaan album ini.Mungkin ini adalah album solo dari bassist sekaligus vokalis Koes Bersaudara atau Koes Plus Yok Koeswoyo yang berbeda dengan konsep musik Koes Plus.Tajuk album ini yaitu “Nyanyian Hitam” agaknya telah menyiratkan isi lagu-lagu dalam album ini yang merupakan kolaborasi antara Yok Koeswoyo dan novelis Teguh Esha.Sosok Teguh Esha mulai diperbincangkan anak muda pada paruh era 70an saat meluncurkan novel Ali Topan Anak Jalanan yang kemudian dilayarlebarkan pada tahun 1977.

Album solo Yok Koeswoyo di tahun 1982 "Nyanyian Hitam" berkolaborasi dengan novelis Teguh Esha dan musik oleh Maroesja Naninggolan (Foto Denny Sakrie)

Album solo Yok Koeswoyo di tahun 1982 “Nyanyian Hitam” berkolaborasi dengan novelis Teguh Esha dan musik oleh Maroesja Naninggolan (Foto Denny Sakrie)

Teguh Esha juga dikenal sebagai penyebar istilah bahasa Prokem di kalangan anak muda terutama lewat narasi novel Ali Topan Anak Jalanan.
Syair-syair lagu yang ditulis Teguh Esha memang berkesan lugas dan terkadang gelap.Tersimak elemen protes maupun kritik sosial dalam karya-karya Teguh Esha, ambil contoh misalnya saat Teguh Esha berkolaborasi dengan penyanyi Mogi Darusman di tahun 1978 lewat album Aje Gile yang kemudian dibreidel pihak berwajib karena lirik-lirik lagunya yang mengkritik Pemerintah tanpa tedeng aling aling semisal pada lagu Rayap-Rayap yang liriknya mengkritik para koruptor di negeri ini.
Nah, nuansa seperti itulah yang tertuang dalam 9lagu yang ditulis Yok Koeswoyo bersama Teguh Esha pada album yang dirilis Purnama Record.
Lagu lagu itu adalah ,Lagu Anak Gedongan,Nyanyian Hitam,Balada Pondok Indah,Optimisme,Selamat Pagi Bunga Muda,Teratai Ditengah Luka,Buanglah Dukamu,Buku Biru dan Percintaan Selesai
Dari departemen musik sendiri album ini juga mengedepankan warna musik yang tak lazim dimainkan Yok Koeswoyo saat bersama Koes Bersaudara maupun Koes Plus.Di album ini,aransemen music digarap oleh pianis dan komposer klasik/kontemporer Maroesja Nainggolan dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Maruiesja yang khatam bermain piano klasik itu mengajak rekan-rekannya sealmamater dari IKJ ikut mendandani album Nyanyian Hitam Yok Koeswoyo ini.Mereka adalah Harry Sabar Tobing yang bermain drum dan perkusi,Robin Simangunsong juga bermain drum dan perkusi serta Jose memetik gitar dan menggesek cello.Baik Robin dan Jose adalah mahasiswa jurusan ilmu seni musik di IKJ dan juga anggota dari band progresif yang dibentuk Iwan Madjid yaitu Abbhama. Maroesja sendiri selain menjadi music director,menulis arransemen juga memainkan berbagai perangkat keyboard mulai dari piano hingga synthesizers.

Sayangnya album solo yang memikat ini ironisnya nyaris tak dikenal orang.Popularitas lagu-lagu Koes Plus yang massive agaknya menutup permukaan album Nyanyian Hitam ini.