Arsip untuk April, 2012

Konser Yes Diambang Senjakala

Posted: April 26, 2012 in Uncategorized
Steve Howe memainkan Fender Steel Guitar (Foto Nelwin Aldriansyah)Yes di Grand Ball Room Ritz Carlton (Foto Nelwin Aldriansyah)Tanpa kehadiran Jon Anderson Yes tetap Yes.Dan ini bukan untuk pertamakali Yes tampil tanpa Jon Anderson sang vokalis utama sekaligus founder dari Yes.Dibanding Trevor Horn atau Benoit David,dua vokalis yang pernah menggantikan posisi vokalis asli Yes Jon Anderson, maka Jon Davison yang tadinya adalah vokalis dari Roundabout,band tribute Yes Amerika tampaknya memiliki kemiripan dengan Jon Anderson.Mulai dari potongan rambut,postur tubuh,gaya berpakaian hingga timbre vokal.Dengan kehadiran Jon Davison yang sebetulnya juga terampil bermain bass ini setidaknya menjadikan dahaga para penggemar musik Yes yang memenuhi Grand Ball Room Ritz Carlton Pacific Place Jakarta pada selasa 24 April 2012 terpupuskan.”Tapi saya tak berusaha mengimitasi Jon Anderson,suara saya memang seperti ini” urai Jon Davison saat saya interview sehari sebelum konser digelar.
Ketika introduksi lagu Yours Is No Disgrace yang diambil dari album “The Yes Album” (1971) menggema di ruangan yang dipenuhi sekitar 1500 penonton itu applause riuh memenuhi segenap ruangan.Yes  yang  terdiri atas Chris Squire (bass,vokal),Steve Howe (gitar,steel guitar,mandolin),Alan White (drums),Geoffrey Downes (keyboard,vokal) memulai konsernya jam 20.30 WIB.Konser Yes di era 2012 ini jangan dibandingkan dengan saat jaya mereka dulu pada dekade 70an hingga 80an.Sebagian dari mereka memang sudah tidak muda lagi.Chris,Steve dan Alan telah memasuki usia kepala 6. Jadi tak heran jika pada lagu “And You And I” ( dari album  Close To The Edge 1971) dan “Heart of Sunrise”  (dari album Fragile,1971) pola drumming Alan White agak kendur bahkan cenderung lamban.Hal serupa juga terdengar dari respon bass yang ditorehkan Chris Squire. Energi mereka jelas tak seperti gumpalan magma yang menderitkan permukaan panggung lagi.Saat itu usia mereka baru menginjak kepala dua.Stamina masih meletup-letup.Sangat tidak bijaksana jika menilai musikalitas mereka disaat sebagian anggota Yes telah diambang senja.
Saat pertunjukan berlangsung sebagian penonton membagi komentar di social media seperti twitter dan facebook,mulai dari yang memuja kepiawaian Yes dalam bermusik yang tak luntur hingga yang merasa kecewa dengan degradasi stamina dari personil Yes saat tampil di pentas pertunjukan.Salah satu twit berbunyi seperti ini : Akhirnya gw harus meninggalkan Concert Yes lebih awal karena mereka sdh kehilangan rohnya….
Mungkin sebagian penonton masih terpukau dengan kemercuaran pentas Yes era 70an yang tata artistiknya ditangani dan digarap langsung oleh seniman grafis terkenal Roger Dean,orang yang jugta merancang sebagian besar sampul album dan juga logo Yes.
Namun yang pantas dicatat adalah bentuk konsistensi Yes meniti genre musik yang mereka pilih sejak terbentuk di tahun 1968 oleh Jon Anderson dan Chris Squire.Benang merahnya tetap rock progresif.Tapi tetap membentuk transformasi yang bergeser dari era ke era. Sejak merilis album “Tormato” di tahun 1978 Yes mulai menghilang kebiasaan menulis lagu dengan durasi panjang. Ditahun 1983 Yes mulai menyeruak ke dalam aura musik yang lebih light dan catchy lewat album “90125”,tentunya lewat lagu “Owner Of A Lonely Heart” dengan sound yang lebih tebal kekiniannya lewat racikan gitar Trevor Rabin.
“Kami memang selalu berubah dan berubah” timpal Chris Squire saat wawancara dengan saya di Grand Ball Room Ritz Carlton.Saya mahfum.Yes pernah mengubah arahan musiknya menjadi lebih tebal dan keras pada saat pembuatan album “Drama” (1980).Salah satu lagu dari album “Drama” pun dihadirkan semalam yaitu ”Tempus Fugit”, saat itu Yes baru saja merekrut Geoffrey Downes dan Trevorn Horn sebagai personil baru Yes.Permainan gitar Steve Howe seolah meninggalkan habitatnya sebagai gitaris progresif rock,lebih keras dan lugas.Terbentuknya band Asia di tahun 1982 sebetulnya seperti ingin memenuhi obsesi Steve Howe dan Geoff Downes untuk menampilkan nuansa rock yang sifatnya lebih massal.
Repertoar yang ditampilkan Yes dalam konser yang digelar oleh Variant Entertaintmen dan Melon Indonesia ini seperti ingin menghampar kronologis perjalanan music Yes dari dulu hingga sekarang.Dari saat mereka disanjung sebagai band progresif rock terdepan di era 70an hingga gelimang popularitas di era 80an saat memasuki wilayah rock yang cenderung mainstream dan massive.Struktur lagu yang cenderung epic pada era 70an tertuang pada lagu “And You And I” yang dipilah dalam 4 part yaitu “Cord of Life” ,”Eclipse”,”The Preacher The Teacher” dan “Apocalypse “ atau  lagu “Heart of Sunrise” yang berdurasi sekitar 12 menit itu
Yes ,semalam,tampaknya ingin memberikan pelajaran pada penonton bahwa mereka adalah salah satu dari pelopor progresif rock dizamannya.Saya mencatat setidaknya ada 4 komposisi yang diambil dari album “The Yes Album” (1971) yaitu Yours Is No Disgrace”,”I”ve Seen All Good People”,The Clap” dan “Starship Trooper”.Lagu yang disebut terakhir ini selalu dibawakan Yes saat manggung dari era 70an hingga kini.Lagu ini menurut saya merupakan masterpiece Yes yang tetap hijau.Lagu dengan durasi lebih dari 10 menit ini terbagi dalam 3 movement yaitu “Life Seeker”,”Disilussion” dan “Wurm” yang masing masing ditulis oleh Jon Anderson,Chris Squire dan Steve Howe. Saat di panggung bagi saya yang menarik adalah pada movement “Wurm” yang menampilkan permainan gitar Steve Howe dengan aura spacey lewat efek flanger yang membuat kita seperti terpental ke awang-awang.
Steve Howe menjadi fokus perhatian dalam konser Yes yang pertamakali dilangsungkan di Jakarta.Howe mengedepankan permainan Fender steel guitar yang dimainkan dengan menggunakan slide pada lagu “And You And I”.Bahkan Howe bermain solo gitar akustik dengan gitar Theo Scharpach SKD masing-masing lagu “Solitaire” yang diambil dari album “Fly From Here” dan “The Clap” dari album “The Yes Album”.Lagu “The Clap” ini menurut Steve Howe ditulis untuk menyambut kelihatan putranya Dylan Howe.Komposisi akustik folk ini sangat dipengaruhi lagu “Fingerbuster” Davy Graham,gitaris folk Inggeris .
Karena tur konser ini dikaitkan dengan promo album “Fly From Here”,Yes banyak menampilkan lagu lagu dari album tersebut.Meskipun sebagian penonton kurang mengenal lagu-lagunya.Toh ketika Yes membawakan “We Can Fly From Here” yang terdiri atas 5 bagian suita serta lagu lainnya seperti “Into The Storm” maupun,”Life On A Fim Set”,penonton tetap memberikan respon applause.
Apaluse berkepanjangan dan diikuti dengan karaoke massal berlangsung saat “Owner Of The Lonely Heart” dijejalkan ke penjuru ruang Grand Ballroom.Lagu ini memang merupakan lagu yang paling sukses disepanjang perjalanan musik Yes.
Tanpa terasa sekitar 150 menit Yes memperlihatkan kemampuan musikal yang luar biasa.Encore Roundabout pun disambut penonton penuh sukacita. Komposisi yang memiliki cadenza ini seolah sebuah kantata yang dinyanyikan dalam ritual komunitas.Meski tanpa lighting dan tata panggung yang surealis seperti yang telah menjadi trademark panggung Yes bertahun-tahun,toh dengan repertoar yang representative diimbuh multimedia yang terus melatari penampilan Yes,rasanya band ini masih tetap yes……!!!!.
 
Foto Foto : Nelwin Aldriansyah
 
 
Iklan

Akhirnya Yes,band rock progresif legendaris Inggeris menginjakkan kaki juga di Jakarta 23 April kemarin setelah melakukan konser di Jepang 21 April.Tur konser Yes ini berkaitan dengan promo album terakhir mereka “Fly From Here” yang dirilis Juli 2011.Yes yang terdiri atas Chris Squire (bass,suara latar),Steve Howe (gitar,suara latar),Alan White (drums),Geoffrey Downes (keyboards) dan  Jon Davison (vokalis) merupakan formasi terbaru di tahun 2012 sejak dibentuk di London oleh Chris Squire dan Jon Anderson,sang vokalis yang mundur dari Yes pada tahun 2004.Mereka memang sudah tidak muda lagi,Chris Squire telah berusia 64 tahun ,Alan White berusia 62 tahun,Geoff Downes berusia 59 tahun dan yang paling tua adalah Steve Howe 65 tahun.

Senin 23 April bertempat di Grand Ballroom Ritz Carlton Hotel Pacific Place Jakarta saya sekitar setengah jam  melakukan interview eksklusif dengan kelima personil Yes.

Q : Yes telah memasuki usia 44 tahun,tapi masih tetap eksis.Masih bikin album dan juga masih melakukan tur.Apa yang membuat Yes bisa bertahan sekian lama ?

 

Chris Squire  : Well,mungkin karena Yes itu ibaratnya sebuah keluarga.Meskipun mungkin keluarga bisa terjadi perpisahan tapi yang namanya ikatan batin tak akan pernah lepas.Tetap ada.Yes sejak tahun 1968 hingga sekarang ini telah berkali-kali terjadi pergantian formasi.Tapi nama Yes tetap ada.Yes tetap ada di dunia musik

Alan White : Seingat saya sekitar 18 pemusik keluar masuk,datang dan pergi,berulang ulang kali dalam formasi Yes.Tapi kami tetap tak pernah pecah.

Steve Howe : Saat Jon Anderson sakit di tahun 2004, kami memang cukup lama vakum.Ada 4 tahun Yes vakum tanpa bikin album juga manggung.Tapi kami tetap bermusik.Saya misalnya bersama Geoff Downes kembali menghidupkan Asia di tahun 2006 bersama Carl Palmer dan John Wetton.

Chris Squire : Saya pun mengambil kekosongan waktu Yes dengan reuni bersama band saya sebelum Yes dulu yaitu The Syn  bersama Peter Banks yang pernah jadi gitaris Yes formasi awal .

Alan White : Saya bahkan sempat bikin band baru bersama Geoff Downes dengan nama White he he he……

Q : Apakah ada hikmah dibalik pergeseran personil yang cukup sering ini ?

Chris Squire : Justeru ada progress dalam konsep musik Yes.Setiap masuknya personil baru, masuk pula sound sound baru.Ini justeru memperkaya konsep music Yes.Misalnya ketika Patrick Moraz masuk di tahun 1974 musik Yes jadi agak berubah.Ada yang bilang lebih etnikal.Ada yang bilang ada elemen jazznya.Juga ketika era Trevor Horn dan Geoff Downes masuk di tahun 1980 musik Yes jadi lebih fashionable.Bahkan Yes menjadi band yang lebih pop saat Trevor Rabin masuk di tahun 1983.Penikmat musik Yes jadi lebih bertambah ,tidak hanya itu itu saja.Menurut saya transformasi yang ada dalam Yes menjadikan band ini selalu berubah dan berubah.Jangan jangan perubahan perubahan ini yang membuat Yes tetap bertahan hingga kini.Walupun sebetulnya kami pernah mengalami masa stagnan yang akut.Itu terjadi di awal era 80an dan dipertengahan era 2000an.Tapi masa masa kritis itu toh bisa dilalui juga.

Q : Saya amati ternyata yang banyak berganti adalah divisi keyboards.Kenapa ?

Chris Squire : Mungkin itu kebetulan saja.Tapi iya ya banyak pemain keyboard yang keluar masuk Yes ha ha ha

Geoff Downes : Saya melihat Yes adalah band progresif yang selalu membutuhkan unsure keyboards terutama karena band ini sejak awal memang memilih gaya rock yang lebih simfonik.Sebagai pemain keyboards saya merasa tertantang ketika Yes memilih saya untuk bergabung menggantikan Rick Wakeman di tahun 1980.Seingat saya Yes saat itu mengingankan perubahan dalam direksi musiknya.

Chris Squire : Iya di akhir era 70an,saya serta Alan dan Steve merasa musik Yes stagnan.Terlalu kuno.Lebih lunak dengan tema tema fantasi yang sudah tak sesuai dengan zamannya.Kami ingin sesautu yang lebih heavy dan lugas.Anderson dan Wakeman tetap bertahan dengan warna musik yang lebih melankolia.Akhirnya mereka berdua mundur dari Yes.Itulah kenapa muncul album Drama yang lebih keras dan ngerock

Q Tapi formasi Drama tidak lama.Kenapa ?

Geoff Downes : Trevor Horn lebih suka sebagai orang dibalik layar.Dia lebih cocok jadi produser album ternyata ha ha ha.Dan itu terbukti benar….Dan oh ya seingat saya Chris dan Alan meninggalkan saya dan Steve di Yes.

Steve Howe : Ha ha ha iya betul.Saya dan Geoff kemudian berinisiatif bikin band berskala arena seperti Journey.Muncullah Carl Palmer dari ELP dan John Wetton yang memang malang meliuntang diberbagai band.Kami berempat kemudian melahirkan band Asia….

Chris Squire : Saya lihat Asia sukses.Bener bener band rock yang lebih ngepop dengan jumlah penonton yang melimpah di arena stadium.Ini menggugah saya untuk membentuk band seperti Asia.

Alan White : Kebetulan kami bertemu dengan seorang pemusik berbakat asal Afrika Selatan.Dia itu multi instrumentalis dan juga seorang composer yang bagus.Namanya Trevor Rabin.

Chris Squire : Saya lalu mengajak Tony Kaye,pemain keyboard Yes dulu.Juga mengajak Trevor Horn sebagai produser.Band ini lalu diberinama Cinema.Saya dan Rabin juga menyanyi.Kemudian saat bertemu Jon Anderson disebuah pesta,saya memperdengarkan lagu-lagu baru Cinema dan mengajaknya bergabung.

Alan White : Kita pun sepakat kembali memakai nama Yes.Sedangkan Cinema akhirnya menjadi salah satu judul lagu di album 90125 yang ternyata berhasil sukses secara komersial.

Q : Setelah Jon Anderson mundur karena sakit di tahun 2004,Yes kenapa malah memilih beberapa vokalis dari band band tribute Yes ?

Chris Squire : Itu juga bukan karena disenagaja.Kami melihat Close To The Edge,band Kanada yang selalu membawakan repertoar Yes.Saya suka dengan karakter suara Benoit David si vokalis  bukan karena mirip Jon tapi karena lagu-lagu yang kami bikin tampaknya sesuai dengan karakter vokal Benoit David .

Geoff Downess : Saya pun tertarik dengan karakter vokal David.Sejak saat itu kami lalu berniat merilis album lagi.Kebetulan saya masih memiliki demo lagu “We Can Fly From Here”.Lagu ini saya bikin bersama Trevor Horn saat Yes mengajak kami berdua bergabung di tahun 1980.Lagu ini kami buat dengan gaya Yes yang telah kami bayangkan sejak awal.Tapi lagu ini batal dimasukkan pada album Drama.Saya berdiskusi dengan Chris bagaimana kalau lagu ini digarap ulang dan menjadi tema album terbaru Yes “Fly From Here”.Chris setuju.Penggarapan lagu yang kemudian terdiri atas 5 suites ini juga didukung Trevor Horn yang bertindak sebagai produser album.Sayangnya Benoit David tak bisa lama bergabung dengan Yes karena sakit.Akhirnya kami mencari vokalis baru lagi.

Chris Squire : Muncullah Jon Davison yang ternyata memang penggemar fanatik Yes.Jon ini adalah teman kecil dari drummer Foo Fighter Taylor Hawkins.Jon juga tergabung dalam tribute band Yes bernama Roundabout.Taylor merekomendasikan Jon ke saya.Selain menyanyi Jon juga bermain bass.Tapi jelas saya tidak mengizinkan dia bermain bass di Yes ha ha ha.

Q :  Apa perasaan anda diajak bergabung dalam Yes ?

Jon Davison : Wow…..pastilah saya bahagia.Sejak kecil saya sudah mendengarkan Yes melalui vinyl milik orang tua saya.Siapa yang menduga bahwa saya akhirnya bisa bergabung dengan Yes…..

Q : Apakah anda berusaha mengimitasi suara Jon Anderson saat menyanyikan repertoar Yes bersama Roundabout Band ?

Jon Davison : Saya tidak berusaha untuk mengimitasi suara Anderson.Suara saya memang begini.Tone vokal saya memang mendekati Anderson tapi tidak mirip he he he

Q : Apakah anda terlibat juga dalam penulisan lagu di Yes ?

Jon Davison : Belum tampaknya he he he

Q : Apakah perbedaan antara  Jon Anderson dan Jon Davison ?

Chris Squire : Saya kira perbedaannya adalah Davison jauh lebih muda ha ha ha

Alan White : Bergabungnya Davison menjadikan saya bukan lagi anggota Yes yang termuda ha ha ha.

Q : Apakah yang akan Yes tampilkan dalam konser nanti malam ?

Chris Squire : Well,kami akan membawakan lagu dari album terbaru “Fly From Here” juga repertoar Yes di era 70an hingga 80an

Q : Apakah diantaranya ada Tempus Fugit ? Atau Starship Trooper ?

Chris Squire : Yeah….absolutely !

Thanks to Mamet Budi (photographer)

99 Sampul Indonesi Terbaik

Posted: April 24, 2012 in Uncategorized

Demikian tulis David Howells, seorang tokoh perupa dalam buku The Album Cover (penerbit St. Martin Press 1984).

Harus kita akui bahwa ada bobot yang menyeruak dalam sampul yang digarap oleh para perancang grafis. Bobot itu tak berlebihan jika kita anggap setara dengan tren musik yang merebak di era-era tertentu. Artinya, rancangan sampul album tak berjalan sendirian tanpa terkait dengan pencapaian industri musik itu sendiri. Seni aplikasi maupun pengembangan gayanya bisa ditelisik dari kiprah perancang grafis yang berpengaruh di era-era tersebut.

Mulai dari Alex Steinweiss yang memelopori kemasan album pada akhir era ’30-an. Dan pada era ’40-an, Stenweiss merancang standarisasi sampul album untuk piringan hitam berukuran 30×30 cm. Di era ’50-an muncul sosok seperti Reid Miles dan David Stone Martin. Di era ’60-an ada Carl Schenkel dan Rick Griffin. Lalu di era ’70-an ada nama-nama tersohor mulai dari Andy Warhol, Roger Dean hingga Hipgnosis. Di era ’80-an ada Peter Saville. Di era ’90-an ada David James, Carlos Segura dan Robert Fisher.

Dalam perjalanannya, rancangan sampul album sudah pasti memuat pergeseran – pergeseran mulai dari paradigm cultura hingga gaya desain, dari era satu ke era lainnya. Di Indonesia sendiri ketika industri musik mulai menggeliat di paruh era ’50-an dengan munculnya perekam-perekam lokal seperti Irama dan Lokananta, kreativitas seni menggarap sampul album pun muncul berbarengan meski belum disadari secara serius.

Antara era ’50-an hingga 60-an muncul beberapa nama yang merancang desain grafis album-album Indonesia dalam format vinyl atau piringan hitam, seperti Imam Kartolo, Pandji Kamal, Handiyanto, Sjamsuddin, Jan Mintaraga, Djoko Prass, Sugandhi dan beberapa lainnya.

Patut disayangkan tak semua sampul album menuliskan kredit untuk perancang grafis. Untuk kepentingan apresiasi dan dokumentasi, hal tersebut jelas sangat mengganggu. Kemungkinan tak tercantumnya nama perancang grafis dalam sampul album karena posisi ini tidak dianggap penting dalam sebuah produksi rekaman.

Di era ’70-an, dalam deretan perancang grafis muncul nama-nama seperti Markus Sudjoko, Gauri Nasution, Tara Sutrisno, Firman Ichsan, Samsudin Hardjakusuma, A Kusuma Murad Handoyo, AD Pirous, Ayik Soegeng, Didik Christ dan Lesin. Di era ’80-an muncullah Cahyono Abdi hingga Boedi Soesatyo, Di era ’90-an muncuk Dik Doank, Jay Subiakto, Dimas Djayadiningrat hingga ke era 2000 ada Tepan Kobain, Tandun, Mayumi Haryoto, Dedidude, Jimi Multhazam, Hendry Foundation, David Tarigan, Wok The Rock, Ryoichie, Republik of Rock, Turi Ismanto dan masih sederet panjang lagi.

Kami di Rolling Stone Indonesia menyempatkan diri untuk mengulas sampul-sampul album yang dirilis dalam industri musik Indonesia dari era ’60-an hingga sekarang. Sebanyakan 99 sampul album kami pilih tanpa membuat ranking atau urutan siapa nomor 1 dan siapa nomor 99. Kami menampilkan 99 sampul album Indonesia terbaik menurut kami, berdasarkan abjad dari nama yang masuk dalam daftar ini.

Dibantu oleh Arian Arifin (seniman, vokalis seringai), David Tarigan (seniman, kolektor musik) dan Denny Sakrie, kami berupaya menelisik sejumlah sampul album yang pernah dirilis. Hal yang tak gampang. Bisa jadi ini menjadi sesuatu yang subjektif dan menimbulkan muara perdebatan, tapi kami toh tetap merasa perlu melakukannya selain sebagai upaya dokumentasi, juga termasuk upaya edukasi untuk generasi sekarang dan tentunya sebuah apresiasi. Menurut hemat kami, sebagaimana musik, maka sampul album pun mampu menunjukkan zaman.Imagea T

Sampul album Frau “Starlit Carousel” ,seorang singer/songwriter dari Yogyakarta mengusik perhatian saya sejak album ini dirilis dua tahun lalu.Saat majalah Rolling Stone meminta kesediaan saya sebagai tim pemilih sampul album musik Indonesia terbaik,saya memang telah memberikan stabillo boss untuk sampul album Frau ini.Bersama dengan pemilih lainnya yaitu David Tarigan dan Arian Arifin, kami sepakat memilih sampul album Frau ini sebagai bagian dari 99 Sampul Album Musik Indonesia Terbaik.
Setelah proses pemilihan 99 Sampul Indonesia Terbaik itu,saya lalu menghubungi Gufi manajer Frau,meminta informasi siapa sosok dibalik gagasan sampul album Frau ini.Akhirnya Gufi menginformasikan bahwa Wowok alias Wok The Rock salah satu penggagas Yes No Wave sebuah net label,adalah orang yang berada dibalik penggarapan sampul album Frau.
Ketika menghubungi Wok The Rock via twitter,Wowok ternyata sedang berada di Australia.Akhirnya saya berdilaog dengan Wowok melalui surat elektronik.
Dan inilah kutipannya.Yuk kita baca bersama :

Aku coba merangkai cerita tentang cover album nya Frau “Starlit Carousel” ya.
Antara konsep visual dan musik Frau sebenarnya tidak terkait langsung. Saya mencoba mencapai nuansa yang sama dengan konsep musiknya Frau, bukan menterjemahkan atau menggambarkan konsep musik dan pesan yang terkandung dalam lagu-lagunya. Pertamakali saya mendengarkan lagu-lagunya Frau, saya teringat akan semangat anti-folk nya Regina Spektor -yang kemudian saya ketahui dari Lani kalo dia memang terinspirasi juga oleh Regina. Namun,Lani tidak berhaluan ‘anti-folk’ sebagai sebuah genre atau movement. Lani suka apa adanya meski tak bisa dielakan dia sungguh membawakan musiknya dalam suasana yang sakral dan elegan. Elegan, sakral tapi nakal dan apa adanya. Kombinasi yang sangat saya sukai dalam berkarya visual juga.
 
Saya seniman yang tertarik dengan konsep apropriasi. Sebuah semangat berkesenian yang dipelopori oleh seniman-seniman dadaisme dan fluxus. Mencerap suatu imaji yang populer untuk kemudian ‘dikerjain’ dengan tujuan memicu sebuah anti-tesis.
 
Artwork album Starlit Carousel ini awalnya dibuat untuk format MP3 yang dirilis digital di Yes No Wave Music. Artwork menampilkan sebuah foto yang merupakan apropriasi dari karya fotografer fashion papan atas dari perancis, Guy Bourdin. Beliau fotografer fashion favorit saya setelah Helmut Newton. Karya Guy Bourdin ini menampilkan seorang perempuan dengan gaun pesta sedang terkapar kejatuhan lukisan (http://www.lookonline.com/bourdin-toporiginal.jpg). Bagi saya, foto ini mengemukakan bahwa seni murni yang didominasi oleh lukisan sudah sangat angkuh dan sakral ini bisa jatuh menimpa sosok sosialita yang memujanya. Meski berniat anti-tesis atas dunia seni rupa murni (lukisan) yang kokoh, toh karya foto mas Guy Bourndin ini pun akhirnya menempati posisi yang sama. (dalam lingkup seni visual, fotografi dan seni media lainnya memang termarjinalkan). Untuk itu saya kemudian ‘ngerjain’ karya ini. Modelnya bukan sosialita dengan gaun pesta. Tapi seorang gadis lugu dengan dandanan yg mencoba elegan tapi pas-pas-an (gaya dandanan ‘cantik’ yang umum ditemui di fakultas seni, filsafat dan sastra di Jogja). Gambar dari lukisan yang jatuh saya ganti dengan karya foto Guy Bourdin tersebut. Saya tambahkan handphone dalam foto tersebut untuk mengidentifikasi sebuah era, era dimana orang lebih suka menatap layar kecil dibanding tatap muka dalam berkomunikasi. Sebuah anti-tesis tentang dunia seni rupa kontemporer dan keangkuhan high culture.
 
Saya dan lani kemudian bereksperimen dengan industri musik. Album udah disebarkan gratis dalam format digital. Apakah akan ada yang beli jika dibikin versi fisiknya? Saya meyakinkan lani, bahwa orang Indonesia adalah pemuja benda, masyarakat yang fetish. Jika CD ini memiliki baju yang unik, saya yakin orang pasti ingin memilikinya. Bukan lagi membeli musik, tapi membeli bajunya (kemasannya). Dari situ saya merancang kemasan yang unik, namun tetap pas jika ditaruh di rak CD pada umumnya. Hal ini memudahkan orang dalam meletakkan dan menyimpan barang dengan ringkas. Format kemasan meniru buku lagu2 dari agama kristen seperti Puji Syukur, Madah Bakti, dll. Hal ini untuk memberi nuansa suara musik Frau yang agung. Karena saya juga ingin menampilkan foto yg ada di cover versi digital, kemudian saya tampilkan foto tersebut dalam bentuk pop-up sepeti kartu2 ucapan. Desain lirik lagu dalam lingkaran yang berputar adalah usulan dari Lani yang tujuannya untuk menampilkan konsep carousel.
 
begitu ceritanya.. maaf jadi nulisnya ngalor-ngidul nih.. tapi emang harus diceritain panjang lebar begini. ohya, catatan: foto Guy Bourdin yang saya pakai ini tidak memiliki ijin dari beliau. Jika CD ini diedarkan di eropa atau US, aku pikir akan bermasalah… artinya saya harus bayar royalty atau meminta ijin dari pemegang hak cipta karyanya.Nah kita telah menguak gagasan yang dilontarkan Wowok yang menggarap konsep sampul album Frau “Carousel”……
 Image
Interpretasi Wowok untuk karya grafis Guy Bourdin pada sampul album Frau

Fenomena Fariz

Posted: April 19, 2012 in Tinjau Album

Setiap karya Fariz RM,menurut saya,selalu menjadi fenomena.Masih ingat awal pemunculan Fariz sebagai artis solo ditahun 1979 lewat album “Selangkah Ke Seberang”  ? .Konsep musiknya telah menghela kredo musikal futuristik. Bayangkan,Fariz nyaris melakukan segalanya.Dia menulis lagu, sekaligus memainkan pelbagai perangkat musik serta bernyanyi.

Jatidiri musiknya kian mengkristal saat merilis album debut “Sakura” di tahun 1980.Ada secercah atmosfer baru dalam musik Fariz yang disumbangkan pada khazanah musik Indonesia saat itu .

Pertengahan dasawarsa 80an Fariz kembali menggurat fenomena dengan eksperimentasi music yang menghasilkan  musik lewat bantuan MIDI,sebuah system programming yang mempermudah memainkan perangkat musik secara simultan dalam sebuah kendali.

Sejak awal bergelut di dunia musik , Fariz memilih memainkan musik apa saja  tanpa sekat genre sedikitpun.Fariz bermain genre pop,R&B,soul funk,blues,rock bahkan  jazz sekalipun .

Pilihan bermusik semacam ini  setidaknya menjadikan pergaulan musik Fariz menjadi lebih luas dan lebar. Fariz bisa bermain dan berkolaborasi dengan pemusik mana saja.

Fariz tetap konsisten dengan paradigma musiknya.Dia tetap menyeruak dalam kekinian yang secara lentur diadaptasinya dalam gaya bermusiknya yang tetap kukuh dan ajeg.

Jika anda menyimak penampilan mutakhir Fariz dalam album Fenomena yang musiknya ditata oleh Erwin Gutawa,dipastikan anda akan mahfum bahwa mempertahankan jatidiri bisa dilakukan dengan berkolaborasi bersama pemusik lintas generasi.Toh dengan suasana yang terasa lebih kiwari tak serta merta berubah menjadi cadar yang menutupi perangai musik yang sesungguhnya.

Kerjasama Fariz dengan Erwin Gutawa memang patut dikaji sebagai sebuah persandingan yang saling mengisi.Keduanya pernah direkat dalam sebuah kerjasama musik di awal era 80an.Di tahun 1981 Fariz mengamati potensi beberapa bakat-bakat musik yang mencuat dari tembok sekolah lewat berbagai ajang kompetisi band antar sekolah yang kerap diadakan saat itu.

Syahdan Fariz mengajak satu persatu pemusik berseragam sekolah ini bergabung dalam band yang kemudian diberinama Transs, salah satu diantaranya adalah Erwin Gutawa yang permainan bassnya diatas rata-rata itu.Transs kemudian menceburkan diri pada industri musik rekaman.

Siapa nyana 30 tahun berselang Fariz dipertemukan kembali dengan Erwin Gutawa dalam proyek musik yang melibatkan begitu banyak talenta musik dari berbagai genre di negeri ini.

Fariz masih tetap bernyanyi,masih tetap bikin lagu dan masih tetap memainkan beberapa perangkat musik.Tapi,Fariz tidak lagi seperti Fariz yang dulu,yang melakoni semua bidang dalam sebuah proses  rekaman.Kini peran peran yang dulu kerap diborongnya sendiri,mulai terpilah-pilah ke sederet pemusik yang ikut berkontribusi di album ini.Untuk penulisan lagu,terlihat sederet komposer belia yang juga telah memiliki hits seperti Glenn Fredly hingga Pongki Barata  serta komposer berbakat lainnya seperti Bemby Noor,Andre Dinuth dan Teguh D.

Pemusik yang mendukung album ini pun beragam mulai dari yang bergenre pop,rock hingga jazz.Mereka antara lain adalah Barry Likumahuwa,Nikita Dompas,Rayendra Sunito,Echa Soemantri,Indro Hardjodikoro,Andre Dinuth,Budi “Drive” Rahardjo,Edi Kemput,Denny Chasmala ,Eugene Bonty,Adhitya Pratama, Ronald Fristianto dan masih banyak lagi.

Lagu “Fenomena” diimbuh dengan aransemen modern rock yang genial.Lagu ini tampaknya membidik pendengar dari dua kubu berbeda : generasi sekarang dan generasi penikmat music Fariz di era 80an.Simak pula dua ballad yang menawarkan aura adult contemporary yaitu “Terindah” karya Glenn Fredly dan Andre Dinuth serta “Hati Yang Terang” karya Pongki Barata. Lagu yang disebut terakhir menjadi lebih bernyawa dengan sentuhan string orchestra dari Prague Concerts Orchestra.

Di album ini Fariz mendaur ulang dua karyanya di masa lalu yaitu “Belenggu Perjalanan” dari album “Sakura” (1980) serta “Selangkah Ke Seberang” dari album “Selangkah Ke Seberang” (1979). Kedua lagu ini terasa kental benang merah soul funknya.Maklumlah di zamannya ,pengaruh kelompok soul funk Earth Wind & Fire sangat menginspirasi pemusik kita.Arransemen big band dengan aksentuasi horn section yang lugas mempertegas kekuatan lagu “Selangkah Ke Seberang” yang diambil secara live pada saat Fariz RM tampil bersama Erwin Gutawa Big Band di ajang Java Jazz International Festival 2011.

Album “Fenomena” ini terdiri atas satu keping CD yang berisikan 10 lagu disertai 2 keping DVD masing-masing berisikan rekaman konser Fariz RM dan Erwin Gutawa di Java Jazz 2012 serta videoklip “Fenomena” dan Behind The Album.

Seperti biasa,seorang Erwin Gutawa tampak hirau dengan pernak pernik tata aransemen secara detil.Erwin Gutawa tampaknya berupaya keras memintal berbagai benang seperti lagu,arransemen musik serta pemusik pendukung menjadi sebuah kesatuan busana yang harmonal untuk  jatidiri Fariz RM .

Kematangan jelas menyemburat dari sosok pemusik kompilt Fariz RM yang menghadirkan karya terbarunya di usia kepala lima.Sekaligus membuktikian bahwa pemusik yang telah matang masih memiliki ruang dalam industri musik.Karena berkarya tak mengenal usia.

Selamat menikmati Fenomena – FarizImage

Sekitar April tahun 2007,Indrawati Widjaja pemilik label Musica Studio’s yang kerap dipanggil Bu Acin menelpon saya.Dia mengabarkan akan membuat semacam boxset retrospektif album-album Chrisye yang pernah dirilis Musica Studio’s dalam kurun waktu 1978 hingga 2004.
Wah ini rencana luar biasa yang patut didukung.Kenapa ? Pertama ,Chrisye adalah pemusik yang saya kagumi sejak namanya mencuat lewat album eksperimental Bali Rock Guruh Gipsy di tahun 1977 serta dua proyek musiki lainnya yaitu Badai Pasti Berlalu dan Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1 tahun 1977 dimana Chrsiye mempopulerkan lagu karya James F Sundah “Lilin Lilin Kecil”. Kedua,upaya pendokumentasian semacam ini rasanya jarang atau malah belum ada yang melakukannya terutama label rekaman.
Lalu Ibu Acin yang murah senyum ini menawarkan ke saya untuk menuliskan buku yang dibundling menjadi satu dengan boxset Chrisye ini.Tanpa pikir panjang lagi,saya menyanggupinya.Saat itu juga sudah terbayang dalam benak saya akan seperti apa wujud dari buku yang nantinya akan bertutur dan berceloteh terhadap karya-karya Chrisye disemasa hidupnya.
Mungkin karena passionate saya terhadap Chrisye berbuncah-buncah ,pengerjaan buku ini relatife singkat.Tak lebih dari 2 minggu saja.Beberapa pemusik yang pernah terlibat dalam penggarapan musik Chrisye saya hubungi dan saya wawancarai diantaranya adalah Yockie Surjoprajogo,Keenan Nasution,Fariz RM,Gauri Nasution,Addie MS dan Adjie Soetama.
Saat penggarapan Masterpiece Trilogy Chrisye ini saya mondar mandir ke studio Musica Studio’s yang berada dikawasan Perdatam.Saya mengusulkan ke Ibu Acin agar beberapa karya Chrisye seperti yang terdapat dalam album “Musik Saya Adalah Saya” (Yockie) diikutsertakan dalam boxset ini.Juga termasuk 3 lagu Chrisye yang dinyanyikan dalam lirik berbahasa Inggeris pada pertengahan era 80an agar dimasukkan.Namun ide saya itu tidak berhasil diwujudkan karena beberapa alas an yang dikemukakan oleh Ibu Acin.
Saya juga senantiasa brainstorming dengan Chandra Widjaja dari Musica Studio’s mengenai lay out hingga bentuk fisik dari boxset tersebut.Terus terang saya sangat menikmati pekerjaan yang satu ini.Ya sekali lagi karena kesukaan saya terhadap Chrisye ini.
Dalam buku yang terbagi tiga untuk melengkapi 3 boxset trilogy Masterpiece ini,saya menuliskan berbagai aspek musikalitas Chrisye bersama sederet pemusik-pemusik yang membantunya,juga tentang ikhwal pembuatan lagu serta proses perekaman dan lain lain.Semua saya upayakan ditulis secara rinci dan akurat.Bahkan saya diberi kebebasan pula untuk melontarkan kritik terhadap diskografi yang dihasilkan Chrisye termasuk ditemukannya unsure plagiarism dalam beberapa lagu yang dinyanyikan Chrisye.
Mbak Yanti Noor isteri almarhum juga saya libatkan dalam penggalian data penulisan buku ini.
Akhirul kalam,tanggal 16 September 2007,Trilogy Masterpiece Chrisye ini akhirnya diluncurkan bertempat di Musica Studio’s.
Boxset ini memang dicetak sangat terbatas yaitu sebanyak 1500 unit dan tidak diperjual belikan secara bebas.
Dibawah ini adalah cuplikan foreword yang saya tulis sebagai penguak isi bukunya :
Masterpiece Trilogy Limited Edition adalah album kompilasi dari penyanyi Chrisye yang merupakan kumpulan seluruh album Chrisye dari rentang waktu 1978-2004. Dalam kurun waktu kurang lebih 26 tahun berkarya, Chrisye telah menghasilkan 21 album pada Musica’s Studio. Mulai dari Sabda Alam (1978) hingga Senyawa (2004).
Gagasan merangkum seluruh karya album ini memang berasal dari alm. Chrisye sendiri sekitar 10 tahun silam, agar karya-karya yang telah tertoreh bisa dinikmati atau disimak oleh berlapis generasi, yang dahulu hingga sekarang atau nanti. Bahkan Chrisye sendiri yang mengusulkan kata masterpiece ,yang memayungi 21 albumnya dalam bentuk boxset yang terbagi dalam 3 bagian.
Secara kebetulan dari 21 album yang dihasilkan Chrisye selama 3 dasawarsa, beberapa diantaranya berbentuk trilogi – sebuah bunga rampai yang saling bertaut dalam 3 album.
Dimulai dengan trilogi Yockie-Chrisye (Sabda Alam, Percik Pesona dan Pantulan Cinta). Ada pula trilogi Eros-Chrisye-Yockie (Resesi, Metropolitan dan Nona). Kemudian trilogi Chrisye-Raidy Noor-Adjie-Gelly (Aku Cinta Dia, Hip Hip Hura dan Nona Lisa). Jangan pula dilupakan trilogi Chrisye-Yonkie Soewarno (Jumpa Pertama, Pergilah Kasih dan Sendiri Lagi). Terakhir trilogi Chrisye-Erwin Gutawa (Akustichrisye, Chrisye dan Dekade).
Trilogi ini mungkin hanya hanya sebuah kebetulan belaka, tapi hal ini memperlihatkan bagaimana Chrisye mampu menyiasati pendengarnya, untuk tak selalu terjebak menghadirkan sebuah pengulangan. Yang jelas konsep berkolaborasi dengan banyak pemusik dengan visi berbeda, merupakan gagasan untuk memperpanjang karier musiknya. Akhirnya gagasan ini berhasil diwujudkan oleh Musica’s Studio dengan boxset trilogi “CHRISYE MASTERPIECE” yang terdiri atas 21 album. Termasuk diantaranya mini album bertajuk Cintamu Telah Berlalu.
Dalam kemasan ini juga disertai tulisan berupa telaah album per album yang saya tulis,untuk memudahkan apresiasi bagi penikmat karya Chrisye. Disini ditulis tentang pelbagai kisah, dibalik kisah pembuatan lagu-lagu. Lengkap dengan komentar dari orang-orang yang mengawal Chrisye dalam proses penggarapan album-albumnya.
Denny Sakrie

Image 

Saya termasuk penggemar musik Earth Wind & Fire yang telah saya akrabi sejak akhir era 70an.Dan baru tahun ini berpeluang untuk menyaksikan konsernya,meski kini hanya diperkuat 3 personil aslnya yaitu Verdine White,Ralph Johnson dan Philip Bailey.

Setelah beberapa kali band tribute Earth, Wind & Fire yang menggunakan nama Earth Wind And Fire Experience menggelar konser di Jakarta,baru 28 April lalu Earth Wind & Fire yang asli manggung di Tennis Indoor Jakarta.Saya menemui mereka saat melakukan rehearsing di Tennis Indoor.Jam 17.25 muncullah Verdine White (bass) dan Ralph Johnson (perkusi) menemui saya untuk melakukan interview di belakang panggung.Phillip Bailey dengan alas an menjaga kondisi vokal urung untuk diinterview.

Band soul funk kontemporer yang dibentuk Maurice White pada awal 70an,kini menyisakan 3 personil asli yaitu Phillip Bailey,Verdine White dan Ralph Johnson.Tapi diusia band yang telah memasuki tahun ke 40 ini,Earth Wind and Fire masih tetap bertahan.Mereka masih bikin album dan juga melakukan tur konser.

Apa yang membuat Earth,Wind and Fire bertahan hingga 4 dekade ?

Verdine White : Hmmm…karena passion kami musik.Musik itu jalan yang sudah dianugerahkan Tuhan untuk kami.

Ralph Johnson : Bermain musik adalah takdir kami ha ha ha .

Bagaimana kondisi Earth Wind and Fire tanpa Maurice White ?

Verdine White : Maurice adalah penggagas,mentor dan  inspirator EWF.Sejak dia mundur di tahun 1994 karena kondisi kesehatan.Kami tetap melanjutkan gagasan gagasan yang telah dibuatnya sejak awal 70an.

Ralph Johnson : Sebetulnya waktu kita bersama Maurice justeru lebih sedikit dibanding ketika Maurice telah mundur dari EWF.Kami sekarang ini bahkan siap merilis album baru lagi.

Verdine White : Earth Wind and Fire itu konsepnya diletakkan Maurice,kemudian saya Philip dan Ralph ikut memberikan kontribusi.Itu juga yang membuat warna musik Earth Wind And Fire tak pernah bergeser walaupun kami mengajak beberapa pemusik lain seperti Raphael Shaddiq atau will I.am sebagai produser album. Ada semacam take and give antara kami dengan mereka.Itu juga yang membuat musik EWF tetap aktual.

Apakah ada perubahan dalam arahan musik Earth,Wind & Fire ?

Verdine White : Oh sure.Sejak awal terbentuk hingga sekarang EWF sudah beberapa kali melakukan inkarnasi dalam konsep musik.Di awal 70an EWF lebih ngejazz.Lalu bergeser ke warna soul funk yang lebih kontemporer.Terus mulai memainkan disko.Di awal 80an kami mulai banyak memasukkan elemen elemen musik programming seiring dengan munculnya teknologi MIDI.

Ralph Johnson : Musik EWF memang selalu bernuansa eklektik.Ada soul nya.Ada funk.Ada rock.Dan yang penting kami tidak pernah lari dari roots musik kami : Afrika.

Di panggung Earth Wind & Fire terlihat enerjik.Apa penyebabnya ?

Verdine White : Well,mungkin karena kami itu selalu terbiasa dengan sesuatu yang mengalir.Tak pernah menganggap sebuah masalah jadi beban pikiran.Saya sendiri diluar kegiatan musik malah menjadi instruktur yoga…….Awalnya gak sengaja melihat Yoga dan ternyata Yoga adalah passion saya.Sudah 20n tahun saya aktif dalam Yoga.

Ralph Johnson : Saya malah lebih mencurahkan waktu diluar musik dengan martial arts, termasuk diantaranya adalah menggelutim kung fu.Energi ala beladiri itu kadang terlampiaskan saat manggung.

Kalian terlihat tak ada perubahan dalam penampilan.Wajah kalian dari dulu hingga sekarang nyaris tak berubah.Apa penyebabnya ?.

Verdine White : Penyebabnya adalah musik.Musik menyebabkan kami selalu terlihat muda.Anda pasti gak percaya jika sebetulnya usia saya,Philip dan Ralph itu sudah 60 tahun.

Ralph Johnson : Jika tidak bermain musik,mungkin kami terlihat bagaikan kakek yang tak produktif lagi ha ha ha.

Sampul album Earth Wind and Fire dari dulu hingga sekarang  selalu menampilkan simbol simbol tertentu.Maksudnya apa ?

Verdine White : Semua itu adalah gagasan Maurice yang terinspirasi dengan budaya Mesir kuno hingga astrologi.Simbol simbol itu termasuk nama Earth Wind and Fire sebetulnya adalah pengungkapan aspek-aspek kehidupan.Walaupun Maurice telah mundur ,kami tetap menggunakan simbolisasi itu.

Ralph Johnson : Intinya kami ingin melakukan komunikasi dengan penikmat musik kami.Tak hanya dengan musik yang kami mainkan tapi juga dengan visualisasi simbolisasi itu.

Verdine White : Juga merefleksikan pandangan kami terhadap kehidupan serta alam semesta.Coba simak lirik lagu kami That’s The Way Of The World.

Di telinga saya pun terngiang ngiang lagu That’s The Way of The World nya Earth Wind and Fire :

We’ve come together on this specials day

To sing our messages loud and clear