Arsip untuk Agustus, 2013

Tahun ini begitu banyak pemusik yang berpulang termasuk George Duke yang meninggal dunia pada Senin (5/08/2013) lalu. Cukup terhenyak mendapat kabar berpulangnya George Duke dalam usia 67 tahun.

Awal Maret 2013 lalu saya sempat bertemu George Duke yang tampil dengan The Clarke/Duke Project, kolaborasi yang digagasnya bersama bassist virtuoso Stanley Clarke sejak 1981. Tercatat sejak tampil dalam perhelatan Java Jazz Festival yang pertama pada 2005, George Duke beberapa kali muncul di ajang jazz yang digagas Peter F. Gontha tersebut.

George Duke dan Denny Sakrie (Foto Audrey Widyanata)

George Duke dan Denny Sakrie (Foto Audrey Widyanata)

Saya selalu bertemu dan ngobrol dengan George Duke saat dia manggung di Java Jazz pada 2005, 2010, 2012 dan 2013. Dalam setiap konsernya di Jakarta, George Duke kerap mengajak pemusik Indonesia untuk tampil bareng di panggung mulai dari Glenn Fredly hingga Cindy Bernadette, bahkan di album terakhirnya George Duke mengajak Dira Sugandi bernyanyi dalam sebuah lagu.

Saat saya bertemu dengan George Duke pada 2 Maret 2013 lalu di Borobudur Hotel, Jakarta, terlihat banyak perubahan dalam fisik Duke. Air mukanya tampak lebih tua dari usianya, apalagi Duke menggunakan topi untuk menutupi kepalanya yang plontos. Duke tampak seperti mengidap penyakit. Tapi hal itu tak berani saya tanyakan.

Dari hasil berselancar di dunia maya saya memperoleh info bahwa Duke mengidap leukemia yang kronis. Ada juga yang mengatakan bahwa kondisi fisik Duke kian menurun setelah berpulangnya sang isteri tercinta Corine pada 2012 lalu. George Duke depresi.

Namun ia tetap berusaha ceria dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar musik. Bahkan tampil energik dan penuh rasa humor saat konser bersama Stanley Clarke di Java Jazz Festival. Kegairahan Duke tampaknya berasal dari musik yang telah digelutinya sejak kecil. Musik adalah hidup Duke. Musik pula yang menghidupkan semangat Duke saat jiwanya terkulai.

George Duke mencintai musik sejak balita. Suatu hari saat usia 4 tahun, sang ibu mengajaknya menonton konser pianis Duke Ellington dan big bandnya. “Meskipun saya tak terlalu ingat persis seperti apa,” kenang George Duke. Yang pasti sejak saat itu, Duke kecil selalu merengek minta dibelikan piano.

George Duke 6 Maret 2011 di Java Jazz Festival (Foto Denny Sakrie)

George Duke 6 Maret 2011 di Java Jazz Festival (Foto Denny Sakrie)

Menginjak usia 7 tahun mulailah George Duke belajar mendentingkan tuts piano. “Saat itu merupakan pertama kalinya saya bermain musik funky,” ungkap George Duke saat saya mewawancarainya pada 2005 silam. Memasuki usia 16 tahun Duke telah bergabung dalam sejumlah grup jazz sekolahan. Saat itu Duke mulai banyak dipengaruhi karya-karya Miles Davis hingga Les McCan dan Cal Tjader.

George lalu belajar musik di San Francisco Conservatory of Music dan mengambil jurusan komposisi musik dan trombone serta contrabass. Gelar sarjana musik diraihnya pada 1967.

Berbekal sebagai seorang multi-instrumentalis dan komposer, mulailah Duke menceburkan diri ke industri musik. Saya masih ingat saat George Duke tampil di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, 4 Maret 2005 dalam Java Jazz Festival yang disesaki ratusan penonton, George Duke sempat menyelipkan cuplikan komposisi karya Zappa “Echidna’s Arf (Of You)” dari album Frank Zappa Roxy & Elsewhere (1974).

Bisa jadi penonton yang datang malam itu tidak ngeh dengan kejahilan George Duke ini. Sebab, penonton rata-rata memang ingin menghanyutkan diri dengan karya-karya pop Duke seperti “Sweet Baby” hingga “Born to Love You” yang sempat populer diputar di radio-radio lokal pada dasawarsa 80-an.

Saya yakin George Duke paham betul bahwa penonton yang menyaksikan penampilannya memang tak sepenuhnya memahami jazz yang sesungguhnya. Bahkan dalam kariernya sendiri Duke memang memasang strategi semacam ini. Tak aneh jika dalam portofolio musiknya Duke tak hanya memainkan jazz tapi juga pop, R&B, hingga rock sekalipun. Sosoknya bisa dianalogikan dengan bunglon yang memiliki kemampuan mengubah-ubah warna kulit.

Meskipun perangai semacam ini sering dicaci kalangan purist, namun George Duke tak sendirian. Kita mengenal Herbie Hancock yang bisa memainkan jenis musik apa pun. Bahkan Miles Davis, salah satu mentor George Duke lainnya, pun menerapkan hal serupa ketika bereksperimen menyilangkan jazz dengan rock di akhir 1960-an. George Duke di era 80an sempat diajak Miles Davis mendukung album Tutu (1986) dan Amandla (1989).

George Duke membubuhkan tandatangan diatas cover album From Me To You milik saya (Foto Denny Sakrie)

George Duke membubuhkan tandatangan diatas cover album From Me To You milik saya (Foto Denny Sakrie)

“Saya sangat beruntung bisa bertemu dan bekerja sama dengan orang-orang seperti Frank Zappa atau Miles Davis. Wawasan musik saya pun menjadi luas,” tutur George Duke.

Bahkan jika tidak bermusik dengan Frank Zappa, cerita Duke, dirinya mungkin tidak akan bernyanyi hingga sekarang ini. “Suatu ketika Zappa menyuruh saya untuk menyanyi. ‘Hey look, I need this note here and I need you to sing it.’ Dan sejak itulah saya mulai menyanyi,” ujar George Duke.

Denny Sakrie dan George Duke di Java Jazz Festival Jumat 4 Maret 2005 (Foto Mumu)

Denny Sakrie dan George Duke di Java Jazz Festival Jumat 4 Maret 2005 (Foto Mumu)

Dalam album Frank Zappa, One Size Fits All (1974), George Duke diberi kesempatan oleh Zappa untuk bernyanyi tunggal lewat komposisi bertajuk “Inca Road”.
Frank Zappa pun memaksa Duke untuk memainkan mini Moog synthesizers yang ditemukan Dr. Robert Moog itu.

“Banyak yang bisa kamu peroleh dengan synthesizer,” pesan Zappa ke George Duke suatu hari. Dan sejak itu pulalah George Duke tidak hanya berkutat dengan piano akustik. Duke pun mulai merambah pelbagai bunyi-bunyian sintesis melalui synthesizer.

“Sejak bergabung dengan Zappa saya mulai banyak bereksplorasi dengan musik apa saja,” kata George Duke.

Selepas dari Frank Zappa, pada 1976 George Duke mulai bersolo karier. Sekitar 40 album solo telah dihasilkannya. Berbagai elemen musik mencuat dari karya-karya solonya.

“Unsur funk yang ekspresif memang selalu terasa dalam album-album saya,” kata George Duke yang sejak awal merekam suaranya selalu menggunakan teknik falsetto. Namun memasuki dekade ’80-an, Duke malah lebih menata musiknya ke arah pop yang manis.

Salah satunya ketika George Duke bersama bassist Stanley Clarke menghasilkan hit “Sweet Baby” dari album The Clarke/Duke Project (1981) dan mendapat Grammy Award untuk kategori Best R&B Performance by Duo Or Group pada 1981.

Selamat jalan George Duke. So long, Dukey !

Iklan

Kaset Guruh Gipsy Di Jual Di Apotik

Posted: Agustus 16, 2013 in Kisah

Saat dirilis pada tahun 1977 kaset ini memang banyak dijual pada tempat2 yang tak lazim untuk jualan kaset.Mungkin karena album ini dirilis tanpa melalui distribusi Harco Glodok.Ada yang titip jual di Sekolah Musik bahkan ada yang dititip di Apotik.Saya sendiri beli album Guruh Gipsy yang disertai scrapbook itu di sekolah musik Yayasan Musik Indonesia (YMI) seharga Rp 1250.Saat itu harga kaset Indonesia dibandrol sekitar Rp 700 atau Rp 800.Konon album Guruh Gipsy ini dicetak sebanyak 5000 keping kaset yang hanya dijual dengan scrapbook atau bookletnya yang terdiri sekitar 25 halaman.
Sekarang ini kaset Guruh Gipsy sudah termasuk barang langka dan biasanya para pedagang kaset membandrol harganya relatif tidak murah lagi. Kebanyakan kaset Guruh Gipsy yang dijual di kios-kios kaset bekas di Blok M Square,Taman Puring,Jalan Jenderal Urip Sumohardjo  Jatrinegara.Jembatan Hitam hingga Jalan Surabaya sudah tidak disertai booklet atau scrapbook.Kalau pun ada pedagang yang menyediakan lengkap dengan bookletnya ,harganya pastilah bertambah mahal berlipat lipat.Maklum kaset rare sih.

Kaset Guruh Gipsy rilisan tahun 1977 (Foto Denny Sakrie)

Kaset Guruh Gipsy rilisan tahun 1977 (Foto Denny Sakrie)

Ingin tahu berapa pasaran harga kaset bekas Guruh Gipsy ini ? Harganya bisa bervariasi sesuai tingkat kondisi dari kaset tersebut.Jika mint condition maka harganya bisa melonjak hingga kisaran Rp 500.000.Dan jika disertai booklet,ada yang pernah menjual antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.Luar biasa.

Ngawur Itu Tedjo (yang) Jujur

Posted: Agustus 16, 2013 in Uncategorized

Pertama kali mendengar nama Sudjiwo Tedjo ketika dia bekerja sebagai jurnalis di harian Kompas.Saya mulai mengakrabi tulisan Tedjo terutama yang menyangkut perihal budaya maupun sosial.Di akhir era 90an Tedjo sempat pula menulis tentang M97FM radio tempat saya bekerja, radio untuk lelaki dewasa yang menggilai classic rock era generasi bunga. Namun saat itu saya sudah mendengar bahwa jurnalis yang berambut gondrong ini juga menekuni karir sebagai seoarang dalang.Saya juga mendengar, karena saya belum pernah nonton Tedjo mendalang, bahwa dia kerap mengotak atik pakem pewayangan.Tokoh baik jadi jahat,tokoh jahat jadi baik.Orang menjulukinya Dalang Edan.Jelas saat itu saya penasaran dengan kredo berkesenian Tedjo dalam kancah pewayangan, apalagi dengan kejahilannya mengoprak-oprek pakem yang sudah menjadi tradisi.Tapi saya belum pernah sedikitpun memperoleh kesempatan untuk menyaksikan Tedjo mendalang.Karena kecenderungan Tedjo melawan arus besar itu rasanya hampir sama ketika kita melepas semua busana tata krama dalam tubuh kita dan telanjang dalam kejujuran yang hakiki.Kenapa anak muda memilih musik rock dalam aktualisasi diri ? Karena dogma kebebasan termasuk melawan kemapanan ada dalam deru musik rock yang menggelegak.

Sudjiwo Tedjo

Sudjiwo Tedjo

Suatu hari ditahun 1998 akhirnya saya mendengar Sudjiwo Tedjo merilis album rekaman.Bah, tampaknya jurnalis gondrong ini mulai melakukan ekspansi berkesenian, mulai dari dalang wayang hingga menjadi penyanyi.Dan Tedjo ,seperti saat mendalang, memiliki sikap yang kuat, ingin tampil berbeda.Dia bukan mengincar posisi penyanyi yang dielu-elukan jutaan penggemar serta didera kerlap-kerlip cahaya .Tedjo bernyanyi karena ingin menyampaikan sesuatu.Itu bisa saya maknai ketika mendengar lagunya yang diberi judul “Pada Suatu Ketika”yang liriknya menggunakan bahasa Jawa lengkap dengan cengkok Jawa yang kental tapi musikal.Liriknya bertutur tentang keinginan agar angkara murka di negeri segera berakhir.Tedjo pun mengentaskan musik tradisi Banyuwangi, kawasan yang konon banyak terpengaruh musik Cina dan Jepang. Semangat eklektik dalam mengolah musik jelas tercermin dari album perdana Tedjo itu .Dengan menggamit sosok bassist jazz Bintang Indrianto dalam menata musik, Tedjo seperti ingin menelusuri genre dan subgenre musik,yang melintas dari Barat hingga ke Timur. Saat itu pula saya  teringat Harry Roesli,pemusik yang sejak paruh 70an kerap dijuluki Biang Bengal Bandung. Saat itu pula saya mulai membanding-bandingkan sosok Harry Roesli dan Sudjiwo Tedjo. Ternyata ada beberapa kemiripan dalam sosok mereka berdua kecuali fisik, karena Harry Roesli agak gempal dan Sudjiwo Tedjo kurus.Pertama,keduanya memiliki multi talenta dalam musik.Harry Roesli terampil memainkan instrumen musik  apa saja mulai dari drum,bass,gitar,keyboard hingga perkusi.Sudjiwo Tedjo mampu memainkan cello,biola hingga saxophone.Keduanya menulis komposisi lagu dan arransemen.Keduanya pun tampil sebagai penyanyi dengan gaya yang seenaknya dan urakan.Dalam menulis lirik lagu, baik Harry Roesli maupun Sudjiwo Tedjo sama nakalnya,sama jahilnya atau kalau pinjam istilah Remy Sylado sama-sama mbeling.Keduanya memiliki sikap yang kritis terhadap situasi sosial hingga politik, namun tetap berbalut selimut satir yang cair.

Dan yang kedua, baik Harry Roesli dan Sudjiwo Tedjo sama sama pernah mengenyam pendidikan di ITB Bandung dan keduanya akhirnya mundur dari dunia kampus karena keinginan yang menderu-deru berkiprah di dunia musik.Musik,dalam sudut pandang Tedjo, merupakan karunia Tuhan yang tak ada habis-habisnya untuk digali.Ini saya rasakan manakala menyimak album per album yang dirilis Sudjiwo Tedjo.Kredo menolak pakem arus besar menjadikan tiap album Sudjiwo Tedjo selalu dalam bingkai yang berbeda.Dalam album Syair Dunia Maya,Tedjo menata barisan kata-kata menjadi bunyi musikal yang paling natural. Pengaruh mendalang pun tertuang dalam lagu “Saya dan Punakawan”dimana Tedjo secara simultan memerankan tokoh Semar,Gareng,Petruk hingga Togog.

Entah kenapa saat menyimak album ini saya menyebut Tedjo sebagai Zappa Jawa.Apalagi saat menyimak lagu Tingkah-Tingkah.Bisa jadi Tedjo terilhami Frank Zappa, seperti halnya Harry Roesli yang mengaku banyak menyerap nuansa Zappa dalam karya-karyanya.Dalam benak saya antara Sudjiwo Tedjo,Harry Roesli dan Frank Zappa memang berada dalam frekuensi dan mindset yang sama.Mereka bermain musik atau berkesenian lainnya dengan ekspresi “ngawur” dan kerap menempatkan elemen humor dan seksualitas  dalam idiom-idiom liriknya. Saya jadi teringat quote Tedjo :”Ketika yang ilmiah,sistematis,dan formal itu hanya kedok belaka yang justru banyak membohongi.Sekarang sudah saatnya ngawur saja.Ngawur karena benar “  .Dan ngawur itu sikap Tedjo yang jujur.

 Kata Jancuk yang dianggap tabu,dipilih Tedjo untuk menangkal kemunafikan yang telah menjadi pupur keseharian kita. Jancuk pada akhirnya menjadi idiom ekspresi yang bisa meluluhlantakkan basa-basi yang tak perlu. Dan Tedjo pun bersenandung :

 ada otak kosong kasih awalan Jan
kasih akhiran cuk otakmu..JANCUK
ayo tanpa dasar biar hidup dalam
ayo kosong-kosong biar gampang ngisi
hidup pakai dasar itu cetek cetek cetek
kalau otakmu full susah ngisi ngisi ngisi
lebih gampang kalau hidupmu JANCUK
lebih gampang kalau JANCUK

 

Jakarta 14 Agustus 2013

 

40 tahun Summer’28

Posted: Agustus 16, 2013 in Sejarah

Pada paruh era 60an menyeruak sebuah fenomena sosial yang menggelembung dikalangan anak muda dibelahan Barat berontak menginginkan kebebasan,persamaan ender,anti perang,anti-establishment serta ketidakpercayaan terhadap kaum tua.Gerakan terbesar yang kemudian dikenal dengan tajuk Summer Of Love ini berlangsung tahun 1967, dimana sekitar 100.000 khalayak muda berkumpul di Haight-Ashbury,yang dekat dengan San Fransico,kota kiblat generasi bunga yang berselimutkan musik psychedelic dan tentunya pernak-pernik sex dan drugs.John Phillips dari The Mamas and The Papas menulis lagu “San Fransico (Be Sure To Wear A Flowers In Your Hair” untuk dinyanyikan sahabatnya Scott McKenzie.

God Bless tampil di Summer 28 (Dokumentasi Majalah Aktuil)

God Bless tampil di Summer 28 (Dokumentasi Majalah Aktuil)

Tahun 1967 ini jadi momentum penting geliat budaya pop.Aroma psychedelic berangsur dimana-mana.Di Inggris The Beatles merilis album fenomenal Sgt.Pepper’s Lonely Hearts Club Band,Pink Floyd merilis The Piper at The Gates Dawn,The Rolling Stones merilis Their Satanic Majestic atau Jimi Hendrix merilis “Are You Experinced ?” .Di tahun 1967 ini mulai terbit majalah Rolling Stone dan di Indonesia di tahun yang sama mulai muncul pula majalah Aktuil yang menjadi terompet anak muda saat pergantian rezim Orde Lama ke rezim Orde Baru dibawah kepimpinan Soeharto.

Berrmuara dari peristiwa budaya pop yang bernawaitu counterculture inilah yang kemudian menetaskan festival budaya pop yang hingga kini tergurat dalam sejarah mulai dari Monterey International Pop Festival yang berlangsung di 3 hari pada 16 hingga 18 Juni 1967 di kawasan Monterey California menampilkan Janis Joplin,Otis Redding,The ,Jefferson Airplane,The Mamas and The Papas ,Ravi Shankar dan Jimi Hendrix and The Experience hingg akhirnya gong peristiwa budaya pop ini adalah Woodstock Festival yang juga berlangsung selama 3 hari mulai dari 15 hingga 17 Agustus 1969 di kawasan Bethel,New York menampilkan banyak performer seperti Janis Joplin,The Who,Jefferson Airplane,Santana,Jimi Hendrix,Joe Cocker,Ravi Shankar,Melanie,Joan Baez,Arlo Guthrie,Sly & The Family Stone dan masih sederet panjang lainnya.Festival yang digagas Michael Lang ini pada akhirnya menjadi gong gerakan generasi bunga yang fenomenal dan inspratif.

Bisa jadi insprasi dari Summer Of Love,Monterey Pop Festival maupun Woodstock Festival inilah yang menggerakkan sutradara film Indonesia Wim Umboh dari PT Aries Raya International,A Soegianto dari PT Intercine Studio dan Nyoo Han Siang dari Bank Umum Nasional untuk menggelar konser sepanjang 12 jam dengan tajuk Summer’28.Konon,mereka bertiga ini secara serempak menggagas acara music puspa raga mini setelah melakukan perjalanan ke luar negeri diantaranya ke Amerika Serikat.Asumsi mereka pada bulan Agustus di Indonesia masih masuk musim kemarau yang kering kerontang.Pilihan nama akhirnya adalah Summer’28 yang merupakan akronim dari SUasana Menyambut keMERdekaa RI ke 28.Pemilihan nama acara ini merupakan usulan dari almarhum Wim Umboh yang namanya kian tenar setelah menyutradarai film Pengantin Remadja di tahun 1971 dengan bintang Sophan Sophiaan dan Widyawati.Acara Summer’28 ini pun diabadikan dalam bentuk film documenter seperti halnya Woodstock’69.Wim Umboh sang penggagas juga bertindak sebagai sutradara film.

Para performer dalam Summer 28 16 Agustus 1973

Para performer dalam Summer 28 16 Agustus 1973

Summer’28 memang tidak digelar sepanjang 3 hari berturut-turut sebagaimana halnya Monterey Pop Festival (1967) maupun Woodstock (1969), melainkan hanya dalam durasi 12 jam saja,yakni mulai dari jam 17.00 hingga jam 05.00.Dengan demikian jumlah performer dibatasi hanya sekitar 20 band saja.Band-band yang tampil adalah band yang dinilai punya nama dan kualifaid dari berbagai genre dan subgenre music.Diupayakan satu band bisa mewakili satu genre musik atau mewakili salah satu daerah di Indonesia misalnya Ternchem mewakili Solo,AKA dan Pretty Sisters mewakili Surabaya,Bentoel Band mewakili Malang dan seterusnya.Jadi sebetulnya niat penyelenggara Summer’28 ini memang cemerlang.Summer’28 bisa dianggap etalase perjalanan musik  Indonesia. Walaupun di satu sisi ada yang mengaitkan penyelenggaraan ini merupakan euphoria kebebasan bermusik di Indonesia.Patut diingat pada zaman Bung Karno dengan rezim Orde Lamanya sangat ketat dan keras melindungi warisan budaya bangsa agar tidak terkontaminasi dengan budaya asing yang sangat deras menyerang kantung budaya Indonesia melalui idiom musik dan film.Bung Karno dan Manipol Usdeknya yang diserukan pada akhir era 50an jelas sangat anti dengan budaya asing terutama budaya pop dari Barat.Musik rock and roll yang digetarkan Elvis Presley dituding sebagai musik ngak ngik ngok yang menginjak-injak harkat budaya bangsa.Di tahun 60an Bung Karno mencoba menggali budaya bangsa antara lain dengan memperkenalkan dan mempouplerkan Irama Lenso, salah satu ragam musik dan tari pergaulan yang berasal dari Maluku.Bung Karno lalu mengajak Jack Lemmers (sebelum berganti nama menjadi Jack Lesmana),Bing Slamet dan Idris Sardi meracik Irama Lenso yang kemudian direkam dalam piringan hitam Mari Bersuka Ria Dalam Irama Lenso yang dirilis Irama Record pada tahun 1965.Di tahun yang sama Koes Bersaudara dijebloskan kedalam penjara karena membawakan lagu-lagu The Beatles. Nah,pelarangan semacam itulah yang menjadi momok para pemusik dan juga penikmat musik.Namun ketika rezim Orde Baru berkuasa pelarangan musik asing seperti yang diberlakukan Bung Karno secara perlahan mulai pupus.Di tahun 1967 anak anak muda bereksperimen mendirikan pemancar radio secara illegal dan memutar lagu-lagu barat sepanjang hari.Koes Bersaudara pun merilis album yang judulnya sangat provoke “To The So Called The Guilties”,yang isinya banyak bercerita pengalaman saat dalam penjara misalnya Di Dalam Bui, tapi disisi lain Tonny Koeswoyo memperlihatkan kegeraman tiada tara lewat lagu bertajuk “Poor Clown”,lagu berlirik Inggris ini memang kuat pesan gugatnya,yang mengingatkan kita pada munculnya fenomena protest song di Amerika Serikat lewat Woody Guthrie maupun Bob Dylan.

Summer’28 tentu saja menurut hemat saya adalah pesta euphoria kebebasan bermusik anak muda Indonesia yang selama ini dibelenggu dalam aturan-aturan Pemerintah dalam persepsi  kacamata kuda   .Inspirasi dari gerakan generasi bunga Summer Of Love kemudian dicampurbaurkan dengan semangat kebebasan dalam bermain musik.

Maka berbondong-bondonglah anak muda Jakarta dan sekitanya sejak siang hari ke kawasan Ragunan Pasar Minggu Jakarta pada sebuah lahan seluas 4 hektar milik perusahaan film Intercine Studio.Di area ini telah dibangun sebuah panggung tunggal berukuran 15 X 10 meter persegi dengan tinggi sekitar 3 meter .Harga karcis yang dipatok saat itu berkisar Rp 1000.Ini harga yang relatif murah.Harga kaset saat itu sekitar Rp 400 hingga Rp 500.Majalah Aktuil yang jadi bacaan wajib anak muda harganya Rp 120.Dengan Rp 1000 ini penonton selama 12 jam bisa menonton sekitar 20 band mulai dari Koes Plus,Panbers,Mercy’s,The Rollies,Idris Sardi & The Pro’s,Los Morenos,Trio Bimbo,Remy Sylado Company,El Sipigo,Young Gipsy,Pretty Sisters,Broery Marantika,Gang Of Harry Roesli,The Singers ,Freedom termasuk God Bless band rock yang baru terbentuk pada 5 mei 1973 serta Flybaits sebuah band yang berasal dari Singapore.

Sayangnya acara yang dimulai sekitar jam 17.00 ini harus berakhir sekitar jam 3 dinihari karena terjadi kerusuhan.Pihak keamanan yang berjumlah 120 personil memang mampu mengatasi suasana tapi acara dinyatakan tidak dapat dilanjutkan lagi.Tidak jelas apa yang menyebakan terjadinya kerusuhan.Ada yang mengatakan keributan mulai terjadi ketika panitia mengumumkan bahwa band rock AKA dari Surabaya batal tampil di Summer’28.

Summer’28 adalah salah satu bagian sejarah musik pop Indonesia.Sayangnya film dokumentasi yang digarap Wim Umboh tak jelas rimbanya.Dimas Wahab,leader band The Pro’s yang juga terlibat sebagai panitia penyelenggara pun tidak tahu menahu keberadaan film Summer’28 tersebut.

Terlepas dari kekurangan yang menyelimuti penyelenggaraan Summer’28, acara ini pantas disebut sebagai cikal bakal acara musik bernuansa festival di Indonesia yang menampilkan puluhan band diatas pentas dari berbagai aliran atau genre musik.