Archive for the ‘Wawasan’ Category

Mungkin ini untuk pertamakali saya diminta jadi pembicara musik membahas tentang Musik Rai dan Hiphop.Beberapa bulan lalu sekelompok mahasiswa Universitas Indonesia Jurusan Sastra Prancis meminta kesediaan saya untuk menelusuri budaya pop di Prancis dalam hal ini adalah konstelasi musik Rai yang berkembang di Aljazair,salah satu koloni Prancis  yang ternyata pada akhirnya justru memberikan kontribusi tersendiri pula dalam lingkup budaya pop di Prancis.Dan pada akhirnya musik Rai yang bermuasal dari tradisi kaum muslim itu bersenyawa dengan hip hop yang berkembang pesat di Prancis.Ini sebuah fenomena menarik tentunya lewat pembenturan-pembenturan untaian budaya yang berbaur dalam sebuah cawan kontemporer.Saya lalu mengiyakan tawaran menjadi pembicara tersebut, karena pada dasarnya saya memang suka dan mengakrabi produk-produk bernuansa eklektik,pembenturan tradisi dan budaya yang bermuara pada kekinian yang berbingkai pola kontemporer.

Suasana diskusi tentang Musik Rai,Rap,Hiphop dan Beatbox dalam event FestiFrance 2013 di Universitas Indonesia

Suasana diskusi tentang Musik Rai,Rap,Hiphop dan Beatbox dalam event FestiFrance 2013 di Universitas Indonesia

Talkshow musik ini diberi tajuk “Seminar Rap,Rai,Hip Hop & Beatbox” dan merupakan rangkaian dari event FestiFrance 2013 yang digagas Mahasiswa Fakultas Sastra Prancis Universitas, berlangsung pada kamis 14 November 2013 mulai dari jam 10 hingga 12 siang bertempat di Auditorium Gedung   9 Kampus Depok Universitas Indonesia. Selain saya,seminar ini juga menghadirkan dua wakil dari komunitas beatbox Indonesia yaitu MouthFx.

Diskusi Rai2

Mungkin masih banyak yang merasa asing dengan musik Rai.Tapi saya yakin sebetulnya banyak yang telah mendengarkan musik Rai tanpa sengaja misalnya saat berada di mall-mall.Di saat bulan suci Ramadhan biasanya secara tak sengaja banyak lagu-lagu rai yang berkumandang.Mungkin mereka mengira lagu-lagu Rai itu liriknya tentang syiar Islam, padahal liriknya sama sekali tak berkaitan dengan suasana religi kaum muslimin.Cengkok Arab dari sang Cheb atau Cheba,demikian julukan untuk penyanyi Rai .Cheb untuk lelaki dan Cheba untuk wanita.

Dis Rai 4 Saya sendiri baru menyadari Rai ketika Sting menyanyikan lagu Desert Rose dengan nuansa Arab Aljazair lewat penyanyi rai bernama Cheb Mami di album “Brand New Day” nya Sting yang dirilis tahun 1999.

Di ruangan FIB UI itu ,saya mulai dengan memaparkan asal muasal musik Rai yang berkecambah dari Aljazair yang merupakan Negara koloni Prancis.

Para peserta Seminar Musik Rai,Rap,Hiphop & Beatbox di Universitas Indonesia

Para peserta Seminar Musik Rai,Rap,Hiphop & Beatbox di Universitas Indonesia

Rai yang mulai berkembang pada era 30an ini merupakan musik  hibrida dari Arab,Afrika,Spanyol dan Prancis.Musik Rai ini adalah representasi budaya dari kaum Maghribi yang ada di Prancis. Musik Rai  mulai memperlihatkan sebuah grafik popularitas yang membumbung tinggi pada saat event Festival De Bobigny et La Vilette   yang digelar pada 26 januari 1986.Menyusupnya elemen Rai ke Prancis ini berkaitan dengan migrasi dari kaum imigran Maghribi di Prancis pada abad ke 20.

Manakala rai mulai melakukan penetrasi di wilayah Prancis, mulai terlihat dan dirasakan adanya pergeseran-pergeseran dalam konsep rai walau tak sampai mengubah bunyian dasar secara menyeluruh.Masuknya instrument elektronik seperti drum machine,looping hingga scratch vinyl diatas turntable serta rappin’ mulai terdengar menyeruak.Tapi instrument klasik seperti dabourka maupun akordeon masih tetap dipertahankan,dan sebetulnya merupakan elemen penguat jatidiri dari Rai itu sendiri.Imbuhan-imbuhan yang memperkaya Rai ini bahkan mulai ditaburi nuansa hip hop yang kental seperti tersimaknya elemen beatbox yang inovatif .

Secara historis musik Rai itu lahir dari masyarakat kecil yang ingin menyuarakan suara hatinya.Polos,tanpa basa-basi,apa adanya bahkan mungkin bisa terdengar nyaris vulgar.

Kenapa rai bisa menyeberang ke Prancis ? Penyebabnya adalah ketika para pemusik dan penggiat musik Rai justru tak mendapat tempat di Aljazair yang menyebabkan mereka lalu hijrah ke Prancis untuk mengekespresikan musik rai tersebut.Di Aljazair konten musik Rai dianggap amoral dengan tema-tema seperti seksualisme,minuman keras dan penderitaan hidup.Hal yang juga mungkin memiliki kesamaan dengan musik  dangdut di Indonesia.Musik Rai pada akhirnya dianggap berseberangan dan bertentangan dengan akidah dan syariah Islam.dan akhirnya eksoduslah Rai ke Prancis.Disinilah Rai mulai mengalami pergeseran-pergeseran dalam bingkai modernitas yang absolut.

Diskusi yang dipandu oleh dosen FIB UI itu memang membuka wawasan orang tentang Musik Rai yang kemudian berubah menjadi budaya urban.Apalagi dua beatboxer dari Mouthfx secara detil dan terperinci menguraikan tentang kemempelaian Raid an Hiphop termasuk beatbox di Prancis dan pengaruhnya di Negara-negara Eropah lainnya.

Iklan

Mengusik Musik Warkop

Posted: November 19, 2013 in Wawasan

kas

Warung Kopi Prambors Tahun 1979 (Foto Dokumentasi Warkop )

Warung Kopi Prambors Tahun 1979 (Foto Dokumentasi Warkop )

Oke selamat malam Jakarta Indonesia…inilah Warkop Bless” demikian teriakan Kasino berperan sebagai MC dengan aksen yang dibarat-baratkan.Inilah adalah tipikal panggung rock Indonesia di paruh 70-an yang ditiru Kasino.Lalu berdentamlah musik dengan gitar berdistorsi serta gebukan drums menghentak dinamis.Warkop Bless adalah plesetan dari God Bless,band rock Jakarta yang jika tampil sering dielu-elukan bak supergrup dari belahan bumi Barat sana.Introduksi music yang dimainkan Abadi Soesman dkk itu seolah ingin menyaingi “Highway Star” nya Deep Purple.Tapi ketika memasuki bait pertama,music berubah seketika,secara drastic menjadi irama langgam.Sebuah gaya keroncongan lengkap dengan aksentuasi cuk dan ukulele segala.Kasino lalu bertukar peran menjadi penyanyi.Meluncurlah dari mulutnya :”Jenang gulooo……..”.Penonton pun gerrrr berkepanjangan.
Sebuah penampilan musik dengan penjungkirbalikan.Sebuah parodi yang menggelikan.Telah ditampilkan Warung Kopi Prambors dalam rekaman kasetnya di tahun 1979 yang dirilis Pramaqua,sebuah label kongsi antara radio Prambors dan Aquarius yang kerap merilis album-album mancanegara. Ketertarikan Pramaqua ,yang sejak tahun 1975 merilis jenis musik yang hanya mensasar komunitas tertentu,semisal merilis album God Bless,Noor Bersaudara,Yockie Suryoprayogo,Jopie Item dan sejenisnya – merilis dua labum lawak warung Kopi pun kadang bagai sebuah paradoksal yang meruntuhkan logika.Kenapa Pramaqua mau merilis album lawak ? Yang posisinya dalam industry hiburan seolah berada di kasta terendah ?.”Saya memang tertarik dengan konsep lawakan Warung Kopi sejak mendfengarkan mereka siaran di radio Prambors pada tahun 1975.Ada yang menarik dari celutukannya.Bahwa mereka memilki visi yang jelas.Meluncurkan humor yang cerdas.Ya intelektualitas yang terjaga.Tidak mengumbar ejek-ejekan seperti cacat fisik seseorang.Atau slapstick.Itu tidak ada pada Warung Kopi.Makanya saya tertarik untuk merilis rekaman lawak mereka.Karena ternyata Warkop pun bernuansa musikal.Kasino,misalnya bisa main gitar sambil bernyanyi.Begitu juga Nanu .”komentar Johannes Suryoko yang saat itu menggawangi label Pramaqua.
Dalam pentas lawak nya Warkop senantiasa membumbui dengan selingan music.Mungkin karena mereka berasal dari tembok kampus yang rada kritis.Celutukannya memang kerap menyindir hal hal yang tak wajar dalam kehidupan sehari-hari mulai dari problematika kaum papa hingga konstelasi politik.Mereka cerkas dalam bertutur.Selain saling umpan dalam bingkai humor yang padat dan cerdas.Warkop juga banyak mencuatkan joke reading hingga penjungkir balikan nalar bermusik dalam bingkai satiris dan komikal tentunya.
Karkaterisasi humor Warkop yang berjelujur music itu pun sebetulnya juga sudah mencuri perhatian Mus Mualim,seorang pemusik yang dijejali pikiran kreatif.Ketika Mus Mualim diminta untuk mengemas sebuah gagasan tontona music khas remaja,suami Titiek Puspa ini lalu mendatangi Radio Prambors di Jalan Borobudur yang masih sekawasan dengan kediaman Mus Mualim di Jalan Sukabumi Menteng Jakarta.Disitulah awal pertemuan Mus Mualim dengan Sys NS anak muda yang men jadi kuncen Prambors Rasisonia saat itu.Pucuk cinta ulam tiba,terbersiutlah ide memanggungkan acara bertajuk “Terminal Musikal Tempat Anak Muda Mangkal” di TVRI.Sebuah variety show khas anak muda yang membaurkan tontonan musik dan komedi.Satu diantara pendukung tersebutlah Warung Kopi Prambors yang terdiri atas Nanu Muljono,Kasino,Wahyu Sardono dan Indro.
Ketika telah akrab dengan dunia hiburan di luar tembok radio Prambors,Warung Kopi memang mulai kerap manggung.Di tahun 1979 Warung Kopi banyak melakukan pentas pertunjukan di beberapa kota luar Jawa seperti Palembang,Pontianak hingga Makassar.Saat itu Warkop kerap bersanding dengan gitaris,vokalis dan komposer Chris Manusama yang baru saja berjaya ketika lagu karyanya “Kidung” yang masuk dalam deretan Dasa Tembang Tercantik LCLR Prambors 1978 mulai menjadi hit nasional.
Dalam pentas hiburan Warung Kopi plus Chris Manusama.Kasino kerap memplesetkan lagu “Kidung” menjadi :
“Tak selamanya Doris itu Callebaut nyatanya kali ini zoes Doris Inem Pelayan Sexy” dari kalimat lagu Chris Manusama : “Tak selamanya mendung itu kelabu nyatanya hari ini kulihat begitu ceria”.
Memasukkan anasir music dalam pola lawakan sebetulnya bukan ditemukan atau digagas secara orisinal oleh Warung Kopi.jauh sebelum Warkop menjadi isu nasional saat itu,Bing Slamet telah melakukan hal yang sama : memintal lawakan dalam sepotong music.Itu fakta manakala Bing Slamet bersama Drs Purnomo a.k.a mang Udel melawak sambil sesekali bernyanyi .Bing memetik gitar sembari bernyanyi dengan vocal baritonenya,ditingkahi permainan ukulele dari Mang Udel.Lagu “Keroncong Moritsko” hingga “Love Is A Many Splendored Thing” pun mengalun tapi tetap dalam koridor humor yang segar.
Hal semacam ini pun terulang ketika Bing Slamet bersama Eddy Sud,Ateng dan Iskak membentuk Kwartet Jaya.Bing yang kerap meniru aksen cadel bule biasanya menyanyikan lagu yang tengah hits semisal “Hey Jude” nya The Beatles tapi dengan gaya crooner yang menggelitik.
Jadi sebetulnya dalam penampilan sketsa humor yang mencuat dari sebuah ritual lawak,unsur music memang seolah menjadi simbiose mutualisme.Musik jadi jodoh dengan lawak yang serba gerrrrr…..
Warung Kopi sendiri dalam selusin kaset rekamannya pun selalu menampilan formula bersandingnya lawak dan musik.Menariknya lagi para pemusik yang mengiringi Warung Kopi termasuk mengendapkan kualitas.Misalnya musisi serba bisa Abadi Soesman yang mencampur adukkan berbagai genre music saat tampil mengiringiu Kasino dan rekan berdendang.Pada dua kaset yang dirilis Pramaqua,Abadi bereksperimen menggabungkan perangai music hard rock dan keroncong dalam “Jenag Gulo” bahkan menyusupkan gaya Dixieland lengkap dengan piano honky-nya dalam lagu “John Tralala”.Jahilnya Abadi bahkan meminjem intro lagu Billy Preston “Nothing From Nothing” untuk lagu “John Tralala”.Kasino bahkan mencoba meniru suara Louis Armstrong yang dibuat rada serak. Selain itu dengan dukungan OM Pengantar Minum Racun,Kasino pun menyanyikan lagu dangdut.Luar biasa.
Pada album ketiga bertajuk “Mana Tahan” yang dirilis Purnama Record,Warkop didampingi Yockie Suryoprayogo menyanyikan lagu ”Mana Tahan”.Yockie,seperti halnya,Abadi juga bertindak jahil dan usil antara lain memasukkan gaya glissando ala Patrick Moraz melalui Solina Strings pada interlude lagu dangdut tersebut.Setidaknya hal ini bisa disebut sebagai sebuah music humor.,Walaupun tidak sesinting music humor ala Frank Zappa,namun sajian music Warkop yang didukung sederet pemusik berkualityas adalah catatan tersendiri disepanjang karir Warung Kopi Prambors.
Dalam catatan saya beberapa pemusiki papan atas negeri ini telah ikut memberikan kontribusi dalam kaset lawak Warung Kopi diantaranya Rezky Ichwan,Dodo Zakaria,Narendra,Gilang Ramadhan,Mates ,Sonny Soemarsono,dan banyak lagi.
Bahkan di tahun I988 Harpa Record merilis album musik perdana Warung Kopi bertajuk “Kunyanyikan Judulku”.Warkop betul-betul bernyanyi.Ada 10 lagu yang dibawakan,dengan gaya dangdut,disko hingga blues sekalipun.Ditulis oleh Yan Roesli,Dian Soneta,Sonny Soemarsono,Oddie Agam dan lirik yang ditulis wartawan music Yudhi NH.
Rasa rasanya apa yang dicapai Warkop saat ini belum ada yang menggantikan saat sekarang ini.Bahkan kaset lawak pun tak pernah lagi diproduksi.Padahal kita masih membutuhkannya untuk sekedar tertawa…..gerrrrrr.

Menyeruaknya Psychedelia Pop

Posted: Maret 18, 2012 in Opini, Wawasan

Efek Rumah Kaca

Tahun ini adalah tahun invasi band-band dalam industri musik (pop) Indonesia. Sayangnya, sebagian besar justru terjebak dalam keseragaman. Kulminasinya adalah mencuatnya “inflasi” musik pop hingga penikmat musik mengalami kesukaran membedakan antara satu band dan band yang lain.

Hal itu mengingatkan kita pada dasawarsa 1970-an, yang juga disesaki banyaknya band setelah keran yang dibuka Koes Plus mengalir deras. Saat itu, keseragaman identitas pun terjadi, baik dari struktur penulisan lagu maupun lirik. Remy Silado sempat melontarkan kritik bahwa lagu-lagu pop (band) saat itu sarat dengan kata “mengapa” yang menteror kuping.

Tak jauh beda dengan yang terjadi belakangan ini. Simaklah lirik lagu-lagu dari selaksa band yang dijejali kata-kata “selingkuh”, “kekasih gelap”, “bagai bintang”, “bukan pujangga”.

Dan seperti yang telah terjadi, di tengah keseragaman itu toh tetap ada yang berupaya untuk mengikisnya dengan menjejalkan karya-karya yang oleh sebagian khalayak awam dianggap menyimpang. Tapi bukan tak mungkin, ketika keseragaman mencapai titik nadir, suguhan musik pengimbangnya yang kerap beroposisi bisa berubah menjadi trend-setter.

Di tengah maraknya keseragaman, menyeruaklah beberapa band yang kebetulan tercerabut dari komunitas indie, yang mencoba menawarkan konsep yang sebetulnya bukan hal baru: psychedelia pop. Konsep ini merebak di Inggris dan Amerika Serikat di paruh dasawarsa 1960-an. Tersebutlah tiga band indie, yaitu Vox, Zeke and The Popo, dan Efek Rumah Kaca, yang masing-masing baru saja merilis album debut tahun ini.

Vox, band asal Surabaya yang terdiri atas Joseph Sudiro (bas, vokal), Vega Antares Setianegra (vokal, gitar), Donnie Setiohandono (keyboard, vokal), dan Gabriel Mayo Riberu (drum, vokal), merilis album Pada Awalnya (Aksara Records). Zeke and The Popo dari Jakarta, yang terdiri atas Khaseli “Zeke” Gumelar (vokal, keyboard), Iman “Babyfaced” Putra Fattah (gitar, sound device), Leonardo “Mugeni” Ringo (gitar), Yudhi “Sideburns” Harry Noor (bas), dan Amir “Kuro” (drum), meluncurkan album Space in the Headline. Adapun Efek Rumah Kaca, yang terdiri atas Cholil (vokal, gitar), Adrian (bas), dan Akbar (drum), muncul dengan album bertajuk Efek Rumah Kaca, yang mengingatkan kita pada penemuan ilmuwan Joseph Fourier pada 1824, yaitu proses atmosfer memanaskan sebuah planet.

Tak jelas kenapa banyak band indie kini yang terpukau pada atmosfer psychedelia, genre yang condong pada gerakan kultur era 1960-an. Psychedelia adalah fenomena bawah tanah kala itu yang kemudian berubah menjadi overground, terutama setelah nama-nama sohor, seperti The Beatles, mulai menyelusupkan elemen psychedelic dalam album Revolver (1966) dan mencapai puncak dengan Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band (1967). Juga harmoni vokal The Beach Boys dalam album Pet Sounds (1966), yang menjadi inspirasi anak band.

Tak bisa dimungkiri kehadiran elemen psychedelic yang beratmosfer trippy atau alam bawah sadar memang banyak bergumul dalam kitaran efek bunyi-bunyian yang membalut struktur lagu yang memang diakui catchy. Jika ingin mengendus aroma psychedelic dalam sebuah lagu, dipastikan bisa dijumpai anasir seperti suara sitar, glockenspiel, fuzz guitars, efek tape, hingga backward guitar (bunyi gitar yang diputar terbalik).

Simaklah introduksi lagu Jalang, yang dibawakan Efek Rumah Kaca, yang menampilkan sebuah backward dari interlude lagunya. Tata musik kelompok ini memang jelas bermuatan anasir psychedelia, apalagi mereka rasanya juga banyak terpengaruh post-rock ataupun shoegaze, subgenre yang berakar kuat pada gerakan psychedelia 1960-an. Efek Rumah Kaca pun cukup cerdas menuliskan lirik. Misalnya, dalam lagu Di Udara, yang bertutur tentang aktivis Munir:

Kubisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
Tapi aku tak pernah mati

Sebuah paparan lirik yang tak ditemui dalam rimbunnya band-band sekarang, yang hanya menyitir tema cinta yang dangkal. Bahkan trio ini pun geram dengan kondisi industri musik kita sekarang ini dalam lagu Cinta Melulu:

Nada nada yang minor
Lagu perselingkuhan
Atas nama pasar semuanya begitu klise

Vox bahkan lebih memilih tema persahabatan dalam lagu Ingatkah Pertama:

Zeke and The Popo

Dan Vox sangat terpukau dengan supremasi Beach Boys dan The Beatles. Simaklah nuansa lagu Pada Awalnya, yang mengingatkan kita pada Wouldn’t Be Nice-nya Beach Boys (album Pet Sounds). Pada Oh Well, dengan cerdik Vox kembali menyulam aura God Only Knows-nya Beach Boys. Petikan slide gitar pada lagu ini mengingatkan kita pada jati diri George Harrison. Lalu di coda kita diberi ilusi seolah terjebak deja vu All You Need is Love-nya The Beatles dengan tumpukan bunyi-bunyian instrumen tiup yang dimainkan Indra Aziz.

Lagi-lagi aura The Beatles era psychedelic tercium pada lagu Professor Komodo pada album perdana Zeke and The Popo. Kelompok ini sangat tekun menggarap musik, meski terkadang terasa agak berlebihan. Simak saja susupan tiupan saksofon Indra Aziz pada Unrescued World Supposed to Rescued World. Bahkan mereka pun memasukkan unsur orkestral pada interlude yang diarahkan Addie M.S. Sebuah komposisi yang membuat pendengar melayang kehilangan gravitasi. Kemurungan dan keterasingan ala Pink Floyd hingga Radiohead terasa di beberapa komposisi.

Tampaknya Zeke and The Popo memang telah memilih psychedelia sebagai cetak biru musikalnya. Mereka pun menorehkan tag-line pada kemasan albumnya: “an album for lonely people, and for those who are looking for loneliness”.

Nah, jika Anda ingin mengasingkan diri dari cengkeraman musik pop (seragam) dari band yang jumlahnya tak terhitung itu, suguhan album dari ketiga band tersebut–Vox, Zeke and The Popo, dan Efek Rumah Kaca–layak disimak.
Denny Sakrie, pengamat musik
Koran Tempo  Minggu, 21 Oktober 2007

Duet Drum……adalah salah satu daya tarik dari sebuah konser rock. Duet drum paling fenomenal adalah dari kelompok southern rock The Allman Brothers Band.

The Allman Brothers Band

Serta sudah pasti adalah duet drum dari Genesis,yang mempertemukan Phil Collins dan Vill Bruford dalam serangkaian tur kelompok rock progresif Inggeris  Genesis di tahun 1976 dan duet antara Phil Collins dan Chester Thompson,drummer jebolan Frank Zappa dan Weather Report .

Genesis 1976

Dalam King Crimson pun pernah terjadi duet drum antara Bill Bruford dan Pat Mastelotto.Ketika Yes melakukan “reuni” di tahun 1990,Bill Bruford pun melakukan duet drum dengan Alan White.

Di Indonesia sendiri duet drum telah dilakukan God Bless pada tahun 1974 dengan mempertemukan Fuad Hassan dan Keenan Nasution.Ini merupakan salah satu konser terbaik God Bless.Sayangnya setelah duet drum tersebut,Fuad Hassan mengalami kecelakaan lalu lintas di Pancoran.Posisi Fuad yang ayah Alba Fuad itu lalu digantikan oleh Keenan Nasution.

Di tahun 1978 Keenan Nasution menggelar konser tunggal “Negeriku Cintaku” di Teater Terbuka TIM yang juga menampilkan duet drum antara Keenan Nasution dan Fariz RM.Duet drum ini berlanjut pada Badai Band.Badai Band yang dihuni almarhum Chrisye,Yockie Suryo Prayogo,Roni Harahap dan Oding Nasution ini mungkin adalah band yang paling konsisten menampilkan duet drum.Yaya Moektiopun pernah mendukung formasi Badai Band  .

Duet drum Keenan Nasution dan Fariz RM di Taman Ismail Marzuki November 1978

How to promote your band !

Posted: September 1, 2011 in Wawasan

Apa lagi yang harus kalian lakukan jika band sudah terbentuk? Kalo musik dan lagu telah jadi, maka kalian telah siap terjun di pentas musik yang sesungguhnya.

Nah, segeralah meniti jenjang untuk memperkenalkan sosok band kalian kepada khalayak. Karena tanpa khalayak yang mencakup penggemar dan insane pers, maka usaha berat kalian membuat musik dan lagu lewat band tak ada gunanya sama sekali. Disinilah berlaku pemeo simbiose mutualisme.

Lalu langkah-langkah apa yang mesti kalian tempuh untuk memperkenalkan atau mempromosikan band kalian? Berikut merupakan anjuran-anjuran basic dan sederhana yang harus kalian  jalani.

Who’s Who

Untuk memperkenalkan band kalian,maka seyogyanyalah kalian mempersiapkan riwayat band kalian secara komprehensif dalam bentuk biografi yang singkat tapi padat dan bisa menjadi representasi dari jatidiri band kalian. Isi biografi singkat band itu sebaiknya tidak lebay dalam artian menulis data data band sesuai dengan fakta yang ada.

Perkenalkan data diri atau life line setiap personil band dengan gaya yang tak berlebihan. Jika dia memiliki prestasi yang mumpuni, silakan ditulis. Tapi jika prestasinya hanya dalam taraf mediocre sebaiknya tak perlu diumbar dalam biografi band tersebut.

Gaya penulisan biografi band itu sebaiknya catchy, mengalir dan poppish. Setidaknya hal ini akan menjadi titik perhatian dari setiap orang yang membacanya. Lebih bagus lagi jika seusai membaca biografi band itu, yang membaca merasa penasaran dan terpicu untuk segera menyimak musik yang telah kalian bikin, entah dalam bentuk demo CD maupun album utuh.

Yang pantut diingat, bahwa manfaat penulisan biografi band ini sebetulnya adalah untuk mengungkapkan hal-hal yang sangat elementer dari band kalian itu. Mulai dari ikhwal terbentuknya band yang dimaksud. Genre atau subgenre berikut style music yang kalian pilih sebagai identitas musiknya.

Jika band kalian telah memiliki jam terbang yang lumayan dalam khazanah industry musik, tak ada salahnya pula untuk mencantumkan beberapa anasir penguat fakta semisal data data statistic berupa pencapaian chart lagu-lagu dalam airplay di radio-radio swasta, data pencapaian berubah awarding musik, bahkan lebih seru lagi jika dicantumkan pula hasil penjualan album secara fisik maupun pencapain penjualan single atau ringbacktone dan sebagainya.

Juga bisa ditambahkan beberapa kutipan quote dari orang orang berpengaruh dalam industri musik yang pernah memberikan komentar atau kritik terhadap band kalian. Misalnya produser musik, pengamat musik, wartawan musik, manager band, promotor musik, penyiar radio, selebritis dan yang lainnya. Ini paling tidak bisa membuat orang kian yakin terhadap musikalitas yang kalian tawarkan bersama band kalian.

Selain itu bisa pula disertakan kliping berupa hasil wawancara maupun review terhadap kiprah band kalian yang pernah dimuat diberbagai media, entah itu media cetak maupun media online. Cantumkan sumber media tersebut misalnya Kompas Minggu April 2011, Rolling Stone edisi Januari 2010 dan seterusnya.

Sertakan pula foto foto dari seluruh kegiatan band kalian. Bisa diambil dari dokumentasi foto-foto saat melakukan gig di panggung-pangung pertunjukan musik maupun saat melakukan siaran live di stasiun televisi. Foto-foto yang ditampilkan haruslah menarik dan memiliki news value yang bagus. Kenapa? Karena dari rangkaian foto-foto itulah kalian bisa berbicara tentang kemampuan musikalitas band kalian. Lebih bagus lagi jika biografi band ini dilengkapi juga sebuah DVD yang dalamnya bisa memuat videoklip band kalian termasuk dokumentasi kegiatan musik band kalian. Tentunya dengan editing yang memadai. Ingat jangan berpanjang-panjang. Kemaslah dalam footage yang singkat, padat dan representatif.

Nah, silakan persiapkan biografi band kalian.

Perkenalkan band kalian ke mata khalayak sekarang juga.


Berikut adalah contoh biografi yang menurut saya, keren.

Radiohead

Biography

by Stephen Thomas Erlewine

Radiohead were one of the few alternative bands of the early ’90s to draw heavily from the grandiose arena rock that characterized U2‘s early albums. But the band internalized that epic sweep, turning it inside out to tell tortured, twisted tales of angst and alienation. Vocalist Thom Yorke‘s pained lyrics were brought to life by the group’s three-guitar attack, which relied on texture — borrowing as much from My Bloody Valentine and Pink Floyd as R.E.M. and Pixies — instead of virtuosity. It took Radiohead a while to formulate their signature sound. Their 1993 debut, Pablo Honey, only suggested their potential, and one of its songs, “Creep,” became an unexpected international hit, its angst-ridden lyrics making it an alternative rock anthem. Many observers pigeonholed Radiohead as a one-hit wonder, but the group’s second album, The Bends, was released to terrific reviews in the band’s native Britain in early 1995, helping build a more stable fan base. Having demonstrated unexpected staying power, as well as increasing ambition, Radiohead next released OK Computer, a progressive, electronic-tinged masterpiece that became one of the most acclaimed albums of the ’90s.

Thom Yorke (vocals, guitar), Ed O’Brien (guitar, vocals), Jonny Greenwood (guitar), Colin Greenwood (bass), and Phil Selway (drums) formed Radiohead as students at Oxford University in 1988. Initially called On a Friday, the band began pursuing a musical career in earnest in the early ’90s, releasing the Drill EP in 1992. Shortly afterward, the group signed to EMI/Capitol and released the single “Creep,” a fusion of R.E.M. and Nirvana highlighted by a noisy burst of feedback prior to the chorus. “Creep” was a moderate hit, and their next two singles, “Anyone Can Play Guitar” and “Pop Is Dead,” built a small following, even as the British music press ignored the group.

Pablo Honey, Radiohead‘s debut album, was released to mixed reviews in the spring of 1993. As the band launched a European supporting tour, “Creep” became a sudden smash hit in America, earning heavy airplay on modern rock radio and MTV. On the back of the single’s success, Radiohead toured the U.S. extensively, opening for Belly and Tears for Fears. All the exposure helped Pablo Honey go gold, and “Creep” was re-released in the U.K. at the end of 1993. This time, the single became a Top Ten hit, and the band spent the following summer touring the world.

Although “Creep” made Radiohead a success, it also led many observers to peg the band as a one-hit wonder. Conscious of such thinking, the group entered the studio with producer John Leckie to record its second album, The Bends. Upon its spring 1995 release, The Bends was greeted with overwhelmingly enthusiastic reviews, all of which praised the group’s deeper, more mature sound. However, positive reviews didn’t sell albums, as Radiohead struggled to be heard during the U.K.’s summer of Brit-pop and as American radio programmers and MTV ignored the record. The band continued to tour as the opening act on R.E.M.‘s prestigious Monster tour. By the end of the year, The Bends began to catch on, thanks not only to the band’s constant touring but also to the stark, startling video for “Just.” The album made many year-end best-of lists in the U.K., and early in 1996 the record reentered the British Top Ten and climbed to gold status in the U.S., helped in the latter by the video for “Fake Plastic Trees.”

During the first half of 1996, Radiohead continued to tour before reentering the studio that fall to record their third album, OK Computer, which was released in the summer of 1997. A devoted following of fans and a handful of enthusiastic critical supporters immediately embraced the album’s majestic blend of unfettered prog rock, post-punk angst, eerie electronic textures, and assured songwriting. Since it skillfully teetered between rock classicism and futurism, it earned near-unanimous critical and popular support over the course of the year, which turned into unrestrained adoration in the final two years of the decade, even though its sales still hadn’t climbed above gold status.

Expectations for Radiohead‘s fourth album were stratospheric, which placed additional pressure on the already perfectionist band, and led to several stumbling blocks along the way. An intense buzz of excitement among the band’s still-growing following greeted the prerelease appearance of most of the album’s tracks on the Internet in MP3 form; they displayed an all-out fascination with challenging, often minimalist electronica. Titled Kid A, the album was finally released in October 2000 and astonished many observers by debuting at number one on the U.S. album charts. While the band didn’t release any singles or embark on a formal tour, the album met with a mixed critical response as the group was accused of creating a distant and radio-unfriendly record; however, it did remain a fan favorite.

In June of 2001, Radiohead quickly released an album under the name Amnesiac that consisted of material that was recorded during the Kid A sessions. The band made it very clear, though, that it was not to be considered an outtakes album; rather, they insisted that the two albums were of clear and separate concept. Regardless, Amnesiac debuted at number one in the U.K. and number two on the U.S. chart (behind then-stronghold Staind), while outselling Kid A in week one by 25,000 copies. The singles “Pyramid Song” and “Knives Out” were culled from Amnesiac with a subsequent world tour. While planning “I Might Be Wrong” for a third single, the idea expanded into a live “mini-album,” titled after the track, that was released in November of 2001. Hail to the Thief, the proper follow-up to Amnesiac, was relatively direct in structure and peaked at number three on the U.S. chart. Sporadic recording sessions resumed in early 2005, but a projected release date for the band’s seventh studio album remained 2007 as Yorke prepared a solo album, The Eraser, which was issued in July 2006.

On October 1, 2007, the bandmembers announced that they had finished their seventh album, In Rainbows, and that it would be “out” in a matter of ten days. Giving fans the option to pay whatever they’d like for the album as a zip file of MP3s, Radiohead also devised a pre-order system for the physical version of the album — a “discbox” containing a double-vinyl version, a CD copy with an enhanced six-track bonus disc, a lyric book, and photos. This was done without the involvement of a record label. However, deals were eventually struck for standard retail releases. In late December, XL issued the album in the U.K., where it topped the album chart. The feat was repeated the following month in the U.S., where it was issued through the TBD label. Sonically and lyrically, In Rainbows was one of their warmest and most direct albums to date.

Radiohead took a somewhat similar approach for the release of The King of Limbs. On February 14, 2011, the band announced that the album would be issued in five days as a fixed-price download with physical releases to follow. Standard CD and vinyl versions were scheduled for late March via XL and TBD, while an elaborately packaged double 10″ vinyl/CD set was scheduled for early May.

Tentang Penulisan Lirik Lagu

Posted: Agustus 8, 2011 in Wawasan

Seperti halnya pola penulisan syair atau puisi, pola penulisan lirik lagu juga dikenal sebagai rhyme atau rima.

Apakah rima itu? Rima adalah pengulangan bunyi kata yang ujungnya sama. Misalnya kata “tuntut” dan “runtut” atau “lama” dan “gema”. Menurut catatan sejarah, penggunaan rima ini sudah berlangsung sejak abad ke 10 sebelum Masehi di China dengan nama Si Jhing yang berarti Buku Nyanyian.

Sedangkan dalam peradaban Yunani kuno, rima dikenal sebagai The Wasp yang disusun oleh Aristiphanes. Rima juga dikenal dalam semua jenis bahasa yang ada di jagad ini. Bahkan, kitab Injil dan Al Qur’an pun menggunakan pola rima.

Lalu seberapa pentingkah elemen rima dalam pola penulisan lirik dalam lagu-lagu yang bersentuhan dengan industri musik? Mengingat, tidak sedikit yang melecehkan eksistensi pola rima, akhirnya banyak yang beranggapan bahwa pola rima itu adalah bagian kesekian dalam proses penulisan lirik lagu.  Dibandingkan keparipurnaan sebuah pola rima, tematik atau pesan justru yang dianggap paling penting.

Tapi tunggu dulu, dalam industri musik yang maju pesat seperti Amerika Serikat, pola rima dalam lirik lagu tetap merupakan sesuatu yang vital dalam proses penulisan tema lirik lagu. Setidaknya, itulah yang diungkapkan oleh berbagai ahli bahasa di Amerika yang banyak menerbitkan buku-buku khusus perihal penulisan pola rima yang baik dan terarah. Salah satunya adalah buku karya Pat Pattison bertajuk “Songwriting, The Essential Guide To Rhyming A Step By Step to Better Rhyming and Lyrics” yang diterbitkan Berklee Press Boston pada tahun 1991.

Pat Pattison dibukunya menulis, lagu diciptakan bukan untuk dilhat tapi didengarkan. Karena orang pada galibnya

Buku tentang menulis lagu karya Pat Patison

mendengarkan alunan lagu, maka seyogyangnya dipelajari penulisan lirik untuk telinga yang melihat. Menurutnya persoalan pokok dalam penulisan rima adalah begitu banyaknya kendala untuk menghasilkan sebuah lirik yang rima secara natural dan konstektual, bukan yang mengada-ada. Pattinson, memberi contoh bahwa banyak penulis lagu yang agak frustrasi menghadapi problematika penulisan lirik yang rima sehingga kemudian memilih untuk tidak menghiraukan pentingnya pola rima tersebut. Pattinson dengan lugas mengatakan bahwa rima itu adalah keterkaitan anatara bunyi silabels, bukan kata kata: ”Rhyme is  connection between the sounds of syllables, not words”.

Di bagian utama bukunya itu, Pat Pattison menyebut ada beberapa rima.  Mulai dari Perfect Rhyme, Mosaic Rhyme, Masculine Rhyme dan Feminine Rhyme.

Contoh dari Masculine Rhyme adalah

Command

Land

Understand

Expand

Lalu Feminine Rhyme contohnya adalah

Commanding

Landing

Understanding

Expanding

Mari kita lihat contoh sebuah lagu pop yang rima seperti lagu “Lady Madonna” The Beatles yang ditulis oleh John Lennon dan Paul McCartney :

Lady Madonna , children at your feet
Wonder how you manage to make ends meet
Who finds the money when you pay the rent?
Did you think that money was heaven sent?

Tapi beberapa band sekarang seperti Radiohead malah tidak ambil perduli mengenai masalah rima dalam pola penulisan liriknya.

Simak petikan lagu Lotus Flower berikut ini :

 

I will sneak myself into your pocket
Invisible, do what you want, do what you want
I will sink and I will disappear
I will slip into the groove and cut me up and cut me up

Akhirnya memang menjadi pilihan, apakah seorang penulis lirik tetap takzim untuk menggunakan rhyming atau tidak ?

Tapi yang jelas di mancanegara buku kamus rima atau Rhyme Dictioanry banyak ditulis dan sebagian penulis lirik masih menganggapnya sebagai guidance yang tepat.

Lalu bagaimanakah kondisi penulis lirik di Indonesia  sendiri ?

Fenomena Qasidah Modern

Posted: Juli 28, 2011 in Wawasan

Album religi Gito Rollies
Piringan Hitam Rofiqoh Darto Wahab (dok.dangdutsonata)
Kaset Bimbo & Iin Qasidah
Album Pop Qasidah Koes Plus 1974