Hari Hari The Rollies

Posted: Januari 4, 2011 in Uncategorized

Hari-hari datang dan pergi
hari esok bukan hari ini
Yang akan datang biarlah datang
nikmatilah hari ini
Hari ini  tak pernah akan kembali
Dan nikmati  hingga kemarin
Takkan kau sesali lagi

Lirik lagu “Hari Hari” karya Oetje F.Tekol yang dilantunkan Bangun Soegito Toekiman atau lebih dikenal dengan Gito Rollies pada album “New Rollies Vol.3″ (Musica Studio’s 1978) seolah menggambarkan atmosfer hedonistik yang pernah dialami oleh kelompok
sohor asal Bandung ini.
Dari rentang waktu 1967 hingga 1983,The Rollies memang seperti mencitrakan sebuah attitude grup rock sejati dengan kredo sex,drugs and rock and roll.”Kami jujur mengakui mengalami masa masa itu.Yang secara bercanda kami menyebutnya jaman jahiliah” ungkap Benny Likumahuwa,pemusik berdarah Ambon kelahiran Kediri 18 Juni 1946 yang
sering dianggap tetua dalam The Rollies .
Benny Likumahuwa yang menguasai instrument bass,saxophone,flute dan trombone itu menceritakan semua sejarah The Rollies secara detil di sela kesibukannya sebagai pengajar di Sekolah Musik Gladi Resik yang berada di Jalan Hang Lekiu 2 Jakarta Selatan.Bayangkan Benny mengingat semuanya dalam bentuk tanggal peristiwanya  The Rollies,menurut Benny, memang mengalami segalanya.Mulai dari jaman perjuangan mencapai stardom,mencicipi nikmatnya madu kejayaan yang sarat puja-puji hingga terhujam dalam keterpurukan tiada tara. The Rollies mungkin termasuk grup rock Indonesia yang paling sering mengalami bongkar pasang pemain,setelah grup rock God Bless dari Jakarta.
Tapi sebetulnya Benny Likumahuwa bukanlah pendiri The Rollies.Dia acapkali tampil sebagai leader karena memiliki kemampuan leadership serta menguasai teori musik secara ermanen.
Merebaknya British Invasion di paruh dasawarsa 60-an yang menyemburatkan sederet grup penuh pesona seperti The Beatles,The Rolling Stones,The Yardbirds,Gerry & The Pacemakers,The Hollies dan banyak lagi,memang memicu anak muda negeri ini untuk ngeband termasuk Deddy Sutansjah kelahiran 14 April 1950.Saat itu Deddy yang
berusia 15 tahun pada tahun 1965 telah membentuk band dilingkungan sekolahnya..Saat itu jumlah band yang menonjol di Bandung masih bisa dihitung dengan jari yaitu Rhapsodia dan Delimas.

Bersama sahabat sahabat SMP nya seperti Sonson,Emil dan Sukri,Deddy membentuk sebuah kuartet dengan nama The Rollies.Tak jelas apa yang membuat Deddy
memilih Rollies sebagai jatidiri bandnya itu.Diduga,saat itu Deddy tengah keranjingan menyimak album-album milik The Rolling Stones dan The Hollies.Karena tidak puas dengan musikalitas ketiga sahabatnya itu,Deddy lalu bergabung dengan Delimas mengisi kekosongan posisi rhythm gitar dan vokalis.Genap setahun,Deddy bersama dua  personil Delimas Iwan Krishnawan (drum,vokal) kelahiran 16 Juni 1948 dan Tengku Zulian Iskandar Madian (gitar) kelahiran 16 Oktober 1949 sepakat menyatakan diri keluar dari elimas.Setelah merekrut Delly Djoko Alipin (gitar,organ,vokal) kelahiran 5 November 1947
yang baru saja mengundurkan diri dari The Venus.Mereka pun sepakat untuk menggunakan nama The Rollies yang diciptakan Deddy Sutansjah sebagai jatidiri band. Deddy lalu enyebut bahwa Rollies itu merupakan jenis rambut dari para personilnya.”Roll itu berarti
berambut ikal dan lies itu artinya lurus.Jadilah Rollies.”ucap Deddy pada saya wawancarai di sekitar tahun 1997 silam.Pengukuhan The Rollies terjadi pada tahun 1966,di saat rezim pemerintahan berganti menjadi Orde Baru.
The Rollies memang berembrio pada era manakala katup kran musik rock telah terbuka lebar,seiring dengan bergesernya situasi politik negeri ini dengan dibungkamnya gerakan PKI.Sebelumnya musik rock yang kerap disebut ngak ngik ngok dianggap dekaden dan wujud budaya kapitalis.
Beruntung Deddy Sutansjah memiliki orang tua yang  mau memahami keinginan musikal puteranya.Orang tua Deddy yang memiliki hotel akhirnya menjadi tulang punggung keberadaan The Rollies sebagai penyandang dana.”Seingat saya orang tua Deddy yang menyediakan peralatan band yang komplit” tutur Iskandar yang kini dikenal
sebagai pengusaha.
Dengan formasi Deddy Sutansjah (bass,vokal),Delly Djoko Alipin (gitar,organ,vokal),Iwan Krishnawan (drum,vokal) dan Iskandar (gitar rhythm,vokal),The Rollies mulai melakukan serangkaian gigs dengan membawakan sederet repertoar mancanegara yang tengah menjadi hits mulai dari The Beatles,The Rolling Stones,The Hollies dan banyak lagi.
Selain itu,The Rollies telah merintis ke dunia rekaman pada tahun 1967 antara lain mengiringi penyanyi Alina Rahman dalam album yang dirilis oleh Parlophone/EMI Singapura yang membawakan lagu-lagu karya Iwan Krishnawan seperti “Cinta Bahagia”,”Minggu
Gembira”,”Maafkan Daku”,”Tidurlah Adikku” dan “Bila Hari Minggu” .
Ditahun itu bergabung pula Bangun Sugito,penyanyi kelahiran Biak 1 November 1946 yang kerap menyanyikan lagu-lagu milik Tom Jones,Engelbert Humperdinck hingga Alfian.”Gito betul betul penyanyi pop yang sopan” jelas Iskandar.
Saat itu,The Rollies mulai menimba pengalaman bermusik dengan bermain secara tetap pada acara Morning Show di bioskop Capitol Singapura .Sepulang dari Singapura,The Rollies mulai menambah perangkat alat musiknya.”Yang saya ingat,The Rollies membeli drum
bermerk Rogers,gitar dan bas merk Fender” kenang Gito dikediamannya sekarang di bilangan Rempoa Ciputat Jakarta Selatan.
Walaupun telah memiliki nama yang popular,The Rollies merasakan sesuatu yang stagnan.”Kami merasa musik kami kok kurang gereget” cerita Iskandar mengingat peristiwa yang terjadi di tahun 1968.Para personil The Rollies saat itu baru saja terperangah dan terpesona mendengar album “Child Is Father To Man” dari kelompok berbasic
brass section asal New York City Blood Sweat & Tears.”Kami ingin menambahkan alat tiup dalam The Rollies” ucap Iskandar.Akhirnya keinginan itu pun terwujud ketika bersua dengan Benny Likumahuwa,peniup saxophone dari grup jazz Bandung Crescendo.
“Saya memang telah mendengar The Rollies.Karena mereka serius,saya pun bergabung bersama mereka” tukas Benny Likumahuwa.Tak tanggung-tanggung ,semua personil The Rollies lalu diajari meniup instrument tiup.Deddy Sutansjah meniup trombone,Delly memegang flute,Gito bermain trumpet,Iwan meniup trombone,Iskandar memegang saxophone dan Benny bermain saxophone dan trombone.
Dalam setiap pertunjukan,biasanya The Rollies memperlihatkan lpiawaian mereka meniup instrument brass secara serempak dengan emainkan “Variations On Theme” karya Erik Satie dan “Smiling Phase” krya kelompok Traffic yang terdapat pada album kedua Blood Sweat &
Tears” (1969).Dan merebaklah nama The Rollies dalam keharuman.The Rollies menjadi grup papan atas yang disegani penonton Bandung,Jakarta,Medan dan Malang.”Penonton Malang yang kritis bisa kami jinakkan” ujar Iskandar.
Selain,Blood Sweat & Tears,inspirasi musikal The Rollies juga datang dari grup brass rock Amerika lainnya yaitu Chicago Transit Authority yang baru saja merilis debut album pada tahun 1969 dengan lagu-lagu seperti “Does Anybody Really Knows What Time It Is ?”
maupun “Question 67 and 68″.
The Rollies kemudian bertolak lagi ke Singapura dengan formasi yang lebih menjanjikan.Saat itu banyak sekali grup-grup Indonesia yang dikontrak sejumalh klab malam maupun bar di Singapura antara lain The Steps,Clique Fantastique,Trio Bimbo hingga The Peels.
Di Singapura The Rollies menyewa sebuah rumah di Jalan Jedburg Garden No.5 di kawasan Frankle Estate .”Itu adalah masa masa yang lumayan pahit.Penuh perjuangan.Anak gadis tetangga kami ternyata naksir Iwan.Akhirnya the Rollies sering diajak makan tetangga”
kenang Benny Likumahuwa.
Namun hari hari The Rollies toh tak selalu mendung kelabu.Suatu hari mereka didatangi Mr Lee dari Phillips Singapura yang menawari The Rollies masuk ke bilik rekaman.
Di Singapura band-band Indonesia yang dikontrak main di berbagai
klub malam itu juga merilis album rekaman.Dari perusahaan rekaman Phillips,Polydor,Fontana dan EMI mulai bermunculan album-album milik The Steps,Clique Fantastique,The Peels maupun Trio Bimbo.
.Akhirnya The Rollies merilis sekaligus dua album yaitu “Halo Bandung” yang berisikan lagu-lagu instrumental keroncong seperti “Arjati”,”Bandar Djakarta”,”Sansaro”,”Selajang Pandang”
hingga “Puteri Solo”.Band seperti The Steps dan The Peels juganmenghasilkan album bernuansa keroncong modern.
Album lainnya adalah album yang berisikan sederet hits mancanegara seperti “Sunny”,”Gone Are The Songs Of Yesterday”,”Kansas City”,”I Feel Good”,”Cold Sweat”,”It’s A Man’s Man’s Man’s World” dan banyak lagi.Menariknya,The Rollies tak membawakannya sesuai dengan versi orisinalnya.”Kami selalu mengarransemen ulang” jelas Benny Likumahuwa yang bertindak sebagai music director the Rollies.Lagu “Gone Are The Songs Of Yesterday” dianggap lebih berkarakter disbanding versi orisinalnya yang dilantunkan kelompok Love Affair.Bahkan tak sedikit yang menyangka lagu bernuansa mellow itu sebagai karya The Rollies.Lagu ini kelak menjadi trade mark the Rollies dalam berbagai pentas pertunjukan.
Setahun setelah dirilis dua album tersebut, The Rollies mengalami sebuah musibah.Pada tanggal 26 April 1970 terjadi kecelakaan lalu lintas yang naas.Mobil yang ditumpangi personil The Rollies mengalami tabrakan hebat.Sopir yang mengemudikan mobil The Rollies meninggal dunia.Benny Likumahuwa dan TZ Iskandar pingsan seketika dan mengalami luka di kepala.Sedangkan Deddy Sutansjah dan Iwan Krishnawan kepalanya robek dan mengalami pendarahan.Gito dan Delly disekujur tubuhnya bengkak dan lebam.
Tak lama berselang ibunda Deddy menjemput Deddy untuk pulang ke tanah air.Gito pun ikut serta balik ke Bandung meninggalkan Benny,Iskandar,Iwan dan Delly yang tetap mlanjutkan petualangan musikal di Singapura.
Di Bandung Deddy Sutansjah dan Gito lalu membentuk band baru dengan nama Happiness dan mulai manggung di berbagai pentas pertunjukan.Banyak yang menganggap Happiness sebagai penjelmaan dari
The Rollies.Ini lumrah,karena The Rollies cukup lama menghilang dari
hiruk pikuk pentas pertunjukan di tanah air.
Lalu bagaimanakah nasib the Rollies di Singapura ? Keadaan The
Rollies sangat berbeda dengan nama band baru Deddy – Gito
Happiness.Setelah pasca kecelakaan,kontrak The Rollies langsung
dihentikan secara sepihak oleh pengelola klab yang mengontrak
mereka.
Di saat yang bersamaan,muncul Raden Bonnie Nurdaya gitaris
Paramour,band Bandung yang dibentuk Djadjat dan luntang lantung di
Singapura karena ditelantarkan oleh agency yang membawa mereka ke
Singapura.The Rollies lalu menawarkan Bonnie untuk bergabung dengan
The Rollies.Sejak itu Bonnie resmi menjadi personil The Rollies
sebagai gitaris.Iskandar lalu berpindah memainkan bass menggantikan
Deddy Sutansjah.
Pada pertengahan tahun 1970 The Rollies kembali menjejakkan kaki
ke Indonesia dan langsung main di Medan.Gito kemudian datang
menyusul dari Bandung dan bergabung lagi dalam the Rollies.Deddy
sendiri tetap bertahan dalam Happiness.The Rollies dikontrak di
Medan selama setengah tahun.Di penghujung tahun 1970 The Rollies
mengakhiri kontrak di Medan.Tepat tanggal 1 Januari 1971 The Rollies
lalu bertolak ke Bangkok,kota yang merupakan barometer night life
internasional yang setara dengan Beirut dan Las Vegas.Namun sebagian
besar personil The Rollies merasa tak betah bermain di
Bangkok.”Mungkin mereka kaget melihat band-band asal Italia dan
Amerika yang bermain bagus.Dan minder” ucap Benny Likumahuwa sembari
terkekeh. Benny tetap bertahan di Bangkok dan diajak bergabung dalam
kelompok soul funk No Sweat sebagai peniup saxophone.No Sweat
sendiri adalah sebuah band multirasial yang antara lain terdiri dari
pemusik Amerika,Filipina dan Singapura.
Delly memutuskan untuk tetap bertahan di Bangkok bersama Benny
Likumahuwa.Akhirnya Benny membentuk sebuah grup musik multi rasial
juga dengan nama Augersindo yang merupakan akronim dari
Australia,Germany,Singapore dan Indonesia.”Nama itu saya yang
bikin.Mungkin saat itu karena ada jagoan organ yang bernama Brian
Auger” cerita Benny lagi.Augersindo lalu dikontrak bermain di Laos.
Di tanah air sendiri The Rollies tetap berkibar walaupun tanpa
dua tokoh utamanya yaitu Benny Likumahuwa dan Delly Djoko.Deddy
Sutansjah pun kembali bergabung dengan The Rollies dan meninggalkan
Happiness.
Menjelang akhir tahun 1971 Benny Likumahuwa dan Delly kembali ke
Indonesia.Saat itu The Rollies malah mendapat tawaran kontrak
rekaman dari Remaco (Republic Manufacturing Company).Pemilik Remaco
Eugene Timothy tertarik dengan ketenaran Rollies yang menjadi buah
bibir di pelosok Nusantara.”The Rollies langsung dikontrak sebanyak
5 album.Bahkan kami diberi keleluasaan melakukan apa saja.Artinya
mereka tak mengekang kreativitas musik kita” ujar Benny.The Rollies
kian bersemangat menggarap album perdananya bertajuk “Let’s Start
Again” yang bersikan lagu-lagu seperti “I Had To Leave You”,”Let’s
Start Again” maupun “My Iggy”.
Kegairahan The Rollies meniti karir musik pun ditopang dengan
momen bisnis pertunjukan yang agak cerah. Contohnya nilai kontrak
show The Rollies berkisar antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta untuk
sekali pertunjukan.Ini jumlah yang besar,jika dibandingkan honor
band-band lain yang hanya berkisar sekitar Rp.1 juta.Sebagai grup
sohor,The Rollies selama sepekan bias 2 hingga 3 kali konser.
Ironisnya,disaat karir musik mereka yang kian
cemerlang,sebahagian personil The Rollies malah dicengkeram ganasnya
narkoba.Mereka,Deddy Sutansjah,Iwan Krishnawan dan Bangun Soegito
memang goyah dengan ketenaran yang mereka
peroleh.Akibatnya,keberadaan The Rollies sebagai grup musik yang
disegani dengan musiknya yang berkualitas mulai terancam.Benny yang
mewakili personil The Rollies mulai mengambil tindakan tegas,apalagi
di pentas pertunjukan baik Gito,Deddy dan Iwan mulai ngawur dan
tidak professional.”Mereka malas latihan dan main seenaknya saja”
ucap Benny.
Di tahun 1974 Deddy Sutansjah yang acapkali overdosis mundur
dari The Rollies dan bergabung dalam God Bless.Tapi karena
ketergantungan terhadap narkotika,menyebabkan Deddy pun akhirnya
didepak dari God Bless.Deddy hanya bertahan 4 bulan dalam formasi
God Bless.
Posisi Deddy Sutansjah lalu diisi oleh Oetje F Tekol,pemain bass
yang pernah tergabung dalam berbagai band di Bandung seperti “The
Savoy’s” hingga “Aneka Plaza Band”.
Selain itu,personil The Rollies bertambah dengan masuknya peniup
trumpet Didiet Maruto yang mengisi posisi trumpet Gito.Gito mengaku
kewalahan harus membagi konsentrasi antara menyanyi ,bermain biola
dan meniup trumpet.
Iwan Krishnawan dan Gito pun mengalami skorsing dari The
Rollies.Iwan yang berjanji meninggalkan kebiasaan buruknya
mengkonsumsi narkoba akhirnya diterima lagi di The Rollies.Sedangkan
Gito lalu bergabung dengan band Jakarta Cockpit yang didukung Adjie
Bandy,Nadjib Oesman,Dicky,Paultje Endoh dan Emmand Saleh.
Tapi ternyata cinta Gito memang hanya pada The Rollies.Gito pun
kembali bernyanyi untuk The Rollies.
Namun cobaan yang menerpa The Rollies seolah tak berujung.Pihak
Remaco memutuskan kontrak rekaman the Rollies setelah mereka merilis
album ketiga bertajuk “Sign Of Love”.”Album album the Rollies
menurut Eugene Timothy gagal di pasaran karena terlalu idealis dan
tak memiliki unsur komersiel seperti Koes Plus,Panbers atau The
Mercy’s.Padahal di saat mengontrak kami,mereka malah memberikan
kebebasan pada The Rollies untuk melakukan apa saja” ujar Benny
Likumahuwa berapi-api.
Meskipun awan kelabu menyelimuti The Rollies,toh mereka tak
pernah berhenti bermusik.The Rollies bahkan jadi pemberitaan di
berbagai media cetak ketika tampil dalam acara konser musik akbar
bertajuk “Summer `28” (akronim dari Suasana Meriah Menjelang
Kemerdekaan ke 28) yang berlangsung di Ragunan Pasar Minggu pada
tanggal 16 Agustus 1973.The Rollies melakukan sebuah eksperimen
musik dengan membaurkan instrument band dengan alat musik
tradisional.Arransemen lalu digarap oleh Benny Likumahuwa yang
mencoba menggabungkan karakter gamelan Sunda dan Bali.Lalu
dipilihlah lagu “Manuk Dadali” karya Sambas sebagai obyek eksprimen.
Pemandangan tak lazim pun terlihat dalam pertunjukan The
Rollies.Setiap personil The Rollies memainkan sekaligus instrument
Barat dan gamelan. Iskandar dan Benny menabuh saron,Deddy Sutansjah
menghajar gong,Delly memukul gambang,Gito menggesek rebab dan Iwan
menabuh kendang.Eksperimen yang dilakukan The Rollies ini lebih
dahulu dilakukan sebelum
eksperimen yang dilakukan Harry Roesli maupun Guruh Soekarno
Putera dan Gipsy.
Disamping itu,The Rollies pun mulai menggagas pertunjukan dengan
didukung orkestra.Alhasil,ketimpangan non musikal yang mencuat dari
kubu the Rollies seperti ketergantungan narkotika dari personilnya
bisa diimbangi dengan kualitas musik yang memadai.”Terus terang saya
cukup kelimpungan melihat problem yang berkobar di tubuh The
Rollies” ucap Benny Likumahuwa.
Pada tahun 1974 , the Rollies kembali menjalani kontrak selama 4
bulan di Singapura. Disini ternyata Iwan Krisnawan kembali memakai
narkoba. Mereka sempat melihat Iwan bersama seorang wanita Menggali
yang ternyata sama sama pecandu narkotika. Iwan dan teman wanitanya
saling menyuntikkan zat-zat adiktif di kamar yang hotel
terkunci.Karena ingkar janji,ketika pulang kembali ke Bandung, Iwan
dengan sangat terpaksa dipecat untuk kedua kalinya dari the Rollies.
Dan Benny Likumahuwa lalu merekrut Jimmie Manoppo drummer The Steel
(band Krakatau Steel, Cilegon) yang pernah ia lihat permainannya di
sebuah pub, untuk bergabung.
Tak lama berselang Iwan Krishnawan yang pernah dekat dengan
penyanyi Anna Mathovani dan aktris Debby Cynthia Dewi menghembuskan
nafas terakhir karena keteragntungan narkotika.
Dengan demikian, The Rollies yang limbung akhirnya bisa
memulihkan keadaan. Chemistry antara Oetje F Tekol (bas) dan Jimmie
Manoppo (drum) menjadikan The Rollies seolah memiliki darah baru.
The Rollies kembali merilis album baru di tahun 1976 di perusahaan
rekaman Hidayat Audio Bandung. Uniknya album itu berbentuk live yang
diambil dari rekaman pertunjukan The Rollies saat manggung di Taman
Ismail Marzuki pada 2 dan 3 Oktober 1976. Album ini bisa dianggap
sebagai album live pertama dari sebuah grup rock di Indonesia.
Setelah itu The Rollies merilis album Tiada Kusangka yang
merupakan re-make atas lagu-lagu yang pernah mereka bawakan di album-
album ketika Deddy Sutansjah dan Iwan Krisnawan masih bergabung di
The Rollies.
Selanjutnya di era 1977-1979, The Rollies mendapat kontrak
rekaman dari Musica Studio. Ini bisa dianggap sukses kedua dalam
perjalanan karier grup ini. Karena di era inilah The Rollies banyak
menghasilkan hits seperti Sinar Yang Hilang (Wandi Kuswandi), Dansa
Yok Dansa, dan Bimbi (Titiek Puspa), Hari Hari dan Kemarau (Oetje F
Tekol), hingga Kau yang Kusayang (Antonius).
Ironisnya setelah merilis album “Keadilan” (Musica Studio’s
1977),Benny Likumahuwa justeru mengundurkan diri dari The
Rollies.Mundurnya Benny sebagai inspirator diduga karena terjadi
konflik dalam the Rollies.Di satu sisi,Benny ingin mempertahankan
idealisme bermusik.Di sisi lain Delly malah ingin lebih jauh
menceburkan diri pada pola musik yang lebih ringan dan komersiel.
Mundurnya Benny Likumahuwa menyebabkan The Rollies menambahkan
embel embel new menjadi New Rollies.
Di era ini , Delly Djoko Alipin dan rekan mulai membuka diri
dengan menyanyikan lagu-lagu karya komposer di luar tubuh The
Rollies, misalnya A Riyanto, Titiek Puspa, Johannes Purba, Antonius.
Benny Likumahuwa kemudian lebih banyak berkutat di musik jazz.
Posisinya lalu digantikan oleh Wawan Tagalos. Tengku Zulian Iskandar
Madian juga mengundurkan diri setelah merilis album Dansa Yok Dansa
(1977), posisinya kemudian digantikan Pomo dari The Pro’s.,sahabat
dekat Delly ketika membantu The Pro’s dulu.
Di tahun 1979 The Rollies memperoleh penghargaan Kalpataru dari
Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim, karena lagu Kemarau. Lagu yang
dikarang Oetje F Tekol dianggap memuat misi dan pesan lingkungan
hidup.
Memasuki era 1980-an terjadi perbedaan visi musik di antara
personel The Rollies. Pada masa ini Rollies memang tidak banyak
melakukan pertunjukan dan rekaman. Seluruh personel malah disibukkan
dengan proyek musik masing-masing. Didiet Maruto ikut bergabung
dengan Abadi Soesman Jazz Band, Wawan Tagalos mendukung grup baru
Drakhma, Oetje F Tekol aktif sebagai pencipta lagu dan penata musik
di berbagai album pop. Bonny Nurdaya mendaurulang lagu-lagu lama The
Rollies seperti Salam Terakhir dan Setangkai Bunga. Bahkan ia sempat
bereksperimen memadukan musik tradisional Sunda dengan repertoar The
Beatles dan The Police dalam album bertajuk Punk Reog.
Sementara Gito Rollies mulai aktif berakting di layar lebar
dengan membintangi film Perempuan Tanpa Dosa, Di Ujung Malam hingga
Kereta Terakhir. Jimmie Manoppo merintis solo karier di Akurama
Record dan menghasilkan 4 album : Album Perdana, Ceritaku Ceritamu,
Dewi Angan-angan, dan Ding Dong. Sedangkan Delly Rollies juga
bersolo karier lewat 5 album solo yang dirilis Flowers Sound dengan
penata musik Fariz RM, Harry Sabar dan Willy Sumantri.
Di tahun 1983 The Rollies mencoba comeback lagi lewat album
Rollies 83 (Sokha Record) dengan hits Dunia Dalam Berita (Oetje F
Tekol) dan Mabuk Cinta (Harry Sabar). Ini merupakan kebangkitan
ketiga The Rollies. Sayangnya setelah merilis album Rollies dengan
hits Astuti dan Burung Kecil, tampaknya The Rollies seolah tak
memiliki sesuatu yang bisa diandalkan.
Bermunculannya grup-grup seperti Krakatau, Karimata, Emerald,
hingga Bhaskara seolah menggilas kekuatan musik The Rollies.
Kehadiran grup berkonotasi fusion tersebut menjadikan kelompok musik
ini seolah macan kertas yang tiada berdaya.
Meskipun tetap bertahan dengan merilis album-album baru hingga
era 90-an, tapi secara jujur harus diakui masa gemilang The Rollies
memang telah lampau.
Penggemar The Rollies hanya bisa terhenyak ketika Deddy
Sutansjah atau Deddy Stanzah meninggal dunia pada tanggal 22 Januari
2001.Setahun kemudian,Delly Djoko Alipin pun menghembuskan nafas
terakhirnya pada tanggal 30 Oktober 2002.Dan setahun
berselang,Bonnie Nurdaya juga menghembuskan nafas terakhir pada
tanggal 13 Juli 2003.
Gito sendiri mengisi hari hari tuanya dengan menjadi
pendakwah.Dia memang telah tobat.Pada tahun 2005 Gito mengidap
limfoma atau kanker kelenjar getah bening.Tahun lalu Gito harus
duduk diatas kursi roda.Tangan kanannya melemah tanpa daya.Tapi
beberapa waktu silam,Gito mulai bias berdiri meninggalkan kursi
rodanya.
> Jimmie Manoppo masih tetap berkutat di jalur musik dengan
mengisi acara-acara musik di TVRI.Oetje F Tekol menjadi guru musik
dan sesekali bermain band.Benny Likumahuwa masih aktif bermain musik
jazz dan menjadi guru musik.Didiet Maruto masih tetap bermain musik
di berbagai orkestra dan studio rekaman.
The Rollies adalah perjalanan panjang sebuah band rock Indonesia
yang tercatat banyak memberikan kontribusi untuk musik Indonesia.
Lamat-lamat masih terngiang-ngiang desahan serak khas Bangun
Sugito menyanyikan lagu Hari-Hari.

Hari ini tak pernah akan kembali
Dan nikmati hingga kemarin
Takkan kau sesali lagi

Denny Sakrie

(dari majalah Rolling Stone Indonesia Edisi 34/Januari/2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s